KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teoritis
3. Hakikat Pendekatan Pembelajaran Kontekstual Terintegrasi Pendidikan Karakter
a. Pengertian Pendekatan Pembelajaran Kontekstual
Taniredja (2012) menyatakan “Pendekatan pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata peserta didik dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari – hari”.
Komalasari (2010) mengatakan bahwa pendekatan pembelajaran kontekstual adalah pendekatan pembelajaran yang mengaitkan antara materi yang dipelajari dengan kehidupan nyata siswa sehari-hari, baik dalam lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat maupun warga negara, dengan tujuan untuk menemukan makna materi tersebut bagi kehidupannya.
Pembelajaran disekolah tidak hanya difokuskan pada pemberian pembekalan kemampuan pengetahuan yang bersifat teoritis, akan tetapi bagaimana agar pengalaman belajar yang dimiliki siswa senantiasa terkait dengan permasalahan - permasalahan aktual yang terjadi dilingkungannnya.
Pendekatan pembelajaran kontekstual merupakan salah satu pembelajaran yang inovatif diterapkan di kelas. Pembelajaran kontekstual menyajikan suatu konsep yang mengaitkan materi pelajaran yang
dipelajari siswa dalam konteks dimana materi tersebut digunakan, serta berhubungan dengan bagaimana seseorang belajar atau cara siswa belajar (Trianto, 2011).
Pembelajaran kontekstual melibatkan para siswa dalam aktivitas penting yang membantu mereka mengaitkan pelajaran akademis dengan konteks kehidupan nyata yang mereka hadapi. Dengan mengaitkan keduanya, para siswa melibatkan makna di dalam tugas sekolah. Ketika para siswa menyusun proyek atau menemukan permasalahan yang menarik, membuat pilihan dan menerima tanggung jawab, mencari informasi dan menarik kesimpulan, mereka secara aktif memilih, menyusun, menyentuh, merencanakan, menyelidiki, mempertanyakan, dan membuat keputusan, mereka mengaitkan isi akademis dengan konteks dalam sitiasi kehidupan, dan dengan cara ini mereka menemukan makna (Johnson, 2011).
Dari pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang menghadirkan dunia nyata di dalam kelas untuk menghubungkan antara pengetahuan yang ada untuk diterapkan dalam kehidupan siswa.
Dengan CTL memungkinkan proses belajar mengajar yang tenang dan menyenangkan, karena pembelajarannya dilakukan secara alamiah, sehingga memungkinkan peserta didik dapat mempraktekkan secara langsung materi yang dipelajarinya. CTL mendorong peserta memahami
hakekat, makna, dan manfaat belajar, sehingga memungkinkan mereka rajin, dan termotivasi dalam belajar.
Karakteristik CTL menurut Muslich (Afandi, 2013) adalah sebagai berikut. 1) Pembelajaran dilaksanakan dalam konteks autentik, yaitu pembelajaran yang diarahkan pada ketercapaian keterampilan dalam konteks kehidupan nyata atau pembelajaran yang dilaksanakan dalam lingkungan yang alamiah (learning in real life setting). 2) Pembelajaran memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengerjakan tugas-tugas yang bermakna (meaningful learning). 3) Pembelajaran dilaksanakan dengan memberikan pengalaman bermakna kepada siswa (learning by
doing). 4) Pembelajaran dilaksanakan melalui kerja kelompok, berdiskusi,
saling mengoreksi antar teman (learning in a group). 5) Pembelajaran memberikan kesempatan untuk menciptakan rasa kebersamaan, kerjasama, dan saling memahami antara satu dengan yang lain secara mendalam (learning to know each other deeply). 6) Pembelajaran dilaksanakan secara aktif, kreatif, produktif, dan mementingkan kerja sama (learning to ask, to inquiry, to work together). 7) Pembelajaran dilaksanakan dalam situasi yang menyenangkan (learning as an enjoy
activity).
Nurhadi (Afandi, 2013) menderetkan sepuluh kata kunci pembelajaran CTL, yaitu: (a) kerja sama, (b) saling menunjang, (c) menyenangkan, tidak membosankan, (d) belajar dengan gairah, (e)
pembelajaran terintegrasi, (f) menggunakan berbagai sumber, (g) siswa aktif, (h) sharing dengan teman, (i) siswa kritis, (j) dan guru kreatif.
