BAB II DASAR HUKUM DALAM MENETAPKAN HARTA
B. Kedudukan Janda Terhadap Harta Warisan Dalam Kewarisan
Ada tiga alasan yang menyebabkan tali ikatan perkawinan terputus, yaitu karena kematian, perceraian dan atas putusan pengadilan.73
1. Karena Kematian
72KH. Hasan Basri, Perlunya Kompilasi Hukum Islam, Mimbar Ulama, Nomor 104, Th. X, April, 1986, hlm. 60.
73Tim Redaksi Aulia, Op. Cit., hlm. 35.
Mengenai putusnya hubungan perkawinan karena kematian dikarenakan pasangan suami istri sebagai manusia dan makhluk Allah SWT memang harus dan akan menemui ajalnya. Sebagaimana yang di firmankan Allah SWT “...semua yang hidup pasti akan merasakan mati...”74.
Kematian merupakan suatu hal yang pasti akan terjadi pada manusia tidak terkecuali kematian terhadap istri atau suami dalam keluarga. Apabila terjadi kematian terhadap salah seorang suami ataupun istri maka secara otomatis hubungan perkawinan itu terputus.
Putusnya pernikahan yang diakibatkan oleh kematian adalah putusnya pernikahan antara suami istri beserta dengan hak dan kewajibannya. Ada 3 cara menentukan bahwa seseorang telah meninggal, yaitu:75
a. Mati Hakiki, yaitu mati yang terlihat jasadnya. Artinya jasadnya secara biologis tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Pastinya yang meninggal tersebut tidak bisa kembali lagi dengan suami/ istrinya lagi.
b. Mati Takdiri, yaitu dikira-kira atau dengan dugaan yang sangat kuat.
Contohnya, ketika ada sebuah bencana alam. Seorang suami berpisah dengan istrinya dan salah satunya hilang tidak ada kabarnya dikarenakan bencana alam tersebut. Setelah sekian lama tidak kembali, maka diputuskan bahwa yang bersangkutan telah mati. Mati ini bersifat memutuskan dan jasadnya tidak bisa dilihat (tidak di hadapan mata). Menurut hukum waris juga
74Q.S Ali Imran ayat 185.
75Abdul Rofiq, Fiqh Mawaris, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1998, hlm. 22.
mengatakan bahwa kasus seperti ini bisa diputuskan bahwa yang bersangkutan telah mati. Mati takdiri bersifat dugaan dan ada syaratnya, yaitu yang diduga mati telah hilang dalam kondisi tidak aman (misal: bencana alam, perang, dll) dan dalam jangka waktu yang lama, yang bersangkutan tidak ada kabar tentang kehidupannya.
c. Mati Hukmi, yaitu pada dasarnya sama seperti mati takdiri, tetapi mati hukmi diputuskan oleh pengadilan. Misalnya seperti kasus di atas. Setelah sekian lama tidak ada kabar, maka keluarga mendatangi pengadilan dan pengadilan memutuskan bahwa yang bersangkutan telah meninggal. Mati hukmi sifatnya lebih formal.
Adanya kematian suami/istri menimbulkan terpenuhinya salah satu asas-asas hukum kewarisan Islam. Hukum kewarisan Islam disebut juga faraid dan merupakan salah satu bagian dari keseluruhan hukum Islam yang mengatur peralihan harta dari orang yang telah meninggal kepada orang yang masih hidup.
2. Karena Perceraian
Perceraian merupakan perbuatan yang tidak disukai Allah. Di dalam Al-Qur’an dinyatakan bahwa “Pergaulilah istri kamu itu sebaik-baik (makhruf), kemudian apabila ketidak sukaan kamu itu, Allah menjadikannya kebaikan yang banyak”.76 Dari bunyi ayat tersebut sebenarnya secara sindiran dan tersirat Allah SWT menyatakan bila ada perasaan tidak enak dan tidak disenangi oleh pihak suami
76Departemen Agama RI, Terjemahan Al-Qur’an , PT. Bumi Restu, 2004, hlm. 120.
terhadap istrinya hendaklah ia tetap menggauli istrinya itu dengan baik dan jangan menceraikan istrinya.
