BAB DUA ACEH : RELASI LOKAL DAN GLOBAL
RELASI ACEH DENGAN DUNIA INTERNASIONAL
1. Relasi Aceh Dengan Turki Usmani
Pada abad ke-16 Masehi beberapa kerajaan Islam yang berada di Aceh berhasil dipersatukan oleh Sultan ‘Ali Al- Mughayat Syah (w. 1530). Pada saat Sultan ’Ali Al- Mughayat Syah inilah terbentuk Kesultanan Aceh yang berangsur kuat dan besar. Pada saat tersebut, kontak antarbangsa yang pada masa sebelumnya sebenarnya telah terjalin, menjadi semakin ramai. Sultan ’Ali Al-Mughayat Syah telah meletakkan dasar- dasar diplomasi yang santun dengan pihak luar. Dalam keyakinannya, suatu negara tidak akan bisa berdiri kukuh bila hanya sebesar kampung, seluas kota, akan tetapi harus seluas wilayah Aceh atau bahkan lebih luas lagi. Untuk itu diperlukan pemberdayaan internal, seperti masalah pertahanan dan kemanan, sosial ekonomi, pendidikan dan sektor kehidupan lainnya. Di samping itu harus menjalin persahabatan yang kuat dengan pihak luar negeri, terutama dengan negara Islam lainnya.50
Menurut catatan sejarah, hubungan antara Kesultanan Aceh dan Kekhilafahan Turki Usmani bermula ketika Sultan Turki membantu Aceh dalam memerangi bangsa Portugis yang mencoba menganeksasi wilayah Pidie (1521 M) dan Pasai (1524 M).51 Menghadapi ancaman serius ini, kemudian Sultan Aceh, ‘Ala Al-Din Ri‘ayat Syah Al- Kahhar (1537-1571 M) mengambil langkah formal untuk tunduk secara sukarela pada kekuasaan Turki Utsmani sebagai balasan atas bantuan militer yang diberikan oleh Khilafah Utsmaniyyah kepada Aceh. Hal ini dirasa wajar atas dasar hubungan emosional religiusitas antara kesultanan Aceh dan kekhalifahan Turki Ustmani. Azra menyatakan bahwa dengan mengutip dokumen Turki, Voorhoeve menunjukkan bahwa ’Ala Al- Din mengirimkan seorang utusan ke Konstantinopel, Turki pada tahun 973 H (1523 M) untuk meminta bantuan guna melawan Portugis, yang setelah diusir dari Pasai kemudian menduduki Malaka, dan mengatakan bahwa sejumlah penguasa kafir di Asia Tenggara telah berjanji akan memeluk Islam jika khilafah Turki Ustmani membantu mereka.52
Realitasnya, memang tidak mudah bagi Aceh untuk mendapatkan bantuan dari Kekhilafahan Turki Utsmani meskipun yang terakhir ini tengah berada dalam masa kejayaan di bawah Khalifah Sulaiman Yang Agung. Perutusan Aceh harus menunggu dua tahun di Istambul sebelum sebuah ekspedisi laut dikirim di bawah komando Laksamana Suez, Kurdoqhlu Kizir Reis, yang terdiri dari sembilan belas kapal dan beberapa kapal lainnya lengkap dengan persenjataan, makanan dan sebagainya. Namun ekspedisi ini berubah haluan menuju ke Yaman untuk menangani pemberontakan di sana. Selanjutnya, dua kapal yang sarat dengan makanan dan sejumlah penasihat militer dikirim ke Aceh. Utusan khalifah Turki tersebut diterima oleh Sultan Aceh dan seterusnya tinggal di Aceh. Sebagai bukti historis adanya relasi ini tercermin
49Hasjmy, Kebudayaan Aceh Dalam Sejarah,(Jakarta: Penerbit Beuna, 1983), hal. 97.
50Ibid, hal. 97-98.
