• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN ANALISA DATA

5. Program Pengendalian Krisis

Keterangan Bapak Ahmad Bedah mengenai program pengendalian krisis yang terdiri dari perencanaan komunikasi krisis, langkah-langkah komunikasi krisis dan mengikuti aturan 4R Kurt P. Stocker, adalah :

“Kami membuat sebuah manual krisis, yaitu panduan apa saja yang akan kami lakukan dalam mengambil langkah komunikasi krisis selanjutnya, yang antara lain berisi publik sasaran, tujuan program, isi pesan, media yang digunakan, siapa saja tim krisis kami, juru bicara dan lain-lain, strategi dan lain-lain, saya lupa detailnya”.

Bapak Ahmad menginformasikan bahwa Megasari membuat sebuah manual krisis yaitu suatu panduan untuk mengambil langkah berikutnya. Manual krisis itu antara lain berisi publik sasaran, tujuan program, isi pesan, media yang digunakan, juga berisi siapa saja tim manajemen krisis Megasari, juru bicara resmi perusahaan, dan strategi yang akan diambil perusahaan.

Selain dari keterangan Bapak Ahmad Bedah, penulis juga diberi kesempatan oleh pihak Megasari untuk melihat manual krisis kasus Hit tersebut, walaupun tidak diizinkan untuk diperbanyak ataupun dijadikan sebagai lampiran dalam penelitian ini.

“Pada saat itu kami melakukan suatu pengendalian krisis yang tujuan umumnya paling tidak meminimalisasi dampak buruk krisis dan mencegah agar krisis tidak terjadi lagi di lain waktu. Program tersebut kami tujukan untuk publik diluar dan didalam perusahaan. Untuk publik diluar perusahaan, target utamanya adalah konsumen, sedangkan didalam target utamanya adalah karyawan. Program komunikasi krisis untuk karyawan dengan tujuan agar karyawan tenang dan lebih siap menghadapi krisis. Pesan tersebut kami sampaikan melalui internal meeting, inhouse training dan media intranet perusahaan, sementara untuk konsumen kami sampaikan melalui jumpa pers, siaran pers walaupun tidak jadi dimuat di media massa karena pertimbangan biaya, hanya kita bagikan saja pada saat jumpa pers lalu melalui website, iklan dan wawancara dengan media, dan pada waktu itu ada juga layanan konsumen bebas pulsa. Selain itu kami juga membuat dua crisis centre, memberikan arahan pada customer service yang menjaga crisis centre dan menyiapkan jawaban-jawaban yang biasanya banyak ditanyakan oleh masyarakat, khususnya konsumen. Mencatat pihak-pihak mana saja yang perlu mendapatkan informasi mengenai kasus tersebut dan terus memberikan informasi mengenai situasi terbaru kepada pihak yang berkepentingan. Seperti media,

komisaris, karyawan. Untuk detailnya nanti saya tunjukan ke anda beberapa dokumen terkait”. O ya kami juga mengadakan kunjungan ke rumah para korban keracunan, saya dan Ibu Fenny yang waktu itu kesana”.

Keterangan Bapak Ahmad mengenai langkah komunikasi krisis yang dilakukan Megasari adalah pada saat krisis terjadi Megasari melakukan suatu pengendalian krisis yang tujuan umumnya untuk paling tidak meminimalisasi dampak buruk krisis dan mencegah agar krisis tidak terjadi lagi di lain waktu. Program tersebut ditujukan untuk publik diluar dan didalam perusahaan. Untuk publik diluar perusahaan, target utamanya adalah konsumen, sedangkan didalam target utamanya adalah karyawan. Program komunikasi krisis untuk karyawan dengan tujuan agar karyawan tenang dan lebih siap menghadapi krisis. Pesan tersebut disampaikan melalui internal meeting, inhouse training dan media intranet perusahaan, sementara untuk konsumen disampaikan melalui jumpa pers, siaran pers walaupun tidak jadi dimuat di media massa karena pertimbangan biaya, dan hanya di bagikan saja pada saat jumpa pers, lalu melalui website, iklan dan wawancara dengan media, dan pada waktu itu ada juga layanan konsumen bebas pulsa. Selain itu Megasari juga membuat dua crisis centre, memberikan arahan pada customer service yang menjaga crisis centre dan menyiapkan jawaban-jawaban yang biasanya banyak ditanyakan oleh masyarakat, khususnya konsumen. Mencatat pihak-pihak mana saja yang perlu mendapatkan informasi mengenai kasus tersebut dan terus memberikan informasi mengenai situasi terbaru kepada pihak yang berkepentingan. Seperti media, komisaris, karyawan. Megasari juga mengadakan kunjungan ke rumah para korban keracunan diwakili oleh Bapak Ahmad Bedah selaku Direktur Marketing dan Komunikasi pada waktu itu dan Ibu Fenny Alimin selaku General Manager.