Demikian pula halnya bagi pihak istri, didalam Islam tidak boleh mengambil inisiatif untuk terjadinya suatu perceraian hanya karena tidak senang pada suaminya.
Apabila istri melakukan permintaan bercerai pada suaminya, maka ia akan menerima kemarahan besar dari Allah SWT, hal ini dapat pula dilihat dari Hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Tarmidzi, Abu Daud dan Ibnu Madjah bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Perempuan manapun yang minta cerai pada suaminya tanpa sebab-sebab yang wajar yang menghalalkan maka haramlah bagi perempuan itu membaui atau merasakan kewangian surga nantinya”.77
3. Karena Putusan Pengadilan
Dalam hal ini adalah putusan-putusan Pengadilan Agama yang disebabkan adanya hal-hal yang diluar talak atau gugatan, misalnya adanya permohonan pihak ketiga terhadap suatu perkawinan yang telah dilangsungkan tersebut untuk dibatalkan yamg dikarenakan terjadinya kesalahan ataupun terdapatnya sebab lain.
Dalam hal putusan pengadilan ini juga dapat disebabkan karena perginya salah satu pihak meninggalkan pihak lain dengan tidak memberitahukan kepergiannya itu untuk jangka waktu yang lama dan dalam hal ini hakim berhak menyatakan pihak yang pergi meninggalkan pihak lain tersebut hilang. Dengan demikian maka perkawinan dalam hal ini adalah putusan dengan putusan pengadilan.
77Sayuti Thalib, Hukum Kekeluargaan Indonesia, UI Press, Jakarta , 1986, hlm. 100.
Dengan adanya pemutusan hubungan perkawinan maka akan terjadi persoalan harta bersama. Hal ini merupakan masalah yang penting untuk dijamin karena menyangkut kehidupan suami atau istri.
Allah SWT menjelaskan bagian setiap ahli waris yang berhak mendapatkan warisan dan sekaligus menjelaskan besarnya bagian ahli waris tersebut berikut syarat-syaratnya ke dalam tiga ayat Al-Qur’an yang merupakan dasar-dasar ilmu faraid (kewarisan) berikut rukun-rukun hukumnya.78Yaitu:
1. “Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu, yaitu bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan, dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Jika anak perempuan itu seorang saja maka dia memperoleh separoh harta. Dan untuk dua orang ibu atau bapak masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak. Jika yang meninggal tidak mempunyai anak dan dia diwarisi oleh ibu bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga, jika yang meninggal itu mempunya beberapa saudara maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut diatas) sesudah dipenuhi wasiat yang dia buat atau sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa diantara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”79
2. “Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan istri-istrimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika istri-istrimu itu mempunyai anak maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang dia buat atau sesudah dibayar hutangnya. Para istri memperoleh seperempat dari harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak maka para istri
78Syekh Muhammad Ali ash Shabuni, Hukum Waris Menurut Al-Qur’an dan Hadis, Trigenda Karya, Bandung, 1995, hlm. 16.
79Q.S An-Nisaa’ ayat 11.
memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau sesudah dibayar hutang-hutangmu.
Jika seseorang meninggal, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta.
Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi madarat (kepada ahli waris), (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syariat yang benar-benar dari Allah dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.”80
3. “Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah, Allah memberi fatwah kepadamu tentang kalalah (yaitu), jika seorang meninggal dunia, dan dia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika dia tidak mempunyai anak, tetapi jika saudara perempuan itu dua orang maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara lelaki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.81
Berdasarkan ketiga ayat di atas dapat dijelaskan secara terperinci:
1. QS. An-Nisaa’ ayat 11 Menunjukkan bahwa:
1. Jika seseorang meninggalkan ahli waris seorang laki-laki dan seorang perempuan, maka harta waris dibagi bersama, dengan ketentuan, laki-laki mendapat dua bagian sedangkan wanita mendapat satu bagian.
