• Tidak ada hasil yang ditemukan

PADA MATERI REAKSI REDOKS KELAS X MAN MALANG II BATU

Anisatul Khoiriyah, Endang Budiasih, & Dedek Sukarianingsih

Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang

Email: [email protected] ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan keterlaksanaan model pembelajaran LC 5E-STAD dan model pembelajaran LC 5E-TPS, (2) mengetahui perbedaan hasil belajar siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran LC 5E-STAD dan yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran LC 5E-TPS pada materi reaksi redoks. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimental semu. Sampel penelitian terdiri dari dua kelas, yaitu kelas X-3 sebagai kelas yang dibelajarkan dengan model pembelajaran LC 5E-TPS dan kelas X-4 sebagai kelas yang dibelajarkan dengan model pembelajaran LC 5E-STAD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) keterlaksanaan model pembelajaran pada kelas LC 5E-TPS ( ̅ = 97,00%) dan kelas LC 5E-STAD ( ̅ = 96,15%) tergolong terlaksana sangat baik, (2) terdapat perbedaan hasil belajar antara siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran LC 5E-STAD dan siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran LC 5E-TPS pada materi reaksi redoks. Hasil belajar siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran LC 5E-TPS ( ̅ = 81,41) lebih tinggi daripada hasil belajar siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran LC 5E-STAD ( ̅ = 76,73).

Kata kunci: LC 5E-STAD, LC 5E-TPS, reaksi redoks, hasil belajar. ABSTRACT

This research was aimed to: (1) describe the feasibility of LC 5E-STAD learning model and LC 5E-TPS learning model, (2) determine the difference of student learning outcomes that learned using the LC 5E-STAD learning model and that learned to use the LC 5E-TPS learning model in redox reaction materials. This research used a quasy experimental design. The sample of this research consists of two classes, namely class X-3 as a class that learned using LC 5E-TPS learning model and class X-4 as a class that learned using LC 5E-STAD learning model. The results showed that: (1) the feasibility of learning model for class LC 5E-TPS ( ̅ = 97,00%) and class LC 5E-STAD ( ̅ = 96,15%) quite done very well, (2) there was a difference in learning outcomes between students that learned using the LC 5E-STAD learning model and students that learned to use the LC 5E-TPS learning model on redox reaction materials. Student learning outcomes that learned using the LC 5E-TPS ( ̅ = 81,41) learning model was higher than that learned using the LC 5E-STAD ( ̅ = 76,73).

Keywords: LC 5E-STAD, LC 5E-TPS, redox reaction, learning outcomes.

Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan antara lain pembaharuan kurikulum, peningkatan kompetensi guru, serta memperbaiki sarana dan prasarana pendidikan. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan kurikulum yang telah diberlakukan oleh pemerintah saat ini. Proses pembelajaran dalam KTSP disesuaikan dengan kemampuan siswa di masing-masing satuan pendidikan dan proses pembelajaran lebih berpusat pada siswa. Kimia merupakan bagian dari ilmu pengetahuan alam, yang dianggap sulit oleh sebagian besar siswa. Kesulitan mempelajari ilmu kimia ini terkait dengan ciri ilmu kimia itu sendiri. Menurut Kean dan Middlecamp (1985:5) ciri-ciri ilmu kimia adalah sebagian besar konsep bersifat abstrak, ilmu kimia merupakan penyederhanaan dari yang sebenarnya, materi kimia sifatnya berurutan, ilmu kimia tidak hanya sekedar memecahkan soal-soal, dan materi yang dipelajari sangat banyak.

