BAB II KAJIAN PUSTAKA
D. Hipotesis
Gambar II.1. Kerangka Konseptual
D. Hipotesis
1. Pengaruh Sales Promotion terhadap Impulse Buying
Oky Gunawan Kwan (2016) menyatakan bahwa sales promotion mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap impulse buying. Ia menemukan bahwa program sales promotion yang efektif di objek yang ditelitinya adalah diskon dan cashback sehingga pengunjung dapat tertarik dan berminat membeli meskipun sebelumnya tidak merencanakan untuk membeli.
Darmayasa & Sukaatmadja (2017) menemukan bahwa promosi penjualan berpengaruh positif dan signifikan terhadap impulse buying. Darmayasa &
SALES PROMOTION
IMPULSE BUYING
INTERIOR DISPLAY
Sukaatmadja menemukan bahwa semakin efektif sales promotion yang digunakan pada objek yang ditelitinya, maka akan semakin meningkatkan perilaku impulsif pada konsumen. Solenski (2017) menemukan bahwa sales promotion berpengaruh signifikan terhadap impulse buying. Wauran & Poluan (2016) menemukan bahwa sales promotion mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap impulse buying. Wauran & Poluan (2017) menemukan bahwa kegiatan sales promotion yang dilakukan secara rutin dan terencana akan memotivasi konsumen untuk melakukan impulse buying. Gitaningmamba (2013) menemukan bahwa sales promotion berpengaruh signifikan terhadap impulse buying.
Gitaninggmamba (2013) menemukan bahwa sales promotion yang diadakan sesering mungkin dan dilaksanakan dengan baik akan meningkatkan impulse buying pada konsumen. Berdasarkan uraian di atas maka dapat disusun hipotesis sebagai berikut:
H1: Sales promotion berpengaruh positif dan signifikan terhadap impulse buying di Adele Accessories Yogyakarta.
2. Pengaruh Interior Display terhadap Impulse Buying
Putra & Djatmiko (2015) menyatakan bahwa interior display yang digunakan sangat baik, dilihat dari segi pengadaan barang, pengelompokan barang, dan penyusunan barang. Putra & Djatmiko (2015) menemukan bahwa faktor pengelompokan barang menjadi faktor utama terlaksananya interior display.
Fitriana (2016) menemukan bahwa item dari interior display, seperti pengadaan barang, berpengaruh positif terhadap perilaku pembelian impulsif, pengelompokan barang berpengaruh positif terhadap perilaku pembelian impulsif, penyusunan barang dan pencahayaan berpengaruh positif terhadap perilaku pembelian impulsif. Fitriana (2016) menemukan bahwa faktor penyusunan barang dan pencahayaan memiliki pengaruh yang paling kuat dibandingkan dengan faktor pengadaan barang dan pengelompokan barang dalam memengaruhi pembelian impulsif. Berdasarkan uraian di atas maka dapat disusun hipotesis sebagai berikut:
H2: Interior display berpengaruh positif dan signifikan terhadap impulse buying di Adele Accessories Yogyakarta.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan untuk menganalisis pengaruh antara variabel sales promotion dan interior display terhadap impulse buying adalah penelitian kausal, dimana penelitian kausal digunakan untuk membuktikan hubungan sebab akibat antara sales promotion dan interior display terhadap impulse buying.
B. Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Mei 2019 dan dilaksanakan pada Toko Adele Accessories Babarsari Sleman Yogyakarta.
C. Variabel Penelitian
1. Identifikasi Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yang digunakan yaitu variabel bebas (independent variable) dan variabel terikat (dependen variable).
a. Variabel Bebas (Independent Variable)
Variabel bebas merupakan variabel yang memengaruhi atau menjadi penyebab terjadinya perubahan pada variabel lain sehingga dapat dikatakan bahwa perubahan yang terjadi pada variabel ini diasumsikan akan mengakibatkan terjadinya perubahan pada variabel yang lainnya, (Echdar 2017:217). Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas adalah sales promotion (X1) dan
42
interior display (X2). Aspek yang digunakan dari variabel sales promotion (X1) yaitu sampel dan paket harga/diskon sedangkan aspek yang digunakan dari interior display (X2) yaitu assortment display dan wall decoration.
b. Variabel Terikat (Dependent Variable)
Variabel terikat adalah variabel yang keberadaannya dipengaruhi atau menjadi akibat karena adanya variabel bebas, (Echdar 2017:217). Dalam penelitian ini yang menjadi variabel terikat adalah impulse buying.
