• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL RISET DAN ANALISIS

Dalam dokumen TAP.COM - PROSIDING_JAMBI. (19268 KB ) - ISEI (Halaman 110-121)

THAILAND DAN CHINA Sari Wahyuni

HASIL RISET DAN ANALISIS

Hasil temuan lapangankajian ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu: 1) bagian pertama menganalisa faktor input(kecuali sistem administrasi), peran pemerintah, industri pendukung terkait, dan kinerja Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Sedangkan bagian kedua, lebih menekankan pada variabel sistem administrasidengan menggunakan data sekunder yaitu daya saing suatu negara.

Faktor Input, Peran pemerintah, Industri Pendukung Terkait, dan Kinerja KEK

Hasil pengamatan dan wawancara mendalam menunjukkan terdapat perbedaan antara satu negara dengan negara lainnya yang secara rinci dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 4. Ringkasan Hasil Temuan

SDA melimpah Kebanyakan tenaga kerja (TK) terlatih terdapat diluar Batam Cukup baik Banyak yang terlantar Rendah-Menegah Ya, khususnya untuk industri berbasis teknologi rendah dan menengah SDA terbatas TK terdidik, bisa berbahasa asing (Inggris) Sangat baik Baik Sangat Kuat Kuat Tinggi Ya, khususnya untuk elektronik berbasis teknologi tinggi SDA terbatas Sulit untuk menenmukan teknisi terlatih pada level manajer Baik Cukup Baik Sangat Kuat Sangat Terbatas Menengah-tinggi Ya, khususnya untuk industri otomotif dan suku cadang elektronik SDA terbatas TK melimpah, rajin, kebayakan tidak bisa berbahasa asing (Inggris) Baik, dibangun oleh pemerintah pusat Baik Sangat Kuat Sangat Aktif Rendah-Menegah-Tinggi Ya, baik untuk industri elektonik berbasis teknologi rendah maupun teknologi tinggi

Variabel Indonesia Malaysia Thailand China

Faktor Input

1. Sumber Daya Alam (SDA) 2. Sumber Daya Manusia (SDM)

3. Infrasturktur Fisik

4. Infrastruktur Ilmu

Pengetahuan dan Teknologi Peran Pemerintah

Pemerintah pusat Pemerintah Daerah

Industri Pendukung Terkait 1. Kualitas dan Spesifikasi

Hasil temuan diatas dapat dijelaskan sebagai berikut:

Faktor Input

Ada 4 variabel yang digunakan untuk menghitung faktor input, yaitu: Sumber Daya Alam (SDA), Sumber Daya Manusia (SDM), Infrastruktur Fisik, Infrastruktur Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Kondisi dan persepsi dari investor terkait variabel-variabel ini dijelaskan sebagai berikut:

Indonesia

Sumber Daya Alam, penelitian yang kami lakukan di Batam, Bintan, dan Karimun (BBK) menunjukkan

bahwa terdapat dua faktor penting yang berpengaruh sangat signifikan dalam menentukan daya saing BBK (lihat pada tabel5). Dua faktor penting tersebut adalah faktor letak geografis BBK (kedekatan dengan Singapura)dan faktor SDM.

Tabel 5. Daya Saing Batam Bintan Karimun

Komponen 1

Daya Saing Perusahaan 0,491

Faktor SDM 0,753

Faktor Kelembagaan 0,597

Industri-industri Pendukung 0,589

Infrastruktur 0,503

Faktor Geografis 0,775

SDM dan Infrastruktur di Indonesia dianggap sangat penting namun kepuasan investor pada sektor ini cukup rendah (lihat tabel6).Variabel SDM ini diukur berdasarkan ketersediaan manajemen yang kompeten, kebijakan SDM, dan ketersediaan tenaga kerja yang kompeten. Faktor tenaga kerja sebaiknya menjadi perhatian bagi pemerintah mengingat tingkat kepuasan investor hanya 2,93.

Tingkat kepuasaan tersebut lebih lanjut dijelaskan oleh hasil interview di bawah ini

“Sulit untuk menemukan teknisi yang berpengalaman dan Insinyur sehingga kami harus mempekerjakan tenaga kerja dari Singapura, Malaysia dan India.”