Salah satu materi pembelajaran kimia yang dianggap sulit adalah reaksi oksidasi reduksi (reaksi redoks). Materi reaksi redoks merupakan materi kimia yang banyak melibatkan konsep yang bersifat mikroskopis, mempelajari tentang persamaan reaksi, dan melibatkan hitungan matematik. Pembelajaran reaksi redoks selama ini cenderung menggunakan metode pembelajaran yang lebih berpusat pada guru (teacher centered) yaitu menggunakan metode ceramah. Oleh karena itu dipandang perlu melakukan perbaikan dalam proses pembelajaran, yaitu pembelajaran yang menekankan siswa untuk membangun pengetahuannya sendiri secara aktif yang mengacu pada teori konstruktivistik. Pada proses

148 Prosiding Seminar Nasional Kimia dan Pembelajarannya (SNKP) 2014

pembelajaran guru berperan sebagai fasilitator dan siswa sebagai pebelajar yang aktif dalam menggali pengetahuan baru sehingga pembelajaran lebih berpusat pada siswa (student centered). Model pembelajaran yang bersifat student centered diantaranya adalah model pembelajaran Learning Cycle dan model pembelajaran kooperatif (Herbandri, 2008:26).

Learning Cycle adalah suatu model pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered). Learning Cycle yang digunakan dalam penelitian ini adalah Learning Cycle 5 fase (LC 5E) yaitu model pembelajaran yang membagi pembelajaran dalam 5 fase (engagement, exploration, explanation, elaboration, evaluation). Fase engagement bertujuan mempersiapkan siswa agar terkondisi dalam menempuh fase berikutnya dengan jalan mengeksplorasi pengetahuan awal. Fase exploration, pada fase ini siswa diberi kesempatan untuk bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil tanpa pengajaran langsung dari guru untuk menguji prediksi, melakukan dan mencatat pengamatan serta ide-ide melalui kegiatan-kegiatan antara lain telaah literatur. Fase explanation, pada fase ini guru harus mendorong siswa untuk menjelaskan konsep dengan kalimat mereka sendiri. Fase elaboration, pada fase ini siswa menerapkan konsep dalam situasi baru. Fase evaluation, pada fase ini dilakukan evaluasi terhadap efektifitas fase-fase sebelumnya dan juga evaluasi terhadap pemahaman konsep siswa.

Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang mengelompokkan siswa dengan tingkat kemampuan berbeda-beda untuk mendorong siswa secara aktif bekerja bersama-sama dalam mempelajari dan memahami konsep yang diajarkan serta mempunyai tanggung jawab individu dan kelompok terhadap tugas-tugas. Pembelajaran kooperatif meliputi Student Teams Achievement Divisions (STAD), Group Invertigasion (GI), jigsaw, Team Games Tournament (TGT), Think Pair Share (TPS). STAD dan TPS merupakan model pembelajaran kooperatif yang mudah dilaksanakan dalam pembelajaran.

Menurut Slavin (1995:71) STAD merupakan model pembelajaran kooperatif yang paling sederhana dan sebuah model yang baik untuk permulaan bagi seorang guru untuk menerapkan pembelajaran kooperatif. Dalam pembelajaran tipe STAD siswa ditempatkan dalam kelompok belajar heterogen yang beranggotakan empat sampai lima orang. Pelaksanaan model pembelajaran STAD mempunyai 5 komponen utama yaitu: (1) presentasi kelas, (2) kelompok, (3) kuis atau tes, (4) skor kemajuan individu, (5) penghargaan kelompok.

Model TPS merupakan model pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Tahapan dalam TPS adalah thinking (berpikir), pairing (berpasangan), dan sharing (berbagi). Tahap thinking, pada tahap ini guru mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan pelajaran kemudian siswa diminta untuk memikirkan pertanyaan tersebut secara individu untuk beberapa saat. Tahap pairing, pada tahap ini guru meminta siswa berpasangan dengan siswa lain untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkannya pada tahap sebelumnya. Tahap sharing, pada tahap ini guru meminta kepada pasangan untuk berbagi dengan seluruh kelas tentang apa yang telah mereka bicarakan.