2. Definisi Variabel Penelitian a. Sales Promotion (X1)
1) Definisi Teoritis
Kotler (2005:298) mengemukakan bahwa sales promotion adalah berbagai kumpulan alat-alat insentif, yang sebagian besar berjangka pendek, yang dirancang untuk merangsang pembelian produk dan jasa tertentu dengan lebih cepat dan lebih besar oleh konsumen atau pedagang.
2) Definisi Operasional
Definisi operasional sales promotion (X1) dalam penelitian ini adalah berbagai kumpulan alat insentif jangka pendek yang dirancang oleh Adele Accessories berupa sampel produk (X11) dan paket harga/diskon (X12), untuk merangsang pembelian produk dan jasa tertentu dengan lebih cepat dan lebih besar oleh konsumen atau pedagang.
Sampel adalah produk yang ditawarkan oleh Adele Accessories secara gratis kepada konsumen baik konsumen lama maupun konsumen baru untuk
memberikan gambaran mengenai produk tersebut kepada konsumen. Paket harga/diskon adalah potongan harga yang diberikan oleh Adele Accessories kepada konsumen, dimana pengurangan harga tersebut dapat berbentuk tunai seperti diskon 5-15% atau pengurangan yang lain seperti program buy one get one.
3) Indikator yang digunakan
a) Ketersediaan produk yang akan dicoba atau dirasakan oleh pengunjung di toko
b) Pengujicobaan dapat dilakukan berulang kali c) Memberikan potongan harga untuk produk di toko
d) Memberikan potongan harga produk pada event-event tertentu e) Penghematan harga diberikan karena telah memenuhi syarat
b. Interior Display (X2) 1) Definisi teoritis
Cahyani (2014: 30) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan interior display adalah tanda-tanda yang digunakan untuk memberikan informasi kepada konsumen untuk memengaruhi suasana lingkungan toko (store atmosphere).
Alma 2008 (dalam Putra & Djatmiko 2015: 1511) mengemukakan bahwa interior display adalah memajang barang-barang, gambar-gambar, kartu harga, atau poster di dalam toko, misalnya di lantai meja, rak, dan sebagainya.
2) Definisi operasional
Definisi operasional interior display (X2) dalam penelitian ini adalah pemajangan tanda-tanda oleh Adele Accessories seperti gambar-gambar, kartu harga, nama barang, atau poster untuk memberikan informasi kepada konsumen serta untuk memengaruhi suasana lingkungan toko.
Adapun display yang digunakan oleh Adele Accessories adalah assortment display (X21) dan wall decoration (X22). Assortment display adalah penyajian barang dagangan oleh Adele Accessories secara campuran dan berbagai varian untuk konsumen dan secara terbuka memberikan kesempatan kepada pelanggan untuk merasakan dan mencoba produk tersebut.
Wall decoration adalah dekorasi toko Adele Accessories yang terdiri dari kombinasi gambar atau poster yang ditempel, warna tembok, hiasan ruangan seperti bunga, jam unik, dan sebagainya untuk meningkatkan suasana Toko Adele Accessories.
3) Indikator yang digunakan a) Kesediaan varian produk.
b) Produk dipajang secara terbuka.
c) Memberikan kesempatan untuk digunakan atau dicoba.
d) Menggunakan hiasan dinding yang tepat.
e) Warna tembok yang cocok dengan kondisi toko.
f) Menggunakan properti pendukung yang tepat dalam memberikan informasi di toko.
c. Impulse Buying (Y) 1) Definisi teoritis
Wood 1998 (dalam Mendenhall 2015:1) mendefinisikan impulse buying sebagai berikut: a purchase that was unplanned. Dengan kata lain, pembelian tak terencana adalah sebuah pembelian yang tidak direncanakan.
