• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

C. Hasil Penelitian

2. Hasil informan 2 (SA)

a. Mendapat vonis sangat lama dan ditinggalkan semua orang terdekat

Penjara, bukanlah tempat yang diinginkan banyak orang, termasuk SA. Bermula dari percekcokan dan berujung pada kematian sang istri, akhirnya SA harus rela menjalani 15 tahun hidupnya dibalik tembok penjara. Terasa sangat lama tetapi vonis tersebut sudah diringankan, awalnya SA divonis 20 tahun penjara. Sejak menjalani persidangan bahkan hingga 2,5 tahun dihukum penjara, kedua anak dan seluruh keluarga meninggalkan SA sendirian. Orang-orang dan teman yang selama ini dekat dengannya pun juga ikut meninggalkan. Ditinggalkan semua orang saat terpuruk di penjara, seakan menjadi pukulan beruntun bagi SA. Disaat itulah, SA merasakan titik balik dalam hidupnya. b. Kehidupan lapas yang keras dan menyeramkan

Hari pertama masuk ke lapas menjadi hari yang tak terlupakan bagi SA. Disambut dengan tatapan mata tajam oleh

petugas, beberapa petugas melihat seakan memusuhi dan meremehkan. Diberi makanan dengan nasi putih dingin dan lauk tempe yang hambar, masih teringat jelas dalam pikiran SA. Kehidupan lapas diakui SA merupakan gambaran kehidupan yang keras dan menyeramkan. Tidur yang berdesakan karena kelebihan kapasitas, melihat budaya hidup penghuni lapas yang sering terasa mengerikan, adanya perkelahian sesama napi dan penindasan terhadap napi yang dianggap rendah. Petugas pun pada akhirnya juga melakukan pendisiplinan dengan cara yang keras, karena banyak narapidana yang sulit diatur perilakunya. Bagi SA, terus menyesuaikan diri adalah salah satu cara terbaik untuk bisa kuat menjalani hidup dibalik penjara.

c. Kesedihan divonis berat dan kekecewaan tuduhan tidak sesuai fakta

Tuntutan 20 tahun penjara dan akhirnya diputuskan menjalani vonis 15 tahun penjara sungguh membuat SA sedih dan terkejut. 15 tahun sangatlah lama, apalagi dengan usia yang tidak muda lagi banyak kekhawatiran yang SA rasakan. Kesedihan ini ditambah lagi ketika SA melihat kedua anaknya hadir di persidangan, SA tidak tega melihat kondisi kedua anaknya yang sangat kaget dan terguncang akibat kasus yang menimpa keluarga mereka. Selama persidangan, muncul berbagai tuduhan yang menurut SA tidak sesuai fakta dan justru menambah beban pikiran

serta beratnya hukuman. Dituduh melakukan perselingkuhan dan pembunuhan terencana, pada akhirnya tuduhan tersebut salah dan tidak terbukti.

SA mengajukan pembelaan melalui tulisan di pleidoi bahwa segala tuduhan atas dirinya salah dan ia tidak bermaksud melakukan pembunuhan, apalagi pembunuhan terencana. Pemukulan terjadi tanpa sengaja saat dirinya dan istri cekcok di tengah kekalutan pikiran karena usaha yang terancam bankrut, tak disangka berakhir tragis. Sayangnya, pembelaan yang diajukan ditolak dalam persidangan. SA kecewa sepanjang persidangan tidak ada kerabat atau teman yang membela, hanya pengacara dan seorang pendeta yang terus mendampingi selama SA menjadi tahanan. Awalnya hukuman penjara menjadi cobaan yang sangat berat untuk diterima. Tapi perlahan SA belajar untuk berserah dan kini SA mengatakan banyak hal positif yang ia dapatkan dari balik penjara. Bahkan kini, meski grasi yang diajukan ditolak tapi SA mampu menerima dengan bijak.

d. Takut melihat kehidupan penjara dan tidak mampu mengubah takdir

Kehidupan penjara yang terasa menyeramkan ditambah dengan rumor bahwa narapidana yang divonis lama akan dipindahkan ke Lapas Nusakambangan. Rumor ini bisa jadi benar, karena dari pengalaman, para narapidana yang dihukum lama akan

dipindahkan mengingat kondisi Lapas Cebongan yang over kapasitas. SA terus merasa was-was, takut jika dirinya benar-benar akan dipindah. Tidak terbayang dalam benak SA harus masuk ke lapas yang terkenal paling mengerikan di Indonesia. SA juga khawatir, semakin tidak ada orang yang mau menjenguknya bila dipindahkan jauh dari Jogja. Padahal, masih berada di lapas daerah Jogja saja sudah tidak ada keluarga yang datang menjenguknya.

