• Tidak ada hasil yang ditemukan

Agustus L a p o r a n N u s a n t a r a 1 VOLUME 10 NOMOR 3

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Agustus L a p o r a n N u s a n t a r a 1 VOLUME 10 NOMOR 3"

Copied!
106
0
0

Teks penuh

(1)

Agustus 2015

(2)

Halaman ini sengaja dikosongkan

(3)

Daftar Isi Kata Pengantar

Bagian I Ringkasan Perkembangan Terkini dan Prospek Ekonomi Daerah Bagian II Perekonomian Sumatera

Boks: Peningkatan Konektivitas Untuk Mengatasi Kesenjangan Ekonomi Antar Daerah di Sumatera

Bagian III Perekonomian Jawa

Boks: Dampak El Nino Terhadap Kinerja Sektor Pertanian Bagian IV Perekonomian Kalimantan

Boks: Transformasi Perekonomian Kalimantan - Pengembangan Hilirisasi di Kalimantan

Bagian V Perekonomian Kawasan Timur Indonesia

Boks: Perkembangan Hilirisasi Berbasis SDA di Kawasan Timur Indonesia Bagian VI Isu Khusus Daerah

Isu Khusus 1: Peran Fiskal Daerah Dalam Mengakselerasi Pertumbuhan Ekonomi

Isu Khusus 2: Mempercepat Pembangunan Infrastruktur Energi untuk Mendukung Pembangunan Ekonomi yang Berkelanjutan Boks: Growth Diagnostic

Lampiran

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi:

Bank Indonesia

Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Grup Asesmen Ekonomi

Divisi Asesmen Ekonomi Regional

(4)

Halaman ini sengaja dikosongkan

(5)

Kata Pengantar

Dalam proses perumusan kebijakan, Bank Indonesia mempertimbangkan berbagai dinamika perekonomian dan isu terkini dalam perspektif kewilayahan. Secara periodik, pembahasan menyeluruh terkait perkembangan perekonomian terkini dan berbagai isu strategis yang mengemuka didaerah dilakukan antara Dewan Gubernur dengan Kepala Departemen Regional yang mewakili 4 (empat) wilayah di seluruh Indonesia1. Pembahasan tersebut memberikan pemahaman mendalam terkait kondisi makroekonomi disertai berbagai aspek risiko spasial yang berkembang dan menjadi bagian penting dalam proses perumusan kebijakan.

Pada triwulan II 2015 indikator ekonomi di berbagai daerah mengindikasikan perekonomian Indonesia masih menghadapi tantangan yang cukup berat. Kondisi ini terkait dengan perkembangan perekonomian global yang tumbuh melambat disertai ketidakpastian yang tinggi, menyebabkan harga komoditas dunia masih dalam tren menurun. Lemahnya permintaan global dan koreksi harga mempengaruhi kinerja ekonomi Indonesia dari sisi eksternal yang ditandai oleh terbatasnya perbaikan ekspor, terutama di daerah-daerah yang selama ini mengandalkan sumber daya alam. Di sisi domestik, perekonomian nasional tumbuh sebesar 4,67%, sedikit melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh 4,70%. Perlambatan ekonomi pada triwulan II 2015 terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia, kecuali Kawasan Timur Indonesia (KTI).

Perlambatan kegiatan ekonomi secara umum terutama dipengaruhi oleh melemahnya investasi dan masih rendahnya belanja fiskal. Kondisi tersebut mengakibatkan melemahnya kegiatan sektor-sektor utama di daerah, sehingga berdampak pada menurunnya pendapatan yang menyebabkan melemahnya daya beli.

Sejalan dengan perlambatan perekonomian, penyaluran kredit perbankan tumbuh melambat disertai dengan adanya kecenderungan peningkatan rasio non performing loans (NPL) meskipun masih di bawah 5%.

Memasuki triwulan III 2015, berbagai indikator perekonomian daerah mengindikasikan adanya perbaikan kinerja ditopang oleh potensi peningkatan investasi khususnya terkait dengan pembangunan infrastruktur dan penyerapan belanja daerah. Konsumsi RT diperkirakan akan membaik seiring dengan adanya hari besar keagamaan. Kinerja ekspor manufaktur juga diprakirakan membaik, khususnya di Jawa, sedangkan kinerja ekspor pertambangan KTI diprakirakan terbatas. Sementara itu, perbaikan kinerja ekonomi Kalimantan masih akan terbatas, seiring dengan menurunnya kinerja pertambangan.

Pertumbuhan perekonomian diperkirakan mulai membaik di semester II 2015, meski masih cenderung terbatas. Kondisi ini dipengaruhi perkembangan pemulihan ekonomi global yang masih terbatas dan penurunan harga komoditas, sehingga berdampak pada kinerja ekspor di seluruh wilayah. Secara keseluruhan, permintaan domestik akan masih kuat, salah satunya ditopang oleh upaya pemerintah dalam mengakselerasi penyerapan belanja anggaran di tingkat pusat dan daerah untuk pembangunan berbagai proyek infrastruktur strategis. Kondisi ini diperkirakan dapat menahan melambatnya laju perekonomian lebih lanjut di berbagai daerah.

Sementara itu, inflasi pada Triwulan II 2015 di berbagai daerah masih cukup terkendali, meski secara tahunan masih berada pada level yang tinggi karena base effect kenaikan BBM tahun lalu. Terkendalinya inflasi terlihat dari laju kumulatif inflasi (year to date) Januari hingga Juni 2015 yang berada di bawah inflasi kumulatif periode yang sama selama 4 (empat) tahun terakhir. Tekanan inflasi yang relatif minimal pada periode ini didukung oleh terjaganya pasokan dan minimalnya kendala distribusi di tengah peningkatan tekanan permintaan di periode puasa Ramadhan di Juni 2015.

Laju inflasi pada Juli 2015 tetap terkendali bahkan secara bulanan juga lebih rendah dibandingkan rata-rata historis inflasi bulan Juli pada 4 tahun terakhir. Inflasi Juli 2015 tercatat sebesar 0,93% (mtm) atau 7,26% (yoy), stabil dibandingkan inflasi pada akhir triwulan II 2015. Terkendalinya tekanan inflasi di berbagai daerah dipengaruhi oleh peran aktif TPID dalam menjaga pasokan pangan serta minimalnya gangguan distribusi

(6)

ditengah meningkatnya tekanan permintaan pada periode Ramadhan. Tekanan inflasi berasal dari peningkatan harga komoditas bahan makanan seperti daging ayam ras dan cabai merah serta peningkatan tarif berbagai angkutan (darat, laut dan udara).

Kondisi terkendalinya inflasi diperkirakan terus berlanjut hingga pada akhir Triwulan III 2015 ditengah meningkatnya beberapa risiko inflasi terutama terkait meluasnya kekeringan akibat El Nino. Hingga akhir tahun 2015, prakiraan inflasi di berbagai daerah secara agregat masih sejalan dengan kisaran sasaran inflasi nasional sebesar 4%±1%. Optimisme ini didukung oleh perkiraan surplus produksi pangan dan perbaikan berbagai infrastruktur konektivitas untuk meningkatkan efisiensi distribusi barang. Meski demikian, terdapat beberapa risiko yang dapat meningkatkan tekanan inflasi pada tahun 2015 yaitu kendala kesinambungan produksi pangan karena faktor iklim (El Nino) atau sebab lainnya dan pelemahan nilai tukar.

Dengan mempertimbangkan risiko tekanan inflasi tersebut, upaya pengendalian inflasi di daerah perlu difokuskan pada berbagai langkah untuk menjamin ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, serta kelancaran distribusi barang dari sentra produksi hingga ke konsumen. Upaya pengendalian inflasi ditempuh melalui perluasan cakupan komoditas pangan untuk operasi pasar yang disesuaikan dengan karakteristik konsumsi daerah, secara intensif melakukan kegiatan monitoring kondisi pasokan di gudang-gudang, pemberian subsidi ongkos angkut dan program komunikasi untuk mengelola ekspektasi inflasi masyarakat.

Asesmen lengkap mengenai dinamika terkini dan prospek ekonomi daerah diuraikan secara lengkap dalam buku Laporan Nusantara. Pada edisi kali ini, Laporan Nusantara mengangkat isu khusus mengenai peran fiskal dalam mengakselerasi pertumbuhan ekonomi daerah dan isu mengenai kedaulatan energi yang merupakan salah satu agenda prioritas pembangunan pada era Kabinet Kerja.

Penyusunan buku Laporan Nusantara ini dilakukan secara bersama antara Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter (DKEM) dan Departemen Regional I–IV yang masing-masing membawahi regional Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Kawasan Timur Indonesia. Akhir kata, kami berharap buku Laporan Nusantara ini dapat menjadi referensi para pemangku kepentingan dan pemerhati ekonomi daerah, serta menjadi salah satu kontribusi Bank Indonesia dalam pembangunan ekonomi daerah.