Pendekatan kontekstual dapat diimplementasikan dengan baik, dituntut adanya kemampuan guru yang inovatif, kreatif, dinamis, efektif dan efisien guna menciptakan pembelajaran yang kondusif. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya nara sumber dalam pembelajaran dan kegiatan telah beralih menjadi siswa sebagai pusat kegiatan pembelajaran serta peran guru hanya sebagai motivator dan fasilitator, maka semangat siswa dapat meningkat dengan menggunakan metode, materi, dan media yang bervariasi.
Penerapan kegiatan mengkonstruk atau membangun sendiri pengetahuan pada siswa, membuat siswa terlatih untuk bernalar dan berpikir secara kritis melalui kegiatan inquiry atau menemukan sendiri masalah, kebebasan bertanya ( questioning ), penerapan masyarakat belajar ( learning community ) yaitu melatih siswa untuk bekerjasama, sharing idea, saling berbagi pengalaman, pengetahuan, saling berkomunikasi sehingga terjadi interaksi yang positif antar siswa dan pada akhirnya siswa terlibat secara aktif belajar bersama-sama.
Siswa belajar lebih baik jika lingkungan belajar diciptakan secara alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika siswa mengalami apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetensi mengingat
jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali siswa memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang.
Sebagian besar siswa tidak mampu menghubungkan antara apa yang mereka pelajari dengan bagaimana pengetahuan tersebut dipergunakan. Siswa memiliki kesulitan untuk memahami konsep akademik sebagaimana mereka biasa diajarkan, yaitu menggunakan sesuatu yang abstrak dan metode ceramah, mereka butuh untuk memahami konsep-konsep yang berhubungan dengan dimana mereka hidup.
Suatu pembelajaran kontekstual yang pada dasarnya mengakui bahwa belajar hanya terjadi jika siswa memproses informasi atau pengetahuan baru sedemikian rupa sehingga dirasakan masuk akal sesuai dengan kerangka berfikir yang dimilikinya.
Dengan memperhatikan komponen, ciri, karakteristik dan proses pembelajarannya, secara singkat urutan proses pembelajaran dengan pendekatan kontekstual atau realistik dapat dituliskan sebagai berikut : 1. Kegiatan Awal atau Pembukaan
a. Penyampaian tujuan pembelajaran
b. Penyampaian pokok-pokok materi atau relevansi
c. Pemberian motivasi pelajaran dan melakukan apersepsi d. Penjelasan tentang pembagian kelompok dan cara belajar
2. Kegiatan Inti
a. Dimulai dengan masalah kontekstual atau realistik.
b. Siswa diberi kesempatan menyelesaikan masalah dengan memilih atau membangun strategi sendiri (disampaikan batasan waktu). c. Guru memfasilitasi, antara lain dengan menyiapkan alat peraga atau
media yang lain seperti lembar permasalahan, lembar kerja ataupun lembar tugas.
d. Sesudah waktu habis, beberapa siswa menjelaskan caranya menyelesaikan masalah (informal). Jangan mengintervensi, biarkan siswa selesai mengutarakan idenya.
e. Diskusi kelas dipimpin oleh guru
f. Penyampaian tugas berikut: 1) menggambar atau membuat skema 2) siswa menyajikan hasil yang diperoleh 3) tanggapan siswa lain g. Diskusi kelas dipimpin oleh guru
h. Guru meminta siswa merenungkan materi yang baru saja dipelajari i. Guru secara perlahan membawa siswa ke matematika formal 3. Kegiatan Akhir atau Penutup
a. Penarikan kesimpulan dari apa-apa yang telah dipelajari dalam pembelajaran sesuai tujuan yang akan dicapai.
b. Melakukan refleksi terhadap setiap langkah yang ditempuh atau terhadap hasil pembelajaran.
c. Pemberian tugas atau latihan
b. Pengertian Pembelajaran Kontekstual Terintegrasi Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter merupakan suatu sistem penanaman nilai kepada peserta didik. Pendidikan karakter dapat dikatakan sebagai pendidikan budi pekerti dan pendidikan nilai moralitas manusia. Menurut Koesoema (2015), Pendidikan Karakter adalah panduan sosial yang dilakukan secara sadar untuk membentuk nilai-nilai keutamaan dalam diri individu sebagai pelaku sejarah dalam masyarakat dan dunianya.
