PUPUK ORGANOMINERAL DAN ANORGANIK UNTUK MENINGKATKAN PRODUKSI JAGUNG MANIS DAN KUALITAS JERAMI DI TANAH MASAM
3. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Produksi Jagung Manis
Produksi jagung manis nyata dipengaruhi oleh perlakuan yang diberikan (P< 0,05). Tabel 1 menunjukkan data produksi jagung berklobot (jagung dengan klobot) dan produksi jagung (tanpa klobot) dengan berbagai perlakuan yang diberikan.
Hasil uji DMRT menunjukkan bahwa pemberian pupuk organomineral dikombinasikan dengan pupuk amonium sulfat (T5) menghasilkan produksi jagung dengan klobot maupun produksi jagung tanpa klobot berbeda tidak nyata dibanding T6, T7 dan T8. Namun menghasilkan produksi jagung klobot maupun produksi jagung tanpa klobot cenderung lebih tinggi dibanding T1, T3 dan T4, serta nyata lebih tinggi dibanding T2 (produksi jagung berklobot) dan T0 (Tabel 1).
Tabel 1. Produksi Jagung Manis dengan Berbagai Perlakuan Pemupukan
Perlakuan Produksi jagung dengan klobot (ton/ha)
Produksi jagung tanpa klobot (ton/ha)
T0 (kontrol) 12.557 c 8.537 c*
T1 (pukan) 15.667 bc 10.387 abc
T2 (SPO) 14.200 c 9.887 bc
T3 (BP+AS) 16.813 abc 11.683 abc
T4 (SP+urea) 15.850 bc 10.427 abc
T5 (Organomineral+AS) 19.947 ab 12.297 ab
T6(Pukan+SP+urea) 20.830 a 13.627 a
T7 (SPO + BP+AS) 20.257 ab 13.463 a
T8 (SPO+SP+urea) 19.407 ab 12.220 ab
Keterangan: * Superskrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata (P<0,05)
Secara umum pemberian pupuk organik (pukan, organomineral, SPO) dengan berbagai kombinasi perlakuan P (SP, BP) dan N (amonium sulfat, urea), mampu meningkatkan produksi jagung. Menurut Noor (2003), ketersediaan unsur hara P meningkat dengan penambahan bahan organik kedalam tanah dan mampu menghasilkan humus yang berperan dalam menekan jerapan P. Pupuk kandang termasuk pupuk organik yang berperan terutama dalam memperbaiki sifat fisik atau kesuburan fisik tanah, dan bersifat lambat tersedia. Mayadewi (2007) menyatakan bahwa unsur-unsur hara yang terkandung dalam pupuk kandang tersedia sedikit demi sedikit, dan dalam jangka waktu lama. Pengaruh pemberian pupuk kandang umumnya terlihat terutama pada musim tanam kedua. Smithson dan Giller (2002) menyatakan bahwa kombinasi pupuk organik – anorganik diperlukan untuk meningkatkan produktivitas tanaman pangan di daerah tropis.
Kombinasi pemupukan SP+urea tidak berbeda nyata dibanding kombinasi BP+amonium sulfat dalam menghasilkan produksi jagung. Pupuk SP-36 merupakan hasil reaksi antara batuan fosfat dengan asam sulfat sehingga mudah larut dalam air dan cepat tersedia bagi akar tanaman. Sedangkan pupuk BP lebih sesuai untuk tanah masam (pH <5,5) (Dierolf et
171
al. 2001). Dilain pihak, pupuk amonium sulfat (AS) bereaksi masam, sehingga dapat meningkatkan kelarutan P dari pupuk BP. Hasil penelitian ini didukung oleh pernyataan Lukiwati et al. (2001) bahwa kombinasi pemupukan BP+amonium sulfat menghasilkan produksi dan kualitas rumput setaria setara dengan perlakuan kombinasi pemupukan SP+urea. Efektivitas pupuk BP meningkat pada kondisi asam (Hasanudin et al., 2007; Bationo & Kumar, 2002). Pupuk organik dapat meningkatkan produksi jagung dan jerami apabila dikombinasikan dengan pupuk anorganik (Lukiwati et al., 2010). Kombinasi pupuk organik dan anorganik dengan berbagai jenis sumber pupuk menghasilkan produksi jagung cenderung tidak berbeda. Namun, khususnya ‘biaya’ perlakuan T5 lebih murah dibanding kombinasi lainnya karena menggunakan bahan baku lokal dan terjangkau oleh petani. 3.2. Produksi Bahan Kering Jerami dan Klobot Jagung
Produksi jerami jagung manis dan klobot nyata dipengaruhi oleh perlakuan yang diberikan (P< 0,05). Berdasarkan hasil uji jarak berganda Duncan, diketahui terdapat perbedaan yang nyata (P< 0,05) antar perlakuan yang diberikan terhadap produksi bahan kering jerami jagung manis dan klobot. Tabel 2 menunjukkan data produksi jerami dan klobot jagung manis. dengan berbagai kombinasi perlakuan pemupukan yang diberikan.
