HASIL DAN PEMBAHASAN
C. Hasil Penelitian
3. Hasil informan 3 (SR)
a. Persidangan melelahkan dan berujung vonis yang mengecewakan
Berawal dari perkenalan dengan seorang wanita di sosial media, ternyata membawa hidup SR berujung di balik tembok penjara. Perjalanan yang cukup panjang hingga akhirnya SR divonis 5 tahun penjara. Salah satu proses panjang yang harus dilalui SR adalah persidangan. SR ingat sewaktu dirinya masih menjadi tahanan, setiap minggu harus bolak-balik menaiki mobil tahanan untuk mengikuti sidang di pengadilan. Saat persidangan, dirinya terus dihujani bermacam tuntutan, belum lagi harus
mengurus persyaratan hukum yang rumit supaya bisa meringankan hukuman. Proses persidangan ini sungguh melelahkan fisik dan psikisnya bahkan juga keluarga, karena setiap minggu selalu cemas menunggu berapa lama dijatuhi vonis hukuman.
Akhirnya vonis ditetapkan yakni 5 tahun penjara, SR mengaku kondisinya sempat menurun karena terkejut harus menjalani hukuman yang lama. SR pun juga tidak menyangka akan dijatuhi pasal pelecehan seksual, awalnya SR mengira mungkin hanya akan terkena pasal UU ITE saja. Terlebih lagi yang sungguh membuat SR tidak percaya adalah wanita yang dilaporkan menjadi korbannya tersebut masih di bawah umur, sehingga dirinya terkena pasal berlapis yakni pelecehan anak di bawah umur. Hukuman terasa tidak adil bagi SR, karena hakim seakan tidak menghiraukan pembelaannya dan bukti kronologi kasus yang ada. Sangat sulit bagi SR saat itu untuk ikhlas menerima kenyataan, hukuman 5 tahun terlihat sangat lama. SR harus rela mendapat dropout dari kampus, padahal statusnya saat itu hanya tinggal menunggu yudisium dan wisuda saja. SR juga harus rela sebagian masa mudanya harus dihabiskan di penjara.
b. Takut hidup di lapas yang rawan kekerasan dan cemas memikirkan studi serta orang tua
Masa-masa awal menjalani hukuman menjadi pengalaman dimana SR sering mengalami rasa takut dan kecemasan. SR sempat
takut dengan kondisi hidup di lapas yang rawan dengan tindak kekerasan, terlebih karena Lapas Cebongan mendapat julukan “tempat khusus kriminal” yang banyak berisi penjahat dan tentunya para pelaku kriminal. SR takut jika dirinya akan menjadi sasaran kekerasan atau pengeroyokan. Beban lain yang mengganggu SR adalah rasa cemas bagaimana nanti ia harus menjalani 5 tahun hari-harinya di penjara. Selain itu, SR juga sedih karena status studinya harus berakhir buruk akibat perbuatannya sendiri. Saat itu SR selalu khawatir jika teringat masa depan, ijazah S1 tidak ada dan status narapidana terlanjur melekat padanya.
Kekhawatiran lain adalah cemas dengan kondisi kedua orang tua di rumah, terutama ibunya. SR selalu teringat bagaimana ibunya menangis sangat sedih saat datang menjenguk pertama kali ke lapas. Ayah SR pun bercerita saat datang menjenguk bahwa setelah penangkapan SR, sang ibu sering tidak mau makan dan tidak mau keluar rumah. Untungnya, kedua kakak SR segera pulang ke Jogja sehingga bisa sedikit menghibur sang ibu di rumah. SR takut jika kondisi ibunya tidak segera membaik, apalagi setelah ada kabar bahwa kasusnya masuk dalam pemberitaan media dan beritanya dilebih-lebihkan tidak sesuai fakta. SR takut kondisi ibunya semakin menurun akibat pemberitaan media. Saat itu, SR selalu menitip pesan kepada orang-orang yang datang
menjenguknya ke lapas supaya ikut menjaga keluarganya dan memastikan kondisi ayah ibunya baik-baik saja.
