Pengembangan hilirisasi juga perlu dilakukan untuk komoditas berbasis pertanian yang memiliki potensi besar di KTI. Tiga komoditas utama di KTI yang memiliki pangsa produksi >40% terhadap nasional adalah kelapa, kakao, dan perikanan. Ketiga komoditas tersebut berpotensi untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah tinggi. Masing-masing komoditas jika dikembangkan menjadi produk olahan akan memberikan nilai tambah yang cukup besar antara 30% - 600%.
Sebagai gambaran tingginya potensi ekspor produk olahan ketiga komoditas tersebut, Malaysia sebagai salah satu importir Kakao terbesar Indonesia, mengolahnya menjadi coklat batangan, yang kemudian di ekspor ke sejumlah negara termasuk Indonesia. Demikian pula, Filipina yang juga sebagai negara importir kelapa, telah berhasil memanfaatkan kelapa sebagai bio-cocofuel. Selanjutnya, untuk komoditas perikanan, Thailand menjadi salah satu contoh sukses dengan keberhasilannya mendominasi pasar ekspor ikan kaleng, meski sebagian besar bahan bakunya masih diimpor dari Indonesia.
Tabel V.2. Potensi Hilirisasi Pertanian
Keberhasilan negara-negara tersebut dalam melakukan hilirisasi disebabkan oleh terpenuhinya faktor pendukung antara lain suplai listrik yang mencukupi, sistem perizinan yang lebih sederhana dan jelas, serta jaminan kontinuitas bahan baku baik melalui impor maupun produksi lokal. Belum terpenuhinya faktor-faktor tersebut khususnya listrik dan kontinuitas bahan baku menyebabkan rendahnya preferensi pelaku usaha untuk melakukan hilirisasi. Alokasi listrik yang masih dominan untuk rumah tangga, menyebabkan pemenuhan listrik industri relatif terbatas.
Namun, ditengah berbagai kendala tersebut, hilirisasi pada ketiga komoditas telah dilakukan meski masih terbatas dalam bentuk barang setengah jadi dan dengan skala relatif kecil. Kondisi ini terlihat dari share ekspor produk olahan komoditas tersebut baik terhadap total produksi maupun terhadap ekspor nasional yang masih rendah. Sebagai contoh, dari produksi kakao sebesar 582,3 ribu ton hanya 34 ribu ton yang diekspor dari KTI dalam bentuk barang setengah jadi yakni serbuk, butter, shell, liquor, dan cacao cake. Jumlah ini hanya 15%
dari ekspor nasional untuk jenis produk serupa. Demikian pula dengan komoditas perikanan, dari produksi 11,6 juta ton hanya 180 ton yang diekspor dalam bentuk ikan yang diawetkan (diasinkan, asap, dan sejenisnya) atau 0,46% ekspor nasional untuk produk serupa dan hanya 10 ribu ton yang diekspor dalam bentuk olahan ikan atau 0,13% ekspor nasional untuk produk serupa. Berbeda dengan komoditas lainnya, ekspor olahan dari
komoditas kelapa sudah mencapai 100% dari total produksi, namun nilai tambah produk tersebut masih relatif rendah jika dibandingkan dengan produk yang mampu dihasilkan oleh Filipina.
