Studi Kasus Bengkulu
4. Hasil dan Diskus
Provinsi Bengkulu menjadi studi karena Bengkulu memiliki potensi energi air yang melimpah. Selain itu, Bengkulu dikategorikan sebagai daerah yang mengalami krisis energi. Dari hasil kajian, kabupaten Bengkulu Utara menjadi fokus pengabdian karena memiliki sumber energi yang air yang cukup bersih dan juga melimpah, tepatnya di desa Baturoto. Lokasi yang digunakan atau tempat pemasangan turbin berada di depan pekarangan rumah masyarakat setempat dengan debit 100 liter/s dan dengan tinggi tekan 0.2 meter. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi turbin agar tidak dicuri dan dapat terus beroperasi karena dipantau setiap hari. Dan juga, lokasi pemasangan turbin didapatkan berdasarkan hasil tinjauan pada musim kemarau. Hal ini dilakukan untuk agar turbin tetap dapat bekerja pada musim kemarau.
Tujuan utama dari kegiatan ini adalah memanfaatkan sumber energi yang ada disekitar dan menumbuhkan kesadaran masyarakat bahwa energi air dapat dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik dengan menggunakan roda air (waterwheel). Roda air digunakan berdasarkan hasil analisis. Analisis dilakukan berdasarkan enam aspek yang telah dijelaskan di atas, turbin yang dianalisis adalah turbin,
openflume, Archimedes, overshot, breastshot, undershotdan crossflow. Secara singkat matrik pemilihan turbin ditampilkan pada tabel 1:
Tabel 1. Resume pemilihan turbin untuk daerah terpencil
Karakteristik Turbin
openflume Archimdes overshot breastshot undershot crossflow
Off design 3 3 1 1 1 2 Design 1 1 2 2 3 2 Biaya investasi 1 1 2 2 3 2 Portabilitas 2 2 1 2 3 1 Pemeliharaa n dan perawatan 1 1 3 3 3 2 Modularitas 3 1 1 1 3 3
34
Gambar 1. Lokasi peninjauan lokasi yang akan dipasang turbin
Dari hasil analisis terlihat bahwa waterwheel undershot merupakan turbin yang cocok digunakan di desa Baturoto karena turbin ini tidak membutuhkan biaya investasi yang tinggi. Aspek portabilitas dan modularitas mendapatkan nilai tertinggi karena sudu turbin dapat dibuat secara terpisah walaupun memiliki bentuk yang besar. Hal ini memudahkan pendistribusian turbin ke lokasi. Biaya investasi turbin menjadi rendah karena undershot tidak membutuhkan biaya kontrusksi sipil dalam implementasinya. Hal ini disebabkan turbin saluran yang air dapat langsung digunakan sebagai dudukan turbin karena selokan terbuat dari beton (got), sedangkan untuk jenis turbin yang lain dibutuhkan tambahan kontruksi untuk dudukan turbin.
Gambar 2. Instalasi undershot waterwheel di desa Baturoto
Dari hasil pengukuran didapatkan bahwa putaran roda berkisar 6 RPM atau setara 0.628 rad/s. Putaran turbin rendah dikarenakan roda mendapatkan torsi yang tinggi yaitu berkisar 150 Nm. Secara mekanik, roda air yang digunakan dapat membangkit listrik sebesar ± 100 Watt atau dapat digunakan untuk menghidupakn 5 lampu dengan daya 18 Watt.
5. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan, metode pemilihan jenis turbin yang cocok diterapkan untuk masyarakat di daerah terpencil bisa dilakukan dan diadopsi untuk keperluan pengabdian lainnya.
35
Aspek penilaian ditentukan berdasarkan parameter engineering dan juga sosial masyarakat daerah terpencil.Dari sisi komunikasi pembuatan signage berupa papan informasi turbin piko hidro diperlukan sebagai sarana pengembangan jaringan sosial melalui, salah satunya yaitu melaluipemilihan media massa luar ruang. Pemilihan signage sebagai media massa luar ruang sebagai penyampaian pesan verbal kepada masyarakat dipilih karena dinilai tepat dalam strategi difusi inovasi dalam komunikasi pembangunan melalui penerapan teknologi piko hidro di desa Baturoto.
