38 Data Kementerian ESDM menunjukkan pada tahun 2014 produksi batubara nasional tercatat sebesar 435 juta ton dengan 359 juta ton di ekspor dan sisanya untuk pasar domestik.
Sumber : PLN
Gambar VI.4. Peta Kondisi Kelistrikan Nasional 2014
Isu keterbatasan energi listrik tidak terlepas dari kemampuan pembangkit listrik yang belum sebanding dengan kebutuhan berkembangnya aktivitas perekonomian. Gambaran peta ketersediaan listrik menunjukkan bahwa kemampuan kapasitas terpasang pembangkit listrik terhadap beban puncak di sebagian besar daerah masih berada di bawah 30% atau dalam status siaga. Dari 24 sistem kelistrikan nasional yang ada, hanya 5 sistem dalam keadaan normal sementara 14 sistem dalam status siaga dan 5 sistem mengalami krisis (defisit) yang berdampak pada rentannya dilakukan pemadaman bergilir. Daerah dengan kondisi listrik defisit tertinggi berada di KTI, yakni di Sulawesi dan Papua.
Sumber : Business Monitor International, 2014 Sumber : RUPTL PLN 2015-2024
Grafik VI.4. Konsumsi Listrik per Kapita di ASEAN (MWh) Grafik VI.5. Target Elektrifikasi
Kondisi kerentanan energi listrik juga terindikasi dari rasio elektrifikasi yang secara nasional sekitar 88% pada 2015 dengan mayoritas daerah memiliki rasio elektrifikasi di bawah 90%.40. Rasio elektrifikasi tertinggi di wilayah Jawa, sementara yang terendah di KTI. Dibandingkan dengan sejumlah negara di Asia, konsumsi listrik per kapita Indonesia pada 2014 juga menjadi salah satu yang terendah. Selain kurangnya pembangkit, sistem kelistrikan nasional dengan total kapasitas sekitar 47 GW hanya didukung oleh 7 sistem interkoneksi, sementara 500 sistem kelistrikan lainnya terisolasi dan tersebar dalam skala yang lebih kecil.
Terbatasnya cadangan listrik berpengaruh pada indeks daya saing Indonesia, khususnya pada aspek kemudahan memperoleh layanan listrik. Indeks Doing Bussiness 2014 yang dikeluarkan Bank Dunia mencatat Indonesia di peringkat 78 untuk indikator kemudahan mendapatkan listrik (getting electricity) khususnya pada
10.5
8.1 7.2 5.8
4.4 3.7
2.3 1.3 0.8 0.8 0.4 0.7
South Korea Singapore Japan Hongkong Malaysia China Thailand Vietnam Indonesia India Pakistan Philippines2
87,7%
91,3%
93,6%
95,8%
97,4%
80 85 90 95 100
2015 2016 2017 2018 2019
usaha kecil-menengah. Peringkat tersebut jauh di bawah negara peer di ASEAN. Selain itu, kualitas listrik juga menjadi faktor daya saing yang menjadi pertimbangan dalam investasi. Berdasarkan World Economic Forum (WEF), kualitas infrastruktur kelistrikan Indonesia berada pada ranking 84 dari 144 negara, juga lebih rendah dibandingkan dengan negara peer di ASEAN.
Tabel VI.3. Kualitas Listrik Tabel VI.4. Peringkat Doing Business
Sumber : Global Competitiveness Report, WEF Sumber : Indeks Doing Business, 2015, Bank Dunia41 Di sisi lain, kebutuhan terhadap energi listrik terus mengalami akselerasi yang tidak sebanding dengan pertumbuhan produksi listrik. Rata-rata pertumbuhan konsumsi listrik dalam 10 tahun terakhir sekitar 7,4%, lebih rendah dibanding tingkat produksi listrik yang sebesar 6,9% per tahun. Dalam 10 tahun mendatang, pertumbuhan konsumsi listrik rata-rata setiap tahunnya diproyeksi akan semakin meningkat mencapai 8,8%.