Bagian VI
Meningkatnya anggaran transfer daerah pada APBN-P 2015 disertai adanya alokasi dana desa sebagai amanat UU No.6 Tahun 2014 tentang Desa memberikan peluang besar bagi daerah untuk dapat mempercepat pembangunan di daerah. Peluang ini menjadi semakin penting ditengah dinamika perekonomian domestik yang cenderung tumbuh melambat sehingga belanja daerah dapat berperan menjadi stimulus bagi tetap berkembangnya aktivitas perekonomian. Di samping itu, alokasi anggaran yang besar di daerah memberikan harapan akan lebih cepatnya upaya pembenahan struktural di daerah untuk memperkuat fundamental perekonomian yang dapat lebih menjamin pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif. Namun, perkembangan penyerapan belanja fiskal daerah pada Semester I 2015 yang justru diikuti oleh adanya peningkatan penempatan dana milik Pemerintah Daerah di perbankan menunjukkan tantangan yang cukup besar dalam penyerapan belanja daerah. Selain itu, kondisi fiskal di beberapa daerah dihadapkan pada kondisi penurunan alokasi DBH, khususnya bagi daerah yang berbasis migas, sehingga berimplikasi pada perlu dilakukannya penyesuaian pada belanja daerah. Kecenderungan penurunan DBH ini, khususnya DBH sumber daya alam, tidak terlepas dari perkembangan harga komoditas di pasar global yang terus mengalami penurunan sejalan dengan masih lemahnya ekonomi global. Untuk itu, daerah-daerah yang selama ini banyak mengandalkan pada DBH sumber daya alam sebagai sumber pendapatan perlu memprioritaskan upaya hilirisasi untuk berperan sebagai sumber pendapatan baru sekaligus sebagai lokomotif pertumbuhan ekonomi daerah.
Sebagaimana tertuang dalam RPJMN 2015-2019, target pembangunan yang ditetapkan pemerintah dalam jangka 5 tahun kedepan difokuskan pada percepatan pembangunan kewilayahan. Hal ini sesuai dengan Nawa Cita ketiga mengenai membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan. Dengan pembangunan yang lebih merata, diharapkan ketimpangan antar wilayah dapat diminimalisir sehingga daerah mampu berkonstribusi lebih bagi perekonomian nasional.
Peningkatan alokasi transfer pusat ke daerah dan penambahan alokasi dana desa sebagaimana amanat UU No.
6 Tahun 2014 tentang Desa pada APBN-P tahun 2015 merupakan salah satu upaya dan bentuk komitmen pemerintah pusat untuk mendorong percepatan pembangunan di daerah.
Tabel VI.1. Transfer Daerah
Peningkatan dana transfer ke daerah terutama terjadi pada Dana Alokasi Khusus (DAK) yang ditujukan bagi pembangunan infrastruktur fisik daerah. Dalam APBN-P 2015, secara total dana transfer daerah meningkat sebesar 8,8% dibandingkan tahun 2014 atau menjadi senilai Rp648,8 triliun. DAK yang pada APBN 2015 dialokasikan sebesar Rp35,8 triliun, pada APBN-P 2015 ditambah hingga mencapai Rp58,8 triilun atau
miliar Rp
Transfer ke Daerah & Dana Desa 2015 % Pe ruba ha n
2014-2015
meningkat 84,4% dibandingkan tahun sebelumnya. Penambahan DAK pada APBN-P 2015 dialokasikan untuk mendukung program prioritas pemerintah yang sebagian besar berkaitan dengan infrastruktur. Kedepan, dana transfer ke daerah akan terus ditingkatkan, sehingga anggaran belanja daerah akan memiliki porsi yang lebih besar dibandingkan pusat.
Alokasi anggaran dalam jumlah besar yang diberikan kepada daerah memberikan ruang bagi daerah untuk mempercepat berbagai pembenahan struktural di daerah, khususnya terkait dengan infrastruktur.
Pembangunan infrastruktur daerah merupakan pra-syarat penting bagi daerah untuk dapat mengejar ketertinggalan ekonominya. Pemanfaatan anggaran dengan tepat menjadi semakin penting ditengah dinamika perekonomian yang tumbuh melambat, dimana belanja daerah diharapkan dapat berperan sebagai stimulus bagi perekonomian daerah.
