BAB I PENDAHULUAN
E. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi:
1. Perusahaan yang diteliti
Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi bagi manajer perusahaan dalam menentukan strategi pemasaran dan mengambil
keputusan-keputusan yang dapat memengaruhi konsumen di Adele Accessories agar melakukan pembelian tak terencana atau impulse buying. Penelitian ini juga bertujuan untuk memberikan masukan bagi perusahaan terkait faktor mana yang paling dominan dalam memengaruhi pembelian impulse konsumen.
2. Pihak Lain
Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan tambahan pemahaman terkait dengan gambaran pengaruh sales promotion dan interior display terhadap impulse buying. Hal ini diharapkan dapat menjadi masukan yang berguna bagi pelaku bisnis, khususnya para pemilik toko sehingga dapat memaksimalkan strategi pemasarannya terkait sales promotion dan interior display.
3. Peneliti
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pemahaman peneliti tentang pengaruh sales promotion dan interior display terhadap impulse buying. Penelitian ini juga dapat memberikan kesempatan bagi peneliti untuk mengimplementasikan teori-teori yang telah didapatkan selama perkuliahan dan dapat membandingkannya dengan kondisi di dunia nyata.
4. Universitas Sanata Dharma
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah koleksi bacaan mengenai pengaruh strategi pemasaran sales promotion dan interior display terhadap impulse buying bagi dosen dan terlebih khusus bagi mahasiswa-mahasiswi yang ingin menjadikan hasil penelitian ini sebagai salah satu acuan dalam penulisan skripsi.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Landasan Teori 1. Marketing Mix
Para pelaku bisnis perlu menggunakan strategi khusus dalam melakukan proses pemasaran produknya. Salah satu marketing tools adalah bauran pemasaran atau yang biasa disebut marketing mix. Marketing mix adalah alat pemasaran yang sangat penting yang mampu membantu pebisnis untuk memahami apa yang dapat diberikan oleh barang atau service dan bagaimana menyusun aktivitas serta strategi pemasaran produk yang sukses. Kombinasi dari empat elemen ini kemudian diterapkan dalam pemasaran dan dikenal sebagai “bauran pemasaran 4P”, yaitu Product, Price, Place, and Promotion.
Promosi merupakan salah satu elemen penting dari bauran pemasaran (marketing mix). Meskipun promosi merupakan strategi yang sudah lama namun sampai saat ini promosi masih sangat relevan digunakan sebagai salah satu strategi pemasaran yang baik.
Simamora 2000 (dalam Tjantoko & Japarianto 2015:3) menguraikan bahwa yang dimaksud dengan promosi adalah usaha perusahaan untuk memengaruhi calon pembeli melalui pemakaian segala unsur atau bauran pemasaran. Definisi di atas menunjukkan bahwa promosi harus mampu membuat konsumen tertarik dan mau membeli produk tersebut. Semua alat promosi harus bekerja sama untuk mencapai sasaran komunikasi perusahaan. Perusahaan harus selalu mencari cara untuk bisa mencapai tujuan perusahaan dengan menerapkan
12
berbagai alat promosi. Dengan kata lain, suatu perusahaan ingin mencapai tingkat penjualan tertentu dengan beragam bauran promosi.
Chris Fill 2005 (dalam Tjantoko & Japarianto 2015:3) menguraikan bahwa bauran promosi (promotion mix) terdiri dari enam variabel yaitu: advertising, sales promotion, personal selling, public relation, sponsorship, dan direct marketing. Dalam penjelasan selanjutnya, peneliti hanya akan mendalami variabel sales promotion karena relevan dengan Adele Accessories.
2. Sales Promotion
Sales promotion merupakan salah satu dari enam variabel dalam bauran promosi. Pada sub bab ini peneliti akan memaparkan beberapa hal yang berkaitan dengan sales promotion, di antaranya pengertian, indikator alat-alat, tujuan, manfaat, dan karakteristik sales promotion.
a. Pengertian Sales Promotion
Kotler (2005:298) mengemukakan bahwa sales promotion adalah berbagai kumpulan alat-alat insentif, yang sebagian besar berjangka pendek, yang dirancang untuk merangsang pembelian produk dan jasa tertentu dengan lebih cepat dan lebih besar oleh konsumen atau pedagang. Kotler (2016:518) juga mengemukakan bahwa “whereas advertising offers reasons to buy a product or service, sales promotion offers reasons to buy now”. Artinya, ketika iklan menawarkan alasan untuk membeli produk atau jasa, promosi penjualan (sales promotion) menawarkan alasan untuk membeli sekarang. Kotler dan Armstrong
(2008:204) mengemukakan bahwa sales promotion terdiri dari insentif jangka pendek untuk mendorong pembelian atau penjualan sebuah produk atau jasa.