Hal ini dengan memperhitungkan target pertumbuhan ekonomi sejalan dengan rencana pembangunan industri serta target rasio elektrifikasi yang mencapai 97,4%. Saat ini, konsumsi listrik terbesar masih berasal dari golongan rumah tangga dan industri yang mencapai 76% dari total konsumsi.
Sumber: Kementerian ESDM, RUPTL PLN 2015-2024 Sumber: Dewan Energi Nasional
Grafik VI.6. Perkembangan Produksi & Konsumsi Listrik Grafik VI.7. Konsumsi Listrik Per Sektor 2015 Untuk memenuhi kebutuhan energi listrik nasional, pemerintah menginisiasi proyek pembangunan listrik 35 GW yang tersebar di seluruh nusantara. Secara umum, pembangunan pembangkit proyek 35 GW sebagian besar berada di wilayah Jawa dan Sumatera. Diluar proyek 35 GW, pemerintah juga masih melanjutkan penyelesaian konstruksi pembangkit listrik yang merupakan bagian dari Fast Track Program (FTP) I & FTP II sebesar 7,4 GW42. Pada tahun 2019 ditargetkan terdapat penambahan kapasitas listrik ditargetkan sebesar 42,9 GW dengan commercial on date (COD) sebesar 19 GW.
Sebagian besar dari proyek listrik 35 GW merupakan proyek dengan pengembang listrik swasta. Secara wilayah, pengembang listrik swasta mendominasi proyek pembangunan di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan.
Sementara, PLN lebih berperan dalam pembangunan proyek di KTI yang mencakup Sulawesi, Maluku, dan Papua. Dari total 4632 MW yang direncanakan dibangun di KTI, 68% proyek akan dilaksanakan oleh PLN. Hal
41 Doing Business (World Bank) mengukur dan membandingkan regulasi yang berkaitan dengan siklus bisnis usaha kecil hingga menengah di 189 wilayah.
42 Fast Track Program (FTP) Tahap I dan Tahap II dimulai pada tahun 2004.
43 Selengkapnya lihat Hausmann, R, Rodrik, D & Velasco, A 2005, 'Growth Diagnostic ', John F. Kennedy School of Government, Harvard
yang berkebalikan di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan yang mana keterlibatan swasta hampir mencapai 78%
dari seluruh proyek. Berdasarkan jenis pembangkit yang akan dibangun, sebagian besar dari proyek listrik 35 GW merupakan pembangkit dengan menggunakan batubara, disusul dengan tenaga air.
Sumber: PLN
Gambar VI.5. Sebaran Proyek Listrik 35 GW
Hingga akhir semester I 2015, sebagian besar proyek 35 GW sudah dalam tahap pengadaan dan masih sebagian kecil yang sudah memasuki tahap konstruksi. Hal ini tidak terlepas dari adanya sejumlah kendala terutama terkait pengadaan lahan dan perijinan. Berdasarkan hasil monitoring yang dilakukan di berbagai daerah, kendala yang dihadapi dalam implementasi proyek 35 GW antara lain terkait dengan permasalahan perijinan khususnya dalam hal ijin eksplorasi dan penetapan lokasi, serta ijin penggunaan kawasan hutan lindung.
Sumber: PLN, diolah Sumber: PLN
Grafik VI.8. Sebaran Proyek 35 GW Berdasarkan Wilayah Grafik VI.9. Jenis Pembangkit Rencana
Untuk mengatasi berbagai kendala tersebut, berbagai langkah telah ditempuh oleh Pemerintah baik dalam kerangka penyederhanaan perijinan maupun prioritas penggunaan lahan untuk infrastruktur strategis. Dalam hal perizinan, Kementerian ESDM telah melakukan penyederhanaan perizinan ketenagalistrikan dari 52 izin menjadi 29 izin dan waktu pengurusannya dari 923 hari menjadi 256 hari. Sejak awal tahun 2015, Kementerian
MW: Megawatt kms: Kilometer-sirkuit MVA: Mega-volt ampere
bumi, penugasan survei pendahuluan panas bumi, penetapan wilayah usaha, dan izin usaha jasa penunjang tenaga listrik. Sementara terkait dengan penyediaan lahan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah memproses berbagai perijinan yang menjadi kewenangannya, termasuk berbagai persetujuan prinsip kepada PT. PLN. Namun, berbagai hal yang telah ditempuh di tingkat pusat memerlukan dukungan pemerintah daerah yakni dengan mengoptimalkan fungsi Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) dan dengan mempercepat proses penetapan peraturan daerah tentang Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW).
