ANALITIK DI UNIVERSITAS NEGERI MALANG
HASIL PENELITIAN
Deskripsi Materi Matakuliah Dasar-dasat Kimia Analitik (DKA)
Matakuliah DKA merupakan salah satu matakuliah wajib yang harus ditempuh oleh mahasiswa prodi pendidikan kimia salah satu LPTK Negeri di Kota Malang Jawa Timur. Matakuliah DKA ditempuh mahasiswa pada semester 3 dengan bobot 4sks/4js dan harus sudah menempuh matakuliah Kimia Dasar II sebagai prasyarat. Manfaat dari matakuliah DKA adalah membekali mahasiswa dalam mempelajari konsep-konsep dasar dalam analisis bahan secara sederhana atau konvensional. Hal ini sesuai dengan tujuan dalam buku dasar-dasar kimia analitik diantaranya adalah mengembangkan ketrampilan untuk memecahkan masalah analisis secara kuantitatif dan mengajarkan keterampilan laboratorium yang akan memberikan kepercayaan mahasiswa dalam kemampuan mahasiswa untuk memperoleh data analisis berkualitas tinggi (Skoog & West, 2004). Kompetensi dan bahan kajian matakuliah DKA dapat dilihat pada Tabel 1.
Hayuni Retno Widarti, dkk.
Prosiding Seminar Nasional Kimia dan Pembelajarannya (SNKP) 2014 177 Tabel 1. Kompetensi dan Bahan Kajian Matakuliah Dasar-dasar Kimia Analitik
Matakuliah Kompetensi Bahan Kajian
Dasar-dasar kimia analitik
Memiliki pemahaman prinsip-prinsip analisis kualitatif dan kuantitatif makro khususnya analisis kation dan anion, dasar statistik untuk analitik, penanganan sampel, serta dasar-dasar metode analisis kimia modern
Analisis kualitatif dan identifikasi serta pemisahan kation dan anion, dasar-dasar statistik sederhana: mean, median, modus, simpangan baku dan aplikasinya dalam hasil analisis, teknik sampling, prinsip dan aplikasi analisis kuantitatif: gravimetri dan volumetri yang meliputi asidi-alkalimetri, oksidimetri, argentometri, dan kompleksometri
Berkaitan dengan matakuliah DKA telah dilakukan wawancara dan kuesioner kepada Ketua Jurusan Kimia dan Ketua KBK Kimia Analitik. Dari kedua wawancara dan kuesioner tersebut dapat ditarik abstraksi bahwa dalam mempelajari DKA diperlukan matakukuliah prasyarat yang menjadi dasar bagi pemahaman dan penguasaan matakuliah selanjutnya. Matakuliah prasyarat sangat menentukan keberhasilan proses dan hasil belajar matakuliah DKA seperti matakuliah Kimia Dasar I dan Kimia Dasar II. Hal yang sama juga dilakukan terhadap dosen pembina matakuliah DKA. Secara garis besar menurut dosen pengampu matakuliah DKA materi sudah sesuai dengan silabus, mahasiswa mengalami kesulitan pada analisis kuantitatif khusunya pada titrimetri, ada keterkaitan antara matakuliah DKA dengan matakuliah lain yang saling mendukung. Saran dari dosen adalah perlu penggunaan media pembelajaran untuk merepresentasikan konsep kimia terutama yang berkaitan dengan makro, mikro dan simbolik.
Respon mahasiswa terkait materi perkuliahan DKA seperti ditunjukkan pada Gambar 1.
