• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hakikat Pendekatan Pembelajaran Konseptual Terintegrasi Pendidikan Karakter

KAJIAN PUSTAKA

C. Pembentukan Karakter Peserta didik melalui Pembelajaran Kontekstual Terintegrasi Pendidikan Karakter

4. Hakikat Pendekatan Pembelajaran Konseptual Terintegrasi Pendidikan Karakter

a. Pengertian Pendekatan Pembelajaran Konseptual

Pendekatan konsep adalah suatu pendekatan pengajaran yang secara langsung menyajikan konsep tanpa memberi kesempatan kepada siswa untuk menghayati bagaimana konsep itu diperoleh (Sagala, 2008).

Pengajaran konsep (concept teaching), adalah cara di mana guru dapat membantu siswa untuk memperoleh dan mengembangkan konsep-konsep dasar yang dibutuhkan untuk pembelajaran lebih lanjut dan pemikiran tingkat tinggi.

Menurut Mustofa dan Barkah, L (2009), pembelajaran dengan menggunakan pendekatan konsep berarti siswa dibimbing memahami suatu bahasan melalui pemahaman konsep yang terkandung di dalamnya. Dengan beberapa metode siswa dibimbing untuk memahami konsep.

Model pengajaran konsep tidak dirancang untuk mengajarkan sejumlah besar informasi kepada siswa. Tetapi dengan mempelajari dan menerapakan konsep-konsep kunci dalam subjek tertentu, siswa akan mampu mentransfer berbagai pembelajaran spesifik ke bidang-bidang yang lebih umum. Faktanya, tanpa pemahaman yang sama tentang

konsep-konsep kunci, pembelajaran tentang isi dalam bidang-bidang studi tertentu nyaris mustahil terjadi.

Ada dua pendekatan pengajaran konsep yaitu pendekatan direct

presentation (prosentasi langsung) dan pendekatan concept

attainment (pencapaian konsep). Persyaratan pengajaran untuk pencapaian konsep adalah tersedianya contoh-contoh yang menunjukkan kesamaan-kesamaan dalam beberapa hal dan perbedaan-perbedaannya. Individu yang berhadapan dengan contoh-contoh tersebut harus menemukan sendiri atau dibertahu oleh guru apakah setiap unsur dari contoh itu menunjukkan suatu konsep. Pada setiap kali bertemu dengan contoh itu siswa merumuskan hipotesis tentang contoh itu. Setiap contoh itu akan menunjukkan/menyajikan informasi tentang karakteristik dan nilai atribut dari konsep.

Pendekatan konseptual/konsep ini dikembangkan dari karya Jean Piaget, Jerome Bruner, David Ausubel, dan Howard Gardner. Studi-studi mereka menunjukkan bagaimana berpikir konseptual berkembang pada anak-anak dan remaja di mana pendekatan pengajaran konsep mempengaruhi pembelajaran kognitif mereka (Arends, 2007).

Menurut Jerome Bruner, J. Goodnow dan George, A (Mulyan1,1999) bahwa model pencapaian konsep dilandasi bahwa lingkungan banyak ragam dan isinya sehingga manusia/siswa mampu membedakan objek-objek dengan aspek-aspeknya. Dengan kata lain siswa harus mampu berpikir tingkat tinggi menentukan kategori untuk

membentuk konsep-konsepnya. Kategori ini memungkinkan siswa untuk mengelompokkan objek-objek dengan perbedaan yang nyata berdasarkan karakteristik untuk mengurangi kerumitan lingkungan. Proses berpikir seperti ini oleh Bruner dan kawan-kawannya, dinamakan kategorisasi. Kegitan kategorisasi mempunyai dua komponen yaitu kegiatan pembentukan konsep dan kegiatan pencapaian konsep.

Berdasaarkan pendapat ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa pendekatan konsep merupakan pendekatan yang baik dalam penekanan pemahaman konsep materi pembelajaaran, namun kelemahan dari pendekatan ini yaitu tidak memberikan kesempatan kepada siswanya untuk menghayati bagaimana konsep itu diperoleh. Jadi dengan kata lain pendekatan ini membatasi siswa untuk lebih kritis dalam mencari tahu bagaimana perolehan konsep terjadi.

b. Melaksanakan Pendekatan Pembelajaran Konseptual

Tugas guru dalam pendekatan pembelajaran konseptual adalah bagaimana meningkatkan kemampuan siswa dalam memproses informasi. Guru menciptakan lingkungan/kondisi agar siswa mampu memiliki kemampuan berikut : dapat menangkap stimulus dari lingkungan, dapat menemukan masalah/konsep, dan dapat mengembangkan pemecahan masalah baik secara verbal maupun nonverbal.

