• Tidak ada hasil yang ditemukan

Harta Bersama Dalam Kompilasi Hukum Islam

BAB II DASAR HUKUM DALAM MENETAPKAN HARTA

B. Harta Bersama Dalam Kompilasi Hukum Islam

Kompilasi Hukum Islam merupakan hukum materil yang pada garis besarnya meliputi bidang-bidang hukum perkawinan, hukum kewarisan dan hukum perwakafan yang dapat dijadikan pedoman bagi Hakim di lingkungan Badan Peradilan Agama sebagai hukum terapan dalam menyelesaikan perkara-perkara yang diajukan kepadanya.

Dengan tersusunnya Kompilasi Hukum Islam menurut Wasit Aulawi dapat diharapkan:59

a. Memenuhi asas manfaat dan keadilan berimbang yang terdapat dalam Hukum Islam.

b. Mengatasi berbagai masalah khilafiyah (perbedaan pendapat) untuk menjamin kepastian hukum

59Wasit Aulia, H.A., Kompilasi Hukum Islam dalam Sistem Hukum Nasional, Pidato Pengukuhan, IAIN, Jakarta, 1989, hlm. 12.

c. Mampu menjadi bahan baku dan berperan aktif dalam pembinaan hukum nasional.

Sebelum membahas ketentuan mengenai harta bersama dalam Kompilasi Hukum Islam, sebaiknya memahami makna dari harta bersama terlebih dahulu. Harta bersama dalam Kompilasi Hukum Islam disebut juga dengan syirkah yaitu harta kekayaan yang diperoleh baik sendiri-sendiri atau bersama suami-istri selama dalam ikatan perkawinan berlangsung tanpa mempersoalkan terdaftar atas nama siapapun.60

Kaidah-kaidah harta bersama suami istri terdapat dalam Pasal 85 sampai dengan Pasal 97 Kompilasi Hukum Islam. Pasal 85 KHI menyatakan bahwa adanya harta bersama dalam perkawinan itu tidak menutup kemungkinan adanya harta milik masing-masing suami istri.

Dengan demikian apabila ada yang ingin membuat perjanjian mengenai kedudukan harta dalam perkawinan, menurut Pasal 47 ayat 2 KHI perjanjian tersebut dapat meliputi percampuran harta pribadi dan pemisahan harta pencarian masing-masing sepanjang hal itu tidak bertentangan dengan Hukum Islam.

Pasal 86 ayat 1 KHI menentukan bahwa pada dasarnya tidak ada pencampuran antara harta suami dan harta istri karena perkawinan. Hak atas harta bawaan ini ditegaskan dalam Pasal 86 ayat 2 KHI, yang menentukan bahwa harta istri tetap menjadi hak istri dan dikuasai penuh olehnya, demikian juga harta suami tetap menjadi hak suami dan dikuasai penuh olehnya.

60Tim Redaksi Aulia,Op. Cit., hlm. 1.

Bandingkan dengan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Pasal 119 yang menentukan bahwa mulai saat perkawinan dilangsungkan, demi hukum berlaku lah persatuan bulat antara harta kekayaan suami dan istri kecuali jika ada perjanjian kawin.

Mengenai harta bawaan ini Kompilasi Hukum Islam mengatur lebih lanjut dalam Pasal 87 ayat 1, bahwa harta bawaan dari masing-masing suami dan istri dan harta yang diperoleh dari masing-masing sebagai hadiah atau warisan adalah dibawah penguassaan masing-masing sepanjang para pihak tidak menentukan lain dalam perjanjian perkawinan.

Guna melengkapi hal itu, pada ayat 2 menegaskan bahwa suami atau istri mempunyai hak sepenuhnya untuk melakukan perbuatan hukum atas harta masing-masing berupa hibah, hadiah, sedekah atau lainnya. Selain hak atas bawaan, suami atau istri berhak atas separuh harta perkawinan atau harta bersama, apabila terjadi perceraian.

Wirjono Prodjodikoro mengemukakan bahwa di antara tiga sistem hukum yang berlaku di Indonesia, dalam hal harta bersama suami istri, hukum Islam paling sederhana pengaturannya, tidak rumit dan mudah untuk dipraktekkan.61Hukum Islam tidak mengenal adanya percampuran harta milik suami dengan harta milik istri, masing-masing dan tidak diperkenankan adanya campur tangan salah satu pihak dalam pengaturannya. Ikut campurnya salah satu pihak hanya bersifat nasehat saja, bukan penentu dalam pengelolaan harta milik pribadi suami atau istri tersebut.