Gambar 1. Persentase Data tentang Materi Perkuliahan DKA Keterangan:
A Kesulitan materi DKA
B Materi DKA banyak menyajikan rumus-rumus
C Matei DKA tidak berhubungan langsung dengan dunia nyata sehari-hari D Materi Titrimetri disajikan secara jelas sehingga mudah dipahami
E Materi Titrimetri diberikan selalu diawali dengan mengaitkan kehidupan sehari-hari F Soal-soal Titrimetri yang diberikan berhubungan dengan kehidupan sehari-hari G Perbedaan titik ekivalen dan titik akhir titrasi dapat dipahami dengan jelas H Materi argentometri disajikan dengan jelas sehingga mudah dipahami
I Soal-soal argentometri berhubungan dengan kehidupan sehari-hari J Perbedaan metode Mohr dan Volhard dapat dipahami dengan baik
K Rumus penentuan titik ekivalen langsung diberikan tanpa ada proses penurunan rumus terlebih dahulu L Konsep baru selalu disajikan dengan mengkaitkan konsep sebelumnya
M Soal-soal yang diberikan menantang untuk dipecahkan N Konsep DKA menarik
O Keterkaitan materi DKA dengan matakuliah lain P Kaitan dengan matakuliah lain tersebut mendukung
178 Prosiding Seminar Nasional Kimia dan Pembelajarannya (SNKP) 2014
Berkaitan dengan respon mahasiswa terhadap bahan ajar yang dipakai pada perkuliahan DKA dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2. Persentase Data Bahan Ajar pada Perkuliahan DKA Keterangan:
A Rencana pelaksanaan perkuliahan (RPS) B Kesesuaian materi dengan deskripsi matakuliah C Hand Out
D Suplemen assesmen DKA (latihan soal dan tes) E Solusi jawaban tugas
F Solusi jawaban UTS G Solusi jawaban UAS H Diktat perkuliahan
I Buku teks
J Waktu perkuliahan cukup
Berkaitan dengan penggunaan media pada perkuliahan DKA dapat dilihat pada Gambar 3.
Gambar 3. Persentase Data Penggunaan Media pada Perkuliahan DKA Keterangan: A OHP B LCD C Papan tulis D Animasi E Video
F Slide presentasi hanya berupa teks
G slide presentasi disertai animasi untuk menggambarkan konsep mikroskopis
Hayuni Retno Widarti, dkk.
Prosiding Seminar Nasional Kimia dan Pembelajarannya (SNKP) 2014 179 Deskripsi Pelaksanaan Perkuliahan Matakuliah Dasar-dasar Kimia Analitik
Data tentang pelaksanaan perkuliahan DKA berkaitan dengan ketepatan materi dan penggunaan media media yang diperoleh dari mahasiswa dapat dilihat pada Gambar 4 dan 5.
Gambar 4. Persentase Data Pelaksanaan Perkuliahan DKA Keterangan:
A Materi sangat bermanfaat B Ketepatan urutan materi
C Materi berkaitan dengan kehidupan sehari-hari D Strategi yg diterapkan menyenangkan E Saya antusias mengikuti perkuliahan
F Saya termotivasi dengan pembelajaran yang berlangsung G Materi analisis kuantitatif mudah diserap
Berkaitan dengan pemanfaatan media dalam pelaksanaan perkuliahan DKA dapat dilihat pada Gambar 5.
Gambar 5. Persentase Data Manfaat Media pada Perkuliahan DKA Keterangan:
A Media yang digunakan dalam analisis kuantitatif sesuai dengan karakteristik materi B Media yang digunakan membantu menguasai materi
C Media animasi membantu konsep konsep
D Media video membantu mengaitkan materi kimia dengan masalah kehidupan sehari-hari Deskripsi Kemampuan Mahasiswa pada Matakuliah Dasar-dasar Kimia Analitik
Data kemampuan DKA mahasiswa tentang analisis kuantitatif yang diperoleh peneliti dari tiga kali tes. Dari dokumentasi tentang hasil belajar DKA khususnya analisis kuantitatif mahasisiwa angkatan 2012/2013 disalah satu LPTK Negeri di kota Malang Jawa Timur diperoleh rata-rata dari tiga kali tes masing-masing adalah 72,79; 66,00; dan 59,00. Rata-rata total ketiga kali tes adalah 65,80 yang termasuk katagori cukup. Analisis hasil ujian matakuliah Dasar-dasar Kimia Analitik sub pokok bahasan titrimetri pada perkuliahan semester gasal tahun akademik 2013/2014 dapat dilihat pada Tabel 2.