51Teuku Iskandar, Hikayat Aceh: Kisah Kepahlawanan Sultan Iskandar Muda, (Banda Aceh: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Museum Negeri Aceh, 1986), hal. 39-40.
pada bendera merah Ustmaniyah dan pada hadiah kepada Sultan Aceh. Semua ini diagungkan sebagai apresiasi dari Khalifah Islam di Turki, di samping sebagai tanda penghargaan atas perlindungannya terhadap para pengikutnya di wilayah yang paling jauh di kawasan Timur.53
Pada masa permulaan perang antara Aceh menghadapi Barat, sebuah surat kabar yang terbit di Istambul menceritakan bahwa dalam tahun 1516 Sultan Aceh telah memiliki hubungan diplomatik dengan seorang Pasya, Wazir dari Sultan Selim I Turki. Hubungan bilateral yang telah ada ini kemudian dilanjutkan dan diperteguh lagi oleh Sultan Qahhar, dimana pada tahun 952 H. (1545 M) mengirim utusan ke Turki untuk memperbaharui hubungan diplomatik di samping untuk meminta bantuan senjata dan tenaga ahli untuk melawan Portugis. Sultan Turki yang berkuasa waktu itu yakni Sultan Sulaiman Khan, 926-974 H. (1523-1566 M) menerima permintaan Aceh dengan memberi sejumlah besar alat senjata dan kira-kira 300 orang tenaga ahli, di antaranya ahli teknik, militer, ekonomi, dan hukum/tatanegara. Adapun peralatan senjata yang turut dikirim adalah meriam besar, meriam Lada Sicupak.54
Aceh meraih kejayaan politiknya, baik secara internal maupun eksternal, di bawah kekuasaan Sultan Iskandar Muda (1607-1637) yang brillian dan perkasa. Kontrol kerajaan saat itu sangat efektif atas seluruh pelabuhan penting di pantai barat dan di timur Sumatera. Aceh mendominasi perdagangan di utara dan barat Sumatera, terutama di selat Malaka. Di samping itu, Aceh melakukan kontrol atas daerah tertentu Semenanjung Malaya, yakni Pahang, Kedah dan Perlis. Dengan bantuan penasihat-penasihat militer, persenjataan, dan amunisi dari kekhalifahan Turki Utsmani, kesultanan Aceh mampu melancarkan serangan berkali-kali terhadap benteng Portugis di Malaka.55
Denys Lombard menyertakan bukti historis adanya hubungan diplomatik antara Aceh Dan Turki Ustmani pada abad ke-17 melalui hikayat Aceh yang berisi tentang kedatangan delegasi Turki kepada Sultan Iskandar Muda.56
Kata sahibul hikayat, yakni yang menceritakan hikayat ini, pada suatu zaman bahwa Sultan Muhammad (Muhammad III-pen) yang kerajaan dalam negeri Rum (sebutan untuk Turki Ustmani) itu sakit kepala dan sejuk segala anggotanya. Maka ia memanggil segala hakim dan tabib. Maka memberi titah Sultan itu kepada segala hakim dan segala tabib: Hai segala hakim dan segala tabib, apa penyakit dalam tubuhku ini ada jua akan obatnya? Maka menghampiri dua orang hakim, seorang bernama Taimunus Hakim, seorang bernama Jalus Hakim serta dibukanya baju Sultan itu dan dijabatnya tangan kaki (diperiksa-pen) Sultan itu. Maka sembah hakim kedua itu: Tuanku, (tiada) akan obatnya melainkan salita ’l-kafur dan salita ’t-turab, yakni minyak kapur dan minyak tanah. Maka memberi titah Sultan Rum itu kepada perdana menterinya: Yang pada negeri mana kamu dengar khabar minyak kapur dan minyak tanah itu? Maka sembah perdana menterinya: Tuanku, yang ada kami yang diperhamba dengar khabar minyak kapur dan minyak tanah itu di bumi
53Anthony Reid, The Contest for North Sumatra: Atjeh, the Nederland and Britain 1858-1898, (London: Oxford University Press, 1969), hal. 3.
54 Hasjmy, Kebudayaan Aceh..., hal.101
55Azra, Jaringan Global …, hal. 52.