61Abdul Manan, Op. Cit., hlm. 160.

Ketentuan Hukum Islam tersebut sangat erat karena kenyataannya percampuran hak milik suami istri menjadi harta bersama banyak menimbulkan masalah dan kesulitan sehingga memerlukan aturan khusus untuk menyelesaikannya.

Meskipun Hukum Islam tidak mengenal adanya percampuran harta pribadi masing-masing ke dalam harta bersama suami istri tetapi dianjurkan adanya saling pengertian antara suami istri dalam mengelola harta pribadi tersebut, jangan sampai di dalam mengelola kekayaan pribadi ini dapat merusak hubungan suami istri yang menjurus kepada perceraian.

Pada Pasal 88 KHI disebutkan bahwa apabila terjadi perselisihan antara suami istri tentang harta bersama, maka penyelesaian perselisihan itu diajukan kepada Pengadilan Agama. Pengadilan agama adalah pihak ketiga, sebagai tempat penyelesaian harta bersama apabila urusan pembagian harta bersama tidak dapat ditempuh dengan jalan perdamaian atau kesepakatan antara para pihak yang bersengketa (Ash-Shulhu) tentang bagian yang diterima oleh masing-masing, yang dengan kesepakatan itu para ahli waris dengan sukarela melepaskan sebagian haknya.

Suami istri harus menjaga harta bersama dengan penuh amanah, sebagaimana diatur dalam Pasal 89 KHI, “Suami bertanggung jawab menjaga harta bersama, harta istri maupun hartanya sendiri” dan Pasal 90 KHI, “Istri turut bertanggung jawab menjaga harta bersama maupun harta suami yang ada padanya”.

Pasal 91 KHI menyatakan bahwa harta bersama dalam perkawinan dapat berupa benda berwujud atau tidak berwujud. Harta bersama yang berwujud dapat meliputi benda bergerak, benda tidak bergerak dan surat-surat berharga, sedangkan

harta bersama yang tidak berwujud dapat berupa hak dan kewajiban. Harta bersama dapat dijadikan sebagai barang jaminan oleh salah satu pihak atas persetujuan pihak lainnya. Dengan kata lain, harta bersama merupakan hak bersama yang oleh masing-masing pihak boleh dipergunakan asalkan mendapat izin dari pasangannya.

Suami atau istri tanpa persetujuan pihak lain tidak diperbolehkan menjual atau memindahkan harta bersama (Pasal 92 KHI). Apabila penjualan atau pemindahan harta bersama mengabaikan persetujuan suami/istri maka perjanjian cacat hukum dalam unsur subyektifnya. Pada saat melakukan transaksi tersebut statusnya bukanlah sebagai subyek yang secara penuh berwenang untuk melakukan tindakan hukum sehingga perjanjian dapat dibatalkan.62

Mengenai pertanggungjawaban hutang yang dibebankan terhadap harta bersama diatur dalam Pasal 93 KHI, yang menyatakan bahwa pertanggungjawaban yang dilakukan untuk kepentingan keluarga dibebankan kepada harta bersama, bila harta bersama tidak mencukupi maka dibebankan kepada harta suami, bila harta suami tidak ada atau tidak mencukupi dibebankan kepada harta istri. Adapun pertanggungjawaban terhadap hutang suami atau istri dibebankan pada hartanya masing-masing. Pasal 29 ayat 1 Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 menentukan untuk membuat suatu perjanjian dalam perkawinan harus atas persetujuan bersama, perjanjian itu hanya berlaku dan sah bagi yang membuat

62Pasal 1320 KUHP Untuk sahnya suatu perjanjian diperlukan empat syarat yaitu:

1. sepakat mereka yang mengikatkan dirinya 2. kecakapan untuk membuat suatu perikatan 3. suatu hal tertentu

4. suatu sebab yang halal

perjanjian. Hal ini menentukan status hutang tersebut. Jika suatu perjanjian hutang tidak terpenuhi syarat Pasal 1320 KUHPerdata, yaitu kesepakatan para pihak maka perjanjian itu dapat dibatalkan.