Sumber: PLN dan Kementerian ESDM, diolah
Grafik VI.10. Progress Pembangunan Proyek Listrik 35 GW Semester I 2015
Ke depan, upaya untuk mendorong penyediaan energi di daerah perlu dilakukan dengan mengubah demand driven menjadi demand creation. Hal ini sangat penting guna mengarahkan pembangunan infrastruktur energi yang lebih merata di seluruh nusantara. Untuk itu, diperlukan juga komitmen yang kuat dari pemerintah daerah dalam pengembangan industrialisasi atau hilirisasi dengan tahapan yang jelas dan tertuang dalam rencana pembangunannya.
BOKS:
Growth diagnostic (GD) merupakan metode analisis yang mendiagnosa penyebab rendahnya pertumbuhan ekonomi suatu negara atau wilayah yang difokuskan pada investasi. Metode ini dikembangkan oleh Hausman, Rodrik, dan Velasco (HRV) pada tahun 2005. Metode GD berbasis decision tree yang ditujukan untuk melakukan analisa hambatan-hambatan dalam berinvestasi di suatu negara (Grafik 1). Cabang utama dari decision tree yaitu menganalisa kemungkinan rendahnya return dari aktivitas ekonomi dan kemungkinan tingginya ongkos pembiayaan. Selanjutnya kedua cabang tersebut masing-masing memiliki beberapa cabang tambahan, misalnya analisa kemungkinan faktor makro dan mikro yang dapat mempengaruhi tingkat investasi.43 Pendekatan GD ini pada akhirnya bertujuan untuk memperoleh binding constraint yang menghambat investasi.
Gambar VI.6. Decision Tree HRV (2005)
Pada awal penelitiannya, HRV melakukan kajian GD pada Brasil, El Salvador, dan Republik Dominika. Mereka menemukan bahwa saving menjadi masalah utama disamping human capital atau tingkat pendidikan labor di Brasil. Sedangkan di El Salvador, investasi yang rendah disebabkan oleh rendahnya returns to capital, bukan masalah ketersediaan saving. Permasalahan yang utama di El Salvador yaitu terkait dengan penerimaan pajak yang rendah, kestabilan makro, birokrasi dan infrastruktur yang kurang memadai. Sementara itu, Republik Dominika memiliki permasalahan terkait lemahnya institusional atau birokrasi, sistem keuangan yang kurang kuat, dan juga permasalahan terkait fiskal.
Pada perkembangannya, metode decision tree digunakan dalam beberapa kajian GD di beberapa negara, termasuk di Indonesia. Penelitian oleh ADB, ILO, dan IDB (2010) dengan pendekatan GD menunjukkan bahwa permasalahan infrastruktur seperti jaringan transportasi dan listrik perlu menjadi perhatian. Hal yang sama ditemukan oleh Anderson et al (2013) yang menemukan bahwa infrastruktur pelabuhan dan jalan merupakan salah satu binding constraint di Indonesia. Pada tingkat Provinsi, World Bank telah melakukan kajian GD di Provinsi Banda Aceh (2009) dan Provinsi Jawa Timur (2011). Hasil temuan di kedua Provinsi tersebut juga terkait dengan masalah infrastruktur, namun dengan penekanan yang berbeda mengingat Provinsi Jawa Timur
didominasi oleh sektor industri. Sehingga iklim investasi dan infrastruktur, masalah ketidakefisienan di pelabuhan dan pasokan listrik untuk industri merupakan hambatan terbesar di Jawa Timur.
Tabel VI.5. The Most Binding Constraint di 24 Provinsi
Kajian GD terkini dilakukan oleh Bank Indonesia di 24 Provinsi dari total 34 Provinsi yang ada pada tahun 2015.