72 Aceh: Relasi Lokal dan Global
masyriq (Timur) yang bernama negeri Aceh Dar as-Salam. Maka titah Sultan Rum: Jika demikian suruhlah dua orang Rum yang namanya Celebi Ahmad dan seorang namanya Celebi57 Ridwan yang menghadap daku ini sertanya seratus orang Rum untuk dibawanya sebuah kapal dengan segera ia pergi ke negeri Aceh Darussalam itu.
Syahdan pada ketika itu jua dititahkan Sultan untuk menyurat suatu marsum (perintah), yakni satemi (surat resmi) yang sampai kepada basyah di negeri Yaman, bernama Mansur Hallab. Maka ada yang tersebut dalam marsum itu: “Hai basyah Mansur Hallab, segera kau suruhkan sebuah kapal untuk (berlayar) ke negeri Aceh Darussalam, mencahari obat akan daku dari pada minyak kapur dan minyak tanah itu. Dari kapal itu dengan segala senjatanya dan segala arta yang dibawa Celebi Ahmad dan Celebi Ridwan itu. Tatkala sudah surat satemi itu (sampai), maka diberikan kepada Sultan Rum lalu berjalan dengan seratus orang Rumi yang musta’id (persiapan) dengan segala senjatanya. Maka lalulah mereka itu menuju negeri Yaman.
Maka tatkala sampai mereka itu ke negeri Yaman, diberikannya surat satemi itu kepada tangan Basyah Mansur Hallab. Tatkala dibacanya surat itu, segera ia menyuruh kepada beberapa orang daripada Rumi mengutus Celebi dua orang itu ke negeri Moka kepada Agha Mir Haidar…Ketika itu jua dimusta’idkannya sebuah kapal dengan segala alatnya dan beserta nakhoda kapal itu yang bernama Yakut Istambul. Beberapa hari kemudian mereka itupun berlayar menuju negeri Darussalam.
Takdir Allah Swt. Beberapa lama mereka di dalam laut maka sampailah mereka ke negeri Aceh Darussalam. Kapal tersebut berlabuh antara makam Tukul (kata demi kata: “kuburan martil”; nama tempat tidak kami kenal dari sumber lain) berbetulan dengan pulau Aberama. Pada esok harinya tenggahlah kedua celebi itu dengan segala Rumi yang besertanya. Maka duduklah mereka itu di Bandar Makmur seperti ’adat kelakuan segala saudagar.
Kata yang berceritera: bahwa tatkala Agha Yakut Istambul datang ke Aceh Darussalam, seri sultan Perkasa Alam berangkat mengalahkan negeri Deli. Beberapa lama Agha Yakut di Aceh maka satemi dari Deli pun datang mengatakan Deli sudah kalah. Dan sesudah berapa lama maka sultan Perkasa Alam pun berangkat kembali ke Aceh.
Kemudian, setelah beberapa hari Yakut Istambul dan kedua Rumi mempersiapkan segala persembahannya, permata dan benda-benda yang mulia yang akan dipersembahkan dari Syahbandar ke bawah duli hadirat Sultan Perkasa Alam: Tuanku, daulat dirgahayu bahwa pada hari Kamis ini Yakut Istambul dan Rumi memohon hendak menghadap duli hadirat yang maha mulia. Maka seri sultan Johan ’Alam memberi titah kepada Syarif al-Muluk Laksamana dan kepada Seri Biji Wangsa. Demikian titah yang maha mulia: Wahai kedua panglima gajah, padankan oleh kamu segala gajah yang menta-menta. Insya Allah esok hari kita berangkat keluar. Maka segala pedagang-pedagang yang datang dari negeri Rum itu hendak menghadap kita.”
Ketika itu, Syarif al- Muluk Laksamana menyuruh untuk menghimpunkan segala kejuruan gajah dan menyuruh kenakan tali pada kaki gajah yang menta. Dan menyuruh hiasi singgahsana yang di Medan Khayyali, dan mengenakan langit-langit dari zarbaf yang keemasan yang berumbai-rumbaikan mutiara yang besar, dan menghamparkan permadani yang mulia- mulia, dan mengenakan selub segala tiang singgahasana itu dari mukmal yang merah keemasan, dan mengenakan tupuk patma birai dari kain keemasan.