c. Hukuman penjara merenggut masa muda dan masa depan Penyesalan selalu datang di akhir. Kalimat itu yang sungguh menggambarkan perasaan SR akibat perbuatannya. Usia SR saat ini adalah usia dimana kebanyakan anak muda merayakan kesuksesan atas puncak pencapaian hidup mereka selama ini. Tetapi lain halnya dengan SR, tak bisa melihat dunia luar dan harus merancang ulang masa depan. Menyesal, menyalahkan diri, kecewa, tak dipungkiri sering dirasakan. Apalagi ketika teringat rumah dan kedua orang tua, tak hanya rindu saja tapi juga merasa bersalah karena telah mempermalukan keluarga. SR mengatakan sempat membangun persepsi negatif terhadap diri sendiri. SR merasa rendah diri, merasa menjadi individu yang hina dan gagal. Persepsi ini pun seakan diperkuat dengan adanya stigma negatif masyarakat terhadap narapidana. Namun, SR berpikir bahwa dirinya harus menentukan pilihan apakah mau terus meratap atau bangkit dan berubah. SR pun memilih untuk bangkit, membangun lagi masa depan dan berubah lebih baik.
d. Dukungan orang terdekat untuk terus semangat
SR berjuang untuk tetap bertahan dan terus semangat menjalani hari demi harinya di penjara. Ada kalanya semangat SR turun, harapan hilang dan keinginan untuk menyerah muncul.
Disitulah seringkali dukungan orang lain menjadi sumber semangat SR untuk bangun lagi. Kehadiran keluarga terutama sosok kedua orang tua sungguh merupakan anugerah luar biasa. SR sangat bersyukur dirinya merupakan salah satu narapidana yang masih dipedulikan keluarga, banyak narapidana yang tidak pernah dijenguk bahkan ditinggalkan keluarga karena malu. SR bersyukur ibunya rutin menjenguk hampir setiap minggu, menanyakan kabar, bercerita, membawakan lauk untuknya karena sang ibu tahu kalau dirinya adalah anak yang pemilih soal makanan. Bagi SR, orang tua adalah sumber penyemangat utamanya untuk bertahan dan bukti dari kebesaran hati serta tulusnya kasih sayang.
Dukungan bagi SR pun juga datang dari dalam lapas. Meski terasa menakutkan dan tak jarang ada perkelahian namun masih terdapat beberapa orang yang baik kepadanya. Salah satu yang paling mendukung SR untuk kuat bertahan adalah seorang narapidana berinisial WN yang menjadi teman terdekatnya di lapas. SR banyak bercerita tentang kisah hidupnya pada WN, segala keluah kesah dan ketakutan, impian, banyak hal. SR merasa bahwa WN orang yang sebenarnya baik dan sangat bisa dipercaya. WN juga sosok yang dewasa sehingga dapat diajak berbagi banyak cerita dan tak sungkan memberi nasehat untuk dirinya. SR sangat kagum pada WN, meski masa hukuman lebih lama dan lebih
banyak mengalami masalah hidup tetapi selalu bersemangat, selalu memberi penghiburan, setia mendampingi dan terus memotivasi.
Dukungan lain datang dari beberapa petugas khususnya petugas pembinaan yang memilih SR menjadi tamping klinik lapas. Sebelumnya, SR merasa bahwa di dalam penjara dirinya tidak akan bisa berbuat banyak bahkan mungkin tidak berguna lagi. Tetapi berkat kepercayaan dari petugas, SR pun jadi lebih semangat karena dipilih sebagai tamping. SR paham menjadi tamping bukan hal mudah, terutama saat berurusan untuk mengatur penghuni lapasn tapi semua akan dicoba SR demi menjaga amanah petugas. Diantara para petugas yang kadang kurang mengenakkan hati, petugas registrasi dan pegawai klinik lapas yang paling baik kepadanya. SR sering dikuatkan dan dihibur saat terlihat murung dan diingatkan untuk terus menjaga kesehatan, apalagi dirinya membantu di klinik lapas yang rawan terserang penyakit. Tak lupa, teman sesama tamping lapas pun menjadi teman setia SR. Saling menguatkan saat ada masalah tamping, saling meringankan beban pekerjaan dan saling merawat ketika sakit. SR bersyukur diberikan orang-orang tersebut untuk menemaninya berjuang di lapas.
