INKUIRI TERBIMBING
HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan Pembelajaran
Perkuliahan Kimia Organik II dilakukan dengan pembelajaran di kelas dan kegiatan praktikum di laboratorium. Khususnya untuk materi asam karboksilat pada penelitian ini kegiatan pembelajaran di kelas dilaksanakan dengan model pembelajaran Direct Instruction menggunakan metode quantum learning dengan strategi mind mapping. Pada artikel ini disajikan data terfokus pada kegiatan inti dengan menyajikan informasi sekilas tentang strategi mind mapping dan konsep yang akan dipelajari pada materi asam karboksilat. Penyajian informasi langsung dengan penayangan contoh pembuatan mind mapping melalui software iMindMap 5 (Buzan, 2010) dan contoh mind mapping manual dengan ditayangkan melalui media power point. Contoh mind mapping diberikan secara tidak lengkap untuk mengarahkan mahasiswa namun memberikan keleluasaan mereka untuk berkreasi. Contoh mind mapping seperti disajikan pada Gambar 1.
Mitarlis
Prosiding Seminar Nasional Kimia dan Pembelajarannya (SNKP) 2014
Gambar 1 Contoh Mind Mapping materi Asam Karboksilat
Mind Mapping adalah cara termudah utuk menempatkan informasi ke dalam otak dan mengeluarkan informasi ke luar dari otak (Buzan, 2012).Terdapat Tujuh Langkah dalam Membuat Mind Mapping, yaitu:
1. Memulai dari bagian tengah kertas kosong yang sisi panjangnya diletakkan mendatar. Karena memulai dari tengah memberi kebebasan kepada otak untuk menyebar kesegala arah dan untuk mengungkapkan dirinya dengan lebih bebas dan alami.
2. Menggunakan gambar atau foto sebagai ide sentral. Karena sebuah gambar bermakna seribu makna dan membantu kita menggunakan imajinasi. Sebuah gambar sentral akan lebih menarik, membuat kita tetap terfokus, membantu kita berkonsentrasi.
3. Menggunakan warna. Karena bagi otak, warna sama menariknya dengan gambar. Warna membuat Mind Mapping lebih hidup, menambah energi gepada pemikiran kreatif, dan menyenangkan.
4. Menghubungkan cabang-cabang utama ke gambar pusat dan menghubungkan cabang-cabang tingkat dua dan tiga ke tingkat satu dan dua, dan seterusnya. Karena otak bekerja menurut asosiasi. Otak senang mengaitkan dua (atau tiga, atau empat) hal sekaligus. Bila kita menghubungkan cabang-cabang, kita akan lebih mudah mengerti atau mengingat. Perhubungan cabang-cabang utama akan menciptakan atau menetapkan struktur dasar atau arsitektur kita. Ini serupa dengan cara pohon mengaitkan cabang-cabangnya yang menyebar dari batang utama. Jika ada celah-celah kecil diantara batang sentral dengan cabang-cabang utamanya atau diantara cabang-cabang utama dengan cabang dan ranting yang ebih kecil, alam tidak akan bekerja dengan baik.
5. Membuat garis hubung yang melengkung, bukan garis lurus. Karena garis lurus akan membosankan otak. Cabang-cabang yang melengkung dan organis, seperti Cabang-cabang-Cabang-cabang pohon, jauh lebih menarik bagi mata.
6. Menggunakan satu kata kunci untuk setiap garis. Karena kata kunci tunggal membari banyak daya dan flesibilitas kepada Mind Mapping.
7. Menggunakan gambar. Karena seperti gambar sentral, setiap gambar bermakna.
Tagihan mahasiswa berupa hasil mind mapping materi asam karboksilat yang dibuat secara manual. Berikut disajikan sampel hasil karya mind mapping mahasiswa berupa portfolio yang diwakili dari hasil dengan kategori kurang baik ( hasil belajar tergolong yang tidak tuntas dengan kategori nilai sampai dengan D); kategori sedang (hasil belajar tergolong tuntas
dengan kategori nilai C sampai dengan B-); dan kategori baik (hasil belajar tuntas dengan kategori niai B sampai dengan
Prosiding Seminar Nasional Kimia dan Pembelajarannya (SNKP) 2014 (A) (B)
Gambar 2. Contoh hasil mind mapping mahasiswa materi asam karboksilat dalam kategori kurang baik (A) dan sedang (B)
Hasil mind mapping pada Gambar 2 (A) kurang memenuhi komponen mind mapping, seperti penggunaan warna. Hal ini menyebabkan hasil mind mapping yang terkesan monoton dan menjadikan otak kurang menarik untuk mengingatnya karena bagi otak, warna sama menariknya dengan gambar. Warna membuat Mind Mapping lebih hidup, menambah energi kepada pemikiran kreatif, dan menyenangkan (Buzan, 2010). Menurut teori pemrosesan informasi yaitu teori kognitif tentang belajar yang menjelaskan pemrosesan, penyimpanan, dan pemanggilan kembali pengetahuan dari otak (Nur, 1998
Gambar 2 Model Pemrosesan Informasi (Nur, 1998)
Ketika seseorang mendapatkan informasi baik dari orang lain maupun saat membaca, dibutuhkan cara untuk mengorganisasi informasi tersebut agar dapat masuk ke dalam memori jangka panjang (longterm memory). Kemampuan mengorganisasi bergantung pada usia dan gaya belajar (de Poter dan Hernacki, 2002). Untuk membantu dalam mengorganisasi informasi dibutuhkan suatu strategi. Salah satu strategi yang dapat digunakan adalah Mind Mapping. Penggunaan mind mapping akan membantu otak dalam melakukan register penginderaan menuju pemrosesan awal dan tahap pengkodean.
