HASIL DAN PEMBAHASAN
E. Analisis Data
3. Kehidupan keras penjara
Usainya masa persidangan menjadi tanda kehidupan yang sesungguhnya di dalam lapas dimulai. Ketiga informan harus terbiasa
dengan perkelahian dan kekerasan, tinggal dalam ruangan sempit, juga mudahnya tertular berbagai penyakit.
a. Rawannya penggojlogan dan perkelahian antar warga binaan Perkelahian menjadi pemandangan biasa di dalam lapas. Tahanan baru mengalami penggojlogan dan mendapat kekerasan dari para napi senior juga adalah hal yang biasa. Seperti cerita SR dan BE, suasana blok A yang menjadi blok tahanan seringkali diwarnai dengan wajah muram para tahanan, bentrok karena ketidakcocokan, dan penggojlogan supaya tahanan baru tidak berbuat seenaknya.
“Kalau blok A karena masih pada pusing mikir sidang.. sering apa ya bentrok karena sama-sama anak baru.. jadi pada nggak enak suasananya kalau di A itu.” (SR, 421-424)
“Ya ada lah itu kejadian-kejadian seperti itu ya ada lah, berantem dan lain sebagainya, tahanan-tahanan baru dikerjain, fisik juga ada karena apa? Karena jangan sampai kok orang-orang yang baru masuk dalam penjara itu.. istilahe apa ya.. mau.. arep ndeleleng gitu kan.” (BE, 263-268)
Tak hanya dikerjai karena status “anak baru”, SA mengungkapkan adanya pengkastaan napi di dalam lapas berdasarkan beratnya kasus yang dilakukan. Napi dengan kasus pelecehan anak di bawah umur misalnya, seringkali menjadi sasaran penganiayaan karena berada pada kasta terendah.
“ya orang yang hukuman seperti apa ya, contoh yang dari perlindungan anak itu ya.. mereka selalu disiksa. Yang wuah.. banyak, banyak hal yang kurang bagus disini. Penjara kan seperti itu.. dipukulin, dianiaya, ya disiksa.. artinya diploncolah istilahnya, seperti itu. Dan itu memang terjadi..” (SA, 577-583)
SA mengatakan, cerita yang beredar bahwa terjadi perkelahian di dalam lapas bukanlah hisapan jempol belaka. Banyak faktor pemicu perkelahian baik itu karena sikap personal, pengkastaan, ataupun tekanan lingkungan yang mudah memancing kemarahan.
b. Ruangan sempit dan berdesakan
Fasilitas hidup yang nyaman, sudah pasti tidak lagi dirasakan oleh para informan. Terlebih di Lapas Cebongan, lapas yang selalu over kapasitas. Kamar yang penuh sesak dan diisi lebih dari kapasitas, membuat para informan dan teman-teman harus tidur bergesekan, kaki ditekuk, sulit untuk bergerak. Seperti yang diungkapkan lewat pernyataan di bawah ini :
“Saya pernah itu satu kamar isinya sudah 40, ya penuh sesak, tidur seperti.. seperti ini (memperagakan).. gesek gitu ya, pindang gitu dengan segala kekurangannya kita.” (SA, 603-606)
“lha dulu waktu masuk sini pertama itu tidurnya badannya nekuk gini itu dulu (meringkuk menggerakkan badan).. kaki e gitu soale kamare penuh. Yo tapi mau gimana lagi to harus tetep tidur, akhire tetep tidur. Itu dulu satu kamar 18 orang, padahal ukurannya.. kapasitasnya cuman berapa itu cuman 8 itu diisi 18 orang. Kecil og itu kayak kamar kos-kosan udah sama kamar mandi lho itu, hehe makanya kan nggak bisa tidur.. 18 orang tidurnya ah yo kayak gitu.” (SR, 1397-1395)
Berdasarkan cerita SA dan SR di atas, bisa dibayangkan betapa sempitnya mayoritas ruang kamar di lapas. Bisa jadi bukan hanya berbagi tempat untuk merebahkan badan, tetapi juga mengatur sirkulasi udara untuk pernafasan.
c. Sering muncul penyakit yang mudah menular
Penyakit dan kesehatan, menjadi salah satu topik permasalahan krusial yang paling sering diresahkan di lapas. BE bercerita, kurangnya kesadaran warga binaan untuk menjaga kebersihan dan buruknya sanitasi air di lapas seringkali menjadi pemicu munculnya wabah penyakit di lapas.
