BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
D. Pembahasan
Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh dari intervensi group positive
psychotherapy terhadap peningkatan kualitas hidup pasien myasthenia gravis. Hasil
penelitian menunjukkan jika para pasien MG yang mendapatkan group positive
psychotherapy memiliki peningkatan kualitas hidup dibandingkan pasien MG yang
tidak memperoleh intervensi tersebut. Penelitian ini menunjang hasil beberapa penelitian mengenai group positive psychotherapy yang telah dilakukan sebelumnya meskipun dengan variabel dan subjek yang berbeda. Beberapa kasus yang pernah menggunakan intervensi group psychotherapy adalah seperti caregiver
skizofrenia (Fitriana, 2018) dan penderita diabetes mellitus tipe 2 (Sujana, Wahyuningsih, & Uyun, 2015).
Untuk bisa menemukan responden yang sesuai dengan kriteria penelitian tidak mudah untuk dilakukan. Terbatasnya jumlah pasien, domisili yang menyebar, serta kondisi yang tidak stabil membuat pencarian responden mencari kesulitan tersendiri. Selain itu, tidak semua pasien mau atau bersedia untuk dijadikan subjek penelitian, karena memikirkan berbagai hal seperti jarak tempat tinggal dengan tempat terapi, durasi terapi yang cukup panjang sehingga berpotensi menyebabkan mereka kelelahan, dan kondisi tubuh mereka yang kurang bisa diprediksi. Awalnya wilayah DIY dipilih sebagai fokus tempat pencarian subjek, namun karena terbentur dengan aturan dan ketentuan dari para pasien yang menaungi persatuan MG cabang Yogya, akhirnya fokus tempat penelitian dan subjek diganti ke Solo Raya. Dimana hal ini menjadi tantangan tersendiri karena kondisi pasien MG di Solo yang tidak sebanyak Jogja dan domisili yang menyebar di berbagai kabupaten daerah di sekitar Solo. Selain itu tipikal yang lebih pasif dibandingkan pasien di Yogya menjadi tantanga tersendiri untuk bisa mengumpulkan subjek yang berkenan menjadi responden.
Pemilihan responden dalam penelitian ini dilakukan dengan non randomize
control group dengan pretest-posttest design. Para responden dalam penelitian ini
telah menyatakan diri bersedia untuk mengikuti intervensi yang berlangsung dalam satu hari dengan durasi selama 4 jam dan dikelompokkan dalam kelompok eksperimen. Adapun responden yang bersedia untuk berkontribusi dalam penelitian namun tidak dapat menghadiri acara karena berbagai keterbatasan seperti kondisi
fisik dan jarak berikutnya di kelompokkan dalam kelompok kontrol. Penempatan kelompok berdasarkan kesediaan dari para responden ini dinilai tidak mempengaruhi persebaran data karena para responden memiliki karakteristik yang hampir mirip seperti; berada di usia dewasa, yaitu di atas 18 tahun, berjenis kelamin wanita ataupun pria, memiliki kemampuan membaca dan menulis, berlatar belakang pendidikan minimal SMA, tidak sedang mengikuti atau berada dalam intervensi psikologis apapun, dan bersedia mengikuti rangkaian penelitian dari awal hingga akhir.
Hasil pengukuran secara kuantitatif di uji hipotesis mann whitney menunjukkan jika terdapat perubahan yang signifikan dari prates ke paskates (0,046 < 0,05) atau dengan kata lain hipotesis diterima. Sementara, hasil uji beda yang dilakukan pada masing-masing kelompok menunjukkan jika tidak terdapat perbedaan skor kualitas hidup yang signifikan baik pada kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol (p > 0,05).
Hasil pengukuran effect size yang dilakukan kepada kelompok eksperimen di domain pertama (kesehatan fisik), terdapat kategori yang besar dari prates ke pasca tes, sedangkan dari prates ke tindak lanjut hasilnya adalah kategori kecil. Domain kedua (psikologis) menunjukkan efek yang sedang untuk pengukuran pada prates ke pascates, sedangkan dari prates ke tindak lanjut efeknya berada dalam kategori besar. Domain ketiga (hubungan sosial) baik skor pengukuran prates ke pascates dan prates ke tindak lanjut menunjukkan adanya efek yang besar. Domain terakhir, yaitu domain keempat (lingkungan) memiliki efek yang besar pada prates ke pascates dan memiliki efek yang kecil pada prates ke pascates.
