HASIL DAN PEMBAHASAN
C. Hasil Penelitian
1. Hasil informan 1 (BE)
a. Proses sidang menguras emosi, pikiran dan menimbulkan kecemasan
Perbuatan BE dan teman-teman yang awalnya dirasa biasa saja ternyata menggiring BE untuk ditangkap dan ditahan. BE dan keluarga setiap minggu harus mengikuti persidangan untuk mendengarkan tuntutan dan bukti fakta. Proses ini BE rasakan sebagai pengalaman yang sungguh menguras emosi dan pikiran. Cemas menunggu vonis hukuman, terbayang hidup lama di penjara yang menyeramkan, lelah fisik harus bolak-balik mengikuti sidang, mulai timbul pikiran negatif tentang stigma masyarakat terhadap dirinya, serta sedih dan bersalah melihat keluarga yang terpukul terutama Ibu yang terus menangis. Bukti fakta tentang korban pun
muncul dan menunjukkan bahwa BE tidak sepenuhnya bersalah, namun itu tidak bisa meringankan putusan vonis 8 tahun 6 bulan hukuman penjara.
Di tengah beban persidangan, pemberitaan media pun muncul menyoroti kasusnya dan isi berita tidak sesuai fakta. BE paham berita direkayasa supaya menarik pembaca, namun BE merasa keberatan dan menuliskannya di pleidoi sebagai wujud pembelaan yang pada akhirnya juga ditolak. BE dan teman-teman masih berusaha meringankan hukuman dengan rencana mengajukan banding dibantu pengacara. Proses pengajuan banding ternyata dibebankan sepihak padanya, teman-teman tidak mau ikut mengurus. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan, BE membatalkan pengajuan banding dan mempersiapkan diri hidup 8 tahun di balik tembok penjara.
b. Kehidupan lapas memprihatinkan dan mengancam keamanan diri
Usai vonis, BE pun resmi menjadi warga binaan lapas. Status baru, hidup baru dan lingkungan baru membuat BE harus benar-benar mampu beradaptasi. Kedatangan BE disambut dengan kondisi ruang tahanan yang cukup kecil dan dihuni banyak tahanan sehingga setiap malam harus tidur berdesakan. Tak jarang, BE juga melihat adu fisik antar sesama warga binaan maupun penggojlogan oleh warga binaan senior terhadap warga binaan baru. Perkelahian
dan keributan seakan menjadi pemandangan biasa di dalam lapas. Beruntung, teman-teman yang dulunya satu polsek sudah lebih dulu berada di lapas sehingga BE tidak mengalami penggojlogan. Perilaku warga binaan pun seakan sama, tidak berani membela teman yang dihajar atau melaporkan adanya tindak kekerasan yang dilakukan warga binaan kepada petugas karena takut jika dirinya yang gantian menjadi sasaran dihajar.
Selama menjalani hukuman penjara, BE banyak mengamati lingkungan barunya. Salah satu yang paling sering diamati adalah tentang penyakit. Warga binaan rawan terserang bermacam penyakit tetapi yang paling sering diderita adalah flu, batuk dan gatal-gatal akibat air di lapas yang kurang bersih. BE mengamati jika satu orang terserang penyakit maka satu sel kamar bahkan satu blok lapas juga akan tertular. Terserang penyakit seakan menambah penderitaan para warga binaan. Masalah lain yang timbul adalah warga binaan yang sudah menikah seringkali digugat cerai oleh istrinya. BE sering melihat teman-teman lapasnya mendapat surat dari pengadilan agama. Kemudian, yang juga menjadi keprihatinan BE adalah adanya beberapa teman lapas yang sangat bersedih karena harus mendekam di penjara meski tidak melakukan kesalahan, ada yang menjadi korban kambing hitam atasannya saat bekerja dan berbagai macam.