“Susah lho Mbak udah dipenjara terus sakit. Disini banyak yang gatel-gatel juga soale kurang menjaga kebersihan, kalau udah gatel nanti menjalar ke semua. Mboh air atau apanya nggak tahu yang bikin gatelen tapi ya harus diterima namanya juga di Lembaga Pemasyarakatan to, nek mau nuntut ya nggak bisa haha.” (BE, 979-984)
Menurut ketiga informan, penyakit langganan yang paling sering diderita warga binaan adalah gatal-gatal. SA dan SR menambahkan penyakit menular lain yang juga sering menyerang adalah influenza. Selain itu, banyak pula napi yang mengeluhkan sakit kepala dan badan yang kerapkali meriang.
“Kemudian tentang kesehatan, bagaimana hidup sehat.. di penjara kan rawan, rawan banyak yang gatal, sakit-sakit.” (SA, 868-869)
“Ya satu bulan memang banyak yang flu lha nanti flu semua.. pusing ya pusing, gatel ya gatel” (SR, 779-781)
Penyakit-penyakit inilah yang seringkali disebut dengan istilah penyakit orang lapas. Bagi warga binaan, terserang penyakit sama saja dengan menambah penderitaan hidup di lapas. 4. Rintangan menjadi tamping.
Selang waktu berjalan, ketiga informan pun diangkat menjadi tamping. Tugas ini terlihat menyenangkan karena dapat mengenal
banyak petugas. Namun menurut ketiganya, menjadi tamping memiliki rintangan tersendiri yang terkadang menambah beban mereka di luar kewajiban asli sebagai narapidana.
a. Disuruh banyak petugas secara bersamaan
BE mengungkapkan, tamping haruslah memahami perbedaan karakter dan kemauan setiap petugas. Seringkali petugas menyuruh secara bersamaan, BE yang sedang mengerjakan satu tugas harus terburu-buru menjalankan perintah dari petugas lainnya. Hal ini berulang kali terjadi dan terkadang membuat BE jengkel karena petugas tidak mau tahu, yang penting semua tugas terselesaikan.
“Tapi ya.. pernah juga saya jengkel gitu haha. Pernah jugaa. Kayak itu tadi yang saya bilang bapak-bapak petugas kan punya beda karakter, karakter yang lain. Nanti yang satu nyuruh saya seperti ini, baru saya melaksanakan ini udah ada yang nyuruh lagi yaa itu ada tapi. Waduuh.. tapi ya dalam hati aja, waduh gitu. Ya agak sebel-sebel tapi ya nggakpapa, wis harus seperti itu ya to? Kita beda. Wis nggakpapa, mau nggak mau.” (BE, 630-638)
Seperti halnya BE, SR pun terkadang harus lebih bersabar menghadapi para sipir yang beberapa kali memperlakukannya bagaikan pesuruh. Sebenarnya, SR tidak keberatan bila disuruh mengerjakan sesuatu, hanya saja SR sedikit enggan jika disuruh dengan cara yang kurang sopan.
