Islamisasi: Konversi Dan Internalisasi
1. Peralihan Keyakinan Hindu dan Budha kepada Islam
Seperti telah dikemukakan sebelumnya bahwa sebelum kedatangan Islam, masyarakat di Nusantara telah menganut agama Hindu dan Budha. Eksistensi kedua agama tersebut sebagai anutan masyarakat Nusantara menegaskan bahwa masyarakat di kawasan ini telah terlibat dalam pergaulan internasional jauh sebelum kedatangan Islam. Dari sini terlihat bahwa di antara bangsa-bangsa yang pernah singgah atau menjelajahi negeri-negeri di Nusantara, pengaruh bangsa-bangsa Cina dan India tampaknya lebih dominan. Hal ini terlihat dari dominasi agama Hindu dan Budha sebagai anutan masyarakat.
Sebelum kedatangan budaya dan agama Hindu, di Indonesia telah berkembang pula kebudayaan dan kepercayaan animisme. Masuknya budaya dan agama Hindu menyebabkan terjadinya asimilasi budaya, yaitu kebudayaan dan kepercayaan animisme bercampur dengan kebudayaan Hindu, sehingga menghasilkan kebudayaan baru yang dinamakan kebudayaan Indonesia-Hindu.
Catatan sejarah tentang masuk dan berkembangnya agama Hindu dan Budha di Indonesia menegaskan bahwa hubungan perdagangan laut dari Cina ke Asia Selatan dan sebaliknya telah dirintis sejak awal abad pertama masehi. Dalam abad yang sama, kedua agama ini merambah ke kawasan Semenanjung Malaya dan Indonesia, yang dibawa oleh para pedagang dari Asia Selatan (India). Karena tertarik dengan kekayaan alam Indonesia, para pedagang tersebut kemudian bermukim dan mendirikan perkampungan di sekitar bandar-bandar perdagangan, sehingga terjadilah interaksi budaya dengan penduduk asli. Implikasi yang ditimbulkan adalah terjadinya penyebaran unsur-unsur budaya (difusi) Hindu dan Budha di kalangan masyarakat Indonesia. Selain dibawa oleh para pedagang tersebut, ada pula teori lain yang menyebutkan bahwa penyebaran agama Hindu di Indonesia dilakukan oleh para Brahmana yang secara khusus diundang oleh para raja di Indonesia untuk mengajarkan agama dimaksud.61 Dengan demikian menjadi jelas bahwa agama Hindu masuk ke Indonesia dengan cara yang damai.
Sebagai sebuah agama yang datang kemudian, kehadiran Islam di tengah-tengah masyarakat Nusantara yang___secara dominan___telah menganut agama Hindu dan Budha tentu menjadi sebuah fenomena sosial tersendiri yang menarik untuk ditelaah secara ilmiah. Lazimnya sebuah kajian ilmiah, perbedaan pendapat di kalangan para ahli mengenai islamisasi Nusantara
60 Ruswardiyatmo, dkk., Sejarah…hal. 107-108.
merupakan sebuah keniscayaan. Jauh sebelum itu, para sejarawan, teolog, dan ahli lain dalam ragam disiplin ilmu telah terlibat dalam “pertarungan ilmiah” mengenai islamisasi jazirah Arab yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Perdebatan para ahli mengenai hal tersebut lebih terfokus pada metode atau dengan cara apa Muhammad SAW menyebarkan Islam di Jazirah Arab.
Seorang penulis Barat, Robert Payne melalui bukunya The History of Islam menuding bahwa penyebaran Islam dilakukan dengan penuh kekerasan. Menurutnya, setelah Nabi Muhammad SAW wafat, perkembangan Islam mengalami kepesatan yang luar biasa, yang berlangsung tidak saja dengan jalan damai tetapi juga melalui peperangan atau penaklukan.62
Tudingan bahwa Islam disebarkan melalui kekerasan atau pedang seperti dilontarkan oleh Payne dan para orientalis lainnya, dibantah keras oleh seorang cendekiawan muslim Mesir, Muhammad Husain Haekal. Melalui bukunya yang tergolong best seller, Haekal mengemukakan bahwa perang yang dilakukan oleh kaum muslimin pada zaman Nabi Muhammad dan para penggantinya dan yang datang sesudah itu, bukan untuk menaklukkan atau menjajah, melainkan untuk mempertahankan keyakinan mereka manakala mereka diancam oleh Kaum Quraisy dan oleh orang-orang Rumawi dan Persia. Dalam peperangan tersebut, kaum muslimin tidak pernah memaksa orang untuk menganut agama Islam, karena memang tak ada paksaan dalam beragama. Demikian pula kerajaan dan amirat mereka, tetap dibiarkan oleh Nabi dalam keadaannya masing-masing, tanpa diganggu. Tujuannya hanyalah supaya ada kebebasan dalam mempropagandakan agama.63
Lantas, bagaimana proses islamisasi di Nusantara? Apa yang menyebabkan masyarakat di kawasan ini mengalihkan keyakinan mereka dari animisme, Hindu, dan Budha kepada Islam? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ada dua aspek yang patut dijadikan determinant factor.