80Q.S. An-Nisaa’ ayat 12.
81Q.S An-Nisaa’ ayat 176.
2. Jika ahli waris terdiri dari beberapa laki-laki dan perempuan, maka semua ahli waris mendapat bagian dengan ketentuan, bagian laki-laki dua kali lipat dari bagian perempuan.
3. Jika di samping anak-anak, ada ahli waris yang mendapat bagian pokok seperti suami atau istri, atau ayah dan ibu, maka pertama-tama memberikan bagian pokok tersebut kepada orang yang berhak mendapatkannya sedangkan sisanya dibagikan kepada anak-anaknya dengan ketentuan, bagian laki-laki dua kali lipat dari bagian perempuan.
4. Ayah dan ibu mendapat bagian masing-masing 1/6 (dari seluruh harta) apabila pewaris meninggalkan anak.
5. Apabila pewaris tidak meninggalkan anak, maka ibu akan mendapat bagian 1/3 harta dan sisanya yakni 2/3 diwarisi oleh ayah.
6. Apabila di samping ayah dan ibu, ada saudara si pewaris, dua orang atau lebih, maka ibu mendapat bagian sebesar 1/6 harta, sisanya sebesar 5/6 menjadi bagian ayah. Sedangkan saudaranya (baik laki-laki maupun perempuan) tidak mendapat bagian sama sekali karena adanya ayah yang menghalangi mereka untuk mendapatkan warisan.
2. QS. An-Nisaa’ ayat 12 Menunjukkan bahwa:
1. Bila istri meninggal dan tidak meninggalkan anak, suami mendapatkan ½ bagian. Bila istri meninggal dan meninggalkan anak, suami mendapatkan ¼ bagian.
2. Bila suami meninggal dan tidak meninggalkan anak, istri mendapatkan ¼ bagian. Bila suami meninggal dan meninggalkan anak, istri mendapatkan 1/8 bagian.
3. Allah memberikan ketentuan warisan kepada saudara pada dua tempat. Pada tempat pertama Allah menetukan memberi bagian bagi seorang saudara sebesar 1/6, sedangkan untuk dua orang saudara atau lebih sebesar 1/3 yang masing-masing mendapat bagian yang sama.
Dalam ayat-ayat Al-Qur’an diatas, Allah SWT menjelaskan bagian setiap ahli waris dari para ahli waris yang berhak mendapatkan warisan dan sekaligus menjelaskan besarnya bagian ahli waris tersebut berikut syarat-syaratnya. Allah juga telah menjelaskan situasi dan kondisi seseorang kapan dia mendapat harta warisan atau tidak, kapan dia mendapatkan bagian pokok atau bagian sisa, atau bagian pokok dan bagian sisa sekaligus dan kapan seseorang terhalang mendapatkan bagian, sehingga dia tidak mendapatkan bagian sama sekali maupun hanya mendapatkannya sebagian kecil saja.
Jika setiap orang memahami dan mengerti ayat-ayat tersebut diatas maka dengan mudah akan mengetahui bagian setiap ahli waris dan mengetahui kebijaksanaan Allah Yang Maha Agung dalam menentukan pembagian warisan secara terperinci dan adil. Allah tidak melupakan hak seorangpun dan tidak melewatkan satu keadaan pun, baik anak kecil maupun orang dewasa, baik perempuan maupun laki-laki.
Selain ayat-ayat diatas sebelumnya, terdapat ayat-ayat lain yang membicarakan masalah kewarisan tetapi bersifat umum seperti ayat-ayat yang mengenai hak-hak para ahli waris tanpa ada perinciannya.82Demikian juga ayat yang menjelaskan bahwa kerabat jauh memiliki hak untuk mendapatkan warisan, tetapi tidak ada batasan atau penjelasan mengenai besar kecilnya bagian setiap ahli waris tersebut.
