• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sistem Rantai Pasok PT Fin Komodo

Dalam dokumen Bh4eSo6P1Az8J3Ui Prosiding 2012 (Halaman 133-138)

PENGEMBANGAN MOBIL KOMODO DITENGAH KETIDAKPASTIAN KEBIJAKAN

2. TINJAUAN TEORI

3.2. Sistem Rantai Pasok PT Fin Komodo

Pada bagian ini akan dibahas sistem rantai pasok PT Fin Komodo berdasarkan lima area utama yang dikemukakan oleh Hugos (2003). PT Fin Komodo merupakan perusahaan yang masih kecil sehingga pembahasan lebih detail pada area produksi dan pengelolaan informasi, sementara tiga area lainnya yaitu penyimpanan, transportasi dan lokasi hanya digambarkan sekilas..

3.1.1. Produksi

Produksi tidak hanya menyangkut aktivitas produksi di pabrik, tetapi meliput mulai dari identifikasi pasar sampai distribusi produk. Lingkup aktivitas produksi PT Fin Komodo disajikan pada Gambar 3 berikut ini.

Pasar wilayah pedalaman Mobil offroad dengan harga terjangkau Identifikasi kebtuhan moda transportasi Design moda transportasi Identifikasi Kebutuhan Komponen Identifikasi Pemasok

Penentuan komponen yang dibeli di pemasok lokal, luar kota, dan impor

Perencanaan

produksi Aktifitas Produksi

Penyimpanan dan Distribusi Input untuk redesign

Gambar 3. Lingkup aktivitas produksi Fin Komodo

Sistem produksi di PT Fin Komodo dimulai dari penentuan pangsa pasar yang akan dibidik. Berdasarkan kondisi wilayah Indonesia dan kondisi persaingan pasar mobil saat ini, maka pimpinan sekaligus pemilik PT Fin Komodo memutuskan untuk memenuhi kebutuhan moda transportasi untuk masyarakan wilayah pedalaman. Wilayah pedalaman memiliki karakteristik infrastruktur transpotasi yang buruk, bahkan banyak yang belum memiliki jalan beraspal. Karakteristik lainnya adalah tingkat perekonomian di wilayah tersebut masih rendah. Oleh karena itu perlu didesain moda transportasi yang cocok untuk kondisi tersebut.

Berdasarkan hasil analisis pasar, maka ditentukan untuk memproduksi mobil off-road

yang dapat digunakan dengan aman dan kuat untuk kondisi jalan terjal dan tidak beraspal. Selain itu mobil yang diproduksi harus dapat dijual dengan harga yang cukup terjangkau oleh penduduk yang tinggal dan/atau bekerja di kawasan pedalaman.

121

Setelah ditentukan jenis mobil yang akan diproduksi, kemudian dilakukan desain rincinya. Desain awal dilakukan oleh pemilik yang merupakan engineer pensiunan PT DI, kemudian dibantu oleh rekan-rekannya dari PT DI baik yang sudah pensiun maupun yang masih aktif bekerja di sana.

Proses desain pertama menghasilkan produk generasi pertama di tahun 2008. Berdasarkan desain tersebut kemudian diidentifikasi kebutuhan komponen yang cocok, baik dari sisi engineering maupun ekonomi. Setelah teridentifikasi kemudian ditentukan komponen-komponen mana saja yang dapat dipasok dari pemasok lokal, luar kota (Jabodetabek) dan impor. Karena desain mobil original dari Fin Komodo, sehingga banyak komponen-komponen yang harus didesain secara khusus.

Dalam strategi pemenuhan kebutuhan komponen, PT Fin Komodo melakukan kemitraan dengan pemasok-pemasok lokal yang sebagian besar merupakan industri kecil menengah. Untuk komponen-komponen yang harus didesain khusus, PT Fin Komodo memberikan desainnya pada pemasok, kemudian pemasok memproduksinya. Dalam proses tersebut PT Fin Komodo juga melakukan pembinaan dalam proses produksinya. Saat ini Fin Komodo telah melibatkan sekitar 120 pemasok lokal.

Komponen yang diperlukan untuk mobil Komodo tidak semuanya dapat dipenuhi dari pemasok lokal binaan, oleh karena itu sebagian dibeli dari pemasok luar kota, bahkan ada yang harus dipenuhi dari impor. Pemasok luar kota yang biasa memenuhi sebagian kebutuhan komponen PT Fin Komodo adalah pemasok dari wilayah Jabodetabek. Untuk pemasok tersebut PT Fin Komodo hanya kerjasama bisnis tanpa pembinaan, karena sebagian besar merupakan industri yang sudah cukup besar.

