HASIL PENELITIAN DAN ANALISA DATA
3. Pengisolasian Krisis
Bapak Ahmad Bedah mengemukakan pengisolasian krisis yang dilakukan Megasari yaitu :
“Ya, kami melakukan keduanya (Pembentukan tim manajemen krisis dan crisis centre). Tim tersebut baru dibentuk 3 atau 4 hari setelah sidak yang terjadi di pabrik kami. Yang terlibat didalamnya adalah GM, Direktur Keuangan, Direktur Marketing dan Komunikasi, Direktur Produksi dan Administrasi, sekretaris GM dan Kepala bagian personalia yang juga seorang sarjana hukum. Sementara untuk crisis centre-nya berpusat di kantor pusat kami di Kemayoran dan sebagai tambahan ada posko kecil di pabrik kami di Gunung Putri”.
Bapak Ahmad Bedah menjelaskan bahwa Megasari melakukan pengisolasian krisis dengan dua cara yaitu pembentukan tim manajemen krisis dan pembentukan crisis centre. Tim manajemen krisis tersebut dibentuk 3 atau 4 hari setelah inspeksi mendadak yang terjadi di pabrik Megasari dan beranggotakan GM (General Manager), Direktur Keuangan, Direktur Marketing dan Komunikasi, Direktur Produksi dan Administrasi, sekretaris GM dan Kepala bagian personalia yang juga seorang sarjana hukum. Sementara untuk crisis centre Megasari mempunyai dua buah crisis centre yang berada di kantor pusat Megasari dan di pabrik Megasari.
Keterangan tersebut diperkuat oleh Bapak Untung, seperti yang dikatakannya kepada penulis :
“Dua-duanya ada (Tim Manajemen Krisis dan Crisis Centre), saya tahu persis, karena saya salah satu orang yang menjaga crisis centre di kantor pusat pada waktu itu, dan ikut membantu pekerjaan tim manajemen krisis sesekali.Untuk tim manajemen krisis terdiri dari GM, Direktur Keuangan, Direktur Marketing dan Komunikasi, Direktur Produksi dan Administrasi, Manajer Personalia dan Sekretaris GM. Kalau untuk crisis centre ada dua di Pabrik Gunung Putri dan di kantor pusat, di Jakarta yang jaga customer service dan tim krisisnya juga standby disitu, kalo yang di Bogor customer service dan kepala pabrik”.
Bapak Untung menjelaskan bahwa Megasari melakukan pembentukan tim manajemen krisis dan crisis centre pada saat krisis terjadi. Tim manajemen krisis
tersebut terdiri dari GM, Direktur Keuangan, Direktur Marketing dan Komunikasi, Direktur Produksi dan Administrasi, Manajer Personalia dan Sekretaris GM.
Bapak Ahmad Bedah juga menjelaskan tugas dari tiap anggota tim manajemen krisis, seperti dibawah ini :
“General Manager, berperan mengakomodir seluruh divisi yang ada di perusahaan dan sekaligus berperan sebagai pengambil keputusan akhir dari segala langkah yang diambil. Direktur Keuangan bertugas menyiapkan dana untuk mengatasi krisis sekaligus menghitung pengeluaran yang sudah dan akan dikeluarkan , Direktur Marketing dan Komunikasi bertugas menyusun strategi dalam menghadapi krisis termasuk mengelola crisis centre dan customer service, Direktur Produksi dan Administrasi yang keterangannya sangat diperlukan karena beliaulah yang membawahi perizinan produk dan quality control, sekaligus bertanggung jawab terhadap proses produksi dari mulai raw material sampai produk siap pakai. Sekretaris GM bertugas untuk menyiapkan data-data yang diperlukan sekaligus mencatatnya dan merupakan notulen resmi yang ditunjuk perusahaan, Manager Personalia bertugas untuk memeberi keterangan mengenai krisis kepada karyawan sekaligus menenangkannya, dan kerena beliau juga adalah sarjana hukum, beliau juga yang mengatur dan memberi masukan masalah hukum kepada kami”.
Menurut Bapak Ahmad mengenai tugas dari tiap anggota tim manajemen krisis adalah sebagai berikut General Manager berperan mengakomodir seluruh divisi yang ada di perusahaan dan sekaligus berperan sebagai pengambil keputusan akhir dari segala langkah yang diambil. Direktur Keuangan bertugas menyiapkan dana untuk mengatasi krisis sekaligus menghitung pengeluaran yang sudah dan akan dikeluarkan, Direktur Marketing dan Komunikasi bertugas menyusun strategi dalam menghadapi krisis termasuk mengelola crisis centre dan customer service, Direktur Produksi dan Administrasi yang keterangannya sangat diperlukan karena beliaulah yang membawahi perizinan produk dan quality control, sekaligus bertanggung jawab terhadap proses produksi dari mulai raw material sampai produk siap pakai. Sekretaris GM bertugas untuk menyiapkan data-data yang diperlukan sekaligus mencatatnya dan
merupakan notulen resmi yang ditunjuk perusahaan, Manager Personalia bertugas untuk memberi keterangan mengenai krisis kepada karyawan sekaligus menenangkannya, dan karena beliau juga adalah sarjana hukum, beliau juga yang mengatur dan memberi masukan masalah hukum kepada pihak Megasari.
Keterangan tersebut diperkuat juga dengan keterangan dari Bapak Untung, sesuai dengan hasil wawancara dengan beliau diatas.
Dari manual krisis yang diperlihatkan oleh Megasari kepada penulis, dapat dilihat siapa saja anggota tim manajemen krisis dan pembagian tugasnya, yaitu sebagai berikut :
1. General Manager, berperan mengakomodir seluruh divisi yang ada di perusahaan dan sekaligus berperan sebagai pengambil keputusan akhir dari segala langkah yang diambil.
2. Direktur Keuangan bertugas menyiapkan dana untuk mengatasi krisis sekaligus menghitung pengeluaran yang sudah dan akan dikeluarkan.
3. Direktur Marketing dan Komunikasi bertugas menyusun strategi dalam menghadapi krisis termasuk mengelola crisis centre dan customer service dan juga merupakan juru bicara resmi yang ditunjuk perusahaan. 4. Direktur Produksi dan Administrasi yang
keterangannya sangat diperlukan dalam hal perizinan produk dan quality control, sekaligus bertanggung jawab terhadap proses produksi dari mulai raw material sampai produk siap pakai.
5. Sekretaris General Manager bertugas untuk menyiapkan data-data yang diperlukan sekaligus mencatatnya dan merupakan notulen resmi yang ditunjuk perusahaan.
6. Manager Personalia bertugas untuk memberi keterangan mengenai krisis kepada karyawan sekaligus menenangkannya, dan karena merupakan seorang sarjana hukum, juga merupakan pengacara resmi yang ditunjuk perusahaan.
Untuk Crisis Centre, Megasari membentuk dua crisis centre yang berada di kantor pusat Megasari di Kemayoran dan di Pabrik Megasari di kawasan industri Gunung Putri, Bogor. Crisis Centre yang berada di Jakarta merupakan tempat tim manajemen krisis bertugas, dengan dibantu dua orang customer service yang bertugas sebagai penerima tamu maupun sebagai penjawab telepon pusat pengaduan konsumen, sedangkan untuk yang di Gunung Putri, crisis centre dijaga oleh dua orang customer service dan kepala pabrik. Berdasarkan catatan perusahaan crisis centre tersebut dilengkapi dengan peralatan seperti saluran telepon hotline, komputer berikut printer, internet, mesin fax, televisi, radio, dan peralatan tulis.