BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian
4.1.3 Potensi Parawisata Bangun Cagar Budaya di
4.1.4.1 Pengujian Asumsi Klasik
4.1.4.2.3 Hasil Uji Parsial (Uji t)
Pada uji statistik secara parsial dengan nilai t kritis (critical value) pada df = (n-k), dimana n adalah jumlah sampel dan k adalah jumlah variabel independen termasuk konstanta. Untuk menguji koefisian regresi parsial secara individu dari masing-masing variabel bebas dapat dilihat pada Tabel 4.9.
Tabel 4.9. Hasil Uji Statistik-t
Pada Tabel 4.9. hasil uji statistik t diperoleh, sebagai berikut :
1. Variabel pendiidikan berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap pengembangan pariwisata Kabupaten Serdang Bedagai.
2. Variabel informasi yang dilakukan pelaku usaha berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap pengembangan pariwisata Kabupaten Serdang Bedagai.
3. Variabel layanan pengelola berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap pengembangan pariwisata Kabupaten Serdang Bedagai.
4. Variabel fisik bangunan berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap pengembangan pariwisata Kabupaten Serdang Bedagai.
5. Variabel akses menuju lokasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengembangan pariwisata Kabupaten Serdang Bedagai.
Berdasarkan Tabel 4.9. dapat disusun persamaan regresi berganda sebagai berikut :
Y = -0,916+ 0,327 X1 + 0,330 X2 + 0,300 X3 + 0,352 X4 + 1,302 X5 Model persamaan regresi berganda tersebut bermakna :
1. Nilai konstanta sebesar -0,916 yang berarti jika tidak ada nilai variabel independen, dalam hal ini pendiidikan, informasi, layanan pengelola, fisik bangunan, dan akses menuju lokasi sama dengan 0 (nol) maka nilai pengembangan pariwisata Kabupaten Serdang Bedagai akan sebesar -0,916.
2. Variabel pendiidikan (X1) memiliki nilai koefisien beta sebesar 0,327 dan bertanda positif. Ini berarti setiap penambahan atau kenaikan satu satuan skor variabel pendiidikan akan menambah nilai skor pengembangan pariwisata di Kabupaten Serdang Bedagai sebesar 0,327 satuan skor.
3. Variabel informasi (X2) memiliki nilai koefisien beta sebesar 0,330 dan bertanda positif. Ini berarti setiap penambahan atau kenaikan satu satuan skor variabel informasi akan menambah nilai skor pengembangan pariwisata di Kabupaten Serdang Bedagai sebesar 0,330 satuan skor.
4. Variabel layanan pengelola (X3) memiliki nilai koefisien beta sebesar 0,300 dan bertanda positif. Ini berarti setiap penambahan atau kenaikan satu satuan skor variabel layanan pengelola akan menambah nilai skor pengembangan pariwisata di Kabupaten Serdang Bedagai sebesar 0,300 satuan skor.
5. Variabel fisik bangunan (X4) memiliki nilai koefisien beta sebesar 0,352 dan bertanda positif. Ini berarti setiap penambahan atau kenaikan satu satuan skor variabel fisik bangunan akan menambah nilai skor pengembangan pariwisata di Kabupaten Serdang Bedagai sebesar 0,352 satuan skor.
6. Variabel akses menuju lokasi (X5) memiliki nilai koefisien beta sebesar 1,302 dan bertanda positif. Ini berarti setiap penambahan atau kenaikan satu satuan skor variabel akses menuju lokasi akan menambah nilai skor pengembangan pariwisata di Kabupaten Serdang Bedagai sebesar 1,302 satuan skor.
4.1.5. Strategi Pengembangan Pariwisata Bangunan Cagar Budaya di Kabupaten Serdang Bedagai
Faktor-faktor yang merupakan kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dapat dilihat pada Tabel 4.10
Tabel 4.10. Data SWOT Pengembangan Pariwisata Bangunan Cagar Budaya di Kabupaten Serdang Bedagai
Kekuatan (Strengths) Kelemahan (Weaknesses)
1. Potensi wisata bangunan cagar budaya 2. Potensi seni budaya
3.Kondisi jalan
4.Keinginan masyarakat untuk berkembang
1. Fasilitas dan sarana prasarana 2. Sarana transportasi dan jarak
pencapaian
3. Kurangnya atraksi wisata seperti pergelaran kesenian
4. SDM rendah kualitasnya Peluang (Opportunities) Ancaman (Threats ) 1. Sektor Pariwisata yang semakin
berkembang dan semakin diminati.
