• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perekonomian berbagai daerah di Jawa pada triwulan II 2015 tumbuh melambat. Pertumbuhan ekonomi Jawa secara agregat berada pada level 5,07% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan I 2015 yang sebesar 5,13%

(yoy). Provinsi Yogyakarta tercatat tumbuh lebih rendah dibanding daerah lainnya di Jawa yakni sebesar 4,72%

(yoy), diikuti oleh Jawa Tengah (4,84%, yoy) dan Jawa Barat (4,88%,yoy). Secara umum, melambatnya pertumbuhan ekonomi Jawa dipengaruhi oleh melambatnya realisasi investasi dan ekspor. Realisasi investasi PMA yang minim dan belum optimalnya realisasi proyek infrastruktur pemerintah menekan pertumbuhan investasi pada periode ini. Perlambatan kinerja ekspor disebabkan oleh lemahnya permintaan ekspor ke Jepang dan Tiongkok sejalan dengan masih terbatasnya perbaikan kondisi ekonomi di negara tersebut.

Melemahnya kinerja ekspor tersebut berimbas pada kinerja sektor industri pengolahan ditengah konsumsi domestik yang masih terbatas. Selain itu, rendahnya investasi bangunan sektor swasta dan masih belum optimalnya serapan belanja infrastruktur pemerintah mendorong perlambatan sektor konstruksi. Dari ketiga sektor utama, hanya sektor pertanian yang dapat tumbuh meningkat seiring panen raya padi, bawang dan cabe merah di awal triwulan II 2015.

Memasuki triwulan III 2015, beberapa indikator perekonomian cenderung mengindikasikan arah pertumbuhan ekonomi yang membaik. Pertumbuhan ekonomi Jawa diperkirakan berada pada level 5,32%, didukung perkembangan kinerja industri pengolahan dan perdagangan besar. Kinerja ekspor diperkirakan juga membaik seiring dengan potensi berlanjutnya pemulihan ekonomi Amerika Serikat dan Jepang. Sementara, komitmen pemerintah pusat dalam menggenjot realisasi belanja APBN-P di bidang infrastruktur, pertanian dan kemaritiman dapat menjadi pendorong perbaikan investasi. Secara sektoral, perbaikan ekonomi didorong oleh peningkatan kapasitas produksi sektor industri pengolahan dan peningkatan kinerja sektor perdagangan besar, disertai konsumsi RT yang masih relatif kuat. Namun, kinerja pertanian dihadapkan pada downside risk fenomena El Nino yang puncaknya diprakirakan terjadi pada Agustus dan Oktober 2015 yang berpotensi dapat menekan kinerja sektor pertanian.

Untuk keseluruhan tahun 2015, berbagai indikator ekonomi mengindikasikan perekonomian Jawa berpotensi tumbuh dibawah rentang prakiraan sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi Jawa diprakirakan berada di kisaran 5,30%-5,50% dengan kecenderungan yang masih bias ke bawah. Melambatnya pertumbuhan ekonomi Jawa dipengaruhi oleh melemahnya konsumsi rumah tangga, relatif lebih lambatnya kinerja investasi dan perdagangan luar negeri. Sementara itu, berbagai upaya khusus yang ditempuh oleh pemerintah untuk mendorong peningkatan belanja infrastruktur diperkirakan dapat menopang kinerja perekonomian Jawa secara keseluruhan. Selain itu, optimisme perbaikan pertumbuhan juga bersumber dari sektor pertanian, seiring meningkatnya produksi pangan tahun ini yang didukung oleh meningkatnya ketersediaan sarana irigasi dan waduk meski juga dibayangi oleh potensi meluasnya dampak kekeringan akibat El Nino.

Konsumsi

Konsumsi Rumah Tangga

Konsumsi rumah tangga (RT) di triwulan II 2015 masih tumbuh melambat dibanding periode triwulan sebelumnya. Konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 4,72% (yoy) di triwulan II 2015, lebih rendah dibanding realisasi di triwulan I 2015 yang tumbuh sebesar 4,96% (yoy). Kondisi ini dipengaruhi oleh meningkatnya harga BBM pada akhir triwulan I dan cenderung melemahnya daya beli masyarakat sebagaimana terindikasi dari hasil Survei Konsumen (SK). Selain itu, perkembangan beberapa indikator konsumsi lainnya seperti impor barang konsumsi, penyaluran kredit konsumsi, dan penjualan eceran menunjukkan hal yang sejalan dengan

selama 3 tahun terakhir yakni 9,95% (yoy). Pertumbuhan kredit kendaraan bermotor juga melambat cukup dalam hingga 5,78% (yoy), sejalan dengan rendahnya penjualan sepeda motor dan kendaraan roda 4 yang hanya tumbuh -18% dan -25% secara tahunan.