Kombinasi antara pupuk organik dan anorganik, masing-masing menghasilkan produksi jerami dan klobot berbeda tidak nyata. Dekomposisi bahan organik menghasilkan asam-asam organik, menurunkan pH dan potensi reduksi oksidasi ditingkatkan sehingga meningkatkan ketersediaan unsur hara yang kelarutannya tinggi pada kondisi asam (Sumida & Yamamoto, 1997). Jerami dipotong setelah panen jagung manis pada umur 70 hari setelah tanam. Disamping itu, dosis pupuk N, P maupun pupuk kandang yang diberikan masing-masing tidak berbeda. Oleh karena itu, antar perlakuan pupuk organik (T1 dan T2) dan anorganik (T3 dan T4) yang diberikan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dalam menghasilkan produksi jerami dan klobot jagung manis, namun cenderung lebih tinggi dibanding tanpa pemupukan. Lukiwati (2002) menegaskan bahwa produksi jerami jagung lebih tinggi dengan pemupukan 150 kg P2O5/ha (66 kg P/ha) dibanding tanpa pemupukan. Tabel 2. Produksi Bahan Kering Jerami dan Klobot Jagung Manis
Perlakuan Produksi BK Jerami (ton/ha) Produksi BK Klobot (ton/ha) T0 (kontrol) 4,213 b 1,087 b* T1 (pukan) 5,613 ab 1,717 ab T2 (SPO) 4,790 ab 1,167 b T3 (BP+AS) 4,680 b 1,427 ab T4 (SP+urea) 4,630 b 1,407 ab T5 (Organomineral+AS) 5,527 ab 1,847 ab T6 (Pukan+SP+urea) 5,893 ab 2,137 a T7 (SPO + BP+AS) 6,600 a 1,837 ab T8 (SPO+SP+urea) 5,357 ab 2,010 a
Keterangan: * Superskrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata (P<0,05)
3.3. Kadar Protein Kasar dan Serat Kasar Jerami Jagung Manis
Kadar protein kasar (PK) dan serat kasar (SK) jerami jagung manis dan klobot nyata dipengaruhi oleh perlakuan yang diberikan (P< 0,05). Berdasarkan hasil uji jarak berganda Duncan, diketahui terdapat perbedaan yang nyata (P< 0,05) antar perlakuan yang diberikan terhadap produksi bahan kering jerami jagung manis dan klobot. Tabel 3 menunjukkan data kadar PK dan SK jerami jagung manis dengan berbagai kombinasi perlakuan pemupukan yang diberikan.