Utami (2008:115) mengemukakan bahwa promosi penjualan (sales promotion) adalah program promosi ritel dalam rangka mendorong terjadinya penjualan atau untuk meningkatkan penjualan. Secara umum, promosi penjualan dijalankan oleh ritel dengan beberapa tujuan, yakni mempertahankan minat pelanggan untuk tetap berbelanja pada ritel tersebut, mengenalkan suatu produk baru atau gerai baru, menyaingi program para pesaing yang mengadakan program sales promotion, memancing konsumen potensial yang belum pernah berbelanja pada ritel tersebut, memanfaatkan musim atau trend atau kecenderungan pola perilaku belanja pelanggan (misalnya pada masa persiapan awal tahun ajaran baru), dan merangsang minat pelanggan untuk beralih merek.
Menurut Ma’ruf 2005 (dalam Kwan, 2016: 28), yang dimaksud dengan sales promotion adalah program promosi peritel dalam rangka mendorong terjadinya penjualan atau untuk meningkatkan penjualan atau dalam rangka mempertahankan minat pelanggan untuk tetap berbelanja padanya. Dari definisi-definisi di atas, peneliti menarik sebuah kesimpulan bahwa sales promotion adalah sejumlah alat insentif yang berjangka pendek yang digunakan untuk mendorong dan menawarkan alasan untuk melakukan pembelian atau penjualan suatu barang atau jasa.
b. Indikator Sales Promotion
1) Ketersediaan produk yang akan dicoba atau dirasakan oleh pengunjung di toko 2) Pengujicobaan dapat dilakukan berulang kali
3) Memberikan potongan harga untuk produk di toko
4) Memberikan potongan harga produk pada event-event tertentu 5) Penghematan harga diberikan karena telah memenuhi syarat
c. Alat-alat Sales Promotion
Berdasarkan teori Kotler (2005:301), sales promotion sendiri terdiri dari tiga belas alat. Pada penelitian ini peneliti hanya akan menggunakan sampel dan paket harga (diskon) sehingga kedua hal ini dibahas secara lebih mendalam, sedangkan alat-alat yang lain hanya akan dibahas secara singkat.
1) Sampel
Sampel adalah sejumlah kecil produk yang ditawarkan kepada konsumen untuk dicoba. Kotler (2001:869) menguraikan bahwa sampel adalah tawaran gratis untuk sejumlah produk atau jasa. Sampel itu dapat dikirim dari pintu ke pintu, dikirim lewat pos, diambil di toko, disertakan pada produk lain, atau ditonjolkan dalam suatu penawaran iklan. Pemberian sampel adalah cara yang paling efektif. Kotler & Armstrong (2008:206) melanjutkan bahwa sampel adalah penawaran untuk mencoba produk. Dan menurut Utami (2008:116), sampel (contoh produk) adalah contoh produk yang diberikan secara cuma-cuma yang tujuannya adalah memberikan gambaran, baik menyangkut manfaat maupun rupa produk yang dipromosikan.
Dari definisi-definisi di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa sampel adalah sejumlah produk yang ditawarkan secara cuma-cuma agar konsumen dapat mengetahui dan merasakan secara langsung rupa dan manfaat dari produk tersebut. Kotler (2005:299) menguraikan bahwa tujuan dari sampel adalah merangsang konsumen untuk mencoba produk tersebut.
Sampel digunakan pelaku usaha untuk menarik konsumen lama maupun konsumen baru agar langsung merasakan dan mencocokkan antara keinginan dan kebutuhannya dengan produk yang ditawarkan secara gratis tersebut sebelum memutuskan untuk membelinya. Bagi konsumen baru yang belum pernah menggunakan produk tersebut dan kemudian diberi kesempatan untuk mencoba secara gratis, tentu saja kesempatan ini akan menguntungkan konsumen tersebut.
Ia dapat mengetahui apakah produk tersebut sesuai dengan keingiannya atau tidak.
Ketika ia merasakan bahwa produk tersebut sangat cocok dan bagus, maka ia kemungkinan besar akan membeli produk tersebut.
2) Kupon
Kupon adalah sertifikat yang memberi pembeli potongan harga untuk pembelian produk tertentu.