2. Menyerap tenaga kerja di daerah sekitar objek wisata yang dapat mengurangi pengangguran.
3. Teknologi yang semakin berkembang 4. Jumlah wisatawan dan opini positif dari
wisatawan ke orang lain
1. Persaingan pariwisata antar objek wisata
2. Terjadinya bencana/gangguan alam
3. Perilaku negatif wisatawan terhadap obyek wisata
4. Kurangnya dukungan Pemerintah dalam promosi maupun sarana-prasarana
Sumber : Penelitian 2021, data diolah
Selanjutnya berdasarkan Tabel 4.10 dilakukan pembobotan, rating dan skor dari masing-masing faktor internal pengembangan wilayah potensi pariwisata bangunan cagar budaya yang dapat dilihat pada Tabel 4.11.
Tabel 4.11. Analisis Faktor Internal Potensi Pariwisata Bangunan Cagar Budaya
Faktor Internal Strategis Bobot Rating Skor
Kekuatan
1. Potensi wisata bangunan cagar budaya 2.Potensi seni budaya
3.Kondisi jalan
4.Keinginan masyarakat untuk berkembang Kelemahan
1. Fasilitas dan sarana prasarana
2. Sarana transportasi dan jarak pencapaian 3.Kurangnya atraksi wisata seperti pergelaran kesenian
Sumber : Penelitian 2021, data diolah
Hasil analisis di atas menunjukkan bahwa faktor internal yang dominan adalah : potensi wisata bangunan cagar budaya, potensi seni budaya, kondisi jalan, keramahan masyarakat sekitar, fasilitas dan sarana prasarana, sarana transportasi dan jarak pencapaian, kurangnya atraksi wisata seperti pergelaran kesenian, dan SDM rendah kualitasnya
Pembobotan, rating dan skor dari masing-masing faktor ekternal pengembangan wilayah potensi Pariwisata bangunan cagar budaya Kabupaten Serdang Bedagai yang dapat dilihat pada Tabel 4.12.
Tabel 4.12. Analisis Faktor Eksternal Potensi Pariwisata Bangunan Cagar Budaya
Faktor Eksternal Strategis Bobot Rating Skor
Peluang
1. Sektor Pariwisata yang semakin berkembang dan semakin diminati.
2. Menyerap tenaga kerja di daerah sekitar objek wisata yang dapat mengurangi pengangguran.
3. Teknologi yang semakin berkembang 4. Jumlah wisatawan dan opini positif dari wisatawan ke orang lain
Ancaman
1. Persaingan pariwisata antar objek wisata 2. Terjadinya bencana/gangguan alam 3. Perilaku negatif wisatawan terhadap obyek wisata
Sumber : Penelitian 2021, data diolah
Hasil analisis di atas menunjukkan bahwa faktor eksternal yang dominan adalah : sektor pariwisata yang semakin berkembang dan semakin diminati, menyerap tenaga kerja di daerah sekitar objek wisata yang dapat mengurangi pengangguran, teknologi yang semakin berkembang, jumlah wisatawan dan opini positif dari wisatawan ke orang lain, persaingan pariwisata antar objek wisata, terjadinya bencana/gangguan alam, perilaku negatif wisatawan terhadap obyek wisata, dan kurangnya dukungan Pemerintah dalam promosi maupun sarana-prasarana
Setelah keempat komponen (kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman) dapat diketahui, selanjutnya dengan menggunakan matrik SWOT diusahakan untuk memperoleh alternatif strategi yang didasarkan pada logika dengan memaksimalkan kekuatan (strengths) dan memanfaatkan peluang (opportunities) secara bersamaan harus dapat meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan
mengantisipasi ancaman (threats). Secara lengkap matrik SWOT dapat dilihat pada Tabel 4.13.