Ayat-ayat yang menunjukkan pembagian harta bagi ahli waris dari kerabat jauh tersebut adalah :
1. “Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) didalam kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Segala Sesuatu.”83
2. “Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris mewarisi) didalam kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Adalah yang demikian itu telah tertulis didalam Kitab Allah.”84
3. “Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu bapak dan kerabatnya, dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan bapak ibu kerabatnya baik sedikit maupun banyak menurut bagian yang telah ditetapkan.”85
Dalam ayat pertama dan kedua ditunjukkan bahwa kaum kerabat lebih berhak atas harta warisan saudaranya daripada orang lain yang tidak ada hubungan kerabat sama sekali. Dari ayat ketiga, Allah menghilangkan perlakuan dzalim terhadap dua golongan yang lemah, yaitu wanita dan anak kecil dan memperlakukan keduanya dengan adil dan penuh kasih sayang. Mereka diberi hak untuk mendapatkan warisan
82Syekh Muhammad Ali ash Shabuni, Op.Cit, hlm. 19.
83Q.S Al-Anfaal ayat 75.
84Q.S. Al-Ahzab ayat 6.
85Q.S An-Nisaa’ ayat7.
sebagaimana Allah mewajibkan agar warisan diberikan kepada laki-laki dan perempuan tanpa melihat perbedaan usia, serta menetapkan bagian tertentu untuk masing-masing, baik banyak maupun sedikit, baik dengan kerelaan ahli waris maupun tidak. Wanita dan anak-anak diberi bagian sesuai dengan kedudukannya.
Dan Allah menghapuskan kedzaliman dan ketidakadilan terhadap wanita dan anak-anak. Ayat ketiga tersebut bersifat umum sedangkan perinciannya terdapat pada ayat-ayat sebelumnya yang didalamnya Allah telah memberikan bagian tertentu kepada setiap ahli waris dan inilah yang merupakan materi pokok ilmu waris.
Anggota pasangan keluarga yang terlama hidup, mewarisi pasangannya yang terlebih dahulu meninggal. Suami mewarisi harta peninggalan istrinya disebut duda.
Istri mewarisi harta peninggalan suaminya disebut janda.
Dalam hukum waris Islam telah diatur dan ditata yang menyangkut peralihan harta warisan dari seorang pewaris kepada para ahli warisnya. Proses peralihan semacam ini dikenal dengan ilmu faraid, yakni ilmu pembagian harta waris. Ilmu yang menerangkan ketentuan-ketentuan warisan yang menjadi bagian ahli waris yang secara garis besarnya dibedakan dalam dua hal, yakni pertama sebagai peraturan-peraturan tentang pembagian harta warisan, kedua sebagai peraturan-peraturan-peraturan-peraturan yang menghitung bagian-bagian dari masing-masing yang berhak atas harta warisan.
Harta warisan baru dapat dibagi-bagikan kepada ahli waris apabila dari keseluruhan harta warisan yang ada tersebut telah dikeluarkan bagian dari harta bersama, biaya penguburan jenazah dan hutang-hutang pewaris serta wasiat pewaris.
Allah SWT berfirman: “Sesudah diberikan wasiat yang diwasiatkan dan sesudah dibayarkan hutang yang dibuat pewaris.”86
Dari ayat di atas jelas adanya keharusan untuk membebaskan hak-hak orang lain yang tersangkut dalam harta peninggalan itu. Seandainya harta yang ditinggalkan itu banyak sehingga sesudah dikeluarkan segala macam kewajiban yang terdapat didalamnya, masih banyak harta yang ditinggalkan, tidak ada persoalan kewajiban mana yang harus dipenuhi terlebih dahulu. Tetapi bila harta yang ditinggalkan sedikit dan tidak berkecukupan untuk menyelesaikan semua kewajiban, perlu dipikirkan mana yang lebih dulu dipenuhi.
Untuk maksud tersebut perlu dijelaskan mengenai urutan-urutan kewajiban yang harus dilakukan oleh ahli waris terhadap harta peninggalan kerabat yang telah meninggal.
