• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERTUMBUHAN EKONOMI

Pada triwulan II 2015, pertumbuhan ekonomi berbagai daerah di Kalimantan cenderung melambat dan berada pada level yang cukup rendah. Secara agregat, perekonomian Kalimantan pada triwulan II 2015 tercatat sebesar 1,48% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan periode triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 1,69% (yoy). Secara umum, melambatnya perekonomian berbagai daerah di Kalimantan dipengaruhi oleh faktor melemahnya kinerja ekspor pertambangan khususnya batubara terkait masih lemahnya permintaan global yang juga diikuti oleh penurunan harga komoditas tersebut di pasar internasional. Kondisi pasar ekspor yang kurang menguntungkan tersebut pada gilirannya berimbas pada menurunnya kinerja di sektor pertambangan. Selain itu, produksi minyak yang mengalami penurunan turut menekan kinerja di sektor pertambangan dan industri migas. Penurunan produksi minyak bumi tersebut kembali menyebabkan terkontraksinya pertumbuhan ekonomi di Kalimantan Timur. Selain itu, penyerapan belanja fiskal daerah yang relatif masih terbatas hingga akhir triwulan II 2015 turut menahan kinerja perekonomian Kalimantan.

Memasuki triwulan III 2015, perkembangan berbagai indikator ekonomi mengindikasikan perekonomian Kalimantan masih akan tumbuh terbatas. Pergerakan harga komoditas batubara yang masih berada pada level yang rendah di pasar global dan masih berlanjutnya pelemahan ekonomi Tiongkok berimbas pada kinerja ekspor batubara yang masih menurun. Selain itu, penurunan produksi minyak bumi yang berlanjut akan berdampak pada menurunnya pendapatan ekspor sehingga memengaruhi konsumsi RT, dan pada akhirnya menekan kinerja perekonomian Kalimantan secara keseluruhan. Namun, peningkatan produksi pertanian, terutama perkebunan, diperkirakan dapat menopang kinerja ekonomi Kalimantan triwulan III 2015 hingga triwulan IV 2015. Untuk keseluruhan tahun 2015, perkembangan kategori pertambangan yang cenderung tumbuh rendah akibat pengaruh penurunan ekspor disertai dengan masih rendahnya tingkat harga internasional menyebabkan perekonomian Kalimantan tumbuh lebih rendah dibandingkan capaian di tahun sebelumnya.

Konsumsi

Konsumsi Rumah Tangga (RT)

Pertumbuhan konsumsi RT di berbagai daerah Kalimantan mengalami sedikit perbaikan pada triwulan II 2015.

Hal ini ditopang oleh terutama oleh meningkatnya aktivitas masyarakat menghadapi periode Ramadhan dan libur sekolah yang memberikan dampak positif terhadap konsumsi rumah tangga. Namun, perbaikan lebih lanjut tertahan oleh melemahnya pendapatan ekspor karena masih rendahnya harga komoditas tambang di pasar global. Sejalan dengan hal tersebut, pertumbuhan penyaluran kredit konsumsi di berbagai daerah di Kalimantan juga cenderung melambat (Grafik IV.2).

Memasuki triwulan III 2015, berbagai indikator konsumsi rumah tangga mulai menunjukkan perbaikan meski masih cenderung terbatas. Hal tersebut tercermin pada optimisme konsumen dalam memandang perekonomian ke depan meningkat pada Indeks Tendensi Konsumen yang meningkat di triwulan III (Grafik IV.1). Adanya pencairan gaji ke-13 dan tunjangan hari raya pada awal triwulan III 2015 diperkirakan turut memengaruhi ekspektasi masyarakat terhadap pendapatan yang diterimanya. Meski demikian, prospek harga komoditas yang masih diperkirakan masih cenderung lemah akan menahan perbaikan pendapatan masyarakat secara keseluruhan.