Tabel 4.13. Data SWOT Potensi Pariwisata Bangunan Cagar Budaya Kabupaten Serdang Bedagai
Peluang (Opportunities) Strategi SO Strategi WO
1. Sektor Pariwisata yang semakin berkembang dan semakin diminati.
2. Menyerap tenaga kerja di daerah sekitar objek wisata yang dapat mengurangi pengangguran.
3. Teknologi yang semakin berkembang
4. Jumlah wisatawan dan opini positif dari wisatawan ke orang lain
Ancaman (Threats ) Strategi ST Strategi WT
1. Persaingan pariwisata antar
Sumber : Penelitian 2021, data diolah
Dari matrik SWOT di atas dapat dirumuskan 12 alternatif strategi yang merupakan solusi terpilih yang meliputi : 2 alternatif untuk Strategi-SO, 4
alternatif untuk Strategi-WO, 2 alternatif untuk strategi-ST dan 4 alternatif untuk Strategi-WT, yaitu :
1. Menjaga kebersihan lingkungan dan keindahan alam.
2. Mengembangkan obyek dan daya tarik wisata (yang meliputi wisata seni dan budaya) dengan meningkatkan fasilitas informasi serta atraksi wisata
3. Menambah atraksi wisata
4. Meningkatkan promosi menggunakan teknologi.
5. Meningkatkan sarana prasarana dan fasilitas objek wisata.
6. Meningkatkan kualitas SDM dengan mengadakan training.
7. Mengembangkan jalinan kerjasama antara masyarakat lokal, pemerintah, dan swasta dalam hal pengembangan sarana dan usaha yang bersifat kepariwisataan di lokasi obyek wisata bangunan cagar budaya.
8. Menjaga nama baik dari opini positif wisatawan.
9. Meningkatkan kualitas keunggulan objek wisata untuk mengatasi persaingan pariwisata.
10. Menawarkan alat transportasi umum yang langsung ke objek wisata.
11. Memperluas promosi dan pemasaran obyek wisata bangunan cagar budaya dari berbagai segmen pasar lokal, regional, nasional maupun internasional 12. Mengembangkan seni dan budaya daerah tersebut sebagai bentuk pelestarian
pesona wisata dan kekayaan nilai-nilai adat dan budaya daerah
4.2. Pembahasan
Pengembangan pariwisata di Kabupaten Serdang Bedagai tidak hanya dilakukan oleh pemerintah, akan tetapi juga melibatkan masyarakat secara penuh dalam proses tersebut. Masyarakat dipandang sebagai aktor utama dalam
pengembangan pariwisata, pemerintah mendukung hal tersebut dengan berbagai regulasi yang mengatur dan melindungi kepentingan dari masyarakat. Pemusatan pada masyarakat tersebut menunjukkan bahwa pengembangan pariwisata dapat dilakukan dengan menerapkan strategi praktik bersama komunitas (community practice).
Glen (1993) menyebutkan bahwa pencapaian tujuan bersama harus dilakukan secara terintegrasi melibatkan semua komponen di dalam masyarakat termasuk pemerintah dan kelembagaan terkait, yang disebut sebagai praktik bersama komunitas (community practice). Salah satu bentuk community practice adalah community development (pengembangan masyarakat). Pengembangan masyarakat dapat dipandang sebagai usaha yang terencana untuk membangun aset yang meningkatkan kapasitas penghuni untuk memperbaiki kualitas hidup mereka (Green and Haines, 2002 dalam Resnawaty, 2014). Kretzmann and McKnight (1993 dalam Resnawaty, 2014) mengemukakan bahwa aset sebagai bakat, keterampilan, dan kapasitas dari individual, asosiasi, dan institusi dalam suatu komunitas. Lima tipe aset yaitu fisik, manusia, sosial, finansial, dan lingkungan.
Namun lebih lanjut dari pengembangan usaha ekonomi, pengembangan masyarakat juga berbicara mengenai bagaimana perubahan masyarakat menjadi masyarakat yang memiliki kapasitas untuk menghadapi berbagai perubahan atas perkembangan industri wisata di daerahnya.
Pengembangan masyarakat pada dasarnya dapat dibedakan menjadi dua kategori yaitu pengembangan tempat (place) dan pengembangan orang (people).