c. Kesulitan menerima keadaan dan kecewa dengan pemrosesan hukuman
Adaptasi terhadap lingkungan baru yang harus dijalani juga dirasakan tidak mudah oleh BE. Di awal masa penahanannya BE mengaku sempat marah terhadap keadaan, marah karena harus hidup dan tinggal di tempat yang tidak ia inginkan, marah dan kecewa karena tidak bisa meringankan hukuman, kecewa terhadap pemrosesan hukum di Indonesia. BE sempat berpikir bahwa hidup ini tidak adil dan kejam. BE sadar di tengah segala kebingungan dan keresahan hati selama awal pemenjaraan selalu muncul rasa kecewa terhadap hidupnya. BE juga sering merasa sedih dan perih saat teringat keluarga di rumah yang kaget dan terpukul atas perbuatannya.
d. Penyesalan takdir yang tidak bisa diubah dan ketakutan penolakan
Banyak sekali pikiran dan perasaan yang muncul dalam diri BE. Takut jika keamanan dirinya terancam selama di dalam penjara, takut jika dimusuhi dan dihajar terlebih karena BE mengetahui adanya pengkastaan berdasar kasus yang sudah diterapkan sejak lama oleh para warga binaan. BE bercerita bahwa narapidana kasus pembunuhan atau kasus yang berujung kematian biasanya akan lebih ditakuti dan dihormati oleh sesama warga binaan. Kasta kedua adalah narapidana dengan kasus
penganiayaan, kasta ketiga adalah narapidana kasus pencurian atau penipuan dan kasta terendah yang biasa menjadi pesuruh atau sasaran dihajar adalah narapidana kasus pelecehan seksual. BE sadar diri bahwa dirinya ada dalam kasta terendah sehingga semakin takut jika dihajar.
BE pun awalnya sering berpikir bahwa hidupnya sudah gagal, segala impiannya hancur dan muncul persepsi negatif terhadap dirinya yakni menjadi orang yang gagal dan tidak berguna lagi. BE sering menyalahkan diri sendiri, meratapi kejatuhan hidupnya yang disebabkan oleh dirinya sendiri. BE merasa jatuh ke dalam titik terendah hidup dan kehilangan gairah hidupnya. Perasaan tersebut semakin diperparah dengan ketakutan ditolak masyarakat saat nanti kembali ke rumah, hal ini dikarenakan adanya stigma buruk masyarakat terhadap mantan narapidana. e. Tantangan menjadi tamping yakni melihat godaan besar dan
sulit mengatur teman lapas
Diangkat menjadi tahanan pendamping, prestasi membanggakan di lapas tetapi juga disertai berbagai macam rintangan. Tugas menjadi tamping KPLP menuntut BE untuk bertanggung jawab atas seluruh keamanan lapas, baik itu mengawasi blok tahanan, blok narapidana, sel isolasi, sel pengenalan lingkungan, seluruh tempat dan aktivitas warga binaan harus diawasi dan dijaga olehnya. Keributan, perkelahian, segala
percekcokan dan adu fisik di lapas, bahkan indikasi warga binaan kabur menjadi tugas yang harus segera ditangani. Selama prosesnya, tak jarang BE merasa kesulitan dalam menangani perilaku warga binaan karena sifat warga binaan yang keras dan sulit diatur. Warga binaan pun akan lebih menurut jika diatur langsung oleh petugas dibanding oleh tamping lapas. BE pun juga sering mengalami pertentangan batin ketika menangani keributan warga binaan, di satu sisi ia harus melaporkan kejadian itu kepada petugas sebagai bentuk tanggung jawab atas tugasnya. Sedangkan di sisi lain, BE takut jika warga binaan gantian memusuhi atau bahkan menghajarnya karena dianggap terlalu memihak petugas. Posisi serba salah yang seringkali dirasakan saat terjadi keributan antar warga binaan.
BE mengakui, kebanyakan tamping merasakan tantangan yang sama ketika melihat barang-barang larangan atau akses mudah untuk kabur yang begitu menggoda. Handphone dan komputer yang mudah disalahgunakan, kumpulan uang titipan keluarga saat besukan dan makanan larangan yang begitu menggiurkan, senjata-senjata yang dapat digunakan untuk melawan petugas, atau kesempatan mudah untuk kabur jelas ada di depan mata. Tamping sangat mudah jika ingin menyalahgunakan kesempatan, tetapi BE ingat disitulah ujian iman dan komitmen menjaga kepercayaan petugas. Terkadang BE pun juga merasakan
ketidaknyamanan saat bertugas, dikarenakan adanya ketakutan berbuat salah sehingga mengecewakan petugas atau karena kewalahan terlalu banyak diperintah disaat yang bersamaan. Aturan dan perintah petugas pun kadangkala tidak sesuai dengan kata hati BE karena bisa merugikan warga binaan, tetapi BE sulit untuk menolaknya.