Sumber : TEPRA, diolah (data base Kab/Kota di sistem TEPRA masih terbatas)
Gambar VI.1. Indikasi Penyerapan Belanja APBD Provinsi s.d. Triwulan II 2015
Namun, tampaknya hal tersebut masih menghadapi tantangan seiring dengan terbatasnya realisasi belanja pemerintah pada semester I 2015. Penyerapan belanja daerah hingga akhir semester I-2015 secara rata-rata lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Penyerapan belanja daerah tercatat sebesar 25,9% pada semester I 2015, lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2014 (31,1%)30. Penyerapan belanja yang lebih rendah terjadi di sebagian Jawa, Sumatera, dan KTI. Provinsi DKI Jakarta dan Riau merupakan dua daerah yang mencatatkan penyerapan belanja terendah yakni dibawah 20%. Rendahnya penyerapan belanja di DKI Jakarta merupakan dampak dari permasalahan yang berlarut dalam proses pengesahan APBD DKI Jakarta. Sementara, rendahnya penyerapan belanja Riau disebabkan oleh keterlambatan pengesahan panitia pelaksana anggaran. Realisasi belanja yang lebih rendah terindikasi pada belanja pemerintah di tingkat provinsi pada akhir Semester I 2015 sebesar 24,2%, sementara di tingkat kabupaten/kota sebesar 24,6%.
Penyerapan belanja daerah yang rendah diikuti oleh peningkatan penempatan dana Pemerintah Daerah di perbankan. Hingga data Juni 2015, penempatan dana pemerintah daerah di perbankan berada dalam tren meningkat sehingga mencapai Rp279,8 triliun, merupakan jumlah yang tertinggi dalam 3 tahun terakhir. Dana perbankan milik Pemerintah Daerah di wilayah Jawa mengambil porsi 37% dari total dana milik Pemerintah Daerah di perbankan. Tingginya dana perbankan milik Pemerintah Daerah juga didorong oleh adanya peningkatan transfer APBN ke daerah dan transfer Dana Desa secara signifikan. Anggaran transfer ke daerah pada APBN-P 2015 meningkat 11,4% dengan pangsa mencapai 33,3% dari total belanja APBN di 2015.
Kenaikan transfer daerah terbesar terdapat pada komponen Dana Alokasi Khusus (DAK) yang ditujukan untuk
30 Tim Evaluasi Percepatan Realisasi Anggaran, Kemendagri, dan Laporan Monitoring Realisasi APBD & Dana Idle Tw III-2014, DJPK,
mendukung program prioritas pemerintah31. Kenaikan Dana Bagi Hasil (DBH) ditopang oleh kenaikan DBH Pajak, ditengah penurunan DBH SDA. Sementara itu, alokasi Dana Desa meningkat menjadi Rp20,8 T dari sebelumnya hanya Rp9,1 T.
Sumber: DJPK, Kemenkeu
Grafik VI.1. Tren Penempatan Dana Daerah di Perbankan Grafik VI.2. Tren Perkembangan SILPA Wilayah Kurang optimalnya penyerapan fiskal daerah pada semester I 2015, menyebabkan terbatasnya dukungan fiskal untuk mendorong peningkatan aktivitas perekonomian di tengah perlambatan ekonomi yang sedang terjadi.
Penyerapan belanja daerah yang tepat sasaran perlu menjadi concern Pemerintah Daerah agar belanja yang dilakukan mampu memberikan kontribusi dan multiplier effects bagi perekonomian daerah. Alokasi anggaran yang besar, tanpa disertai belanja daerah yang tepat guna berpotensi menyebabkan tidak optimalnya peningkatan pertumbuhan ekonomi daerah. Kondisi ini terindikasi terjadi di wilayah KTI digambarkan oleh Kurva Rahn32 (Grafik VI.4), dimana pada beberapa daerah semakin besarnya porsi pengeluaran pemerintah terhadap PDRB tidak dapat secara optimal meningkatkan pertumbuhan ekonomi di daerahnya. Kondisi fiskal daerah dapat dibagi menjadi 4 kategori yaitu (i) daerah dengan share pengeluaran terhadap PDRB yang cukup tinggi namun dampak pengeluaran pemerintah masih rendah seperti Gorontalo; (ii) daerah dengan share pengeluaran Pemerintah Daerah terhadap PDRB yang rendah dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi seperti di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah dan Bali; (iii) daerah dengan share pengeluaran terhadap PDRB yang cukup tinggi dengan dampak pengeluaran pemerintah masih rendah namun pertumbuhan ekonominya relatif rendah seperti di NTT, Sulawesi Utara, Maluku Utara, Maluku, dan Papua Barat; (iv) daerah dengan share pengeluaran terhadap PDRB yang cukup tinggi dengan dampak fiskal yang rendah dan pertumbuhan ekonomi yang rendah seperti di NTB dan Papua.