Pengembangan masyarakat yang berfokus pada people akan berupaya untuk meningkatkan kapasitas setiap individu yang ada di wilayah miskin. Namun,
setelah kapasitas individu meningkat, apakah ada jaminan akan lapangan pekerjaan di wilayah miskin tersebut. Akibatnya individu yang sukses (dengan kemampuan yang meningkat) akan berpotensi meninggalkan wilayah miskin tersebut untuk mencari lapangan kerja yang lebih menjanjikan di wilayah yang baru. Sedangkan, pengembangan masyarakat yang memfokuskan kepada place, memungkinkan komunitas untuk dapat menawarkan investasi baru di wilayah mereka.
Upaya yang dilakukan dalam pengembangan pariwisata adalah meletakkan landasan yang kukuh bagi pengembangan pariwisata Kabupaten Serdang Bedagai sehingga mendukung citra Provinsi Sumatera Utara sebagai daerah tujuan wisata yang berbudaya tinggi dalam peta kepariwisataan dunia melalui pengembangan produk pariwisata dan pengembangan pemasaran pariwisata dalam dan luar negeri. Tujuan program ini adalah untuk meningkatkan jumlah wisatawan lokal dan mancanegara yang berkunjung ke Kabupaten Serdang Bedagai dan meningkatkan minat investor untuk membangun objek-objek wisata di Kabupaten Serdang Bedagai.
Kegiatan yang telah dikembangkan untuk tujuan pengembangan pariwisata di Kabupaten Serdang Bedagai adalah dengan melakukan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Melakukan studi analisis pasar pariwisata
2. Merumuskan strategi pemasaran pariwisata dengan penekanan pada keterpaduan antara produk dan pemasaran pariwisata, termasuk pengembangan sistem informasi jaringan pariwisata antar daerah dalam
rangka mendukung penguatan dan pengembangan promosi pariwisata terpadu ke pasar global.
3. Melaksanakan even-even dan hiburan pada lokasi wisata potensial secara terjadwal yang tertuang dalam kalender kegiatan wisata dengan kualitas yang semakin meningkat
4. Pemasaran paket-paket pariwisata melalui travel biro
5. Memberikan pembinaan bagi wartawan untuk menulis laporan dan artikel kepariwisataan di media massa
6. Meningkatkan distribusi pelayanan informasi antara lain dengan penerbitan dan penyebaran brosur dan leaflet tentang kepariwisataan Kabupaten Serdang Bedagai
7. Mengembangkan kerjasama luar negeri antara lain mengundang tour operator mancanegara untuk berkunjung ke Kabupaten Serdang Bedagai
Selain itu perlu juga ditingkatkan program pengembangan dan perluasan diversifikasi produk dan kualitas pariwisata yang berbasis pada pemberdayaan masyarakat, kesenian dan kebudayaan lokal serta sumber daya alam (panorama) dengan tetap memperhatikan kelestarian seni dan budaya tradisional serta kelestarian lingkungan hidup setempat. Untuk mewujudkan tujuan ini, pemerintah telah melakukan beberapa pembenahan sebagai berikut :
1. Rehabilitasi tempat duduk (selter), rumah ibadah dan fasilitas telekomunikasi pada kawasan wisata.
2. Pelabelan produk rumah makan/restoran halal untuk konsumsi wisatawan.
3. Penataan lingkungan dan fasilitas objek wisata.
4. Peningkatan kemampuan lembaga pelayanan publik melalui peningkatan kualitas SDM kepariwisataan dan penyediaan peraturan terkait yang kondusif bagi pengembangan industri pariwisata dan penyediaan kerjasama antar provinsi dan antar kabupaten/kota dalam pengembangan pariwisata.
5. Peningkatan sarana dan prasarana transportasi yang memperlancar aksesibilitas wisatawan ke lokasi objek wisata.
6. Peningkatan masyarakat sadar wisata melalui perilaku dan budaya terutama pada lokasi objek wisata.
7. Meningkatkan kesadaran tugas dan tanggung jawab seluruh stake holders melalui inisiatif forum lintas pelaku pariwisata.
8. Meningkatkan sinergi pengembangan produk kepariwisataan lintas kota/kabupaten.
63
5.1. Kesimpulan
1. Potensi pariwisata bangunan cagar budaya di Kabupaten Serdang Bedagai dengan indikator meliputi produk dan daya tarik wisata, dukungan SDM, infrastruktur dan kualitas berada pada daerah tengah-tengah.