Grafik IV.1. Indeks Tendensi Konsumen (ITK) Grafik IV.2. Kredit Konsumen Konsumsi Pemerintah

Konsumsi pemerintah di sebagian besar provinsi Kalimantan tumbuh melambat pada triwulan II 2015. Hal ini terutama dipengaruhi oleh masih rendahnya penyerapan belanja APBD di hampir seluruh daerah. Persentase realisasi belanja hingga akhir triwulan II 2015 secara umum berada di kisaran 30% dan hanya Kalimantan Tengah yang dapat mencatat penyerapan belanja hingga 43,6%. Sementara itu, realisasi belanja Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan yang masih cenderung rendah terkait dengan pendapatan daerah yang cenderung menurun. Penurunan ini utamanya disebabkan pagu belanja yang tidak setinggi tahun 2014. Dari sisi penggunaan, baik belanja operasional maupun modal tercatat lebih rendah dibandingkan tahun 2014 (Grafik IV.3). Sejalan dengan hal tersebut, pergerakan kenaikan pertumbuhan realisasi anggaran pemerintah di beberapa provinsi tidak setinggi periode yang sama tahun sebelumnya (Grafik IV.4).

Sumber : DJPK Sumber : DJPK

Grafik IV.3. Anggaran Belanja Provinsi di Kalimantan Grafik IV.4. Realisasi Belanja Provinsi di Kalimantan Pada triwulan III 2015, diperkirakan pertumbuhan konsumsi pemerintah meningkat seiring upaya yang ditempuh oleh pemerintah untuk mempercepat realisasi pembangunan proyek-proyek infrastruktur. Selain itu, pembagian tunjangan hari raya (THR) kepada pegawai negeri yang dilakukan di awal triwulan juga ikut mendorong peningkatan konsumsi pemerintah. Ditambah lagi dengan mulai terealisasinya penggunaan Dana Desa pada semester II 2015, yang diperkirakan akan berkontribusi pada peningkatan realisasi belanja pada triwulan III 2015, meski diperkirakan tidak terlalu signifikan.

Investasi

Secara agregat, kegiatan investasi berbagai daerah di Kalimantan mengalami perlambatan pada triwulan II 2015. Melambatnya investasi terutama disebabkan oleh mundurnya pelaksanaan beberapa proyek investasi seperti transmisi di kawasan utara, terminal mini LNG dan beberapa investasi lainnya dengan total 45% dari nilai investasi. Hal ini tercermin pada realisasi pertumbuhan tahunan Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) yang lebih rendah dibandingkan dengan periode sebelumnya (Grafik IV.5 dan Grafik IV.6). Melemahnya kinerja investasi terkonfirmasi dari hasil liaison, utamanya pada sektor

pertambangan sehubungan dengan lesunya prospek batubara ke depan akibat menurunnya permintaan Tiongkok yang menyebabkan harga masih rendah. Indikator lain yang mengkonfirmasi perlambatan investasi tercermin pada impor barang modal periode laporan yang terkontraksi lebih dalam dibandingkan triwulan lalu.

Sumber: BKPM, diolah Sumber: BKPM, diolah

Grafik IV.5. Pertumbuhan Tahunan Realisasi PMA di Kalimantan

Grafik IV.6. Pertumbuhan Tahunan Realisasi PMDN di Kalimantan

Memasuki triwulan III 2015, kinerja investasi diperkirakan membaik sejalan dengan membaiknya realisasi proyek konstruksi. Peningkatan kinerja investasi didorong oleh prakiraan perbaikan investasi yang terindikasi oleh peningkatan likert scale investasi ke depan (Grafik IV.8). Perbaikan kinerja investasi diperkirakan terutama terjadi di Kalimantan Barat terkait pembangunan smelter (Grafik IV.7). Pada triwulan III 2015, diperkirakan sebanyak 65% total nilai investasi akan terlaksana sesuai jadwal, relatif lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai 55%. Mulai naiknya investasi di Kalimantan didorong oleh pembangunan infrastruktur pemerintah, seperti jalan Kapuas-Tanjung Kelanis, jalan Pelabuhan Trisakti serta Pelabuhan Samarinda dan Sampit. Berdasarkan hasil liaison, investasi sektor pertanian diperkirakan meningkat (Grafik IV.8) utamanya didukung oleh rencana pelaku usaha yang akan membuat pabrik CPO. Meski demikian, investasi di Kalimantan Timur belum menunjukkan indikasi perbaikan yang cukup signifikan, khususnya investasi pada sektor pertambangan. Hal tersebut menjadi salah satu penyebab terbatasnya perbaikan investasi di Kalimantan.