Jakarta, 20 Agustus 2015

Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter

Juda Agung Direktur Eksekutif

(7)

PERKEMBANGAN TERKINI EKONOMI DAERAH

Perkembangan berbagai indkator ekonomi pada triwulan II 2015 mengindikasikan perekonomian di berbagai daerah masih menghadapi tantangan yang cukup besar. Realisasi pertumbuhan ekonomi triwulan II 2015 tercatat sebesar 4,67% (yoy), sedikit melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 4,72%

(yoy). Dinamika lingkungan global yang masih diwarnai oleh tingginya ketidakpastian diikuti oleh masih rendahnya harga komoditas di pasar ekspor memberikan implikasi yang kurang menguntungkan bagi kinerja perekonomian domestik. Kondisi ini berdampak pada masih terbatasnya perbaikan kinerja ekspor di berbagai daerah. Di samping itu, investasi tumbuh melambat karena realisasi proyek infrastruktur pemerintah yang belum secepat perkiraan serta investasi dari sektor swasta yang terbatas terkait dengan kondisi permintaan domestik dan global yang cenderung melemah. Kondisi ini juga dipengaruhi oleh belanja fiskal, baik di tingkat pusat dan daerah, yang masih terbatas. Terbatasnya belanja fiskal daerah terjadi justru ditengah meningkatnya alokasi dana transfer daerah yang juga disertai adanya alokasi dana desa. Selain itu, imbas dari penurunan harga komoditas menyebabkan beberapa daerah yang selama ini mengandalkan pada pendapatan bagi hasil sumber daya alam (SDA) harus melakukan penyesuaian belanja daerah (Lihat Isu Strategis 1: Mempercepat Penyerapan Belanja Fiskal Daerah). Demikian halnya dengan pertumbuhan konsumsi RT yang sedikit melambat karena dipengaruhi oleh daya beli masyarakat yang menurun.

Sumber: BPS (diolah)

Gambar I.1. Peta Pertumbuhan Ekonomi Daerah Triwulan II 2015

Melambatnya pertumbuhan ekonomi terjadi di sebagian besar daerah di wilayah Kalimantan, Sumatera, dan Jawa. Pertumbuhan ekonomi berbagai daerah di Kalimantan secara agregat bahkan masih berada pada level yang rendah yakni sebesar 1,48% (yoy), melambat dibanding periode triwulan sebelumnya yang sebesar 1,69% (yoy). Kondisi ini terutama dipengaruhi oleh kinerja ekspor batubara yang masih terbatas karena rendahnya harga di pasar global dan melemahnya permintaan Tiongkok, serta masih terbatasnya penyerapan belanja fiskal daerah. Produksi minyak bumi yang masih cenderung turun bahkan menyebabkan pertumbuhan ekonomi Kalimantan Timur kembali mengalami kontraksi. Demikian halnya dengan perekonomian di sebagian besar daerah di Sumatera yang secara agregat tumbuh 2,85% (yoy) lebih rendah dibanding periode triwulan sebelumnya (3,56%,yoy) karena dipengaruhi terbatasnya peningkatan kinerja ekspor terkait masih rendahnya

(8)

pertumbuhan di Aceh dan Riau akibat turunnya produksi migas turut memengaruhi perekonomian Sumatera secara keseluruhan. Perkembangan ekonomi di hampir seluruh daerah di Jawa secara agregat juga tumbuh sedikit melambat pada triwulan II 2015 yakni menjadi 5,07% dari 5,13% di triwulan sebelumnya. Perlambatan ekonomi Jawa bersumber terutama dari terbatasnya kinerja ekspor manufaktur dan investasi. Sementara itu, perekonomian berbagai daerah di Kawasan Timur Indonesia (KTI) secara keseluruhan tumbuh dari 6,84% (yoy) ke 9,01% (yoy) di triwulan II 2015. Namun, perbaikan ekonomi di KTI lebih dipengaruhi oleh faktor base effect dari ekspor mineral2. Semakin besarya pengaruh dari penurunan harga komoditas terhadap kinerja ekspor daerah, terutama daerah-daerah yang selama ini mengandalkan pada ekspor barang mentah, menunjukkan langkah untuk mendorong hilirisasi menjadi semakin penting. Hal ini perlu didukung upaya lanjutan untuk membenahi iklim yang diperlukan untuk berkembangnya hilirisasi terutama pada faktor jaminan ketersediaan energi yang merata di seluruh nusantara (Lihat Isu Strategis 2: Mempercepat Pembangunan Infrastruktur Energi untuk Mendukung Ekonomi yang Berkelanjutan).

Sejalan dengan kinerja ekonomi yang masih cenderung tumbuh melambat, penyaluran kredit perbankan juga masih terbatas. Hingga akhir triwulan II 2015, penyaluran kredit tercatat tumbuh melambat, baik pada penyaluran kredit ke korporasi (sektor utama) maupun ke sektor rumah tangga. Melambatnya penyaluran kredit ke sektor korporasi terjadi di hampir seluruh wilayah kecuali di KTI yang masih dapat mencatat adanya peningkatan ke beberapa sektor seperti industri pengolahan dan pertanian. Peningkatan penyaluran kredit di KTI terutama untuk pembiayaan kegiatan prapanen dan kebutuhan bibit baru pascapanen, serta pembiayaan ekspansi beberapa industri berbasis SDA. Namun, di sisi lain, non performing loans (NPL) menunjukkan kecenderungan yang sedikit meningkat di seluruh wilayah meski masih di bawah 5%. Penyaluran kredit ke sektor rumah tangga juga mengalami perlambatan di seluruh wilayah dengan disertai NPL yang sedikit meningkat, meski masih berada di bawah ambang batas yang dianggap aman.

Pertumbuhan ekonomi yang melambat juga tercermin dari aktivitas transaksi keuangan di sistem pembayaran. Secara agregat, nilai transaksi melalui real-time gross settlement (RTGS) pada triwulan II 2015 tumbuh melambat pada level 17,66% (yoy) setelah pada triwulan sebelumnya tumbuh di kisaran 21,27%. Nilai transaksi melalui kliring bahkan tumbuh negatif 25,91% (yoy), setelah pada triwulan sebelumnya masih tumbuh di kisaran 10,53%. Adapun dari segi volume transaksi, baik RTGS maupun kliring, mengalami pertumbuhan negatif masing-masing sebesar 34,67% dan 25,74% (yoy). Perlambatan kegiatan transaksi keuangan melalui RTGS dan kliring ini terjadi di hampir seluruh daerah, terutama di Jawa.

Memasuki triwulan III 2015, perkembangan indikator ekonomi di berbagai daerah secara agregat mengindikasikan arah pertumbuhan ekonomi yang relatif membaik meski masih terbatas. Di Sumatera, membaiknya kinerja perekonomian bersumber dari meningkatnya realisasi belanja pemerintah dan investasi terutama terkait pembangunan proyek infrastruktur berskala besar di beberapa daerah di Sumatera. Namun, perkembangan ekspor hasil perkebunan yang masih terbatas menahan perbaikan ekonomi Sumatera lebih lanjut. Demikian halnya dengan perkembangan ekspor batubara di Kalimantan yang cenderung masih tumbuh melambat sehingga diperkirakan menahan perbaikan kinerja ekonomi Kalimantan. Perbaikan ekonomi Kalimantan ditopang oleh investasi seiring dengan realisasi proyek infrastruktur pemerintah. Perekonomian Jawa diperkirakan membaik bersumber dari kinerja ekspor manufaktur yang membaik disertai meningkatnya realisasi pembangunan infrastruktur pemerintah dan penyerapan belanja daerah yang lebih baik, serta masih kuatnya konsumsi RT. Di sisi lain, perekonomian KTI diprakirakan tumbuh melambat meski masih berada pada level yang cukup tinggi. Melambatnya pertumbuhan ekonomi KTI terutama dipengaruhi oleh kinerja ekspor tambang yang masih terbatas seiring dengan pembatasan volume ekspor mineral dan berakhirnya masa panen di sektor pertanian.

2 Ekspor mineral kembali dapat dilakukan secara terbatas pada Triwulan III 2015 setelah implementasi larangan kebijakan ekspor mineral

(9)

Tabel I.1. Tendensi Arah Perekonomian Daerah Triwulan III 2015*

* Prakiraan arah kondisi ekonomi secara tahunan (year-on-year)

Dari sisi perkembangan harga, inflasi pada Triwulan II 2015 di berbagai daerah masih cukup terkendali, meski secara tahunan berada pada level yang tinggi. Terkendalinya inflasi terlihat dari laju kumulatif (year-to- date) inflasi sepanjang periode hingga akhir Triwulan II 2015 di berbagai daerah yang cenderung rendah dan berada di bawah kumulatif periode yang sama dalam empat tahun terakhir. Secara umum, tekanan inflasi yang relatif minimal pada periode ini didukung oleh terjaganya pasokan dan minimalnya kendala distribusi di tengah mulai meningkatnya tekanan permintaan terkait masuknya periode Ramadhan di Juni 2015. Inflasi yang lebih tinggi terjadi di sebagian daerah di Sumatera dan Kalimantan yang dipicu oleh kenaikan harga aneka cabai, daging ayam, dan ikan segar. Meski demikian, secara tahunan (year-on-year) inflasi masih berada pada level yang tinggi terkait faktor base effect dari kenaikan harga BBM pada November 2014 dengan yang tertinggi di Sumatera (7,74%) diikuti KTI (7,43%), Kalimantan (7,33%), dan Jawa (7,06%).

Memasuki triwulan III 2015, secara umum laju inflasi pada Juli 2015 tetap terkendali, bahkan secara bulanan lebih rendah dibandingkan rata-rata historis inflasi bulan Juli pada 4 tahun terakhir. Terkendalinya tekanan inflasi di berbagai daerah dipengaruhi oleh terjaganya pasokan pangan, yang didukung oleh adanya panen komoditas pangan strategis seperti bawang merah di beberapa daerah sentra (Brebes dan Bima), serta minimalnya gangguan distribusi ditengah meningkatnya tekanan permintaan pada periode Ramadhan.