3) Tawaran Pengembalian Uang (Rabat)
Tawaran pengambilan uang (rabat) adalah tawaran untuk mengembalikan sebagian uang pembelian suatu produk kepada konsumen yang mengirimkan
“bukti pembelian” ke perusahaan manufaktur.
4) Paket Harga (Transaksi Potongan Harga/Diskon)
Kotler (2001:869) mengemukakan bahwa paket harga (disebut juga transaksi potongan sen) adalah tawaran bagi konsumen untuk menghemat harga biasa dari suatu produk, yang tertera pada label atau kemasan. Dan menurut Assauri (dalam Mariana 2009:49), diskon adalah potongan harga yang ada, di mana pengurangan tersebut dapat berbentuk tunai atau berupa potongan yang lain.
Sigit (dalam Mariana 2009: 49) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan diskon adalah pengurangan terhadap harga yang ditetapkan karena pembeli telah memenuhi syarat yang ditetapkan. Dari definisi-definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa paket harga (transaksi potongan harga/diskon) adalah penghematan harga yang diberikan oleh penjual kepada pembeli dari harga biasa produk tersebut, pada kondisi dan waktu tertentu, di mana penghematan tersebut dapat berupa tunai atau pengurangan yang lain.
a) Tujuan Paket Harga/Diskon
Tujuan diadakannya diskon menurut Nitisemito (dalam Isnaini 2005, dalam Prihastama 2016: 21) adalah:
(1) Mendorong pembeli untuk membeli dalam jumlah yang besar sehingga volume penjualan diharapkan naik. Pemberian potongan harga akan berdampak terhadap konsumen, terutama dalam hal pembelian konsumen yang akan berdampak pada kenaikan volume penjualan.
(2) Pembeli lebih berfokus pada penjual tersebut. Hal ini dapat menambah dan mempertahankan jumlah pelanggan pada penjual tersebut.
(3) Menjadi sales service yang dapat menarik terjadi transaksi pembelian.
b) Bentuk-bentuk diskon
Kotler 2005 (dalam Prihastama 2016: 21) menguraikan beberapa bentuk diskon, yaitu:
(1) Diskon Tunai
Diskon tunai adalah pengurangan harga untuk pembeli yang segera membayar tagihannya atau membayar tagihan tepat waktu. Contohnya 2/15 net 30.
Artinya pembayaran akan jatuh tempo dalam tiga puluh hari, akan tetapi pembeli dapat mengurangi pembayaran 2% ketika melakukan pelunasan dalam lima belas hari.
(2) Diskon Kuantitas (Quantity Discount)
Diskon kuantitas adalah pengurangan harga bagi pembeli yang melakukan pembelian dalam jumlah besar. Contohnya Rp 10.000 per unit, untuk pembelian seratus unit menjadi Rp 8.500 per unit.
(3) Diskon Fungsional (Functional Discount)
Diskon fungsional atau disebut diskon perdagangan (trade discount) merupakan diskon yang ditawarkan oleh produsen pada para anggota saluran perdagangan, jika mereka melakukan fungsi-fungsi tertentu seperti menjual, menyimpan, dan melakukan pencatatan. Produsen dapat memberikan diskon kepada saluran perdagangan berbeda-beda sesuai dengan fungsi yang dilakukan.
(4) Diskon Musiman (Seasonal Discount)
Diskon musiman merupakan pengurangan harga untuk pembeli yang melakukan pembelian produk atau jasa di luar musimnya. Hal ini bertujuan
agar penjual mampu mempertahankan produksi yang lebih stabil selama setahun dan untuk mendorong dilakukannya pemesanan lebih awal.
Contohnya, pemesanan tiket pesawat dan hotel lebih awal sebelum musim liburan akhir tahun.
(5) Potongan (Allowance)
Pada umumnya, ada beberapa jenis potongan. Pertama, potongan tukar tambah, yakni pengurangan harga yang diberikan untuk menyerahkan barang lama untuk membeli barang baru. Kedua, yaitu potongan promosi, yakni pengurangan pembayaran untuk memberi imbalan pada penyalur karena telah ikut berperan serta dalam program pendukung penjualan.
5) Premium (hadiah pemberian)
Premium (hadiah pemberian) adalah barang yang ditawarkan secara cuma-cuma atau dengan harga sangat miring sebagai insentif untuk membeli suatu produk.
6) Program Frekuensi
Program frekuensi adalah program yang memberikan imbalan terkait dengan frekuensi dan intensif konsumen membeli produk atau jasa perusahaan tersebut.