Di dalam Al-Qur’an hanya dua kewajiban yang disebutkan secara berurutan sebagai persyaratan pembagian warisan untuk ahli waris yaitu wasiat dan hutang.
Sekalipun dalam Al-Qur’an, Allah menyebutkan wasiat lebih dahulu dari hutang, namun tidak berarti bahwa dalam pelaksanaanya wasiat harus mendahului pembayaran hutang. Yang dikehendaki Allah dalam ayat ini adalah wasiat dan hutang lebih dahulu diselesaikan sebelum pembagian warisan.
Dalam penafsiran yang berlaku, semua ulama menyatakan bahwa pembayaran hutang harus lebih dahulu dilakukan daripada mengeluarkan wasiat. Alasan hukum yang digunakan oleh ulama ini adalah bahwa hutang merupakan suatu kewajiban
86QS.An.Nisaa’ ayat 11.
sedangkan wasiat hanyalah perbuatan baik yang dianjurkan. Bila bertemu kewajiban dengan anjuran, kewajiban harus didahulukan.87
Dari uraian tersebut di atas, maka sampailah kepada pembahasan kedudukan janda sebagai ahli waris dalam kewarisan Islam. Allah SWT berfirman “Bagi istri-istrimu sebagai janda peninggalanmu seperempat dari harta peninggalanmu, jika bagimu tidak ada anak, Bagi istri-istrimu sebagai janda peninggalanmu seperdelapan dari harta peninggalanmu, jika bagimu ada anak”.88
Dari ayat ini memberi penjelasan bahwa janda terhadap harta peninggalan almarhum suaminya akan memperoleh seperempat bagian, bila suami yang diwarisinya tidak mempunyai anak yang berhak mewarisi baik secara dzawil furudh (ahli waris yang mempunyai bagian tertentu sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an dan Hadis). Dan janda almarhum suaminya akan memperoleh seperdelapan bagian, bila suami yang diwarisinya mempunyai anak yang berhak sebagai ahli waris dzawil furudh, baik yang lahir dari istri pewaris maupun dari istrinya yang lain.
Jika suami meninggal dunia meninggalkan beberapa janda maka janda itu mendapat bagian yang sama dari dari seperempat atau seperdelapan dari harta warisan almarhum suami mereka. Pada hakekatnya, menurut ketentuan Hukum Islam, kedudukan janda dari almarhum suaminya, sama dengan kedudukan suaminya, kedudukan bapak, ibu, anak laki-laki dan anak perempuan yaitu tidak pernah mahjub hirman atau terhalang.
87Amir Syarifuddin, Op. Cit., hlm. 278.
88QS. An-Nisaa’ ayat 12.
Dengan demikian janda dari almarhum suaminya tidak akan pernah kehilangan hak waris dari pewaris. Hanya saja yang terjadi sebagaimana yang tersebut dalam ayat Al-Qur’an yang dikemukakan di atas yaitu perubahan besarnya bagian yang diperolehnya. Seorang janda akan memperoleh seperdelapan bagian dari harta peninggalan suaminya jika mempunyai anak dan jika tidak mempunyai anak memperoleh seperempat bagian.
Pada Zaman Jahiliyah (Zaman kebodohan) sebelum Islam, telah dikenal adanya kewarisan antara yang meninggal dunia dan ahli warisnya. Harta warisan hanya dibagikan kepada laki-laki saja, wanita sama sekali tidak mendapat waris, baik kedudukannya sebagai ibu, istri maupun selain dari mereka ini dalam garis hukum perempuan.
Orang yang mewarisi harta pusaka hanyalah kakak laki-lakinya atau anak laki-laki sulungnya jika telah mencapai usia dewasa. Kemampuan untuk mendapatkan harta pusaka dilihat dari kemampuan seseorang dalam mengatur urusan keluarga dan kemampuannya dalam melindungi keluarga dari serangan musuh karena mereka hidup selalu dalam berperang serta kemampuannya dalam hal mengusir guna-guna yang diserang oleh kelompok yang lain.
