Landasan Konseptual
HASIL DAN PEMBAHASAN Analisa kondisi iklim
( + = N m Xm P , atau m N Xm T( )= +1 dengan :
Xm
= kumpulan nilai/debit yang diharapkan terjadi dengan keandalan tertentu) (Xm
P = probabilitas
= peluang terjadinya kumpulan nilai/debit yang diharapkan selama periode pengamatan
) (Xm
T = periode ulang dari kejadian Xm
m
= nomor urut kejadian, atau peringkat kejadianN
= jumlah pengamatan dari variat X/data debit Analisa petani pemakai airStudi ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran mengenai peran petani dalam hal pengaturan air. Analisa dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan sasaran obyek studi pengurus HIPPA dan para aparat terkait pada Dinas Pengairan Sumber Daya Air, dengan cara observasi lapangan, dokumenter, dan wawancara.
HASIL DAN PEMBAHASAN Analisa kondisi iklim
Dari data curah hujan rerata daerah studi, berdasarkan klasifikasi sistem Oldeman termasuk dalam wilayah zone agroklimat C3 dengan bulan basah (curah hujan >200 mm/bulan) 6 bulan berturut-turut dan terdapat 4 (satu) bulan kering (curah hujan < 100 mm/bulan) dalam setahun. Bulan basah terjadi pada bulan November, Desember, Januari, Februari, Maret dan April, sedangkan bulan kering terjadi pada bulan Juni, Juli, Agustus, dan September. Berdasarkan pola curah hujan bulanan tersebut maka awal musim hujan diperkirakan berada pada bulan November dan awal musim kemarau terjadi pada bulan Mei. Berdasarkan dari intepretasi agroklimat Oldeman bahwa tipe iklim C3 merupakan tipe iklim yang tanaman padi dapat sekali dan palawija dua kali setahun, tetapi penanaman palawija yang kedua harus hati-hati jangan jatuh pada bulan kering. Data curah hujan rata-rata sepuluh harian dari ketiga stasiun dapat dilihat dibawah ini.
0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200 C u rah Hu jan ( m m ) Bulan
Rerata CH Stasiun Dungbendo Rerata CH Stasiun Karangjati Rerata CH Stasiun Sambiroto
infow
BAHAN DAN METODE
Weibull
Analisa kondisi iklim
Analisa ketersediaan air di bangunan pengambilan
Gambar 1.Rerata curah hujan dari ketiga stasiun
Dari grafik diatas menunjukkan bahwa mulai bulan November sampai April curah hujan meningkat sehingga terjadinya musim hujan, sedangkan mulai bulan mei sampai September sudah masuk musim kemarau.
Analisa ketersediaan air di bangunan pengambilan
Perhitungan debit andalan menggunakan probabilitas sebesar 80%, nilai debit andalan tertinggi diperoleh bulan Mei sebesar 0,38 m3/dtk sedangkan terendah bulan November sebesar 0,07 m3/dtk.
Tabel 1. Perhitungan probabilitas metode weibull
No Data Volume Tahun m3 Rangking Data Tahun m3 Probabilitas ( %) Weibull
1 2005 10.413.179,75 2010 19.812.999,56 9.09 2 2006 12.405.035,39 2011 19.158.126,67 18.18 3 2007 9.448.683,50 2013 16.349.217,64 27.27 P = m/n+1x100% 4 2008 10.796.090,22 2014 14.996.147,06 36.36 80% = m/10+1x100% 5 2009 10.796.090,22 2006 12.405.035,39 45.45 80%100% = m/11 6 2010 19.812.999,56 2008 10.796.090,22 54.55 m = 0,8x11 7 2011 19.158.126,67 2009 10.796.090,22 63.64 m = 8,8 = 9 8 2012 7.644.459,68 2006 10.413.179,75 72.73 9 2013 16.349.217,64 2007 9.448.683,50 81.82 10 2014 14.996.147,06 2012 7.644.459,68 90.91
Sumber : Hasil perhitungan
Tabel 1. Menunjukkan bahwa data yang dipakai sebagai dasar perencanaan adalah data debit tahunan urutan ke-9, yaitu tahun 2007.