Kondisi yang dipertimbangkan dalam kegiatan belajar mengajar dengan pendekatan konsep adalah:

1. Menanti kesiapan belajar, kematangan berpikir sesuai dengan unsur lingkungan.

2. Mengetengahkan konsep dasar dengan persepsi yang benar yang mudah dimengerti.

3. Memperkenalkan konsep yang spesifik dari pengalaman yang spesifik pula sampai konsep yang kompleks.

4. Penjelasan perlahan-lahan dari yang konkret sampai yang abstrak. Langkah-langkah mengajar dengan pendekatan konsep melalui 3 tahap yaitu:

1. Tahap Enaktif

a. Pengenalan benda konkret.

b. Menghubungkan dengan pengalaman lama atau pengalaman baru. c. Pengamatan, penafsiran tentang benda baru.

2. Tahap Simbolik

a) Memperkenalkan Simbol, lambang, kode, seperti angka, huruf, kode, seperti (?,=,/).

b) Membandingkan antara contoh dan non contoh untuk menangkap apakah siswa cukup mengerti akan ciri-cirinya.

c) Membandingkan antara contoh dan non-contoh untuk menangkap apakah siswa cukup mengerti akan ciri-cirinya.

3. Tahap Ikonik

Tahap ini adalah tahap penguasaan konsep secara abstrak, seperti: Menyebut nama, istilah, definisi, apakah siswa sudah mampu mengatakannya.

Sintaks pembelajaran pencapaian konsep memiliki tiga fase kegiatan (Joyce & Weills, 1996) yaitu:

Fase pertama : Penyajian data dan indentifikasi konsep. Prilaku guru dan

siswa pada fase ini adalah sebagai berikut:

1) Guru menyajikan contoh-contoh konsep yang sudah diberi label.

2) Siswa membandingkan atribut-atribut dalam contoh positif dan contoh negatif.

3) Siswa menggeneralisasikan dan menguji hipotesis.

4) Siswa membuat defenisi tentang konsep menurut atribut-atribut esensial yang diketemukan.

Fase kedua: Menguji pencapaian konsep.

Perilaku guru dan siswa pada fase kedua ini adalah:

1) Siswa mengindentifikasi tambahan contoh yang tidak diberi label dengan mengatakan “ya” atau “bukan”,

2) Guru menegaskan hipotesis, nama konsep, dan menyatakan kembali defenisi konsep sesuai dengan atribut-atribut esensial,

3) Siswa menemukan contoh-contoh konsep.

Fase ketiga : Menganalisis strategi berpikir.

1) Siswa mengungkapkan apa yang dipikirkannya,

2) Guru membantu siswa mendiskusikan hipotesis dan atribut-atribut konsep.

3) Siswa mendiskusikan tipe/jenis dan jumlah hipotesis.

Contoh pendekatan konsep adalah sebagai berikut : Dalam suatu pembelajaran guru akan mengajarkan materi tentang “ skala pada peta atau denah “. Pada awal pembelajaran guru memberikan konsep dasar tentang cara menentukan luas yang sebenarnya pada denah yaitu (skala x luas pada denah). Siswa tidak diberikan penjelasan atau proses perolehan rumus tersebut. Guru langsung memberikan konsep dasarnya saja.

Pendekatan/model pembelajaran ini memiliki struktur yang moderat. Guru melakukan pengendalian terhadap aktivitas (pembelajaran berpusat pada guru), tetapi dapat dikembangkan menjadi kegiatan dialog bebas dalam fase-fase itu. Interaksi antar siswa digalakkan oleh guru. Selama pembelajaran guru diharapkan membantu siswa dalam menemukan dan menyusun hipotesis untuk kemudian didiskusikan membandingkan dengan hipotesis yang disusun oleh siswa lain. Dengan pengorganisasian kegiatan itu diharapkan siswa akan lebih dapat memperlihatkan inisiatifnya untuk melakukan proses induktif bersamaan dengan bertambahnya pengalaman dalam melibatkan diri selama pembelajaran.

Pendekatan pembelajaran pencapaian konsep ini merupakan alat penilai yang baik, apabila guru ingin menentukan apakah gagasan-gagasan penting yang telah diperkenalkan sudah dikuasai siswa atau belum. Model pembelajaran ini dengan cepat mengungkapkan kedalaman pemahaman siswa dan juga dapat menguatkan pengetahuan siswa sebelumnya.