Pustaka
Adhikari, P., Budhathoki, U., Timilsina, S. R., Manandhar, S., & Bajracharya, T. R. (2014). A Study on Developing Pico Propeller Turbine for Low Head Micro Hydropower Plants in Nepal.
Journal of the Institute of Engineering, 9(1), 36–53.
Bryan, Jennings, & Thompson, Susan .(2002). Fundamentals of Media Effects
Harsarapama, A. P. (2012). Turbin Mikrohidro Open Flume dengan Hub to Tip Ratio 0,4 untuk Daerah Terpencil. Teknik Mesin. Universitas Indonesia, Depok.
Ho-Yan, B. (2012). Design of a low head pico hydro turbine for rural electrification in Cameroon. Pigaht, M., & van der Plas, R. J. (2009). Innovative private micro-hydro power development in
Rwanda. Energy Policy, 37(11), 4753–4760.
Rogers, Everett, M. (2003). Diffusions of Innovations; Fifth Edition. Simon & Schuster Publisher Thomas, B. (2011). Pico-Hydropower Franchising in Rural Honduras. International Journal for
Service Learning in Engineering, Humanitarian Engineering and Social Entrepreneurship, 6(1), 46–63.
Turner, West. (2007). Introducing Communication Theory; Analysis and Application, Third Edition;McGraw Hill
Vicente, S., & Bludszuweit, H. (2012). Flexible design of a pico-hydropower system for Laos communities. Renewable Energy, 44, 406–413.
Williams, A. A., & Simpson, R. (2009). Pico hydro–Reducing technical risks for rural electrification.
Renewable Energy, 34(8), 1986–1991.
Williamson, S., Stark, B. H., & Booker, J. D. (2011). Low head pico hydro off-grid networks. In
36
Program Kolam Deras 1000 sebagai Sarana Social Empowerment dan
Local
Multiplier Effect dalam Peningkatan Produktivitas Warga Desa
Sukarame,
Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten
Retno Lestari1), F.R. Budiman2), A. Said2), S.A. Puteri1), A.F. Rahmani1), H.T. Nussa1), Y.W. Anggraini1), S. Wahyuni2), A. Bowolaksono1)
1)
Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia 2)
Yayasan Pandu Cendekia, Jakarta Timur a)
Corresponding author: [email protected]; [email protected]
Abstrak
Desa Sukarame, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, secara geografis merupakan desa yang strategis karena melintasi jalur kawasan wisata Pantai Carita yang mudah dijangkau oleh pengunjung luar kota. Sebagian besar penduduk Desa Sukarame menggantungkan perekonomian mereka di bidang parawisata, padahal masih terdapat sumber daya alam lain yang dapat dijadikan sebagai tonggak penghasilan penduduk desa, yaitu salah satunya di bidang perikanan. Program Kolam Deras 1000 merupakan program yang bergerak untuk mengabdi kepada masyarakat melalui pemanfaatan lahan yang ada serta kegiatan budidaya ikan di Desa Sukarame sebagai desa kontrol. Selain bertujuan untuk memajukan kesejahteraan ekonomi penduduk desa, program Kolam Deras 1000 telah menerapkan prinsip social empowerment serta local multiplier effect dalam kegiatan budidaya ikan tersebut. Melalui penerapan kedua prinsip tersebut di dalam program Kolam Deras 1000, maka diharapkan keduanya mampu melatih kemandirian, kepercayaan diri, serta kemampuan masyarakat Desa Sukarame untuk mencapai tujuan bersama. Program Kolam Deras 1000 juga berperan sebagai fasilitator pemberdayaan yang diperlukan masyarakat untuk mencoba usaha yang berkelanjutan secara finansial sehingga dapat mengurangi kesenjangan dalam ekonomi lokal.
