• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Hasil Penelitian

3. Hasil Analisis Kualitatif

TY berumur 23 tahun dan baru saja menamatkan studi strata satunya. TY didiagnosa mengalami MG sejak tahun 2015 ketika berada di masa SMA. TY mengalami berbagai pikiran dan perasaan negatif di awal terdiagnosa MG. TY merasa jika dirinya sudah tidak baik lagi dan tidak bisa melakukan apa-apa. TY dulunya merupakan ketua OSIS di sekolahnya. Ia terbiasa aktif dan bisa bergerak kemanapun dan kapanpun ia mau. Teman-teman yang dimilikinya juga banyak dan ia sangat senang untuk bisa bersosialisasi kemana-mana. Ketika terkena MG, ia merasa jika semua yang ada terasa berbeda dan ia sudah tidak bisa lagi melakukan berbagai hal yang ia sukai.

TY menceritakan jika ia merasa kurang percaya diri dengan kondisi yang ia alami saat ini. Terlebih di usianya yang sudah menginjak 23 tahun dan lulus kuliah, dimana teman-teman sebayanya sudah bekerja dan bisa memberikan uang kepada orang tua. Sementara ia tidak bisa menjadi seperti teman-temannya dan hanya bisa melakukan hal-hal yang ringan seperti berjualan online shop di rumah. TY sebenarnya merasa bersyukur karena dukungan dari orang-orang disekitarnya sangat banyak ia dapatkan. Ia merasa

210 220 230 240 250 260 270 280 TY

senang karena semua mau memperhatikan dan memahami kondisinya yang seperti itu.

Selama mengikuti pelatihan TY merasa sangat senang karena bisa mendapatkan banyak hal baru. Ia merasa harus lebih percaya diri dan lebih bisa memahami kondisi yang dimilikinya. Ia juga merasa tenang dan lega karena bisa berbagi dan merasa diterima. TY juga mengatakan jika ia lebih bisa memaknai hidupnya karena sudah bisa memahami sisi positif yang ia miliki. Hal lainnya yang disukai oleh TY adalah pelatihan tersebut membuat ia bisa berkumpul dengan rekan-rekannya sesama MG, dimana hal tersebut jarang terjadi. TY mengatakan jika kondisi fisik yang dialami oleh rekan— rekannya membuat mereka seringkali merasa lelah dan tidak sanggup untuk berangkat jika sedang dilakukan gathering. Meskipun gathering tersebut hanya setahun sekali diadakan, mereka lebih memilih untuk kenyamanan fisiknya.

TY sempat merasa sedikit lelah karena beberapa kali menangis selama pelatihan berlangsung, namun ia mengatakan jika ia merasa sangat bahagia. Ia sempat merasa tertekan ketika dan sangat sedih ketika mengingat-ingat orang-orang yang selama ini selalu mendukung perjalanan hidupnya. Ia juga sempat merasa cukup bersedih ketika menyadari banyak sekali kekurangan dalam dirinya. Namun, ia bahagia dan bersyukur karena akhirnya ia mendapatkan banyak pengalaman berharga dan ilmu baru yang bisa ia terapkan. Kebahagiannya terutama karena bisa berkumpul bersama teman-temannya yang sudah ia anggap saudara sendiri.

Ketika tindak lanjut dilakukan, TY menceritakan jika ia merasa sangat senang ketika proses intervensi kemarin. Masa dua minggu setelah intervensi dilakukan, ia mencoba mempraktekan materi yang diberikan kepada rekan-rekannya, terutama yang merespon secara aktif dan kontruktif. Ia juga tidak lupa mengucapkan ‘terima kasih’ kepada orang-orang yang berbuat baik kepadanya setelah belajar di sesi kunjungan terim kasih. Namun setelahnya kondisinya sempat menurun karena terlalu lemah setelah membantu persiapan tetangganya yang akan menikah. TY sampai harus bedrest selama kurang lebih tiga hari untuk istirahat total mengembalikan kondisinya. Setelah itu selanjutnya TY kehilangan sepupunya yang belum sempat ia junguk di rumah sakit. Hal ini cukup membuat ia terpukul dan menangis sehingga menimbulkan ketidak nyamanan pada matanya.

TY mencoba mengatasi kondisinya dan menurutnya hasilnya cukup baik. Ia mencoba utuk legowo dan tidak mau berlebihan dalam bersedih karena khawatir akan muncul stres dan bisa memperburuk kondisinya. Ia mencoba untuk mengatur nafasnya dan mengalihkan fokusnya kepada hal-hal yang menyenangkan saat pikiran tentang sepupunya muncul dan membuat ia bersedih kembali. Mengikuti intervensi membuat ia lebih sadar batasan-batasan yang ia miliki ternyata bukan untuk membuat ia menjadi terbatas, namun sebagai upaya menjaga diri dan mengarahkannya untuk mengoptimalkan sisi positif yang lain di dalam dirinya.