180 Prosiding Seminar Nasional Kimia dan Pembelajarannya (SNKP) 2014 Tabel 2. Analisis Hasil Ujian Sub Pokok Bahasan Titrimetri Pada Matakukuliah DKA
No Konsep yang Diujikan Keterangan
1 Pengertian konsep analisis dengan menggunakan metode titrimetri dan gravimetric
a) Sebagian besar (90%) mahasiswa dapat menuliskan pengertian dengan baik
b) Terdapat 10% mahasiswa yang tidak dapat memahami pengertian antara keduanya dengan baik
2 Pengertian ekivalen dalam titrasi asam basa, titrasi redoks dan argentometri
a) Semua mahasiswa (100%) dapat menuliskan dengan baik tentang pengertian ekivalen dalam titrasi asam basa dan dalam titrasi redoks b) Terdapat 60% mahasiswa yang tidak dapat memahami dengan baik
tentang konsep ekivalen dalam argentometri 3 Larutan standar primer dan
sekunder
Semua mahasiswa (100%) dapat memahami dengan baik tentang pengertian larutan standar serta syarat-sayaratnya
4 Titik ekivalen dan titik akhirtirasi
Semua mahasiswa (100%) dapat memahami dengan baik pengertian dan perbedaan antara titik ekivalen dan titik akhir titrasi
5 Pemilihan indikator pada tititrasi untuk menentukan keakuratan hasil
Terdapat 40% mahasiswa mengalami kesulitan dalam menentukan indikator apa yang cocok pada titrasi tertentu. Data yang diberikan adalah rentang pH indikator. Kebanyakan mahasiswa tidak menggunakan analisis tentang kepekaan indikator yang berhubungan dengan konsentrasi larutan standar
6 Perhitungan kadar sampel setelah titrasi
a) Sebanyak 70% mahasiswa dapat menentukan dengan baik, b) Sebanyak 30% mahasiswa mengalami kesulitan dalam menentukan
kadar sampel setelah titik ekivalen tercapai. Kebanyakan dari
mahasiswa mengalami kesulitan dalam perhitungan akhir, yaitu ketika harus mengkonversi kadar akibat pengenceran sampel
c) Kemampuan mahasiswa dalam memahami soal yang langsung
berhubungan kenyataan sebenarnya (berupa analisis) sangat rendah, hal ini karena banyak mahasiswa yang masih mamandang materi kimia lebih banyak pada aplikasi rumus dan logika semata.
7 Argentometriri a) Sebanyak 40% mahasiswa mengalami kesulitan dalam membedakan antara titrasi langsung dengan tidak langsung
b) Sebanyak 30% mahasiswa tidak dapat memahami dengan baik apa perbedaan antara metode Mohr dan Volhard dalam argentometri, terutama tentang kepekaan titrasi, penentuan titik ekivalen dan kepekaan indikator
Berkaitan dengan kesulitan mahasiswa pada matakuliah DKA dari hasil angket mahasisiwa dan wawancara dengan dosen dapat disimpulkan bahwa:
Dari data analisis contoh soal terlihat bahwa mahasiswa mengalami kesulitan pada matakuliah DKA bagian analisis kuantitatif khususnya pada titrimetri (volumetri). Kesulitan-kesulitan tersebut diantaranya pada penentuan kadar, pemilihan indikator yang tepat pada titrasi, dan penentuan titik ekivalen pada titrasi khususnya pada titrasi argentometri karena kebanyakan mahasiswa mengalami kesulitan dalam membedakan antara titrasi langsung dengan tidak langsung. Hal ini juga ditunjang dari respon mahasiswa (67%) yang menyatakan materi DKA sulit.
Seperti sudah disinggung di atas bahwa dari dokumentasi tentang hasil belajar DKA khususnya analisis kuantitatif diperoleh rata-rata dari tiga kali tes masing-masing adalah 72,79; 66,00; dan 59,00. Rata-rata total ketiga kali tes adalah 65,80 yang termasuk katagori cukup baik. Hasil belajar mahasiswa pada analisis kuantitatif dari tiga kali tes menunjukkan penurunan yang signifikans. Hal ini karena materi analisis kuantitatif memerlukan tingkat pemahaman dan kemampuan berpikir tingkat tinggi dalam memecahkan soal-soal yang berkaitan dengan hitungan matematis. Dari hasil wawancara dengan dosen DKA yang mengatakan bahwa masih ada mahasiswa yang mengalami kesulitan
materi DKA terutama pada bagian titrasi argentometri. Demikian juga dengan hasil wawancara dan saran mahasiswa yang menyatakan bahwa mereka masih bingung dalam membedakan antara titrasi langsung dengan tidak langsung. Hal ini umumnya mahasiswa kurang bisa memahami konsep dan penggambaran secara jelas tentang proses titrasi argentometri sehingga menyulitkan pemahaman dalam perhitungan.
