• Tidak ada hasil yang ditemukan

HAK KLIEN UNTUK MENDAPATKAN PELAYANAN OLEH TENAGA TERAMPIL

Dalam dokumen Pedoman Manajemen PONEK 24 Jam (Halaman 89-94)

LAMPIRAN PENILAIAN PELAYANAN

HAK KLIEN UNTUK MENDAPATKAN PELAYANAN OLEH TENAGA TERAMPIL

Klien pada unit PONEK memiliki hak untuk mendapatkan pelayanan yang dilakukan oleh tenaga terampil dan diberikan secara aman, efektif, segera dan sesuai dengan panduan / standard yang ada, oleh pemberi pelayanan terlatih yang memiliki keterampilan dalam pelayanan rutin, pengelolaan komplikasi dan kegawatdaruratan, serta pencegahan infeksi.

Ya Tidak Pelayanan yang cepat

1. Untuk klien dengan kegawatdaruratan, apakah petugas dengan segera (dalam waktu 5 menit):

ƒ Memanggil tim gawat darurat (emergency respons team)? ƒ Melakukan stabilisasi jalan nafas, pernafasan dan sirkulasi

sesuai kebutuhan?

2. Apakah petugas segera (dalam waktu 5 menit) memasang infus intravena dengan menggunakan jarum besar (no. 14-16) dan memberikan 2 liter cairan NaCl fisiologis untuk semua klien dengan:

ƒ Perdarahan?

ƒ Nadi cepat dan akral dingin?

ƒ Tekanan darah yang rendah dengan kecurigaan syok? ƒ Persalinan macet?

ƒ Sepsis?

3. Apakah petugas melakukan penentuan golongan darah, melakukan cross-match dan memberikan transfusi segera (dalam waktu 30 menit) bila diperlukan?

4. Apakah petugas mempersiapkan dan melakukan prosedur/tindakan bedah (mis. persalinan dengan bantuan, bedah Caesar, evakuasi uterus) dalam waktu 2 jam setelah mengetahui adanya komplikasi? 5. Untuk perdarahan postpartum, apakah petugas dapat melakukan

intervensi bedah (mis. ligasi arteria uterine bilateral, histerektomi, perbaikan ruptura uteri) dalam waktu 2 jam setelah diagnosis? 6. Apabila terjadi komplikasi bedah yang tidak diharapkan (mis.

perlukaan kandung kemih atau usus, perdarahan berlebihan), apakah selalu tersedia pemberi pelayanan berkualifikasi pada fasilitas pelayanan, atas permintaan (on call) atau melalui rujukan (dalam waktu 2 jam)?

Pemantauan dan penilaian

7. Apakah petugas melakukan pemantauan terhadap semua klien dengan komplikasi obstetri (mis. perdarahan, eklampsia, ruptura uteri, persalinan macet, sepsis saluran genital) paling lambat setiap 15 menit pada 2 jam pertama setelah diagnosis?

8. Apakah petugas membuat grafik pengawasan (mis. tekanan darah, nadi, suhu, jumlah urine) untuk semua klien dengan perdarahan, sepsis, eklampsia, persalinan macet atau ruptura uteri)?

9. Apakah petugas melakukan pemantauan pasca persalinan atau tindakan operatif setiap 15 menit selama 2 jam dan secara periodik paling sedikit 24 jam untuk adanya demam, ketidak-stabilan tanda vital, perdarahan berlebihan atau uterus yang lembek)?

Ya Tidak

10. Untuk setiap klien dengan perdarahan atau sepsis, apakah petugas memasang kateter urine untuk memantau pemasukan dan pengeluaran cairan bila diperlukan dan apakah dilakukan penilaian terhadap kemungkinan adanya syok?

11. Untuk setiap klien dengan perdarahan atau sepsis, apakah petugas melakukan pemeriksaan darah untuk koagulopati dengan menggunakan tes pembekuan (untuk menilai adanya kegagalan pembekuan darah dalam waktu 7 menit atau untuk adanya jendalan darah yang rapuh)?

12. Apakah semua klien dalam usia reproduksi dengan keluhan nyeri perut dilakukan penilaian untuk menyingkirkan adanya kemungkinan kehamilan ektopik?

13. Sebelum memulangkan klien postpartum, apakah petugas memeriksa:

ƒ Stabilitas klien (perdarahan, infeksi uterus dan perineum, uterus yang lembek, tanda vital)?

ƒ Kemampuan klien untuk berjalan sendiri, makan, berkemih dan mengulangi perintah postpartum yang diberikan?

Persalinan normal

14. Selama fase aktif dalam persalinan, apakah petugas memantau tanda vital (untuk mencari adanya tanda bahaya) paling sedikit setiap 30 menit dan menilai kemajuan persalinan setiap 4 jam? 15. Apakah petugas dapat memastikan bahwa klien tidak pernah akan

ditinggalkan pada fase ekspulsi dan semua persalinan akan ditolong oleh tenaga kesehatan?

16. Apakah petugas mempraktekkan manajemen aktif kala III untuk melahirkan plasenta (mis. peregangan tali pusat terkendali, pemberian oksitosin, masase uterus)?