f. Mengatur emosi dan mencari kegiatan yang menghibur diri Saat menghadapi masalah maupun pikiran dan perasaan yang mengganggu, BE berusaha mengatasinya dengan terlebih dahulu mengatur emosi supaya dapat menenangkan diri dan perilakunya terkendali. Menurut BE, kunci utama untuk hidup di lapas adalah mengatur emosi. Jika emosi tidak terkontrol bisa memicu percekcokan atau pertengkaran sesama warga binaan.
BE juga seringkali menghibur dirinya sendiri agar suasana hati tetap bahagia. Cara yang dipilih BE adalah dengan membaca buku pinjaman dari perpus lapas. Jenis buku yang paling sering dibaca BE adalah buku novel dan cerita sejarah, atau buku-buku baru yang belum pernah dibaca sebelumnya. Bagi BE membaca cerita sejarah atau biografi tokoh-tokoh terkenal selain bisa menghibur, menambah wawasan juga mampu memberi inspirasi hidup untuk dirinya. Selain membaca, BE juga sangat senang jika diizinkan oleh petugas untuk menonton tv. Biasanya BE langsung mencari tayangan siaran olahraga, entah sepakbola, bulutangkis
atau cabang olahraga lainnya. Menonton siaran olahraga sungguh membuat BE bahagia dan mampu sedikit mengobati rasa rindunya terhadap hobi dan pekerjaannya dahulu yakni sebagai guru olahraga.
Selain menghibur diri, BE juga mencari sarana tersendiri untuk mencurahkan segala isi hati. BE sadar bahwa banyak sekali pikiran dan perasaan negatif yang mengganggu dirinya sehari-hari, maka dari itu, BE berusaha untuk mengurangi beban pikiran dan perasaannya. BE memilih untuk mencurahkan segala isi hati dan pikirannya dengan menulis daripada bercerita pada orang lain. BE merasa lebih bebas mengekspresikan apa yang ia rasakan lewat tulisan dan efeknya jadi lebih melegakan perasaan serta meringankan beban pikiran. BE juga sering menuliskan refleksi pengalaman kehidupan pribadinya dan saat ini banyak dimuat dalam majalah lapas. BE sangat senang, ternyata menulis tidak hanya mampu melegakan hatinya saja tapi juga bisa menjadi sarana menginspirasi dan berbagi pelajaran hidup bagi para pembaca supaya tidak mengalami kejatuhan hidup seperti dirinya. g. Rencana meringankan hukuman dan tindakan melindungi diri
Upaya lain yang dilakukan BE untuk mengatasi berbagai masalahnya adalah dengan melakukan usaha aktif dan tindakan nyata. Salah satu yang dilakukan terkait urusan proses hukumnya adalah dengan menulis pembelaan diri di pleidoi dan
merencanakan pengajuan banding demi meringankan hukuman. Segala informasi tentang banding dikumpulkan dengan cara bertanya pada teman residivis yang berpengalaman dan mencari pengacara. Komunikasi dengan keluarga pun selalu BE usahakan untuk diskusi kesepakatan, meski pada akhirnya banding batal diajukan karena keluarga tidak sepenuhnya sepakat dan teman-teman satu kasus tidak mau ikut mengurus, namun BE cukup lega setidaknya sudah berusaha.