SA terkadang juga sedih melihat makanan lapas. Nasi putih dengan sedikit sekali sayur, ditambah dengan tempe goreng yang terkadang hambar dan ikan asin yang paling tidak disukai hampir semua narapidana. Jangan berharap akan sering mendapat ayam, karena itu makanan paling mewah. Jatah lele goreng satu bulan sekali saja sudah sangat membahagiakan narapidana. Kadang bosan, kadang tak berselera makan, tapi ketika melihat narapidana lain bisa makan dengan lahapnya, SA jadi sangat bersyukur dan terharu. Ternyata dirinya masih lebih beruntung bisa menikmati makanan, dibanding orang-orang yang kelaparan di jalanan. Merenungi kehidupan di lapas beserta seluruh isinya, membuat SA berpikir bahwa dirinya memang tidak bisa mengubah takdir. Belajar untuk tidak mengelak, belajar untuk menerima, dua hal itu membantu SA untuk dapat menjalani harinya dengan tenang. e. Adanya pandangan negatif terhadap diri dan terus merasa

Masuk penjara membuat pandangan SA berubah terhadap dirinya sendiri. Dari yang dulunya merasa diri mampu dan berharga karena segala kesuksesan, seketika berubah menjadi rendah diri dan merasa hina. SA merasa dirinya sangat hina dan berdosa karena menjadi seorang pembunuh, bahkan karena perbuatannya semua orang terdekat pun menjauh karena dirinya dianggap berbahaya. Dulu sebelum menjadi tamping gereja, pernah ada keinginan untuk membantu pelayanan gereja menyiapkan ibadah, namun lagi-lagi yang muncul dalam benak SA adalah dirinya orang berdosa dan tidak pantas melayani Tuhan apalagi di gereja. Rasa berdosa itu terus muncul, diikuti dengan rasa bersalah juga penyesalan yang teramat dalam karena dirinya menjadi penyebab musibah yang dialami keluarganya. Diakui SA bahwa sejak awal menjalani hukuman, dirinya terus menerus merindukan keluarga terutama kedua anaknya. Tapi apa daya, walau apapun sudah dilakukan, keluarga pasti tetap sangat sulit untuk memaafkan dirinya. SA hanya bisa berdoa dan pasrah, berharap keluarga mau datang dan memaafkan.

f. Berusaha meringankan hukuman dan berjuang menyesuaikan diri

Hidup di penjara memang tidaklah mudah, harus berjuang untuk kuat dan bertahan sampai nanti waktunya bebas. Begitulah yang dilakukan SA untuk menyemangati dirinya ketika teringat

lamanya masa hukuman. Vonis hukuman merupakan salah satu beban berat dalam pemenjaraan. Dari yang awalnya hanya sedih dan pasrah menerima vonis 20 tahun penjara, akhirnya SA mencoba untuk meminta keringanan dengan mengajukan banding pada jaksa. SA bersyukur, seorang petugas pembinaan rohani di lapas memberinya saran dan membantu proses pengajuan banding hingga turun menjadi 15 tahun penjara. Tak sampai disitu, SA pun disarankan untuk mencoba mengajukan grasi supaya bisa bebas lebih cepat. Ya, SA berusaha mencobanya dan berserah apakah diterima atau tidak. Grasi pun ditolak, tapi SA bersyukur mampu menerima dengan ikhlas. Bagi SA, itu berarti Tuhan masih ingin dirinya belajar di dalam penjara, Tuhan mau agar dirinya masih dapat berkarya membantu siapapun yang membutuhkan dirinya di lapas.