Dengan tidak adanya persetujuan bersama suami istri ketika membuat persetujuan hutang maka perjanjian itu hanya berlaku bagi salah satu pihak yang membuat perjanjian itu yakni suami atau istri. Sehingga perjanjian itu bukan perjanjian bersama tetapi perjanjian pribadi.63Karena perjanjian pribadi maka hutang tersebut adalah hutang pribadi dan pembebanan pertanggungjawaban menjadi beban pribadi atau harta pribadi.

Pengaturan harta bersama dari perkawinan yang mempunyai istri lebih dari seorang terdapat dalam Pasal 94 KHI yang menyatakan bahwa harta bersama tersebut masing-masing terpisah dan berdiri sendiri dan dihitung pada saat berlangsungnya perkawinan yang kedua, ketiga atau keempat.

Pasal 94 KHI menegaskan bahwa bentuk harta bersama dalam perkawinan poligami, masing-masing terpisah dan tersendiri. Aturan ini sejalan dengan ketentuan Pasal 65 ayat 1 huruf b dan c Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Asas dalam perkawinan poligami adalah terbentuknya beberapa harta bersama sebanyak istri yang dikawini suami. Terbentuknya masing-masing harta bersama sebanyak istri dihitung sejak tanggal berlangsungnya perkawinan dan masing-masing harta bersama terpisah dan tersendiri.

63Tesis Andayanti Lubis, Kajian Yuridis Pertanggungjawaban Atas Harta Bawaan Istri Terhadap Hutang Suami Dengan Jaminan Harta Bersama (Studi Kasus Putusan Nomor:

295/Pdt.G/2001/PN.Mdn), Mkn, Universitas Diponegoro, 2009, Semarang.

Pasal 95 Kompilasi Hukum Islam ayat 1 mengatakan bahwa dengan tidak mengurangi ketentuan Pasal 24 ayat 2 huruf c Peraturan Pemerintah No.9 Tahun 1975 dan Pasal 136 untuk meletakkan sita jaminan atas harta bersama tanpa adanya permohonan gugatan cerai, apabila salah satu melakukan perbuatan yang merugikan dan membahayakan harta bersama seperti judi, mabuk, boros dan sebagainya. Pada ayat 2 disebutkan bahwa selama masa sita dapat dilakukan penjualan atas harta bersama untuk keperluan keluarga dengan izin Pengadilan Agama.

Dalam kaitannya dengan pembagian harta bersama, Pasal 96 ayat 1 KHI menentukan pula apabila terjadi cerai mati, maka separuh harta bersama menjadi hak pasangan yang hidup lebih lama. Ayat 2 mengatakan bahwa pembagian harta bersama bagi seorang suami atau istri yang istri atau suaminya hilang harus ditangguhkan sampai adanya kepastian matinya yang hakiki atau matinya secara hukum atas dasar putusan Pengadilan Agama.

Pasal 97 menentukan bahwa janda atau duda cerai hidup masing-masing berhak seperdua dari harta bersama sepanjang tidak ditentukan lain dalam perjanjian perkawinan.

Pembagian harta bersama ini dapat dikaitkan dengan firman Allah SWT, yang berbunyi: “Bagi laki-laki mendapat bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi wanita mendapat bagian dari apa yang mereka usahakan”.64 Disini dapat terlihat bahwa pembagian terhadap harta bersama dapat dilakukan berdasarkan besar kecilnya

64QS. An-Nissa’ ayat 32.

sumbangan kekayaan bersama. Apabila sama besar, maka harta peninggalan almarhum setengah dari harta bersama tersebut.

Apabila tidak sama besar antara usaha suami dengan usaha istri maka harta peninggalan suami banding istri adalah dua banding satu.

C. Pendapat Para Ulama Tentang Harta Bersama Dalam Perkawinan

Di dalam kitab-kitab fikih tradisionial, harta bersama diartikan sebagai harta kekayaan yang dihasilkan oleh suami istri selama mereka diikat oleh tali perkawinan atau dapat disebut bahwa harta bersama itu adalah harta yang dihasilkan dengan jalan syirkah antara suami istri sehingga terjadi percampuran harta yang satu dengan yang lain dan tidak dapat dibeda-bedakan lagi.

