• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Gambaran Umum Qaryah Thayyibah

Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah (KBQT) merupakan salah satu lembaga Pendidikan Kesetaraan Non Formal yang beralamatkan di Jl. Raden Mas Said No.19 RT 01 RW 02 Desa Kalibening, Kelurahan Kalibening, Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga, Provinsi Jawa Tengah. Qaryah Thayyibah berada di tengah-tengah pedesaan dikelilingi persawahan yang hijau dan luas membuat lingkungan memiliki udara segar dan pemandangan yang alami.’

Tak hanya itu, Qaryah Thayyibah berada ditengah-tengah suasana Pondok Pesantren tingkat Madrasah yang menambah lingkungan sekitar menjadi kental dengan kultur agama. Kultur adat, kebiasaan, dan pola hidup di pedesaan pun terasa. Kehidupan di sana membuat orang menjadi tenang dan seolah-olah tidak mau keluar dari desa tersebut, sedangkan mata pencaharian sebagaian penduduk adalah sebagai petani dan pedagang.

Letak komunitas ini tak sulit untuk ditemukan. Hanya berjarak kurang lebih 3 Km dari Terminal Tingkir dan mengikuti arah Desa Kalibening. Lokasi dari jalan utama, masuk desa Kalibening dan mengiikuti jalan akan menemukan persimpangan pertigaan kecil, kemudian mengambil arah kanan akan menemukan sekolah SMK N 3

75

Salatiga di sebelah kanan jalan. Kemudian jalan lurus, ambil arah kanan dari pertigaan kedua. Jalan lurus sampai ujung dan ambil kiri, 50 meter dari situ akan menemukan papan nama “LSD Qaryah Thayyibah” di sebelah kiri jalan. Ada gang kecil masuk dan disitulah tempat anak-anak Qaryah Thayyibah bernaung untuk mendapatkan pengetahuan.

Lokasi ini memang membuat orang bingung karena ketika masuk gang, tidak ditemukan gedung sekolah, lapangan yang luas, tiang bendera, ruang kelas, atau bahkan ruang UKS dan perpustakaan. Kita hanya melihat rumah penduduk dan satu gedung musholla yang menghadap ke jalan. Sangat membingungkan karena tidak ada tulisan mengenai Pendidikan Alternatif ataupun yang berhubungan dengan nama lembaga Qaryah Thayyibah.

Jika telah sampai di Qaryah Thayyibah, maka akan menemukan satu gedung yang belum selesai dibangun namun sudah ditempati sebagai pusat pembelajaran, warga belajar menyebutnya dengan “RC” (Resource Center). Gedung ini terletak disamping rumah pak AB yang dikelilingi oleh pohon besar dan tempat duduk bebatuan sebagai tempat belajar.

Gedung ini memiliki 3 lantai, dengan lantai pertama biasanya digunakan untuk kegiatan upacara, pembelajaran ataupun pertemuan dari kunjungan sekolah lain maupun perguruan tinggi yang dilengkapi dengan 2 rak buku besar. Buku-buku tersebut merupakan hasil donasi dari perpustakaan nasional, sehingga klasifikasi bukunya pun beragam. Selain itu dilengkapi dengan monitor dan soundsystem beserta karpet.

76

Pada lantai dua terdapat beberapa kamar yang biasanya digunakan sebagai tempat tidur tamu yang akan menginap baik pengunjung maupun peneliti, sedangkan di lantai tiga masih berbentuk gedung terbuka, dan belum bisa digunakan. Setiap lantai di gedung ini telah dilengkapi dengan kamar mandi yang dapat digunakan. Selain gedung RC, juga terdapat gedung RK (Ruang Komputer) yang biasa digunakan warga belajar untuk mengakses internet dan mengerjakan segala tugas pembelajaran.