Maka disegerakan tempat semayam itu, sebuah daripada tempat yang bertatahkan ratna mutu-manikam, dan berapa buah daripada bantal keemasan daripada kain zarzari. Sekalian itu berpakankan mas dan bantal yang bertumpukkan mas berkerawang dan bepermata yang indah-indah.
Maka pada waktu zuhur, Agha Yakut Istambul dan Rumi beserta kedua celebi itu mengarak segala syahbandar pun masuk ke dalam pagar Dar ad-Dunia, lalu ia berdatang sembah: “Tuanku daulat dirgahayu Syah Alam, bahwa segala dagang-dagang yang datang dari negeri Rum itu hadirlah di Medan Khayyali dengan segala persembahannya. Demi Johan (Alam) mendengar menyembah segala syahbandar itu maka memeri titah menyuruh gunamkan gajah yang bernama Biram Setan. Maka Johan Alam pun berangkat serta kembang payung katifah yang keemasan dan beberapa daripada payung zarkar yang keemasan. Sekalian payung itu berkemuncakkan mas permata dan batangnya daripada kayu ungu yang keemasan. Maka ada mengiringkan Johan Alam itu daripada segala raja-raja Timur dan daripada segala raja-raja-raja-raja Barat. Yang di bawah gajah istan itu sekalian memakai keemasan seperti adat pakaian lasykar Aceh. Dan beberapa daripada segala hulubalang yang memakai masing-masing pada kelakuannya dan beberapa daripada Bujang Sabil Allah memikul pedang berhulu mas permata dan bersarung mas bepermata dan bertalikan mas yang terdandan lagi bepermata. Dan setengah daripada Sabil Allah itu memikul keris mas yang berteterapan mas dan berhulukan manikam yang merah; dan setengah berhulukan zamrud yang hijau dan bersarungkan emas berlazuardi yang hijau dan setengah daripada lazuardi yang merah dan beberapa daripada busur keemasan dan tarkas mas permata; dan anak panahnya pun bertatahkan mas dan berbulukan mas, dan beberapa daripada keris pendek dan golok pendek sekaliannya itu berhulukan mas bepermata dan bersarung emas bertetapan; dan beberapa yang berhulu dan bersarung suasa dan daripada yang indah-indah dalam dunia ini sekalian permata intan dan biram dan….
Di negeri Aceh itu terdapat galian mas yang merah yang sepuluh mutu dan tanah cempaga kudrati yang senantiasa mengalir di atas bukit galian itu dan beberapa daripada kolam minyak tanah kudrati yang tiada lagi kurang minyaknya daripada kolam itu; dan yang terbiit daripada segala hewan dalam rimbanya, daripada paizhar dan jebat dan air madu dan lilin dan daripada isi bukit rimbanya, beberapa daripada pohon kayu yang dalamnya kapur dan kemenyan yang putih dan hitam dan daripada pohon kayu celembak dan gaharu dan cendana dan damar dan lada dan pilpin diraz dan beberapa daripada galian yang lain dan daripada segala pohon kayu yang lain dari itu. Dan ada dalam negeri itu di atas bukit yang tinggi suatu laut, artinya tawar dan manis. Maka pada ketika bertiup angin berbangkit ombaknya dan ketika berhenti angin teduh ombaknya seperti ’adat laut yang besar itu. Maka ada dalam laut itu beberapa ular yang besar-besar kepalanyaseperti kepala kuda dan mukanya seperti muka kuda. Maka segala ikan yang ada dalam laut yang besar itu adalah di sana. Maka segala ada isi laut yang besar itu pun adalah dalam laut itu. Maka keliling tepi laut yang besar itu dikedemi manusia yang tiada terhisab banyaknya. Maka sekalian mereka itu ta’luk ke Aceh Dar as-Salam yang terbit mata air daripada bukitnya lalu mengalir ke laut itu. Airnya terlalu manis lagi akan penawar. Maka beberapa daripada orang sakit apabila mandi ke dalam sungai itu maka di’afiatkan Allah ta’ala penyakitnya dan beberapa daripada orang sakit apabila diminumnya air sungai itu maka di’afiatkan Allah ta’ala penyakitnya. Dan beberapa daripada dagang-dagang daripada Arab dan Ajam dan Rumi dan Mughal dan segala Hindi yang melihat sungai itu merasa mandi dalam sungai itu dan merasa minum air sungai itu, maka jadi ia mengucap syukur akan Allah
74 Aceh: Relasi Lokal dan Global
ta’ala beserta dengan hairannya dan dahsyatnya dan terbit daripadanya kata: Ah, beberapalah negeri yang kami datangi dan kami lihat, dalam nya sungai tiada seperti sungai Aceh Dar as-Salam ini pada cita rasanya dan pada manfaatnya akan jasad manusia.