Hasil kajian tersebut menemukan bahwa ketersediaan listrik menjadi the most binding constraint hampir di semua Provinsi yang menjadi obyek studi (lihat Tabel 1).44 Hasil ini menunjukan bahwa kebutuhan energi listrik sudah sangat mendesak. Tidak hanya untuk kebutuhan rumah tangga, listrik juga sangat dibutuhkan untuk industri. Untuk mengembangkan industri di wilayah luar Jawa, seperti Kalimantan, ketersediaan pasokan listrik menjadi salah satu syarat utama. Sehingga, hasil kajian GD mengkonfirmasi bahwa kebutuhan listrik merupakan salah satu the most binding constraint. Adapun hambatan utama lainnya seperti masalah kualitas jalan, kapasitas pelabuhan, birokrasi yang terkait dengan proses perijinan dan rendahnya kualitas sumber daya manusia juga dirasakan mendesak untuk diperbaiki di beberapa Provinsi.
Dari hasil temuan the most binding constraint dalam berinvestasi, maka dilakukan simulasi Reform Impact Assessment. Model yang digunakan untuk melakukan simulasi dimaksud yaitu model INDOTERM yang berbasis Computable General Equilibrium (CGE).45 Hasil simulasi Reform Impact Assessment menggambarkan bahwa kebijakan pembangunan listrik nasional berpotensi memberikan dampak positif ke pertumbuhan ekonomi di seluruh wilayah Indonesia, terutama daerah luar Jawa.46 Bila dibandingkan dengan kondisi baseline tanpa kebijakan struktural, rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional berpotensi meningkat 0.26% (Grafik 2) dan penyerapan tenaga kerja berpotensi meningkat 0.62% (Grafik 3) di atas kondisi baseline. Dampak
44 Temuan ini juga telah diperkuat oleh hasil Focus Group Discussion (FGD) yang telah dilaksanakan di 10 Provinsi yaitu Sumatera Selatan, DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Maluku, Maluku Utara, dan NTB.
45 Model CGE dimaksud menggunakan Tabel IRIO sehingga dapat meilhat link antar Provinsi di Indonesia.
46 Simulasi dilakukan oleh Staf DKEM-BI, dengan menggunakan model INDOTERM Multiregional Computable General Equilibrium© yang dibangun oleh Bappenas, CoPS Australia, CEDS UNPAD, ADB dan USAID. Implementasi simulasi menggunakan software GEMPACK. Angka
Sumatera Jawa Kalimantan KTI
perekonomian terbesar akan dirasakan oleh Kalimantan dan KTI. Hal ini menggambarkan bahwa ketersediaan listrik di luar Jawa sangat penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja yang lebih tinggi. Sementara itu, dampak yang kecil di daerah Jawa menggambarkan bahwa kebutuhan listrik dalam kondisi business as usual sudah cukup besar, sehingga apabila target penyediaan tenaga listrik tidak tercapai, maka pertumbuhan ekonomi berpotensi menjadi lebih rendah dari tahun-tahun sebelumnya.
Grafik VI.11. Dampak pada rata-rata gPDRB (2015-2020)* Grafik VI.12. Dampak pada Agregate Employment (2015-2020)**
*Selisih terhadap “baseline no policy” (poin persentase) **Selisih Kumulatif terhadap “baseline no policy” (poin persentase)
Simulasi pembangunan listrik nasional dimodelkan dengan melalui dua skenario: (1) Terjadi peningkatan investasi dalam membangun tambahan kapasitas listrik, dan (2) Terjadi peningkatan produktivitas di sektor manufaktur akibat berkurangnya defisit listrik. Mengacu pada Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2015-2024, pembangunan kapasitas listrik lebih diutamakan untuk daerah luar Jawa, sehingga kapasitas listrik diasumsikan meningkat pada tahun 2019 dibandingkan kondisi saat ini sebesar (a) Jawa 35%, (b) Sumatera dan Kalimantan 40%, dan (c) KTI 50%. Disamping itu, berkaitan dengan peningkatan produktivitas, berdasarkan Worldbank Entreprise Surveys (2009), perusahaan manufaktur dan jasa di beberapa wilayah Indonesia, telah mengalami kerugian sebesar 0,4-1,6% dari penjualan tahunan akibat terjadinya pemadaman listrik. Kerugian terbesar dialami oleh sektor tekstil, karet dan barang yang terbuat dari karet, serta pengolahan makanan.