Pertama, pola penyebaran Hindu-Budha di Indonesia. kedua, pola penyebaran Islam di
Indonesia.
Menurut catatan sejarah, agama Budha lebih dahulu masuk ke Indonesia daripada agama Hindu. Agama Budha dikembangkan oleh para misionaris yang dikenal dengan nama
dharmadhuta. Agama ini diperkirakan telah masuk ke Indonesia sejak abad ke-2 M yang
dibuktikan dengan adanya temuan patung Buddha dari perunggu di Jember, Jawa Timur dan di Sulawesi Selatan. Patung-patung tersebut berlanggam Amarawati. Patung-patung itu diduga dibawa dari India Selatan, kendati belum diketahui secara pasti siapa pembawanya.64
Sebagaimana halnya agama Budha, agama Hindu yang dibawa masuk ke Indonesia juga berasal dari India Selatan. Wilayah ini sendiri dimasuki ajaran Hindu pada tahun 4000 SM melalui
India Kush bangsa Arya yang berhasil menduduki India Selatan dan mengjarkan agama Brahma.
Bangsa Arya berhasil mendesak bangsa Dravida di India, sehingga terjadilah akulturasi budaya yang menghasilkan kebudayaan baru, yaitu kebudayaan Hindu di India. Bangsa yang mengembangkan kebudayaan ini kemudian disebut bangsa Hindu. Kendati demikian, bangsa Arya menganggap diri mereka bangsa superior. Diskriminasi ras dan warna kulit semakin kentara
62 Lihat, Djoko Suryo, dkk., Agama …hal. 27.
63 Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, (Jakarta: Litera Antar Nusa, Cet. XXV, 2001), hal. 667.
22 Kedatangan Islam Ke Aceh diekspresikan oleh bangsa Arya ketika mereka menyusun stratifikasi sosial atas tiga kasta, yaitu (1) Kasta Brahmana, terdiri dari golongan pendeta dan cendekiawan; (2) Kasta Ksatria, yaitu golongan pegawai dan prajurit; dan (3) Kasta Waisya, golongan petani dan pedagang. Adapun bangsa Dravida dianggap rendah derajatnya (inferior) dan kemudian diklasifikasi dalam Kasta Sudra.65
Tampaknya, stratifikasi kasta umat Hindu di India dengan berbagai dinamika sosial yang melingkupinya, dijadikan sebagai dasar rujukan untuk para ilmuwan sosial untuk mengembangkan teori penyebaran Hindu di Indonesia. Setidaknya, terdapat empat teori penyebaran Hindu di India, yaitu:
a. Teori Sudra, menyatakan bahwa penyebaran agama Hindu ke Indonesia dilakukan oleh orang-orang India yang berkasta Sudra. Sebagian mereka meninggalkan negerinya karena dianggap sebagai orang-orang buangan.
b. Teori Waisya, menyatakan bahwa penyebaran agama Hindu ke Indonesia dibawa oleh orang-orang India berkasta Waisya, karena mereka adalah para pedagang yang datang dan kemudian menetap di Indonesia. Banyak pula di antara mereka yang menikah dengan wanita Indonesia. c. Teori Ksatria, menyatakan bahwa penyebaran agama Hindu ke Indonesia dilakukan oleh orang-orang India berkasta Ksatria. Hal ini disebabkan oleh timbulnya kekacauan politik di India, sehingga golongan Ksatria yang kalah melarikan diri ke Indonesia. Mereka kemudian mendirikan kerajaan-kerajaan dan menyebarkan agama Hindu.
d. Teori Brahmana, menyatakan bahwa penyebaran agama Hindu ke Indonesia dilakukan oleh kaum Brahmana. Kedatangan mereka ke Indonesia dalam rangka memenuhi undangan kepala suku setempat yang tertarik dengan agama Hindu.66
Dari keempat teori tersebut, I Wayan Badrika menyimpulkan bahwa hanya teori Brahmana yang dianggap sesuai dengan bukti-bukti yang ada. Kesimpulan tersebut didasarkan atas dua alasan berikut:
a. Agama Hindu bukan agama yang demokratis, karena urusan keagamaan menjadi monopoli kaum Brahmana, sehingga hanya golongan ini yang berhak dan mampu menyiarkan agama. b. Prasasti Indonesia yang pertama berbahasa Sansekerta, sementara di India bahasa itu hanya digunakan dalam kitab suci dan upacara-upacara keagamaan. Dengan demikian, tentu hanya kaum Brahmana yang mengerti dan menguasai penggunaan bahasa tersebut.
