• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kondisi Daya Saing Ekonomi Daerah

ASEAN ECONOMIC COMMUNITY 2015

TAHUN NEGARA

D. Kondisi Daya Saing Ekonomi Daerah

Kondisi ekonomi daerah dengan tingkat pembangunan yang bervariasi merupakan salah satu faktor penyebab perbedaan tingkat kesiapan daerah dalam menghadapi AEC 2015. Hal ini tentunya terkait erat dengan kondisi geografis yang bervariasi dan penyebaran pembangunan yang relatif belum merata.

Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) masih terkonsentrasi pada beberapa Provinsi di Pulau Jawa, yaitu: DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Sedangkan di luar Pulau Jawa, provinsi yang memiliki PDRB relatif lebih tinggi dibandingkan dengan Provinsi lain adalah Provinsi Riau, Kalimantan Timur, dan Sumatera Utara; dimana sektor kelapa sawit menjadi penopang tingginya PDRB Provinsi Riau dan sektor minyak dan gas bumi menjadi penopang ekonomi Kalimantan Timur.

Gambar 8. Arus Masuk Investasi FDI Intra-ASEAN

Sekitar setengah dari provinsi Indonesia memiliki tingkat kemiskinan diatas rata-rata nasional yang sebesar 11,6 persen. Provinsi dengan tingkat kemiskinan terendah adalah DKI Jakarta sebesar 3,7 persen, dan provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi adalah Papua dengan tingkat kemiskinan sebesasr 30,7 persen. Kondisi ini menunjukkan besarnya disparitas pendapatan dan tingkat kesejahteraan antar provinsi di Indonesia. Sehingga, hal ini merupakan salah satu tantangan bagi Indonesia dalam mempersiapkan diri untuk menghadapi AEC, karena perbedaan tingkat kesejahteraan dan tingkat pembangunan akan memberikan konsekuensi terhadap perbedaan dalam menentukan langkah-langkah persiapan yang diperlukan.

Gambar 10. PDRB Berdasarkan Provinsi Tahun 2011

Sumber: Buku Pegangan Perencanaan Daerah 2014, Bappenas (2013)

Gambar 11. Tingkat Kemiskinan Berdasarkan Provinsi (September 2012)

Sumber: Buku Pegangan Perencanaan Daerah 2014, Bappenas (2013)

Kemudian, kondisi infrastruktur di daerah juga menunjukkan tingkat keberagaman yang cukup tinggi. Salah satu indikatornya adalah rasio kerapatan jalan yang dihitung dengan jumlah panjangan jalan (km) terhadap luasan provinsi (km2). Rasio ini menunjukkan adanya disparitas yang cukup besar antara provinsi yang berlokasi di Pulau Jawa dengan Provinsi yang berlokasi di Indonesia bagian Timur.

Perbedaan tingkat pembangunan antar wilayah di Indonesia telah menyebabkan tidak meratanya penyebaran investasi. Realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) maupun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, dimana kontribusi PMA dan PMDN di Pulau Jawa adalah sebesar 65 persen dan 55 persen. Sementara itu, di Maluku dan Papua hanya sebesar 5 persen dari total PMA dan 1 persen dari total PMDN pada tahun 2013.

Gambar 12. Rasio Kerapatan Jalan (km/km2) Tahun 2012

Sumber: Buku Pegangan Perencanaan Daerah 2014, Bappenas (2013)

Gambar 14. Realisasi PMA Tahun 2013*

Gambar 13. Realisasi PMDN Tahun 2013*

Sumber: BKPM (diolah)

Keterangan *: sampai dengan Semester I – 2013

Sementara itu, perdagangan antar wilayah sebagian besar berasal dan menuju ke Pulau Jawa, dengan kontribusi sebesar 64,3% dari total perdagangan antar wilayah di Indonesia.

Gambar 15. Perdagangan Antar Wilayah

Sumber: perhitungan dengan Inter-Regional Input Output (2005)

Disparitas antar daerah juga tercermin dari perbedaan layanan yang diberikan oleh Pemerintah Daerah dalam memproses perijinan untuk memulai usaha. Dalam laporan Subnational Doing Business (2012), terlihat bahwa jumlah hari, banyaknya prosedur, serta biaya yang dibutuhkan untuk memproses ijin memulai usaha berbeda-beda di setiap kota yang disurvei. Tiga kota terbaik dalam memberikan pelayanan perijinan untuk memulai usaha adalah: Yogyakarta, Palangkaraya, dan Surakarta. Sebaliknya, tiga kota terburuk dalam pelayanan perijinan untuk memulai usaha adalah Jambi, Medan, dan Menado.

2010 2011 2012 2010 2011 2012 Singapore 0.804 0.804 0.804 0.892 0.894 0.895 Brunei Darussalam 0.757 0.757 0.757 0.854 0.854 0.855 Malaysia 0.731 0.731 0.731 0.763 0.766 0.769 Thailand 0.599 0.599 0.599 0.686 0.686 0.690 Philippines 0.679 0.679 0.679 0.649 0.651 0.654 Indonesia 0.577 0.577 0.577 0.620 0.624 0.629 Viet Nam 0.539 0.539 0.539 0.611 0.614 0.617 Kamboja 0.52 0.52 0.52 0.532 0.538 0.543 Laos 0.453 0.453 0.453 0.534 0.538 0.543 Myanmar 0.402 0.402 0.402 0.49 0.494 0.498

Apabila dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya, Indeks Pendidikan Indonesia dan Indeks Pembangunan Manusia (Human Develoment Index) Indonesia berada di urutan ke-6. Singapura menempati urutan pertama, yang disusul oleh Brunei, Malaysia, Thailand, dan Filipina.