Grafik III.1. Indeks Penjualan Eceran (SPE) Grafik III.2. Kinerja Kredit Konsumsi

Grafik III.3. Indeks Keyakinan Konsumen Grafik III.4. Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini Momentum Idul Fitri, Idul Adha dan tahun ajaran baru yang terjadi di triwulan III 2015 diperkirakan dapat mendorong pertumbuhan konsumsi rumah tangga. Perkiraan ini didasari oleh adanya persepsi positif terhadap membaiknya ekonomi domestik yang tercermin dari indeks pengeluaran dan pendapatan bulanan rumah tangga serta ekspektasi peningkatan omset penjualan eceran dalam 3 bulan yang akan datang11. Pencairan gaji ke-13 dan adanya peningkatan gaji PNS di beberapa provinsi diharapkan mampu mendorong daya beli masyarakat pada triwulan ini. Namun, masih terdapat risiko yang dapat menahan pertumbuhan konsumsi rumah tangga, yaitu potensi penyesuaian harga BBM dan Tarif Tenaga Listrik (TTL) serta dampak El Nino terhadap sumber pendapatan kelompok rumah tangga tani di Jawa.

Konsumsi Pemerintah

Pertumbuhan konsumsi pemerintah triwulan II relatif masih terbatas. Pertumbuhan konsumsi pemerintah di triwulan II 2015 tercatat sebesar 1,29%, sedikit berada di atas realisasi triwulan sebelumnya yang sebesar 0,58%. Penyerapan belanja APBD yang masih cenderung rendah berdampak pada rendahnya kontribusi konsumsi pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Di tingkat pusat, adanya perubahan nomenklatur yang terjadi ditingkat Kementerian/Lembaga menjadi kendala utama dalam realisasi belanja Pemerintah Pusat. Sementara itu, masih terbatasnya belanja pemerintah di tingkat daerah terkait dengan beberapa kendala seperti keterlambatan pengesahan APBD, keterbatasan jumlah sumber daya manusia, serta kendala dalam pengadaan proyek. Data sementara mengindikasikan hingga akhir Triwulan II 2015, penyerapan anggaran belanja daerah di Jawa hanya sebesar 22% dan sebagian besar merupakan belanja operasional.

11

Penyerapan belanja APBD di DKI Jakarta bahkan tercatat hanya 19%, merupakan kedua yang terendah setelah Riau.

Tracking realisasi belanja Pemerintah di triwulan III menunjukkan adanya perbaikan pertumbuhan konsumsi pemerintah. Perbaikan khususnya terjadi pada APBD DKI Jakarta melalui optimalisasi sistem e-budgeting yang diharapkan mampu mempercepat proses pengadaan barang dan jasa. Dengan tertahannya konsumsi pemerintah di semester I 2015, diharapkan pemerintah baik pusat maupun daerah mampu meningkatkan realisasi belanja operasionalnya di triwulan III dan IV 2015, khususnya pada belanja infrastruktur. Penyesuaian ketentuan mengenai larangan penyelenggaraan rapat di hotel oleh Pegawai Negeri Sipil (PNS), pencairan gaji ke-13 serta kenaikan gaji PNS12 diharapkan dapat mendorong belanja operasional pemerintah pada triwulan ini.

Investasi

Investasi di triwulan II 2015 tercatat melambat karena terbatasnya investasi swasta maupun pemerintah.

Investasi triwulan II 2015 tercatat sebesar 4,70%, melambat dari 5,07% di triwulan I 2015. Data BKPM menunjukkan terjadinya penurunan realisasi investasi swasta domestik hingga 7,40% (yoy), sementara peningkatan realisasi investasi swasta asing masih terbatas. Demikian halnya dengan impor barang modal yang tercatat menurun cukup dalam hingga 21% (yoy) pada Juni 2015. Masih rendahnya anggaran belanja modal pemerintah baik pusat maupun daerah turut berdampak pada kinerja investasi Jawa.

Grafik III.5. Kinerja Investasi PMA Grafik III.6. Kinerja Investasi PMDN

Perkembangan terkini mengindikasikan investasi di Jawa Barat pada triwulan III 2015 berpotensi tumbuh membaik. Perbaikan investasi lebih ditopang oleh realisasi proyek infrastruktur berskala besar seperti pembangunan jalan tol, pembangkit listrik, dan waduk. Hal ini juga didukung oleh berbagai upaya khusus yang akan ditempuh oleh pemerintah untuk merealisasikan penyerapan belanja pemerintah terutama untuk pembangunan infrastruktur. Namun, di sisi lain perkembangan investasi di sektor swasta diperkirakan masih relatif terbatas terkait dengan preferensi pelaku usaha yang memandang masih tingginya ketidakpastian kondisi perekonomian. Hal ini tercermin dari likert score hasil liaison di berbagai daerah di Jawa yang mengindikasikan kecenderungan investasi yang masih tumbuh terbatas. Perkembangan positif investasi terlihat pada investasi pada industri galangan kapal sebagaimana terindikasi dari peningkatan impor barang modal pada bulan Mei 2015. Peningkatan investasi diharapkan terus berlangsung seiring komitmen pemerintah dalam mendorong pemanfaatan hasil produksi dalam negeri untuk memperkuat sistem kemaritiman nasional.13

12

Grafik III.7. Likert Scale Investasi dan perkiraannya Grafik III.8 Indikator Perekonomian Mitra Dagang (PMI)

Dokumen terkait