Seiring berjalannya waktu, SA terus belajar beradaptasi dengan pola kehidupan di lapas. Keadaan dimana SA tidak pernah dijenguk keluarga selama lebih dari 2 tahun, membuat SA berusaha mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri di lapas. SA sesekali dipanggil petugas untuk memijat, dari memijat itu terkadang ia mendapat imbalan berupa lauk makanan atau sedikit uang. SA bersyukur, sedikit uang yang ia terima bisa digunakan membeli kebutuhan dasar seperti alat mandi di koperasi lapas. SA juga kembali besyukur, ada seorang pendeta yang sangat peduli

padanya sehingga beberapa kali membawakan baju ganti untuk dipakai sehari-hari.

Untuk urusan kesehatan, SA selalu berusaha menyadari kondisi tubuhnya. Jika terasa sakit ringan, SA berusaha mengobatinya sendiri dengan banyak beristirahat. Jika sakitnya dirasa agak parah, SA mencari pertolongan dengan memeriksakan diri ke klinik lapas. SA sadar akan minimnya fasilitas kesehatan di lapas, maka dari itu SA selalu menjaga kondisi tubuhnya. SA juga banyak belajar untuk menyesuaikan diri dengan cara bergaul di lapas. Menurut SA, jika salah dalam bersikap bisa berakibat fatal seperti pengeroyokan. SA selalu berusaha membawa diri dengan baik saat bergaul dan menempatkan diri dengan bijak. Terutama karena saat ini dirinya menjadi tamping, maka harus mampu menempatkan diri dengan baik di tengah petugas dan teman lapas. Sikap netral menjadi pilihan terbaik, supaya dirinya terhindar dari tindak kekerasan.

g. Mengatur emosi dan menguatkan diri sendiri

Kuat atau tidaknya menjalani hukuman penjara bagi SA ditentukan oleh diri sendiri. Kontrol atas perilaku dan keputusan untuk bangkit atau menyerah juga ada pada diri sendiri. SA senang sejauh ini dirinya mampu mengikuti setiap dinamika kehidupan di lapas. Disaat terjadi banyak masalah atau tekanan keadaan mengacaukan pikiran, SA berusaha mengatasinya dengan

mengatur emosi serta menguatkan diri sendiri. SA selalu menyemangati diri sendiri agar selalu kuat dan tegar dalam menjalani hidup dalam lapas. Ketika makanan yang diterima tidak membuatnya berselera makan, SA berusaha menyugesti diri sendiri supaya makanan lapas lebih terasa enak dinikmati. SA terus menerus berusaha supaya dapat mengontrol perilaku dengan baik, terlebih saat harus berhadapan dengan teman lapas yang mudah marah. SA tidak mau berbuat kasar, marah, atau bahkan membuat keributan.

Saat hati dan pikiran terasa berat, SA biasanya menghibur diri dengan membaca buku atau koran juga mendengarkan lagu-lagu lewat radio. Begitu pula untuk melegakan isi hati dan pikiran, SA seringkali membaca ayat kitab suci, menyanyikan lagu rohani, atau menumpahkan segala isi hati melalui tulisan. SA cukup mengerti hal-hal apa yang bisa membantu dirinya untuk kembali semangat menjalani hari.

h. Sikap batin yang membantu menerima dan berdamai dengan keadaan

SA mengatakan, butuh proses panjang sehingga dirinya saat ini dapat berdamai dengan keadaan dan lebih menikmati hari-hari dalam menjalani hukuman. Proses terberat adalah mengolah batin supaya benar-benar ikhlas dan mau belajar dari kehidupan penjara. Hal pertama yang SA lakukan saat mendapat putusan vonis adalah

berserah diri, memasrahkan seluruh hidup, proses hukuman serta semua anggota keluarga pada Tuhan. SA percaya Tuhan akan mendampingi dan memelihara dirinya di penjara maupun keluarganya di rumah. SA belajar untuk sungguh rela hati menerima hukuman sambil berusaha memahami apa maksud dan kehendak Tuhan mengizinkannya dihukum penjara, sehingga hatinya semakin mantap menjalani proses Tuhan.