Tekanan kenaikan inflasi yang lebih tinggi masih terjadi di beberapa daerah di Sumatera dan Kalimantan yang dipicu oleh meningkatnya harga beberapa komoditas bahan makanan dan juga kenaikan tarif angkutan udara.

Kondisi terkendalinya inflasi diperkirakan terus berlanjut hingga pada akhir Triwulan III 2015 ditengah meningkatnya beberapa risiko inflasi terutama terkait meluasnya kekeringan akibat El Nino.

Terkendalinya inflasi pada periode ini tidak terlepas dari menguatnya upaya yang ditempuh oleh Pemerintah ditingkat pusat dan daerah dalam menjaga stabilitas harga sebagai komitmen tindaklanjut arahan Presiden RI pada Rakornas VI TPID3. Di tingkat pusat, beberapa program kebijakan dilakukan seperti program gerai maritim, pasar murah dan operasi pasar bahan makanan, serta pemberian potongan tarif tol selama masa Ramadhan. Sementara di tingkat daerah, upaya pengendalian harga ditempuh melalui perluasan cakupan komoditas pangan untuk operasi pasar yang disesuaikan dengan karakteristik konsumsi daerah, secara intensif melakukan kegiatan monitoring kondisi pasokan di gudang-gudang, pemberian subsidi ongkos angkut dan

Tendensi

Kawasan Asesmen Tendensi

Kawasan Asesmen Tendensi

Kawasan Asesmen Tendensi

Kawasan Asesmen

Pertumbuhan Ekonomi

Didorong oleh investasi dan konsumsi rumah tangga.

Peningkatan belanja konsumsi RT (Lebaran &

tahun ajaran baru) dan optimisme pelaku usaha atas permintaan ekspor.

Peningkatan produksi industri pengolahan. Perlambatan kinerja ekspor hasil tambang dan pertanian.

Konsumsi RT

Pola musiman, peningkatan ekspektasi konsumen, dampak pelonggaran kebijakan LTV.

Pencairan gaji ke-13, kenaikan gaji PNS dan momen menjelang Lebaran dan Tahun Ajaran Baru.

Peningkatan optimisme konsumen.

Peningkatan permintaan di musim peak season tertahan oleh adanya indikasi pelemahan keyakinan konsumen.

Konsumsi Pemerintah

Peningkatan penyerapan dana desa, peningkatan realisasi anggaran, persiapan pilkada serentak, DPK Pemda menurun hingga Juni 2015.

Percepatan belanja infrastruktur pemerintah, Pencairan gaji ke-13, kenaikan gaji PNS dan momen menjelang Lebaran dan Tahun Ajaran Baru.

Program baru di daerah seperti Dana Desa dan Upsus.

Percepatan realisasi anggaran sesuai pola siklikal setelah penyerapan yang belum optimal di awal tahun.

Investasi (PMTB)

Implementasi proyek pemerintah (jalan tol &

rel KA), persiapan Asian Games di Sumsel, perbaikan investasi swasta, kredit investasi masih tumbuh.

Upaya percepatan belanja infrastruktur pemerintah, peningkatan realisasi investasi swasta (industri pengolahan) sesuai dengan rencananya di tahun 2014

Pembangunan IPP dan infrastruktur.

Perlambatan dari sisi investasi bangunan maupun non-bangunan milik swasta serta adanya keengganan pelaku usaha untuk berinvestasi.

Ekspor LN Harga karet, CPO, karet, batubara internasional yang masih rendah hingga Juli, kebijakan CSF.

Optimisme perbaikan pada permintaan ekspor ke AS & Jepang, meskipun tidak setinggi perkiraan sebelumnya. Jg tambahan rilis kendaraan baru di bbrp pabrikan otomotif Jabar untuk negara di Kawasan ASEAN.

Masih lesunya permintaan energi.

Perlambatan kinerja ekspor mineral karena diperolehnya izin ekspor pada triwulan yang sama tahun sebelumnya.

Impor LN Impor guna mendukung realisasi proyek Pemerintah.

Optimisme perbaikan kinerja industri

pengolahan, khususnya tekstil di Jateng. Turunnya permintaan alat berat. Penurunan konten impor untuk kegiatan ekspor pertambangan dan investasi.

TIMUR INDONESIA KALIMANTAN

JAWA (Termasuk JAKARTA) SUMATERA

(10)

program komunikasi untuk mengelola ekspektasi inflasi masyarakat. Meski demikian, secara spasial tekanan inflasi di wilayah Kalimantan dan Sumatera masih lebih tinggi dari pola historisnya akibat kenaikan harga pangan dan kenaikan tarif angkutan udara yang masih cukup tinggi.

Gambar I.2. Peta Inflasi Daerah

PROSPEK, RISIKO DAN TANTANGAN EKONOMI DAERAH

Prospek Ekonomi Daerah

Perkembangan perekonomian daerah terkini secara agregat mengindikasikan pertumbuhan ekonomi akan mulai membaik di semester II 2015 meski masih relatif terbatas. Hal ini terutama dipengaruhi oleh perkembangan pemulihan ekonomi global yang masih terbatas disertai harga komoditas yang cenderung menurun sehingga berdampak pada kinerja ekspor di berbagai daerah. Perkembangan ekonomi Tiongkok yang masih cenderung melambat memengaruhi kinerja ekspor komoditas tambang di Sumatera dan Kalimantan.

Melemahnya perekonomian Tiongkok juga berimbas pada kinerja ekspor manufaktur Jawa yang tumbuh melambat, meski perlambatan lebih lanjut relatif tertahan oleh masih cukup kuatnya permintaan dari Amerika Serikat dan beberapa negara di Eropa. Secara keseluruhan, permintaan domestik terkait dengan konsumsi rumah tangga yang masih kuat, serta upaya yang ditempuh oleh pemerintah untuk mendorong penyerapan belanja anggaran di tingkat pusat dan daerah untuk pembangunan berbagai proyek infrastruktur strategis diperkirakan dapat menahan melambatnya laju perekonomian lebih lanjut di berbagai daerah. Selain itu, penyelenggaraan pilkada serentak di akhir tahun 2015 diperkirakan dapat memberikan dampak positif terhadap kinerja perekonomian di berbagai daerah.

Pertumbuhan ekonomi yang melambat terutama dialami oleh daerah-daerah di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Melambatnya pertumbuhan ekonomi Jawa terutama disebabkan oleh kinerja ekspor manufaktur yang cenderung tumbuh lebih rendah. Kondisi ini berdampak negatif pada kinerja industri pengolahan di Jawa.

Di Sumatera, pertumbuhan ekonomi yang melambat terutama dipengaruhi kinerja ekspor yang masih cenderung lemah disertai harga komoditas yang cenderung rendah sehingga berdampak pada kinerja di sektor perkebunan dan industri pengolahan berbasis SDA yang cukup dominan di Sumatera. Selain itu, terus menurunnya produksi migas di Aceh dan Riau turut menyebabkan kinerja Sumatera yang lebih rendah secara keseluruhan. Di Kalimantan, perlambatan ekonomi bersumber dari kinerja ekspor tambang yang terbatas disertai produksi (lifting) minyak bumi yang juga menurun. Kondisi ini selanjutnya berdampak pada menurunnya pendapatan ekspor sehingga memengaruhi konsumsi RT. Sementara itu, perekonomian KTI dapat tumbuh lebih tinggi karena kembali dapat dilakukannya ekspor mineral secara terbatas di beberapa daerah, setelah pada periode Januari-Agustus tahun 2014 sempat terhenti sebagai bagian dari langkah pemerintah untuk mendorong hilirisasi di sektor pertambangan. Langkah kebijakan pemerintah ini diikuti dengan adanya

(11)

Di sisi harga, perkembangan inflasi di berbagai daerah hingga akhir tahun 2015 diperkirakan tetap terkendali dan secara agregat di dalam kisaran sasaran inflasi nasional sebesar 4%±1%. Hal ini didukung oleh perkembangan inflasi terkini yang masih relatif terkendali terutama pada masa Ramadhan. Di beberapa daerah di Jawa dan KTI, perkembangan inflasi pada periode Ramadhan bahkan tercatat lebih rendah dibanding pola historisnya dalam empat tahun terakhir. Prakiraan terkendalinya tekanan inflasi hingga akhir tahun ini sejalan dengan prospek pertumbuhan ekonomi nasional yang cenderung berada di bawah tingkat potensialnya sehingga tekanan dari sisi permintaan diperkirakan masih rendah. Produksi pangan, khususnya beras, diperkirakan masih meningkat dibanding periode tahun sebelumnya meski tidak sebesar yang diprakiraan sebelumnya terkait dengan menguatnya intensitas El-Nino. Intensifnya upaya pemerintah untuk mengamankan capaian produksi pangan domestik diharapkan mampu meminimalkan tekanan inflasi pangan.

Selain itu, minimalnya tekanan inflasi didukung prakiraan masih rendahnya tekanan harga komoditas di pasar global, khususnya harga minyak. Sementara itu, dampak imported inflation dari melemahnya nilai tukar relatif dapat diminimalisir oleh harga komoditas global yang masih cenderung menurun. Terkendalinya inflasi juga didukung oleh terjaganya ekspektasi inflasi baik ditingkat konsumen maupun pedagang.