2. Faktor pendidikan, informasi, layaan pengelola, fisik bangunan, akses menuju lokasi berpengarih positif terhadap pengembangan pariwisata bangunan cagar budaya di Kabupaten Serdang Bedagai, namun hanya akses menuju lokasi yang berpengaruh signifikan terhadap pengembangan pariwisata bangunan cagar budaya di Kabupaten Serdang Bedagai
3. Strategi pengembangan pariwisata bangunan cagar budaya di Kabupaten Serdang Bedagai adalah 1) Menjaga kebersihan lingkungan dan keindahan alam, 2) Mengembangkan obyek dan daya tarik wisata (yang meliputi wisata seni dan budaya) dengan meningkatkan fasilitas informasi serta atraksi wisata, 3) Menambah atraksi wisata, 4) Meningkatkan promosi menggunakan teknologi, 5) Meningkatkan sarana prasarana dan fasilitas objek wisata, 6) Meningkatkan kualitas SDM dengan mengadakan training, 7) Mengembangkan jalinan kerjasama antara masyarakat lokal, pemerintah, dan swasta dalam hal pengembangan sarana dan usaha yang bersifat kepariwisataan di lokasi obyek wisata bangunan cagar budaya, 8) Menjaga nama baik dari opini positif wisatawan, 9) Meningkatkan kualitas keunggulan objek wisata untuk mengatasi persaingan pariwisata, 10) Menawarkan alat transportasi umum yang langsung ke objek wisata, 11)
Memperluas promosi dan pemasaran obyek wisata bangunan cagar budaya dari berbagai segmen pasar lokal, regional, nasional maupun internasional, dan 12) Mengembangkan seni dan budaya daerah tersebut sebagai bentuk pelestarian pesona wisata dan kekayaan nilai-nilai adat dan budaya daerah
5.2. Saran
1. Mengembangkan obyek wisata bangunan cagar budaya haruslah melibatkan berbagai pihak yang saling terkait satu dengan yang lain dan tidak dapat dipisahkan, yaitu masyarakat sekitar, pihak pemerintah serta pihak swasta.
2. Dalam mengembangkan pariwisata bangunan cagar budaya harus lebih memprioritaskan penambahan dan peningkatan fasilitas, sarana prasarana yang ada di kawasan obyek wisata bangunan cagar budaya.
3. Perlu adanya promosi dan pemasaran yang lebih baik dan meluas.
DAFTAR PUSTAKA
Budiharsono, S. 2005. Teknik Analisis Pembangunan Wilayah Pesisir dan Lautan.
Pradnya Paramita. Jakarta.
Conyers, D. 1994. Perencanaan Sosial di Dunia Ketiga: Suatu Pengantar.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Damanik, J. dan H.F. Weber. 2006. Perencanaan Ekowisata. Yogyakarta : Andi.
Fandeli, C. 1995. Dasar-Dasar Manajemen Kepariwisataan Alam. Yogyakarta : Penerbit Liberty.
Fandeli, C. 2000. Pengusahaan Ekowisata. Yogyakarta: Fakulatas Kehutanan Universitas Gadjah Mada
Gartner, C. W. 1996. Tourism Development,Principle, Process, and Policies. New York: International Thomson Publishing Company
Glasson, J. 1999. An Introduction to Regional Planning Concepts,Theory and Practice. Melbourne : Hutchinson.
Gunn, C.A. 1994. Tourism Planning: Basic, Concepts, Cases. USA: Taylor &
Francis
Hadinoto, K. 1996. Perencanaan Pengembangan Destinasi. Jakarta: Universitas Indonesia (UI-PRESS)
Inskeep, E. 1991. Tourism Planning And Suistainable Development Approach.
Van Nostrand Reinblod, New York
Jayadinata, T. J. 1999. Tata Guna Tanah Dalam Perencanaan Pedesaan, Perkotaan dan Wilayah, Bandung: Penerbit ITB.
Kelly, J.R. 1998. Leisure. In: Bogatta, E.F. ed. Encyclopedia of Sociology, Vol. 3.