Komponen yang masih dipenuhi dari impor adalah mesin dan ban. Pemenuhan mesin masih impor karena sulitnya memproduksi mesin dengan tingkat presisi tinggi karena keterbatasan teknologi peralatan yang dimiliki, baik oleh PT Fin Komodo maupun oleh pemasoknya. Sementara impor ban dikarenakan pemasok lokal mensyaratkan jumlah minimal pemesanan yang terlalu banyak bagi PT Fin Komodo yang volume produksinya masih rendah.

Tahap berikutnya dari lingkup sistem produksi di PT Fin Komodo adalah perencanaan produksi dan aktivitas produksi. Perencanaan produksi di PT Fin Komodo masih berdasarkan kapasitas yang dimiliki. Hal tersebut dikarenakan sumberdaya yang dimiliki masih sangat terbatas. Luas lokasi pabrik masih terbatas sehingga banyak operasi yang dilakukan dalam satu tempat.Jumlah tenaga kerja yang dimiliki adalah sekitar 30 orang. Saat ini kemampuan produksi mobil Komodo adalah 8 unit/bulan.

Setelah produksi mobil Komodo selesai diproduksi, mobil dikirim ke pengguna. Untuk terus meningkatkan kualitas produk, PT Fin Komodo menerima feedback berupa

keluhan-keluhan kekurangan mobil serta masukan-masukan dari pengguna. Masukan-masukan tersebut dijadikan dasar bagi PT Fin Komodo untuk terus berinovasi melakukan perbaikan pada produk mobilnya. Dari pertama produksi tahun 2008 sampai saat ini sudah ada 4 generasi mobil komodo, yaitu: generasi I tahun 2008, generasi II tahun 2009, generasi III tahun 2010, dan generasi IV tahun 2011. Saat ini PT Fin Komodo masih terus melakukan riset untuk menyempurnakan desain produknya.

3.1.2. Penyimpanan

Penyimpanan di PT Fin Komodo terbagi dua yaitu untuk komponen dan mobil yang belum terkirim ke konsumen. Walaupun kecil, PT Fin Komodo memiliki gudang penyimpanan untuk komponen terutama komponen yang berasal dari pemasok luar kota dan impor. Karena lokasinya jauh dan biaya transportasinya lebih tinggi dari komponen yang dipasok

supplier lokal, PT Fin Komodo harus memperhitungkan efisiensi dalam memesan komponen dari pemasok luar kota dan impor.

Untuk penyimpanan mobil hasil produksi, terdapat tempat yang menyerupai garasi dengan kapasitas sekitar 8-10 unit. Penyimpanan produk masih belum menjadi masalah untuk PT Fin Komodo karena produksinya yang masih rendah. Meskipun demikian,

122

permintaan saat ini sudah cukup tinggi sehingga banyak pesanan yang harus menunggu. Sebagai catatan, kapasitas produksi PT Fin Komodo baru sekitar 8 unit/bulan.

3.1.3. Lokasi

Lokasi pabrik PT Fin Komodo berada diantara Kota Cimahi dan pinggiran Kabupaten Bandung. Kantor manajemen, gudang dan pabrik saat ini masih berada di satu tempat. Lokasi di Kota Cimahi cukup menguntungkan dalam beberapa hal. Seperti telah disebutkan, sebagian engineer PT Fin Komodo adalah karyawan PT DI yang lokasinya dekat dengan wilayah Kota Cimahi, sehingga masih memungkinkan untuk bekerja sama.

Keuntungan lainnya adalah dari sisi pasokan komponen. Di sekitar wilayah Kota Cimahi dan Kota/Kabupaten Bandung banyak industri-industri kecil pengolahan logam. Industri-industri tersebut sudah terbiasa memenuhi kebutuhan perusahan-perusahaan baik besar maupun kecil, bahkan ada yang sudah memasok ke PT Pindad.

3.1.4. Transportasi

Sampai saat ini sistem transportasi masih belum berpengaruh besar dalam efisiensi sistem rantai pasok PT Fin Komodo. Hal tersebut dikarenakan kapasitas produksi PT Fin Komodo masih sangat kecil untuk ukuran pabirk mobil. Selain itu juga sebagian besar komponen merupakan hasil produksi pemasok lokal, hanya sebagian kecil yang dipenuhi dari pemasok luar kota dan impor.

3.1.5. Informasi

Perusahaan PT Fin Komodo memang belum dilengkapi dengan infrastruktur sistem infromasi yang canggih, akan tetapi aliran informasi mengalir lancar baik antara perusahaan dengan pemasok maupun antara perusahaan dengan pasar, bahkan antar perusahaan produsen mobil nasional. Aliran informasi antara perusahaan dengan pasar dapat dilihat dari masukan-masukan dari konsumen sebagai dasar perusahaan untuk melakukan inovasi produk sehingga muncul beberapa generasi produk PT Fin Komodo, dimana setiap generasi merupakan perbaikan dari generasi sebelumnya.