Grafik VI.13. Dampak terhadap pertumbuhan output sektor non jasa Kalimantan***
Grafik VI.14. Dampak terhadap pertumbuhan ekspor Kalimantan****
***persen kontribusi kenaikan total output non jasa di Kalimantan)
****persen kontribusikenaikan ekspor Kalimantan terhadap nasional)
Di beberapa daerah, peningkatan kapasitas listrik juga perlu di dorong dengan transformasi perekonomian.
Hasil analisis sektoral pada spesifik regional Kalimantan sebagai daerah yang memperoleh benefit tertinggi, menggambarkan bahwa pembangunan listrik nasional berpotensi mempertahankan pertumbuhan dan
seperti produk hasil olahan kilang minyak, LNG, dan kimia (Grafik VI.13). Untuk menopang pertumbuhan ekonomi Kalimantan yang lebih terdiversifikasi dengan dampak penyerapan tenaga kerja formal yang lebih besar dan beragam, diperlukan reformasi dibidang-bidang lain untuk melengkapi reformasi di sektor kelistrikan. Kebijakan-kebijakan reformasi tersebut perlu ditujukan dalam upaya mendorong perbaikan daya saing Kalimantan sebagai lokasi investasi sektor manufaktur padat karya, berbasis SDA dan berorientasi ekspor. Hasil simulasi menunjukan terdapat peningkatan ekspor pada beberapa produk di Kalimantan (Grafik VI.14). Simpul-simpul kebijakan yang perlu disegerakan antara lain adalah penyediaan lahan untuk industri dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan hidup, penguatan iklim kemudahan berusaha dan layanan birokrasi, penguatan infrastruktur konektivitas dan digital, penguatan fasilitasi perdagangan untuk ekspor, dan penyediaan layanan dasar yang layak bagi penduduk dalam rangka menarik tenaga kerja ke Kalimantan.
Dari hasil kajian GD dan simulasi tersebut dapat disimpulkan bahwa peningkatan kapasitas listrik secara bertahap dalam 5 tahun ke depan akan mendukung pertumbuhan ekonomi. Secara khusus dengan studi kasus di Kalimantan, peningkatan kapasitas listrik dapat meningkatkan output maupun ekspor di industri petrokimia, LNG, dan kimia. Mengingat ketiga industri tersebut tergolong dalam padat modal (capital intensive) yang membutuhkan investasi dalam jumlah besar, maka dirasa perlu adanya reformasi dalam penyediaan enablers industri, seperti pengadaan lahan untuk industri, penguatan iklim kemudahan berusaha dan layanan birokrasi serta fasilitasi perdagangan untuk ekspor, penguatan infrastruktur, dan penyediaan layanan dasar publik dalam rangka menarik tenaga kerja berkualitas ke Kalimantan.