“Tidak mudah untuk menemukan tenaga kerja yang baik dan terlatih”

“Manajemen dengan level yang lebih tinggi biasanyaberasal dari Jawa atau luar Batam”

Jadi, pelatihan dan pengembangan tenaga kerja terlatih merupakan faktor penting yang seharusnya disediakan oleh perusahaan bagi para karyawannya. Pemerintah juga bisa menyediakan fasilitas tersebut. Pada umumnya, negara hanya menyediakan pendidikan dasar dan menengah yang mengembangkan keterampilan umum dan bersifat publik. Namun Keunggulan kompetitif tidak diperoleh dari keterampilan umum tetapi diperoleh melalui karyawan dengan keahlian tertentu yang langka dan unik. Jadi, ada argumen yang kuat bagi perusahaan untuk menyediakan in-house training saat pengembangan keterampilan khusus.

Tabel 6. SDM berdasarkan Tingkat Kepentingan dan Kepuasaan

(Skala 1-5) Tingkat Kepentingan Tingkat Kepuasan dengan

KEK BBK

Faktor Tenaga Kerja 4,37 2,93

Faktor Kelembagaan 4,67 3,06

Faktor Pemerintah 4,69 2,91

Faktor Iklim Usaha 4,32 3,28

Faktor Infrastruktur 4,71 3,40

Faktor Daya Saing secara

Malaysia

Sumber daya alam tampaknya bukan menjadi faktor pendorong investor dalam memilih Malaysia sebagai tempat investasinya. Hal ini tercermin dari opini beberapa investor dalam kutipan berikut:

“Kami memilih Penang karena beberapa pertimbangan: 1) supporting manufacturing operation, 2) infrastruktur yang baik: lokasi dekat dengan bandara dan pelabuhan, 3) insinyur yang terampil dan berbakat, 4) perguruan tinggi berkualitas yang dapat melatih karyawan kami, 5) Pemerintah sangat ramah, 6) Tax Holiday, 7) Keberadaan dari Intel, Motorola, dan perusahaan multinasional lainnya yang akan kami pasok”. (Benchmark di Malaysia)

Manajemen Venture mengungkapkannya dalam hal yang berbeda:

“Alasan utama mengapa kami memilih Malaysia karena: 1) Perkembangan klaster industri yang dinamis di Penang, rantai pasok (logistik), masyarakat, keterampilan, kesehatan, teknologi tinggi, industri terkait akan berinvestasi di Penang karena klaster dan masyarakat disana, sertapemasoknya dekat. 2) Pemerintahan yang stabil, 3) Tenaga kerja yang terdidik dan menguasai multi-bahasa, sangat mudah berkomunikasi dengan mereka, layanan pelanggan yang memiliki keterampilan yang baik dalam berbahasa asing (Inggris). 4) Infrastruktur yang baik (dekat dengan bandara, pelabuhan, Singapura): sangat cepat, sistem pengiriman yang sangat baik, imigrasi, pemerintah memiliki database online, bahkan polisi memeriksa tindakan kriminal dengan cara online. 5) Lingkungan bisnis yang efektif dan bersemangat (kami tidak perlu membangun pelatihan di sini, dan kembali ke negara ini). Di sini, kita memiliki 48% tenaga kerjaasing (Indonesia, Nepal, dll) dan 52% tenaga kerjalokal”. (Venture di Malaysia)

Kutipan di atas dengan jelas menunjukkan bahwa SDM di Malaysia sangat dihargai oleh investor sebagai tenaga kerja yang berpendidikan dan produktif. Fakta bahwa mereka fasih berbahasa Inggris membuat komunikasi dan transfer pengetahuan lebih mudah. Selain itu, pendidikan di Malaysia juga mendukung pertumbuhan industri manufaktur:

Terkait dengan persepsi tenaga kerja, tingkat kepuasan investor dapat dilihat di bawah ini:

Tenaga kerja Malaysia sangat terlatih

Tenaga kerja Indonesia dapat dilatih

Masyarakat di China sudah familiar dengan manufaktur jadi mereka mudah untuk dilatih

Perilaku orang-orang Vietnam baik. Mereka mudah untuk diatur tetapi tidak bisa berbahasa asing (Inggris)

Perilaku orang-orang Thailand sulit untuk dilatih dan tidak bisa bernegosiasi(Venture)

Infrastruktur Fisik, sangat jelas bahwa fasilitas infrastruktur di Malaysia sangat baik. Hal ini dapat dilihat dari kutipan-kutipan diatas baik menurut Benchmark maupun Venture. KEK di Penang sangat dekat dengan bandara dan pelabuhan sehingga biaya transportasi sangat murah dan meminimalkan waktu pengiriman produk.