Grafik VI.3. Kurva Rahn Perbandingan Pengeluaran Pemerintah Dengan Pertumbuhan Ekonomi
31 Kedaulatan pangan, revitalisasi pasar tradisional, konektivitas, dan layanan kesehatan.
32 Rahn, R. and Fox, H. (1996). What Is the Optimum Size of Government. Dalam Kurva Rahn, pada awalnya semakin besar pengeluaran pemerintah akan mendorong perekonomian namun hanya sampai dengan level tertentu pengeluaran pemerintah tersebut dapat
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec 2013 138516 160871 175009 196876 192794 201365 183672 186551 214364 197429 192230 94116.9 2014 138364 150803 162806 182913 206213 231144 172228 197846 244109 234505 222761 114873 2015 172290 184121 230856 257933 259818 279817
Berdasarkan hasil monitoring yang dilakukan, kendala dalam penyerapan anggaran terutama disebabkan faktor teknis dan administrasi, antara lain keterlambatan juknis, penundaan lelang, peralihan sistem akuntansi dari berbasis kas ke akrual.33 Dari hasil rekap permasalahan yang dikumpulkan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia di daerah, faktor teknis dan administrasi mewakili lebih dari 55% kendala yang ditemui dalam penyerapan APBD. Hanya di wilayah Kalimantan faktor teknis tidak menjadi kendala yang dominan, namun faktor keterbatasan SDM dari sisi jumlah maupun kapasitas dinilai lebih berpengaruh terhadap lambatnya penyerapan belanja APBD. Selain itu, juga terdapat pertimbangan aspek hukum terkait dengan tanggung jawab Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan konsekuensi risikonya. Adapun belum tersalurkannya Dana Desa dari Pemerintah Kabupaten/Kota ke rekening Desa terkendala oleh permasalahan administratif terutama terkait belum adanya pengesahan APBDesa-Perubahan yang mencakup alokasi tambahan Dana Desa dari APBN-P. Jika keterbatasan penyerapan anggaran ini terus berlanjut, maka akan terjadi penumpukan dana
“idle” di perbankan dan berdampak pada tingginya SILPA di akhir tahun anggaran.
Selain terbatasnya penyerapan belanja, fiskal daerah juga dihadapkan pada tantangan terkait dengan transfer DBH, khususnya bagi daerah yang basis ekonominya adalah Sumber Daya Alam (SDA). Penurunan jumlah alokasi DBH SDA sebesar 9,9% pada 2015 terkait dengan harga minyak dan gas bumi yang lebih rendah disertai kinerja lifting migas yang menurun. Sementara, DBH Pertambangan Umum masih meningkat sehingga dapat menahan penurunan DBH SDA lebih besar. Penurunan DBH migas antara lain terjadi di Provinsi Kaltim, Riau, dan Kepri. Namun demikian, terdapat daerah yang mengalami peningkatan alokasi DBH migas yaitu Provinsi Jatim, seiring dengan beroperasinya blok Cepu (Banyu Urip).
Beberapa daerah memiliki porsi sumber pendapatan DBH yang cukup dominan dalam APBD sehingga penurunan alokasi besaran DBH yang diterima berimplikasi pada perlunya penyesuaian belanja. Kondisi ini ditengarai terjadi pada Provinsi Kaltim, Riau, dan Jambi yang APBD-nya telah mengalami defisit anggaran selama beberapa waktu terakhir. Alokasi DBH yang lebih rendah dari ekspektasi pada APBD 2015 menyebabkan dilakukannya penyesuaian anggaran belanja. Di Kalimantan, penyesuaian belanja terutama dilakukan pada anggaran belanja barang modal dan belanja barang dan Jasa, dengan penurunan belanja modal paling dalam terjadi di Kaltim.
