BAB TIGA ISLAM SEBAGAI IDEOLOGI NEGARA:
SISTEM PERADILAN KERAJAAN ACEH 1. Kekuasaan Kehakiman
3. Hukum Pidana Islam (Jinayah)
Dalam sistem hukum peradilan yang berlaku di Kerajaan Aceh, dikenal dengan hukum pidana Islam (jinayah). Diantara hukum jinayah yang pernah dipraktekkan di Kerajaan Aceh adalah had zina. Had zina ini ada dua macam:
1. Perbuatan zina yang dilakukan oleh orang yang belum kawin (bikir), disebut ghairu muhshan, dikenakan had 100 kali jilid (pukul) dan diasingkan tempat tinggalnya selama satu tahun. 2. Perbuatan zina yang dilakukan oleh orang yang sudah kawin (muhshan), dikenakan had
rajam sampai mati. Dalam adat Aceh, hukuman rajam ini diganti dengan hukuman dibenamkan dalam sungai sampai mati yang dinamakan “boh trieng doe bak takue” (artinya dilehernya diikat bambu yang tidak kosong).111
Suatu peristiwa yang pernah terjadi di Banda Aceh pada masa pemerintahan Sultan Ibrahim Alaiddin Mansur Syah (1836-1870 M), diceritakan bahwa: seorang laki-laki berbuat zina dengan seorang perempuan di Banda Aceh sampai hamil. Karena takut ketahuan, perempuan tersebut kemudian bunuh diri dengan cara mengikat lehernya dengan tali ijuk yang terikat pada sebuah guci air hingga ia meninggal dunia. Perkara ini diketahui masyarakat, sehingga diperiksa oleh pihak berwajib. Laki-laki tersebut mengakui dengan terus terang segala perbuatannya itu. Akhirnya perkara ini diserahkan kepada pengadilan sultan (Mahkamah Agung) di Kraton
Daruddunia. Perkara ini diperiksa dengan teliti dan laki-laki itu tetap mengakui kebenaran peristiwa
tersebut. Lalu pengadilan memutuskan untuk menjatuhkan hukuman mati kepada laki-laki itu dengan dibenamkannya dalam Krueng Daroj (sungai Daroj) dan dilehernya diikat bambu yang tidak kosong. Sebelum hukuman itu dijalankan, laki-laki tersebut mengajukan permohonan grasi (ampun) kepada Sultan. Setelah dipertimbangkan dengan mendalam, permohonan grasi itu diterima oleh sultan, dengan syarat ia sanggup meloloskan diri dari tahanan. Maka kepadanya diberi kesempatan pada malam hari untuk dilepaskan dari tahanan dalam Kraton Daruddunia dengan cara melarikan diri tidak melalui pintu jaga, dan harus lari ke tempat pemeliharaan “sigeupoh”, yaitu suatu tempat penampungan orang-orang yang semestinya dibunuh, tetapi karena mendapat ampunan, maka mereka dididik di tempat ini sampai menjadi seorang rakyat yang baik. Tempat ini dipimpin oleh Teuku Keujruen Ujong Aron Lamnga, Sagoe 26 Mukim.
Menurut riwayat, pada suatu malam yang telah ditentukan, laki-laki tersebut dilepaskan dari tahanan dan disuruh melarikan diri ke tempat penampungan sigeupoh. Karena malam itu sangat gelap gulita, sehingga ia kesulitan menemukan lorong untuk melarikan diri. Semalaman ia mencoba terus mencari jalan keluar, tanpa melalui pintu jaga, tapi tetap tidak ditemukan jalan keluar. Sehingga ketika waktu shubuh (pagi hari), ia kembali ditangkap oleh penjaga dan
166 Islam Sebagai Ideologi Negara: Sistem Hukum Ketatanegaraan .... dihadapkan kepada sultan. Laki-laki itu menceritakan apa yang dialaminya pada malam hari itu, tetapi sultan memutuskan supaya ia dihukum mati sesuai dengan keputusan pengadilan.112
Dalam riwayat lain diceritakan bahwa Sultan Iskandar Muda di akhir pemerintahannya menghukum mati puteranya sendiri dari salah seorang isteri yang bukan permaisuri, yaitu putera tersayang yang bernama Meurah Peupoh, yang ternyata ia berzina dengan isteri orang lain. Perkara ini bermula salah seorang perwira muda waktu pulang ke rumah dari tempat latihan (Blang Peurade), didapati isterinya sedang berzina dengan Pangeran Meurah Peupoh. Ketika itu Pangeran Meurah Peupoh sempat melarikan diri, sedangkan perwira muda ini yang sedang kalap dalam amarahnya langsung menghunus pedangnya ke arah isterinya sampai mati. Kemudian ia bersama-sama dengan ayah isterinya (mertuanya) pergi ke istana untuk melapor kepada Sul-tan Iskandar Muda. Mendengar cerita itu, SulSul-tan Iskandar Muda segera memerintahkan Sri
Raja Panglima Wazir Mizan (menteri kehakiman) untuk melakukan penyelidikan dan pemeriksaan
kasus tersebut. Dalam waktu yang amat singkat, para pejabat kepolisian dan kehakiman selesai melakukan tugasnya, dan dinyatakan bahwa Pangeran Meurah Peupoh bersalah atas pengakuannya sendiri. Hasil pemeriksaan itu dilaporkan oleh wazir mizan kepada Sultan Iskandar Muda. Berdasarkan hasil laporan pemeriksaan dari wazir mizan itu, kemudian Sultan Iskandar Muda memutuskan untuk dilakukan hukuman mati (hukum bunuh) terhadap puteranya Pangeran
Meurah Peupoh di depan umum.113 Dalam riwayat ini tidak diceritakan bagaimana bentuk hukuman yang diterapkan kepada Pangeran Meurah Peupoh, apakah dirajam seperti ketentuan fiqh (hukum Islam), ataukah dibenam dalam sungai seperti yang dipraktekkan pada masa Sultan Ibrahim Alaiddin Mansur Syah.