Rock & Fisher 2007 (dalam Sari & Faisal 2018:54) mengemukakan bahwa impulse buying adalah kecenderungan konsumen untuk membeli secara spontan, refleks, tiba-tiba, dan otomatis.
2) Definisi operasional
Definisi operasional impulse buying (Y) dalam penelitian ini adalah kecenderungan tindakan pembelian oleh konsumen secara spontan pada saat berada di toko Adele Accessories. Perilaku pembelian tak terencana ini juga dipengaruhi oleh stimulus yang ada di Toko Adele Accessories.
3) Indikator yang digunakan
Dalam penelitian ini variabel impulse buying diukur dengan indikator yang diambil dari Permatasari (2016:39), sebagai berikut:
a) Spontanitas atau bertindak seketika, konsumen cenderung melakukan keputusan secara spontan.
b) Mengesampingkan hal lain yang sebelumnya sudah direncanakan.
c) Bertindak tanpa berpikir, konsumen cenderung melakukan keputusan tanpa berpikir.
d) Gairah atau kesenangan, konsumen cenderung melakukan pembelian untuk memenuhi kepuasannya.
3. Pengukuran Variabel
Untuk mengukur variabel terikat yaitu impulse buying dan variabel bebas yaitu sales promotion dan interior display, penulis menggunakan Skala Likert yang dimodifikasi dengan menghilangkan alternatif jawaban netral untuk menghindari kecenderungan responden memilih jawaban tengah (netral). Echdar (2017:228) mengemukakan bahwa Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial.
Dengan Skala Likert maka variabel yang diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan.
Penggunaan Skala Likert mengakibatkan kemungkinan jawaban tidak sekedar
“setuju” dan “tidak setuju” melainkan dibuat lebih banyak kemungkinan jawabannya, yaitu sangat tidak setuju, natral, setuju, dan sangat setuju. Dalam penelitian ini pengukuran variabel menggunakan Skala Likert yang dimodifikasi dengan menghilangkan alternatif jawaban netral untuk menghindari kecenderungan responden memilih jawaban tengah (netral). Pemberian skor menggunakan Skala Likert seperti di bawah ini.
Tabel III.1
Skor Pernyataan dengan Skala Likert Alternatif Jawaban Skor
Sangat setuju 4
Setuju 3
Tidak Setuju 2
Sangat tidak Setuju 1
Sumber: Echdar (2017:228) D. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi diartikan sebagai kumpulan objek penelitian dari mana data akan dijaring atau dikumpulkan. Populasi (universe) adalah keseluruhan atau totalitas objek yang diteliti yang ciri-cirinya akan diduga atau ditaksir (estimated), Echdar (2017:262). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh konsumen Adele Accessories Babarsari Sleman Yogyakarta.
2. Sampel
Peneliti membentuk perwakilan populasi yang disebut dengan sampel. Hal ini dilakukan karena jumlah populasi konsumen yang berkunjung ke Adele Accessories sangat banyak. Echdar (2017:264) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi, sampel juga bisa disebut sebagai sebagian kecil dari anggota populasi yang diambil menurut prosedur tertentu yang dapat mewakili populasinya. Sampel dalam penelitian ini adalah 100 konsumen dengan golongan usia lima belas tahun ke atas. Sampel ini dipilih karena mayoritas konsumen yang berbelanja di Adele Accessories adalah konsumen dengan golongan usia tersebut, yang diasumsikan dapat mengambil keputusan pembelian saat hendak berbelanja.