240 245 250 255 260 265 270 275 280 285 YS

Pretes Paskates Tinda Lanjut

b. Responden 2 (YS)

Grafik 3. Skor Responden YS

Respon kedua atau YS adalah seorang ibu-ibu beranak satu yang telah berumur 50 tahun. Ia didiagnosa terkena MG sejak 6 tahun yang lalu. Ia sudah pernah merasakan remisi dan selama satu tahun namun akhirnya dinyatakan drop kembali. Terkena MG membuat ia lebih bisa menyadari hidupnya, bagaimana ia bisa lebih sabar dalam bersikap dan menghargai orang lain. YS mengatakan jika ia sudah mengalami pasang surut kehidupan dari mulai awal menikah yang ekonominya kebawah, sampai dengan saat ini sangat berkecukupan namun ia di uji dengan terkena MG dan kehilangan satu orang anak.

YS menceritakan jika di masa awal terkena MG, ia menanggung semua biaya berobat sendirian. Suaminya mendampingi ia sejak awal hingga saat ini. Meskipun begitu ia merasa jika suaminya adalah pribadi yang sangat cuek dan hampir tidak pernah mengungkapkan perasaan cintanya kepada dirinya. Disisi lain dengan usia yang sudah menginjak 50 tahun dan kehilangan satu orang anak laki-laki, yang tersisa hanya anak

bungsunya yang sekarang menjadi anak semata wayang namun masih berusia 9 tahun. Dengan semua hal tersebut, YS sangat takut suaminya akan meninggalkannya dan mencari wanita lain yang lebih muda dan sehat dibandingkan dirinya. Ketakutan itu membuat ia sangat menjaga penampilannya dan berusaha untuk terus lancar berkomunikasi dimanapun suaminya berada.

YS menceritakan jika ia sangat senang jika bisa berbagi bersama. Ia senang jika bisa berkumpul berkegiatan yang positif, terutama bersama dengan teman-teman penderita MG lainnya. YS menyadari jika kondisi psikologis yang buruk akan sangat mempengaruhi kondisi fisiknya. Sudah berkali-kali kondisi fisiknya menurun ketika ia sedang memiliki banyak masalah dan pikiran. Hal itu membuat ia sangat bersemangat untuk bisa datang ke tempat intervensi untuk bisa bertatap muka dan bertemu langsung dengan fasilitator yang juga seorang psikolog. Ia merasa lebih hidup jika berkumpul dengan teman-teman dan bisa bahagia, dibandingkan meratapi saja kondisi penyakitnya tersebut.

YS mengatakan jika ia mendapatkan banyak pelajaran dari intervensi yang diberikan kepadanya. Hal yang paling ia sukai adalah ia menjadi tahu kelebihan apa yang ia miliki tanpa harus takut merasa sombong karena hal tersebut. Ia senang karena sekarang sudah bisa lebih mengenal dirinya terutama kelebihan yang ada di dalam dirinya sehingga bisa lebih mengoptimalkannya, terutama di lingkungan sekitarnya. YS juga merasa plong dan lega banyak bercerita dan bertukar pikiran selama sesi intervensi

berlangsung. Ia juga lebih memahami tujuan hidup yang harus ia jalani kedepannya karena ia masih memiliki seorang putra yang masih kecil sehingga harus bahagia dan sehat selalu agar bisa menemani putranya hingga nanti.

Data prates awal YS adalah 257 kemudian meningkat menjadi 281 setelah dilakukan pengukuran paskates. Peningkatan terutama terjadi pada domain psikologis dan hubungan sosial. Ia mengatakan jika ia merasa sangat senang saat proses intervensi berlangsung. Ia senang bisa mendapatkan wadah untuk berbagi dan mendapatkan ilmu baru langsung dari psikolog. Ia juga senang karena dapat berkumpul dengan teman-teman sesama MG. Dua minggu kemudian setelah tindak lanjut dilakukan, skor skala kualitas hidup YS adalah sebesar 282. Setelah dikonfirmasi lebih lanjut, YS menceritakan jika selama masa pelatihan ia merasa sangat senang. Berkumpul bersama rekan-rekan yang mengalami MG adalah hal yang menyenangkan untuknya. Mendapatkan kesempatan untuk bisa berbagi dan mendapatkan banyak pengetahuan baru langsung dari Psikolog membuat YS merasa pertemuan seperti kemarin harus sering dilakukan.