Risiko dan Tantangan Ke Depan

Kondisi pasar global masih menjadi faktor risiko yang perlu terus dicermati. Terkait dengan pertumbuhan ekonomi, risiko pertama bersumber dari besarnya ketidakpastian pemulihan ekonomi global yang diikuti oleh harga komoditas di pasar ekspor yang masih cenderung menurun sehingga berpotensi terus menekan kinerja ekspor daerah. Kondisi ini pada gilirannya berpotensi memengaruhi pendapatan ekspor sehingga berimbas pada daya beli masyarakat yang menurun. Risiko kedua terkait dengan penyerapan belanja daerah yang berpotensi masih belum optimal pada semester II 2015, termasuk belum teratasinya kendala penyerapan dana desa. Bilamana risiko ini termaterialisasi maka akan berimbas pada terbatasnya daya dukung fiskal daerah untuk menopang pertumbuhan ekonomi yang tengah melambat. Hal ketiga yang menjadi risiko menekan kinerja perekonomian daerah adalah kekhawatiran semakin kuatnya intensitas El Nino yang menyebabkan meluasnya kekeringan di berbagai daerah. Kemungkinan dampak El Nino yang lebih kuat dialami oleh daerah- daerah di Jawa, yang merupakan basis produksi pertanian nasional, dapat berimplikasi pada menurunnya kinerja produksi sektor pertanian nasional secara signifikan.

Sementara itu, risiko terkait inflasi yang perlu diwaspadai terutama terkait dengan dampak menguatnya intensitas El Nino. Perkembangan terkini mengindikasikan intensitas El Nino yang menguat dan berada pada tingkat yang sama dengan kondisi El Nino pada tahun 1997-1998. Dampak menguatnya intensitas El Nino ini telah menyebabkan kekeringan yang meluas hingga di daerah yang merupakan basis produksi pangan nasional4. Pada kondisi El Nino di tahun 1997, terjadi penurunan produksi padi dibandingkan dengan tahun 1996 hingga sekitar 3,37%. Berdasarkan pengalaman empiris tersebut, maka kondisi El Nino dengan intensitas yang menguat pada tahun ini diperkirakan berimbas pada lebih rendahnya kenaikan produksi pangan, khususnya beras, dibanding perkiraan sebelumnya yang sebesar 75,5 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). Di samping itu, permasalahan kenaikan harga komoditas daging yang terjadi pada awal Triwulan III 2015 di sejumlah daerah serta masih rentannya kestabilan pasokan beberapa komoditas pangan lainnya seperti aneka cabai, ikan segar, dan bawang, turut menjadi risiko yang dapat memberikan tekanan kenaikan inflasi pangan.

Selain itu, risiko terkait inflasi yang juga perlu diwaspadai bersumber dari rencana penerapan mekanisme distribusi baru untuk LPG 3 Kg dengan uji coba awal rencananya akan dilakukan di beberapa daerah (Batam, Bali dan Tarakan).

(12)

Menghadapi dinamika perekonomian yang masih cenderung melambat dan meminimalkan potensi risiko inflasi yang masih ada, setidaknya terdapat empat hal yang perlu menjadi perhatian:

Pertama, masih terbatasnya penyerapan belanja daerah hingga semester I 2015 ditengah meningkatnya alokasi transfer ke daerah pada APBN-P 2015 yang juga disertai adanya alokasi dana desa sebagai amanat UU No.6 tahun 2014 tentang Desa. Kondisi ini menyebabkan dana idle milik pemerintah daerah di perbankan meningkat cukup besar. Hal ini menunjukan perlu adanya extra efforts untuk dapat mengatasi berbagai permasalahan yang menghambat pemanfaatan anggaran yang meningkat di daerah sehingga anggaran yang besar tersebut dapat secara optimal memberikan stimulasi bagi aktivitas perekonomian. Upaya yang dapat ditempuh diarahkan untuk mendorong percepatan penyerapan belanja daerah khususnya untuk merealisasikan proyek infrastruktur daerah, termasuk mempercepat APBD Desa (APBDes) Perubahan sebagai prasyarat pencairan dana desa serta penyusunan petunjuk teknis penggunaan dana dan adanya pendampingan, serta upaya meningkatkan kapasitas desa dalam pengelolaan dana desa.

Kedua, harga komoditas di pasar global yang cenderung menurun berimbas pada pendapatan daerah-daerah yang selama ini mengandalkan pada hasil dari sumber daya alam, khususnya minyak bumi dan gas. Hal ini berimplikasi pada kemampuan belanja pembangunan di daerah tersebut yang cenderung semakin terbatas.

Mengatasi hal ini diperlukan penerapan strategi pembangunan yang diprioritaskan pada peningkatan nilai tambah produksi di daerah melalui percepatan industrialisasi/hilirisasi dengan tahapan yang jelas dan komitmen yang kuat. Beberapa hal yang telah ditempuh untuk mendorong berkembangnya industrialisasi seperti pemberian insentif fiskal (tax holiday bagi pengembangan industri sumber daya terbarukan dan industri pengilangan minyak bumi, tax allowance) dan upaya mendorong skema pembiayaan public-private partnership (PPP) dalam proses akuisisi lahan, pengembangan proyek, termasuk penjaminan pemerintah melalui PT Penjamin Infrastruktur Indonesia. Langkah kebijakan yang telah dilakukan oleh pemerintah pusat tersebut perlu disertai dukungan dan koordinasi yang kuat dari pemerintah daerah antara lain melalui penyederhanaan regulasi dan perizinan, serta kejelasan tata ruang di daerah.

Ketiga, kemajuan realisasi proyek infrastruktur, khususnya terkait penyediaan energi listrik, masih menghadapi tantangan di dalam pelaksanaannya antara lain terkait persoalan lahan, pembiayaan, dan perizinan. Selain itu, pembangunan pembangkit listrik baru perlu lebih diarahkan untuk mendukung berkembangnya industri/hilirisasi di luar Jawa. Untuk itu, dalam implementasi pelaksanaan pembangunan pembangkit listrik diperlukan koordinasi yang kuat antara pemerintah pusat dan daerah, dukungan komitmen yang kuat daerah pada arah pengembangan hilirisasi, serta perubahan paradigma penyediaan infrastruktur energi dari demand driven ke arah demand creation sehingga pengembangannya dapat lebih tersebar merata ke luar Jawa. Untuk mendukung percepatan pembangunan infrastruktur energi ini, beberapa langkah kebijakan yang telah dilakukan oleh pemerintah seperti pemberian prioritas khusus penggunaan dan pemanfaatan kawasan hutan untuk pembangunan proyek infrastruktur strategis, percepatan pemberian izin prinsip terhadap proyek pengembangan listrik 35 GW, serta relaksasi dan penyederhanaan perizinan.

Keempat, mengantisipasi potensi risiko inflasi diperlukan penguatan koordinasi pengendalian inflasi di tingkat pusat maupun daerah melalui TPI dan TPID perlu difokuskan pada lima hal yakni:

1) mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk meminimalkan dampak kekeringan akibat El-Nino terutama di daerah-daerah yang merupakan lumbung pangan nasional antara lain melalui penyediaan air melalui pompa, bibit di lahan kering, pengaturan pola tanam.

2) mengelola ekspektasi inflasi masyarakat melalui program komunikasi yang intensif dan terarah, serta meningkatkan kualitas akses informasi harga bagi masyarakat luas.

3) memperkuat stok pangan BULOG sebagai penyangga untuk menjamin stabilisasi harga pangan.

(13)

4) melakukan pengawasan yang intensif terhadap distribusi komoditas strategis di daerah untuk memastikan kesinambungan pasokannya bagi masyarakat.

5) melakukan penajaman terhadap agenda pengendalian inflasi di daerah dengan mengacu pada tahapan jangka menengah atau roadmap pengendalian inflasi.

Laporan Nusantara ini disarikan dari hasil pertemuan Dewan Gubernur Bank Indonesia dengan para Kepala Departemen Regional pada 10 Agustus 2015 di Balikpapan. Pertemuan tersebut dilakukan secara periodik

untuk membahas perkembangan terkini dan berbagai isu strategis yang menjadi perhatian di daerah sebagai bahan pertimbangan penting dalam perumusan kebijakan di Bank Indonesia

(14)

Halaman ini sengaja dikosongkan

(15)

PERTUMBUHAN EKONOMI

Pertumbuhan ekonomi Sumatera pada triwulan II 2015 melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.

Ekonomi Sumatera tumbuh sebesar 2,85% (yoy), lebih rendah dari triwulan sebelumnya yang tumbuh 3,56%

(yoy). Kondisi ini terutama dipengaruhi oleh terbatasnya kinerja ekspor seiring dengan masih rendahnya harga komoditas yang selanjutnya berdampak melemahnya konsumsi rumah tangga (RT). Perlambatan konsumsi rumah tangga ini juga turut memengaruhi kinerja sektor perdagangan. Perlambatan ekonomi terjadi di hampir semua provinsi di Sumatera dan bahkan terdapat dua provinsi yang masih mengalami kontraksi pertumbuhan yakni Aceh dan Riau. Pada triwulan II 2015 hanya Sumatera Utara, Sumatera Selatan, dan Lampung yang mencatat kenaikan angka pertumbuhan ekonomi.

Perekonomian Sumatera pada triwulan III 2015 diprakirakan mengalami perbaikan, walaupun masih relatif terbatas. Perbaikan kondisi ekonomi terutama ditopang oleh peningkatan realisasi anggaran pemerintah dan investasi, ditengah masih terbatasnya kinerja ekspor. Realisasi proyek infrastruktur berskala besar di beberapa daerah di Sumatera, seperti pembangunan jalan tol dan double track kereta api, serta infrastruktur pendukung Asian Games 2018 diperkirakan akan mampu mendorong kinerja investasi Pemerintah. Perbaikan ekonomi juga diperkirakan didukung oleh menguatnya konsumsi rumah tangga karena pengaruh faktor musiman.