Tabel VI.2. Struktur APBD Beberapa Provinsi
Berbagai inisiatif telah dilakukan oleh pemerintah pusat dan daerah untuk mendorong percepatan penyerapan belanja APBD. Langkah yang dilakukan pemerintah pusat secara umum mencakup pengetatan monitoring (sistem pelaporan realisasi APBD), revisi aturan pengadaan, optimalisasi teknologi untuk mempercepat pengadaan (e-catalog/LKPP) serta pemberlakukan sistem insentif (reward) dan punishment dalam rangka mendorong penyerapan anggaran (Dana Insentif Daerah). Kemendagri juga telah secara khusus membentuk tim pemantuan realisasi anggaran di daerah. Sementara itu, langkah mendorong penyerapan belanja yang
33 Penerapan sistem akuntansi berbasis akrual untuk pencatatan keuangan negara mulai dilakukan pada tahun anggaran 2015. Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah No. 71 Tahun 2010 sebagai pengganti Peraturan Pemerintah No.
24 Tahun 2005. Sistem akuntansi akrual seperti yang lazim dilakukan korporasi dipandang lebih menjamin transparansi yang akan 2011 2013 2015* 2011 2013 2015* 2011 2013 2015* 2011 2013 2015* 2011 2013 2015*
Riau 5,4 7,0 8,7 40,6 39,0 41,9 7,0 10,4 7,5 51,3 40,7 39,7 4,3 7,5 10,7
dilakukan pemerintah daerah lebih bersifat persuasif dan monitoring intensif terhadap realisasi anggaran oleh SKPD (koordinasi internal). Hanya sebagian kecil Pemerintah Daerah yang cukup aktif melakukan koordinasi dengan pihak eksternal antara lain terkait pengadaan lahan (koordinasi dengan BPN atau Kementerian LHK) serta melakukan pembenahan sistem pengadaan dengan penerapan aplikasi IT (e-procurement). Selain itu, upaya untuk mengoptimalkan penyerapan belanja juga menghadapi kendala aspek non teknis seperti politik anggaran dan pengadaan lahan serta kekuatiran atas jeratan tindak pidana korupsi.
Pengetatan monitoring kinerja fiskal daerah (APBD) dilakukan secara simultan oleh Kemenkeu dan Kemendagri. Monitoring secara triwulanan dilakukan oleh Kemenkeu dan Kemendagri yang mencakup pula penilaian kinerja pengelolaan pemerintahan daerah34. Berdasarkan ketentuan, terdapat sanksi yang dikoordinasikan antara Kemenkeu dan Kemendagri berupa penundaan penyaluran DAU sebesar 25% pada setiap bulannya apabila laporan monitoring tidak disampaikan. Bagi daerah yang tidak mendapatkan DAU, penetapan sanksi dikenakan sebesar 25% dari jumlah DBH Pajak Penghasilan yg akan disalurkan pada tahun anggaran berjalan. Meski Kemendagri tidak memberikan sanksi finansial atas keterlambatan penyampaian laporan realisasi triwulanan, namun terdapat pertimbangan dalam hal penilaian/pemeringkatan kinerja pengelolaan pemerintah daerah. Selain itu, diimplementasikan pula sistem monitoring di bawah koordinasi Kantor Staf Presiden sebagai upaya penguatan intensitas dan mekanisme pelaporan keuangan APBN/APBD.