Macmillan, New York
Kotler, P. .1993. Manajemen Pemasaran, Perencanaaan, Implementasi dan Kontrol. Jakarta: PT Rosdakarya
Marpaung, H dan H. Bahar. 2002. Pengantar Pariwisata. Bandung : Alfabeta
Mill, R. dan Morrison. 1985. The Tourism System. New Jarsley:Prentice hall International
Pearce, 1989. Tourism Development, University of Conterbury, ChristchurchNew Zealand
Pitana, I G. dan P.G. Gayatri. 2005. Sosiologi Pariwisata. Yogyakarta:
Penerbit Andi.
Safi`i, M. 2007. Strategi dan Kebijakan Pembangunan Ekonomi Daerah.
Perspektif Teoritik. Malang : Averroes Press.
Soekadijo, R. G. 2000. Anatomi Pariwisata. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.
Spillane, J. 1987. Ekonomi Pariwisata (Sejarah dan Prospeknya). Jakarta:
Penerbit Kanisius
Spillane, J. 1994. Pariwisata Indonesia, Siasat Ekonomi dan Rekayasa Kebuadayaan. Kanisius. Yogyakarta.
Umar, H. 2005. Metode Penelitian. Salemba Empat. Jakarta.
Wahab, S. 2003. Manajemen Kepariwisataan. Jakarta: Paramita Pradnya.
Wardiyanta. 2006. Metode Penelitian Pariwisata. Yogyakarta. Andi Offset.
Wardiyanto dan M. Baiquni. 2011. Perencanaan Pengembangan Pariwisata.
Bandung: Lubuk Agung.
Yoeti, Oka A. 1996. Pengantar Ilmu Pariwisata. Angkasa. Bandung
Yoeti, Oka A. 2001. Perencanaan Strategis Pemasaran Daerah Tujuan Wisata.
Paramita Pradnya. Jakarta
Lampiran 1
Kuisioner Penelitian Pengantar !
Kuisioner ini disebarkan dengan tujuan untuk mendapatkan informasi dan data penelitian
Yang berjudul : “Pengaruh Pengembangan Kawasan Cagar Budaya dalam Pengembangan Wilayah Kabupaten Serdang Bedaga “, guna menyelesaikan tesis pada Sekolah Pascasarjana Jurusan PWD USU Medan. Terima kasih atas partisipasinya !
Peneliti – Dicky
No.Resp : Petunjuk :
1. Berikan tanda cek (√) pada jawaban yang tersedia menurut kondisi yang Bapak/Ibu/Sdr/i ketahui mengenai peran pelaku usaha dalam mendukung pengembangan pariwisata
2. Jawab pertanyaan berupa isian dengan singkat dan jelas.
3. Bila telah selesai diisi mohon dikembalikan kepada yang membagikan.
Kecamatan : ...
II. Potensi Pariwisata Bangunan Cagar Budaya
Potensi pariwisata cagar budaya dalam pengembangan pariwisata, dengan indikator : produk dan daya tarik objek wisata, dukungan SDM, nfrastrukturdan kualitas lingkungan
1. Bagaimana kondisi produk dan daya tarik cagar budaya di Kabupaten Serdang Bedagai dalam pengembangan pariwisata ?
a. Sangat Menarik b. Menarik
c. Cukup Menarik
d. Kurang Menarik e. Tidak Menarik
2. Bagaimana dukungan sumber daya manusia dalam pengembangan pariwisata cagar budaya di Kabupaten Serdang Bedagai ?
a. Sangat Mendukung b. Mendukung
c. Cukup Mendukung d. Kurang Mendukung e. Tidak Mendukung
3. Bagaimana dukungan infrastruktur dalam pengembangan pariwisata cagar budaya di Kabupaten Serdang Bedagai ?
a. Sangat Mendukung b. Mendukung
c. Cukup Mendukung d. Kurang Mendukung e. Tidak Mendukung
4. Bagaimana kondisi kualitas lingkungan di kawasan cagar budaya Kabupaten Serdang Bedagai seperti keamanan, kenyamanan, kebersihan, kebisingan agar jangan sampai mengurangi ketertarikan wisatawan untuk berwisata?