Dan telah ada suatu sungai yang mata airnya terbit daripada guha batu. Maka airnya terlalu amat sejuk lagi amat manis. Maka nama air sungai itu Dar al-’Isyki. Maka segala raja-raja akan air santap daripada air itulah. Dan ada hawa negeri Aceh Dar as-salam itu sederhana jua, tiada amat sejuk dan tiada amat hangat, daripada lalu cakrawala matahari dari masyrik ke maghrib ituberbetulan dengan bumi negeri itu. Maka dari karena itulah segala isi negeri itu daripada manusya dan gajah dan berani dan tegar hati; daripada manusya isi negeri itu dijadikan Allah ta’ala kuat bicaranya dan banyak bicaranya dan banyak muslihatnya pada mengikat perang tatkala berhadapan dengan seteru. Maka raja-raja yang telah lalu pada masanya keraja-rajaan daripada nini datu seri sultan Perkasa Alam tiada kelenggara akan kota negeri itu, melainkan Kota Buruj ninpun hanya tempat mengantarkan bedil yang manai banyaknya akan mengawali kuala negeri jua, daripada dijadikan Allah ta’ala pada cermin hatinya kenyataan keras budinya dan kuat bicaranya pada melawan segala seteru itu, daripada dinyatakan Allah ta’ala pada cermin hatinya kenyataan keras dan kuatnya itu dengan segala hulubalangnya yang amat gagah lagi amat berani dan dengan segala gajah yang amat gagah lagi amat berani yang tiada tepermanai banyaknya itu. Maka dengan takdir itu Allah ta’ala maka ta’rif Aceh Dar as-Salam seperti tersebut itu telah masyhurlah kepada segala isi ’alam hingga sampai ke negeri Makkah Allah yang mulia itu dan Madinah nabi Allah yang mulia itu; dan jebat dan celembak dan kepala kapur...
Di sini mensifatkan dia dan ada dalam negeri itu sebuah mesjid terlalu besar dan terlalu tinggi kemuncaknya daripada perak yang berapit dengan balur. Maka ada segala orang yang sembahyang dalamnya terlalu banyak. Maka pada penglihat kami diperhamba yang mengatasi banyak oranng sembahyang daripada dalam mesjid itu hanya dalam mesjid yang dalam haram Makkah Allah yang mulia itu jua. Maka mesjid yang dalam segala negeri yang lain tiada ada seperti dalam mesjid itu, hanya kebaruan jua. Maka ada luas mesjid itu seyojan mata memandang dan ada mimbarnya daripada mas dan kemuncak mimbar itu daripada suasa. Maka ada disebutkan oranng pada puji-pujian di mulut orang banyak; sayyidina as-sultan Perkasa Alam Johan Berdaulat sahib al-barrain wa’l-bahrain, ya’ni tuan kami sultan Perkasa ’Alam yang mengempukkandua darat dan dua laut ya’ni darat dan laut masyrik maghrib. Dan ada dalam negeri itu beratus-ratus mesjid jumat. Syahdan telah ada pekerjaan Johan ’Alam kerajaan dalam negeri Aceh Dar as-Salam itu netiasa menyuruhkan segala hulubalanng dan segala rakyat kecil besr mendirikan agam Allah dan Rasulnya. Syahdan netiasa Johan Alam itu memeri titah kepada segala wazir baginda itu menyusun ghorab yang besar-besar diniatkan dengan niat mujahid dan ghaza dengan segala kuffar ’alaihi’l-lana. Dan akan negeri itu tiada berkota seperti ’adat kota negeri yang lain dengan karena amat banyak gajah perang yang dalam negeri itu.”
