• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

2. Latar belakang informan

Berdasarkan hasil wawancara, didapatkan latar belakang ketiga informan sebagai berikut:

a. Informan 1 (BE)

BE merupakan anak pertama dari tiga bersaudara, lahir di Sleman dan saat ini berusia 31 tahun. BE sudah menamatkan studi S1 sebagai sarjana pendidikan olahraga di salah satu kampus di kota Kediri dan setahun setelah lulus memulai pengabdian kerja sebagai guru honorer di Pacitan. Satu tahun menjadi guru honorer, BE kemudian berpindah kerja ke sebuah SD di Ngemplak, Sleman. Pekerjaan terakhir sebelum ditahan di penjara adalah sebagai guru olahraga selama hampir tiga tahun.

BE mengaku, kejatuhan hidupnya bermula dari pergaulan yang salah dan karena ketidakmampuan diri menempatkan mana anak-anak dan mana orang dewasa. BE menyadari untuk orang seusianya saat ini seharusnya sudah berpasangan dan menikah sehingga kebutuhan seksual bisa tersalurkan dengan benar, namun belum adanya pasangan hidup membuat BE memenuhi kebutuhan seksualnya dengan cara yang salah yakni dengan berhubungan suami istri dengan perempuan yang dikenalkan oleh teman-temannya. BE tidak hanya melakukan sendirian, teman-teman BE sudah melakukan terlebih dahulu lalu mengajak BE bertemu dengan perempuan yang tidak dikenalnya tersebut. Awalnya BE merasa perbuatannya biasa saja, namun beberapa hari setelah kejadian polisi mencari dan menangkap BE di rumahnya untuk diperiksa dan berlanjut ditahan hingga sekarang.

BE terjerat pasal pelecehan seksual anak di bawah umur dengan vonis 8 tahun subsider 6 bulan kurungan dan denda sebesar 60 juta rupiah, dikarenakan perempuan yang menjadi korban ternyata masih di bawah umur. Fakta persidangan yang mengungkapkan korban sebenarnya terlibat perdagangan manusia dan sudah pernah melakukan hubungan seksual karena bekerja sebagai pekerja seks komersial, ternyata tidak bisa meringankan beban hukuman, dikarenakan kasusnya dipantau penuh oleh LSM yang menaungi korban. BE merasa bersalah dan harus merelakan nasibnya meski sangat menyesal segala impiannya hancur dan tidak bisa menjadi contoh yang baik bagi kedua adiknya.

Setelah 6 bulan menjalani hukuman, BE ditawari petugas untuk membantu lapas menjadi tamping blok tahanan dan kemudian menjadi tamping blok narapidana. Satu tahun menjalani vonis, akhirnya petugas merekomendasikan BE untuk menjadi tamping KPLP yang membantu tugas Ka Lapas menjaga seluruh keamanan di lapas. Setelah melalui proses persidangan bersama Tim Pengamat Pemasyarakatan, akhirnya BE diangkat menjadi tamping KPLP hingga sekarang.

b. Informan 2 (SA)

SA lahir di Purwokerto, 56 tahun silam, dan tumbuh besar dalam keluarga pedagang. Bersekolah SD hingga SMP di Cilacap, kemudian melanjutkan SMA di Purwokerto dan menamatkan gelar

S1 di salah satu universitas di Yogyakarta. Berbekal gelar sarjana akuntansi, SA kembali melanjutkan studi S2 dalam bidang manajemen di kota Bandung. Selesai sekolah, SA mengawali karir pekerjaan di Bandung kemudian bekerja di salah satu perusahaan besar di Jakarta. Keahlian dan pengalaman kerja yang banyak membuat SA cukup mahir dalam bidang ekonomi dan pengolahan produksi. SA memulai hidup rumah tangga di usia 28 tahun dan berpindah ke Yogya, kedua putri SA juga lahir dan besar di Yogyakarta.

Karir selama di Yogya juga terus menanjak, menjadi manajer spesialis bidang akuntansi bagian internal control perusahaan membawa karirnya terus naik hingga menjabat sebagai direktur utama di salah satu anak perusahaan besar di Magelang. Menjadi direktur selama 11 tahun, akhirnya harus berhenti karena adanya perubahan sistem pembiayaan dari perusahaan pusat akibat krisis moneter. Setelah menyelesaikan seluruh tugas, SA mengundurkan diri dan memilih membangun usaha di bidang distribusi yang akhirnya cukup sukses. Pekerjaan sebagai pengusaha di bidang distribusi inilah yang menjadi karir terakhir sebelum akhirnya harus merasakan hukuman penjara.