Untuk menjamin ketersediaan infrastruktur ilmu pengetahuan dan teknologi, Human Resource Development Fund (HRDF) Malaysia meluncurkan program yang mendorong pelatihan, pelatihan ulang dan peningkatan keterampilan di sektor swasta. Pengusaha, di sektor manufaktur dan jasa yang berkontribusi untuk mendanai program ini berhak untuk mengajukan permohonan hibah untuk membiayai atau mensubsidi biaya yang timbul dalam pelatihan dan pelatihan kembali tenaga kerja mereka. Kementerian Sumber Daya Manusia menkoordinasikan semua lembaga pelatihan publik dan swasta yang ada, mengevaluasi permintaan TK terlatih yang dibutuhkan sekarang dan untuk masa depan, serta mengidentifikasi pendidikan kejuruan di masa depan dan kebutuhan pelatihan industri (MIDA, 2011).Selain itu meningkatnya jumlah lembaga pelatihan publik seperti sekolah teknik, politeknik, lembaga pelatihan industri dan pusat pengembangan keterampilan untuk memenuhi permintaan dari sektor industri, upaya kolaboratif antara pemerintah Malaysia, perusahaan dan pemerintah asing telah mrndorong berdirinya beberapa lembaga pelatihan keterampilan seperti Jerman-Malaysia Institute, Malaysia-Perancis Institute, Jepang Malaysia Technical Institute, Inggris-Malaysia Institute, dan Spanyol-Malaysia Institute. Pemerintah juga telah mendirikan lembaga untuk pendidikan kebutuhan industri yang disebut PSDC. Selain itu, pemerintah telah memulai proses transfer ilmu pengetahuan dengan mendirikan Fabtronics, sebuah perusahaan industri elektronik. Mereka bekerja sama dengan AMD untuk memastikan bahwa ada transfer pengetahuan dari perusahaan asing bagi TK Malaysia.

Thailand

Sumberdaya Alam di Thailand memang penting tetapi bukan yang paling menarik. Hal ini dapat dilihat dari kutipan dibawah ini:

“Yah, mungkin kami tidak menggunakan SDA dari Thailand, tetapi kami membeli dari pemasok lokal, jadi kami tidak tahu apakah bahan baku itu berasal dari Thailand atau diimpor oleh pemasok kami. Jadi, intinya komponen bisa kami dapatkan dari pemasok lokal.” (Autoliv Management di Thailand)

“SDA diimpor. Hal yang terpenting bagi kami disini adalah ketersedian pasokan air dan lain-lain”. (Triumph Management di Thailand)

Persepsi yang sedikit berbeda dinyatakan oleh Komatsu manajemen:

“SDA Thailand yang digunakan Komatsu adalah karet. Bahan baku lainnya berasal dari negara-negara lain, namun proses produksi dilakukan di Thailand, misalnya pengolahan baja dilakukan di Thailand. 57% adalah komponen lokal, sedangkan sisanya (43%) diperoleh dari impor (pemasok utama adalah Jepangdan Indonesia)”. (Komatsu Manajemen di Thailand)

Untuk mengetahui alasan mengapa investor memilih Thailand, Triumph menyatakan sebagai berikut: “Alasan utama kami memilih Thailand didorong oleh beberapa alasan berikut:

a. Industri otomotif di Thailand sudah berdiri dalam waktu yang cukup lama. Perusahaan mobil dan sepeda motor asal Jepang sudah berada disini selama bertahun-tahun. Jadi banyak indutri pemasok berbasis di Thailand;

b. Mereka memiliki tenaga kerja terlatih, Insinyur Thailand sangat penting bagi kami. Kebanyakan dari mereka bekerja sangat baik, mereka berkembang bersama perusahaan ini. Kami telah merekrut mereka ketika mereka berumur sekitar 24-25 dan mereka telah berkembang cukup baik bersama Triumph.

c. Sikap pemerintah terhadap investasi asing sangat positif. (Triumph Manajemen di Thailand) Dalam kesempatan yang berbeda, manajemen Amata park menjelaskan usaha mereka dalam SDA di SEZ mereka, seperti yang terlihat dalam quote di bawah ini:.