17. Apakah pemberian cairan infus intravena dikerjakan sesuai dengan standard (mis. femoral/vena jugularis interna/vena seksi untuk kesulitan pemasangan infus, tindakan pencegahan infeksi yang sesuai)?

18. Apakah perbaikan laserasi vagina, perineum dan serviks dikerjakan sesuai dengan standard (mis. dengan anestesi, antiseptik, benang yang diserap, lapis demi lapis)?

19. Apakah resusitasi neonatus telah dilakukan sesuai dengan standard?

Persalinan lama atau macet

20. Apakah petugas menggunakan partogram untuk mencatat kemajuan persalinan dan mengenali persalinan macet dan lama? 21. Apakah petugas mengenali dan melakukan pengelolaan aktivitas

uterus yang tidak adekuat (dinyatakan dengan kontraksi uterus kurang dari 3 kali dalam 10 menit dan berlangsung kurang dari 40 detik) dengan cara memberikan oksitosin secara benar?

22. Apakah petugas mengenali persalinan macet (dinyatakan dengan tidak terjadinya kelahiran dalam 2 jam) dan melahirkan bayi dalam waktu 2 jam setelah diagnosis dengan persalinan dengan bantuan atau bedah Caesar?

Ya Tidak

23. Apakah persalinan dengan bantuan (ekstraksi vakum atau forseps) dikerjakan sesuai dengan standard (mis. pada saat pembukaan lengkap, 2/5 untuk vakum, 1/5 untuk forseps, pada saat kontraksi dan tidak lebih dari 3 tarikan atau 30 menit)?

24. Apakah bedah Caesar dilakukan sesuai dengan standard?

Perdarahan

25. Pada perdarahan antepartum dengan kehamilan lebih dari 3 minggu, apakah petugas menyingkirkan diagnosis plasenta previa dan melakukan persalinan dengan segera?

26. Pada perdarahan postpartum, apakah oksitosin segera diberikan setelah memastikan tidak ada bayi kedua dan menyingkirkan diagnosis inversio uteri?

27. Apakah petugas segera melakukan penilaian dan melakukan pengelolaan setiap kasus perdarahan lambat atau seketika pasca persalinan?

28. Apakah semua kasus yang dicurigai dengan kehamilan ektopik dikelola sesuai standard dengan transfusi, laparotomi dan salpingektomi parsialis sesuai kebutuhan?

29. Apakah pemberian oksitosin dan ergotamin dilakukan sesuai standard (dengan pengenceran yang sesuai dan pengawasan)? 30. Apakah manual plasenta dikerjakan sesuai dengan standard (mis.

dengan anestesi, antibiotik, antiseptik dan sarung tangan DTT/steril)?

31. Apakah transfusi darah dilakukan sesuai dengan standard (mis. dengan skrining untuk HIV/hepatitis/sifilis, pemantauan dan pengelolaan reaksi transfusi)?

Preeklampsia, eklampsia

32. Apakah semua klien dengan preeklampsia berat, bersalin dalam waktu 24 jam setelah diagnosis, dengan induksi atau bedah Caesar? 33. Apakah pada semua klien dengan preeklampsia dan eklampsia,

dilakukan pemantauan ketat tekanan darah (paling sedikit setiap jam) dan dikelola dengan pemberian obat anti-hipertensi untuk tekanan diastolik > 110 mmHg?

34. Apakah semua klien dengan preeklampsia dan eklampsia, paling sedikit satu kali dilakukan pemeriksaan waktu perdarahan, waktu pembekuan, penghitungan jumlah trombosit?

35. Apakah semua klien dengan eklampsia, dilakukan induksi persalinan atau bedah Caesar sehingga bayi lahir dalam waktu 12 jam?

36. Apakah semua klien dengan preeklampsia dan eklampsia, dilakukan pengobatan dengan Magnesium sulfat?

37. Apakah semua klien dengan pengobatan Magnesium sulfat dilakukan pemantauan frekuensi pernafasan dan produksi urine? 38. Apakah pemberian Magnesium sulfat untuk kasus eklampsia sesuai

Ya Tidak Sepsis atau infeksi

39. Apakah semua petugas melakukan upaya untuk menghindari tindakan yang dapat meningkatkan resiko infeksi (mis. pemeriksaan vagina terlalu sering, pemberian rutin cairan intravena, eksplorasi uterus rutin setelah persalinan, mencukur rambut pubis)?

40. Apakah petugas secara ketat memelihara daerah steril pada prosedur bedah Caesar, laparotomi, injeksi, pemasangan infus dan kateter?

41. Apakah petugas telah mengobati semua klien dengan gambaran klinik infeksi intrauterin (mis. demam, cairan ketuban yang berbau) segera setelah diagnosis ditegakkan daripada menunggu setelah persalinan?

42. Apakah dilakukan pemberian antibiotika dengan spektrum luas (mis. kombinasi ampisilin, gentamisin dan metronidasol) untuk infeksi traktus genitalis (mis. infeksi luka perineal, sepsis, abortus septik, infeksi uterus)?