Di dalam model pembelajaran LC 5E disyaratkan ada kegiatan berkelompok. Namun selama kegiatan berkelompok tidak memiliki pola tertentu. Pembelajaran kooperatif STAD dan TPS merupakan pembelajaran kooperatif yang memiliki struktur atau pola tertentu. Model pembelajaran kooperatif STAD dan kooperatif TPS mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing. Untuk memperoleh hasil belajar yang memuaskan diupayakan memadukan model pembelajaran LC 5E dengan model pembelajaran kooperatif STAD dan TPS. Perbedaan kedua model pembelajaran STAD dan TPS terletak pada banyaknya sumbangan berpikir. Dalam model pembelajaran STAD siswa berkelompok yang beranggotakan 4 sampai 5 orang sehingga sumbangan berpikir siswa lebih kompleks sedangkan pada model pembelajaran TPS terdiri dari 2 orang sehingga sumbangan berpikir siswa lebih sedikit tetapi pada model pembelajaran TPS ini sebelum berkelompok siswa disuruh untuk berpikir terlebih dahulu. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk memadukan model pembelajaran LC STAD dengan menerapkan tahap STAD pada LC 5E dan LC 5E-TPS dengan menerapkan tahap 5E-TPS pada LC 5E. Hal ini dimaksudkan agar kedua model pembelajaran tersebut saling melengkapi dan dapat meningkatkan proses pembelajaran.

Pada model pembelajaran LC 5E-STAD, siswa dibagi dalam kelompok kecil yang beranggotakan 4 sampai 5 orang dalam kemampuan yang heterogen. Langkah pembelajaran dalam LC 5E-STAD adalah dengan memasukkan langkah-langkah model STAD ke dalam LC 5E yaitu, (1) pembentukan kelompok STAD diintegrasikan pada fase exploration dalam model LC 5E, (2) presentasi kelas dalam model STAD diintegrasikan pada fase explanation dalam model LC 5E, (3) diskusi kelompok dalam model STAD diintegrasikan pada fase elaboration dalam model LC 5E, (4) pemberian kuis individu dalam model STAD diintegrasikan pada fase evaluation dalam model LC 5E. Pada model pembelajaran LC 5E-TPS, langkah pembelajaran yang dilakukan adalah dengan memasukkan tahap thinking, pairing dalam TPS dimasukkan pada fase exploration dan elaboration dalam model pembelajaran LC 5E, tahap sharing dalam TPS dimasukkan pada fase explanation dalam model pembelajaran LC 5E. Berdasarkan uraian tersebut, maka peneliti termotivasi untuk melihat perbedaan hasil belajar antara model pembelajaran LC 5E-STAD dan model pembelajaran LC 5E-TPS.

Anisatul Khoiriyah, dkk.

Prosiding Seminar Nasional Kimia dan Pembelajarannya (SNKP) 2014 149 METODE

Rancangan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan eksperimen semu (Quasy Experimental Design). Hal ini karena tidak dilakukan randomisasi sampel, tetapi digunakan kelas-kelas yang telah ada. Desain yang dipilih dalam penelitian ini adalah rancangan eksperimen semu dengan posttest. Penetapan kelas dilakukan dengan menggunakan undian. Satu kelas eksperimen diberi perlakuan berupa model pembelajaran LC 5E-STAD dan satu kelas eksperimen lainnya diberi perlakuan berupa model pembelajaran LC 5E-TPS. Rancangan penelitian ini juga menggunakan rancangan penelitian deskriptif. Rancangan deskriptif dengan menggunakan lembar observasi ini digunakan untuk menjawab tujuan penelitian tentang keterlaksanaan proses pembelajaran. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan penelitian eksperimen semu yang dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1 Rancangan Penelitian Eksperimen Semu

Subjek Pretest Perlakuan Posttest

Kelas LC 5E-STAD - X1 O1

Kelas LC 5E-TPS - X2 O2

(Sugiyono, 2010:115) Keterangan:

X1 : perlakuan berupa model pembelajaran Learning Cycle 5 fase-Student Teams Achievement Divisions (LC 5E-STAD) X2 : perlakuan berupa model pembelajaran Learning Cycle 5 fase-Think Pair Share (LC 5E-TPS)

O1 : nilai hasil belajar kelas LC 5E-STAD O2 : nilai hasil belajar kelas LC 5E-TPS Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi pada penelitian ini adalah semua siswa kelas X MAN Malang II Batu yang memiliki kemampuan sama. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah penarikan sampel secara acak berkelompok (cluster random sampling). Penentuan kelas yang digunakan sebagai sampel dilakukan dengan undian. Dari hasil undian diperoleh kelas X-3 yang berjumlah 34 siswa sebagai kelas eksperimen dengan model pembelajaran LC 5E-TPS dan kelas X-4 yang berjumlah 33 siswa sebagai kelas eksperimen dengan model pembelajaran LC 5E-STAD, kedua kelas tersebut diberikan materi yang sama yaitu reaksi redoks.

Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua jenis yaitu instrumen perlakuan (terdiri atas silabus, RPP, handout, dan LKS) dan instrumen pengukuran (yang terdiri dari lembar observasi dan soal tes). Lembar observasi digunakan untuk mengetahui keterlaksanaan proses pembelajaran dan nilai afektif siswa. Tes pada penelitian ini digunakan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan hasil belajar kognitif siswa setelah diberi perlakuan. Instrumen tes ini disusun berdasarkan indikator-indikator yang ingin dicapai dalam pembelajaran. Sebelum digunakan untuk pengambilan data, soal tes yang sudah dikonsultasikan dan divalidasi, soal diuji cobakan pada siswa kelas XI IPA 3 MAN Malang II Batu. Hasil uji coba selanjutnya dianalisis untuk mengetahui validitas, tingkat kesukaran, daya beda, dan reliabilitas.

Hasil uji validitas butir soal menunjukkan 22 butir soal yang valid dan 3 butir soal yang tidak valid. Soal yang tidak valid tetap digunakan sebagai soal tes dengan syarat telah diperbaiki oleh peneliti dengan bimbingan dosen pembimbing dan guru yang bersangkutan di MAN Malang II Batu. Uji daya beda butir soal menunjukkan 6 soal tergolong baik, 16 soal tergolong cukup, dan 3 soal tergolong jelek. Soal dengan daya beda jelek tetap dipergunakan setelah diperbaiki oleh peneliti dengan bimbingan dosen pembimbing dan guru MAN Malang II Batu yang bersangkutan. Uji tingkat kesukaran butir soal menunjukkan 8 soal tergolong sedang dan 17 soal tergolong mudah. Hasil uji reliabilitas soal diperoleh nilai sebesar 0,797 dengan kriteria tinggi.

Pengumpulan Data

Langkah-langkah pengumpulan data yang ditempuh dalam penelitian ini meliputi tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap akhir. Tahap persiapan meliputi menyusun proposal skripsi, melakukan observasi ke MAN Malang II Batu dan konsultasi ke guru mengenai jadwal penelitian, menyusun perangkat pembelajaran materi reaksi redoks (silabus, RPP, LKS, handout, soal evaluasi, dan lembar observasi), mengurus surat ijin penelitian, validasi instrumen penelitian, melakukan uji coba soal di MAN Malang II Batu pada siswa kelas XI IPA 3 Tahun Ajaran 2012/2013. Tahap pelaksanaan meliputi melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan model pembelajaran LC 5E-STAD di kelas X-4 dan menggunakan model pembelajaran LC 5E-TPS di kelas X-3 pada materi reaksi redoks. Tahap akhir meliputi kedua kelas eksperimen diberi tes evaluasi yang berupa ulangan harian. Selanjutnya adalah mengumpulkan skor hasil belajar siswa pada materi reaksi redoks. Setelah data terkumpul dilanjutkan dengan

150 Prosiding Seminar Nasional Kimia dan Pembelajarannya (SNKP) 2014

menganalisis data hasil belajar siswa, nilai kuis, lembar observasi keterlaksanaan proses pembelajaran, dan penilaian afektif.