Grafik IV.7. Pertumbuhan Investasi PDRB di Kalimantan Grafik IV.8. Perkiraan Investasi Hasil Liaison

Perdagangan Luar Negeri

Ekspor

Kinerja ekspor luar negeri Kalimantan masih terkontraksi pada triwulan II 2015. Kontraksi ekspor yang terjadi terutama disebabkan oleh menurunnya ekspor batubara (Grafik IV.9). Penurunan ekspor terjadi untuk pengiriman ke sebagian besar negara tujuan ekspor Kalimantan, kecuali Eropa dan Amerika Serikat (Grafik IV.10). Selain itu, ekspor batubara ke Tiongkok dan India juga belum menunjukan adanya perbaikan.

mengakibatkan turunnya permintaan batubara. Kinerja ekspor Kalimantan lebih ditopang oleh perbaikan ekspor crude palm oil (CPO) dan karet seiring dengan peningkatan produktivitas Tandan Buah Segar (TBS) sawit di Kalimantan (Grafik IV.9).

Grafik IV.9. Pertumbuhan Ekspor Berdasar Komoditas Grafik IV.10. Pertumbuhan Tahunan Ekspor Berdasar Negara Tujuan Utama

Memasuki triwulan III 2015, berbagai indikator kinerja ekspor luar negeri Kalimantan belum menunjukkan perbaikan. Hampir semua provinsi diprakirakan masih tumbuh melambat. Perlambatan terjadi akibat belum membaiknya sektor pertambangan, baik batubara maupun minyak bumi. Perlambatan masih terjadi pada komoditas batubara akibat masih lesunya permintaan gobal yang tercermin dari tren harga batubara acuan yang semakin turun. Kinerja minyak bumi juga diperkirakan akan turun sejalan dengan belum adanya penambahan sumur baru dengan kapasitas yang signifikan. Di sisi lain, kenaikan ekspor CPO dan bahan olahan mineral menjadi faktor penahan terjadinya penurunan ekspor lebih besar. Selain itu, ekspor bahan olahan mineral diperkirakan akan membaik, didukung oleh mulai beroperasinya smelter bauksit di Kalimantan Barat meski belum optimal.

Impor

Pertumbuhan impor dari luar negeri ke berbagai daerah di Kalimantan pada triwulan II 2015 meneruskan tren menurun, hampir untuk semua jenis barang. Perlambatan terjadi untuk jenis barang modal yang juga terkorfirmasi oleh kegiatan liaison kepada pelaku usaha di bidang pertambangan dan pengangkutan batubara, yang menyatakan perusahaan cenderung menahan pembelian barang modal karena faktor harga jual batubara di pasar internasional yang masih rendah. Penurunan impor barang modal tersebut sejalan dengan perlambatan investasi. Di samping barang modal, penurunan juga terjadi pada impor bahan baku.

Grafik IV.11. Pertumbuhan Impor Tahunan Grafik IV.12. Perkiraan Pertumbuhan Tahunan Impor PDRB Untuk triwulan III 2015, impor luar negeri diprakirakan meningkat sejalan dengan dorongan peningkatan impor dari Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah. Peningkatan kebutuhan impor terutama terjadi pada jenis barang modal dan bahan baku. Peningkatan impor barang modal, terkait dengan pembangunan smelter di

Kalimantan Barat. Sementara itu, impor bahan baku yang meningkat didorong oleh besarnya kebutuhan pupuk untuk perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Timur, seiring usia tanaman yang relatif masih muda.

Dokumen terkait