E. Unit Analisis
Unit analisis berkaitan dengan fokus atau komponen yang diteliti. Unit analisis dapat berupa individu, kelompok, organisasi, benda, wilayah, dan waktu tertentu sesuai dengan fokus permasalahannya. Dengan mempertimbangkan hal di atas dan membatasi penelitian, maka unit analisis dalam penelitian ini adalah satuan tertentu yang diperhitungkan sebagai subjek penelitian. Subjek dari
penelitian ini adalah 100 konsumen Adele Accessories Babarsari Yogyakarta yang minimal berusia lima belas tahun dengan asumsi bahwa konsumen yang berada pada usia tersebut, dinilai dapat mengambil keputusan pembelian saat hendak berbelanja. Kriteria lainnya adalah konsumen yang pernah melakukan transaksi di Adele Accessories Babarsari Yogyakarta minimal dua kali dalam kurun waktu tiga bulan terakhir.
F. Teknik Pengambilan Sampel
Mengingat jumlah populasi yang sangat banyak dan tidak diketahui jumlah pastinya, maka perlu digunakan sampel untuk mewakili populasi tersebut.
Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah non probability. Jenis metode non probability yang dipilih adalah judgement sampling, yaitu pengambilan sampel berdasarkan pertimbangan tertentu yang melibatkan pemilihan subjek yang berada di tempat yang paling menguntungkan atau dalam posisi terbaik untuk memberikan informasi yang diperlukan, (Suharso, 2009:74).
Pada penelitian ini sampel yang dipilih berdasarkan kriteria tertentu yakni konsumen yang pernah melakukan transaksi di Adele Accessories dan berusia minimal lima belas tahun ke atas dan memiliki minimal uang saku per bulan sebesar Rp500.000,00. Dikarenakan jumlah populasi dari penelitian ini tidak diketahui dengan pasti, maka besar jumlah sampel minimum yang digunakan berdasarkan Rao Purba 2006 (dalam Permatasari 2016:41) menggunakan rumus sebagai berikut:
n =
keterangan:
n = Ukuran Sampel
Z = 1,96 score pada tingkat signifikansi tertentu (derajat keyakinan ditentukan 95%)
Moe = Margin of error, tingkat kesalahan maksimum adalah 10%
Dengan menggunakan rumus di atas, maka diperoleh perhitungan sebagai berikut:
n =
n = 96,04 = 97 atau dibulatkan 100
Berdasarkan perhitungan di atas, maka jumlah sampel dalam penelitian ini dibulatkan menjadi 100 responden.
G. Sumber Data
Terdapat dua jenis sumber data yang digunakan untuk menunjang penelitian ini, yaitu:
1. Data Primer
Data primer merupakan data yang diperoleh dari sumber atau subyek yang diteliti langsung. Echdar (2017:284) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan data primer adalah sumber data penelitian yang diperoleh secara langsung dari sumber asli (tidak melalui media perantara). Sumber data primer adalah
kuesioner dan wawancara kepada pramuniaga, wawancara kepada responden tentang identitas, sales promotion, interior display, dan impulse buying.
2. Data Sekunder
Data sekunder merupakan data yang diperoleh secara tidak langsung dari sumbernya atau tidak langsung subyek yang diteliti. Echdar (2017:284) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan data sekunder adalah sumber data penelitian yang diperoleh peneliti secara tidak langsung melalui media perantara (diperoleh atau dicatat pihak lain). Sumber data sekunder pada penelitian ini adalah kajian pustaka yang berhubungan dengan pengaruh sales promotion dan interior display terhadap impulse buying.
Sumber data sekunder yang lain adalah data dari Badan Pusat Statistik (BPS) terkait jumlah perguruan tinggi, mahasiswa, dan tenaga edukatif (Negeri dan Swasta) di bawah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan menurut provinsi pada tahun ajaran 2014-2015, data jumlah mahasiswa perantauan dari luar daerah di Yogyakarta tahun 2013 dari Nasional Kompas, dan data jumlah dan potensi ekonomi mahasiswa di Yogyakarta 2015 dari Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), serta fenomena kos-kosan di Yogyakrta dari blog Jogja Kekinian.
H. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, data primer dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner. Echdar (2017:298) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan kuesioner adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis yang diberikan kepada responden untuk dijawabnya. Data sekunder yang digunakan penulis dalam penelitian ini diperoleh dari pencarian pustaka antara lain melalui browsing internet, jurnal, dan sumber buku lainnya.
I. TEKNIK PENGUJIAN INSTRUMEN
Pengujian kuesioner ini dilakukan dengan cara:
1. Uji Validitas
Validitas merupakan pengukuran yang menunjukkan seberapa nyata suatu pengujian pengukuran yang seharusnya diukur, Echdar (2017:310). Dengan demikian, validitas berhubungan dengan ketepatan alat ukur untuk melakukan tugasnya mencapai sasarannya. Suatu instrumen adalah tepat untuk digunakan sebagai ukuran suatu konsep jika memiliki tingkat validitas yang tinggi.
Sebaliknya, validitas rendah mencerminkan bahwa instrumen kurang tepat untuk diterapkan, Suharso (2009:108).
Echdar (2017:322) mengemukakan bahwa uji validitas dihitung dengan membandingkan nilai r hitung dengan nilai r tabel.Jika r hitung > r tabel dan hasilnya positif maka pertanyaan atau pernyataan tersebut dinyatakan valid.
Validitas dapat diukur dengan menggunakan rumus product moment dari Karl Pearson menurut Echdar (2017:322) sebagai berikut:
r
xy=
∑ ∑ ∑√[ ∑ ∑ ][ ∑ ∑ ]
Keterangan:
Rxy: koefisien korelasi r hitung N: jumlah responden atau sampel X: nilai rata-rata variabel
Y: nilai total variabel
2. Uji Reliabilitas
Apabila instrumen penelitian dinyatakan valid, selanjutnya reliabilitas diuji. Suharso (2009:106) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan reliabilitas (keandalan) adalah hasil pengukuran dari suatu instrumen yang tidak mengandung bias atau bebas dari kesalahan pengukuran (error free), sehingga menjamin pengukuran yang konsisten dan stabil (tidak berubah) dalam kurun waktu dan berbagai item atau titik (point) dalam instrumen. Ecdhar (2017:310) mengemukakan bahwa reliabilitas menunjukkan akurasi dan ketepatan dari pengukurannya. Suatu pengukur dikatakan reliable (dapat diandalkan) jika dapat dipercaya, supaya dapat dipercaya maka hasil dari pengukuran harus akurat dan konsisten. Dikatakan konsisten jika beberapa pengukuran terhadap subjek yang sama diperoleh hasil yang tidak berbeda.
Instrumen penelitian dikatakan reliable jika koefisien reliabilitas (r11) ≥ 0,7. Uji reliabilitas yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan rumus Cronboach Alpha menurut Echdar (2017:312) sebagai berikut:
r
11= [
] [
∑]
Keterangan:
r
11 : Realibitas instrumenn : Jumlah item pertanyaan yang diuji
∑ : Jumlah varian skor tiap-tiap item
: Varians total Echdar (2017:312) mengemukakan bahwa:
- Jika nilai alpha > 0,7 artinya reliabilitas mencukupi (sufficient reliability) - Jika nilai alpha > 0,8 artinya seluruh item reliable dan seluruh tes secara
konsisten memiliki reliabilitas yang kuat.
J. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Uji Asumsi Klasik
Sebagai prasyarat untuk dapat menggunakan analisis regresi linier berganda, uji asumsi klasik harus dipenuhi sehingga regresi yang dihasilkan akan valid jika digunakan untuk memprediksi suatu masalah. Uji asumsi klasik yang
digunakan dalam penelitian ini adalah uji normalitas, uji multikolinieritas, dan uji heteroskedastisitas.
a. Uji Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui normal atau tidaknya distribusi data. Metode yang digunakan peneliti untuk mengetahui normalitas adalah one sample Kolmogorov-smirnov dengan pedoman pengambilan keputusan sebagai berikut:
1) Angka signifikansi (sig) > alpha = 0,05 maka data berdistribusi normal.