e. Tantangan tamping yakni sulitnya menolak perintah meski tidak sesuai kata hati
Menjadi tahanan pendamping yang membantu petugas membina penghuni lapas pastilah tak terlepas dari berbagai
masalah dan tantangan. Tantangan pertama sudah pasti adalah menghadapi teman-teman lapas yang sulit diatur. SR mengaku banyak penghuni lapas yang keras sifatnya dan ingin menang sendiri. Jika sekiranya masih dapat diatasi sendiri maka SR tidak memanggil petugas, tapi jika sudah keterlaluan SR memilih menyerahkan pada petugas daripada dirinya menjadi sasaran kekerasan. Tantangan kedua adalah banyaknya melihat godaan berupa perputaran uang yang lalu lalang di kantor registrasi, laptop dan handphone yang tergeletak bebas, senjata yang dapat disalahgunakan serta kesempatan besar untuk kabur dari lapas. SR selalu mengingatkan diri sendiri agar tidak tergoda dengan berbisik dalam hati supaya tetap menjaga kepercayaan petugas, supaya menjadi tamping yang bekerja dengan amanah, termasuk membantu orang lain dengan amanah pula.
Menurut SR, tantangan lainnya justru datang dari beberapa petugas dan sipir lapas. Sebagai tamping, SR kadangkala disuruh oleh banyak petugas dalam waktu yang bersamaan dan semua ingin yang disuruh dikerjakan saat itu juga. SR mengaku dirinya kadang merasa bingung jika semua sudah menyuruh dan tidak bisa langsung semua selesai sekaligus. Sikap petugas kantor ini dinilai SR masih lebih baik daripada sikap sipir yang juga sering menyuruhnya. Kadang menyuruh dengan cara membentak atau menyuruh dengan mengeluarkan kata-kata yang merendahkan dan
menyakitkan. SR mengerti statusnya di lapas adalah seorang narapidana, tetapi SR juga ingin dimanusiakan. Kadang ingin menolak atau menegur, tetapi SR tidak mampu melawan atau menolak perintah. SR takut jika dimusuhi oleh petugas. Jika sudah kesal, SR biasanya menarik nafas dan berkata dalam hati supaya sabar, dijalani dengan ikhlas.
f. Berusaha meringankan hukuman dan kesadaran mencari pertolongan
SR mengaku selama menjalani hukuman di lapas ada tiga hal yang menjadi tantangan dan harus dihadapinya, yakni vonis hukuman yang terasa lama, pusing melihat luka berdarah sehingga menjadi kendala saat membantu di klinik lapas, dan melihat banyaknya godaan baik barang larangan atau kesempatan yang mudah disalahgunakan. Ketiga hal tersebut coba SR atasi dengan berbagai cara seperti pertama, mencari bantuan pengacara untuk membantu proses meringankan hukuman. SR beserta keluarga sudah berusaha mengajukan keringanan hukuman dan didampingi oleh pengacara, tetapi hasilnya gagal dan tetap pada putusan 5 tahun penjara.
Kedua, saat SR tidak sanggup melihat luka berdarah di waktu bertugas sebagai tamping klinik, SR mau meminta tolong pada sesama teman tamping klinik supaya membantu tugasnya. SR sadar bahwa tidak semua hal dapat ia lakukan, dan jangan sungkan
untuk mencari pertolongan saat sungguh dibutuhkan. SR juga kadang terkendala tidak hafal dengan jenis dan kegunaan macam-macam obat di klinik. Saat awal bertugas sebagai tamping klinik hal ini cukup menyusahkan, namun perlahan SR mau belajar dan mengamati ketika pegawai klinik sedang mengobati hingga akhirnya kini sudah cukup banyak jenis dan kegunaan obat yang ia pahami. Selanjutnya, saat barang-barang dan kesempatan untuk kabur dari lapas sangat menggiurkan, SR berusaha menguatkan dan mengingatkan diri sendiri untuk tetap menjaga amanah kepercayaan petugas. SR juga sering meminta pada Tuhan dalam doa supaya imannya tetap dikuatkan, sehingga tahan godaan dan tidak menyelewengkan kepercayaan.