Sebagai pembanding, keterangan dari Bapak Untung mengenai program pengendalian krisis PT. Megasari Makmur adalah sebagai berikut :

“Perusahaan mengadakan program pengendalian krisis yang ditujukan untuk publik diluar dan didalam perusahaan, untuk publik diluar perusahaan target utamanya adalah konsumen sedangkan untuk publik didalam perusahaan target utamanya adalah karyawan. Untuk karyawan disampaikan melalui meeting, training dan intranet perusahaan, sementara untuk konsumen kami sampaikan melalui surat kabar, jumpa pers, dan website kami. Perusahaan juga melakukan kunjungan ke dua korban keracunan, membuat crisis centre, memberikan briefing pada customer service, mendata siapa saja yang perlu mendapatkan informasi dari kita dan terus memberikan informasi mengenai situasi terbaru kepada pihak terkait. Dan untuk menjalankan semua itu perusahaan berpegang pada manual krisis yang ada”.

Keterangan Bapak Untung mengenai pengendalian krisis yang dilakukan Megasari adalah Perusahaan mengadakan program pengendalian krisis yang ditujukan untuk publik diluar dan didalam perusahaan, untuk publik diluar perusahaan target utamanya adalah konsumen sedangkan untuk publik didalam perusahaan target utamanya adalah karyawan. Untuk karyawan disampaikan melalui meeting, training dan intranet perusahaan, sementara untuk konsumen disampaikan melalui surat kabar, jumpa pers, dan website kami. Perusahaan juga melakukan kunjungan ke dua korban keracunan, membuat crisis centre, memberikan briefing pada customer service, mendata siapa saja yang perlu mendapatkan informasi dan terus memberikan informasi mengenai situasi terbaru kepada pihak yang terkait. Dan untuk menjalankan semua itu perusahaan berpegang pada manual krisis yang ada.

Pernyataan Bapak Ahmad dan Bapak Untung diperkuat oleh pernyataan dari Bapak Irawan K, customer Megasari dari Carrefour.

“Saya lihat di media mereka mengakui kesalahannya, dan juga meminta maaf kepada konsumen. Tapi kayanya pernyataan resmi dari mereka cuma sekali ya, sisanya ya karena dikejar-kejar wartawan aja. Mereka juga menarik produk Hit yang dianggap berbahaya lalu menggantinya dengan yang lebih aman. Juga

kalau tidak salah waktu itu mereka punya crisis centre ya, jadi masyarakat bisa tanya-tanya kesitu”.

Juga diperkuat penyataan dari Bapak Amir, BPOM :

“Setahu saya mereka meminta maaf dan mengakui kesalahannya di media, mereka juga bersedia menarik produknya dari pasaran dan membuat penggantinya yang lebih aman, seingat saya mereka juga punya pusat krisis dan saya lihat mereka cukup terbuka pada media. Selain itu mereka juga selalu mengirimi kami berita terbaru mengenai kasus tersebut pada kami”.

Keterangan dari Ibu Endah, customer Hit perorangan :

“Pada saat menjenguk saudara saya, Megasari meminta maaf kepada kami dan berjanji akan membayar biaya pengobatan sampai sembuh total asalkan penyebab keracunan itu karena Hit yang dipake dengan benar, terus saya lihat di TV mereka mengakui mereka salah dan minta maaf juga kepada masyarakat, di internet juga ada”.

Keterangan para nara sumber diatas dibuktikan oleh Megasari dengan memperlihatkan dokumen perusahaan yang terkait dengan krisis Hit berupa manual krisis, siaran pers serta daftar media yang diundang pada saat jumpa pers, dan daftar tanya jawab yang dipersiapkan Megasari untuk menghadapi pertanyaan dari publik.