Hasil pengukuran yang dilakukan pada kelompok kontrol di domain pertama data pretes ke pascates adalah kategori besar dan dari prates ke tindak lanjut berada dalam kategori sedang. Domain kedua pada hasil data prates ke pascates dan prates ke tindak lanjut memiliki kategori efek yang besar. Pada domain ketiga sendiri baik hasil data prates ke pascates dan prates ke tindak lanjut memiliki kategori efek yang besar. Domain keempat menunjukkan kategori efek yang besar baik pada hasil data prates ke pascates maupun prates ke tindak lanjut.
Perolehan skor pada kelompok eksperimen dan kontrol juga diperkuat dengan
gained score pada kedua data prates ke paskates di kelompok eksperimen dan di
kontrol yang hampir tidak memiliki perbedaan (74:75). Pada penelitian dalam jumlah sampel yang kecil, seringkali muncul hasil yang cukup kuat. Hal seperti ini biasanya disebabkan oleh sampel yang tidak cukup banyak (Hackshaw, 2008). Hasil yang kurang signifikan bukan berarti tidak terdapat efek pada penelitian tersebut sehingga dibutuhkan kehati-hatian dalam menginterpretasi data (Altman & Bland, 1995; Hackshaw, 2008).
Melihat dari hasil mean kelompok kontrol, terjadi penurunan skor pada kualitas hidup para pasien yang memang tidak diberikan intervensi (prates=237,5; pascates=210; tindak lanjut=187,6). Mean pada masing-masing domain juga mengalami penurunan, seperti pada domain pertama, (prates= 58,3; pascates= 52; tindak lanjut= 54,3), domain ke dua (prates= 60,3; pascates= 54,3; tindak lanjut=43,6), domain ke tiga (prates=56,3; pascates= 48; tindak lanjut= 39,3), dan domain ke empat (prates=60,6; pascates= 56,3; tindak lanjut= 50,3). Sementara itu, pada skor mean kelompok ekperimen (prates=240; pascates=264,7; tindak
lanjut=260,7). Lebih lanjut domain pertama (prates=52; pascates=56; tindak lanjut=54,3), domain kedua (prates=58,3; pascates=62,3; tindak lanjut=66,6), domain ketiga (prates=58,3; pascates=64,6; tindak lanjut=64,6), dan domain keempat (prates=71,3; pascates=81,6; tindak lanjut=75).
Dilihat secara total skor, terlihat jika terdapat kenaikan skor kualitas hidup para responden di kelompok eksperimen setelah intervensi diberikan. Skor yang naik juga didapati pada proses prates ke pascates, meskipun hasil dari pascates ke tindak lanjut mengalami penurunan. Hal ini dikarenakan satu orang responden (SG) yang skornya menurun karena faktor eksternal yang tidak bisa dikontrol oleh peneliti. Namun jika dilihat dari mean per domain, nampak penurunan terjadi pada domain satu dan domain empat. Keduanya mengalami penurunan skor pada pasca tes ke tindak lanjut, meskipun pada domain lain dan jenis pengukuran lain mengalami peningkatan dan stagnan. Adapun faktor yang menyebabkan hasil analisis menjadi kurang memiliki efek bisa karena terbatasnya total jumlah subjek (6 orang) sehingga pengukuran pun menjadi kurang maksimal. Hair, dkk (2006) mengatakan jika semakin banyak jumlah sampel, maka hasil analisis statistik akan akan menjadi signifikan, sampai pada jumlah sampel yang sangat banyak, maka hampir semua efek pada hasil analisis akan signifikan.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Muhammad, Syafrita, dan Susanti (2018) yang memiliki perubahan pada skor kualitas hidup namun hasil tersebut tidak bermakna secara statistik. Intervensi group positive psychotherapy bisa membantu para individu yang ada di dalamnya untuk saling terlibat aktif dalam dinamika kelompok, dimana mereka saling berpartisipasi dan memberikan
perhatian satu sama lain. Hal ini bisa mendukung perasaan sejahtera, puas, percaya diri, dan menumbuhkan harapan di dalam perserta (Meyer, Johnson, Parks, Penna & L, 2017). Semua respon yang berada dalam kelompok eksperimen meresa senang karena bisa berkumpul bersama dan mendapatkan dukungan. Cara ini membuat mereka merasa lebih diperhatikan, dihargai sehingga menimbulkan perasaan bermakna dalam diri. Prabowo dan Yuniardi (2017) mengatakan bahwa terapi yang dibuat dengan model grup dapat membantu memecahkan berbagai kesulitan emosional, membangun kekuatan karakter dan kebermaknaan pribadi peserta dalam grup.