Masalah lain yang menyangkut tugasnya sebagai tamping KPLP adalah keamanan diri yang terancam. Untuk mengatasi bahaya saat bertugas, BE memilih untuk menjaga sikap dan membawa diri sesuai waktu dan tempat, misalnya memposisikan diri netral tidak memihak petugas maupun teman lapas saat terjadi keributan. Upaya lain yang dilakukan adalah dengan sedikit melonggarkan aturan, BE memberi toleransi untuk keributan ringan tidak akan dilaporkan petugas sehingga teman lapas paham dirinya tidak terlalu memihak petugas. Relasi dan komunikasi pun senantiasa BE jaga supaya tidak ada kesalahpahaman dengan seluruh masyarakat lapas. Ketika ada kesulitan atau kebingungan terkait tugas dan pekerjaan, BE memilih untuk bertanya dan mengkonfirmasi langsung kepada petugas sebagai atasan supaya juga tidak terjadi salah paham.
h. Sikap batin yang membantu proses penerimaan situasi
Selama menjalani hukuman penjara, BE juga berusaha dan memilih untuk menyikapi secara positif segala proses dan situasi yang dialami. BE menyadari bahwa hukuman penjara adalah salah satu takdir hidup yang harus dijalani, oleh karena itu BE memilih untuk ikhlas menerima dan memasrahkan seluruh hidup pada Tuhan supaya dapat sungguh menikmati proses pembelajaran hidup di lapas dengan mantap hati. BE selalu menguatkan diri sendiri dengan berdoa mohon kekuatan dari Tuhan dan juga selalu mengingat pesan orang tua supaya jangan khawatir untuk tetap melangkah. Berinteraksi dengan sesama teman lapas, membuat BE sadar bahwa hidupnya saat ini jauh lebih beruntung dibanding teman-teman lapasnya yang harus menanggung masalah pribadi atau beban vonis yang lebih berat. Dulu BE merasa hidupnya sudah paling terpuruk, nyatanya BE masih mendapat dukungan keluarga, tidak menanggung beban memiliki istri dan anak, hukuman tidak terlalu berat, hal ini membuat BE sangat bersyukur Tuhan tidak memberinya cobaan yang terlampau berat. BE pun lebih memilih untuk menjalani hidup di penjara dengan tenang, BE tidak mau ambil pusing memikirkan perilaku orang lain. BE memilih untuk memaklumi segala baik buruk tindakan teman-teman lapasnya ataupun petugas supaya beban pikirannya tidak bertambah banyak.
BE memberi makna positif terhadap jalan hidupnya sekarang, penjara adalah bagian dari rencana Tuhan untuk banyak belajar tentang kehidupan. BE merasa diselamatkan Tuhan dari hidupnya yang selama ini banyak berbuat salah dan jauh dari kebaikan. Oleh karena itu, BE merasa Tuhan menyelamatkan supaya hidupnya tidak semakin parah dan diberi kesempatan untuk berubah. BE berefleksi dan memandang bahwa menjalani hidup di penjara ini pada akhirnya membawa pada satu pilihan, ingin bangkit atau semakin terpuruk. BE tidak mau semakin jatuh, BE memutuskan untuk bangkit dan berbenah supaya hidupnya kembali bermakna. BE tersadar, hidup manusia tidak selamanya menyenangkan, ibarat roda ada masanya berjaya di atas dan ada saatnya jatuh ke bawah. Namun yang terpenting adalah hidup harus tetap berjuang di segala keadaan.
i. Karakter pribadi pendorong proses bangkit dan dipilih menjadi tamping
Segala proses bangkit dan terpilih menjadi tamping tidaklah terlepas dari sifat pribadi BE sendiri. Sedari awal sejak penahanan, BE merasa dirinya sudah terjatuh dalam titik terendah kehidupan. Perasaan itu ditambah dengan merasakan hidup di penjara yang serba terbatas dan penuh tekanan sehingga membuat BE jera dan bertobat. BE mengaku salah atas perbuatannya dan tidak mau lagi mengulang hidup di penjara. Menurut BE, untuk melangkah ke
depan semua tergantung pilihan, mau bangun atau menyerah. BE optimis masih ada harapan untuk hidupnya ke depan selagi terus menyertakan Tuhan, maka dari itu BE semangat untuk bangun dan cepat berubah.