Selain menanyakan program pengendalian krisis, penulis juga menanyakan kendala yang dihadapi Megasari dalam melakukan program pengendalian krisis.

Bapak Ahmad Bedah menuturkan bahwa :

“Kendala yang dihadapi adalah persepsi buruk konsumen yang sudah terbentuk dan bad campaign yang dilakukan perusahaan pesaing yang semakin menjatuhkan citra Hit. Kami mengatasinya dengan cara menggandeng media dan mendekati beberapa wartawan yang mempunyai impresi yang baik mengenai Hit dan Megasari. Dan berharap agar berita-berita yang muncul selanjutnya dapat lebih baik bagi perusahaan dan sedikit demi sedikit dapat merubah persepsi buruk yang sudah terlanjur timbul dimasyarakat”.

Bapak Ahmad Bedah mengemukakan bahwa dalam melakukan program pengendalian krisis kendalanya yaitu persepsi buruk yang sudah terbentuk di

masyarakat dan bad campaign yang dilakukan pesaing. Dan Megasari mengatasinya dengan cara menggandeng media dan mendekati beberapa wartawan yang mempunyai impresi baik terhadap Hit dan Megasari. Hal tersebut dilakukan agar berita-berita yang muncul selanjutnya dapat lebih baik bagi Megasari, dan merubah persepsi buruk yang sudah terlanjur terbentuk di masyarakat.

Bapak Ahmad juga memberikan informasi nama-nama media yang meliput peristiwa inspeksi mendadak di pabrik Megasari, dan sekaligus merupakan media yang diundang pada saat Megasari mengadakan jumpa pers di Hotel Ibis Kemayoran.

“Pada saat sidak di Gunung Putri saya mencatat ada Metro Tv, SCTV, RCTI, AN TV, TPI, Trans TV, Indosiar, Kompas, Suara Pembaruan. Dan ada beberapa wartawan lagi yang saya tak jelas dari mana. Sementara untuk media saat jumpa pers nanti saya kasih catatannya, kurang lebih sama saya rasa”.

Pada saat sidak di Gunung Putri, Bapak Ahmad mencatat nama-nama media yang ikut hadir yaitu Metro Tv, SCTV, RCTI, AN TV, TPI, Trans TV, Indosiar, Kompas, Suara Pembaruan dan ada beberapa wartawan lagi yang tak jelas berasal dari mana. Nama-nama media itu pun sama dengan catatan media yang diundang pada saat jumpa pers yang diberikan oleh staff humas Megasari kepada penulis.

Keterangan tersebut diperkuat dengan adanya dokumen perusahaan berupa daftar media yang diundang pada saat jumpa pers di Hotel Ibis Kemayoran pada tanggal 14 Juni 2006.

Ketika penulis menanyakan tentang kerjasama yang dilakukan oleh Megasari dalam pengendalian krisis, penjelasan dari Bapak Ahmad adalah :

“Kami bekerjasama dengan pihak BPOM terutama dalam jumpa pers untuk menjelaskan bahwa sebenarnya Hit cair dan aerosol telah lulus tes sebelumnya

dan ada sertifikat resminya, walaupun ternyata di kemudian hari DepTan merasa merekalah yang berhak mengeluarkan izin tersebut. Kami juga bekerjasama dengan pihak kepolisian dan RSCM untuk menyelidiki penyebab keracunan yang menimpa dua orang konsumen Hit, dan tentu saja dengan media yang selalu menginformasikan mengenai perkembangan kasus tersebut”.

Keterangan tersebut diperkuat dengan keterangan dari Bapak Amir, staff BPOM. “Waktu jumpa pers, pihak kami salah satu nara sumbernya. Waktu itu kami diminta untuk menjelaskan bahwa Hit yang bermasalah sebenarnya sudah lulus tes sebelumnya dan ada sertifikatnya”.

Keterangan tersebut diperkuat dengan adanya sertifikat dari BPOM yang menyatakan bahwa Hit cair dan aerosol sudah lulus tes standarisasi BPOM.