Yalom (1985) menyatakan bahwa kelompok bisa menjadi tempat bagi individu agar dapat melakukan pembelajaran interpersonal karena di dalamnya terdapat muatan untuk mendaatkan pemahaman mendalam, perbaikan emosi, dan transferensi. Setelah mengikuti intervensi group positive psychotherapy, para responden mendapatkan berbagai perasaan positive seperti lebih percaya diri, mengenal diri sendiri, sadar akan batasan yang mereka miliki sekaligus tahu jika mereka memiliki kekuatan di dalam diri, bahkan merasa lebih bermakna. Rasa percaya diri muncul setelah mendapatkan dukungan dari rekan-rekan dengan kondisi yang sama. Rasa percaya diri tersebut membuat para peserta lebih yakin untuk bisa menjalani hari sebagai penderita MG sekaligus menumbuhkan kesadaran untuk tidak berkecil hati di tengah kondisi mereka yang serba keterbatasan. Mengenal diri sendiri menjadi modal untuk bisa mengoptimalkan potensi yang ada namun belum disadari selama ini. Para responden mengatakan jika makna hidup
muncul setelah mereka lebih memahami apa tujuan hidup mereka dan bagaimana mereka bisa mendapatkan hal tersebut.
Para pasien MG juga merasa bersyukur dengan dukungan yang mereka dapatkan dari orang-orang di sekitarnya. Sosok-sosok seperti orang tua, suami, anak, dan tema-teman yang mau mengerti dan memahami kondisi mereka menjadi penyemangat tersendiri bagi mereka. Di tengah keterbatasan yang mereka miliki, hadirnya orang-orang tersebut memberikan warna tersendiri yang membuat mereka bersemangat untuk tetap berjuang menyambung hidup. Seorang pasien merasa bersyukur karena memiliki suami yang sangat siaga untuk menemani dan mengantarkan ia kemanapun ia butuh tanpa banyak mengeluh. Seorang lagi akhirnya menyadari jika suaminya sebenarnya sangat sayang kepada dirinya meskipun mungkin tidak pandai dalam mengekspresikan hal tersebut. Ia bersyukur suaminya selama ini selalu ada dalam suka maupun duka ketika bersama dirinya. Hal tersebut merupakan hal baik yang seringkali ia lupakan. Individu yang dapat bersyukur akan meningkatkan kebahagiaannya (Watkins, McLaughlin, & Parker, 2019) selain itu, dapat pula memupuk jiwa individu agar dapat menikmati situasi hidup serta pengalaman yang positif sehingga dapat merasakan kepuasan dan kesenangan hidup secara lebih optimal (Sheldon & Lyubomirsky, 2006).
Adanya dukungan dari orang-orang sekitar terkadang belum disadari sepenuhnya oleh mereka, bahkan sebagian tidak mengingat kebaikan tersebut, sehingga belum sempat mengucapkan terima kasih. Seorang peserta mengatakan jika ia merasa gengsi atau malu dan tidak berani untuk mengatakan secara langsung betapa bersyukurnya mereka terhadap sosok-sosok yang selalu ada tersebut.
Menulis surat dan menumpahkan isi hati mengenai rasa terima kasih yang dimiliki dapat semakin menguatkan untuk bisa terlibat aktif di lingkungan sosial yang selama ini mendukung dan merangkul mereka. Peran dan kemampuan seseorang dalam kehidupan sosialnya yaitu adanya hubungan timbal balik satu sama lain merupakan salah satu bagian yang dapat mendukung peningkatan kualitas hidup seseorang (Skevington, Lotfy, & O’Connell, 2004).