43. Apakah segera dilakukan restorasi cairan pada kasus sepsis traktus genitalis (termasuk abortus septik)?

44. Apakah segera dilakukan pengambilan jaringan nekrotik pada infeksi traktus genitalis?

45. Apakah pemberian antibiotika telah sesuai dengan standard?

Komplikasi abortus

46. Apakah evakuasi uterus dilakukan dalam waktu 2 jam setelah diagnosis abortus inkompletus dan abortus septik?

47. Apakah diberikan antibiotika sebelum dilakukan evakuasi uterus? 48. Apakah dilakukan pemberian tetanus toksoid 0.5 ml IM pada kasus

abortus inkompletus, abortus septik, persalinan tidak bersih, infeksi traktus genitalis dan klien tanpa imunisasi?

49. Apakah evakuasi uterus dilakukan sesuai dengan standard (mis. dengan pemakaian antiseptik, dilatasi serviks, oksitosin atau methergin, obat pengendali nyeri)?

Anesthesia

50. Apakah petugas berusaha menggunakan anesthesia lokal selama memungkinkan dan aman (mis. persalinan dengan bantuan, bedah Caesar, episiotomi, perbaikan laserasi, evakuasi uterus)?

51. Apakah petugas mengetahui tanda overdosis dari anesthesia lokal? 52. Apakah petugas segera bereaksi dengan melakukan resusitasi

kardiopulmonal dan memberikan antidotum untuk narkotika sesuai kebutuhan pada kasus overdosis?

53. Apakah pemberian anesthesia lokal dan regional telah dilakukan sesuai dengan standard?

Angka komplikasi

54. Apakah insidens perdarahan dan perlukaan organ pada bedah Caesar kurang dari 5%?

55. Apakah insidens perforasi uterus pada tindakan evakuasi uterus kurang dari 1%?

Ya Tidak

56. Apakah insidens inversio uteri pada persalinan di fasilitas kesehatan kurang dari 5%?

57. Apakah insidens infeksi setelah bedah Caesar, pemasangan infus dan kateter masing-masing kurang dari 10%?

58. Apakah insidens tetanus setelah tindakan di rumah sakit 0%?

Pencegahan infeksi

59. Apakah petugas mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum dan sesudah setiap prosedur klinik atau kontak dengan klien?

60. Apakah fasilitas kesehatan memiliki baju pelindung yang sesuai seperti:

ƒ Apron, penutup kepala, kacamata, masker, sarung sepatu? ƒ Sarung tangan (mis. untuk pemeriksaan, desinfeksi tingkat

tinggi, steril) di semua tempat pelayanan klien?

61. Apakah petugas melakukan penggantian sarung tangan diantara pemeriksaan klien (dan dengan klien yang sama apabila terjadi kontaminasi)?

62. Apakah sterilitas terjaga dengan perhatian khusus pada prosedur vaginal dan manual uterus (mis.kompresi bimanual uterus, forseps, plasenta manual, ekstraksi vakum, persalinan per vaginam) dengan menggunakan sarung tangan HLD/steril, persiapan antiseptik, tanpa kontaminasi)?

63. Apakah dilakukan cuci tangan bedah (cuci tangan selama 3-5 menit dengan antiseptik dan air mengalir) sebelum tindakan bedah Caesar dan laparotomi?

64. Pada daerah operasi dan tindakan (mis. untuk irisan abdominal, injeksi, pemasangan jalur infus IV, pemasangan kateter ureteral, evakuasi uterus) dilakukan dengan menggunakan cairan antiseptik yang sesuai (mis. alcohol, larutan dasar centramide, larutan dasar yodium) dengan cara yang benar (mis. dilakukan dari lingkar dalam kearah luar)?

65. Apabila terjadi kerusakan/lubang pada sarung tangan, sehingga menyebabkan daerah steril menjadi terbuka, apakah asisten memberitahukan hal tersebut dan membantu untuk melindungi kembali daerah steril?

66. Diantara dua klien, apakah petugas membuang sampah medis dan menyeka tempat tidur serta permukaan daerah terkontaminasi dengan larutan chlorin 0.5% (di ruang persalinan, ruang pemeriksaan dan kamar operasi)?

67. Pada saat melakukan sterilisasi, apakah petugas melakukan pengukuran suhu, tekanan dan waktu (pada 121 °C dan tekanan 106 kPA selama 20 menit untuk bahan tidak terbungkus dan 30 menit untuk benda terbungkus)?

68. Apakah segera dilakukan tindakan dekontaminasi pada semua peralatan yang digunakan dengan merendam dalam larutan klorin 0.5% selama 10 menit?

Ya Tidak

69. Apakah petugas membuang alat tajam di dalam tempat khusus yang tahan tusukan (puncture-resistant container) disetiap daerah pelayanan klien?

70. Apakah petugas menggunakan sistem yang menjamin sampah medis (termasuk tempat alat tajam) dibuang dengan cara mengubur atau membakar?

Keadaan lain yang perlu untuk dicatat dan tidak terdapat dalam kuesioner

HAK KLIEN UNTUK MENDAPATKAN INFORMASI DAN MENENTUKAN

Dalam dokumen Pedoman Manajemen PONEK 24 Jam (Halaman 89-94)