Pengadilan Kerajaan Aceh juga pernah menghukum potong tangan dan kaki.114 Ini merupakan bentuk had terhadap pelaku sirqah (pencurian), yaitu jika seseorang mencuri untuk pertama kalinya maka dipotong tangan kanannya, dan jika ia mencuri untuk kedua kalinya maka dipotong kaki kirinya. Pencurian yang ketiga kalinya dipotong tangan kirinya, dan yang keempat kalinya dipotong kaki kanannya. Hukuman pencurian ini dijatuhkan oleh pengadilan Kerajaan Aceh, apabila memenuhi dua syarat, yaitu:
1. Barang yang dicuri itu tersimpan di tempat yang terpelihara.
2. Barang yang dicuri itu sampai nisab seharga sekurang-kurangnya seperempat dinar.115
Pemberlakuan hukuman potong tangan terhadap pencuri, sesuai dengan ketentuan Adat
Meukuta Alam, bagian pertama Pasal 35, yang menyatakan bahwa jika pelaku perampasan
kembali ke Tiga Sagi Negeri Aceh, maka wajib uleebalang menangkap dan memotong tangannya.
112 Ibid, hal. 185
113 H.M. Zainuddin, Singa Aceh, Pustaka Iskandar Muda, Medan, 1957, hal.185-188. Lihat juga, A. Hasjmy, Iskandar Muda..., hal. 101. Setelah pelaksanaan hukum bunuh terhadap puteranya yang tercinta itu, Sultan Iskandar Muda jatuh sakit, dan dari hari ke hari sakitnya semakin bertambah parah. Dalam keadaan sakit itu, para pembantunya menanyakan mengapa sampai hati beliau melakukan hukum bunuh terhadap puteranya. Dengan tenang dan penuh rasa tanggung jawab beliau berkata: “Mate aneuk na jirat,
mate adat ho tamita” (mati anak ada makamnya, tetapi kalau mati hukum ke mana akan dicari). A. Hasjmy, 59 Tahun Aceh Merdeka..., hal. 45.
114 Dennys Lombard, Op.Cit, hal. 107-108.
Dalam kasus had qishash/diyat, sebagaimana telah dijelaskan di muka, bahwa peradilan Kerajaan Aceh pernah menerapkan hukuman potong telinga, hidung, mencongkel mata dan lain-lain. Ini mungkin yang dimaksudkan adalah hukuman qishash karena melakukan penganiayaan terhadap orang lain dalam bentuk pemotongan telinga,hidung dan menghilangkan mata. Dan dalam kasus pembunuhan, penganiayaan atau pemukulan, atas pemaafan dari pihak korban, pengadilan menjatuhkan hukuman denda (yang dimaksudkan adalah diyat) yang diserahkan kepada pihak korban atau keluarganya.116 Dan dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa Sultan Alaiddin Riayat Syah II “Abdul Qahhar” (1539-1571 M), pernah menjatuhkan hukuman mati (hukum bunuh) terhadap puteranya sendiri yaitu Pangeran Abangta, karena melakukan kezaliman membunuh orang lain secara melawan hukum/adat yang berlaku.117
Dalam Adat Meukuta Alam diatur tentang had qishash/diyat ini pada bagian pertama Pasal 26-28, yang intinya:
1. Pasal 26: Diyat orang merdeka seratus ekor unta, yang dibayar kepada ahli waris korban. 2. Pasal 27: Jika pelaku pembunuhan telah membayar diyat, maka tidak boleh lagi dibunuh
orang itu, karena sudah taubat dan berdamai.
3. Pasal 28: Jika ahli waris korban tidak mau menerima diyat, maka pelaku pembunuhan dihukum bunuh (qishash).
Hal yang sama juga termuat dalam sarakata Paduka Sri Sultan Syamsul Alam, yang berbunyi: “...diyat luka atau diyat nyawa, maka kamu kerjakanlah seperti yang berlaku
pada hukum Allah, jangan kamu kerjakan diyat yang berlaku pada adat”
Dari gambaran penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pengadilan di Kerajaan Aceh sudah menerapkan hukum pidana Islam (jinayah) sesuai menurut ketentuan hukum Islam. Disamping itu, Undang-Undang Dasar Kerajaan Aceh “Adat Meukuta Alam” telah menjadi contoh konkrit bahwa hukum Islam merupakan hukum yang berlaku di Kerajaan Aceh. Itu artinya bahwa sistem dan tata aturan hukum yang berlaku di Kerajaan Aceh, baik pada tataran hukum ketatanegaraan maupun peradilan, didasari pada nilai-nilai syari’at Islam. Itu dikarenakan, Kerajaan Aceh telah menjadikan Islam sebagai pandangan hidup (ideologi) dalam berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Kenyataan inilah yang menyebabkan Aceh mendapat gelar “Serambi
Mekkah”. Sebuah sebutan yang diberikan oleh orang luar kepada negeri Aceh yang telah
menjadikan Islam sebagai pandangan hidup masyarakat, bangsa dan negara.
116 Dennys Lombard, Op.Cit, hal. 107-108. Moehammad Hoesin, Op.Cit, hal. 181-182. Dan KK.F.H. Van Langen, Op.Cit, hal. 49.