Syahdan sembah celebi yang dua orang itu kepada sultan Muhammad yang di negeri Rum: “Tuanku, tiadalah tersifatkan kami diperhamba yang kedua ini daripada peri amat ’ajaib sarwa baginya itu.” maka tatkala terdengar sultan sembah celebi yang dua orang yang menceritakan segala ceritera itu, maka sultan Rumpun meraup muka seperti mengucap alhamdu li’llah, lalu memeri titah sultan kepada wazir a’zam dan kepada segala wazir yang lain: “Hai kamu segala wazir, pada bicaraku pada zaman dahulu kala jua dijadikan Allah ta’ala dua orang raja Islam yang amat besar dalam dunia ini, seorang nabi Allah Sulaiman, seorang raja Iskandar juga, seperti sembah celebi Ahmad dan celebi Ridwan
ini. Maka pada zaman kita sekarang inipun ada jua dijadikan Allah ta’ala dua orang raja yang amat besar dalam ’alam dunia ini. Maka yang daripadapihak maghrib kitalah raja yang besar dan daripada pihak masyrik itu seri sultan Perkasa ’Alam raja yang besar dan raja yang mengeraskan agama Allah dan agama rasul Allah.” maka sembah wazir a’zam dan segala wazir: Tuanku, sebenarnya sabda tuanku itu, karena jika sperti sembah celebi yang kedua ini tiada ada diperoleh dalam a’lam dunia ini, hanya pada tuanku dalam negeri Rum (dan pada Johan ’Alam yang dalam negeri Rum) dan pada Johan ’Alam yang dalam negeri Aceh Dar as-Salam jua”.
Kata yang berceritera: maka tatkala celebi yang dua orang bersembah ceritera kepada sultan Rum itu beberapa daripada raja-raja Perasi dan raja-raja ’Ajami menghadap sultan Rum dan beberapa daripada wazir dan basyah Rumi dan beberapa daripada Arab dan segala ’Ajam dan segala Mughal. Maka sekalian mereka itu hairan dan dahsyat menengar cerita dua orang celebi itu maka kata seorang dari mereka itu berkata sama sendiri kodratnya yang amat keras itu. Jika seperti cerita yang kita dengar ini patut sekalilah sultan yang di negeri Aceh Dar as-Salam itu bernama Perkasa Alam. Setelah itu maka segala raja-raja dan segala wazir dan segala basyah dan segala Arab dan segala ’Ajam dan segala Mughal masing-masing mereka itu kembali ke negerinya. Maka jadi masyhurlah ceritera Johan Alam itu kepada segala isi negeri dalam alam dunia ini.
Maka pada ketika haji ke Makkah Allah yang mulia itu maka amir haji basyah Yaman setelah sudah naik haji maka ia datang ke Medinah yang mulia itu. Maka ia duduk dalam mesjid nabi yang mulia itu. Maka tatkala itu dua orang daripada ulama yang terbesar ada hadir, seorang bernama syaikh Sibghat Allah dan seorang bernama syaikh Muhammad Mukarram. Dan telah ada hadir pada majelis itu Mir Ja’far yang salih lagi zahid lagi sufi dan beberapa ketika itu daripada ulama duduk bersama-sama dengan basyah Yaman itu. Maka tatkala itu hadir pada majelis itu seorang haji Ahmad dan seorang haji ’Abdullah. Maka haji yang dua orang itu tiada pernah dilihat.
Maka orang Haram Makkah Medinah yang mulia itu dan dagang-dagang yang lain pun tiada mengenal orang kedua itu. Maka seorang dari antara orang Medinah bertanya: “Hai kamu duaorang, di mana negeri kamu?” maka sahut haji Ahmad: negeri kami hampir negeri Aceh Dar Salam. Setelah sudah kami haji maka kami ini dari Aceh Dar as-Salam. Setelah sudah kami haji maka kami datang ke Medinah. Maka terdengar kepada syaikh Sibghat Allah haji itu mengatakan dirinya dari Aceh....: Kamu tanyakan padanya