a. Sangat Mendukung b. Mendukung
c. Cukup Mendukung d. Kurang Mendukung e. Tidak Mendukung
III. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengembangan Pariwisata Bangunan Bangunan cagar budaya di Kabupaten Serdang Bedagai
No Pertanyaan Jawaban
Pendidikan (X1)
1 Apakah pendidikan formal (SD, SLTP, SLTA, Perguruan Tingg) berpengaruh untuk pengembangan pariwisata bangunan cagar budaya 2 Apakah pendidikan informal formal (pelatihan) berpengaruh
untuk pengembangan pariwisata bangunan cagar budaya
a. Sangat berpengaruh
1 Bagaimana menurut penilaian Bapak/Ibu mengenai ketersediaan informasi di kawasan bangunan cagar budaya untuk mendukung keberadaan pariwisata 2 Bagaimana menurut penilaian Bapak/Ibu mengenai upaya
promosi yang telah dilakukan pemerintah terhadap pariwisata bangunan cagar budaya
1 Bagaimana menurut penilaian Bapak/Ibu mengenai pelayanan penyedia jasa wisata seperti pelayan souvenir shop, dan lain-lain.
a.Sangat Baik b Baik c. Cukup d. Kurang Baik e. Tidak Baik 2 Bagaimana menurut penilaian Bapak/Ibu mengenai upaya
promosi yang telah dilakukan pengelola terhadap bangunan cagar budaya
1 Bagaimana menurut tanggapan Bapak/Ibu mengenai kondisi fisik bangunan cagar budaya di wilayah penelitian
a. Sangat Baik (kondisi 2 Apakah menurut Bapak/Ibu, pemerintah telah melakukan
perawatan bangunan cagar budaya
Akses Menuju Lokasi (X5)
1 Bagaimana menurut penilaian Bapak/Ibu mengenai infrastruktur yang ada di kawasan bangunan cagar budaya
a. Sangat Baik b. Baik c. Cukup d. Kurang Baik e. Tidak Baik 2 Bagaimana menurut penilaian Bapak/Ibu terhadap menjangkau
(aksessibilitas) objek wisata yang ada di bangunan cagar budaya
a. Sangat Baik
1 Bagaimana menurut tanggapan Bapak/Ibu mengenai peran pemerintah dalam pengembangan daya tarik atraksi wisata di Kabupaten Tapanuli Utara
a. Sangat aktif b. Aktif c. Sedang d. Kurang aktif e. Tidak aktif 2. Apakah pemerintah, masyarakat dan pihak swasta
aktif dalam pengembangan pariwisata bangunan 3 Bagaimana menurut penilaian Bapak/Ibu tentang
ketersediaan akomodasi seperti, restaurant di
4 Bagaimana menurut penilaian Bapak/Ibu mengenai
jumlah sarana angkutan umum menuju lokasi wisata a. Sangat Banyak (> 6) b. Banyak (5-6)
c. Sedang (3-4) d. Sedikit (1-2) e. Tidak ada
Lampiran 2. Rataan Tabulasi Potensi Pariwisata
37 2 2 3 3
75 3 2 3 2
Lampiran 3. Tabulasi Data Variabel Penelitian
38 7 5 7 6 7 17
79 6 5 6 6 6 14
80 7 6 6 6 6 15
81 6 6 6 7 7 16
82 6 5 5 7 7 17
83 6 6 7 6 7 16
84 5 5 5 5 5 18
85 7 6 6 6 6 15
86 7 6 6 6 6 15
87 6 5 6 6 7 15
88 6 7 6 6 6 14
89 6 6 6 6 6 15
90 6 6 7 6 7 16
91 5 6 6 5 5 17
92 6 5 6 6 6 14
93 5 6 6 7 6 16
94 6 6 6 6 7 16
95 6 6 6 6 7 16
96 6 6 6 6 6 16
97 6 6 6 5 5 15
98 6 6 7 6 7 16
99 5 6 4 4 6 17
100 6 5 6 6 6 14
Lampiran 4. Hasil Analisis Regresi
Variables Entered/Removedb
Model Variables Entered Variables Removed Method
dim e nsio n0
1 Akses menuju lokasi, Pendidikan, Fisik Bangunan, Informasi,
a. Predictors: (Constant), Akses menuju lokasi, Pendidikan, Fisik Bangunan, Informasi, Layanan Pengelola b. Dependent Variable: Pengembangan pariwisata
a. Predictors: (Constant), Akses menuju lokasi, Pendidikan, Fisik Bangunan, Informasi, Layanan Pengelola b. Dependent Variable: Pengembangan pariwisata