Tabel 2. Jumlah air yang tersedia setiap bulan
Tahun Volume (m3) Tahun Volume (m3)
Bulan Periode Bulan Periode
Januari 1 6.101.990 Juli 1 14.558.032 2 5.468.573 2 14.375.304 3 5.637.636 3 12.839.960 Februari 1 5.419.335 Agustus 1 11.874.425 2 5.425.455 2 10.240.216 3 5.800.294 3 9.755.324 Maret 1 6.597.136 September 1 8.277.938 2 9.220.470 2 7.328.650 3 10.453.670 3 6.200.424 April 1 12.339.727 Oktober 1 5.433.637 2 14.948.889 2 5.447.589 3 16.743.796 3 5.797.150 Mei 1 16.848.653 November 1 6.099.425 2 16.783.643 2 6.507.635 3 16.040.784 3 6.309.442 Juni 1 15.192.912 Desember 1 5.619.543 2 14.994.708 2 5.791.672 3 14.514.944 3 6.108.000
Sumber : Hasil perhitungan
Tabel 2. Menunjukkan nilai ketersediaan air untuk irigasi yang tersedia setiap bulannya, sehingga kita bisa mengatur pemberian air pada saat musim kemarau.
Analisa petani pemakai air
Partisipasi merupakan sebuah prinsip dasar dari pengembangan masyarakat, yang mempunyai makna sebagai pemberdayaan dan kemandirian, dengan tujuan membuat setiap orang dalam masyarakat terlibat aktif dalam proses-proses dan kegiatan masyarakat. Kebijakan pemerintah tentang pengelolaan sistem irigasi di tingkat usahatani telah ditetapkan dalam 2 (dua) landasan hukum yaitu UU No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air dan Peraturan Pemerintah No. 20 Tahun 2006 tentang Irigasi. Pada kedua landasan hukum itu ditekankan bahwa “pengembangan sistem irigasi tersier menjadi hak dan tanggung jawab perkumpulan petani pemakai air“ (Wiyono et al.,2012).
Keterlibatan HIPPA di D.I Waduk Pondok selama pengamatan yang saya lakukan, dimana keterlibatannya dituntut untuk lebih berperan aktif, maka peran PSWAS Madiun bersama Dinas Pengairan setempat memberikan motivasi dalam rangka pelaksanaan O&P Jaringan Irigasi Waduk Pondok secara partisipatif. Di lokasi terlihat bahwa setiap akan memulai masa tanam HIPPA akan dilibatkan dalam rapat koordinasi dan bimbingan teknis, dalam rapat tersebut akan dibahas apakah akan dilakukan pembagian air.
PEMBAHASAN
Kondisi iklim yang terlihat pada hasil studi bahwa terjadinya pemunduran musim hujan, yang biasanya musim hujan terjadi bulan Oktober-Maret. Hal ini menyebabkan masa tanam I juga menjadi mundur. Klasifikasi iklim Oldeman menunjukkkan bahwa D.I Waduk Pondok mermiliki tipe iklim C3 yang merupakan tipe iklim yang tanaman padi dapat sekali dan palawija dua kali setahun, tetapi penanaman palawija yang kedua harus hati-hati jangan jatuh pada bulan kering. Tapi kenyataannya petani pada umumnya tetap menanam padi sepanjang tahun tanpa mengikuti Rencana Tata Tanam Global (RTTG) yang telah disepakati.
Ketersediaan debit waduk juga menunjukkan bahwa, debit air tersedia harus diatur sesuai dengan kebutuhan air irigasi dengan cara mengatur pola tanam di D.I Waduk Pondok. Dari hal-hal yang terjadi di lapangan maka di harapkan keterlibatan HIPPA untuk mendorong agar petani mengikuti RTTG yang telah disepakati bersama.