Pada umumnya, layaknya sebuah sekolah pasti akan dilengkapi dengan fasilitas gedung sekolah, ruang kelas, perpustakaan, ruang kepala sekolah, ruang guru, UKS, lapangan sebagai tempat upacara dan lain sebagainya. Berbeda di Qaryah Thayyibah (QT) justru mereka tidak mementingkan gedung sekolah. Mereka lebih membutuhkan jaringan internet sebagai media dalam proses pembelajaran dan pengayaan.

Bagi mereka, belajar tidak harus di kelas yang mewah, dengan guru yang profesional, dan biaya yang mahal. Akan tetapi dengan menggunakan internet, mereka dapat mengakses pengetahuan secara luas dan akan menambah wawasan yang kita butuhkan. Qaryah Thayyibah dilengkapi dengan ruang komputer yang dapat digunakan untuk mengakses internet. Jumlah komputer pun tak seberapa hanya terdapat kurang lebih 8 komputer yang bisa digunakan. Adanya jaringan internet inipun karena mendapatkan dukungan dari salah satu pengusaha Indonet, sehingga dapat melengkapi fasilitas warga belajar.

77 2. Sejarah Berdirinya Qaryah Thayyibah

Awal berdirinya pendidikan kesetaraan di Qaryah Thayyibah dimulai dari pendirian Serikat Paguyuban Petani-Qaryah Thayyibah (SPP- QT) pada tahun 1999 yang merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di daerah Kalibening, Salatiga. Dalam struktur organisasi di LSM ini terdapat divisi pendidikan yang bertujuan untuk menggagas dunia pendidikan. Pada waktu itu, pak AB sedang menjabat sebagai ketua RW dan ia merasakan keresahan dalam dunia pendidikan di Indonesia.

Pada awalnya, pak AB ingin menyekolahkan anaknya yang pertama di SMP formal, namun terdapat kendala dalam pembiayaan. Kemudian ia berinisiatif untuk mendirikan sekolah sendiri yang murah dan berkualitas. Pak AB kemudian mengajak para paguyuban petani dan orang tua yang terkendala biaya dalam menyekolahkan anaknya, untuk membahas dan mendirikan lembaga pendidikan sendiri. Jumlah orang tua yang hadir pada saat itu adalah 30 orang.

Pak AB mengatakan, “jika terdapat kesepakatan minimal 10 orang dari orang tua warga belajar, maka sekolah akan langsung mendirikan sekolah.” Dalam pembahasan pendirian lembaga pendidikan ini tentu menemukan pro dan kontra, karena masih banyak orang tua yang meragukan kualitas sekolah. Namun, dari jumlah orang tua yang hadir 12 orang tua yang menyepakati untuk mendirikan lembaga pendidikan. Tidak dapat dipungkiri bahwa memang, masyarakat Kalibening masih banyak yang terkendala biaya untuk membiayai anaknya melanjutkan sekolah.

78

Kemudian pak AB beserta 12 orang tua peserta didik tersebut mendirikan komunitas belajar yang murah di desanya.

Pendirian Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah (KBQT) ini tak dapat dipisahkan oleh Serikat Paguyuban Petani-Qaryah Thayyibah (SPP- QT) yang menaunginya sebagai produk gagasan pendidikan. Serikat Paguyuban Petani-Qaryah Thayyibah (SPP-QT) merupakan lembaga masyarakat yang berprinsip sebagai organisasi Civil Society yang beranggotakan para petani. Pak AB beranggapan bahwa suatu desa yang indah akan menjadi maju ketika ia mampu menjadi desa yang berdikari, berdaya dan berdaulat. Seperti yang dikatakan beliau pada saat diwawancarai peneliti

Pada tahun 1999 berdiri Serikat Paguyuban Petani QT (SPP-QT). Serikat Paguyuban Petani (SPP-QT) itu organisasi berprinsip civil society berbasis petani yang membernya itu paguyuban petani. Paguyuban petani itu CSO (Civil Society Organisation) petani level desa. Lalu kalau berbicara indikator desa yang berdaya, mesti ada lembaga pendidikan yang berada di desa. Terus kita menginisiasi komunitas belajar ini mestinya untuk melengkapi gerakan pemberdayaan di desa. Nanti dipayungi oleh paguyuban petani. Jadi, komunitas belajar ini dibawah paguyuban petani. Makanya namanya Qaryah Thayyibah (QT) artinya adalah desa yang indah. (WWC.AB/25.04.2016).