7) Kontes, Undian, dan Permainan
Kontes, undian, dan permainan adalah kegiatan promosi yang memberikan konsumen peluang untuk memenangkan sesuatu seperti uang tunai, perjalanan atau barang entah dengan keberuntungan atau dengan usaha ekstra.
8) Imbalan Berlangganan
Imbalan berlangganan adalah uang tunai atau hadiah lain yang ditawarkan bagi penggunaan suatu produk atau jasa perusahaan.
9) Pengujian Gratis
Pengujian gratis adalah mengundang calon pembeli untuk menguji coba produk tanpa biaya dengan harapan mereka akan membeli produk tersebut.
10) Garansi Produk
Garansi produk adalah janji eksplisit atau implisit penjual bahwa produk tersebut akan bekerja sebagaimana telah ditentukan.
11) Promosi Bersama
Promosi bersama adalah dua atau lebih merk perusahaan bekerjasama dengan kupon, pengembalian uang, dan kontes untuk meningkatkan daya tarik.
12) Promosi Silang
Promosi silang adalah penggunaan suatu merk untuk mengiklankan merk lain yang tidak bersaing.
13) Point of Purchase
Point of purchase adalah display atau peragaan yang berlangsung di tempat pembayaran atau penjualan.
Pada penelitian ini penulis memilih sampel dan paket harga (diskon) untuk diteliti lebih lanjut. Sampel dan paket harga (diskon) dipilih karena menurut peneliti, kedua hal ini merupakan alat sales promotion yang digunakan pada objek penelitian (Adele Accessories) yang merupakan bisnis berskala kecil. Sedangkan
alat sales promotion yang lainnya tidak digunakan oleh penulis karena alat-alat tersebut lebih cocok untuk bisnis skala besar.
d. Tujuan Sales Promotion
Kotler & Arsmstrong (2008:205) menguraikan bahwa tujuan-tujuan promosi penjualan diperoleh dari tujuan promosi secara lebih luas, yang diperoleh dari tujuan pemasaran yang lebih mendasar yang dikembangkan untuk produk tersebut.
Bagi konsumen, tujuannya meliputi upaya mendorong pembelian unit-unit yang berukuran lebih besar, menciptakan pengertian produk di antara non-pemakai, dan menarik orang yang beralih merek dari pesaing. Bagi pengecer, tujuannya meliputi upaya membujuk pengecer menjual jenis produk baru dan mempunyai tingkat persediaan yang lebih tinggi, mendorong pembelian di luar musim, mendorong penyediaan produk-produk terkait, mengimbangi promosi pesaing, membangun kesetiaan merek, dan memperoleh pintu masuk ke gerai-gerai eceran baru.
Bagi tenaga penjualan, tujuannya meliputi upaya mendorong dukungan terhadap produk atau model baru, mendorong pencarian calon pelanggan yang lebih banyak, dan merangsang penjualan di luar musim. Alma (2011:188) menguraikan bahwa tujuan sales promotion adalah sebagai berikut:
1) Menarik perhatian para pembeli baru.
2) Memberi hadiah atau penghargaan kepada konsumen atau pelanggan lama.
3) Meningkatkan daya pembelian ulang dari konsumen lama.
4) Menghindarkan konsumen dari peralihan ke merek lain.
5) Mempopulerkan merek atau meningkatkan loyalitas.
6) Meningkatkan volume penjualan jangka pendek dalam rangka memperluas market share jangka panjang.
e. Manfaat Sales Promotion
Kotler & Armstrong (2002:644) menguraikan bahwa semua jenis alat sales promotion memberikan tiga manfaat yang berbeda, yaitu:
1) Komunikasi, artinya promosi penjualan dapat menarik perhatian dan terkadang dapat memberikan informasi yang dapat mengarahkan konsumen pada produk tersebut.
2) Insentif, artinya promosi penjualan menggabungkan sejumlah kebebasan, dorongan, atau kontribusi yang memberi nilai bagi pelanggan.
3) Ajakan, artinya promosi penjualan dapat mengajak pembeli untuk melakukan transaksi pembelian sekarang.
f. Karakteristik Sales Promotion
Alat-alat sales promotion memiliki ciri-ciri tertentu yang berguna untuk menarik minat beli konsumen dan sampai pada tindakan pembelian produk dan jasa yang ditawarkan. Kotler & Keller (2009:190) menguraikan bahwa setiap alat-alat sales promotion memiliki ciri sebagai berikut:
1) Komunikasi
Hal ini berarti bahwa promosi penjualan meraih perhatian dan dapat mengarahkan konsumen kepada produk.