Lampiran
-Net Eks por 4.89 17.82 12.15 (2.16) 10.23 - 10.73
Sisi Produksi
I II IIIf
Inflasi IHK (%,yoy) 8.62 6.12 7.74 7.85 4.22 - 4.72
Provi ns i Aceh 8.08 5.45 6.24 6.16 4.22 - 4.72
Provi ns i Suma tera Utara 8.17 6.14 7.81 8.13 4.51 - 5.01
Provi ns i Suma tera Ba ra t 11.57 6.28 8.17 8.16 3.88 - 4.38
Provi ns i Ri a u 8.64 6.17 7.39 6.58 3.31 - 3.81
Provi ns i Kepul a ua n Ri a u 7.59 5.66 8.21 8.57 4.75 - 5.25
Provi ns i Ja mbi 8.75 4.88 6.42 7.17 3.81 - 4.31
Provi ns i Suma tera Sel a tan 8.48 6.26 7.49 7.69 3.64 - 4.14
Provi ns i Bengkul u 10.85 7.65 9.90 9.02 4.23 - 4.73
Provi ns i La mpung 8.09 6.64 8.17 8.69 4.49 - 4.99
Provi ns i Kep. Ba ngka Bel i tung 9.04 6.74 6.90 6.50 4.75 - 5.25
Kredit Perbankan (%, yoy) 9.43 10.12 8.60
DPK (%, yoy) 12.12 13.76 10.70
Tahun Dasar 2010
2015f
Indikator Makroekonomi Daerah 2014 2015
I II IIIf Ivf
PDRB (%,yoy) 5.59 5.13 5.07 5.3 5.5 5.1 - 5.5
Sisi Permintaan
Konsumsi Rumah Tangga 4.81 4.96 4.72 4.9 4.9 4.7 - 5.1
Konsumsi LNPRT 12.79 (11.80) (12.23) 0.8 2.0 (5.9) - (5.5)
Konsumsi Pemerintah 2.86 0.58 1.29 3.7 4.8 2.7 - 3.1
Pembentukan Modal Tetap Bruto 4.82 5.07 4.70 5.1 5.1 5.4 - 5.8
Ekspor 6.53 4.83 1.77 2.7 4.1 4.2 - 4.6
Impor 2.28 0.23 (4.85) -1.0 3.8 4.1 - 4.5
Net Ekspor Antar Daerah (1.69) (1.88) (6.91) -2.1 -2.2 (0.6) - (0.2)
Sisi Produksi
Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 0.80 2.06 6.04 4.4 3.6 3.9 - 4.3
Pertambangan dan Penggalian 3.54 (0.37) 5.99 1.7 3.5 2.5 - 2.9
Industri Pengolahan 5.87 4.69 3.78 4.2 4.5 4.1 - 4.5
Pengadaan Listrik dan Gas 4.09 (4.23) (3.41) 0.0 2.9 (1.4) - (1.0)
Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang 3.32 4.73 4.33 5.3 4.4 4.5 - 4.9
Konstruksi 5.45 4.74 3.69 5.7 6.7 5.0 - 5.4
Perdagangan Besar, Eceran, dan Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 4.44 4.36 4.34 4.5 4.8 4.3 - 4.7
Transportasi dan Pergudangan 6.70 8.41 8.57 8.7 8.0 8.2 - 8.6
Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 9.41 6.21 6.45 6.3 6.6 6.2 - 6.6
Informasi dan Komunikasi 11.14 9.98 10.05 10.7 9.3 9.8 - 10.2
Jasa Keuangan dan Asuransi 4.82 7.64 3.13 4.0 4.3 4.5 - 4.9
Real Estate 6.07 5.64 4.98 5.7 5.7 5.3 - 5.7
Jasa Perusahaan 8.91 7.19 7.65 7.8 7.6 7.4 - 7.8
Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib 2.29 2.87 4.00 3.8 4.1 3.5 - 3.9
Jasa Pendidikan 7.39 6.80 8.43 8.2 6.8 7.4 - 7.8
Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 8.88 8.69 7.67 8.6 7.3 7.9 - 8.3
Jasa lainnya 8.19 7.75 6.44 6.6 9.0 7.3 - 7.7
DI Yogyakarta 6.59 5.12 5.68 5.25 3.83 3.6 - 4.0
Jawa Timur 7.77 6.17 6.77 6.92 4.02 3.8 - 4.2
I II IIIf
PDRB (%,yoy) 3.2 1.7 1.5 1.7 1.40 - 1.90
Sisi Permintaan