2) Angka signifikansi (sig) < alpha = 0,05 maka data tidak berdistribusi normal b. Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya penyimpangan asumsi klasik multikolinearitas, yaitu adanya hubungan linear antarvariabel independen dalam model regresi, Permatasari (2016: 48). Untuk mengetahui ada atau tidaknya multikolinearitas maka dapat dilihat dari nilai Tolerance dan nilai Varians Inflation Factor (VIF).
Multikolinearitas dilihat dari nilai tolerance, jika nilai tolerance ≥ 0,1 maka tingkat kolinearitas dapat ditoleransi, sebaliknya jika nilai tolerance < 0,1 maka tingkat kolinearitas tidak dapat ditoleransi. Multikolinearitas juga dapat dilihat dari nilai VIF ≤ 10 maka tingkat kolinearitas dapat ditoleransi, sebaliknya jika nilai VIF > 10 maka tingkat kolinearitas tidak dapat ditoleransi.
c. Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya penyimpangan dari syarat-syarat asumsi klasik pada model regresi. Yaitu adanya
ketidaksamaan varian dari residual untuk semua pengamatan pada model regresi, Permatasari (2016:48). Model regresi yang baik adalah yang terjadi homoskedastisitas dalam model, atau dengan kata lain tidak terjadi heteroskedatisitas.
Cara yang digunakan penulis untuk mendeteksi heteroskedatisitas adalah menggunakan uji Glejser untuk mengetahui ada tidaknya penyimpangan dari data yang diperoleh. Dasar pengambilan keputusan dalam uji Glejser adalah:
1) Jika nilai sig ≥ 0,005 maka tidak terjadi heteroskedatisitas.
2) Jika nilai sig < 0,005 maka terjadi heteroskedatisitas.
2. Analisis Statistik Deskriptif
Analisis data deskriptif adalah analisis yang berfungsi untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap obyek yang diteliti melalui data sampel atau populasi sebagaimana adanya, tanpa melakukan analisis dan membuat kesimpulan yang berlaku umum. Teknik analisis deskriptif dibagi menjadi dua tahap yaitu:
a. Deskripsi Responden
Deskriptif responden berisi tentang perhitungan yang menjadi klasifikasi kuesioner secara umum seperti usia, jenis kelamin, uang saku, dan status kerja.
Deskripsi responden dilakukan dalam frekuensi (%).
b. Deskripsi Variabel
Deskripsi variabel digunakan untuk mendapatkan gambaran variabel melalui rata-rata (mean). Dengan prosedur sebagai berikut:
1) Menghitung nilai mean untuk setiap variabel/obyek/item.
2) Membuat kategori nilai mean dengan pangkategorian skor yang telat dibuat.
Dalam mengkategorikan masing-masing variabel, langkah yang digunakan adalah dengan menggunakan interval kelas sesuai rumus Sturges, Saputra (2018:56) :
Keterangan:
C1 = interval
Range = selisih antara batas atas dengan atas bawah K = banyaknya kelas
Maka interval kelasnya:
Dengan interval sebesar 0,75 maka garis skala sales promotion dapat digambarkan sebagai berikut:
Tabel III.2
Skala Data Sales Promotion
Skala Data Kelas Keterangan 4 3,26 – 4,00 Sangat Menarik
3 2,51 – 3,25 Menarik
2 1,76 – 2,50 Tidak Menarik 1 1,00 – 1,75 Sangat Tidak Menarik
Sementara itu dengan rentang skala yang sama sebesar 0,75 maka interior display dikelompokkan sebagai berikut:
Tabel III.3
Skala Data Interior Display
Skala Data Kelas Keterangan 4 3,26 – 4,00 Sangat Menarik
3 2,51 – 3,25 Menarik
2 1,76 – 2,50 Tidak Menarik 1 1,00 – 1,75 Sangat Tidak Menarik
Sementara itu dengan rentang skala yang sama sebesar 0,75 maka skor impulse buying dikelompokkan sebagai berikut:
Tabel III.4
Skala Data Impulse Buying
Skala Data Kelas Keterangan 4 3,26 – 4,00 Sangat Tinggi
3 2,51 – 3,25 Tinggi
2 1,76 – 2,50 Rendah
1 1,00 – 1,75 Sangat Rendah
3. Analisis Regresi Linear Berganda
Analisis regresi linear berganda merupakan pengambangan dari regresi linear sederhana, yaitu sama-sama alat yang dapat digunakan untuk melakukan prediksi permintaan di masa yang akan datang, berdasarkan data masa lalu untuk mengetahui pengaruh satu atau lebih variabel bebas terhadap satu variabel tak bebas. Perbedaan penerapan metode ini hanya terletak pada jumlah variabel bebas yang digunakan. Dalam penelitian ini penerapan metode regresi linear berganda untuk menguji pengaruh sales promotion (X1), interior display (X2) yang merupakan variabel independen dan impulse buying (Y) yang merupakan variabel
dependen. Siregar 2014 (dalam Wahyudi 2017:31) mengemukakan bahwa dalam mencari persamaan regresi linear berganda digunakan rumus:
Keterangan:
Y = Buying Impulse X1 = Sales Promotion X2 = Interior Display a = Nilai konstanta b1, b2 = Koefisien Regresi e = error
4. Uji F
Uji F digunakan untuk menguji ada tidaknya pengaruh signifikan variabel independen (X1 & X2) secara simultan atau bersama-sama terhadap variabel dependen. Signifikan berarti hubungan yang terjadi dapat berlaku untuk populasi.
Pengujian ini dilakukan dengan langkah sebagai berikut:
a. Menentukan Hipotesis
H0 = Sales promotion dan interior display secara bersama-sama tidak memiliki pengaruh secara simultan terhadap impulse buying di Adele Accessories.
Y = a + b1X1 + b2X2 + e
Ha = Sales promotion dan interior display secara bersama-sama memiliki pengaruh secara simultan terhadap impulse buying di Adele Accessories.
b. Menentukan Taraf Signifikansi
Dalam penelitian ini dilakukan dengan taraf signifikansi α = 5%
(signifikansi 5% atau 0,05). Dasar pengambilan keputusan untuk uji F (simultan), sebagai berikut:
1) Jika F hitung > F tabel, maka H0 ditolak dan Ha diterima. Artinya kedua variabel bebas secara simultan mempunyai pengaruh signifikan terhadap variabel terikat. Jika F hitung ≤ F tabel, maka H0 diterima dan Ha ditolak.
Artinya kedua variabel bebas secara simultan tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap variabel terikat.
2) Bila menggunakan nilai probabilitas sig, maka kriteria pengujian sebagai berikut:
H0 ditolak dan Ha diterima, jika nilai probabilitas sig ≤ α H0 diterima dan Ha ditolak, jika nilai probabilitas sig > α c. Kriteria Pengujian
1) Jika H0 diterima, maka dapat disimpulkan bahwa Sales Promotion dan Interior Display secara simultan tidak berpengaruh terhadap Impulse Buying.
2) Jika Ha diterima, maka dapat disimpulkan bahwa Sales Promotion dan Interior Display secara simultan berpengaruh terhadap Impulse Buying.
5. Uji T
Uji T digunakan untuk mengetahui apakah dalam model regresi variabel independen (X1 & X2) Secara parsial berpengaruh signifikan terhadap variabel
dependen. Ghozali 2006 (dalam Saputra 2018:43) mengemukakan bahwa uji statistik T pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara individual dalam menerangkan variabel dependen.
Pengujian ini dilakukan dengan langkah sebagai berikut:
a. Menentukan Hipotesis
H0 = Sales Promotion tidak berpengaruh terhadap Impulse Buying di Adele Accessories
H0 = Sales Promotion tidak berpengaruh terhadap Impulse Buying di Adele Accessories