6. Evaluasi Hasil Penanganan Krisis

Keterangan Bapak Ahmad Bedah mengenai langkah evaluasi PT. Megasari adalah:

“Kalau untuk evaluasi secara formal sih tidak ada ya. Kami hanya mengadakan rapat intern saja setelah krisis kami anggap sudah melewati puncaknya, rapat tersebut untuk mengetahui bagaimana keadaan masing-masing divisi. Selain itu, tentu kami menjadikan krisis tersebut sebagai suatu pembelajaran di masa yang akan datang, karena kasus Hit merupakan krisis pertama yang dihadapi oleh Megasari dan mudah-mudahan sih yang terakhir ya”.

Ketika ditanya oleh penulis mengenai langkah evaluasi yang dilakukan Megasari, Bapak Ahmad menjawab bahwa Megasari tidak melakukan evaluasi secara formal. Megasari hanya mengadakan rapat intern setelah krisis dianggap telah melewati puncaknya. Rapat tersebut diadakan utuk mengetahui bagaimana keadaan masing-masing divisi. Selain itu, Megasari juga menjadikan krisis tersebut sebagai suatu pembelajaran di masa yang akan datang. Dan berharap mudah-mudahan krisis yang menimpa Hit merupakan krisis pertama dan terakhir yang menimpa Megasari.

Sementara itu, keterangan dari Bapak Untung mengenai langkah evaluasi krisis yang dilakukan PT. Megasari, adalah :

“Kalau evaluasi khusus, riset misalnya, sih tidak ada. Hanya setahu saya pada saat krisis ataupun sesudahnya tim krisis sering sekali mengadakan rapat, dan setahu saya rapat tersebut untuk mengetahui perkembangan kasus Hit dan juga untuk mengecek keadaan masing-masing divisi. Walaupun tidak semua rapat saya ikut hadir, tapi ada beberapa rapat penting yang saya ikuti waktu itu, karena kebetulan saya adalah notulen tambahan atau cadangan selain sekretaris GM”.

Keterangan yang diberikan Bapak Untung tidak berbeda dengan keterangan Bapak Ahmad. Bapak Untung menjelaskan bahwa Megasari tidak melakukan evaluasi khusus seperti riset misalnya. Menurut sepengetahuan beliau, tim krisis Megasari hanya mengadakan rapat intern untuk mengetahui perkembangan kasus Hit dan untuk mengecek keadaan masing-masing divisi.

Walaupun Megasari tidak melakukan evaluasi penanganan krisis secara formal, tapi Bapak Ahmad menjelaskan bahwa ada beberapa aktivitas humas dalam rangka perbaikan citra perusahaan yang dilakukan setelah krisis dianggap telah melewati puncaknya seperti membuat iklan baru, meningkatkan kegiatan sosial, mengaktifkan pusat pengaduan konsumen lewat telepon ataupun website Megasari, seperti penjelasannya dibawah ini :

“Membuat iklan baru untuk meyakinkan konsumen bahwa Hit baru memang aman, meningkatkan kegiatan sosial, mengaktifkan Call Center atau pusat Pengaduan konsumen via telepon ataupun website”.

Keterangan Bapak Untung mengenai aktivitas humas pasca krisis :

“Hmm, kayanya waktu itu bikin iklan baru, terus bikin acara - acara sosial seperti pos kesehatan gratis, mengaktifkan website, mengaktifkan pusat pengaduan konsumen”.

Bapak Untung menjelaskan bahwa Megasari membuat iklan baru, membuat acara sosial seperti pos kesehatan gratis, mengaktifkan website dan mengaktifkan pusat pengaduan konsumen. Keterangan dari Megasari diatas diperkuat dengan adanya

website resmi Megasari www.megasari.ac.id yang dapat diakses dari mana saja oleh para pelanggan, dan dapat dijadikan tempat untuk menyampaikan keluhan mengenai produk Megasari, dan nomor pengaduan pelanggan yang dicantumkan di tiap kemasan Hit dan produk Megasari lainnya serta iklan baru yang bertajuk Hit generasi baru dan posko kesehatan gratis yang diadakan Megasari hampir tiap 6 bulan sekali yang masih dilakukan sampai saat ini dan diadakan diaerah kumuh dikawasan Kemayoran Jakarta Pusat.

Keterangan diatas diperkuat dengan keterangan dari para customer Hit, Ibu Endah :

“Hmm, ya itu mereka meluncurkan Hit baru yang katanya lebih aman bagi konsumen, dan sekarang mereka mencantumkan kandungan zat pada kemasannya, terus ada juga nomor pengaduan untuk konsumen”

Keterangan dari Bapak Irawan K :

“Meluncurkan Hit baru yang lebih aman dan tidak lagi menggunakan zat berbahaya, mencantumkan kandungan zat pada kemasan, mencantumkan nomor telepon pengaduan, mereka juga punya website khusus sekarang”.