172
Kadar PK jerami jagung pada perlakuan T4 (SP+urea) dan T8 (SPO+SP+urea) nyata lebih tinggi dibanding T0 dan T2, tetapi tidak berbeda terhadap perlakuan lainnya. Konsentrasi nitrogen pada umumnya lebih tinggi pada bagian daun dibanding batang (Noggle & Fritz 1976). Diduga rasio daun pada T4 (kombinasi NP) dan T8 (kombinasi SPO dan NP) lebih tinggi dibanding pada perlakuan lainnya, karena pupuk SP larut dalam air dan lebih mudah diabsorbsi oleh akar tanaman. Kombinasi pupuk organomineral, pukan maupun pupuk SPO masing-masing dengan pupuk N dan P dari jenis pupuk berbeda, menghasilkan kadar PK tidak berbeda. Demikian juga pupuk organik dan anorganik yang berbeda, masing-masing menghasilkan kadar PK tidak berbeda. Dalam penelitian ini, dosis pupuk N dan P maupun pupuk kandang yang diberikan masing-masing tidak berbeda. Oleh karena itu, antara kombinasi perlakuan pupuk organik dan anorganik maupun tanpa kombinasi, masing-masing tidak menunjukkan perbedaan dalam menghasilkan kadar PK jerami jagung manis. Biaya pupuk pada perlakuan T5 lebih murah dengan hasil produksi jagung maupun kualitas jerami tidak berbeda dibanding perlakuan kombinasi pupuk organik dan anorganik(T6, T7, T8) maupun pupuk anorganik NP (T3, T4). Jerami dipotong setelah panen jagung manis pada umur 70 hari. Dengan demikian kondisi ini sudah masuk pada fase generatif, sehingga sebagian besar hasil fotosintesis telah digunakan untuk pengisian dan pemasakan biji jagung. Kadar serat kasar jerami pada perlakuan T4 (SP+urea) nyata paling rendah dibanding perlakuan lainnya. Hal ini konsisten dengan teori yang menyatakan bahwa kadar protein kasar hijauan pakan berbanding terbalik dengan kadar serat kasar (Whiteman, 1980). Tabel 3. Kadar Protein Kasar dan Serat Kasar Jerami Jagung Manis
Perlakuan Kadar Protein Kasar (%)
Kadar Serat Kasar (%) T0 (kontrol) 8,477 b 72,637 bcd* T1 (pukan) 9,787 ab 73,263 ab T2 (SPO) 8,790 b 70,957 d T3 (BP+AS) 9,560 ab 71,660 bcd T4 (SP+urea) 12,063 a 67,703 e T5 (Organomineral+AS) 9,770 ab 71,443 cd T6(Pukan+SP+urea) 10,643 ab 74,437 a
T7 (SPO + BP+AS) 10,387 ab 72,900 abc
T8 (SPO+SP+urea) 11,913 a 73,140 abc
Keterangan: * Superskrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata (P<0,05)
4. KESIMPULAN
Pupuk organik (pukan, organomineral, SPO) apabila dikombinasikan dengan pupuk P (SP, BP) maupun N (urea, ZA) menghasilkan produksi jagung manis dan kualitas jerami yang sama dan lebih tinggi dibanding pupuk organik atau anorganik saja. Selain itu, biaya produksi perlakuan kombinasi organomineral + amonium sulfat lebih murah dalam menghasilkan produksi jagung dan kualitas jerami dibanding pemupukan kombinasi lainnya, maupun pemupukan anorganik saja. Kombinasi pemupukan BP+amonium sulfat menghasilkan produksi jagung dan jerami serta kualitasnya setara dengan pemupukan SP+urea, maupun dengan pemupukan SPO+BP+amonium sulfat.
UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih kepada Dirjen DP2M Dikti atas dukungan dana Hibah Penelitian Strategis Nasional, sehingga penelitian ini dapat terlaksana dan diselesaikan dengan baik. Terima kasih kepada Kepala Dusun dan Kelompok Tani Ternak Dusun Soko, Desa Lerep Kecamatan Ungaran Barat-Kabupaten Semarang, yang telah mendukung terlaksananya
173
penelitian ini. Terima kasih kepada Ir. Maulana Nasution, MS atas bantuannya dalam pengolahan data penelitian. Terima kasih kepada Sdr. Muchammad Muzayyin, SP yang telah membantu dalam analisis kimia tanah dan jaringan tanaman di laboratorium. Terima kasih kepada Sdr. Gunawan Sodiq, Amd yang telah membantu dalam pelaksanaan penelitian ini.
PUSTAKA
Bationo, A. and Kumar, A.K., 2002. Phosphorus use efficiency as related to sources of P fertilizers, rainfall, soil, crop management, and genotypes in the West African semiarid tropics. Proc.of Food Security in Nutrient –Stressed Environments: Exploiting Plant’s Genetic Capabilities. International Crops Research Institute for Semi-Arid Tropics (ICRISAT) Patancheru, India.