“Kami mengundang beberapa sekolah yang berkualitas dan terkenal sehingga orang-orang ingin datang kesini. Kami juga memiliki fasilitas pusat pelatihan bagi tenaga kerja, yaitu Thai-Jerman Institute”. (Amata Nakorn)

Hal ini menjadi pertimbangan sebagai salah satu faktor yang berkontribusi menarik investor untuk datang, berinvestasi dan mendirikan pabrik di dalam zona industri.

Walaupun SDM mudah untuk dilatih dan cukup terampil, tetap saja masih sangat sulit untuk menemukan TK terdidik dengan kompetensi tinggi karena kualitas pendidikan dan jumlah karyawan berpendidikan tinggi sangat langka di Thailand. Pada tingkat manajemen yang tinggi akan semakin sulit menemukan orang yang tepat. Seperti yang bisa kita lihat dalam kutipan di bawah ini, tiga perusahaan yang kami wawancarai memiliki masalah yang berhubungan dengan tenaga kerja di Thailand. Sebagian besar dari mereka memiliki banyak ekspatriat karena jika mereka menggunakan orang Thailand, harapan pelanggan tidak akan tercapai. Hal menarik yang kami dapatkan dari Triumph adalah bahwa hubungan tenaga kerja (termasuk serikat pekerja) khususnya pengadilan tenaga kerja di Thailand tidak baik, mereka selalu berada di posisi membela karyawan. Buruknya lagi adalah tidak adanya standar hukum tertentu karena pengadilan tenaga kerja dapat memerintahkan perusahaan untuk membayar gaji karyawan dalam jumlah yang tak terbatas.

“Autoliv memiliki 16 ekspatriat. Kami percaya bahwa kami perlu TK asing untuk datang ke Thailand karena harapan global tidak akan tercapai jika kita hanya menggunakan orang Thailand. Masih ada kesenjangan antara kompetensi teknologi dan harapan. Perusahaan-perusahaan otomotif bersaing untuk mendapatkan tenaga kerja yang berpendidikan. Tapi untungnya ada banyak mantan TK yang datang kembali kepada kami karena lebih baik menjadi ikan besar di kolam kecil. Selain itu, isu utama di Thailand adalah: a) Meningkatnya biaya overhead dan biaya tenaga kerja (biaya langsung), b) Kempotensi TK, kita perlu banyak pengembangan”. (Autoliv Manajemen di Thailand).

Pendapat berbeda dinyatakan oleh Komatsu:

“Kuantitas SDM relatif baik tetapi untuk manajemen pada tingkat menengah tidak memiliki kemampuan yang tinggi.Di sini, kami memiliki 7 ekspatriat dan semua dari mereka adalah orang Jepang. Kami juga mengalami masalah ketenagakerjaan dalam menemukan dan mempertahankan tenaga kerja yang terbaik. Salah satu masalah utama yang berhubungan dengan tenaga kerja di Thailand adalah kekurangan tenaga kerja terampil sehingga dampaknyapada kualitas kontrol kami. Saat ini setiap perusahaan menghadapi masalah tersebut. Karyawan kami berasal dari Thailand saja. Kami tidak menggunakan TK asing (misalnya dari Myanmar, Laos) karena kualitas mereka berbeda”. (Komatsu Manajemen di Thailand) Pernyataan yang sama juga disampaikan oleh Triumph:

“Isu utama yang kami hadapi adalah sulitnya untuk mendapakan insinyur terlatih pada level manajer. Disamping itu, hubungan dengan TK, khususnya dengan Pengadilan TK sangat rumit”. (Triumph Manajemen di Thailand)