Secara spasial, perbaikan ekonomi diperkirakan akan terjadi di hampir seluruh Sumatera, kecuali Aceh dan Riau karena kinerja migas yang diperkirakan masih akan mengalami kontraksi pertumbuhan.

Secara keseluruhan, berbagai perkembangan terkini mengindikasikan perekonomian Sumatera pada 2015 diperkirakan tumbuh lebih rendah dibanding prakiraan sebelumnya. Perekonomian Sumatera untuk keseluruhan tahun 2015 diprakirakan tumbuh sebesar 3,40-3,90% (yoy). Perlambatan ini terutama disebabkan oleh kontraksi kinerja migas, serta rendahnya harga komoditas sebagai dampak permintaan global yang belum membaik sehingga menekan kinerja ekspor daerah. Kondisi tersebut diperkirakan menahan kinerja sektor- sektor utama di Sumatera seperti pertanian, pertambangan, dan industri pengolahan. Kinerja sektor pertanian juga dihadapkan pada risiko kekeringan akibat fenomena El Nino yang diperkirakan terjadi di semester II 2015.

Perlambatan perekonomian akan terjadi di hampir seluruh Sumatera kecuali Sumatera Selatan dan Lampung seiring dengan pelaksanaan pembangunan megaproyek infrastruktur di kedua provinsi tersebut.

Konsumsi

Konsumsi Rumah Tangga

Konsumsi rumah tangga (RT) di Sumatera tercatat tumbuh melambat pada triwulan II 2015 dibanding triwulan sebelumnya. Konsumsi RT pada triwulan II 2015 tumbuh 5,19% (yoy), melambat dibanding triwulan I 2015 sebesar 5,24% (yoy). Melambatnya kinerja konsumsi RT dipengaruhi oleh pendapatan ekspor yang menurun seiring dengan masih rendahnya harga komoditas di pasar global. Sejalan dengan perlambatan konsumsi RT ini, penyaluran kredit konsumsi juga cenderung tumbuh melambat (Grafik II.1) khususnya pada kredit kepemilikan rumah dan kredit kendaraan bermotor. Selain itu, optimisme masyarakat terhadap kondisi perekonomian pada hasil Survei Konsumen juga lebih rendah pada triwulan II 2015 (Grafik II.2).

Konsumsi swasta pada triwulan III diperkirakan membaik, didukung oleh perbaikan ekspektasi konsumen.

Membaiknya ekspektasi tersebut dipengaruhi oleh ekspektasi terhadap perbaikan pendapatan seiring pencairan gaji ke-13 dan adanya Tunjangan Hari Raya (THR) Lebaran. Pendapatan petani juga menunjukkan perbaikan yang ditunjukkan oleh perbaikan Nilai Tukar Petani (NTP) di bulan Juli. Selain itu, adanya kebijakan

(16)

pelonggaran rasio Loan To Value (LTV) diperkirakan mampu mendorong penjualan kendaraan bermotor, khususnya kendaraan roda dua.

Grafik II.1. Perkembangan Kredit Konsumsi Grafik II.2. Indeks Keyakinan Konsumen

Konsumsi Pemerintah

Pertumbuhan konsumsi pemerintah pada triwulan II 2015 mengalami perbaikan dibandingkan triwulan I 2015.

Konsumsi pemerintah tumbuh sebesar 3,94% (yoy), lebih tinggi dari triwulan sebelumnya yang sebesar 0,64%

(yoy). Perbaikan konsumsi pemerintah terkait dengan adanya peningkatan penyerapan belanja fiskal di Sumatera. Meski demikian, kenaikan penyerapan anggaran daerah tersebut relatif masih terbatas ditengah transfer daerah yang meningkat. Secara rata-rata, penyerapan belanja fiskal daerah di seluruh daerah Sumatera pada akhir Triwulan II 2015 adalah sebesar 20% dengan penyerapan terendah tercatat terjadi di Riau. Masih terbatasnya penyerapan anggaran tersebut diikuti oleh meningkatnya dana milik Pemerintah Daerah diperbankan (Grafik II.3).

Grafik II.3. Perkembangan Posisi Simpanan Pemerintah Daerah

Sumatera di Bank Umum

Grafik II.4. Perkembangan Giro dan Deposito Pemerintah Daerah

Sumatera di Bank Umum

Konsumsi pemerintah diperkirakan masih tumbuh meningkat pada triwulan III 2015. Pertumbuhan tersebut diantaranya didorong oleh pencairan gaji ke-13 PNS serta adanya berbagai upaya khusus yang ditempuh oleh pemerintah untuk mempercepat penyerapan belanja, khususnya untuk pembangunan infrastruktur. Selain itu, penyerapan Dana Desa juga diperkirakan masih akan terus diakselerasi, mengingat terbatasnya realisasi di semester I 2015. Kondisi simpanan Pemerintah Daerah yang masih terus meningkat hingga triwulan II 2015 ditengah pelemahan kondisi ekonomi regional, memerlukan perubahan paradigma Pemerintah Daerah agar dapat merumuskan langkah strategis dan memanfaatkan dana yang ada sebagai stimulus perekonomian daerah (Grafik II.4).

(17)

Investasi

Kinerja investasi tumbuh membaik pada triwulan II 2015 dibanding triwulan sebelumnya, baik investasi pemerintah maupun investasi swasta. Investasi pada triwulan II 2015 tumbuh 1,66% (yoy), sedikit meningkat dibandingkan triwulan I 2015 yang tumbuh 1,22% (yoy). Peningkatan investasi pemerintah didorong oleh realisasi proyek infrastruktur pemerintah yang mulai berjalan setelah sempat tertunda pada triwulan sebelumnya. Beberapa proyek infrastruktur yang telah berlangsung antara lain pembangunan tol Sumatera di Ruas Inderalaya-Sumsel dan Ruas Bakauheni-Lampung. Selain itu, terdapat program pencetakan sawah baru melalui pembebasan lahan baru atau alih fungsi lahan oleh pemerintah khususnya di Provinsi Sumatera Selatan, Lampung, Jambi, dan Bangka Belitung. Dari sisi investasi swasta, Penanaman Modal Asing (PMA) di Sumatera meningkat terutama terkait dengan pembangunan kelistrikan (Grafik II.5) dan investasi replanting komoditas perkebunan (karet dan kelapa sawit).

Investasi diprediksikan masih akan tumbuh pada triwulan III 2015, ditopang oleh target Pemerintah dalam rangka mengejar pencapaian belanja modal. Beberapa pembangunan infrastruktur yang turut mendorong pertumbuhan investasi pada triwulan III 2015 diantaranya berlanjutnya pembangunan tol Sumatera, investasi bangunan hotel dalam rangka persiapan Asian Games di Sumatera Selatan, progress pembangunan double track kereta api, serta proyek pencetakan sawah baru. Selain itu, target pencapaian realisasi Dana Desa yang digunakan untuk pembangunan infrastruktur desa juga menjadi faktor pendorong peningkatan investasi pemerintah. Sementara itu, investasi swasta terkait proses replanting karet dan peningkatan kapasitas pabrik CPO terutama di Sumatera Utara dan Sumatera Selatan turut mendorong pertumbuhan investasi swasta di Sumatera. Potensi peningkatan investasi swasta terindikasi dari peningkatan kredit investasi pada triwulan II 2015 dari 8,57% (yoy) menjadi sebesar 10,11% (yoy). Kondisi tersebut juga terkonfirmasi dari indikator penjualan semen yang mulai meningkat (Grafik II.6) serta meningkatnya proyeksi investasi di triwulan III 2015 berdasarkan hasil liaison.

Grafik II.5. Perkembangan PMA Sumatera Grafik II.6. Konsumsi Semen Sumatera

Perdagangan Luar Negeri

Ekspor

Kinerja ekspor luar negeri Sumatera menunjukkan perbaikan pada triwulan II 2015, dibandingkan triwulan sebelumnya. Ekspor Sumatera meningkat dari 4,63% (yoy) pada triwulan I 2015 menjadi 11,21% (yoy) pada triwulan II 2015. Pertumbuhan ekspor didorong oleh peningkatan kinerja komoditas CPO dan kopi. Perbaikan ekspor CPO terkait dengan langkah pelaku industri pengolahan CPO yang mendorong produksinya sebelum implementasi kebijakan CPO Supporting Fund yang rencananya diberlakukan pada Juli 2015. Peningkatan

(18)

kinerja CPO tersebut mampu menjadi penopang kinerja ekspor secara keseluruhan ditengah kontraksi yang terjadi pada kinerja karet, batubara, dan timah Sumatera (Grafik II.7).

Namun, perbaikan kinerja pertumbuhan ekspor diperkirakan masih terbatas (Grafik II.8). Prospek pertumbuhan ekonomi global yang masih berjalan lambat disertai masih rendahnya harga komoditas diperkirakan menekan ekspor Sumatera. Hal itu mengindikasikan demand dunia yang diperkirakan masih akan terbatas dan harga komoditas yang diperkirakan masih belum akan membaik. Kebijakan compound rubber di China yang berlaku per 1 Juli 2015 juga turut memberikan tekanan pada ekspor karet Sumatera ke negara tersebut5.

Grafik II.7. Perkembangan Nilai Ekspor Komoditas Sumatera

Grafik II.8. Perkembangan Ekspor Impor

Impor

Aktivitas impor luar negeri Sumatera juga masih mengalami kontraksi, terutama untuk jenis impor bahan baku.