4.3. Analisa Data

Proses analisa data diperlukan untuk mencari hubungan antara teori / konsep yang ada dengan hasil penelitian yang diperoleh. Dengan adanya analisa data ini, penulis akan menguraikan analisis hasil penelitian yang diperoleh dari wawancara berstruktur dan dari dokumen perusahaan yang ada, sehingga diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai manajemen krisis PT. Megasari Makmur dalam menghadapi krisis akibat isu kandungan zat berbahaya pada obat nyamuk Hit cair dan aerosol.

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa divisi humas yang waktu itu masih bergabung dengan divisi marketing berperan sebagi pelaksana

inti dalam manajemen krisis tersebut. Kedudukan divisi humas Megasari dalam struktur organisasi perusahaan pada waktu krisis terjadi masih bernama Departemen Marketing dan Komunikasi yang tugas dan perannya lebih terfokus kepada kegiatan pemasaran, tapi setelah krisis terjadi Megasari membuat suatu divisi humas khusus yang berada di bawah naungan Departemen Marketing dan bertanggung jawab langsung kepada Direktur Marketing. Sehingga dalam menjalankan tugasnya divisi tersebut perlu untuk melalui berbagai macam prosedur untuk dapat sampai ke pimpinan tertinggi.

Kembali ke kasus yang menimpa Hit, peristiwa tersebut sudah masuk kedalam kategori krisis dikarenakan adanya penarikan produk secara massal atau besar-besaran dan adanya korban keracunan yang menyebabkan perusahaan menjadi perhatian luas yang cenderung tidak menyenangkan dari media nasional serta kelompok-kelompok seperti pelanggan, karyawan, politisi, pemegang saham, serikat perdagangan serta kelompok penekan yang dengan satu alasan atau lebih memiliki kepentingan yang dibenarkan terhadap kegiatan-kegiatan organisasi.

Dalam mengelola suatu krisis, manajemen krisis merupakan bagian penting dari pemecahan masalah. Suatu teori manajemen yang disusun dalam 6 (enam) langkah yang terdiri dari pengidentifikasian krisis, penganalisaan krisis, pengisolasian krisis, pemilihan strategi penanganan krisis, program pengendalian krisis, dan evaluasi hasil penanganan krisis.

Dalam melakukan langkah-langkah manajemen krisis diperlukan pembentukan tim khusus manajemen krisis yang bertugas sebagi penyusun dan pelaksana dari manajemen krisis tersebut. Berdasarkan penelitian yang dilakukan penulis, PT. Megasari mempunyai tim khusus yang menangani krisis akibat isu kandungan zat berbahaya yang menimpa produknya yaitu Hit cair dan aerosol.

Tim khusus tersebut dibentuk setelah krisis terjadi yaitu hari ketiga setelah inspeksi mendadak terjadi. Tim tersebut dibentuk di kantor pusat PT. Megasari di Jalan Haji Ung Kemayoran berdasarkan hasil rapat intern para top manajemen perusahaan dan berkedudukan di tempat yang sama yaitu di kantor pusat PT. Megasari Makmur.

Dalam mengelola krisis, pihak Megasari khususnya divisi humas menerapkan 6 (enam ) langkah manajemen krisis menurut Rhenald Kasali, walaupun langkah-langkah tersebut tidak seluruhnya dilakukan.

Langkah pertama yaitu pengidentifikasian krisis yang merupakah langkah pertama yang dilakukan oleh PT. Megasari dalam mengelola krisis tersebut. Pengidentifikasian krisis ini mencakup pencarian informasi atau data-data melalui media massa seperti televisi, koran, internet, radio mengenai inspeksi mendadak yang berujung pada perintah penarikan produk secara massal dan mengenai kasus keracunan yang dilaporkan oleh LBH Kesehatan ke pihak kepolisian Polda Metro Jaya pada tanggal 4 Juni 2006 karena dianggap melanggar UU Perlindungan Konsumen No.8 Tahun 1999 dengan ancaman hukuman 2 (dua) tahun penjara dan denda 5 (lima) milyar rupiah. Langkah humas dalam mengidentifikasi krisis tersebut sudah sesuai dengan langkah pertama manajemen krisis dalam teori Rhenald Kasali.