Dierolf, T., Fairhurst, T. and Mutert, E., 2001. Soil Fertility Kit. A toolkit for acid, upland soil fertility management in Southeast Asia. First edition. Printed by Oxford Graphic Printers. 149 p.
Hasanudin, Mitriani dan Barchia, F., 2007. Pengaruh pengapuran dan pupuk kandang terhadap ketersediaan hara P pada timbunan tanah pasca tambang batubara. J.
Akta Agrosia. Edisi Khusus. 1: 1-4
Islam, A.K.M.S., Kerven, G., and Oweczkin., 1992. Methods of Plant Analysis. ACIAR 8904 IBSRAM QC.
Kasno, A., Setyorini, D., dan Tuberkih, E., 2006. Pengaruh pemupukan fosfat terhadap produktivitas tanah Inceptisol dan Ultisol. Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Indonesia. 8(2):91-98.
Lukiwati, D.R., Agustini, T.W., Kristanto, B.A., and Surahmanto., 2010. Production and nutrient uptake improvement of sweet corn by manure ‘plus’ combined with inorganic fertilizers. Proc. of the 15th World Fertilizer Congress of the International Scientific Center for Fertilizers (CIEC). Bucharest, Romania
Lukiwati, D.R., Ekowati, R., dan Karno., 2001. Produksi bahan kering dan kadar protein kasar rumput setaria gajah dengan pemupukan N dan P. Abstr.hlm.167. Seminar Nasional ”Pengembangan Peternakan Berbasis Sumberdaya Lokal. Fakultas Peternakan IPB, Bogor 8-9 Agustus. (tidak diterbitkan)
Lukiwati, D.R., 2002. Effect of rock phosphate and superphosphate fertilizer on the productivity of maize var. Bisma. Proc.of International Workshop Food Security in
Nutrient-Stressed Environments: Exploiting Plant’s Genetic Capabilities. International Crops Research Institute for Semi-Arid Tropics (ICRISAT) Patancheru, India.
Lukiwati, D.R., dan Muryani, R., 2006. Potensi jerami padi sebagai pakan sapi potong di Kabupaten Rembang. Jurnal Litbang Provinsi Jawa Tengah. 4(1): 7-12.
Mayadewi, N.N.A., 2007. Pengaruh jenis pupuk kandang dan jarak tanam terhadap pertumbuhan gulma dan hasil jagung manis. J. Agritrop. 26(4): 153-159
Nassir, A., 2001. IMPHOS experience on direct application of phosphate rock in Asia. In: Proc.of an International Meeting “Direct Application of Phosphate Rock and Related Appropriate Technology – Latest Developments and Practical Experiences. Kuala Lumpur.
Noggle, G.R., and Fritz, G.J., 1976. Introductory Plant Physiology. Second Ed. Prentice-Hall., Inc., Englewood Cliffs, New Jersey. 627pp.
Noor, A., 2003. Pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada Ultisol. Bul. Agron. 31(3): 100-106.
Sharma, P.K., Bhardwaj, S.K., and Sharma, H.L., 2001. Long-term a studies on agronomic effectiveness of African and Indian phosphate rocks in relaton to productivity of maize and wheat crops in mountaint acid soils of Western Himalayas (India). Proc.of International Meeting “Direct Application of Phosphate Rock and Related Appropriate
174
Technology-Latest Developments and Practical Experiences. IFDC/MSSS/ESEAP. Kuala Lumpur, Malaysia.
Smithson, P.C., and Giller, K.E., 2002. Appropriate farm management practices for alleviating N and P deficirnciesin low-nutrient soils of the tropics. Plant and Soil. 245:169-180.
Sumida, H. and Yamamoto, K., 1997. Effect of decomposition of city refuse compost on the behaviour of organic compounds in the particle size fractions. Proc. of the XIII International Plant Nutrition Colloquium, Tokyo-Japan.
Whiteman, P.C., 1980. Tropical Pasture Science. Oxford University Press.392pp.
Young, R.D., Weatfall, D.G., and Colliver, G.W., 1985. Production, Marketing, and Use of Phosphorus Fertilizers. In: O.P. Engestad (Ed.). Fertilizer Technology and Use. Third Ed. Published by Soil Soc.of Am., Inc. Madison, Wisconsin. 323-376.
175