Gambar 2 (A) juga tidak menggunakan gambar dan garis hubung yang melengkung hanya menggunakan garis lurus dan terkesan asal-asalan dalam membuatnya sehingga menjadi kurang menarik. Seharusnya dibuat garis hubung yang melengkung, bukan garis lurus. Karena garis lurus akan membosankan otak. Cabang-cabang yang melengkung dan organis, seperti cabang-cabang pohon, jauh lebih menarik bagi mata (Buzan, 2010). Demikian pula untuk Gambar 2(B) dalam kategori sedang masih kurang menarik bagi otak, meskipun telah menggunakan garis lengkung, namun pengorganisasiannya kurang organis.
Jika dibandingkan dengan hasil mind mapping yang dalam kategori baik, menunjukkan beberapa kebihan yang dapat dilihat pada Gambar 3. Rangsangan dari luar Register penginderaan Pemrosesan awal Pengulangan dan pengkodean Memori jangka panjang Memori jangka pendek Pemanggilan kembali Pengulangan
Mitarlis
Prosiding Seminar Nasional Kimia dan Pembelajarannya (SNKP) 2014
(C ) (D)
Gambar 3 Contoh hasil mind mapping mahasiswa materi asam karboksilat dalam kategori baik
Gambar 3 adalah contoh mind mapping hasil karya mahasiswa yang termasuk dalam kategori baik dari hasil mind mapping mahasiswa untuk materi asam karboksilat. Beberapa kriteria mind mapping yang telah terpenuhi antara lain; Memulai dari bagian tengah kertas kosong yang sisi panjangnya diletakkan mendatar. Karena memulai dari tengah memberi kebebasan kepada otak untuk menyebar kesegala arah dan untuk mengungkapkan dirinya dengan lebih bebas dan alami; Menggunakan warna. Karena bagi otak, warna sama menariknya dengan gambar. Warna membuat Mind Mapping lebih hidup, menambah energi gepada pemikiran kreatif, dan menyenangkan; Menghubungkan cabang-cabang utama ke gambar pusat dan menghubungkan cabang-cabang tingkat dua dan tiga ke tingkat satu dan dua, dan seterusnya; dan membuat garis hubung yang melengkung, bukan garis lurus. Adapun hal-hal yang belum terpenuhi secara maksimal adalah; penggunakan gambar atau foto sebagai ide sentral; belum menggunakan satu kata kunci untuk setiap garis; masih ada beberapa yang menggunakan lebih dari satu kata kunci, sehingga menimbulkan kesan rumit namun lengkap. Karena kata kunci tunggal memberi banyak daya dan fleksibilitas kepada Mind Mapping.
Hasil belajar dengan menggunakan strategi mind mapping pada materi asam karboksilat
Untuk mencek pemahaman mahasiswa tentang materi asam karboksilat setelah proses pembelajaran dengan menggunakan strategi mind mapping dilakukan tes pada materi tersebut. Pada penelitian ini dilakukan tes untuk mengetahui hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah Kimia Organik II materi Asam Karboksilat dengan menggunakan strategi mind mapping. Data tes hasil belajar mahasiswa program studi Pendidikan Kimia angkatan 2012 Kelas A yang berjumlah 42 mahasiswa secara ringkas disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1 Data hasil belajar mahasiswa berdasarkan skor dan kategori penilaian
Kategori Huruf
Skor Interval Jumlah
mahasiswa Persen (%) A 85≤ A ≤100 A- 80≤ A- ≤85 B+ 75≤ B+ ≤80 B 70≤ B ≤75 B- 65 ≤ B- ≤70 C+ 60 ≤ C+ ≤65 C 55 ≤ C ≤60 D 40 ≤ D ≤ 55 E 0 ≤ E ≤40 Jumlah
Mahasiswa dikatakan lulus dengan kategori minimal nilai C atau angka 2 dengan interval skor ≤ C ≤ (Anonim, 2012). Pada penelitian ini data yang diambil adalah nilai tes khusus untuk materi asam karboksilat, dan kelulusan dianalogikan dengan ketuntasan. Berdasarkan Tabel 2 menunjukkan jumlah mahasiswa yang tuntas untuk materi asam
karboksilat adalah yang mendapatkan skor minimal 55 atau sebesar 85,71%; dengan kategori nilai A sebesar 19,05%; A
-sebesar 16,67%; B+ 2,38%; B 7,14%; B- 19,05%; C+ 11,90%; dan C sebesar 9,52%; sedangkan yang tidak tuntas sebesar
Prosiding Seminar Nasional Kimia dan Pembelajarannya (SNKP) 2014
Gambar 4 Diagram Ketuntasan Hasil Belajar Mahasiswa Pada Materi Asam Karboksilat DISKUSI
