HASIL PENELITIAN DAN ANALISA DATA
4.2 Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil wawancara secara mendalam yang dilakukan oleh penulis kepada Manajer Humas PT. Megasari Makmur dan asistennya, Bapak Ahmad dan Bapak Untung wawancara dilakukan di PT. Megasari Pusat dan Cabang Tangerang pada tanggal yang berbeda yaitu tanggal 6 Februari 2009 dengan Bapak Ahmad dan tanggal 11 Februari 2009 dengan Bapak Untung, Bapak Irawan dari Carrefour pada tanggal 6 Maret 2009 bertempat di Carrefour Lebak Bulus, dan Ibu Endah pada tanggal 6 Maret 2009 bertempat di kantor beliau di Departemen Luar Negri RI, Pejambon, Jakarta Pusat, Bapak Amir dari BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) pada tanggal 9 Maret 2009 bertempat di Kantor BPOM di Jalan Percetakan Negara, Jakarta Timur.
4.2.1 Langkah-langkah Manajemen Krisis PT. Megasari Makmur
Dalam mengatasi permasalahan atau krisis yang memberikan dampak buruk bagi perusahaan diperlukan suatu langkah khusus untuk mengelola krisis tersebut agar tidak semakin membesar atau pun merusak produk lain dari perusahaan tersebut. Krisis menyebabkan perusahaan menjadi subjek perhatian luas yang cenderung tidak menyenangkan dari media nasional serta kelompok-kelompok seperti pelanggan, pemegang saham, karyawan dan keluarga mereka, para politisi, serikat perdagangan serta kelompok- kelompok penekan yang dengan suatu alasan atau lebih memiliki kepentingan yang dibenarkan terhadap kegiatan-kegiatan organisasi.
Langkah-langkah pengelolaan krisis sangat diperlukan agar krisis yang sudah terjadi akan menjadi suatu pembelajaran dalam mengelola perusahaan di masa yang akan datang. Perusahaan akan menjadi lebih paham langkah-langkah apa saja yang akan diambil bila suatu saat krisis akan kembali melanda perusahaan.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan Kepala Divisi Humas PT. Megasari Makmur mengenai krisis akibat isu kandungan zat berbahaya pada obat nyamuk Hit tersebut adalah sebagai berikut :
“Krisis tersebut terjadi tahun 2006, tepatnya 7 Juni 2006. Bermula dengan adanya sidak (Inspeksi Mendadak) oleh Komisi Pestisida dari Departemen Pertanian RI di pabrik kami didaerah gunung putri Bogor pada tanggal tersebut, pada hari itu juga Deptan mengumumkan bahwa produk Hit Cair dan Aerosol mangandung zat berbahaya dan harus ditarik dari peredaran lalu dimusnahkan termasuk yang masih ada digudang, padahal jumlah keseluruhan Hit cair dan aerosol yang sudah diproduksi selama Mei 2004 sampai Mei 2006 adalah sebanyak 2.293.964 kg HIT jenis aerosol dan untuk jenis cair sudah diproduksi sebanyak 4.896.805 liter, yang kalau dirupiahkan kurang lebih senilai 15 Milyar
Kesehatan yang korbannya berjumlah dua orang, katanya sih kami melanggar UU.Perlindungan Konsumen No.8 yahun 1999”.
Sementara itu keterangan dari Bapak Untung adalah :
“Ya, Saya mengetahuinya. Itu terjadi pada 7 Juni 2006, ada pemeriksaan mendadak di pabrik kami di Gunung Putri oleh Departemen Pertanian, hari itu juga mereka mengumumkan bahwa Hit cair dan aerosol yang ada di pasaran harus ditarik kemudian dimusnahkan . Selain itu ada juga pihak yang melaporkan Megasari ke Polisi atas kasus keracunan”.
Keterangan dari Bapak Amir, BPOM :
“Ya, saya tahu. Seingat saya itu tahun 2006 ya. Waktu itu komisi pestisida dari Deptan mengadakan inspeksi mendadak di pabrik Hit di Bogor. Seingat saya hari itu juga mereka mengumumkan bahwa produk Hit harus ditarik dari pasar karena mengandung dua zat berbahaya, selain itu Megasari juga dianggap tidak mempunyai izin resmi yang harusnya dikeluarkan oleh Deptan. Sebenarnya tidak benar juga kalau Megasari tidak punya izin, mereka punya kok izin dari kita, walaupun di kemudian hari Deptan merasa kalau izin obat nyamuk harusnya dikeluarkan komisi pestisida bukannya oleh BPOM, selain itu ada yang keracunan juga katanya, korbannya laporan ke Polda setahu saya”.
Diatas adalah informasi mengenai krisis yang terjadi di PT. Megasari dari Bapak Ahmad Bedah selaku Manajer Humas PT. Megasari Makmur, Bapak Untung selaku Asisten Manajer Humas PT. Megasari Makmur dan Bapak Amir selaku staff BPOM.