Ada beberapa istilah syirkah yang dikemukakan Para Ulama Fikih. Menurut Mazhab Maliki, syirkah adalah sesuatu izin untuk bertindak secara hukum bagi dua orang yang bekerjasama terhadap harta mereka. Menurut Mazhab Syafi’i dan Hambali, syirkah adalah hak bertindak hukum bagi dua orang atau lebih pada sesuatu yang mereka sepakati. Dan menurut Mazhab Hanafi, syirkah adalah akad yang dilakukan oleh orang-orang yang bekerjasama dalam modal dan keuntungan.65

Dalam bahasa Arabnya didapati berbagai logat harta syarikat yang isi dan tujuannya sama, yaitu: Syarikat, Syarkat dan Syirkat. Ketiga macam logat dan sebutan itu tidak berubah artinya. Para Ulama fikih membagi syirkah dalam dua bentuk, yaitu syirkah al-amlak (perserikatan dalam pemilikan) dan syirkah al-‘uqud (perserikatan berdasarkan suatu akad).

65Tesis Yusriana, Op. Cit., hlm. 26.

Syirkah al-amlak adalah dua orang atau lebih memiliki harta bersama-sama tanpa melalui akad syirkah. Syirkah ini terbagi dua bentuk, yaitu:66

1. Syirkah ikhtiyar (perserikatan dilandasi pilihan orang yang bersyarikat), yaitu perserikatan yang muncul akibat tindakan hukum orang yang berserikat, seperti dua orang yang bersepakat membeli suatu barang atau mereka menerima harta hibah, wasiat atau wakaf dari orang lain, lalu kedua orang itu menerima pemberian hibah, wasiat atau wakaf tersebut dan menjadi milik mereka secara berserikat. Dalam kasus seperti ini, harta yang dibeli bersama atau yang dihibahkan, diwakafkan atau yang diwasiatkan orang itu menjadi harta serikat bagi mereka berdua.

2. Syirkah jabr (perserikatan yang muncul secara paksa, bukan atas keinginan orang yang berserikat), yaitu sesuatu yang ditetapkan menjadi milik dua orang atau lebih tanpa kehendak dari mereka. Seperti harta warisan yang mereka terima dari seorang yang wafat. Harta warisan itu menjadi milik bersama orang-orang yang menerima warisan itu.

Para ahli fikih berpendapat bahwa status harta masing-masing orang yang berserikat dalam bentuk syirkah al-amlak di atas, sesuai dengan hak masing-masing, bersifat berdiri sendiri secara hukum. Apabila masing-masing ingin bertindak hukum

66Tesis Yusriana, Op. Cit., hlm. 28.

terhadap harta serikat itu, harus ada izin dari mitranya karena seseorang tidak memiliki kekuasaan atas bagian harta orang yang menjadi mitra serikatnya.67

Syirkah al-‘uqud adalah syirkah yang akadnya disepakati dua orang atau lebih untuk mengikatkan diri dalam perserikatan modal, kerja dan keuntungan.68

Adapun bentuk-bentuk syirkah al-uqud adalah sebagai berikut:

1. Syirkah ‘Inan yaitu dua orang atau lebih berkongsi (bersyarikat) di dalam harta yang tertentu, umpamanya bersarikat didalam membeli suatu barang dan keuntungan untuk mereka.

2. Syirkah Abdan yaitu dua orang atau lebih bersyarikat masing-masing mengerjakan suatu pekerjaan dengan tenaga dan hasilnya (upahnya) untuk mereka bersama menurut perjanjian yang mereka buat, seperti tukang kayu, tukang batu, mencari ikan di laut, berburu dan kegiatan yang seperti menghasilkan lainnya.

3. Syirkah Mufawadhah yaitu perserikatan dari dua orang atau lebih untuk melaksanakan suatu pekerjaan dengan tenaganya yang masing-masing di antara mereka mengeluarkan modal, menerima keuntungan dengan tenaga dan modalnya, masing-masing melakukan tindakan meskipun tidak diketahui oleh pihak lain.

4. Syirkah Wujuh yaitu syarikat atas tanpa pekerjaan ataupun harta, yaitu permodalan dengan dasar kepercayaan pihak lain kepada mereka.

67A. Rahman Ritonga, Ensiklopedia Hukum Islam, Jilid 3, Ikhtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, hlm. 171.

68Ibid.