Aliran informasi dari perusahaan ke pemasok terbukti dengan adanya pembinaan dari PT Fin Komodo kepada pemasok-pemasok lokal di sekitar wilayah Cimahi dan Bandung. Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa sebagian besar pemasok PT Fin Komodo merupakan industri kecil menengah, sehingga diperlukan pembinaan untuk dapat memproduksi komponen yang sesuai dengan rancangan perusahaan.

Aliran informasi antar perusahaan produsen mobil adalah melalui organisasi mobil nasional yaitu AsiaNusa. Organisasi tersebut merupakan wadah tempat bertukar pikiran dan informasi serta kerja sama diantara para prodsusen mobil nasional yang saat ini masih kurang perhatiannya dari pemerintah. Saat ini, pemilik PT Fin Komodo merupakan ketua dari organisasi tersebut. Secara sederhana sisem rantai pasok PT Fin Komodo disajikan pada Gambar 4 berikut ini.

123 Pemasok

Pasar Wilayah Pedalaman

Pemasok Lokal Fin Komodo

aliran produk aliran informasi pelaku rantai pasok informasi

Pemesanan Komponen Transportasi Produk aktivitas Design mobil Infrastruktur tidak baik Kebutuhan moda transportasi dengan harga terjangkau Kapasitas Produksi Pemasok Luar Wilayah Cimahi dan Bandung Impor Perencanaan Produksi Perencanaan Komponen Transportasi Komponen Penyimpanan Produk Produksi Karakteristik Pemasok Kedatangan komponen Penyimpanan Komponen Feedback mengenai kekurangan mobil Input untuk redesign

Gambar 4. Sistem rantai pasok PT Fin Komodo 4. KESIMPULAN

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa mobil Komodo dapat berkembang lebih lanjut dengan catatan adanya upaya peningkatan dukungan kebijakan. Pada hakikatnya, peningkatan kualitas sistem rantai pasok dipengaruhi oleh kebijakan dan dukungan dari pemerintah sesuai tahapan pengembangan industri, yang dalam kasus Indonesia masih pada tahap infant.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis ingin mengucapkan terima kasih pada Corinthias Pamatang Morgana Sianipar dari Tokyo University of Science atas saran dan masukan pada versi awal makalah ini.

PUSTAKA

Ayers, J. B. 2001. Handbook of Supply Chain Management. CRC Press, Florida.

Business Motor International. 2011. Indonesia Autos Report Q4 2011. Business Motor International, London.

Christopher, M. 2005. Logistics and Supply Chain Management: Creating Value-Adding Network. Pearson Education Limited, Harlow.

Darmadi, Budi. 2010. Costumer satisfaction: Itulah moto Kementerian Perindustrian, Buletin Karya Indonesia (KINA) Kementerien Perindustrian 1: 5-7

Hugos, M. 2003. Essential of Supply Chain Management. John Wiley and Sons, New Jersey. Jawi, Zulhaidi Mohd et al. 2012. Review of the National Automotive Policy on Car Maintenance Issues: Malaysia’s Automotive Ecosystem Explained. Malaysian Institute of Road Safety Research, Selangor.

Kim, W. Chan and Mauborgne Renée. 2005. Blue Ocean Strategy: How to Create Uncontested Market Space and Make Competition Irrelevant. Harvard Business Review Press, Massachusetts.

Kusnandar, 2011. Manajemen rantai pasok Toyota, Warta Kebijakan Iptek dan Manajemen Litbang 9(1):93-102.

MIDA (Malaysian Industrial Development Authority). 2010. Malaysia’s Industri Automotive. Malaysian Industrial Development Authority, Kuala Lumpur.

Oltra, Vanessa and Jean, Maider Saint. 2009. Sectoral systems of environmental innovation: An application to the French automotive industry, Journal of Technological Forecasting and Social Change 76: 567-583.

Sargo, Soehari. 2010. Tujuh kunci pengembangan industri otomotif nasional, Buletin Karya Indonesia (KINA) Kementerien Perindustrian 1: 50-51.

124

Setyodarmodjo, Soenarko. 2005. Public Policy: Pengertian Pokok Untuk Memahami dan Analisa Kebijaksanaan Pemerintah. Airlangga University Press, Surabaya.

Wahab, Solichin Abdul. 2008. Pengantar Analisis Kebijakan Publik. UMM Press, Malang. Wibawa, Samodra. 2011. Politik Perumusan Kebijakan Publik. Graha Ilmu, Yogyakarta. Wong, Chee Yew and Boon-itt, Sakun. 2008. The influence of institutional norms and

environmental uncertainty on supply chain integration in the Thai automotive industry,

125

PENGEMBANGAN

Dalam dokumen Bh4eSo6P1Az8J3Ui Prosiding 2012 (Halaman 133-138)