Menurut Wiyono et al. (2012) bahwa, hal tersebut bisa didukung dengan perbaikan manajemen irigasi, seperti jaminan kepastian perolehan air, perubahan cakupan manajemen irigasi, dan peningkatan sumber daya manusia (Pusposutardjo, 2001). Menurut Harsanto dan Simin (2006) dengan melakukakn pembinaan bidang kelembagaan, pembinaan bidang teknis,dan pembinaan bidang keuangan.
KESIMPULAN
Dari hasil studi menunjukkan bahwa volume tersedia harus disesuaikan dengan kebutuhan air irigasinya, hal ini memandang hujan sebagai informasi awal untuk menentukan musim tanam. Keterlibatan petani pada D.I Waduk Pondok dituntut untuk lebih berperan aktif agar pengaturan debit dapat dilakukan dengan RTTG.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pekerjaan Umum, 1986. Perencanaan Jaringan Irigasi. Standart Perencanaan Irigasi KP 01 dan KP 04. Penerbit CV Galang Persada. Bandung.
Fadholi, A dan Supriatin, D. (2016). Sistem Pola Tanam Di Wilayah Priangan Berdasakan Klasifikasi Iklim Oldeman.Jurnal Gea, 12(2): 61-70.
Harsanto, B. T. dan Simin. (2006). Desentralisasi Irigasi: Studi Kasus Pengelolaan Irigasi Di Daerah Irigasi Tajum Kabupaten Banyumas Decentralization In The Irrigation Sector: A Case Study On Irrigation Management In Tajum Irrigation Area, Banyumas Regency.Jurnal Pembangunan Pedesaan, 6(2): 96-103.
Limantara, L.M. (2010). Hidrologi Praktis. Bandung: Penerbit Lubuk agung, 324 hlm. Gambar 1.
Analisa ketersediaan air di bangunan pengambilan
Tabel 1.
No Data Volume Tahun m3 Rangking Data Tahun m3 Probabilitas ( %) Weibull
Tabel 2.
Tahun Volume (m3) Tahun Volume (m3)
Bulan Periode Bulan Periode
Analisa petani pemakai air
Mahubessy, R.C. (2014). Tingkat Kesesuaian Lahan Bagi Tanaman Padi Berdasarkan Faktor Iklim dan Topografi di Kabupaten Merauke. Jurnal Agrologia, 3(2): 125-131.
Pusposutardjo, S., 2001, Pengembangan Irigasi, Usaha Tani Berkelanjutan dan Gerakan Hemat Air.Dirjen Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional.
Rizal Fahmi, Y. R dan Hisyam, I (2016)optimasi air irigasi dengan sistem informasi geografis dan model linear programming (studi kasus daerah irigasi lodoyo tulungagung i). Diakses 3 Mei 2016, dari http://digilib.its.ac.id/public/ITS-paper-30072-2509100065-Paper.pdf
Sasminto, R. A., Tunggul, A dan Rahadi, B. (2014). Analisis Spasial Penentuan Iklim Menurut Klasifikasi Schmidt-Ferguson dan Oldeman di Kabupaten Ponorogo.Jurnal Sumber Daya Alam dan Lingkungan, 1(1): 51-56.
Soewarno. (2014). Aplikasi Metode Statistika Untuk Analisis Data Hidrologi. Yogyakarta: Penerbit Graha Ilmu, 236 hlm.
UPTD Pengairan (2006). Manual operasi dan pemeliharaan daerah irigasi. Surabaya. Jawa timur.
Wiyono, A., Legowo, S., Nugroho, J., dan Nugroho, C. A. (2012). Kajian Peran Serta Petani Terhadap Penyesuaian Manajemen Irigasi untuk Usaha Tani Padi Metode SRI (System of Rice Intensification) di Petak Tersier Daerah Irigasi Cirasea, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Jurnal Teknik sipil, 19(1): 37-52.
APLIKASI PUPUK KOMPOS SUMBER HARA SILIKA TERHADAP