Sumber: Departemen Regional I-IV dan KPwDN, Bank Indonesia, diolah
Gambar VI.2. Upaya Percepatan Penyerapam Anggaran di Daerah
Upaya mendorong percepatan penyerapan belanja daerah maupun daerah juga diwujudkan dalam kebijakan revisi ketentuan pengadaan barang dan jasa pemerintah Perpres 172/2014 dengan Perpres 4/201535. Perpress 4/2015 bertujuan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses pengadaan barang dan jasa antara lain melalui percepatan proses tender (3-10 hari kerja) dan ketentuan pengadaan secara elektronis (catalogue, e-purchasing, e-procurement). Percepatan tender dimungkinkan apabila menggunakan mekanisme e-tendering (LKPP) dan pemanfaatan informasi terkait penyediaan barang dan jasa (pra-kualifikasi). Perpres 4/2015 juga secara spesifik mengatur pengadaan barang dan jasa oleh Pemerintah Daerah, yakni dengan kewajiban bagi Pemerintah Daerah mengumumkan Rencana Umum Pengadaan Barang/Jasa secara terbuka kepada masyarakat luas pasca disetujuinya rancangan Perda APBD oleh DPRD. Hal ini diharapkan akan mempercepat proses pencarian vendor yang sesuai kualifikasi. Adapun ketentuan pengadaan barang dan jasa di tingkat Desa diatur melalui Peraturan Bupati/Walikota mengacu pada pedoman yang ditetapkan LKPP sebagai payung
34 Terdapat dua sistem aplikasi pelaporan realisasi APBD, yakni Sistem Informasi Keuangan Daerah (SIKD) yang dikelola DJPK (Laporan semesteran realisasi APBD H+30 dari triwulan yang dilaporkan : http://www.djpk.kemenkeu.go.id/sikd sejak 2006) dan Sistem Informasi Pengelolaan Keuangan Daerah (SIPKD) yang dikelola Ditjen Keuda (Laporan semesteran realisasi APBD (H+30 dari triwulan yang
hukum proses pengadaan menggunakan Dana Desa. Meski belum tercakup dalam Perpres dimaksud, telah terdapat wacana untuk membuat ketentuan pemberian pelayanan hukum kepada pejabat pengadaan yang menghadapi permasalahan hukum dalam lingkup pengadaan barang dan jasa.
Ke depan, perlu diupayakan kebijakan yang lebih bersifat struktural untuk mengakselerasi penyerapan belanja daerah dan mengatasi ketergantungan pendapatan daerah terhadap komoditas SDA. Forum koordinasi lintas sektor/wilayah/pusat-daerah sebagai jembatan dalam mencari penyelesaian kendala penyerapan belanja daerah perlu ditingkatkan, seperti forum daerah dengan BPN untuk masalah pertanahan. Selain itu, perlu diupayakan peningkatan kapasitas SDM terkait dengan public finance management serta penyusunan langkah konkrit untuk mengatasi kekuatiran terkait potensi jeratan tindak pidana korupsi akibat kesalahan prosedural administrasi pengadaan. Terkait dengan penurunan pendapatan daerah di beberapa provinsi, khususnya pendapatan DBH migas, daerah dipandang perlu untuk segera merumuskan strategi pentahapan percepatan hilirisasi SDA.
Bagian VI
Gambaran ketersediaan energi saat ini menunjukkan masih rentannya dukungan ketersediaan energi untuk berkembangan perekonomian nasional. Hal ini dicerminkan oleh (i) tingginya ketergantungan terhadap energi primer, khususnya migas, yang sebagian bersumber dari impor; (ii) terbatasnya pengembangan Energi Baru dan Terbarukan (EBT), serta (iii) ketersediaan listrik yang masih terbatas dan belum merata sebagaimana tercermin dari kondisi cadangan listrik dan rasio elektrifikasi yang masih rendah. Di tengah kondisi perekonomian domestik yang masih cenderung dibayangi risiko perlambatan karena tingginya ketidakpastian perekonomian global, upaya pemerintah untuk juga memprioritaskan penyediaan energi, khususnya energi listrik, memberikan peluang untuk mempercepat berkembangnya perekonomian ke depan. Selain itu, jaminan ketersediaan energi akan memacu berkembangnya aktivitas produksi yang memberikan nilai tambah besar melalui industrialisasi/hilirisasi. Namun, di sisi lain, upaya meningkatkan ketersediaan energi listrik melalui pembangunan proyek 35 GW menghadapi sejumlah kendala baik di tingkat pusat maupun di daerah terutama terkait dengan proses pengadaan lahan dan perizinan proyek. Upaya mendorong kesinambungan ketersediaan energi juga menuntut perubahan paradigma penyediaan infrastruktur energi dari demand driven ke arah demand creation sehingga pengembangannya dapat lebih tersebar merata ke luar Jawa.