HASIL PENELITIAN

Deskripsi Keterlaksanaan Proses Pembelajaran

Data keterlaksanaan proses pembelajaran pada model pembelajaran LC 5E-STAD maupun model pembelajaran LC 5E-TPS diperoleh pada saat proses pembelajaran berlangsung. Pada penelitian ini, pengamatan keterlaksanaan proses pembelajaran dilakukan sebanyak empat kali pertemuan sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah dibuat. Hasil penilaian observer pada keterlaksanaan proses pembelajaran masing-masing model pembelajaran yang digunakan, dihitung nilai rata-ratanya dan persentasenya. Data rata-rata nilai keterlaksanaan proses pembelajaran pada kelas LC 5E-STAD dan kelas LC 5E-TPS dapat dilihat pada Tabel 2. Grafik rata-rata nilai keterlaksanaan proses pembelajaran pada kelas LC 5E-STAD dan kelas LC 5E-TPS dapat dilihat pada Gambar 1. Tabel 2 Data Rata-rata Nilai Keterlaksanaan Proses Pembelajaran pada Kelas LC TPS dan Kelas LC

5E-STAD

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Keterlaksanaan Proses Pembelajaran (%) Kelas LC 5E-TPS Kelas LC 5E-STAD

Pertama 96,00 94,23

Kedua 96,00 96,15

Ketiga 98,00 96,15

Keempat 98,00 98,08

Rata-rata 97,00 96,15

Gambar 1 Grafik Rata-rata Nilai Keterlaksanaan Proses Pembelajaran pada Kelas LC 5E-TPS dan Kelas LC 5E-STAD

Tabel 2 dan Gambar 1 menunjukkan bahwa rata-rata nilai keterlaksanaan proses pembelajaran dari keempat pertemuan pada kelas LC 5E-TPS sebesar 97,00%, sedangkan rata-rata nilai keterlaksanaan proses pembelajaran dari keempat pertemuan kelas LC 5E-STAD sebesar 96,15%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa keterlaksanaan proses pembelajaran di kelas LC 5E-TPS maupun di kelas LC 5E-STAD tergolong terlaksana dengan sangat baik. Deskripsi Data Kemampuan Awal Siswa

Data kemampuan awal siswa diperoleh dari nilai ulangan materi sebelumnya yaitu materi Stoikiometri. Deskripsi data kemampuan awal siswa kelas LC 5E-TPS dan kelas LC 5E-STAD dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3 Deskripsi Data Kemampuan Awal Siswa Kelas LC 5E-TPS dan Kelas LC 5E-STAD

Kelas Jumlah Siswa Nilai Terendah Nilai Tertinggi Rata-rata Standar Deviasi LC 5E-TPS 34 65,00 93,00 74,56 6,96 LC 5E-STAD 33 68,00 88,00 74,94 5,65 0 20 40 60 80 100 RPP 1 RPP 2 RPP 3 RPP 4 Kelas LC 5E-TPS Kelas LC 5E-STAD

Anisatul Khoiriyah, dkk.

Prosiding Seminar Nasional Kimia dan Pembelajarannya (SNKP) 2014 151 Data kemampuan awal siswa dari kelas LC 5E-TPS dan kelas LC 5E-STAD digunakan untuk mengetahui apakah kelas LC 5E-TPS dan kelas LC 5E-STAD memiliki kemampuan yang sama atau tidak. Analisis data kemampuan awal siswa meliputi uji prasyarat dan uji kesamaan dua rata-rata. Uji prasyarat yang dilakukan adalah uji normalitas dan uji homogenitas. Hasil uji normalitas data kemampuan awal siswa kelas LC 5E-TPS dan kelas LC 5E-STAD dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4 Hasil Uji Normalitas Data Kemampuan Awal Siswa Kelas LC 5E-TPS dan Kelas LC 5E-STAD Kelas Rata-rata

Nilai

Uji Kolmogorov-Smirnov

Kesimpulan Standar Deviasi Nilai Signifikansi

LC 5E-TPS 74,56 6,96 0,217 Normal

LC 5E-STAD 74,94 5,65 0,172 Normal

Tabel 4 menunjukkan bahwa kemampuan awal siswa kelas LC 5E-TPS memiliki nilai signifikansi sebesar 0,217, yang lebih besar dari 0,05 dan kemampuan awal siswa kelas LC 5E-STAD memiliki nilai signifikansi sebesar 0,172, yang lebih besar dari 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa data kemampuan awal siswa kelas LC 5E-TPS dan kelas LC 5E-STAD terdistribusi normal. Hasil uji homogenitas kemampuan awal siswa kelas LC 5E-TPS dan kelas LC 5E-STAD dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5 Hasil Uji Homogenitas Kemampuan Awal Siswa Kelas LC 5E-TPS dan Kelas LC 5E-STAD Kelas Rata-rata Nilai Nilai Signifikansi Kesimpulan