Setelah pelatihanpun ia merasa sangat senang dan menyebarkan sebagian ilmu yang ia dapatkan kepada teman-teman MG lainnya. Ilmu yang ia dapatkan dirasa sangat cocok untuk kondisi mereka yang mengalami MG. Menurut YS ilmu tersebut sangat bermanfaat terutama bagi mereka yang MG agar bisa terus positif di tengah kondisi mereka, sehingga

220 225 230 235 240 245 250 255 SG

Pretes Postes Tindak Lanjut

sebaiknya bisa diberikan kepada yang lain agar tidak hanya ia dan rekan yang ikut pelatihan saja yang bisa mendapatkan manfaatnya.

c. Responden 3 (SG)

Grafik 4. Skor Responden SG

SG merupakan seorang istri dan belum memiliki anak. Ia didiagnosis menderita MG sejak 11 tahun yang lalu. SG menceritakan jika ia merasa sangat sedih di awal ketika didiagnosis menderita penyakit yang langka. Apalagi setelah menderita penyakit ini, ia menjadi susah untuk bisa tertawa lebar seperti sebelum sakit, padahal ia sosok yang sangat senang tertawa dan mudah menertawakan hal-hal kecil. Setelah MG menyerang, ia mengaku kesulitan untuk bisa menyalurkan hobinya tersebut karena otot-otot disekitar wajahnya yang terasa kencang setiap kali ia ingin tertawa.

SG menceritakan jika sampai saat ini ia dan suami belum memiliki anak. Meskipun demikian, ia bersyukur karena tetap diberikan kesehatan dan suami yang sabar untuk siaga mendampinginya selalu. Aktivitasnya sehari-hari pun terbatas hanya sebagai ibu rumah tangga saja sembari

berjualan online untuk membantu pendapatan suaminya. Awal—awal terkena MG dulu ia merasa sangat bosan dan kesal dalam menjalani hidup yang begitu-begitu saja. Ia bahkan merasa malas untuk minum obat. Kondisi tersebut membuat dosis obat yang ia dapatkan menjadi semakin banyak.

SG menjadi sadar jika semakin ia menolak penyakitnya, maka akan semakin menurun pula kondisinya. Semakin ia tidak mau minum obat yang memang harus ia konsumsi, semakin menurun pula kondisi tubuhnya dan makin di tambah dosis obatnya. Kesadaran itu membuat ia pelan-pelan berubah menjadi lebih santai dan legowo dalam menjalani hidupnya. Terlebih ia mengalami kondisi dimana otot sekitar pita suaranya terganggu dan menyebabkan ia bisa kesulitan untuk bicara bahkan suaranya bisa menghilang.

Hasil skoring prates SG menunjukkan skor 232, dan setelah dilakukan pengukuran paskates, skornya naik menjadi 250. Dua minggu kemudian setelah dilakukan pengukuran tindak lanjut, skor SG turun menjadi 231. Penurunan paling banyak terjadi pada domain kondisi fisik dan lingkungan. Setelah dikonfirmasi lebih lanjut, SG mengatakan jika sebenarnya ia merasa sangat senang ketika pelatihan berlangsung. Ia juga merasa mendapatkan banyak ilmu baru dan bisa memahami dirinya sendiri. Namun sayangnya setelah pelatihan ia merasa badannya cukup kelelahan karena berkegiatan yang cukup lama. Setelah itu SG juga mendapatkan masalah ekonomi akibat ditipu oleh orang yang membuatnya harus mengeluarkan uang cukup banyak sampai harus dibantu oleh keluarganya.

Hal ini cukup mempengaruhi kondisi psikologisnya dan membuat SG tertekan. Kondisi fisik SG juga menurun dan membuatnya kesulitan untuk berbicara. Hal ini menyebabkan kondisinya psikologisnya menurun dan mengakibatkan fisiknya terganggu.

Meskipun merasakan berbagai hal tersebut, SG mengatakan jika ia mencoba untuk menjalankan apa yang sudah dilatih saat terapi berlangsung, seperti bernafas dengan relax dan menyadari jika ia memiliki kekuatan serta orang-orang yang berjuang disampingnya, dalam kondisi apapun. Ia kecewa karena ditipu oleh temannya sendiri namun bersyukur karena suami dan kakaknya yang siap sedia dalam membantunya. Ia merasa senang karena dikelilingi oleh orang-orang yang tulus mendampinginya bahkan ketika penyakitnya kambuh yang membuat ia memiliki keterbatasan dalam melakukan banyak aktivitas.

Dokumen terkait