Respon Mahasiswa Terhadap Kesulitan Perkuliahan Dasar-dasar Kimia Analitik
Berkaitan dengan kesulitan mahasiswa terhadap materi DKA dari Gambar 1 sudah disebutkan bahwa 67% menyatakan materi DKA sulit. Hal serupa juga disampaikan oleh dosen yang menyatakan mahasiswa mengalami kesulitan pada bagian titrasi argentometri (Tabel 2). Beberapa saran dari 33 mahasiswa yang mengisi angket berkaitan kesulitan mahasiswa dalam memahami materi pada pelaksanaan pembelajaran DKA secara garis besar dapat dikelompokkan sebagai berikut:
Hayuni Retno Widarti, dkk.
Prosiding Seminar Nasional Kimia dan Pembelajarannya (SNKP) 2014 181 1. Hampir keseluruhan mahasiswa menyarankan penggunaan media pembelajaran yang mendukung seperti video,
animasi dan bentuk media lain yang menarik/mendukung agar mahasiswa lebih mudah memahami konsep dan tertarik belajar DKA.
2. Penyampaian materi agar lebih menarik, rinci dan mudah dipahami karena dosen kurang jelas pada saat menjelaskan.
3. Lebih banyak diberi latihan soal yang aplikatif.
4. Sebaiknya menggunakan metode pembelajaran yang menarik dan bervariasi agar tidak monoton.
5. Sebenarnya materi sangat menarik tapi terkadang materi sulit dipahami karena suara dosen kurang jelas dan kurang aplikasi media pembelajaran.
6. Penyampaian materi sebaiknya diberikan mulai dari dasar teori agar jelas
7. Pemberian tugas dan soal ujian sebaiknya dibahas sehingga mahasiswa tau letak kesalahan dalam pemecahan masalah pada soal.
8. Sebaiknya lebih banyak diberikan waktu untuk membahas latihan soal
9. Pada pembelajaran yang akan datang sebaiknya dosen tidak memberikan rumus-rumus saja tetapi memberikan konsep/inti dari materi agar lebih mudah dalam mengerjakan hitungan pada soal bila sudah paham konsepnya. PEMBAHASAN
Perkuliahan DKA sarat dengan berbagai keterampilan yang harus dikembangkan, mulai dari keterampilan rendah sampai dengan keterampilan tingkat tinggi. Keterampilan tingkat tinggi diperlukan untuk menyelesaikan permasalahan terkait tujuan utama mata kuliah DKA, yaitu kegiatan melakukan analisis. Dalam perkuliahan DKA, mahasiswa tidak hanya dituntut untuk menguasai konsep, prinsip, teori, serta hukum-hukum yang mendasari kegiatan analisis, tetapi juga harus mampu menyelesaikan masalah terkait analisis tersebut. Mahasiswa harus mampu mengkaji metode analisis apa yang tepat digunakan untuk suatu material tertentu yang diberikan. Hal ini sejalan dengan Kepmendiknas RI Nomor 232/U/2000 (2000) tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa.
Dalam perkuliahan DKA, mahasiswa dituntut untuk memiliki keterampilan berpikir tingkat tinggi seperti menganalisis, mensintesis dan mengevaluasi. Dengan keterampilan tersebut, mahasiswa dapat memiliki penguasaan DKA yang mendalam, karena pada dasarnya, karakteristik DKA adalah (1) sulit karena berkaitan dengan analisis kimia; (2) memerlukan banyak pemahaman konsep yang tinggi; (3) memerlukan pemahaman matematika yang tinggi; (4) memerlukan pengolahan dan analisis data; (5) memerlukan banyak latihan dan pemahaman aplikasi dalam kehidupan sehari-hari; serta (6) memerlukan media untuk merepresentasikan materi.