g. Mengatur kondisi emosi dan melegakan isi hati
Selain melakukan tindakan aktif untuk mengatasi masalah serta tantangan, SR juga berusaha untuk mengendalikan kondisi emosinya supaya tetap tenang dan terjaga. SR sering mengatur pernafasan supaya lebih rileks, sabar, tetap tenang menghadapi masalah. SR juga mencari sarana untuk menghibur dirinya sendiri untuk menghilangkan rasa jenuh, cemas, dan pikiran-pikiran negatif lainnya. SR menghibur dirinya dengan mendengarkan lagu lewat radio atau membaca buku yang dipinjamnya dari perpustakaan lapas. SR senang saat mendengarkan lagu lewat
radio, teman-teman lapas pun juga ikut mendengarkan sehingga akhirnya bisa bernyanyi bersama.
Bagi SR, mendengarkan lagu bukan hanya menikmati musiknya saja tetapi juga bisa membuatnya berefleksi lewat lirik lagu yang didengar dan bisa membantunya mengungkapkan emosi saat menyanyikan lagunya. Selain itu, menurut SR sarana yang paling efektif baginya untuk melegakan pikiran dan perasaan adalah dengan menulis. Menulis membuat SR bebas mengungkapkan apa yang ada dalam dirinya, menulis sangat membantu SR untuk mencurahkan isi hatinya. SR merasa efek setelah menulis sangat berdampak baik bagi dirinya, ia jadi merasa lebih lega dan lebih tenang menjalani hari.
h. Sikap batin yang membantu menerima kondisi sulit
Hidup dalam kondisi lapas yang sulit membuat SR banyak berproses dengan dirinya sendiri. SR berusaha ikhlas menerima vonis hukuman dan menikmati kondisi hidupnya yang penuh keterbatasan. SR menyesuaikan diri untuk bisa tidur dengan kaki ditekuk dan badan yang berdempetan, berusaha menikmati makanan lapas yang seadanya. Dalam perjuangannya, SR sadar bahwa Tuhanlah yang dapat memberi pertolongan dan pengampunan padanya. Maka, SR banyak berdoa dan mendekatkan diri pada Tuhan, sebelumnya saat masih di luar ia sangat jauh dari Tuhan. SR pun berintrospeksi diri atas
perbuatannya selama ini, ternyata banyak hal negatif yang ia lakukan, hidup hanya untuk kesenangan, membantah orang tua, melupakan Tuhan. Proses introspeksi ini membawa SR untuk semakin yakin bahwa dirinya harus berubah, supaya tidak jatuh dalam kesalahan dosa lagi.
Kehidupan penjara ini juga membuat SR banyak merefleksikan hidup, bahwa hidup tidak selalu menyenangkan, hidup bisa jadi sangat mengerikan, dan hidup tidak hanya untuk bersenang-senang. SR memaknai hidupnya di penjara ini sebagai suatu hal positif dimana menjadi tantangan untuk berproses menuju pertobatan dan pendewasaan diri. SR juga belajar untuk memahami perilaku para penghuni lapas, memaklumi jika terjadi sesuatu yang kurang baik, dan mensyukuri segala anugerah yang ada dalam situasi sulit. SR bersyukur ternyata hukuman 5 tahunnya masih lebih ringan dibanding teman-teman lapas yang terjerat kasus yang sama, bersyukur masih rutin dikunjungi orang tua dan dibawakan makanan dibanding teman-teman lapas lain yang sudah tidak dipedulikan keluarga. Bagi SR, menjalani hidup di lapas dengan pola pikir positif membuat hari-harinya lebih ringan.
i. Karakter pribadi pendorong pertumbuhan diri
`Diri sendiri merupakan salah satu penentu utama dalam proses perubahan diri, itulah salah satu prinsip yang diyakini SR. Perubahan positifnya saat ini dapat terbentuk bukan hanya karena
dukungan dari orang lain, melainkan adanya dorongan dan kemauan dari diri sendiri. SR secara sadar mengakui bahwa dirinya memiliki banyak sisi negatif dan telah berbuat kesalahan sehingga pantas dihukum penjara untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. SR mengakui sifat terburuknya adalah harus menerima teguran keras dahulu supaya mau dan dapat mengubah diri. Kesadaran SR akan sisi negatif dirinya ini mempermudah SR untuk memperbaiki dan mengubah dirinya ke arah positif.