LC 5E-TPS 74,56

0,454 Homogen

LC 5E-STAD 74,94

Tabel 5 menunjukkan bahwa kemampuan awal siswa kelas LC 5E-TPS dan kelas LC 5E-STAD memiliki nilai signifikansi sebesar 0,454, yang lebih besar dari 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa data nilai kemampuan awal siswa kelas LC 5E-TPS dan kelas LC 5E-STAD memiliki varian yang sama atau homogen. Hasil uji kesamaan dua rata-rata kemampuan awal siswa pada kelas LC 5E-TPS dan kelas LC 5E-STAD dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6 Hasil Uji Kesamaan Dua Rata-rata Kemampuan Awal Siswa pada Kelas LC TPS dan Kelas LC 5E-STAD

Variabel Rata-rata Uji-t kesamaan dua rata-rata Kesimpulan LC 5E-TPS LC 5E-STAD Nilai Signifikansi

Kemampuan Awal 74,56 74,94 0,807 Tidak terdapat perbedaan kemampuan awal

Tabel 6 menunjukkan bahwa hasil uji-t dua pihak kesamaan dua rata-rata kemampuan awal siswa kelas LC 5E-TPS dan kelas LC 5E-STAD memiliki nilai signifikansi sebesar 0,807. Nilai tersebut > 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan kemampuan awal siswa antara kelas LC 5E-TPS dan kelas LC 5E-STAD. Deskripsi Data Hasil Belajar

Hasil belajar siswa dilihat dari nilai ulangan harian. Nilai ulangan harian diperoleh dari nilai ulangan materi reaksi redoks setelah semua materi reaksi redoks selesai dibelajarkan. Nilai ulangan harian tersebut dianalisis secara statistik dengan menggunakan bantuan program SPSS Versi 20.0 for Windows. Dalam penelitian ini juga diperoleh nilai kuis yang dilakukan setiap akhir pertemuan. Hasil belajar berupa nilai kuis digunakan sebagai pendukung hasil ulangan harian siswa pada kelas LC 5E-TPS dan kelas LC 5E-STAD. Nilai kuis dianalisis dengan menggunakan teknik rata-rata. Nilai rata-rata kuis siswa kelas LC 5E-TPS dan kelas LC 5E-STAD dapat dilihat pada Tabel 7.

152 Prosiding Seminar Nasional Kimia dan Pembelajarannya (SNKP) 2014 Tabel 7 Nilai Rata-rata Kuis Siswa Kelas LC 5E-TPS dan Kelas LC 5E-STAD

Kelas Rata-rata nilai kuis ke- Rata-rata

1 2 3 4

LC 5E-TPS 72,06 89,71 82,65 94,85 84,82

LC 5E-STAD 60,00 71,82 80,45 90,00 75,57

Tabel 7 menunjukkan bahwa nilai rata-rata siswa kelas LC TPS lebih tinggi daripada siswa kelas LC 5E-STAD. Nilai rata-rata kelas LC 5E-TPS sebesar 84,82 dan kelas LC 5E-STAD sebesar 75,57. Pada kelas LC 5E-STAD juga terdapat penghargaan kelompok. Data penghargaan kelompok kelas LC 5E-STAD dapat dilihat pada Tabel 8. Tabel 8 menunjukkan bahwa pada penghargaan kelompok yang pertama diperoleh 8 kelompok baik. Pada pertemuan kedua terdapat peningkatan yaitu diperoleh 3 kelompok super, 4 kelompok hebat, dan 1 kelompok baik. Pertemuan yang ketiga diperoleh 2 kelompok super dan 6 kelompok hebat. Pada pertemuan keempat mengalami peningkatan yaitu diperoleh 3 kelompok super dan 5 kelompok hebat.