Beberapa kesulitan tergali melalui kajian ini terutama terkait materi analisis kuantitatif. Kesulitan yang paling besar dihadapi mahasiswa dalam matakuliah DKA adalah pada materi analisis kuantitatif terutama pada titrimetri terkait perhitungan titrasi setelah titik ekivalen, penentuan kadar, penentuan titik ekivalen dan pemilihan indikator yang tepat untuk titrasi. Keadaan seperti ini sebenarnya terjadi secara berulang dari tahun-tahun sebelumnya, yang mana hal ini menyebabkan tidak tercapainya kompetensi yang diharapkan. Secara umum dapat dinyatakan bahwa kelemahan mendasar dalam perkuliahan DKA ini adalah kurangnya kemampuan mahasiswa dalam merepresentasikan apa yang terjadi selama proses analisis berlangsung. Mahasiswa belum dapat membayangkan apa yang sebenarnya terjadi di dalam campuran, ketika titik ekivalen tercapai. Karena ketidaktahuan tersebut, maka ini berimbas pada lemahnya mahasiswa dalam kemampuan memilih dan menetapkan jenis indikator yang sesuai atau tepat digunakan. Fenomena ini sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Hand & Chio (2010), bahwa dalam perkuliahan organik, kemampuan merepresentasikan, termasuk mikro dan simbolik merupakan modal dasar mahasiswa untuk menyelesaikan permasalahan terkait organik. Demikian pula Lee (2001) mengungkapkan berdasarkan penelitiannya bahwa kemampuan memprediksi sangat ditentukan oleh kemampuan mahasiswa dalam merepresentasikan konsep dalam tataran mikro.
Salah satu kelemahan perkuliahan DKA lainnya adalah lemahnya kemampuan mahasiswa dalam konsep yang berhubungan dengan matematika. Kemungkinan hal ini terjadi karena mahasiswa terbiasa diberikan rumus-rumus yang tidak disertai dengan penjelasan komprehensif dari mana rumus tersebut diperoleh/diturunkan. Pada dasarnya semua rumus dalam kimia diturunkan berdasarkan pemahaman mikro dan simbolik mahasiswa terkait konsep kimia. Untuk menentukan rumus/persamaan yang tepat dalam menyelesaikan perhitungan kimia, mahasiswa membutuhkan kemampuan merepresentasikan konsep dalam tingkat mikro. Dari pemahaman tingkat mikro ini, kemudian mahasiswa dapat menurunkan simboliknya, misalnya dalam bentuk persamaan reaksi. Dari persamaan reaksi ini pada akhirnya mahasiswa dapat menurunkan sendiri persamaan yang dapat digunakan untuk menyelesaikan permasalahan yang berhubungan dengan perhitungan kimia. Chiu & Wu. (2009), Kozma & Russell (2005), dan Jaber & Jaoude (2012), berdasarkan penelitian menghasilkan kesimpulan yang sama, bahwa kemampuan multipel representasi merupakan modal untuk memahami kimia secara utuh, dan menjadi ahli kimia yang mumpuni.
Hasil penelitian dokumentasi menunjukkan bahwa mata kuliah DKA belum sepenuhnya mengakomodasi pemenuhan KKNI. Salah satu deskriptor KKNI yang relevan dengan matakuliah DKA adalah bahwa mahasiswa dituntut untuk mampu memecahkan permasalahan kimia dan beradaptasi dalam situasi yang dihadapi melalui pendekatan sintesis. Uraian ini mengindikasikan perlunya mata kuliah mengembangkan kemampuan analisis, sintesis,
182 Prosiding Seminar Nasional Kimia dan Pembelajarannya (SNKP) 2014
yang pada akhirnya mampu melakukan evaluasi terhadap hasil sintesis tersebut. Kemampuan mensintesis, menganalisis dan mengevaluasi akan berujung pada kemampuan berkreasi, yang merupakan kemampuan tertinggi dari khirarkhi kognitif (Anderson, 2001). Dengan perkataan lain, perkuliahan DKA seharusnya mengakomodasi pengembangan kemampuan metakognitif, karena kemampuan ini salah satunya ditunjukkan dengan kemampuan mahasiswa untuk melakukan evaluasi terhadap apa yang telah mereka temukan sebelumnya (Schraw, 1998). Ini sejalan dengan pendapat Gick (1980),bahwa untuk tingkat mahasiswa, kemampuan kognitif yang dimiliki harus mampu menyelesaikan masalah terkait hal-hal yang relevan dan tidak relevan sekalipun dengan bidang kajiannya. Dilihat dari sifat materi DKA sangat memerlukan kemampuan mahasiswa dalam