Seiring berjalannya waktu, pada tahun 2003 akhirnya didirikan Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah (KBQT) dengan pendekatan pada Community Based Education (CBE), sehingga penamaannya komunitas. Pada awal tahun, komunitas ini menjadi Pendidikan Alternatif-Qaryah Thayyibah (PA-QT) yang menginduk di sekolah formal, sehingga kurikulumnya sama secara nasional.

79

Pada waktu itu, Qaryah Thayyibah (QT) belum memiliki gedung. Konsep pendidikan yang ditekankan di Qaryah Thayyibah (QT) adalah berbasis kebutuhan, dan warga belajar menggunakan alam sebagai media pembelajarannya. Warga belajar dari rumah ke rumah warga belajar secara bergantian sebagai tempat belajar bersama. Mereka belajar langsung praktik di lapangan, misalnya belajar geografi mengenai resapan air, para warga belajar datang ke rumah salah satu rumah warga untuk mempelajarinya, namun melihat perkembangannya kegiatan ini tidak menjadi efektif dan kodusif. Pembelajaran dipusatkan di sekitar rumah pendiri Qaryah Thayyibah.

Seiring perkembangannya komunitas ini memisahkan diri dari sekolah formal. Qaryah Thayyibah (QT) memisahkan diri dari sekolah formal karena banyaknya tuntutan yang harus dipenuhi dalam pembelajaran di sekolah. Selain itu, warga belajar Qaryah Thayyibah juga beranggapan bahwa di sekolah formal mindset anak semua sama, yaitu bersaing untuk mendapatkan nilai. Seperti yang dinyatakan oleh PD1 salah satu pendamping QT dan alumni angkatan pertama QT sewaktu diwawancarai peneliti mengatakan bahwa, “dulu kita masih nginduk di sekolah formal, jadi kurikulum sama nasional. Terus kita mikir kenapa kita harus kejar-kejaran nilai? Saingan nilai? Pada akhirnya dirombak.” (WWC/PD1/28.04.2016).

Berangsur-angsur pada tahun 2007 Qaryah Thayyibah menjadi lembaga Pendidikan Kesetaraan setara dengan tingkat SMP-SMA atau

80

setara dengan program paket A dan paket B. Lambat laun pak AB memiliki idealisme pemikiran bahwa anak harus diberikan kebebasan dalam belajar, sehingga tidak ada penekanan terhadap anak untuk berkembang. Kemudian, komunitas belajar ini menekankan kemerdekaan anak dalam belajar dan mengembalikan fitrahnya sebagai manusia. Basis pembelajarannya adalah kreativitas pencarian jati diri dan pendidikan kritis.

Seiring berjalannya waktu, perkembangan Qaryah Thayyibah semakin melesat dan dikenal oleh masyarakat luas. Bahkan komunitas belajar ini banyak mengundang perhatian dari masyarakat dan media untuk mendatangi dan meliput konsep pembelajaran yang dijalankan di Qaryah Thayyibah, misalnya dari program televisi Kick Andy, Trans7, TVRI, dan lain sebagainya. Hasil proses pembelajarannya pun semakin meningkat karena banyak menghasilkan prestasi baik dari warga belajar maupun Qaryah Thayyibah sendiri (terlampir).