Impor Sumatera tercatat turun sebesar -14,94% (yoy), lebih dalam dibandingkan impor triwulan I 2015 yang turun sebesar -5,72% (yoy). Penurunan terjadi pada seluruh jenis barang impor, terutama bahan baku seperti besi dan baja (Grafik II.9). Selain itu, impor pupuk dan gandum Sumatera juga mengalami kontraksi dibanding periode sebelumnya (Grafik II.10). Penurunan impor juga terjadi dari sisi volume impor. Hal ini diperkirakan sebagai dampak melemahnya nilai tukar rupiah.

Pertumbuhan impor diperkirakan kembali meningkat pada triwulan III 2015. Hal tersebut dipengaruhi kebutuhan impor barang modal untuk pembangunan infrastruktur dan impor barang konsumsi untuk memenuhi peningkatan permintaan masyarakat saat perayaan hari besar keagamaan. Perbaikan kinerja industri pengolahan diperkirakan juga akan mendorong peningkatan impor bahan baku untuk industri.

Grafik II.9. Perkembangan Nilai Kelompok Impor Sumatera

Grafik II.10. Perkembangan Nilai Komoditas Impor Sumatera

5 Mulai 1 Juli 2015, Tiongkok memberlakukan pengenaan bea masuk karet sebesar 20% untuk compound rubber yang memiliki kandungan karet alam lebih dari 88%. Hal tersebut bertentangan dengan Standard Indonesia Rubber (SIR) yang memiliki kandungan karet alam

(19)

Kinerja Sektor Utama Daerah

Sektor Pertanian

Sektor pertanian pada triwulan II 2015 mengalami perlambatan pertumbuhan yang cukup dalam. Sektor pertanian tercatat hanya tumbuh sebesar 2,29% (yoy), lebih rendah dibanding triwulan I 2015 yang tumbuh mencapai 5,69%. Melambatnya pertumbuhan ini terutama disebabkan oleh menurunnya kinerja pertanian di beberapa provinsi antara lain Riau, khususnya terjadi pada sub-sektor perkebunan kelapa sawit. Penurunan kinerja sub-sektor perkebunan disebabkan oleh faktor cuaca dan faktor masih rendahnya harga CPO (Provinsi Riau dan Sumatera Utara). Harga CPO internasional yang turun dari USD 625 per metrik ton pada triwulan I 2015 menjadi USD 600 per metrik ton pada triwulan II 2015 menjadi disinsentif bagi perkebunan (Grafik II.11).

Kinerja sektor pertanian diperkirakan belum akan mengalami perbaikan yang berarti pada triwulan III 2015.

Sejumlah indikator menunjukkan bahwa pertumbuhan sektor pertanian masih akan tertahan, antara lain terindikasi dari penyaluran kredit sektor pertanian masih relatif rendah hingga pertengahan tahun (Grafik II.12). Selain itu, kekeringan dan kebakaran hutan di sejumlah wilayah seperti Riau dan Jambi diperkirakan menghambat produksi komoditas pertanian. Namun, pelaku usaha masih optimis bahwa penjualan sektor pertanian akan meningkat (hasil liaison).

Sumber: Bloomberg

Grafik II.11. Harga CPO Internasional Grafik II.12. Penyaluran Kredit Sektor Pertanian

Sektor Pertambangan

Sektor pertambangan masih mengalami kontraksi dan menahan laju pertumbuhan ekonomi Sumatera. Kinerja sektor pertambangan pada triwulan II 2015 turun sebesar -2,62% (yoy), meski tidak sedalam dibandingkan penurunan pada triwulan I 2015 yang sebesar -3,66% (yoy). Kondisi ini terutama dipengaruhi oleh masih terus menurunnya kinerja produksi minyak di Provinsi Riau. Beberapa upaya yang ditempuh untuk menahan laju penurunan produksi minyak bumi seperti penerapan teknologi injeksi uap belum dapat menahan laju penurun produksi lebih lanjut. Sementara itu, produksi batubara masih menghadapi tekanan dari rendahnya harga komoditas di pasar ekspor (Grafik II.13).

Kinerja sektor pertambangan dan penggalian diperkirakan relatif membaik pada triwulan III 2015 meski masih menghadapi tekanan dari harga komoditas tambang yang rendah. Faktor yang menjadi pendorong perbaikan adalah perkiraan peningkatan lifting perusahaan minyak di Riau setelah penerapan teknologi injeksi gas, yang dikonfirmasi oleh data lifting hingga Agustus 2015 (Grafik II-14). Pemanfaatan double track di Sumatera Selatan diperkirakan dapat mendorong perbaikan ekspor batubara. Di sisi lain, terdapat base effect pencatatan produksi emas Martabe di Sumatera Utara sejak bulan Juni 2015 yang turut mendorong peningkatan kinerja sektor ini.

(20)

Sumber : Bloomberg Sumber : Kementerian ESDM

Grafik II.13. Harga Batubara Internasional Grafik II.14. Perkembangan dan Proyeksi Lifting Minyak di Riau

Sektor Industri Pengolahan

Pada triwulan II 2015, kinerja industri pengolahan mengalami perbaikan kinerja dan tumbuh lebih baik dibandingkan triwulan I 2015. Sektor industri pengolahan ini tercatat tumbuh sebesar 3,09% (yoy), lebih tinggi dari pertumbuhan triwulan lalu yang sebesar 2,24% (yoy). Peningkatan kinerja sektor ini dipengaruhi oleh pertumbuhan kinerja industri makanan dan minuman, seperti yang terjadi di Lampung dan Riau. Hal tersebut dipengaruhi oleh antisipasi peningkatan permintaan domestik menjelang hari besar keagamaan. Impor antar daerah di Sumatera menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan yang diperkirakan merupakan bahan baku industri pengolahan. Selain itu, peningkatan kinerja sektor industri pengolahan CPO diperkirakan terkait dengan upaya pelaku untuk mendorong produksi sebelum pemberlakuan kebijakan CPO supporting fund pada Juli 2015 meski perbaikan harga CPO domestik masih terbatas (Grafik II.15).

Sumber : Dinas Perkebunan

Grafik II.15. Perkembangan Harga CPO Domestik Sumatera Grafik II.16. Indeks Kegiatan Dunia Usaha Sektor Industri Pengolahan

Peningkatan kinerja sektor industri pengolahan diperkirakan berlanjut di triwulan III 2015. Hal ini sejalan dengan peningkatan ekspektasi masyarakat dan pelaku usaha terhadap kondisi ekonomi kedepan. Indeks ekspektasi kegiatan usaha hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) sektor industri pengolahan juga mengalami peningkatan dari -6,6 menjadi 0,2 (Grafik II.16). Hasil liaison menunjukkan peningkatan likert scale industri pengolahan untuk penjualan domestik dan ekspor. Telah beroperasinya PUSRI 2B di Palembang dan Pabrik Unilever di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangke, Sumatera Utara juga diharapkan akan meningkatkan pertumbuhan sektor industri pengolahan di Sumatera.

(21)

PERKEMBANGAN INFLASI

Inflasi Sumatera pada triwulan II 2015 masih cukup terkendali ditengah mulai meningkatnya tekanan permintaan dan adanya beberapa kendala pasokan di beberapa daerah. Terkendalinya inflasi terlihat dari laju kumulatif (Januari–Juni) yang masih rendah yakni 0,46% (ytd), lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata empat tahun terakhir yang mencapai 1,89% (ytd). Relatif terkendalinya inflasi didukung oleh semakin intensifnya upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas inflasi. Meski demikian, secara tahunan (year on year) inflasi masih berada pada level yang tinggi sebagai dampak base effect kenaikan harga BBM pada November 2014 lalu (Grafik II.17). Provinsi Bengkulu mencatat inflasi yang paling tinggi yakni sebesar 9,90% (yoy), diikuti Kepulauan Riau sebesar 8,21% (yoy), sementara inflasi terendah terjadi di Provinsi Aceh sebesar 6,24% (yoy).

Tekanan inflasi pada Triwulan II 2015 terutama bersumber dari kenaikan beberapa komoditas pangan seperti cabe merah, daging ayam ras, telur ayam ras dan bawang merah (Grafik II.18). Sepanjang bulan April–Juni 2015, harga cabai merah mengalami kenaikan mencapai 69%. Adanya erupsi gunung Sinabung menyebabkan kenaikan harga bahan pangan di wilayah utara Sumatera seperti Aceh dan Sumatera Utara (Grafik II.19).

Sementara itu, terbatasnya produksi bahan pangan dari Pulau Jawa, seperti cabai merah dan bawang merah, ketika menjelang hari besar keagamaan lalu menyebabkan peningkatan harga pada bulan Juni 2015 terutama di wilayah selatan seperti di Lampung, Sumatera Selatan dan Jambi. Kenaikan harga juga terjadi pada komoditas daging ayam ras dan telur ayam ras, akibat terbatasnya jumlah Day Old Chicken (DOC). Beberapa komponen lain yang turut memengaruhi inflasi di Sumatera pada periode Triwulan II 2015 adalah kenaikan harga BBM pada akhir Maret 2015 dan meningkatnya biaya sekolah.