Suyanto (dalam Muslich, 2011) menjelaskan bahwa karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama dalam lingkungan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Pemahaman ini menegaskan pentingnya konsep contextual learning yaitu belajar dari konteks kehidupan sekitar dan dari kehidupan sehari-hari. Sehingga peserta didik harus dilibatkan secara aktif dalam upaya penggalian mengapa nilai-nilai dan karakter tersebut memiliki arti sangat penting.
Susana (2018) berpendapat bahwa pembelajaran Kontekstual terintegrasi pendidikan karakter dapat dipahami sebagai pendekatan pembelajaran yang menempatkan hubungan antara materi pembelajaran dengan realitas kehidupan peserta didik sebagai titik pijaknya; yaitu dengan cara menempatkan keterhubungan bahan belajar dan proses belajar dengan alam sekitar, praktik budaya, kearifan lokal, dan berbagai
sumber belajar yang ada di wilayah sekitar menjadi kekuatan utama untuk merancang proses pembelajaran (contextual learning).
Dalam model pembelajaran Kontekstual terintegrasi karakter kekayaan budaya dan nilai-nilai kearifan lokal tiap-tiap suku bangsa yang ada di Indonesia digunakan untuk menghayati dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila secara konkret . Karena di dalam Pancasila terkandung nilai-nilai demokrasi, nasionalisme, penghormatan budaya-budaya lokal, perwujudan bagian dari peradaban dunia.
Pembelajaran Kontekstual terintegrasi pendidikan karakter yaitu pembelajaran yang berpijak pada kekayaan dan kearifan lokal, dipadukan dengan wawasan global dan teknologi terbarukan akan membantu anak mengembangkan karakter dan keterampilan abad 21.
Pembelajaran kontekstual terintegrasi Pendidikan Karakter Berbasis Kelas yaitu integrasi nilai-nilai karakter kontekstual (kearifan setempat) ke dalam kurikulum dan pilihan metode dan pengelolaan kelas adalah komponen yang tak terpisahkan, karena melebur menjadi satu untuk menciptakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang bermakna.
Pendidikan Karakter bukan merupakan mata pelajaran terpisah, melainkan terkandung dalam setiap mata pelajaran yang disampaikan secara tematis integratif ataupun mata pelajaran tertentu yang berdiri sendiri. Untuk itu proses pengintegrasian Pendidikan Karakter Kontekstual ke dalam proses belajar mengajar menjadi bagian yang sangat penting.
Penjelasan tentang Alur Integrasi pendidikan karakter kedalam pendekatan pembelajaran kontekstual yang tertuang dalam buku panduan PPK dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan:
- Standar Kompetensi Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) dalam Kurikulum Nasional, nilai-nilai Pancasila dan kristalisasinya (yang tertuang dalam PPK) menjadi acuan dasar dalam pengembangan kegiatan pembelajaran.
- Tentukan karakter kontekstual yang ingin dikembangkan/ didalami melalui aktivitas pembelajaran menggunakan kekayaan lingkung sekitar.
- Buatlah jaringan tema kontekstual atau perkaya jaringan tema yang sudah ada yang dapat mengikat berbagai mata pelajaran sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai.
- Tentukan aktivitas pembelajaran menggunakan kekayaan lingkungan sekitar tersebut misalnya melalui jelajah alam, kegiatan budaya, aksi kemasyarakatan, permainan, percobaan, praktek, dan lain-lain, serta menyiapkan lembar kerja siswa (LKS).
- Selanjutnya guru melaksanakan proses kegiatan belajar-mengajar (KBM) serta mengakhiri kegiatan belajar dengan melakukan evaluasi- refleksi pembelajaran
Prinsip-prinsip pembelajaran kontekstual diaplikasikan pada semua tahapan pembelajaran. Karena prinsip-prinsip pembelajaran tersebut sekaligus dapat memfasilitasi terinternalisasinya nilai-nilai. Selain itu,
perilaku guru sepanjang proses pembelajaran harus merupakan model pelaksanaan nilai-nilai bagi peserta didik (Kemendiknas, 2010:6).
Hal ini didukung dengan perlunya guru membekali diri dengan sikap positif seperti keinginan selalu memperbaiki diri, selalu ingin tahu hal baru, dan bersedia menerima kegagalan atau kritikan.
C. Pembentukan Karakter Peserta didik melalui Pembelajaran