SR juga sudah bertekad bahwa hukuman penjara ini akan ia jadikan sebagai sarana pertobatan. SR ingin sungguh-sungguh bertobat dan menjadi anak yang baik sebelum orang tuanya meninggal. SR takut ia akan menyesal seumur hidup jika orang tuanya meninggal dan dirinya belum bertobat. SR ingin menjadi anak baik yang dapat membahagiakan kedua orang tuanya. Kondisi lapas yang sangat terbatas pun juga membuat SR jera, sehingga ia mau menjadi pribadi yang lebih baik supaya tidak merasakan hidup di dalam penjara lagi. Sifat positif lain yang membantu SR untuk berubah adalah dirinya tetap bertanggung jawab atas tugas yang diberikan, terutama tugasnya sekaranh sebagai tampig klinik. SR pun juga tidak ingin menyia-nyiakan kepercayaan yang diberikan petugas padanya. Tetap menjalankan tugas dan perintah serta menjaga amanah, itu yang selalu ditanamkan SR pada dirinya sendiri.
j. Kesempatan menjadi tamping membantu memulihkan kepercayaan diri
Dipilih dan diangkat menjadi tamping bagi SR merupakan kesempatan besar yang tidak boleh disia-siakan. SR tidak sadar bahwa dirinya selama ini diamati oleh petugas hingga bisa dipercaya menjadi tamping klinik. Selama menjalankan tugas sebagai tamping klinik, SR mengatakan dibalik kesulitan dan masalah yang dialami dirinya juga mendapat manfaat dari menjadi tamping. SR mersaa bahagia karena masih ada orang yakni petugas lapas yang mau mempercayai dirinya meski sudah berbuat kesalahan hingga dipenjara.
Menjadi tamping juga membuat harga diri SR mulai kembali seperti semula, SR tidak lagi terlalu merasa bahwa dirinya adalah manusia yang gagal. Hal ini juga sejalan dengan munculnya rasa menjadi diri yang lebih berguna dan bermanfaat karena bisa membantu banyak orang seperti mengecek data kesehatan penghuni lapas, menyiapkan obat, membantu seminar kesehatan di lapas dan menjemput penghuni lapas yang sakit menggunakan kursi roda. Aktivitas tamping yang dilakukan sejak pagi hingga sore juga membuat waktu terasa lebih cepat serta membantu mengalihkan pikiran negatif. Menjadi tamping juga menambah relasi pertemanan SR selama berada di lapas, SR bisa banyak
mengenal orang mulai dari penghuni lapas hingga petugas bahkan Kalapas.
k. Motivasi dalam diri yang mendorong untuk berubah
SR memiliki tujuan setelah bebas yang semakin memotivasi dirinya untuk sungguh berubah menjadi pribadi yang lebih baik. SR ingin ke depan setelah bebas dirinya bisa membahagiakan keluarga dan kedua orang tua. SR ingin membalas kebaikan dan kasih sayang yang telah diberikan padanya selama ini meski banyak membuat salah dan sering membantah. SR bertekad untuk menuruti segala perintah dan keinginan orang tua, karena selama ini apapun yang disarankan oleh orang tuanya selalu dibantah padahal semua demi kebaikan dirinya sendiri. SR juga ingin bisa mandiri bekerja, bisa menghasilkan uang sendiri untuk membantu keluarga dan untuk mencukupi dirinya sendiri. SR mau menata masa depannya lagi, mencoba untuk melamar kerja atau membuka usaha.