Tabel 8 Data Penghargaan Kelompok Kelas LC 5E-STAD

Kriteria Kelompok Kelas LC 5E-STAD Skor Kemajuan Individu I Skor Kemajuan Individu II Skor Kemajuan Individu III Skor Kemajuan Individu IV Super - 3 2 3 Hebat - 4 6 5 Baik 8 1 - -

Data hasil belajar siswa diambil dari nilai ulangan harian materi reaksi redoks setelah selesai diberi perlakuan. Deskripsi data hasil belajar siswa kelas LC 5E-TPS dan kelas LC 5E-STAD dapat dilihat pada Tabel 9. Distribusi frekuensi nilai hasil belajar siswa kelas LC 5E-TPS dan kelas LC 5E-STAD dapat dilihat pada Tabel 10. Grafik distribusi frekuensi nilai hasil belajar siswa kelas LC 5E-TPS dan kelas LC 5E-STAD dapat dilihat pada Gambar 2. Tabel 9 Deskripsi Data Hasil Belajar Siswa Kelas LC 5E-TPS dan Kelas LC 5E-STAD

Kelas Jumlah siswa Nilai terendah Nilai tertinggi Rata-rata Standar Deviasi LC 5E-TPS 34 60,00 100,00 81,41 9,44 LC 5E-STAD 33 56,00 92,00 76,73 7,97

Tabel 10 Distribusi Frekuensi Nilai Hasil Belajar Siswa Kelas LC 5E-TPS dan Kelas LC 5E-STAD

Rentang Nilai Jumlah Siswa

Kelas LC 5E-TPS Kelas LC 5E-STAD

51,00-60,00 1 2

61,00-70,00 2 3

71,00-80,00 15 19

81,00-90,00 9 8

Anisatul Khoiriyah, dkk.

Prosiding Seminar Nasional Kimia dan Pembelajarannya (SNKP) 2014 153 Gambar 2 Grafik Distribusi Frekuensi Nilai Hasil Belajar Siswa Kelas LC 5E-TPS dan Kelas LC 5E-TPS

Tabel 9 menunjukkan bahwa hasil belajar siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran LC 5E-TPS lebih baik daripada siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran LC 5E-STAD. Hal ini dibuktikan dengan nilai rata-rata hasil belajar kelas LC 5E-TPS sebesar 81,41 dan nilai rata-rata kelas LC 5E-STAD sebesar 76,73. Untuk melihat apakah siswa kelas LC 5E-TPS dan kelas LC 5E-STAD memiliki perbedaan hasil belajar secara signifikan atau tidak, maka dilakukan uji-t dua pihak. Sebelum dilakukan uji-t dua pihak, dilakukan uji prasyarat analisis yaitu uji normalitas dan uji homogenitas pada data hasil belajar siswa kelas LC 5E-TPS dan kelas LC 5E-STAD.

Hasil uji normalitas data hasil belajar siswa kelas LC 5E-TPS dan kelas LC 5E-STAD dapat dilihat pada Tabel 11. Tabel 11 Hasil Uji Normalitas Data Hasil Belajar Siswa Kelas LC 5E-TPS dan Kelas LC 5E-STAD

Kelas Rata-rata Nilai

Uji Kolmogorov-Smirnov

Kesimpulan Standar Deviasi Nilai Signifikansi

LC 5E-TPS 81,41 9,44 0,951 Normal

LC 5E-STAD 76,73 7,97 0,630 Normal

Tabel 11 menunjukkan bahwa hasil belajar siswa kelas LC 5E-TPS dan kelas LC 5E-STAD sama-sama memiliki nilai signifikansi > 0,05. Hasil belajar siswa kelas LC 5E-TPS memiliki nilai signifikansi sebesar 0,951, sedangkan kelas LC 5E-STAD memiliki nilai signifikansi sebesar 0,630. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hasil belajar