Dalam menjalani masa hukumannya, SA mencoba untuk mensyukuri berkat setiap hari sekecil apapun itu. Bersyukur untuk berkat makanan, kesehatan dan perlindungan dari Tuhan. SA tetap berpikiran positif dalam segala keadaan, SA memandang bahwa hukuman penjara ini adalah tantangan kehidupan dan hidupnya akan indah sesuai waktu Tuhan. SA tak lupa untuk berdoa setiap hari, memohon pertolongan agar terus dikuatkan menjalani hari dan mendoakan kedua anak agar senantiasa dilindungi. SA bersyukur dengan banyaknya waktu luang di penjara, dirinya jadi banyak membaca dan memperdalam kitab suci. Hal yang sangat jarang dilakukan ketika masih di luar.

Seringkali SA melakukan permenungan diri. SA berintrospeksi dan mencermati perilaku hidupnya selama ini yang ternyata hanya mementingkan hidup duniawi dan melupakan Tuhan. SA merefleksikan proses hidupnya untuk berbenah, dan menemukan bahwa penjara adalah tantangan dan pilihan untuk

mau bertobat atau semakin bertindak jahat. Selama ini, SA selalu memaknai positif setiap prosesnya menjalani hukuman penjara. Bagi SA, hukuman penjara adalah bentuk penyelamatan Tuhan supaya dirinya tidak hidup dalam kesombongan. Hukuman penjara adalah rencana dan sarana dari Tuhan untuk belajar tentang kehidupan, supaya dirinya dapat diubahkan menjadi manusia yang lebih baik di mata Tuhan.

i. Karakter pribadi pendorong proses perubahan dan pertumbuhan diri

Segala bentuk pertumbuhan dan perubahan yang dirasakan oleh SA selama ini tak lepas dari sifat-sifat positif yang membantunya beradaptasi sejak awal hukuman. SA selalu pantang menyerah dan semangat untuk bangkit dari keterpurukan, ia tidak mau terus larut dalam kesedihan dan sadar bahwa harus melanjutkan hidup dengan lebih baik. SA juga sadar penuh bahwa iman yang ia miliki adalah senjata utama untuk terus berpegang pada Tuhan yang menjadi sumber kekuatan dan pertolongan, sehingga tetap optimis dan berpengharapan bahwa hidupnya kelak akan lebih baik.

Pengalaman masuk penjara ini sungguh membuat SA jera. Lingkungan lapas yang penuh dengan tekanan dan keterbatasan, ditinggalkan sendirian oleh semua orang sungguh membuat SA menderita dan tidak ingin lagi hidup dalam penjara. SA juga

sungguh bertekad untuk bertobat sebelum terlambat, ia menyadari dan mengakui banyaknya dosa dan kesalahan yang diperbuat selama ini. Bagi SA saat inilah waktunya untuk berubah, ia mau pribadinya semakin jadi semakin baik setiap hari dan semakin berguna untuk orang lain.

j. Motivasi pribadi penyemangat diri untuk berubah

SA mengatakan, keinginannya yang sangat kuat untuk tumbuh jadi pribadi yang lebih baik didorong oleh impian besar yang ingin dilakukannya setelah bebas. Merasakan banyak dibina dan diberkati lewat orang-orang dari kelompok pelayanan rohani membuat SA juga ingin menjadi saluran berkat bagi banyak orang. SA bercita-cita setelah bebas nanti dirinya akan bergabung dalam salah satu kelompok pelayanan rohani, ia ingin keliling melakukan karya pelayanan dan menceritakan kebaikan Tuhan yang tetap mengasihinya selama berada dalam penjara. SA juga ingin cerita hidupnya bisa menjadi inspirasi hidup sehingga boleh bermanfaat dan memberkati banyak orang.