Sumber: BPS, diolah Sumber: BPS, diolah

Grafik II.17. Inflasi Tahunan Sumatera (%) Grafik II.18. Disagregasi inflasi Sumatera

Sumber: BPS, diolah

Grafik II.19. Inflasi Per Provinsi Sumatera

Pada triwulan III 2015, tekanan inflasi diperkirakan meningkat dibandingkan triwulan II 2015. Hal ini terlihat dari realisasi inflasi Juli 2015 yang menunjukkan peningkatan harga terutama untuk komoditas volatile food

(22)

berasal dari kelompok volatile food yakni cabai rawit, cabai merah dan beras. Sementara itu, peningkatan tarif angkutan udara pada bulan Juli 2015 yang disebabkan oleh peningkatan permintaan sebelum dan setelah Lebaran yang diperkirakan hanya bersifat sesaat. Tekanan inflasi pangan diperkirakan cenderung meningkat hingga akhir Triwulan III 2015 seiring dengan menguatnya intensitas El Nino yang melanda sejumlah daerah di Sumatera. Di samping itu, terdapat risiko kenaikan harga daging dan telur ayam akibat melonjaknya harga pakan yang disebabkan kebijakan penghentian impor jagung pada awal Agustus 2015.

Tabel II.1. Komoditas Penyumbang Inflasi Tertinggi Triwulan April – Juli 2015 KOMODITAS

SUMBANGAN INFLASI (%) Apr-

15 May-

15 Jun-

15 Jul-

15 April - Juli Cabai Merah 0.02 0.32 0.19 0.24 0.78

Bensin 0.26 0.01 0.01 0.00 0.27

Daging Ayam Ras 0.03 0.09 0.04 0.03 0.20 Angkutan Udara 0.01 0.01 -0.04 0.20 0.18

Telur Ayam Ras -0.01 0.04 0.05 -0.01 0.08 Rokok Kretek Filter 0.02 0.02 0.01 0.02 0.07 Bahan Bakar Rumah

Tangga 0.04 0.01 0.00 0.00 0.05

Gula Pasir 0.02 0.01 0.02 0.01 0.05

Bawang Merah 0.10 0.03 0.01 -0.09 0.05 Daging Sapi 0.00 0.00 0.01 0.04 0.05

Sumber: BPS, diolah

Koordinasi Pengendalian Inflasi

Dalam rangka pengendalian inflasi menjelang bulan puasa dan hari raya Idul Fitri lalu, TPID di Sumatera telah melaksanakan beberapa kegiatan, sebagai berikut:

1. Pengelolaan ekspektasi masyrakat

a. Himbauan kepada masyarakat untuk berkonsumsi dengan bijak.

Kegiatan ini bertujuan untuk menghimbau dan mengedukasi masyarakat untuk bijak dan tidak berlebihan dalam berbelanja di bulan Ramadhan. Di beberapa provinsi, himbauan ini dilaksanakan bekerjasama dengan MUI ataupun pemuka agama untuk memperluas jangkauan sosialisasi. Kegiatan ini dilaksanakan oleh beberapa provinsi seperti Aceh, Sumut, Sumbar, Bengkulu, Riau, dan Jambi.

b. Konferensi pers terkait kesiapan Pemerintah menjelang hari besar keagamaan.

Kegiatan ini bertujuan untuk meyakinkan masyarakat bahwa pasokan bahan makanan mencukupi selama bulan Ramadhan. Beberapa kegiatan yang mendukung program ini adalah:

1) Pemantauan harga secara regular yang dilaksanakan oleh Disperindag Provinsi/Kabupaten Kota maupun Survei Pemantauan Harga yang dilaksanakan oleh Bank Indonesia.

2) Publikasi harga baik melalui website PIHPS maupun surat kabar.

3) Inspeksi mendadak yang dilaksanakan oleh kepala daerah di pasar-pasar tradisional serta gudang/distributor untuk mengingatkan pedagang dan distributor untuk tidak menimbun dan menaikkan harga secara berlebihan.

4) Pemantauan kesiapan distributor akan pasokan sampai dengan beberapa bulan ke depan yang dilaksanakan oleh seluruh provinsi.

5) Komunikasi kepada masyarakat mengenai berbagai kesiapan yang telah dilakukan sehingga masyarakat tidak perlu resah serta menghindari panic buying menjelang bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri.

2. Kegiatan pengendalian harga dan menjaga daya beli masyarakat.

Dalam rangka menjaga kestabilan harga dan daya beli masyarakat yang kurang mampu, dilaksanakan beberapa kegiatan seperti:

(23)

a. Penyusunan data kalender pangan dan kerjasama antar daerah.

Kegiatan ini bertujuan untuk memproyeksi kebutuhan dan ketersediaan komoditas dalam beberapa bulan ke depan. Untuk Provinsi yang mengalami defisit komoditas tertentu merespon dengan melaksanakan kerjasama perdagangan dengan distributor (Sumatera Utara dan Sumatera Barat) b. Operasi pasar dan pasar murah.

Operasi pasar dilaksanakan apabila kenaikan harga bahan makanan telah mencapai level tertentu (10% dalam setahun terakhir). Adapun penyelenggaraan pasar murah dilaksanakan bekerjasama dengan instansi terkait termasuk BUMN, TNI, Polri, dsb. Dari sisi pengendalian harga, kegiatan ini bermanfaat untuk membentuk ekspektasi masyarakat bahwa akan terdapat respon dari pemerintah apabila terdapat kenaikan harga di pasar. Sementara itu, penyelenggaraan pasar murah bersubsidi di daerah-daerah terpencil diharapkan dapat menjaga daya beli masyarakat yang kurang mampu.

c. Percepatan distribusi raskin.

Kegiatan ini bertujuan untuk meyakinkan kecukupan ketersediaan beras bagi masyarakat yang kurang mampu. Di samping itu, dalam hal pengendalian harga, kegiatan ini cukup bermanfaat untuk meningkatkan pasokan bahan makanan dengan harga yang terjangkau.

3. Kelancaran distribusi.

Beberapa kegiatan yang dilakukan untuk menjaga kelancaran distribusi bahan makanan adalah:

a. Prioritas transportasi yang membawa bahan makanan

b. Pembatasan kapasitas muat kendaraan untuk mengurangi traffic lalu lintas dan menjaga kualitas jalan, serta pengaktifan jembatan timbang.

c. Pengendalian tarif batas atas dan bawah angkutan d. Pengembangan infrastruktur transportasi

Selain itu, menindaklanjuti arahan Presiden dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), TPID se-Sumatera telah melakukan langkah-langkah sebagai berikut:

Arahan dalam Rakornas Progress

1 Pembentukan TPID Kab/Kota Masih 6 Kabupaten di Prov. Lampung dan 6 Kabupaten di Prov. Aceh belum memiliki TPID

2 Identifikasi komoditas penyumbang inflasi

Semua TPID Provinsi telah memiliki PIHPS dan menyusun mapping komoditas utama penyumbang inflasi ke dalam Roadmap Pengendalian Inflasi Provinsi

3 Percepatan Pembangunan Infrastruktur Pangan

Rencana pembangunan Lumbung Pangan Masyarakat (LPM) dan Lembaga Distribusi Pangan (LDP).

4 Penanaman cabai merah di pekarangan Optimalisasi program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) 5 Alokasi anggaran untuk stabilisasi harga

(pasar murah, subsidi ongkos angkut)

Telah dilakukan pasar murah Ramadhan bekerja sama dengan anggaran APBD

6 Pengawasan pasokan dan distribusi bahan makanan bersama aparat penegak hukum

Telah dilakukan sidak TPID bersama aparat hukum di pasar, gudang distribusi dan sentra produksi.

7 Revitalisasi peran BULOG sebagai penyangga yang juga meliputi komoditas selain beras

Operasi pasar cabai merah

8 Kerjasama dengan kepolisian dan kejaksaan dalam melakukan pengawasan dan mencegah aksi-aksi penimbunan

Inspeksi mendadak ke gudang-gudang distributor bahan pokok

9 Pengembangan pasar lelang komoditas Berencana mengikutsertakan lelang komoditas penyumbang

(24)

STABILITAS SISTEM KEUANGAN, PENGELOLAAN SISTEM PEMBAYARAN, DAN PENGELOLAAN UANG TUNAI RUPIAH

Ketahanan Sektor Korporasi

Kinerja penyaluran kredit korporasi tumbuh melambat sejalan dengan perlambatan ekonomi di Sumatera.

Pada triwulan II 2015, kredit korporasi tumbuh 9,36% (yoy), lebih rendah jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang sebesar 9,63% (yoy) (Grafik II.20). Secara sektoral, melambatnya penyaluran kredit terutama disebabkan oleh melambatnya pertumbuhan penyaluran kredit di sektor industri (Grafik II.21). Perlambatan kredit korporasi di sektor industri diduga terkait dengan kondisi ekonomi global dan regional.

Grafik II.20. Perkembangan Kredit Korporasi Sumatera Grafik II.21. Perkembangan Kredit Sektor Utama Sumatera

Ketahanan keuangan korporasi di wilayah Sumatera masih terjaga, tercermin dari kualitas kredit korporasi yang masih berada dalam batas aman (Grafik II.22). Namun demikian, tren peningkatan non performing loan (NPL) yang terjadi perlu diwaspadai. Kenaikan NPL terutama terjadi pada debitur industri minerba dan debitur sektor perdagangan. Sementara itu, penghimpunan dana korporasi mengalami peningkatan dari 6,42% (yoy) menjadi 8,56% (yoy) pada triwulan II 2015 (Grafik II.23). Peningkatan terutama terjadi pada rekening giro.