Konsumsi Rumah Tangga 4.68 3.31 3.40 3.66 3.17 -3.67
Konsumsi LNPRT 8.70 -4.58 3.64 5.36 2.53 - 3.03
Konsumsi Pemerintah 4.19 9.75 8.84 9.70 4.39 - 4.89
Pembentukan Modal Tetap Bruto 6.07 5.91 3.96 4.50 7.08 - 7.58
Ekspor -1.79 2.82 1.07 - 0.73 - 1.23
Impor -3.24 9.55 8.29 - 5.57 - 6.07
Sisi Produksi
Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 4.25 3.93 5.10 5.73 4.51 - 5.01
Pertambangan dan Penggalian 0.08 -0.51 -2.61 -2.99 (2.61) - (2.11)
Industri Pengolahan 2.19 -3.05 -0.63 -0.09 (0.81) - (0.31)
Pengadaan Listrik dan Gas 15.81 44.76 33.30 40.60 30.03 - 30.53
Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang 6.65 3.40 5.57 5.60 5.14 - 5.64
Konstruksi 7.50 5.18 3.61 5.52 4.73 - 5.23
Perdagangan Besar, Eceran, dan Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 5.43 3.54 3.62 3.12 3.55 - 4.05
Transportasi dan Pergudangan 6.73 6.65 7.10 4.67 5.62 - 6.12
Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 5.93 5.21 6.68 6.73 6.36 - 6.86
Informasi dan Komunikasi 10.47 11.57 10.24 9.39 9.74 - 10.24
Jasa Keuangan dan Asuransi 5.24 4.84 -0.48 3.79 2.87 - 3.37
Real Estate 6.86 5.61 4.41 4.49 4.70 - 5.20
Jasa Perusahaan 8.18 3.20 2.18 5.29 3.86 - 4.36
Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib 7.95 7.82 13.48 12.23 11.29 -11.79
Jasa Pendidikan 9.88 9.84 10.25 10.93 9.41 - 9.91
Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 7.43 7.17 10.36 9.70 9.27 - 9.77
Jasa lainnya 7.22 6.38 7.91 8.57 7.78 - 8.28
PDRB Per Provinsi (%,yoy)
Kalimantan Selatan 4.85 3.92 3.18 3.68 3.21 - 3.71
Kalimantan Timur & Utara 2.02 -0.32 -0.25 -0.17 (0.38) - 0.12
Kalimantan Barat 5.02 4.79 4.01 4.61 4.26 - 4.76
Kalimantan Tengah 6.21 7.70 6.98 6.47 6.53 - 7.03
Inflasi IHK (%,yoy) 7.87 7.30 7.33 7.66 4.83 - 5.23
Kalimantan Selatan 7.28 7.00 6.07 6.53 4.51 - 4.91
Kalimantan Timur & Utara 7.67 7.08 7.55 8.06 4.72 - 5.12
Kalimantan Barat 9.43 8.94 9.04 9.17 5.82 - 6.22
Kalimantan Tengah 7.07 5.90 5.85 5.52 4.06 - 4.46
Kredit Perbankan (%, yoy) 9.69 7.59 7.44
DPK (%, yoy) 5.25 8.03 6.46
Tahun Dasar 2010
Indikator Makroekonomi Daerah 2014 2015
2015f
I II IIIf
PDRB (%,yoy) 6.03 6.84 9.01 8.64 7.7 - 8.1
Sisi Permintaan
Konsumsi Rumah Tangga 6.03 6.02 5.88 5.95 5.8 - 6.2
Konsumsi Lembaga Nonprofit Rumah Tangga 10.05 -3.95 -1.42 4.15 0.9 - 1.3
Konsumsi Pemerintah 4.59 6.42 4.93 9.55 5.9 - 6.3
Pembentukan Modal Tetap Bruto 8.75 9.72 10.46 9.34 8.7 - 9.1
Ekspor Luar Negeri -9.79 29.09 56.32 20.55 27.7 - 28.1
Impor Luar Negeri 9.86 -12.89 0.10 16.70 5.0 - 5.4
Net Ekspor Antardaerah -10.68 49.52 38.81 15.20 23.4 - 23.8
Sisi Produksi
Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 6.60 4.16 6.46 4.35 4.9 - 5.3