Sejalan dengan visi kedaulatan energi dalam Nawa Cita untuk mewujudkan kemandirian ekonomi berbasis sektor strategis domestik, dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015–2019 ketahanan energi dan kelistrikan menjadi salah satu sasaran strategis dalam rangka mendukung pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Ketahanan energi secara umum mencakup tiga aspek utama, yakni (1) Ketersediaan pasokan baik melalui eksplorasi maupun optimalisasi produksi; (2) Keterjangkauan harga terutama dari sisi harga keekonomian; serta (3) Manajemen permintaan yang mengarah pada diversifikasi dan konservasi (efisiensi) energi. Adapun kebijakan pencapaian sasaran ketahanan energi dalam RPJMN 2015-2019 diarahkan pada upaya peningkatan produksi dan optimalisasi penggunaan energi domestik, peningkatan cadangan penyangga dan operasional energi, peningkatan peran Energi Baru Terbarukan (EBT), serta peningkatan aksesibilitas dan efisiensi energi.36 Dalam kaitan tersebut, pembangunan infrastruktur energi menjadi kunci suksesnya pencapaian sasaran dimaksud.
Secara umum, potensi ketersediaan energi primer yang cukup melimpah baik minyak bumi dan gas alam (migas), batubara, serta sumber energi baru terbarukan belum dimanfaatkan secara optimal. Utilisasi pemanfaatan saat ini masih relatif terbatas untuk pemenuhan pendapatan ekspor. Untuk minyak bumi, meski memiliki cadangan yang termasuk salah satu terbesar di dunia, terbatasnya eksplorasi baru menyebabkan produksi migas secara nasional terus mengalami penurunan. Sementara di sisi lain kebutuhannya meningkat lebih cepat37. Untuk memenuhi kebutuhan domestik yang terus meningkat yang tidak dapat diimbangi oleh kemampuan pemenuhan hasil produksi domestik berimplikasi pada meningkatnya kebutuhan terhadap impor.
Hal yang sama juga terjadi pada komoditas batubara. Sebagai salah satu negara dari 10 negara produsen batubara terbesar di dunia, hanya kurang dari 20% yang diperuntukan bagi pemenuhan kebutuhan domestik
36 Adanya perubahan paradigma dengan memprioritaskan energi sebagai aset nasional untuk mendukung pembangunan nasional yang berkelanjutan.
37 Konsumsi energi primer meningkat 4,9% per tahun yang didominasi oleh sektor industri dan rumah tangga. Sementara pasokan energi primer yang mayoritas berbentuk migas dan batubara hanya tumbuh 4,3% per tahun. Sebagian dari pasokan energi juga masih bersumber
dan selebihnya ditujukan untuk ekspor38. Sementara itu, shifting penggunaan energi primer dari sumber fosil ke energi baru terbarukan (EBT) masih sangat minim sebagaimana tercermin dari peringkat energy sustainability Indonesia yang jauh berada dibawah negara peer (peringkat 106 dari 129 negara pada 2014 dan berada di bawah Singapura, Malaysia dan Filipina)39. Sementara itu, ketersediaan energi listrik juga masih relatif belum optimal dan belum merata antar satu daerah dengan daerah lainnya. Kondisi ini tercermin dari kondisi cadangan listrik dan rasio elektrifikasi yang masih rendah.
Sumber : Kementerian ESDM, Laporan McKinsey
Gambar VI.3. Diagram Gambaran dan Tantangan Sektor Energi
Masih rentannya kesinambungan pasokan energi merupakan isu krusial yang perlu segera diatasi untuk pencapaian target pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Langkah pemerintah untuk mendorong percepatan penyediaan energi listrik melalui proyek pembangunan pembangkit listrik 35 GW merupakan langkah strategis yang diharapkan dapat memacu lebih berkembangnya aktivitas perekonomian. Semakin besarnya tantangan perekonomian ke depan, terutama ditengah dinamika pemulihan ekonomi global yang masih diwarnai tingginya ketidakpastian, pembangunan pembangkit listrik 35 GW merupakan bagian penting dari langkah pembenahan struktural guna mendorong meningkatnya nilai tambah perekonomian dan sekaligus memperkuat fundamental perekonomian nasional.