KESIMPULAN DAN SARAN
2. Penganalisaan Krisis
Langkah ini dilakukan Megasari dengan cara mengadakan rapat intern yang dihadiri oleh para top manajemen Megasari Makmur yang terdiri dari General Manager, Direktur Keuangan, Direktur Marketing dan Komunikasi, Direktur Produksi dan Administrasi, Manajer Personalia, dan Sekretaris GM. Rapat intern itu membahas 5W+1H krisis, termasuk membahas pembentukan tim manajemen krisis, dan salah satu hasil penting dari rapat tersebut adalah keluarnya instruksi dari bahwa hanya juru bicara perusahaan yang boleh memberikan keterangan kepada media, dan yang ditunjuk sebagai juru bicara perusahaan adalah Bapak Ahmad Bedah Istigfar, yang waktu itu menjabat sebagai Direktur Marketing dan Komunikasi pada PT. Megasari Makmur
3. Pengisolasian Krisis
Langkah ini dilakukan Megasari dengan cara pembentukan tim manajemen krisis dan pembentukan crisis centre. Tim manajemen krisis tersebut dibentuk di kantor pusat PT. Megasari Makmur di Kemayoran Jakarta Pusat, anggota tim tersebut terdiri dari
General Manager, Direktur Keuangan, Direktur Marketing dan Komunikasi, Direktur Produksi dan Administrasi, Sekretaris General Manager, Manager Personalia.
Untuk Crisis Centre, Megasari membentuk dua crisis centre yang berada di kantor pusat Megasari di Kemayoran dan di Pabrik Megasari di kawasan industri Gunung Putri, Bogor. Crisis Centre yang berada di Jakarta merupakan tempat tim manajemen krisis bertugas, dengan dibantu dua orang customer service yang bertugas sebagai penerima tamu maupun sebagai penjawab telepon pusat
pengaduan konsumen, sedangkan untuk yang di Gunung Putri, crisis centre dijaga oleh dua orang customer service dan kepala pabrik.
4. Pemilihan Strategi Penanganan Krisis
Langkah yang dipilih Megasari dalam menghadapi krisis tersebut adalah dengan cara mencoba jujur kepada masyarakat, meminta maaf dan mengakui bahwa produk Megasari memang mengunakan kedua zat yang dianggap berbahaya, walaupun sebenarnya produk tersebut sebelumnya sudah lulus tes resmi dari BPOM, dan mengumumkan kepada masyarakat bahwa Megasari akan menarik semua produk Hit lama yang dianggap berbahaya dan akan menggantikannya dengan Hit baru yang lebih aman dan juga bertanggung jawab atas biaya pengobatan kedua korban keracunan.
Dari penjelasan diatas dapat dilihat bahwa Megasari sudah melakukan strategi generik penanganan krisis sesuai dengan teori Rhenald Kasali berupa strategi adapatif yaitu dengan cara melakukan pelurusan image negatif yang sudah terlanjur muncul di masyarakat. Megasari juga melakukan strategi dinamis dengan cara menarik peredaran produk Hit lama yang dianggap bermasalah dan meluncurkan Hit baru yang lebih aman. Selain kedua stretegi generik diatas, Megasari juga menggunakan strategi pesan berupa mortification strategies yaitu berusaha meminta maaf dan mengakui bahwa memang sudah terjadi krisis dan juga bersedia untuk memberi sejumlah kompensasi kepada korban keracunan.