2) Insentif
Ciri ini berarti promosi penjualan mencakup beberapa konsesi, pendorong, atau kontribusi yang memberikan nilai bagi konsumen.
3) Undangan
Promosi penjualan mencakup undangan berbeda untuk melibatkan diri dalam transaksi sekarang. Maksudnya promosi penjualan merupakan ajakan untuk melakukan transaksi pembelian sekarang.
3. Interior Display dalam Store Atmosphere
Dalam menjalankan bisnis, pebisnis perlu menggunakan strategi agar mampu bersaing dengan pesaing bisnis yang lain, khususnya dalam bisnis ritel yang persaingannya semakin kompleks karena pertumbuhan bisnis ritel yang semakin besar. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) mengklaim pertumbuhan industri ritel pada semester I 2018 sebesar 7-7,5%. Angka ini lebih besar dibandingkan pertumbuhan tahun lalu yang hanya sebesar 5%
(https://www.cnbcindonesia.com/news/20180622163406-4-20125/pengusaha-industri-ritel-semester-i-2018-tumbuh-7-75). Dalam menjalankan bisnis ritel ada beberapa variabel yang dapat memuaskan dan memengaruhi keputusan pembelian konsumen. Ma’ruf 2005 (dalam Fadly 2014: 175) menguraikan bahwa bauran
retail atau retailing mix terdiri dari: lokasi, produk, harga, promosi, suasana toko (store atmosphere), dan pelayanan.
Pada umumnya, konsumen yang mengunjungi suatu toko akan lebih menyukai suasana toko yang ketersediaan barangnya lengkap, rapi, dan up to date, serta suasana toko yang menarik. Keadaan-keadaan semacam ini akan membuat konsumen merasa nyaman dalam melihat barang yang ada di toko sehingga memungkinkan konsumen untuk membeli barang-barang lain di luar yang direncanakan, apalagi jika sedang ada diskon.
Kotler & Keller 2007 (dalam Cahyani 2014:20) mengemukakan bahwa store atmosphere adalah unsur senjata lain yang dimiliki toko. Toko harus membentuk suasana terencana yang sesuai dengan pasar sasarannya dan yang tepat menarik konsumen untuk membeli. Berman & Evans 2010 (dalam Cahyani 2014: 22) mengemukakan bahwa terdapat empat elemen store atmosphere yang berpengaruh terhadap suasana toko yang ingin diciptakan, yaitu store exterior, general interior, store layout, dan interior display. Pada pembahasan di bawah ini, peneliti hanya akan membahas elemen interior display karena relevan dengan objek penelitian (Adele Accessories). Interior display merupakan salah satu dari empat elemen dalam store atmosphere. Pada sub bab ini peneliti akan memaparkan beberapa hal yang berkaitan dengan interior display, di antaranya pengertian dan jenis-jenisnya.
a. Pengertian Interior Display
Cahyani (2014: 30) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan interior display adalah tanda-tanda yang digunakan untuk memberikan informasi kepada
konsumen untuk mempengaruhi suasana lingkungan toko (store atmosphere).
Adapun tujuan utama dari interior display adalah untuk meningkatkan penjualan dan laba toko tersebut. Alma 2008 (dalam Putra & Djatmiko 2015:1511) mengemukakan bahwa interior display adalah memajang barang-barang, gambar-gambar, kartu harga, atau poster di dalam toko, misalnya di lantai meja, rak, dan sebagainya.
Menurut Turley & Milliman 2000 (dalam Andreani, Kristanti, dan Yapola 2013:66) mengemukakan bahwa interior display yang baik secara signifikan dapat memiliki efek pada pelanggan untuk melakukan pembelian. Hal ini dapat terjadi baik ketika kualitas produk setara dengan pesaing. Bahkan ketika kualitas produk tidak setara dengan pesaing, interior display yang baik dan lengkap juga dapat memengaruhi pelanggan.