Proses perkembangan pembelajaran yang dijalankan di Qaryah Thayyibah berangsur-angsur mengalami perubahan, namun prinsipnya sama. Perubahan terjadi karena memang generasi penerus yang berbeda dan semua harus dikembalikan pada pemilik jaman. Seperti yang dinyatakan oleh pak AB ketika diwawancarai peneliti sebagai berikut:

proses pembelajaran dari dulu sampai sekarang rincinya sama karena prinsip-prinsipnya sama. Menjadi beda karena disepakati anak sehingga ada perubahan. Ya karena berprinsip, berpusat pada anak (Student Learning Center). Konsekuensinya akan terus berubah karna akan menjadi dinamis. Dan tidak berbeda, orang itu akan selalu berpikir. Kreativitasnya semakin meningkat karena

81

sudah kaya dengan tinggalan masa lalu dan ada yang dikejar. (WWC/AB/25.04.2016).

3. Visi dan Misi Qaryah Thayyibah

Setiap pendirian suatu lembaga pendidikan akan dimulai dari pembuatan Visi dan Misi yang jelas, sebagai tolok ukur keberhasilan dari tujuan yang diharapkan. Berdasarkan dokumen yang ada di Qaryah Thayyibah, terdapat Visi dan Misi dari Qaryah Thayyibah sebagai berikut :

Visi

a. Terwujudnya PKBM Qaryah Thayyibah yang mandiri, dan berbasis lokal yang mengutamakan pendidikan budi pekerti, keterampilan yang bermutu berkeadilan dan berkeadaban.

b. Menjadi wadah sekaligus teman bagi seluruh warga belajar agar berani memilih untuk menjadi orang yang berani, jujur, kritis, progresif, mandiri, adil, berdaya, berpikir merdeka, toleran, mau bekerja keras, dan berpihak pada kaum terpinggirkan.

Misi

a. Melakukan gerakan menuju terwujudnya masyarakat yang kondusif bagi terwujudnya warga yang berkeadaban mulia.

b. Memperjuangkan adanya waktu dan kesempatan bagi seluruh warga belajar untuk berpikir merdeka dan berkeadilan sehingga setiap manusia berkesempatan untuk berkembang sesuai dengan potensi dan bakat yang bisa diasah dan dikembangkan menurut kebutuhannya.

82

c. Memperjuangkan adanya keadilan dan kesetaraan bagi seluruh warga belajar untuk melakukan perencanaan, aksi, evaluasi, refleksi dan penetapan target dengan jujur dan tanpa tekanan dari siapapun dalam rangka menyiapkan masa depan mereka.

4. Struktur Organisasi

Pada dasarnya untuk mempermudah pembagian tugas dan tanggungjawab dalam suatu organisasi, perlu dilengkapi dengan struktur organisasi yang jelas. Hal ini bertujuan untuk mempermudah dan memperlancar jalannya suatu organisasi, namun di Qaryah Thayyibah ini tidak menggunakan struktur organisasi secara tertulis sistematis dan terstruktur.

Berdasarkan wawancara dengan pendiri Qaryah Thayyibah, struktur organisasi di lembaga ini dapat dituliskan yaitu, Ketua Pengelola, Pengelola, Administrasi, dan Pendamping. Meskipun tidak ada struktur organisasi secara tertulis, namun semua kegiatan bisa dilakukan bersama karena memang sifatnya fleksibel.

5. Profil Pendiri Qaryah Thayyibah

Tidak seperti halnya di sekolah lain, jika terdapat sebutan kepala sekolah untuk bagian jabatan tingkat atas, maka di Qaryah Thayyibah tidak ditemukan panggilan tersebut. Panggilan untuk jabatan tertinggi di lembaga ini adalah ketua pembina/pengelola atau kepala suku. Pemberian nama tersebut hanya untuk mempererat hubungan keluarga, karena

83

memang lembaga ini bukan lembaga formal yang harus ada aturan tersistematis.