Pada penelitian ini penjelasan tentang mind mapping hanya sepintas dari contoh dan tidak dijelaskan makna masing-masing komponen mind mapping seperti penggunaan warna dan gambar. Hal ini dikarenakan fokus mata kuliah memang bukan untuk mengajarkan tentang mind mapping, tetapi mata kuliah Kimia Organik II khususnya materi asam karboksilat. Hal ini menyebabkan hasil mind mapping kurang maksimal meskipun sudah termasuk dalam kategori baik. Untuk mengatasinya dapat ditempuh dengan terlebih dahulu memperkenalkan dan menjelaskan mind mapping lebih rterperinci lagi, atau sebagai petunjuk dalam pengerjaan tugas pada mata kuliah atau pelajaran tertentu. Dapat pula dijelaskan mind mapping pada mata kuliah lain seperti Teori Belajar bagi mahasiswa program studi pendidikan. Dengan demikian mahasiswa telah mengenal mind mapping dengan baik, apalagi beberapa mahsiswa menggunakan sebagai topik penelitian. Jika mahasiswa sudah pernah belajar menggunakan mind mapping dapat dilakukan refreshing untuk mengingat kembali pada kegiatan apersepsi pada pembelajaran. Menurut Michael Michalko dalam Buzan (2010), strategi pembelajaran mind mapping dapat dimanfaatkan atau berguna untuk berbagai bidang termasuk bidang pendidikan. Kegunaan strategi pembelajaran mind mapping dalam bidang pendidikan:
1. Mengaktifkan seluruh otak
2. Membereskan akal dan kekusutan mental
3. Memungkinkan kita berfokus pada pokok bahasan
4. Membantu menunjukkan hubungan antara bagian-bagian informasi yang saling terpisah
5. Memberi gambaran yang jelas pada keseluruhan dan perincian
6. Memungkinkan kita mengelompokkan konsep, membantu kita membandingkannya
7. Mensyaratkan kita untuk memusatkan perhatian pada pokok bahasan yang membantu mengalihkan informasi
tentangnya dari ingatan jangka pendek ke ingatan jangka panjang
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pembelajaran menggunakan metode quantum learning dengan strategi mind mapping pada mata kuliah kimia organik II materi asam karboksilat dapat terlaksana dengan mahasiswa dapat menghasilkan mind mapping untuk materi asam karboksilat dalam kategori baik, sedang dan kurang baik. Hasil belajar mahasiswa pada materi asam karboksilat menunjukkan ketuntasan sebesar 85,71% dengan kategori nilai A
sebesar 19,05%; A- sebesar 16,67%; B+ 2,38%; B 7,14%; B- 19,05%; C+ 11,90%; dan C sebesar 9,52%; sedangkan yang
tidak tuntas sebesar 14,29% dengan kategori nilai D.
Berdasarkan pada penelitian ini masih terdapat hasil mind mapping mahasiswa yang termasuk dalam kategori kurang baik dan hasil mind mapping mahasiswa yang dalam kategori baikpun masih belum maksimal. Oleh karena itu untuk penelitian yang akan datang sebaiknya terlebih dahulu dijelaskan tentang mind mapping karena tidak semua mahasiswa telah mengenalnya dengan baik. Karena keterbatasan waktu penilaian hasil karya mind mapping juga hanya dilakukan terhadap beberapa contoh dan kategori, untuk itu perlu dilakukan penilaian terhadap seluruh hasil mind mapping.
DAFTAR PUSTAKA
1. Anonim, 2012. Buku Pedoman Universitas Negeri Surabaya, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Surabaya: Unesa University Press.
2. Buzan, Tony. 2010. Buku Pintar Mind Map, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Umum.
3. De Porter Bobbi and Hernacky Mike, 2007, Quantum Learning, Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangka,. 85.71%
14.29%
% Kategori nilai
C s.d. A = Tuntas E s.d. C- = Tidak tuntasMitarlis
Prosiding Seminar Nasional Kimia dan Pembelajarannya (SNKP) 2014 Bandung: Kaifa PT Mizan Pustaka.
4. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 81 A tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum. Jakarta: Direktorat Jenderal Managemen Pendidikan Dasar dan Menengah.
5. Rohman, Muhammad. ; Amri, Sofan. 2013. Strategi & Desain Pengembangan Sistem Pembelajaran, Surabaya: Prestasi Pustaka.
6. Solomons Graham, TW. and Fryhle, Craig B., 2011. Organic Chemistry. International Student Version, John Willey and Sons.
Prosiding Seminar Nasional Kimia dan Pembelajarannya (SNKP) 2014