Ma’ruf 2006 (dalam Andreani et al 2013:66) mengemukakan bahwa keinginan untuk melakukan pembelian dapat diciptakan melalui interior display yang menarik. Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa interior display adalah tanda dan informasi yang berada di dalam toko dan dipajang dengan tujuan memberikan informasi kepada konsumen dan menambah keindahan store atmosphere di toko untuk menaikkan tingkat penjualan.
b. Indikator Interior Display 1) Kesediaan varian produk 2) Produk dipajang secara terbuka
3) Memberikan kesempatan untuk digunakan atau dicoba
4) Menggunakan hiasan dinding yang tepat
5) Warna tembok yang cocok dengan kondisi toko
6) Menggunakan properti pendukung yang tepat dalam memberikan informasi di toko
c. Jenis-jenis Interior Display
Menurut Alma 2008 (dalam Putra & Djatmiko 2015: 1511), terdapat tiga macam display yaitu window display, interior display, dan dealer display:
1) Window Display
Window Display berarti memajang barang-barang, gambar-gambar, kartu-kartu harga, simbol, dan sebagainya di bagian depan toko yang disebut etalase.
2) Interior Display
Interior display artinya memajang barang-barang, gambar-gambar, kartu harga, atau poster di dalam toko misalnya di lantai meja, rak, dan sebagainya. Interior display ini terdiri dari dua macam, yaitu merchandise display dan store sign and decoration:
a) Merchandise Display
Merchandise display merupakan barang-barang dagangan yang dipajang di dalam toko dengan bentuk pemajangan. Jenis ini terdiri dari open display, architectural display, dan close display:
(1) Open Display
Open Display berarti barang-barang dipajang pada suatu tempat terbuka sehingga barang dapat dihampiri dan dipegang, dilihat dan diteliti oleh calon pembeli tanpa bantuan dari petugas penjualnya.
(2) Architectural Display
Architectural Display berarti memperlihatkan barang-barang dalam penggunaannya, misalnya kursi di ruang tamu, meubel di kamar tidur, dapur dengan perlengkapannya, dan sebagainya.
Cara ini dapat memperbesar daya tarik karena barang dipertunjukkan secara realistis.
(3) Close Display
Close Display artinya memajang barang pada suatu tempat yang tertutup. Barang tersebut tidak dihampiri, dipegang, atau diteliti oleh calon pembeli kecuali atas bantuan petugas.
b) Store Sign and Decoration
Store sign and decoration yaitu simbol-simbol, tanda-tanda, poster-poster bendera, semboyan, dan sebagainya yang disimpan di atas meja atau digantung dalam toko. Store design tersebut digunakan untuk membimbing calon pembeli ke arah barang dagangan dan memberikan keterangan kepada mereka tentang kegunaan barang-barang tersebut.
Decoration pada umumnya digunakan dalam rangka peristiwa khusus seperti penjualan pada saat hari raya, tahun baru, dan sebagainya.
3) Dealer Display
Dealer display dilaksanakan oleh wholesaler dan terdiri dari simbol petunjuk-petunjuk tentang penggunaan produk yang semuanya berasal dari produsen. Abzalita (2014:8) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan dealer display adalah penataan yang dilaksanakan dengan cara wholesaler yang terdiri atas simbol-simbol dan petunjuk-petunjuk produk.
Dengan memperlihatkan penggunaan dalam gambar dan petunjuk, maka display ini juga memberi peringatan kepada para petugas penjualan agar mereka tidak memberikan keterangan yang tidak sesuai dengan petunjuk yang ada dalam gambar tersebut.
Berman & Evans (dalam Fuad, dalam Cahyani 2014: 30) menguraikan bahwa yang termasuk dalam interior display adalah:
1) Assortment Display
Pengecer menyajikan barang-barang dagangan secara campuran atau berbagai varian barang untuk pelanggan, dan secara terbuka memberikan kesempatan pada pelanggan untuk merasakan dan mencoba beberapa produk.
2) Theme Setting Display
Display ini menyesuaikan dengan lingkungan/musim atau hari-hari besar.
Pengecer mendesain dekorasi sesuai dengan tema teretentu, misalnya tema Natal, Hari Kemerdekaan, Lebaran, dan lain-lain.
3) Ensemble Display
Display ini dilakukan dengan mengelompokkan dan menampilkan barang dagangan di kategori terpisah, misalnya bagian accessories, bagian tas, bagian sepatu, dan seterusnya.
4) Rack Display
Rak merupakan alat yang digunakan untuk memajang dan meletakkan barang dagangan secara rapi. Rak ini biasanya digunakan oleh penjual pakaian, sepatu, perlengkapan rumah tangga, dan sebagainya.
5) Case Display
Case digunakan untuk memajang barang yang lebih berat atau besar daripada
Case digunakan untuk memajang barang yang lebih berat atau besar daripada