Qaryah Thayyibah dipimpin oleh seorang pria berusia 51 tahun. Ia merupakan seorang yang sangat sederhana dan apa adanya. Jika dilihat dari tampilannya, maka ia tidak terlihat seperti seorang pemimpin di lembaga ini. Dengan gaya yang sederhana, rambut terikat di belakang dan gaya bicara yang halus, membuat orang tertarik untuk mengajak diskusi mengenai pendidikan.

Warga belajar biasa memanggilnya dengan sebutan kepala suku ini merupakan seorang pendiri Qaryah Thayyibah. Ia merupakan salah satu alumni IAIN Salatiga yang mengambil jurusan Pendidikan Guru Agama, dan merupakan mahasiswa yang aktif berorganisasi di kampus kala itu. Namun, setelah lulus ia tidak melanjutkan untuk menjadi pekerja buruh, ia aktif di berbagai kegiatan sosial salah satunya ialah LSM di daerahnya.

Ia beserta masyarakat yang lain bekerjasama untuk mengembangkan LSM yang ada di desanya, yang kemudian melahirkan komunitas belajar yang saat ini beralih menjadi lembaga Pendidikan Non Formal yang diberi nama lembaga pendidikan kesetaraan Qaryah Thayyibah. Separuh usia Pak AB ini ia gunakan untuk kegiatan sosial dan mengembangkan Pendidikan Kesetaraan Qaryah Thayyibah. Selain itu, ia juga semangat untuk menjadi pegiat sosial dalam dunia pendidikan. Ia sering menjadi pembicara dalam kegiatan seminar nasional maupun kegiatan lainnya.

84

Pak AB merupakan sosok yang ramah dan memiliki pemikiran- pemikiran yang tajam terhadap dunia pendidikan. Salah satu tokoh pendidikan yang ia kagumi adalah Paulo Freire. Ia tertarik terhadap tokoh itu semenjak ia membaca buku Paulo Freire ketika masih di perguruan tinggi. Tak heran jika pemikiran-pemikirannya dipengaruhi oleh Freire. Konsep pendidikan yang dianut di Qaryah Thayyibah pun mengambil dari perspektif Paulo Freire, karena ia melihat kondisi-kondisi pendidikan sekarang yang harus direkonstruksi.

6. Profil Pendamping di Qaryah Thayyibah

Jika di sekolah formal orang yang memberikan pendidikan disebut guru, maka di Qaryah Thayyibah biasa disebut dengan pendamping. Jumlah pendamping yang ada di Qaryah Thayyibah adalah 14 orang. Setiap pendamping mengampu satu kelas dan forum untuk memantau perkembangan para warga belajar. Rata-rata umur pendamping berkisar dari 23 tahun sampai 51 tahun. Sebagian besar pendamping di Qaryah Thayyibah merupakan lulusan pendidikan agama di perguruann tinggi IAIN Salatiga, namun terdapat juga alumni Qaryah Thayyibah yang diangkat menjadi pendamping. Jumlah pendamping di Qaryah Thayyibah memang tidak sebanyak di sekolah-sekolah lain. Hal ini karena disesuaikan dengan kebutuhan, sehingga jumlahnya menyesuaikan dengan jumlah kelas.

Berdasarkan studi dokumen yang dilakukan peneliti, jumlah pendamping dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut:

85

Tabel 1. Jumlah Pendamping PKBM Qaryah Thayyibah

Sumber: (Hasil olah data dokumen)

Tugas pendamping adalah untuk mendampingi dan mengawasi perkembangan anak. Selain itu, pendamping tidak memiliki kewenangan untuk membatasi hak anak dalam berekspresi maupun berkarya. Pendamping merupakan fasilitator bagi warga belajar di Qaryah Thayyibah, sehingga warga belajar menganggap pendamping sebagai teman atau rekan dalam belajar.