Terkait dengan infrastruktur fisik, investor merasa bahwa infrastruktur fisik sangat mendukung pertumbuhan investasi. Hal itu memudahkan operasional perusahaan sehari-hari. Infrastruktur fisik selalu mendukung kawasan industri seperti yang ditunjukkan dalam kutipan berikut:

“Bandara direlokasi 5 tahun yang lalu untuk mengakomodasi kawasan industri (dari Don Muang ke Svarnabhumi). Hal ini memudahkan perusahaan dalam melakukan ekspor dan impor. Pelabuhan laut dalam juga dipindahkan, saat ini lebih dekat dengan Amata. Jadi, Hal ini adalah salah satu alasan mengapa investor memilih Amata. Alasan lain mengapa Amata sangat terkenal adalah karena akses transportasi yang mudah. Ada dua jalan utama yang terhubung ke Amata Nakorn. Jadi lokasi ini tidak terkena kemacetan lalu lintas. Ekspatriat juga bisa tinggal di Bangkok karena lokasinya tidak jauh”. (Amata Manajemen) Selain Infrastruktur fisik umum, Amata Nakorn mencoba untuk menarik investor dengan menyediakan fasilitas sosial, kualitas pelayanan dan juga kawasan industri yang ramah lingkungan. Tidak seperti kawasan industri lainnya, Amata juga menyediakan executive club dan fasilitas golf di dalam kawasan industri. Meskipun sudah ada infrastruktur ilmu pengetahuan dan teknologi (institusi dan pusat pelatihan), kebanyakan perusahaan di kawsan tersebut tidak menggunakannya. Mereka lebih yakin pelatihan yang mereka lakukan sendiri lebih baik. Beberapa dari perusahaan tersebut melakukan pelatihan di kantor pusat untuk memperoleh TK yang berkulitas.

“Kami kebanyakan melakukan pelatihan sendiri, tetapi kami juga melakukan kerjasama dengan pusat pelatihan yang ada di Bangkok”. (Komatsu)

“Cara perusahaan kami dikembangkan, kami selalu yakin lebih baik melakukan pelatihan sendiri. Kami memiliki program untuk mengirimkan sekelompok tehnisi ke United kingdom setiap enam bulan”.

China

SDA juga tidak menjadi daya tarik utama di China karena sejak awalnya sudah mulai dibatasi.”SDA yang dapat menarik investor hampir tidak ditemukan di China, Tianjin sesungguhnya hanya membutuhkan pemerintah dalam rangka menyedikan listik dan gas”. (Tianjin Park Management)

SDM di China sangat melimpah, tenaga kerja disana juga rajin, mereka bersedia bekerja lemburdengan gaji yang sesuai.Namun demikian, berdasarkan pengalaman kami selama wawancara dan pengamatan, kita harus mengakui bahwa tenaga kerja yang bisa berbahasa asing (Inggris) sangat langka dan hal itu dapat menghambat komunikasi dan transfer pengetahuan.

Infrastruktur fisik cukup dikembangkan di Cina, bahkan sebelum KEK dan kawasan industri dikembangkan. Sebagian besar pembangunan infrastruktur ini diprakarsai oleh pemerintah.

“Tianjin Balitai Industrial Park (TBIP) terletak di antara darat dan laut, sehingga lokasi tersebut benar-benar strategis”. (Tianjin)

Infrastruktur ilmu pengetahuan dan teknologi didukung oleh budaya belajar dari Cina dan pelatihan yang diberikan oleh perusahaan.