5. Program Pengendalian Krisis
Megasari melakukan semua tahap dalam pengendalian krisis sesuai dengan teori Rhenald Kasali yaitu melakukan perencanaan program dengan membuat
manual krisis yang berisi publik sasaran, tujuan program pengendalian krisis, isi pesan, media yang digunakan, anggota tim krisis dan tugasnya, juru bicara, notulen, pengacara resmi perusahaan, dan langkah-langkah yang akan diambil perusahaan dalam menghadapi krisis. Sementara dalam melakukan langkah-langkah komunikasi krisis, Megasari melakukan langkah-langkah komunikasi krisis yang ditujukan untuk publik diluar melalui jumpa pers (dilaksanakan pada tanggal 14 Juni 2006), website Megasari, iklan, wawancara dengan media dan untuk pihak didalam perusahaan, Megasari menyampaikan pesannya melalui internal meeting, inhouse training dan media intranet perusahaan. Megasari juga mempunyai layanan konsumen bebas pulsa, membuat dua crisis centre, memberikan arahan pada customer service yang menjaga crisis centre dan menyiapkan jawaban-jawaban yang biasanya banyak ditanyakan oleh masyarakat, khususnya konsumen. Mencatat pihak-pihak mana saja yang perlu mendapatkan informasi mengenai kasus tersebut dan terus memberikan informasi mengenai situasi terbaru kepada pihak yang berkepentingan seperti media, komisaris, karyawan. dan melaksanakan semua aturan 4R menurut Kurt P. Stocker.
6. Evaluasi Hasil Penanganan Krisis
Dalam langkah ini Megasari tidak melakukan evaluasi secara formal misalnya riset seperti yang ada dalam teori di bab dua. Megasari hanya melakukan rapat intern untuk mengetahui keadaan divisi masing-masing, Megasari juga melakukan pendokumentasian atas krisis tersebut, dan menjadikan krisis tersebut sebagai suatu pembelajaran untuk masa yang akan datang. Selain itu Megasari juga melalukan beberapa aktivitas humas paska krisis untuk memperbaiki citranya seperti membuat iklan baru, mengadakan aktivitas sosial seperti posko kesehatan
gratis yang rutin diadakan sampai saat ini, mengaktifkan pusat pengaduan konsumen via telepon maupun website.
5.2. Saran
Dari kesimpulan diatas, maka penulis ingin memberikan saran praktis dan akademis sebagai berikut :
5.2.1 Saran Akademis
Bagi para mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi khususnya jurusan Humas, didalam melakukan penelitian khususnya bidang manajemen krisis, sekiranya dapat melakukan pendekatan yang berbeda dan dapat menggali lebih banyak dan mendalam data-data atau bukti-bukti yang ada.
5.2.2 Saran Praktis
Penulis memberikan beberapa masukan dan saran kepada PT. Megasari Makmur sebagai berikut :
1. Sebaiknya pada saat krisis berita yang keluar di media massa hanya berasal dari satu sumber saja yaitu juru bicara resmi perusahaan. Megasari memang telah menunjuk seorang juru bicara resmi perusahaan, tetapi sayangnya dari data-data yang penulis lihat, terlihat bahwa ada empat orang yang keluar sebagai nara sumber di media massa. Hal tersebut dapat menimbulkan kesimpang siuran berita, karena keterangan yang mereka berikan berbeda, dan bisa saja dikonfrontir oleh media.
2. Sebaiknya PT. Megasari melakukan media monitoring seperti kliping pers tidak hanya di waktu krisis saja, melainkan setiap hari. Hal tersebut dapat mempermudah dan mempercepat perusahaan dalam pengumpulan data bila sewaktu-waktu Megasari tertimpa isu ataupun krisis.
3. Sebaiknya nomor layanan konsumen bebas pulsa PT. Megasari tidak hanya berlaku pada masa krisis saja, tapi juga berlaku pada keadaan normal seperti sekarang, sehingga konsumen dapat lebih mudah dan lebih senang untuk menyampaikan saran ataupun keluhannya kepada Megasari. 4. Sebaiknya Megasari tetap melakukan evaluasi hasil penanganan krisis
secara formal, misalnya dengan riset agar dapat diketahui dengan pasti sejauh mana krisis tersebut telah ditangani
5. Sebaiknya siaran pers tetap diterbitkan di media, walaupun memang ada tambahan biaya yang cukup besar untuk itu. Sehingga publik yang tidak sempat menonton jumpa pers di media elektronik dapat membacanya dengan jelas di media cetak.