Selain adanya cita-cita setelah bebas, SA pun juga tergerak untuk berubah karena ingin membimbing dan mengayomi teman-teman lapas. SA tahu bahwa dirinya menjadi yang dituakan oleh sesama teman lapas. Sebagai yang dituakan, membuat SA sering menjadi tempat bercerita dan meminta nasehat oleh sesama teman lapas. Menyadari hal itu, SA ingin berubah lebih baik supaya dapat

membimbing dan mengayomi dengan lebih baik pula. Kemudian, jauh di dalam hatinya, SA ingin bisa kembali menjadi sosok ayah yang baik bagi kedua anaknya. Meski sudah berbuat kesalahan, SA berharap suatu saat kedua anaknya dapat melihat bahwa masih ada sisi baik di dalam dirinya. SA juga ingin membuktikan pada orang lain bahwa dirinya tidak seburuk yang dibayangkan, narapidana tidak se-negatif yang dipikirkan. Menurut SA, satu-satunya cara untuk membuktikan dan mengubah pandangan orang lain terhadap dirinya adalah dengan berubah.

k. Sumber dukungan untuk terus bertahan

Ada kalanya rasa putus asa, kesedihan, dan tidak berdaya datang yang membuat SA ingin menyerah. Pada saat itulah, SA memikirkan orang-orang yang selama ini menjadi penyemangat hidup dan mendukungnya untuk tetap kuat. Seperti kedua anaknya, alasan terbesar SA untuk jadi pribadi yang lebih baik setiap hari adalah demi anak-anaknya. SA ingin jika suatu saat bertemu lagi dengan anaknya, dirinya yang dulu sudah berubah dan bisa lebih mengayomi serta menjaga anaknya dengan baik.

SA juga bersyukur orang-orang di dalam lapas juga banyak yang memberi dukungan. Seperti petugas lapas, meskipun ada yang kurang baik atau tidak menyenangkan tetapi ada beberapa petugas yang peduli pada SA. Terkadang ada petugas bagian registrasi yang memberinya makanan karena tahu kalau dirinya

tidak pernah dijenguk keluarga. SA juga bersyukur petugas pembinaan mempercayai dirinya untuk menjadi tamping, hal ini sungguh sangat berarti bagi SA. Meski diakui bahwa menjadi tamping tidaklah mudah, banyak masalah yang juga harus dihadapi namun setidaknya ilmu dan ide yang SA miliki bisa disalurkan untuk membantu program pembinaan lapas. Teman-teman sesama tamping atau pekerja juga menjadi sumber dukungan, karena dapat saling menopang, bertukar cerita dan membantu meringankan pekerjaan.

Ada seorang pendeta pula yang selama ini sangat peduli dan menjadi satu-satunya orang yang hadir mengunjungi SA. Pendeta ini juga yang memberi bantuan berupa baju serta keperluan lain yang sekiranya dibutuhkan SA. Walau saat ini pendeta tersebut sudah tidak pernah datang, tapi SA sangat bersyukur disaat paling terpuruknya masih ada yang mendampingi. Tak lupa, sesama penghuni lapas pun menjadi sumber dukungan bagi SA. Terlepas dari segala perilaku dan kebiasaan buruk yang dimiliki, teman-teman lapas terutama yang sangat dekat dengan SA sudah dianggap seperti keluarga yang bersama berjuang, saling merawat ketika sakit dan menjadi tempat untuk berkeluh kesah. l. Menjadi tamping adalah kesempatan untuk berkembang dan

Diangkat menjadi tamping, merupakan suatu kesempatan yang luar biasa bagi SA. Disaat jatuh, merasa diri rendah, tidak lagi berguna, ternyata masih ada orang yang mau mempercayai dirinya. Kesempatan ini sangat berharga untuk SA karena lewat kepercayaan petugas, dirinya boleh dijadikan tamping sehingga memacu semangat untuk kembali merasakan gairah hidup. Terlepas dari segala kesulitan dan tantangan yang harus dihadapi sebagai tamping, bagi SA tamping adalah sarana untuk menyalurkan ide dan gagasan, juga menjadi sarana beraktivitas. SA sangat bersyukur boleh dipilih menjadi tamping gereja, karena dapat melakukan pekerjaan sambil melayani Tuhan. Sejak menjadi tamping gereja, SA juga jadi lebih semangat memperdalam iman dengan membaca kitab suci, supaya dapat membantu pembinaan rohani teman-teman lapas.