Terhadap pembagian harta syarikat sebagaimana tersebut di atas, dapat diungkapkan pendapat ulama fikih tentang hukum masing-masing bentuk syirkah yang termasuk dalam kategori Syirkah al-‘uqud, yaitu:69

1. Tentang Syirkah ‘Inan, ulama fikih sepakat menyatakan bahwa bentuk perserikatan ini adalah boleh.

2. Tentang Syirkah Mufawadhah, terdapat perbedaan pendapat para ulama fikih.

Menurut ulama mazhab Hanafi dan Zaidiah, tidak diperbolehkan bila modal salah satu pihak lebih besar dari pada pihak lain, dan keuntungan untuk satu pihak lebih besar dari keuntungan yang diterima mitra serikatnya. Namun jika dilakukan transaksi secara musyawarah dan persetujuan para pihak maka ulama mazhab Hanafi membolehkan bentuk syirkah ini. Sedangkan ulama mazhab Maliki tidak membolehkan perserikatan ini. Ulama Mazhab Syafi’i dan Hambali tidak membolehkan perserikatan ini karena sulit untuk menentukan kesamaan modal, kerja dan keuntungan dalam perserikatan tersebut.

3. Tentang Syirkah Abdan ada perbedaan pendapat para ulama fikih, yaitu:

Ulama mazhab Maliki, Hanafi, Hambali dan Zaidiah berpendapat membolehkan, hanya saja khusus mazhab Maliki mensyaratkan sifat pekerjaan itu harus sejenis, satu tempat serta hasil yang diperoleh dibagi menurut kuantitas kerja masing-masing. Sedangkan menurut mazhab Syafi’i memandang perserikatan itu tidak sah atau tidak dibolehkan karena yang

69Tesis Yusriana, Op. Cit., hlm. 32.

menjadi objek perserikatan itu adalah modal/harta bukan kerja. Sehingga ada kemungkinan terjadi unsur penipuan yang mungkin akan menimbulkan perselisihan.

4. Tentang Syirkah Wujuh, terdapat perbedaan pendapat ulama fikih. Ulama mazhab Hanafi, Hambali dan Zaidiah memandang perserikatan ini hukumnya boleh karena dalam perserikatan ini masing-masing pihak bertindak sebagai wakil dari pihak lain sehingga pihak lain itupun terikat pada transaksi yang telah dilakukan mitra serikatnya. Disamping itu, perserikatan seperti ini banyak dilakukan di berbagai wilayah Islam dan tidak ada ulama fikih yang menentangnya. Sedangkan mazhab Maliki dan Syafi’i berpendapat perserikatan ini tidak diperbolehkan. Alasan mereka adalah objek perserikatan itu adalah modal dan kerja sedangkan dalam syirkah wujuh tidak demikian baik modal maupun kerja dalam perserikatan ini dalam syirkah wujuh tidak ada, bentuk kerjanya pun tak jelas.

Harta bersama dalam perkawinan digolongkan dalam bentuk syirkah abdan dan syirkah mufawadhah sebagaimana yang telah dikemukakan di atas. Suatu hal yang penting untuk dicatat bahwa doktrin hukum fikih tidak ada yang membahas secara rinci tentang harta bersama suami istri dalam perkawinan.

Dalam kitab-kitab fikih disebutkan hanya secara garis besarnya saja sehingga menimbulkan penafsiran yang berbeda terhadap suatu masalah yang mereka hadapi dalam kenyataannya. Hal ini mungkin disebabkan oleh karena pada umumnya

pengarang kitab fikih adalah orang Arab dan tidak mengenal adana adat mengenai pencarian bersama suami istri.

Namun demikian Para Ulama di Indonesia ketika merumuskan Pasal 85 sampai dengan Pasal 97 Kompilasi Hukum Islam setuju untuk mengambil syirkah abdan sebagai landasan merumuskan kaidah-kaidah harta bersama suami istri dalam kompilasi.

Para Perumus Kompilasi Hukum Islam melakukan pendekatan dari jalur syirkah abdan dengan hukum adat. Cara pendekatan yang demikian ini tidak bertentangan dengan kebolehan menjadi ‘urf sebagai sumber hukum dan sejiwa dengan kaidah yang mengajarkan al ‘adatu muhakkamah.

BAB III

KEDUDUKAN JANDA TERHADAP HARTA BERSAMA DAN HARTA WARISAN DITINJAU DARI KOMPILASI HUKUM ISLAM

A. Kedudukan Janda Terhadap Harta Bersama Ditinjau Dari Undang-Undang