BE sadar betul apa yang menjadi kelebihan dan kekurangannya. Salah satunya adalah sikap bertanggung jawab, BE sadar akan kepercayaan dan tanggung jawab yang diberikan padanya oleh petugas sehingga BE mau bekerja sungguh-sungguh dan tidak ingin mengecewakan.
j. Motivasi pribadi untuk diterima kembali, berbakti dan menginspirasi
Berubah, merupakan satu kata yang menjadi motivasi dan keharusan bagi BE supaya dapat hidup lebih baik setelah bebas. BE sadar bahwa statusnya sebagai narapidana saat ini atau mantan narapidana nantinya tetap melekat dengan stigma negatif masyarakat. Tak dipungkiri, ketakutan dan kebingungan menyelimuti pikiran BE saat teringat bagaimana nantinya harus kembali berbaur di masyarakat. Terlepas dari segala stigma, BE tetap bertekad bulat dan berusaha untuk berbenah juga berubah selama proses pemenjaraan. BE ingin dirinya sudah berubah lebih baik ketika bebas, BE ingin mengembalikan citra positif pada dirinya. BE berusaha membuktikan pada masyarakat bahwa mantan narapidana tidak seburuk yang dipikirkan. Semua
dilakukan BE demi bisa diterima kembali dengan baik di tengah masyarakat. Bahkan, BE akan teramat bersyukur jika suatu saat dianugerahi pendamping hidup yang mau menerima dirinya apa adanya.
Motivasi lain yang menjadi pendorong sangat kuat dalam diri BE untuk berubah adalah keinginan untuk berbakti dan membahagiakan orang tua, juga kedua adiknya. BE sadar selama ini dirinya banyak menyusahkan orang tua, apalagi dengan hukuman penjara ini BE seakan memberi pukulan berat bagi keluarganya. BE ingin menebus segala kesalahannya pada orang tua, dengan menuruti segala kehendak yang diinginkan orang tuanya nanti setelah bebas. BE juga berharap nantinya dapat kembali bekerja, entah dengan membuka usaha atau mencari lowongan yang mau menerima, supaya dapat mandiri dan membantu menafkahi keluarga besarnya. Motivasi lain yang juga menggugah BE untuk tumbuh dan berubah adalah adanya keinginan besar, suatu saat dirinya dapat menginspirasi banyak orang. BE ingin cerita pengalaman hidupnya dijadikan pelajaran, supaya orang lain tidak terjerumus dalam kesalahan seperti dirinya. k. Dukungan sangat berarti dari orang tua, teman lapas, petugas
Segala proses perjuangan di dalam penjara yang akhirnya berbuah manis pada perubahan diri BE tidak terlepas dari dukungan dan peran serta orang-orang terdekat. Orang tua menjadi
sumber penyemangat hidup utama dikala keinginan untuk menyerah datang. BE sangat bersyukur dianugerah orang tua yang luar biasa, tetap mau mengasihi dan menerima apa adanya meski dirinya sebagai anak sudah membawa aib bagi keluarga. Orang tua selalu menguatkan dan mengingatkan BE untuk berserah pada Tuhan. Teman-teman dan kerabat dekat dari luar pun juga menghibur dan menguatkan saat beberapa kali datang menjenguk ke lapas.
Dukungan tak hanya berasal dari luar, dari dalam lapas pun BE merasakan adanya teman dan petugas lapas yang mendukungnya. Ya, sesama warga binaan menjadi teman seperjuangan untuk saling menguatkan. Teman-teman dari asal polres membantu BE untuk beradaptasi di awal pemenjaraan, teman satu kasus berusaha bersama meringankan hukuman, teman tamping saling mendukung dalam tugas. Terlepas dari ada atau tidaknya warga binaan yang kurang suka padanya, BE bersyukur ada beberapa teman lapas yang mau mendukungnya. Petugas lapas juga turut berperan mendukung BE hingga semangat berubah, meski ada beberapa oknum yang kurang baik padanya. Diberi pembinaan, motivasi dan terkadang penghiburan membuat BE cukup senang. Terlebih dipercaya dan diangkat menjadi tamping. Meski menjadi tamping mengalami banyak rintangan, namun BE tetap senang dapat didukung dan dipercaya petugas.