Berdasarakan wawancara yang dilakukan peneliti, dapat diketahui bahwa peran pendamping tak hanya memberikan pengetahuan, namun mendampingi dan mengontrol setiap perkembangan warga belajar agar potensi yang ada dalam dirinya dapat dikembangkan dengan baik. Berikut dijelaskan oleh bapak AB sebagai pendiri Qaryah Thayyibah yakni:

Semua pendamping tugasnya hanya mendampingi tidak sampai mengajari atau memberikan. Nanti lebih bagusnya menyemangati tidak harus mengajari, sehingga guru gak harus pinter, semua saling belajar. Lebih banyak sebagai penyemangat. Sering kan anak dijadikan sebagai objek yang didik, dijadikan, terus dipintarkan, diperbaiki moralitasnya. Bukan kayak gitu. Anak itu subjek yang berproses menjadi baik dan berpintar. Bagaimana menjadikannya ya disemangatin. Jadi, pendamping ya bukan menjadikan tapi menemani, menyemangati untuk berproses menjadi. Di sekolah itu cenderung guru menjadikan dan memintarkan sesuai parameter yang dimiliki. Guru berasumsi bahwa anak harus dipintarkan dan diberitahu. (WWC/AB/25.04.2016).

No Jabatan Laki-laki Perempuan Jumlah

1 Ketua Pengelola Ѵ 1

2 Pendamping Ѵ 7

3 Pendamping Ѵ 6

86

Dalam hal ini, peran pendidik sebagai jembatan/moderator dalam diskusi, sehingga tidak mengarahkan anak. Bapak AB sebagai pendiri Qaryah Thayyibah menjelaskan bahwa:

Pendamping berperan sebagai jembatan untuk kegiatan diskusi. Bukan mengarahkan. Ya mengarahkan itu kadang-kadang merampas hak anak. Sebenarnya anak sudah punya arahan sendiri. Nah kadang guru sering mengklaim arahan dia lebih bagus, itu lebih repot. Di sini fleksibel sih gak kerepotan. Paling enak, siswa juga berhak mengkritik pendamping. Tidak perlu memberi nasihat. Kalau mereka butuh, ya kita jawab dengan sejujurnya. Jadi, konsepan di sini peniadaan nasihat. Kalau kita menasehati seolah-olah kita benar. Menasihati cenderung dimulai dengan klaim sebagai kebenaran akhir. Misalnya, eh… kamu mesti gini. Beda kalau kamu bilang, bagaimana kalau ini? Semacam menawarkan, nah itu bagus apalagi kalau dia menjawab dengan pandangan lain itu lebih keren. Berarti dia kritis dan produktif. Jadi, bukan mengarahkan. Lebih mengusulkan dan menyampaikan ide. (WWC/AB/25.04.2016).

Salah satu warga belajar S2 mengatakan bahwa, “pendamping keren, berbeda. Aku anggap sebagai ibu, temen, sahabat. Jadi mau cerita apapun tetap nyambung gitu lho. Mereka juga gak mendominasi, semua setara.’’ (WWC/S2/02.05.2016).

Berdasarkan observasi peneliti, dapat diketahui bahwa peran pendamping di Qaryah Thayyibah hanya mendampingi warga belajar, memberikan semangat dan motivasi. Selain itu, tugas pendamping adalah menjembatani warga belajar ketika berdiskusi. Hubungan pendamping dengan warga belajar seperti teman. Pendamping dalam memberikan argumen/pengetahuan tidak mendominasi warga belajar. Pendamping dan warga belajar menjadi subjek yang saling belajar, sedangkan objek pembelajarannya adalah realitas.

87

Jadi, dapat ditarik kesimpulan bahwa tugas pendamping adalah sebagai fasilitator dan mengontrol setiap perkembangan warga belajar agar potensi yang ada dalam dirinya dapat dikembangkan dengan baik. Hubungan pendamping dengan warga belajar di Qaryah Thayyibah seperti teman. Keduanya saling belajar dan tidak ada yang mendominasi.