Hingga sampai datangnya agama Islam, tradisi semacam ini tetap mereka pertahankan. Oleh karena itu pada jaman jahiliyah jarang sekali ditemukan kaum wanita mendapat pusaka dari orang tuanya.89 Orang yang mewarisi harta orang
89Abdul Manan, Op. Cit., hlm. 195.
tuanya hanyalah anak laki-laki, anak laki-laki pamannya atau anak laki-laki sulung jika sudah mencapai usia dewasa.
Kaum Arab Jahiliyah memberikan persyaratan waris mewaris sesuai dengan kondisi kehidupan masyarakat mereka. Oleh karena itu, mereka tidak mewariskan pusaka kepada anak-anak yang masih belia dan kaum wanita, karena mereka dianggap tidak mampu mengemban tugas menjaga ketertiban dan keamanan serta memanggul senjata di medan perang. Wanita sama sekali tidak mendapatkan warisan, lebih dari itu lagi wanita yang telah menjadi janda dalam sebagian keadaan diwarisi pula, sebagaimana mewarisi harta pusaka orang lain.
Anak dari suami yang meninggal dunia boleh mewarisi istri ayahnya yang meninggal dengan cara melemparkan kainnya kepada istri ayahnya itu, maka jadilah istri ayahnya itu menjadi milik bagi anaknya, anaknyalah yang mengatur nasib dari bekas istri ayahnya sebagaimana dikehendakinya, boleh dikawininya sendiri atau dikawinkannya dengan orang lain dan maharnya diambilnya atau tidak dibolehkan kawin lagi sampai mati dan setelah mati hartanya diwarisinya.90
Keadaan ini berlaku sampai datangnya agama Islam. Agama Islamlah membebaskan perempuan dari diwarisi. Hal ini sesuai dengan firman Allah, yaitu:
“Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai perempuan dengan jalan paksa.”91
90Abdullah Syah, Op. Cit., hlm. 109.
91QS. An-Nisaa’ ayat 19.
Agama Islam datang untuk pertama kali membawa ajaran bahwa perempuan mewarisi sama seperti saudara laki-laki sederajat (jarak dekatnya dari si mayit).
Ketika seorang Anshor yang bernama Aus bin Tsabit meninggal dan meninggalkan dua putri dan satu anak laki-laki yang masih kecil, datanglah dua orang anak pamannya yaitu, Khalid dan ‘Arfathah yang menjadi ‘ashabah. Mereka mengambil semua harta peninggalannya, maka datanglah istri Aus bin Tsabit kepada Rasulullah SAW, untuk menerangkan kejadian itu. Rasulullah bersabda: “Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan”, maka turunlah firman Allah SWT: “Bagi laki-laki ada bahagian dari harta peninggalan ibu bapaknya dan kerabat-kerabatnya dan bagi perempuan ada pula bahagian dari harta peninggalan ibu bapak dan kerabat-kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut pembagian yang telah ditetapkan.”92
Jelaslah dari ayat di atas bahwa ahli waris laki-laki maupun perempuan sama-sama mendapat warisan dari pusaka yang ditinggalkan oleh ibu bapaknya dan kerabatnya yang meninggal dunia.
Dalam Kompilasi Hukum Islam, kedudukan janda untuk mendapat hak waris diatur dalam Pasal 174 dan Pasal 180 Kompilasi Hukum Islam. Pasal 174 Kompilasi Hukum Islam itu menegaskan bahwa:93
1. Kelompok-kelompok ahli waris terdiri dari : a. Menurut hubungan darah
92QS. An-Nisaa’ ayat 7.
93Tim Redaksi Aulia, Op. Cit., hlm. 55.
- golongan laki-laki terdiri dari: ayah, anak laki-laki, saudara laki-laki, paman dan kakek.
- golongan perempuan terdiri dari: ibu, anak perempuan, saudara perempuan dan nenek.
b. Menurut hubungan perkawinan terdiri dari duda atau janda.
b. Menurut hubungan perkawinan terdiri dari duda atau janda.