Selain itu, pendorong terbesar dalam diri SR adalah keinginan kuat untuk terus hidup benar dan lurus setelah bebas, bukan hanya berubah baik saat ini saja tetapi juga seterusnya. Maka dari itu, SR sungguh bertobat saat ini dan memulai hidup sebagai pribadi yang baru. Bagi SR tantangan yang dirasakan bukan hanya sebatas menjalani tekanan hidup di penjara saja, namun juga tantangan untuk tetap mempertahankan perubahan diri
dan hidup yang baik setelah bebas supaya tidak masuk kembali ke penjara.
l. Mengalami perubahan dan pertumbuhan diri
Menurut SR, pengalaman hidupnya yang penuh tekanan dan keterbatasan selama di penjara ternyata membawa dampak perubahan baik bagi dirinya. SR kini jauh lebih mandiri, dewasa, dan tidak manja lagi karena jadi terbiasa mengurus kebutuhan sendiri, mencuci baju sendiri, lebih mengerti bagaimana caranya mengurus diri. SR berharap supaya setelah bebas nanti dirinya juga tetap bisa mandiri, ia tidak ingin merepotkan banyak orang lagi. SR juga semakin sadar akan pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan, sadar bahwa lapas memiliki fasilitas kesehatan yang sangat minim maka SR tidak mau dirinya sakit di lapas. Dalam hal menghadapi masalah dan kesulitan hidup, SR pun merasa dirinya kini jauh lebih tangguh dan lebih mau menerima kondisi yang tidak sesuai keinginannya. Tidak lagi banyak mengeluh, tidak lagi marah tapi lebih menerima dan sabar. SR juga jadi lebih kreatif untuk mencari cara terbaik dalam menyelesaikan masalah, SR semakin mampu melihat peluang-peluang yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah.
Perubahan lain yang dirasakan SR adalah dirinya kini lebih mau mendengarkan kritik dan saran orang lain, hatinya lebih luluh jika dinasehati terutama saat orang tuanya yang menasehati. Dulu
SR sering tidak mau mendengarkan, membantah dan langsung marah jika diberi kritik saran. Berkat kemauannya mendengarkan, SR pun kini juga jauh lebih bijaksana dan berpikir panjang sebelum bertindak. SR lebih berhati-hati dan tidak gegabah mengambil keputusan, lebih memikirkan orang lain dan resiko yang akan terjadi. Berada dalam titik terendah hidup dan terus didampingi keluarga membuat SR mengerti bahwa betapa berartinya keluarga disaat kita berada dalam kondisi sulit. SR jadi sadar dan lebih menghargai segala jerih payah orang tuanya selama ini bahkan kerelaan untuk terus menemani saat menghadapi hukuman. SR ingin suatu saat dapat membalas segala kebaikan keluarga terutama ketulusan orang tuanya.
Melihat banyaknya kondisi teman lapas yang lebih memprihatinkan ternyata membuat hati SR ikut merasakan kesusahan yang dialami teman-teman lapasnya. Rasa peduli dan empati SR pun meningkat, tak hanya ikut merasakan kesedihan tetapi SR juga lebih tergerak untuk menolong walau semampunya. Setiap dirinya dijenguk keluarga dan dibawakan lauk makanan dari rumah, SR selalu membagikan lauk miliknya untuk dinikmati bersama teman-teman lapas. SR ingin teman-teman lapas yang rindu dijenguk dan dibawakan makanan bisa sedikit terobati lewat berkat makanan yang ia terima. SR kini juga merasa semakin ikhlas untuk membantu orang lain tanpa pamrih, terutama karena
menjadi tamping klinik. Dulu SR selalu menghitung seberapa besar imbalan yang akan ia terima jika membantu orang, imbalan harus berupa uang atau barang yang menguntungkan baginya. Dulu jika tidak ada imbalan maka SR tidak mau membantu. Tapi kini berubah, SR menemukan makna kebahagiaan dari ikhlasnya membantu tanpa pamrih. Sisi spiritual dan pandangan hidup SR pun berubah. SR tidak lagi menilai orang lain dari segi fisiknya saja, melainkan lebih dari segi karakter pribadinya. Belum tentu