Hidup seketika berubah saat usaha mengalami penurunan drastis, kegagalan kerjasama besar-besaran dan masalah ekonomi menekan pikiran dan psikis SA. Dalam kondisi yang sedang kalut,

terjadi percekcokan dengan istri hingga akhirnya SA yang memiliki kemampuan bela diri khilaf dan lepas kendali memukul istri hingga meninggal. Kejadian ini yang sungguh menjadi kejatuhan dan titik balik dalam hidup SA. Ditinggalkan semua orang dan dijauhi kedua putrinya harus SA rasakan sejak persidangan hingga beberapa tahun menjalani vonis hukuman. Proses perenungan terhadap hidup dan kuasa Tuhan terus dilakukan SA hingga saat ini.

SA awalnya divonis 20 tahun penjara dengan pasal pembunuhan, dan turun menjadi 15 tahun penjara setelah mengajukan banding untuk meringankan hukuman. Hidup yang berubah sangat drastis di penjara harus dijalani hingga perlahan SA bangkit untuk membantu di lapas sebagai tamping blok tahanan. Petugas kemudian mempercayai SA untuk menjadi tamping bimbingan kerja (bimker) karena keahlian yang dimilikinya. Setelah menjadi tamping bimker, akhirnya SA ditugaskan menjadi tamping gereja untuk membantu membenahi sistem pembinaan rohani lapas dan membimbing teman-teman lapas supaya semangat mengikuti pembinaan rohani.

c. Informan 3 (SR)

SR merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara, lahir 26 tahun yang lalu di Yogyakarta. Pendidikan terakhir adalah sebagai mahasiswa tingkat akhir di salah satu universitas ternama di

Yogyakarta. Kegiatan sehari-hari adalah kuliah dan bermain bersama teman-teman. SR cukup sering diajak temannya yang seorang fotografer untuk membantu melakukan pemotretan di berbagai acara. Rutinitas inilah yang akhirnya membuat SR cukup sering melakukan pemotretan dan mengunggah beberapa hasil fotonya di sosial media.

SR mengaku bahwa pergaulan di kampusnya tidaklah terlalu baik, banyak teman-teman satu kampusnya yang ternyata berprofesi sebagai “wanita panggilan” dan meminta tolong SR untuk memotret dengan pose yang cukup vulgar demi menarik perhatian orang. Permintaan ini beberapa kali terjadi, sampai akhirnya seorang perempuan menghubungi SR melalui sosial media meminta untuk difoto karena merasa tertarik setelah melihat hasil unggahan foto SR di sosial media yang tampak bagus. SR pun menurutinya dan disitulah awal mula kejadian yang membawanya pada hidup saat ini.

SR dan perempuan tersebut membuat janji pemotretan di sekitar obyek wisata. Sang perempuan meminta agar dipotret dengan pose vulgar supaya hasil fotonya bisa diunggah dan menaikkan jumlah pertemanan di sosial media sang perempuan. SR menuruti keinginannya, namun saat selesai pemotretan perempuan tersebut bingung untuk membayar karena tidak memiliki uang. Akhirnya berdasarkan kesepakatan, perempuan

tersebut mau untuk membayar dengan jasa yakni dengan cara tidur bersama. Beberapa hari setelah kejadian, SR tidak menyangka dirinya menjadi incaran polisi dan ditangkap di rumahnya sendiri dengan tuduhan pelecehan seksual di bawah umur.

SR terkejut karena merasa perempuan yang menjadi korban tidak keberatan saat melakukan hubungan badan, namun ternyata teman korban yang tidak terima dan melaporkannya. Vonis 5 tahun penjara harus dijalani, karena ternyata korban masih di bawah umur. Pengakuan korban bahwa sudah pernah melakukan hubungan badan sebelumnya tidak bisa meringankan hukuman sehingga SR harus ikhlas menerima. Kehidupan di penjara terasa sangat berbeda, persidangan dan penahanan dilewati hingga akhirnya SR ditawari petugas untuk menjadi tamping klinik. SR menyanggupi dan dilakukan persidangan oleh Tim Pengamat Pemasyarakatan untuk memastikan layak tidaknya SR menjadi tamping. SR akhirnya diangkat menjadi tamping klinik dan sudah bertugas selama satu tahun lebih sampai saat ini.

Dokumen terkait