l. Kesempatan yang mengembalikan kepercayaan diri
Menjadi tahanan pendamping, merupakan suatu kesempatan yang sangat disyukuri BE selama menjalani masa hukuman. BE tidak pernah menyangka dibalik rasa terpuruknya jatuh ke dalam penjara, dirinya ternyata masih dipandang baik dan memperoleh kepercayaan untuk membantu mengatur warga binaan. BE merasa kepercayaan merupakan suatu hal yang sangat mahal harganya. Terlebih saat menjadi narapidana sekarang ini, orang lain pasti sangat sulit untuk percaya bahwa dirinya tidak seburuk yang dibayangkan. Oleh karena itu, BE tidak mau menyia-nyiakan kepercayaan yang sudah diberikan oleh petugas. Rasa percaya yang diberikan padanya itu perlahan ternyata membuat BE kembali membangun kepercayaan dirinya.
Beraktivitas sebagai tamping dari pagi hingga sore hari dengan berbagai kegiatan dan masalah, ternyata membuat waktu hukuman BE jadi tidak terasa. BE merasa cukup senang, walau banyak tantangan tetapi kesibukan sebagai tamping terkadang bisa mengalihkan pikiran dan kesedihannya dari meratapi vonis hukuman. Menjadi tamping juga membuat BE kembali merasa bahwa dirinya berharga, sejak awal penahanan BE selalu berpikir dirinya tidak berguna dan tidak bisa berbuat apa-apa. Tetapi, lewat tugasnya sebagai tamping, BE senang dirinya bisa berarti lagi dan bisa membantu banyak orang.
m. Diri yang semakin bertumbuh positif
Segala proses hukuman sejak awal penahanan hingga menjalani tugas sebagai tamping KPLP membawa permenungan yang cukup mendalam bagi BE. BE merasa banyak perubahan positif di dalam dirinya karena hukuman penjara, meski awalnya hukuman ini sangat terpaksa dijalani. Pribadi BE jadi jauh lebih mampu mengendalikan diri, karena sebelumnya sangat sulit mengendalikan emosi. Sulitnya mengatur para warga binaan ternyata melatih kesabaran dan ketenangan BE. BE juga menjadi lebih mandiri dan semakin sadar akan kebersihan serta kesehatan diri karena sanitasi lapas yang kurang baik. Sebelum masuk penjara, BE selalu acuh dengan kesehatan tubuhnya, tidak peduli dengan kebersihan lingkungan, dan selalu menyuruh orang rumah untuk mengurusi kebutuhan hidupnya.
Bergaul dengan beragam sifat warga binaan, membuat BE belajar menyelami satu per satu karakter warga binaan. Pandangan BE terhadap orang lain berubah, BE melihat sebenarnya setiap orang memiliki sisi baik dalam dirinya walau seburuk apapun perilaku yang terlihat. Kemudian, melihat banyaknya kondisi warga binaan yang jauh lebih memprihatinkan seperti tidak pernah dijenguk, diceraikan oleh istrinya, mendapat vonis yang sangat lama, membuat rasa empati dan peduli BE semakin tergerak untuk membantu. BE berusaha membagikan sedikit lauk yang dibawakan
saat dijenguk, menjadi pendengar keluh kesah warga binan, menjadi fasilitator aspirasi kepada petugas. Semua dilakukan BE dengan senang hati dan tanpa pamrih, padahal dahulu prinsip BE adalah setiap bantuan yang diberikan harus mendapat imbalan. Selama dipenjara, relasi BE dengan keluarga dan oranag terdekat justru semakin erat. BE semakin menghargai peran keluarga yang terus mendampingi dan menguatkannya.
Bertugas sebagai tamping ternyata juga membawa pertumbuhan diri yang positif terhadap BE. Lewat segala tugas, kesulitan, dan masalah, membuat BE banyak belajar menjadi pribadi yang semakin bertanggung jawab dan bijaksana. BE sangat menjaga kepercayaan yang diberikan petugas padanya. Dalam mengatasi masalah, BE juga jadi lebih bijaksana mengambil keputusan dan mampu mengkomunikasikan masalah dengan tenang tanpa amarah. BE juga senang dirinya menjadi pribadi yang lebih berguna karena dapat lebih banyak membantu sesama yakni warga binaan lewat perannya sebagai tamping KPLP.
Dari segi spiritual, BE merasakan sangat banyak perubahan