Langkah pengidentifikasian krisis tersebut diperkuat dengan adanya kliping pers yang diperlihatkan pihak Megasari kepada penulis yang beberapa beritanya dapat dilihat di lampiran. Megasari melakukan pengumpulan data tersebut sejak tanggal 7 Juni 2006, tepat pada saat inspeksi mendadak terjadi.

Langkah kedua adalah penganalisaan krisis yang dilakukan Megasari dengan mengadakan rapat intern yang dihadiri oleh top manajemen ditambah sekretaris General Manager. Didalam rapat itu mereka membahas penyebab terjadinya krisis, separah apa krisis tersebut, siapa-siapa yang dianggap mampu untuk mengatasinya dan dan langkah-langkah apa saja yang akan diambil.

Hasil dari analisis tersebut, krisis tersebut terjadi karena PT. Megasari dianggap telah menggunakan dua zat berbahaya pada produksi obat nyamuk Hit cair dan aerosol, kedua zat tersebut adalah Propoxur dan Diklorvos yaitu zat turunan Chlorine yang sejak puluhan tahun dilarang penggunaannya di dunia dan dianggap bisa mengakibatkan keracunan terhadap darah, gangguan syaraf, gangguan pernapasan, gangguan terhadap sel pada tubuh, kanker hati dan kanker lambung.

Dari data yang didapatkan Megasari, inspeksi mendadak itu juga dilakukan karena Departemen Pertanian merasa bahwa Megasari tidak mempunyai izin resmi dari mereka, dan tidak mengindahkan surat teguran dari mereka untuk menghentikan penggunaan kedua zat tersebut di dalam obat nyamuk Hit cair dan aerosol. Akibat alasan-alasan itulah maka keluar perintah penarikan dari Departemen Pertanian RI melalui komisi pestisidanya yang menginstruksikan agar semua produk Hit cair dan aerosol yang ada di pasaran maupun di gudang harus dimusnahkan padahal keseluruhan jumlahnya selama produksi Mei 2004 sampai Mei 2006 adalah sebanyak 2.293.964 kg HIT jenis aerosol dan sebanyak 4.896.805 liter untuk jenis cair atau bila dirupiahkan total kerugian dari penarikan itu adalah sekitar lima belas milyar rupiah.

Selain itu krisis juga bertambah parah dengan adanya laporan dua korban keracunan dari pihak LBH kesehatan ke kepolisian yang membuat berita

penarikan tersebut makin menjadi sorotan di media massa. LBH Kesehatan melaporkan Megasari karena dianggap telah melanggar UU Perlindungan Konsumen No.8 Tahun 1999. Dan bila Megasari tidak menarik produk Hit yang bermasalah itu dalam dua bulan maka pemerintah akan mencabut izin operasional Megasari yang berarti penutupan pabrik untuk selamanya.

Rapat itu juga menghasilkan suatu keputusan penting berupa pembentukan tim manajemen krisis dan penunjukan juru bicara resmi perusahaan, notulen resmi perusahaan dan pengacara resmi perusahaan yang juga berstatus manajer personalia perusahaan.

Langkah Megasari dalam penganalisaan krisis tersebut sudah sesuai dengan teori manajemen krisis menurut Rhenald Kasali, disebutkan dalam teori tersebut bahwa pada penganalisaan krisis, praktisi humas dapat menggunakan metode 5W +1H yaitu mencari penyebab krisis, mengapa dan bagaimana terjadinya krisis, sejauh mana krisis terjadi, dimana mulai terjadi hingga siapa-siapa personil yang mampu diajak mengatasi krisis tersebut, dan langkah-langkah apa yang dapat diambil untuk mengatasinya.

Langkah penganalisaan krisis tersebut dapat dibuktikan dengan adanya catatan perusahaan mengenai agenda dari rapat tersebut, walaupun penulis tidak dapat mendapatkan izin untuk menjadikannya sebagai bahan lampiran.

Langkah ketiga adalah pengisolasian krisis. Langkah ini dilakukan Megasari dengan cara pembentukan tim manajemen krisis dan pembentukan crisis centre.