7. Profil Warga Belajar Qaryah Thayyibah

Pembelajaran merupakan suatu bentuk proses pendidikan yang mengharuskan adanya peserta didik. Jika di sekolah formal anak didik disebut sebagai peserta didik atau siswa, maka di Qaryah Thayyibah disebut dengan warga belajar, karena Qaryah Thayyibah merupakan lembaga non formal. Peserta didik sebagai subjek pembelajar diharapkan mampu memberikan timbal balik interaksi kepada pendidik.

Seiring perkembangan waktu, jumlah warga belajar di Qaryah Thayyibah mengalami peningkatan. Hal ini seperti yang disampaikan oleh

bapak AB bahwa, “Ya tahun 2003 memang berdasarkan atas kesepakatan

12 keluarga untuk mendirikan komunitas ini. Awal dulu yang mendaftar 12 orang dari keluarga siswa yang menyepakati berdirinya komunitas ini. Terus sekarang bertambah menjadi 34 siswa.”(WWC/AB/25.04.2016).

Berdasarkan observasi peneliti dapat diketahui bahwa jumlah warga belajar di Qaryah Thayyibah ini sebanyak 34 warga. Mereka berasal dari berbagai latar belakang masalah yang berbeda, dan berasal dari beranekaragam daerah. Adapun asal warga belajar ada yang dari luar kota maupun asli kota Salatiga. Misalnya, Jakarta, Cirebon, Yogyakarta, Pati,

88

dan Semarang. Latar belakang warga belajar melanjutkan jenjang pendidikan di Qaryah Thayyibah memang berbeda-beda, ada yang disebabkan oleh trauma di sekolah formal, ingin belajar bebas tidak terkungkung dengan sistem, ingin mendapatkan ijazah kesetaraan paket B dan C, dan sebagainya. Berdasarkan studi dokumen yang dilakukan peneliti, jumlah warga belajar di Qaryah Thayyibah dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 2. Jumlah Warga Belajar di Qaryah Thayyibah tahun 2016 Jenis Kelamin Kelas hikari Kelas folia Kelas laskar miracle Kelas haredem Kelas seedu Perempuan 4 4 3 0 1 Laki-laki 4 5 3 6 4 Jumlah 8 9 6 6 5

Sumber: (Hasil olah data dokumen)

Setiap warga belajar di Qaryah Thayyibah memiliki karakter yang berbeda-beda, namun sebagian besar dari mereka memiliki sikap yang cuek. Hal ini terlihat ketika peneliti pertama kali melakukan observasi di Qaryah Thayyibah, tidak ada warga belajar yang menyapa. Mereka sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Hal tersebut juga dirasakan sama oleh salah satu pendamping, bahwa memang anak Qaryah Thayyibah orangnya cuek, sehingga orang luar harus dapat langsung membaur dengan warga belajar Qaryah Thayyibah.

Selain sikap cuek, hal yang dapat dilihat dari setiap sikap warga belajar ialah bahwa mereka memiliki tingkat percaya diri yang tinggi. Terlihat dari cara bagaimana mereka mengemukakan pendapatnya di depan forum. Sikap ini berdampak pada peningkatan kreativitas setiap

89

anak, yang menjadikan mereka menjadi percaya diri dalam berkarya baik dalam lingkup lembaga maupun kegiatan luar lembaga. Selain itu, terdapat beberapa warga belajar yang memiliki pandangan sendiri mengenai kebebasan yang diterapkan di Qaryah Thayyibah, sehingga terjadi ketidaksepahaman antara pendamping dan warga belajar.

Setiap warga mengembangkan potensi secara mandiri dan tidak bergantung dengan yang lain. Misalnya, jika terdapat warga yang menyukai menggambar, maka ia akan mengembangkan potensinya dengan belajar berlatih. Jika ia membutuhkan pendamping, maka mereka dapat meminta bantuan pendamping untuk meminta saran, kritik atau meminta bantuan mencari jaringan kepada orang yang handal dalam bidang seni menggambar.