“Transfer pengetahuan dilakukan melalui: a) Pelatihan yang diberikan kepada karyawan, b) dukungan moral dari para karyawan untuk terus belajar, c) Pelatihan di luar negeri yang didukung oleh perusahaan. Selain itu, pemerintah selalu memberitahu orang-orang untuk terus belajar dari perusahaan-perusahaan asing karena hal itu adalah salah satu media transfer ilmu pengetahuan”. (Kawasan Industri Tianjin Balitai)

Seperti di Thailand dan Malaysia, Kawasan Industri Tianjin juga mendukung layanan pendidikan di kawasan tersebut. ”Tianjin memiliki universitas-universitas yang berkualitas di sekitar kawasan dan memiliki blue color collegues serta sekolah. Kawasan ini memiliki 3 perguruan tinggi untuk kelompok mereka sendiri untuk mendidik tenaga yang sebagian besar terkait dengan bidang elektronik”. (Zhonghuan)

Peran Pemerintah

Indonesia

Faktor Kelembagaan dari daya saing BBK terkait dengan kepuasaan, kebijakan,kepuasan terhadap dukungan pemerintah, dan Tata Kelola BBK.

Tabel 7. Faktor Kelembagaan

Sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 7, kebijakan, peraturan dan tata kelola memiliki korelasi yang kuat dengan faktor kelembagaan. Sebaliknya, dukungan pemerintah memiliki korelasi yang lemah. Kondisi ini ditunjukkan dalam kutipan berikut: “Tidak ada dukungan dari Legislatif”, “Tidak ada kesinambungan program dari Kantor Walikota”, “Tidak ada konsistensi dalam aturan, peraturan dan program”.

Aspek penting lainnya dari masalah kelembagaan di BBK ini terkait dengan koordinasi dan respon yang sangat terkait dengan tata kelola: “Sistem di Indonesia membuat hal-hal berjalan lambat”. (General Manager, Industrial Park di Batam)

“Dikatakan bahwa pengurusan ijin dapat selesai dalam waktu seminggu tetapi pada kenyataannya dibutuhkan waktu lebih dari 2 minggu.Pengurusan ijin membutuhkan waktu yang terlalu lama untuk mendapatkannya”. (Managing Director, Perusahaan Elektronik di Batam)

Meskipun pemerintah Indonesia telah bekerja keras untuk mengurangi prosedur yang panjang ini melalui penggabungan beberapa institusi, kebingungan dan ketidakpastian masih saja tetap ada. Dalam hal ini, struktur kelembagaan harus dibangun dengan tanggung jawab, kewenangan, dan peran yang jelas bagi institusi-institusi yang terlibat. Organisasi harus terkait erat satu sama lain dalam rangka untuk menghindari kebingungan dan juga untuk meningkatkan kerja sama serta efisiensi.

Dalam hal ini penting untuk dicatat bahwa kebijakan dan peraturan memiliki nilai korelasi tertinggi yang akan mempengaruhi bisnis dan perusahaan pada umumnya. Seperti yang terlihat dalam kutipan di bawah ini:

“Dibutuhkan stabilitas politik. Di Malaysia situasi politik tampaknya tidak ada masalah signifikan terhadap lingkungan bisnis, tetapi situasi yang berbeda ditemui di Indonesia”. (CEO di Batam)

Goncangan politik tidak hanya mempengaruhi arah tetapi juga dapat menghambat proses pelaksanaan: ” Peraturan mudah berubah sejalan dengan perubahan pejabat pemegang kekuasaan. Akibatnya, tidak ada konsistensi dalam aturan, peraturan dan program”. ( Ketua Asosiasi di BBK)

Koefisien Korelasi

Kebijakan dan Peraturan 0,872

Dukungan Pemerintah 0,381

“Pengambilan keputusan mengikuti pola selama pemerintah daerah tidak dapat membuat keputusan mereka sendiri, keterlibatan pemerintah pusat akan tetap ada dan itu menyebabkan biaya tinggi dan waktu lama”.(Eksekutif manajer hotel di Batam)

Komentar-komentar di atas menegaskan bahwa daya saing daerah adalah hasil dari perjuangan politik, economic,, mobilisasi sosial dan praktek politik. Analisa di atas menunjukkanbahwa ada banyak pekerjaan rumah yang perlu dilakukan untuk memperbaiki kebijakan, regulasi, dukungan pemerintah dan tentunya pembentukan tata pemerintahan yang baik.