Pertambangan dan Penggalian -2.99 10.52 21.81 20.16 13.5 - 13.9
Industri Pengolahan 7.94 4.78 9.98 12.18 10.4 - 10.8
Pengadaan Listrik dan Gas 9.66 11.86 1.74 6.97 6.9 - 6.3
Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang 5.57 2.42 3.54 4.87 3.9 - 4.3
Konstruksi 8.39 9.22 9.25 7.16 8.0 - 8.4
Perdagangan Besar, Eceran, dan Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 7.56 6.04 6.67 7.94 7.2 - 7.6
Transportasi dan Pergudangan 6.84 6.46 7.21 7.53 6.8 - 7.2
Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 7.04 6.89 5.40 7.07 6.6 - 7.0
Informasi dan Komunikasi 7.26 7.34 7.38 7.73 7.5 - 7.9
Jasa Keuangan dan Asuransi 6.77 9.99 3.11 6.36 6.3 - 6.7
Real Estate 7.70 6.91 6.60 6.61 6.8 - 7.2
Jasa Perusahaan 7.68 4.00 5.20 6.20 5.7 - 6.1
Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib 8.09 6.27 7.17 6.86 6.8 - 7.2
Jasa Pendidikan 7.38 8.92 8.33 7.31 7.3 - 7.7
Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 8.74 7.86 8.12 7.88 7.4 - 7.8
Jasa lainnya 7.58 7.12 6.89 6.62 6.9 - 7.3
PDRB Per Provinsi (%, yoy)
Provinsi Sulawesi Selatan 7.57 5.36 7.62 7.29 7.1 - 7.5
Provinsi Sulawesi Barat 8.73 5.85 8.40 6.52 7.1 - 7.5
Provinsi Sulawesi Tenggara 6.26 5.79 7.45 7.63 7.1 - 7.5
Provinsi Sulawesi Tengah 5.11 16.81 15.72 13.85 14.8 - 15.2
Provinsi Gorontalo 7.29 4.72 6.37 7.05 6.3 - 6.7
Provinsi Sulawesi Utara 6.31 6.41 6.27 6.46 6.3 - 6.7
Provinsi Maluku Utara 5.49 5.26 6.54 6.61 6.1 - 6.5
Provinsi Maluku 6.70 4.06 5.80 6.81 5.9 - 6.3
Provinsi Papua Barat 5.38 -1.78 7.39 6.08 4.8 - 5.2
Provinsi Papua 3.25 5.79 12.77 3.25 7.5 - 7.9
Provinsi Bali 6.72 6.21 6.02 6.12 6.0 - 6.4
Provinsi Nusa Tenggara Barat 5.06 16.52 16.51 31.30 14.1 - 14.5
Provinsi Nusa Tenggara Timur 5.04 4.64 5.03 5.43 5.0 - 5.4
Tahun Dasar 2010
2014 2015
2015f Indikator Makroekonomi Daerah
I II IIIf
Inflasi IHK (%,yoy) 8.31 6.83 7.21 7.41 4.4 - 4.8
Provinsi Sulawesi Selatan 8.61 7.13 7.20 8.09 4.7 - 5.1
Provinsi Sulawesi Barat 7.89 6.68 6.28 7.75 4.5 - 4.9
Provinsi Sulawesi Tenggara 8.45 7.80 7.72 6.43 2.6 - 3.0
Provinsi Sulawesi Tengah 8.84 5.28 5.87 5.78 3.2 - 3.6
Provinsi Gorontalo 6.14 5.28 5.82 6.06 3.9 - 4.3
Provinsi Sulawesi Utara 9.67 7.99 7.97 8.93 4.2 - 4.6
Provinsi Maluku 7.19 9.07 8.73 9.50 7.6 - 8.0
Provinsi Maluku Utara 9.35 7.92 8.92 6.47 5.1 - 5.5
Provinsi Papua 9.11 6.84 9.10 7.85 4.9 - 5.3
Provinsi Papua Barat 6.56 7.00 7.45 8.28 6.1 - 6.5
Provinsi Bali 8.43 6.42 6.95 7.44 4.1 - 4.5
Provinsi Nusa Tenggara Barat 7.22 5.98 6.73 5.56 3.9 - 4.3
Provinsi Nusa Tenggara Timur 7.76 5.39 5.60 6.11 3.9 - 4.3
Kredit Perbankan (%, yoy) 11.20 14.57 12.38
DPK (%, yoy) 13.28 13.51 13.43
Tahun Dasar 2010
Indikator Makroekonomi Daerah 2014 2015
2015f