Setelah mengetahui krisis yang terjadi di Megasari yang diakibatkan oleh isu kandungan zat berbahaya pada obat nyamuk Hit cair dan aerosol, dibawah adalah hasil penelitian penulis mengenai manajemen krisis yang dilakukan oleh pihak Megasari dalam menghadapi krisis yang menimpa Megasari khususnya pada produk obat nyamuk Hit cair dan aerosol. Dimana langkah tersebut dimulai dari pengidentifikasian krisis sampai langkah yang terakhir adalah evaluasi hasil penanganan krisis. Berikut adalah langkah-langkah manajemen krisis yang dilakukan oleh Megasari Makmur, menurut hasil wawancara penulis dengan para nara sumber :
1.Mengidentifikasi Krisis
Langkah awal dalam mengelola krisis adalah dengan mengidentifikasi krisis untuk mengetahui faktor-faktor penyebab krisis dengan cara melakukan pengumpulan data yang terkait dengan krisis tersebut.
Manajer Divisi Humas Megasari, Bapak Ahmad Bedah Istigfar menjelaskan langkah-langkah perusahaannya dalam mengidentifikasi krisis :
“Hari itu juga (7 Juni 2006), saya dibantu staff lain yang waktu itu masih bergabung dengan divisi marketing mulai mencari data-data mengenai kasus penarikan dan keracunan Hit tersebut di koran, internet, tv, radio. Selain tentu saja menjawab beberapa pertanyaan dari media. Dalam pengumpulan data tersebut kami mencari keterangan siapa saja yang melakukan sidak tersebut, siapa saja yang hadir pada saat itu termasuk dari pihak Megasari, media apa saja yang meliput peristiwa tersebut, Berita apa saja yang keluar di media massa. Hal yang sama juga kami lakukan untuk mencari data mengenai korban keracunan seperti mencari tahu siapa sebenarnya korban keracunan tersebut, bagaimana kronologis kejadiannya, kemana ia dibawa setelah mengalami keracunan dan bagaimana keadaannya, ke mana korban tersebut melapor, media apa saja yang meliput dan apa isi beritanya”.
Bapak Ahmad mengungkapkan bahwa langkahnya dalam mengidentifikasi krisis adalah dengan mencari data-data yang terkait dengan inspeksi mendadak yang dilakukan oleh pihak Komisi Pestisida dari Departemen Pertanian RI. Data-data tersebut meliputi siapa saja yang melakukan inspeksi tersebut, siapa saja yang hadir pada saat itu termasuk dari pihak Megasari, media apa saja yang meliput peristiwa tersebut dan apa saja berita yang keluar di media massa. Hal yang sama juga dilakukan pihak Megasari dalam menghadapi kasus keracunan yaitu dengan mencari tahu siapa sebenarnya korban keracunan tersebut, kemana ia dibawa setelah mengalami keracunan, bagaimana keadaannya, kemana korban tersebut melapor, media apa saja yang meliput dan apa saja isi berita yang dimuat
di media massa terkait masalah tersebut. Pihak Megasari mencari data tersebut dari koran, internet, telivisi dan radio.
Keterangan tersebut diperkuat oleh Bapak Untung, Asisten Manajer humas PT. Megasari Makmur menginformasikan bahwa :
“Hari itu juga atas perintah dari Direktur Marketing dan Komunikasi, saya bersama staff lain yang waktu itu masih bergabung dengan divisi marketing mulai mencari data-data mengenai kasus penarikan dan keracunan Hit tersebut di koran, internet, tv, radio. Mencari keterangan siapa saja yang melakukan pemeriksaan tersebut, siapa saja yang hadir pada saat itu termasuk dari Megasari, media apa saja yang meliput. Kami juga mencari data korban keracunan, berapa jumlah korbannya, bagaimana kejadiannya, diliput oleh siapa saja, pokoknya sama-lah dengan yang kita lakukan pada kasus penarikan Hit.
Bapak Untung memberikan keterangan yang sama dengan yang diberikan oleh Bapak Ahmad, bahwa pada tanggal 7 Juni 2006 mereka melakukan pengidentifikasian krisis dengan cara mencari data-data di media mengenai inspeksi mendadak di pabrik Megasari dan kasus keracunan Hit.
kliping pers yang diperlihatkan kepada penulis oleh pihak megasari, memperkuat keterangan dari Bapak Ahmad Bedah dan Bapak Untung mengenai pengidentifikasian krisis yang mereka lakukan yang di mulai pada saat krisis dianggap berasal. Kebanyakan berita yang berhasil dikumpulkan oleh Megasari berisi mengenai kedatangan tim dari Departemen Pertanian RI secara mendadak di pabrik megasari untuk mengadakan inspeksi atas obat nyamuk Hit cair Hit dan aerosol yang dianggap telah menggunakan dua zat yang dianggap sangat berbahaya untuk kesehatan manusia karena dapat menyebabkan berbagai macam kanker pada manusia, isi berita pada media-media itu juga menayangkan penrintah penarikan produk Hit cair dan aerosol dari pasaran. Sedangkan untuk berita mengenai keracunan, jumlah korban di media sangat beragam dan
cenderung lebih banyak, padahal jumlah korban sebenarnya hanya dua orang yang melapor resmi ke Polda Metro Jaya.