Merenungi perubahan dirinya sejak ditugaskan sebagai tamping, SA perlahan merasa bahwa kepercyaan dan harga dirinya yang dulu sempat hilang saat awal pemenjaraan kini mulai kembali lagi. Kepercayaan yang diberikan padanya ternyata membawa pengaruh yang sangat besar. SA juga merasa dirinya kini jadi pribadi yang jauh lebih berguna. Jika dulu membantu orang karena mampu secara finansial, tetapi kini jauh lebih berarti karena SA dapat membantu meski juga dengan segala kekurangan dan keterbatasan yang dimiliki. SA belajar bahwa membantu,

menolong, dan memberi tidak harus saat sudah punya banyak rejeki. Membantu bisa dengan tenaga, membantu bisa lewat doa. m. Tantangan tamping yakni sulitnya mengatur para napi dan

kecemburuan dari napi biasa

Pernah menjadi tamping bimker, membantu secara informal sebagai tamping olahraga dan tamping blok, lalu kini menjadi tamping gereja, tentu tak lepas dari kesulitan dan beragam tantangan. SA mengatakan, tantangan utama yang dialami tamping adalah sulitnya mengatur teman-teman lapas. Tidak dipungkiri bahwa teman-teman sesama narapidana ini lebih menurut dan takut terhadap petugas, daripada dengan tamping. SA dan para tamping seringkali pusing dan jengkel saat mengatur, karena para narapidana ini tidak mau menurut jika diatur dengan cara halus sedangkan jika diatur dengan sedikit tegas atau keras justru jadi melawan. Maka dari itu, SA dan tamping lainnya harus pintar-pintar mencari cara supaya para narapidana bisa diatur dengan baik.

Tantangan lain yang seringkali membuat tamping tergiur adalah melihat banyaknya barang-barang larangan saat bertugas di kantor depan. Seperti diketahui bahwa narapidana kehilangan hak atas kepemilikan barang dan jasa, sehingga ketika melihat makanan yang dilarang, ponsel elektronik, laptop dan perputaran uang di kantor petugas sungguh sangatlah menggoda. Akses

tamping untuk kabur atau menyalahgunakan senjata juga lebih besar. Oleh karena itu, menurut SA tamping haruslah tahan dan kuat iman supaya tidak tergoda melihat barang-barang dan menyalahgunakan kesempatan. SA sendiri juga berusaha tahan terhadap godaan karena tidak mau mengecewakan petugas yang sudah memilih dan percaya pada dirinya. Bagi SA, kepercayaan mahal harganya.

Selain itu, ada pula pandangan negatif dari para narapidana biasa terhadap tamping yang terkait dengan tugas serta jabatan. Ada yang menganggap narapidana tamping itu sombong karena dipilih petugas, ada yang menganggap tamping seenaknya sendiri untuk mengatur. Ya, SA menyadari adanya kecemburuan dari para narapidana biasa terhadap narapidana tamping. Jika sudah begitu, SA biasanya mengatasi dengan menjadi penengah untuk menyampaikan dan memberi pengertian bahwa tamping tetaplah sama serta juga punya kendala saat bertugas. Sama halnya ketika terjadi konflik internal antar tamping, SA juga berusaha menengahi dan mengingatkan bahwa harus membantu petugas dengan baik, jangan justru membuat keributan sendiri.

n. Mengalami pertumbuhan diri

Segala tekanan, masalah dan kesulitan yang dihadapi selama menjalani hukuman penjara dan bertugas sebagai tamping ternyata membawa pertumbuhan diri pada pribadi SA. SA

mengaku, banyak perubahan dan hal positif yang ia dapatkan justru karena hidup dalam keterbatasan. SA lebih ikhlas menerima jika terjadi peristiwa negatif di luar rencananya, SA jadi kuat dan tangguh menjalani susahnya hidup, SA juga jadi mampu bertahan dalam situasi sulit dengan kreatif dan terampil mencari cara untuk bertahan hidup. kemandirian SA untuk mengurus diri sendiri pun bertambah, begitu pula dengan lebih banyaknya rasa syukur atas setiap anugerah yang diterima sekecil apapun itu. SA menjadi pribadi yang lebih humoris dan ceria dalam menjalani hari-harinya. Saat mengalami masalah, SA tidak lagi terjebak dalam

Dokumen terkait