Malaysia

Peran pemerintah di Malaysia banyak dilakukan oleh pemerintah pusat, dalam hal ini diwakili oleh MIDA yang menjadi titik kontak pertama bagi investor. Mereka sangat membantu, ramah, profesional dan bersih (setiap tahun ada program monitoring yang dilakukan pemerintah untuk memeriksa harta kekayaan para pegawai MIDA). Hasil wawancara kami menunjukkan bahwa pemerintah Malaysia dikenal oleh investor sangat kaku tetapi mereka ramah, baik, efisien dan bersih. Selain itu, mereka menetapkan peraturan yang mendukung pertumbuhan investasi di Malaysia. Dengan kata lain, mereka tahu persis apa yang dibutuhkan oleh investor. Hal ini dapat dilihat dari kutipan di bawah ini bahwa citra yang baik dari pemerintah dianggap sangat penting oleh investor.

“Pemerintah tahu banyak tentang kebutuhan investor untuk bertahan di Malaysia dan mereka juga sangat efisien”. (Venture)

“Pemerintah sangat ramah”.(Benchmark)

“Pemerintah Malaysia memperlakukan kami dengan sangat baik”.(Kobay)

“Regulasi di China sangat kaku tetapi tidak jelas (peraturan berbeda di setiap provinsi), regulasi di Malaysia juga cukup kaku, tetapi sangat jelas dan bersih”.(Benchmark)

Thailand

Peran pemerintah di Thailand (dalam bidang investasi) sebagian besar dilakukan oleh Board of Investment/ BOI (BKPM-Thailand). Seperti di Malaysia dan China, pemerintah pusat memiliki peranan besar dalam mengatur investasi, sedangkan pemerintah provinsi hampir tidak memiliki peran sama sekali. Sentralisasi di Thailand menghasilkan peraturan yang jelas, tidak bias dan tidak tumpang tindih antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Berdasarkan wawancara kami, dapat disimpulkan bahwa peran pemerintah Thailand melalui BOI sangat mendukung investor, mereka bersih dari korupsidan transparan.

“BOI sangat ramah. Mereka menawarkan bantuan dan terbuka untuk mendiskusikan masalah anda“. (Autoliv)

“Sampai saat ini tidak ada korupsi di BOI, tetapi 20 tahun yang lalu korupsi terjadi karena terlalu banyak perusahaan yang datang ke Thailand. 10 tahun yang lalu mereka membersihkan korupsi ini dan membangun pelayanan satu atap yang disebut invesment club. Jadi formulir diserahkan ke kantor ini dan anda akan membayar sesuai dengan beban yang harus dibayarkan.Hal ini dilakukan secara transparan karena dijalankan oleh sebuah perusahaan outsourcing. Anda masih harus membayar, tetapi itu legal. Sekarang, mereka memiliki banyak layanan satu atap salah satunya ada di Bangkok, sehingga jauh lebih mudah. Saya berpikir bahwa dari sisi bisnis sangat baik”. (Komatsu)

“Kami tidak memiliki interaksi dengan pemerintah daerah. Pemerintah daerah tidak memiliki pengaruh terhadap lingkungan bisnis.Setiap proses bisnis berada di bawah peraturan BOI”.(Autoliv)

Pemerintah Thailand sangat peduli terhadap karyawan, regulasi tenaga kerja lebih berorientasi terhadap karyawan. Hal ini karena tidak ada aturan yang jelas tentang berapa banyak perusahaan harus membayar kepada karyawan jika mereka dipecat.

“Pengadilan tenaga kerja disini cenderung selalu membela karyawan. Mereka tidak selalu menggunakan aturan hukum; mereka selalu mencoba untuk kompromi dengan anda dan membayar uang sebagai kompensasi. Memecat tenaga kerja tidak masalah, tetapi jika mereka membawa anda ke pengadilan tenaga kerja, saya dapat menjamin bahwa tidak peduli siapa yang benar siapa yang salah, pengadilan tenaga kerja akan meminta anda untuk membayar sesuatudalam jumlah yang tak terbatas”.(Triumph) China

Pemerintah China sedikit unik dalam membuat peraturan untuk investasi. Peraturan sering tidak jelas dan tidak terintegrasi.Regulasi di satu wilayah dapat berbeda dengan wilayah lain. Mereka juga

Dalam dokumen TAP.COM - PROSIDING_JAMBI. (19268 KB ) - ISEI (Halaman 110-121)