Bentuk soal yang digunakan dalam evaluasi pembelajaran pencapaian konsep adalah soal pilihan ganda atau soal uraian singkat. Soal-soal dapat disesuaikan dengan tujuan tes dan karakteristik siswa. Di lihat dari penggunaannya selama proses pembelajaran, pendekatan/model pembelajaran pencapaian konsep ini mempunyai dampak pengajaran langsung (instructional effect) dan dampak pengajaran pengiring (nuturant effect).

c. Hakikat Pembelajaran Konseptual Terintegrasi Pendidikan Karakter

Pendidikan merupakan upaya terencana dalam mengembangkan potensi peserta didik, sehingga mereka memiliki sistem berpikir, nilai, moral, dan keyakinan yang diwariskan masyarakatnya dan mengembangkan warisan tersebut ke arah yang sesuai untuk kehidupan masa kini dan masa mendatang.

Karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang

diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak. Dengan kata lain, mendidik budaya dan karakter bangsa adalah mengembangkan nilai-nilai Pancasila pada diri peserta didik melalui pendidikan hati, otak, dan fisik.

Pendidikan karakter (kemendiknas, Dirjen Menpendasmen Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama, 2010) adalah segala sesuatu yang dilakukan guru, yang mampu mempengaruhi karakter peserta didik.

Dalam pedoman pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa Kementerian Pendidikan Nasional (Puskur, Balitbang, 2010) menyatakan bahwa teridentifikasi 18 macam nilai-nilai yang perlu dikembangkan dalam pendidikan budaya dan karater bangsa sebagai berikut: religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial dan tanggung jawab.

Atas dasar pemikiran itu, pengembangan pendidikan budaya dan karakter sangat strategis bagi keberlangsungan dan keunggulan bangsa di masa mendatang. Pengembangan itu harus dilakukan melalui perencanaan yang baik, pendekatan yang sesuai, dan metode belajar serta pembelajaran yang efektif. Sesuai dengan sifat suatu nilai, pendidikan budaya dan karakter bangsa adalah usaha bersama sekolah; oleh karenanya harus dilakukan secara bersama oleh semua guru dan

pemimpin sekolah, melalui semua mata pelajaran, dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari budaya sekolah.

Adapun tujuan pendidikan karakter menurut Hasan (Zubaedi, 2011) meliputi: 1. Mengembangkan potensi kalbu/nurani/afektif peserta didik sebagai manusia dan warga Negara yang memiliki nilai-nilai karakter bangsa. 2. Mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religius. 3. Menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab peserta didik sebagai generasi penerus bangsa. 4. Mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, dan berwawasan kebangsaan. 5. Mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, dan dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan.

Penilaian pendidikan karakter lebih dititik beratkan kepada keberhasilan penerimaan nilai-nilai dalam sikap dan perilaku peserta didik sesuai dengan nilai-nilai karakter yang diterapkan dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai pendidikan karakter merupakan uraian berbagai perilaku dasar dan sikap yang diharapkan dimiliki peserta didik sebagai dasar pembentukan karakternya. Salah satu nilai pendidikan karakter adalah kerja keras. Kerja keras merupakan sikap pantang menyerah dalam memacu daya tahan kerja. Tahan kerja yang dimaksud adalah perilaku siswa yang mampu sekuat tenaga dalam memecahkan

masalah terhadap materi yang dipelajarinya, serta perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.

Adapun indikator kerja keras menurut Wuryanto (Kurniyati, 2013) antara lain: 1. Pantang menyerah dalam menghadapi berbagai kesulitan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. 2. Mencari strategi untuk mengatasi kesulitan dengan pemikirannya sendiri. 3. Menyelesaikan tugas dengan baik dan tepat waktu. 4. Berupaya mencari sumber belajar dan informasi tentang konsep yang dipelajari. 5. Mengajukan ide dan pendapat dalam setiap diskusi. 6. Memiliki etos kerja yang tinggi.

Pembelajaran konseptual berbasis karakter adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang terintegrasi karakter bangsa dengan materi pembelajaran di dalam kelas sehingga terbentuk karakter peserta didik yang diharapkan.

Guru membantu membentuk watak peserta didik. Hal ini mencakup keteladanan bagaimana perilaku guru, cara guru berbicara atau menyampaikan materi, bagaimana guru bertoleransi, dan berbagai hal terkait lainnya.

Pembelajaran konseptual berbasis karakter dengan berbagai model dan metodenya dijadikan sebagai alat untuk membangun karakter bangsa. Prinsip-prinsip pembelajaran konseptual diaplikasikan pada semua tahapan pembelajaran yang sekaligus dapat memfasilitasi

terinternalisasinya nilai-nilai. Selain itu, perilaku guru sepanjang proses pembelajaran harus merupakan model pelaksanaan nilai-nilai bagi peserta didik.