Gambar 13. Tiga Kota Terbaik dan Terburuk Dalam Memberikan Izin Memulai Usaha

Sumber: IFC, Bank Dunia, 2012 (diolah Bappenas)

Education index Human Development Index (HDI) Negara

Tabel 6. Perbandingan Indeks Pendidkan dan Pembangunan Manusia Antar Negara ASEAN

Sumber: UNDP5

5 Diakses melalui website: http://hdr.undp.org pada tanggal 16 September 2013 6 Winantyo dan Rohmadyati (2008)

Sementara itu, hampir lebih dari setengah tenaga kerja yang tersedia di setiap provinsi hanya memiliki ijazah pendidikan SMP ke bawah; kecuali di provinsi DKI Jakarta dan Jambi yang tenaga kerja berpendidikan SMP ke bawah kurang dari 50 persen. Tenaga kerja berpendidikan universitas terbilang sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah tenaga kerja yang memiliki ijazah non-universitas (Lampiran C). Kondisi ini merupakan tantangan ke depan bagi Indonesia untuk menghadapi aliran tenaga kerja terampil antara negara ASEAN pada saat AEC diimplementasikan.

Di lain pihak, kekakuan pasar tenaga kerja sering menjadi permasalahan bagi pengusaha, terutama terkait dengan: penentuan upah minimum, aturan pesangon, dan aturan tenaga kerja kontrak6. Pasar

tenaga kerja yang kaku merupakan salah satu faktor yang menghambat terbukanya kesempatan kerja, karena para investor tidak memperoleh insentif untuk mengembangkan usahanya di Indonesia. Di sisi lain, penetapan upah minimum yang terlalu rendah diangggap tidak memenuhi standar hidup layak dan berdampak pada tingkat kesejahteraan masyarakat yang rendah.

Namun demikian, SMERU (2003) menemukan bahwa upah mimimum yang merupakan salah satu indikator fleksibilitas tenaga kerja mempengaruhi kesempatan kerja secara signifikan dan upah minimum tampaknya juga telah mengurangi insentif bagi pekerja untuk meningkatkanproduktivitas. Hal ini karena membatasi kemampuan perusahaan untukmenggunakan upah sebagai sistem insentif untuk meningkatkan produktivitas pekerja. Sementara itu, kenaikan upah minimum di Indonesia terlihat lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan upah minimum di Thailand dan Filipina.

Gambar 14. Peningkatan Upah Minimum Beberapa Negara ASEAN

Sumber: ILO Database (diolah)

Sementara itu, JETRO (2006) telah melakukan analisis terhadap iklim ketenagakerjaan di enam negara ASEAN, China, dan India. Hasil perbandingan menunjukkan bahwa iklim ketenagakerjaan di Indonesia cenderung lebih kaku dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya. Sebagai contoh, tenaga kerja kontrak tidak diperkenankan di Indonesia tetapi masih dimungkinkan untuk dilakukan di negara ASEAN lainnya walaupun dengan beberapa persyaratan. Contoh lainnya adalah proses pemutusan hubungan kerja yang relatif lebih sulit serta regulasi yang terlalu melindungi pihak buruh sehingga merugikan pihak pengusaha. Perbandingan iklim ketenagakerjaan ini selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran D.

Stiglitz (2012) dalam acara Seminar World Economic Forum on “Asean Connectivity: Road Map to 2015 secara tegas mengingatkan:

Asean has been warned of downside risks of economic integration, especially the free movement of skilled labour, which could lead to a brain drain from poor countries

to richer ones”

Hal ini karena arus perpindahan tenaga kerja terampil akan terjadi dari negara yang lebih miskin ke negara yang lebih maju, sehingga akan menyebabkan kekosongan (hollow-out)tenaga kerja terampil di negara yang lebih miskin.

Sementara itu, kesiapan daerah untuk menghadapi AEC dapat tergambarkan dari hasil survei yang dilakukan oleh Benny dan Abdullah (2011). Survei yang dilakukan terhadap 399 responden di 5 kota Indonesia (Jakarta, Medan, Makassar, Pontianak, dan Surabaya) menunjukkan ketidakpahaman masyarakat terhadap keberadaan AEC yang akan diimplementasikan pada tahun 2015. Masyarakat sudah memahami keberadaaan ASEAN, tetapi sebagian besar belum mengetahui adanya ASEAN Community. Kemudian, bagi yang telah mengetahui adanya ASEAN Community, hanya 39 persen yang mengetahui bahwa pelaksanaannya akan dilaksanakan pada thaun 2015. Namun demikian, masyarakat pada umumnya (sekitar 88% responden) menyatakan akan mendukung pelaksanaan AEC.

Keterangan:

* : pertanyaan diajukan kepada responden yang telah tahu adanya ASEAN Community

A : Jakarta

B : Makasar

C : Medan

D : Pontianak

E : Surabaya

Kemudian, pada bulan Maret 2013 Kementerian Luar Negeri melakukan survei tentang kesiapan masyarakat Sulawesi Selatan terhadap AEC 2015. Survei ini dilakukan kepada 153 peserta sosialisasi AEC, yang terdiri dari: pelaku usaha, pegawai negeri, mahasiswa, dan peserta lainnya. Dari hasil survei ini diperoleh bahwa sebagian besar sudah mengetahui tentang AEC, namun belum memiliki pemahaman yang cukup. Para responden merasa optimis terhadap AEC yang akan memberikan manfaat bagi masyarakat Sulawesi Selatan. Selanjutnya, para responden menyatakan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi oleh Indonesia dalam menghadapi AEC adalah kurangnya dukungan pemerintah kepada pelaku usaha dan daya saing Indonesia yang masih lemah.7