Setelah mengikuti intervensi salah seorang peserta mengatakan jika ia merasa lebih tenang. Biasanya ia adalah tipikal yang meledak-ledak dan sering sekali marah-marah meskipun juga cepat reda. Peserta lainnya menyampaikan jika mereka merasa lebih tenang dan lebih lega setelah bisa meluapkan emosinya selama sesi berlangsung. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Ningtyas dan Ediati (2018) menunjukkan jika rata-rata pasien MG memiliki kemampuan regulasi emosi yang tinggi atau baik meskipun sebagian lagi berada pada tingkat yang rendah karena perbedaan kemampuan masing-masing individu untuk bisa menyadari serta memahami suatu permasalahan. Adapun kemampuan regulasi emosi yang dimiliki oleh para pasien MG berkorelasi dengan tingginya ketabahan mereka karena telah terlatih untuk menerima berbagai kondisi fisik yang mereka alami.
Intervensi yang diberikan mengajarkan para peserta untuk lebih memahami kondisi mereka dan menerima emosi yang ada sebagai bagian dari diri mereka. Mereka diajak untuk menyadari, menemukan dan memaksimalkan kekuatan yang sudah ada di dalam diri selama ini, salah satunya menenangkan diri ketika emosi menghampiri. Responden belajar hal baru untuk lebih menikmati hidup dan melakukan sesuatu tanpa terburu-buru. Menikmati sesuatu menjadi suatu
mekanisme tersendiri yang bisa mempengaruhi hubungan antara peristiwa yang positif dan reaksi emosi positif yang dimiliki seseorang terhadap peristiwa tersebut (Jose, Lym, & Bryant, 2012) sehingga rasa tenang menyertai para peserta.
Selama proses intervensi berlangsung, peserta mampu untuk saling merespon secara aktif dan konstruktif. Para peserta aktif saling menimpali dan bercerita mengenai kehidupan mereka. Suasana terapeutik yang dibangun menjadi hidup dan para peserta mau memprakekkan respon aktif dan konstruktif satu sama lain. Kemampuan sosial dalam lingkungan hidup sangat diperlukan oleh pasien MG untuk bisa berdaya dan mendapatkan dukungan dari orang di sekitarnya. Petra dan Ronald (2003) mengatakan jika dukungan sosial berkorelasi positif dengan harga diri, dan harga diri yang tinggi akan meningkatkan optimisme dalam diri seseorang. Para peserta membuat komitmen untuk bisa mewujudkan tujuan hidup yang mereka inginkan. Mereka ingin dikenang sebagai sosok yang kuat, pantang menyerah, berani dan bisa berguna bagi orang lain. Untuk dapat ke proses mereka, materi tujuan hidup menginisiasi para pasien MG untuk bisa melakukan refleksi atas apa saja yang belum optimal selama ini dan melakukan perbaikan diri. Peserta sampai kepada memaknai kehidupan ini menyesuaikan kondisi fisik yang mereka miliki. Pemaknaan secara positif terhadap suatu penyakit yang dimiliki individu dapat memunculkan perasaan pasrah pada diri pasien (Rahmawati & Muljohardjono, 2016).
Hasil positif dari group positive psyhchotherapy belum bisa bertahan sampai dengan dua minggu berikutnya pada satu orang peserta. Skor kualitas hidup peserta tersebut menurun pada saat tindak lanjut dilakukan. Penyebabnya sendiri
karena kondisi kelelahan sepulangnya dari pelatihan yang ia rasa cukup lama untuk dirinya, serta adanya kendala di faktor eksternalnya, yaitu faktor ekonomi. Hal tersebut menyebabkan kondisi fisiknya cukup menurun sehingga sempat menolak untuk ditemui secara langsung di proses tindak lanjut karena suara yang habis dan fisik yang lemah. Secara fisik pasien MG memang tidak bisa untuk kelelahan, meskipun standar lelah bagi masing-masing akan bervariasi, atau tidak sama satu sama lainnya. Twork, dkk (2010) mengatakan permasalahan pada pasien MG meliputi adanya penurunan kekuatan pada otot yang menyebabkan mobilitas menjadi terhambat dan kemampuan untuk berkomunikasi mengalami masalah.