“Ya kadang nyuruhnya juga aneh-aneh, ya kalau pegawainya masih mendinglah tapi kalau sipir-sipirnya itu kan kadang-kadang orangnya ngawur-ngawur to. Kayak misal "SR tolong cuciin ini", haha kadang-kadang "ya ampun ya ampun" kadang
mikire yo sama orang og yo nyuruh e kayak gini gitu.. haduh haduh haha, tapi ya udah dijalani aja.” (SR, 802-808)
Para informan mengatakan, mereka tidak sanggup menolak perintah meski disuruh dengan cara kurang sopan atau disuruh secara bersamaan. Sadar bahwa posisinya berada di bawah petugas, para informan tetap berusaha menikmati tugas. b. Sulit mengatur warga binaan yang cenderung keras dan
arogan
Mengatur warga binaan dengan beragam karakter yang cenderung arogan dan menggunakan kekuatan fisik untuk menyelesaikan masalah, bukanlah perkara mudah. Rintangan ini yang kerapkali harus dihadapi supaya kondisi lapas tetap kondusif. Berikut adalah ungkapan BE dan SA, bagaimana perasaan mereka ketika mengatur para warga binaan :
“Beratnya kan mereka semua i di penjara ini kan orang-orang bermasalah, mau bagaimana pun juga ya ngatur orang bermasalah itu kan yo susah. Kecuali petugas, kalau petugas kan gampang saja” (BE, 646-649)
“mereka ya susah diatur karena kan kebiasaan mereka di luar seperti itu, disini sama. Sulit.. yang arogan ya arogan, yang ya.. seperti itu. Ya orang penjara kan seperti itu. Iri, berantem, seperti itu masih terjadi” (SA, 1009-1013)
Perilaku dan kebiasaan buruk warga binaan selama berada di luar, menurut SA menjadi salah satu faktor penyebab sulitnya warga binaan untuk diatur supaya tertib. Namun, hal ini menjadi berbeda ketika petugas lapas yang mengatur warga binaan. Rasa takut akan mendapat masalah dan hukuman bisa jadi bertambah,
membuat para warga binaan lebih mudah menurut dan tidak melawan ketika diatur petugas.
c. Seringnya melihat godaan berupa barang larangan dan kesempatan mudah untuk kabur
Tak hanya soal sulitnya mengatur warga binaan, rintangan lain yang harus dihadapi ketiga informan sebagai tamping adalah melihat beragam godaan di depan mata. Terampasnya hak kepemilikan atas barang dan jasa membuat ketiga informan harus kuat menahan godaan berupa barang-barang larangan, seperti alat elektronik dan komunikasi, uang, makanan larangan, bahkan mudahnya kesempatan untuk melarikan diri. Berikut adalah ungkapan BE, SA dan SR tentang bagaimana harus kuat menahan godaan dan setia menjaga mandat petugas :
“Godaannya tamping-tamping depan tu lebih banyak. Ya godaannya lebih banyak karena kita kan bisa langsung.. langsung wuoboo, ini mouse semuanya kan terbuka. Kalau ada niat-niat yang jelek, nanti bisa ngelihat-lihat petugas bawa HP kan padahal HP kan larangan, kita cuma bisa ngelihat aja karena kan nggak boleh gitu. Terus beredar uang-uang kalau kita suruh belanjakan ke belakang, kalau kita nggak punya ngontrol kan kita bisa anu gitu lho, lebih banyak godaannya. Apalagi kalau mau makan apa gitu kan, makan-makan barang larangan itu kan aksesnya lebih beda. Ho'o lho lebuiih lho tamping-tamping depan ini kalau nggak kuat iman dan lain sebagainya wah bisaa.. Wuaa kalau mau kabur ini bisa ini godaannya haha..“ (BE, 544-558) “Oh ini ada godaan jadi tamping juga berat, kalau nggak kuat lihat ada HP, barang-barang elektronik, ada uang, ada banyak yang dilarang wah itu godaan bener. Saya lihat makanan yang dilarang aja kalau ditanya ya kepengen, lama nggak makan ya to? Kangen makanan rumah.. Tapi ya gimana harus patuh jangan melanggar. Nggak boleh mengecewakan petugas, kepercayaan mahal harganya” (SA, 1118-1125)
“Ho'o.. emang godaannya banyak. Kayak duit sliweran dimana-mana pas di kantor petugas, ada laptop, ada apalah macem-macem. Liatin HP terus makanan larangan gitu, makanya emang harus beneran bisa dipercaya. Saya udah diwanti-wanti dari awal diangkat gitu” (SR, 1500-1503)
Bagi ketiga informan, menjadi tamping adalah amanah besar yang dipercayakan petugas kepada mereka. Bekerja dengan baik, tidak melanggar aturan dan selalu menjaga kepercayaan yang diberikan menjadi suatu keharusan. Sadar bahwa dalam kondisinya saat ini, mendapat kepercayaan orang lain adalah hal yang hampir mustahil membuat ketiganya sangat berhati-hati menjaga kepercayaan yang sudah didapat.