Kondisi ini juga masih merupakan dampak dari perlambatan ekonomi domestik dan global, yang mendorong pelaku usaha membatasi ekspansi usaha sehingga simpanan giro masih mengalami peningkatan. Di sisi lain, simpanan deposito mengalami perlambatan yaitu dari 6,51% (yoy) jadi 3,42% (yoy).

Grafik II.22. Perkembangan NPL Kredit Korporasi Sumatera Grafik II.23. Perkembangan DPK Korporasi

(25)

Ketahanan Sektor Rumah Tangga

Kredit konsumsi yang disalurkan dari Bank Umum kepada sektor rumah tangga6 di Sumatera mengalami perlambatan. Kredit konsumsi melambat dari 21,54% (yoy) di triwulan I 2015 menjadi 14,14% (yoy) di triwulan II 2015. (Grafik II.24). Perlambatan terjadi pada seluruh jenis kredit baik kredit multiguna, kredit properti maupun kredit kendaraan bermotor. Namun demikian, perlambatan kredit rumah tangga tersebut tidak disertai dengan perbaikan kualitas kredit yang ditunjukkan dengan peningkatan NPL dari 1,94% pada triwulan I 2015 menjadi 2,04% pada triwulan II 2015 (Grafik II.25). Peningkatan NPL terjadi baik pada kredit kendaraan bermootor, Kredit Pemilikan Rumah (KPR) maupun multiguna. Penurunan pendapatan sebagai dampak dari kondisi ekonomi yang belum membaik diperkirakan memberikan andil terhadap kenaikan NPL di sektor rumah tangga.

Grafik II.24. Perkembangan Kredit Rumah Tangga Sumatera Grafik II.25. Perkembangan NPL Kredit Rumah Tangga Sumatera

Pada triwulan II 2015 penghimpunan dana7 sektor rumah tangga mengalami perlambatan (Grafik II.26).

Penghimpunan dana tumbuh sebesar 8,92% pada triwulan II 2015, lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya yang sebesar 10,72%. Perlambatan terjadi pada seluruh jenis simpanan terutama jenis deposito.

Hal ini juga sejalan debt service ratio yang menunjukkan peningkatan pengeluaran masyarakat untuk konsumsi dan cicilan pinjaman pada triwulan II 2015. Namun, angka persentase cicilan pinjaman masih di bawah batas yang dianggap aman (30%) (Grafik II.27).

Grafik II.26. DPK Rumah Tangga Grafik II.27. Debt Service Ratio

6 Definisi kredit rumah tangga yaitu kredit sektor Penerima Kredit Bukan Lapangan Usaha dengan mengecualikan Sektor Bukan Lapangan

(26)

Pembiayaan Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)

Kredit UMKM di Sumatera mengalami perlambatan, disertai dengan penurunan pangsa kredit UMKM terhadap total kredit. Penyaluran kredit UMKM pada triwulan II 2015 tumbuh sebesar 3,78% (yoy), jauh lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya yang sebesar 11,10% (yoy). Perlambatan disebabkan oleh adanya kebijakan Pemerintah dalam mengubah plafon Kredit Usaha Rakyat (KUR) menjadi lebih rendah.

Selain itu, suku bunga juga rencananya akan diturunkan menjadi lebih rendah. Namun belum disahkannya keputusan tersebut membuat pelaku usaha UMKM menahan pinjaman kreditnya.

Jumlah kepemilikan rekening kredit UMKM turut mengalami perlambatan dibandingkan triwulan I 2015 dari 24,57% (yoy) menjadi 12,37% (yoy) pada triwulan II 2015. Perlambatan penyaluran kredit UMKM disertai dengan menurunnya kualitas kredit, ditandai dengan kenaikan rasio non-perfoming loan (NPL) dari 5,89% di triwulan sebelumnya, menjadi 6,10%. Adapun penyaluran kredit UMKM mayoritas disalurkan kepada sektor perdagangan besar dan eceran sebesar 51,75%, selanjutnya diikuti sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan sebesar 16,90%, dan sektor industri pengolahan sebesar 7,64%. Komposisi ini relatif sama dengan komposisi debitur UMKM pada triwulan I 2015.

Grafik II.28. Perkembangan Kredit UMKM Sumatera Grafik II.29. Pangsa Sektor Utama Kredit UMKM Sumatera

Pengelolaan Sistem Pembayaran

Perlambatan perekonomian Sumatera juga tercermin dari kegiatan sistem pembayaran non tunai yang melambat. Transaksi perbankan di wilayah Sumatera melalui Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI- RTGS) pada Triwulan II 2015 tumbuh 23,25% (yoy), lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 26,88% (yoy). Kegiatan kliring perbankan di wilayah Sumatera juga mengalami penurunan sebesar 13,05% (yoy) menjadi Rp56,05 triliun, lebih dalam dibandingkan triwulan I 2015.

Tabel II.2. Perkembangan RTGS Sumatera

Perkembangan RTGS

Sumatera I II III IV I II III IV I II

Nilai (Rp Milliar) 618,755 744,812 755,021 831,991 637,643 805,284 865,027 963,619 809,031 992,512 Volume (ribu lembar) 604 641 610 663 564 600 590 602 348 358 Pertumbuhan (%yoy)

Nilai 22.8 8.9 17.4 22.1 3.1 8.1 14.6 15.8 26.9 23.2 Volume 5.0 (1.0) (8.1) (5.9) (6.5) (6.5) (3.2) (9.2) (38.4) (40.4)

2015

2013 2014

Tabel II.3. Perkembangan Kliring Sumatera

Perkembangan Kliring

Sumatera I II III IV I II III IV I II

Nilai (Rp Milliar) 65,587 63,249 67,636 62,921 61,632 64,464 63,734 63,711 57,629 56,051 Volume (lembar) 1,649 1,628 1,569 1,617 1,598 1,698 1,569 1,577 1,435 1,421 Pertumbuhan (%yoy)

Nilai 6.5 (2.3) 4.7 (3.5) (6.0) 1.9 (5.8) 1.3 (6.5) (13.1) Volume 7.7 1.8 1.5 2.0 (3.1) 4.3 - (2.5) (10.2) (16.3)

2015

2013 2014

(27)

Pengelolaan Uang Tunai Rupiah

Transaksi keuangan tunai di Triwulan II 2015 menunjukkan peningkatan sejalan dengan masuknya bulan Ramadhan. Aliran uang kartal di Sumatera menunjukkan kondisi net outflow sejalan dengan tingginya kebutuhan akan uang tunai di musim liburan sekolah serta hari besar keagamaan, berbeda dengan triwulan sebelumnya yang menunjukkan net inflow. Kondisi net outflow ini dialami hampir seluruh provinsi di Sumatera kecuali Sumatera Barat. Secara total, net outflow Sumatera di Triwulan II 2015 mencapai Rp13,82 triliun meningkat 85,99% (yoy). Berdasarkan provinsinya, aliran uang keluar (outflow) terbesar berasal dari provinsi Sumatera Utara yang mencapai Rp7,05 triliun. Sementara itu, perkembangan uang palsu pada triwulan II 2015 ini menunjukkan penurunan dari 3.619 lembar menjadi 2.618 lembar dengan temuan uang palsu terbanyak berada di Lampung dan Sumatera Utara.

Grafik II.30. Perkembangan Inflow-outflow Sumatera Tabel II.4. Perkembangan Inflow-Outflow Provinsi di Sumatera

PROSPEK PEREKONOMIAN

Prospek Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi Sumatera untuk tahun 2015 diprakirakan melambat dibandingkan tahun 2014 dan cenderung berada dibawah prakiraan sebelumnya. Perkembangan kondisi terkini mendorong perkiraan ekonomi Sumatera di tahun 2015 mengalami koreksi ke bawah atau menjadi berada pada kisaran 3,40-3,90%

(yoy). Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh rendahnya kinerja pertambangan minyak bumi dan gas Sumatera. Selain itu, kinerja ekspor komoditas perkebunan dan industri pengolahan juga diperkirakan melambat. Indikasi permintaan dunia yang belum menguat masih akan membatasi prospek perbaikan harga komoditas global ke depan.

Referensi

Dokumen terkait

Sebuah pompa turbin adalah pompa sentrifugal yang terutama digunakan untuk memompa air dari sumur dalam atau bawah tanah yang lain dan manusia buatan menjadi

Pada triwulan IV 2015, sektor konstruksi diprakirakan masih akan tumbuh lebih tinggi terutama didorong oleh percepatan pembangunan proyek infrastruktur pemerintah menjelang

1 Bagian tentang persiapan melakukan kegiatan sehingga hari itu dapat terlaksana (bisa diceritakan persiapan untuk mengajar yang dilakukan apa saja, dari tahapan koordinasi

Rencana Kerja DPPKBPPPA Kabupaten Temanggung Tahun 2021 adalah dokumen perencanaan DPPKBPPPA Kabupaten Temanggung untuk periode Tahun 2021 yang memuat kebijakan,

Alhamdulillah, dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan Rahmat, Taufik dan Hidayah serta Inayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan

Penelitian dengan judul Hubungan Antara Intensitas Sedekah Dengan Kebahagiaan Pada Jama’ah Pengajian Miftakhul Jannah Pajang Surakarta merupakan penelitian yang mengacu

Pemicu konflik Poso, bahwa dari gambaran tersebut dapat diketahui, salah satu penyebab utama terjadi konflik Poso, karena persaingan antara elite politik lokal, dipicu

Cara pandang perusahaan tentang CSR adalah segala bentuk pemikiran hasil informasi (baik dari dalam maupun dari luar perusahaan) yang didapatkan oleh pihak-pihak yang terkait,