memecahkan masalah dimana untuk menemukan jawaban dari suatu permasalahan harus berdasarkan pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan yang telah dimiliki sebelumnya. Hal ini sesuai dengan pemahaman problem solving yang dikemukakan oleh Krulik & Rudnick (1996). Hal yang sama dikemukakan oleh Gagne (dalam Reid &Yang, 2002) bahwa problem solving adalah suatu proses berpikir dimana siswa menggabungkan aturan-aturan dan pengetahuan yang telah dipelajari sebelumnya untuk menyelesaikan masalah dan menghasilkan pemahaman atau pengetahuan baru. Pengertian problem solving yang diuraikan tersebut melibatkan proses kognitif yang sangat diperlukan mahasiswa dalam memahami konsep materi Dasar-dasar Kimia Analitik. KESIMPULAN
Berdasarkan dari hasil temuan dan pembahasan penelitian studi kasus, maka dapat disimpulkan bahawa meskipun materi DKA dalam perkuliahan telah sesuai dengan uraian materi dalam kurikulum, namun kurikulumnya sendiri masih belum sepenuhnya mengakomodasi pencapaian kompetensi yang seharusnya dimiliki oleh mahasiswa berdasarkan Permendiknas tentang KKNI. Demikian pula, perkuliahan DKA belum mangakomodasi hakekat pembelajaran yang seharusnya mengakomodasi kebutuhan untuk mengembangkan keterampilan pemecahan masalah. Selain itu, perkuliahan DKA yang selama ini dilaksanakan juga belum mampu meningkatkan penguasaan mahasiswa terutama dalam merepresentasikan kemampuan mikro dan simbolik, yang sangat diperlukan sebagai dasar untuk membangun pemahaman komprehensif DKA dan keterampilan metakognitif yang diperlukan lulusan S1.
DAFTAR PUSTAKA
1. Anderson, L.W.et.al. (2001). A taxonomy for learning, teaching, and assessing. a revision of bloom’s taxonomy of educational objectives. New York: Longman
2. Chiu, M. H. & Wu, H. K. (2009). The role of multimedia in the teaching and learning of the triplet relationship in chemistry. In: J.K. Gilbert & D. Treagust (Eds.). Multiple Representations in Chemical Education: Models and Modeling in Service Education. Dordrecht: Sprnger. Pp.
3. Fraenkel, J.R. & Wallen, N.E. (2010). How to design and Evaluate research in education. 8th Edition. New York:McGraw-Hill
4. Gick, M.L., & Holyoak, K.J. (1980). “Analogical problem solving”. Cognitive Psychology. 12, 306-355
5. Hand, B. & Chio, A. (2010). Examining the impact of student use of multiple modal representations in constructing arguments in organic chemistry laboratory classes. Res Sci Educ vol. 40 (29) p. 29-44
6. Lee, K.W.L, et. al. (2001). “The predicting role of cognitive variable in problem solving in mole concept”. Chemistry Education Research and Practice in Europe. 2, 285-301
7. Jaber. L. Z. & Jaoude, B.S. (2012). A macro-micro-symbolic teaching to promote relational understanding of chemical reactions. Int J Sci Educ vol. 34 (7) p. 973-998
8. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 232/U/2000 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa
9. Kozma, R., & Russell, J. (2005). Modeling students becoming chemists: Developing representational competence. In J. Gilbert (Ed.), Visualization in Science Education. Dordrecht: Springer. Pp. 121-145
10. Kurikulum Prodi Pendidikan Kimia. (2012)
11. Krulik, S., & Rudnick, J. A. (1996). The new sourcebook for teaching reasoning and problem solving in junior and senior high school. Boston: Allyn and Bacon
12. Permendikbud no 73 Tahun 2013 tentang penerapan KKNI di Pendidikan Tinggi
13. Reid, N. & Yang, M. (2002). The solving of problem in chemistry: the more open-ended problems. Research In Science & Technological Education, 32, p. 939-957
14. Schraw, G. (1998). Promoting general metacognitive awareness instructional science. 26, no 1-2: 13-125.
15. Skoog, A.D., et. Al. (2004). Fundamentals of analitycal chemistry. 8th Edition. Canada: Thomson Learning Academic Resource Center
Ririn Eva Hidayati
Prosiding Seminar Nasional Kimia dan Pembelajarannya (SNKP) 2014 183