Kata kunci: Ekonomi; Kolam Deras 1000; local multiplier effect; social empowerment; Sukarame
1. PENDAHULUAN
Desa Sukarame merupakan salah satu desa yang terletak di wilayah administratif Kecamatan Carita. Secara geografis, Kecamatan Carita terletak di antara 060 13‘ 00‘‘ LS-060 21‘ 00‘‘ LS dan 1050 49‘
00‘‘ BT-1050 56‘ 00‘‘ BT. Kecamatan Carita berjarak 48,3 km dari Kecamatan Pandeglang dan berbatasan dengan Kabupaten Serang (Utara), Kecamatan Labuan (Selatan), Selat Sunda (Barat), dan Kecamatan Jiput (Timur). Sementara itu, secara administrasi, Kecamatan Carita terdiri atas 10 desa, 56 RW, dan 172 RT (Mahardianawati 2013). Berdasarkan data BPS Kabupaten Pandeglang tahun 2012, Desa Sukarame memiliki luas wilayah 1,76 Ha dengan jumlah penduduk 5.250 orang. Letak wilayah Desa Sukarame sangat strategis karena berdekatan dengan kawasan wisata Pantai Carita dan Curug Putri. Kondisi tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Sukarame untuk menambah penghasilan mereka, misalnya dengan menyediakan jasa ojek menuju kawasan wisata Curug Putri, menjual aneka kain sebagai suvenir, serta menjual aneka makanan untuk pengunjung kawasan wisata Curug Putri dan Pantai Carita.
Selain letaknya yang dekat dengan kawasan wisata, Desa Sukarame juga memiliki lahan-lahan yang belum dimanfaatkan secara optimal. Oleh karena itu, program Kolam Deras 1000 hadir untuk membantu mengoptimalkan penggunaan lahan yang ada sebagai tempat budidaya berbagai jenis ikan.
37
Program Kolam Deras 1000 yang merupakan kerja sama antara Universitas Indonesia dan Yayasan Pandu Cendekia akan memanfaatkan dan mengoptimalkan lahan-lahan yang ada di Desa Sukarame sebagai desa kontrol untuk tempat pengembangan ikan emas lokal, serta ikan potensial lain, seperti sidat, torsoro, lele, dan bawal. Kegiatan ini bertujuan sebagai implementasi IPTEKS untuk menguatkan potensi wilayah di Desa Sukarame, sehingga dapat meningkatkan produktivitas, inovasi, dan karya bagi masyarakat Desa Sukarame dan sekitarnya. Sampai saat ini, telah dilakukan budidaya ikan lele di Desa Sukarame. Budidaya ikan lele yang dilakukan menggunakan kolam terpal serta menggunakan prinsip socialempowerment dan local multiplier effect. Terpal merupakan bahan plastik kedap air, sehingga dapat menjadi lapisan penahan air kolam. Kolam terpal pada umumnya sering digunakan oleh peternak ikan hias, akan tetapi masih sangat jarang digunakan oleh peternak ikan konsumsi. Penggunaan terpal sebagai tempat budidaya ikan memiliki beberapa keuntungan, seperti mudah dibuat, suhu kolam lebih stabil dibandingkan kolam semen, biaya yang dikeluarkan lebih kecil, serta sebagai solusi dari permasalahan keterbatasan lahan. Selain itu, kolam terpal dapat dipindah- pindah sehingga lele mudah dikontrol dan air kolam dapat lebih mudah dibersihkan (Rosalina 2014).
Social empowerment merupakan proses pengembangan rasa kemandirian dan kepercayaan diri, serta bagaimana seharusnya seseorang bertindak secara individu maupun kelompok untuk mengubah hubungan sosial suatu masyarakat (Combaz & Mcloughlin 2014). Sementara itu, prinsip
local mutiplier effect mendeskripsikan kondisi ketika terdapat satu lapangan pekerjaan yang tersedia kemudian aktivitas ekonominya mengalami kemajuan serta peningkatan, maka permintaan (demand)
produk akan ikut meningkat, sehingga akan menstimulasi tipe kegiatan ekonomi lainnya (Domański &
Gwosdz, 2010). Program Kolam Deras 1000 menerapkan prinsip social empowerment dan local multiplier effect dalam kegiatan budidaya ikan di Desa Sukarame dengan tujuan untuk melatih kemandirian, kepercayaan diri, serta kemampuan masyarakat desa dalam bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama. Harapannya penerapan prinsip social empowerment dan local multipliereffect secara tidak langsung akan membantu menyukseskan kegiatan budidaya ikan di Desa Sukarame, karena masyarakatnya telah memiliki rasa kemandirian, kepercayaan diri, serta semangat kebersamaan selama melaksanakan program Kolam Deras 1000.