Jika teori Brahmana dianggap sebagai teori yang paling sesuai dalam proses kedatangan agama Hindu ke Indonesia, maka ditemukan cukup alasan untuk menjawab persoalan: “Mengapa perkembangan agama Hindu dan Budha tidak pesat dan meluas sebagaimana halnya dengan perkembangan Islam yang datang kemudian?” Hal ini ternyata disebabkan agama Hindu dan Budha bersifat inklusif, dalam arti tidak terbuka bagi semua lapisan masyarakat. Penyebarannya diutamakan bagi raja dan keluarga/kerabatnya, juga kaum bangsawan. Adapun prosesi untuk menjadi penganut agama Hindu dan Budha dilakukan melalui ritual agama yang dipimpin oleh brahmana atau pendeta. Karena sifatnya ritual, tentu membutuhkan sejumlah dana, sehingga bagi rakyat kecil yang memiliki keterbatasan dana lebih memilih untuk tidak mengikuti prosesi tersebut,67
yang berarti mereka tidak menjadi pengikut agama Hindu dan Budha.
65 Ruswardiyatmo, dkk., Sejarah …hal. 4-5.
66 I Wayan Badrika, Sejarah …hal. 7.
Selain itu, sistem kasta yang dikembangkan dalam ajaran Hindu, baik di India maupun ketika dibawa masuk ke Indonesia, dalam pandangan antroplog terkemuka Belanda, Snouck Hurgronje, dianggap mengekang kebebasan rakyat jelata. Ketika sistem ini berhadapan dengan ajaran Islam yang memberi kebebasan penuh kepada setiap penganutnya untuk berkembang sekehendaknya, maka ajaran Hindu pun mulai ditinggalkan oleh pengikutnya dan mereka beralih kepada Islam. Di samping itu, tegas Hurgronje, kondisi sebagian besar masyarakat Indonesia pada waktu itu sedang berada pada tahap perkembangan rohaniah yang hampir sama dengan situasi bangsa Arab pada zaman Nabi Muhammad SAW. Kondisi ini sangat menguntungkan bagi kelanjutan proses penyebaran Islam, sehingga dapat berkembang dengan cepat. Itulah sebabnya, dalam waktu yang relatif singkat, Islam berhasil menapaki Nusantara secara kuat. Hampir seluruh masyarakat Pulau Jawa memeluk Islam, sementara sebagian yang lain mengungsi ke Pulau Bali disebabkan mereka tidak mau meninggalkan ajaran Hindu yang telah dianut sebelumnya.68
Menurut Roeslan Abdulgani, peralihan keyakinan beragama masyarakat dari Hindu kepada Islam juga dipengaruhi oleh ajaran Islam yang secara kualitatif lebih maju daripada peradaban yang telah ada sebelumnya dan bersumber dari ajaran Hindu. Dalam kehidupan sosial-kemasyarakatan, Islam tidak mengenal pembagian kasta. Dalam aspek teologi, Islam mengajarkan teologi monotheisme, sementara Hindu berpegang pada ajaran polytheisme. Teologi monotheisme ini menjadi suatu daya tarik tersendiri bagi masyarakat Aceh dan Nusantara pada umumnya, sebab dengan itu mereka terbebaskan dari belenggu ketakhayulan dan kemusyrikan. Secara lebih rinci, Roeslan menyimpulkan pandangannya secara ringkas sebagai berikut.
a. Ajaran-ajaran Islam mengintrodusir suatu pandangan religius-monoteistis yang lebih maju dan lebih menarik daripada pandangan yang ada, dan karenanya merupakan suatu kekuatan pembebasan spiritual (a spiritual liberating force) terhadap berbagai macam dan bentuk ketahyulan serta kemusyrikan.
b. Para penyebar ajaran Islam yang datang pertama di daerah pesisir Aceh, Malaka, Palembang, Batam, Tuban, Gersik, dan sebagainya, baik mereka itu datang sebagai pedagang maupun sebagai da’i dan ulama, telah mengintrodusir suatu cara kehidupan kemasyarakatan yang baru tanpa diskriminasi kasta, berjiwa kewiraswastaan yang dinamis, dan yang merupakan suatu kekuatan pembebasan sosial (a social liberating force) terhadap masyarakat kerajaan-kerajaan feodal di pedalaman yang berkasta-kasta, dan yang masih berjiwa agraris statis. c. Penyebaran itu berlaku setapak demi setapak dan setingkat demi setingkat, tanpa paksaan
dan tanpa bentrokan bersenjata yang berarti; tidak dengan cara penaklukan atau parconquest, melainkan dengan cara penetrasi damai atau penetration pacifique; disertai dengan jiwa toleransi dan saling harga-menghargai antara para penyebar dan pemeluk agama baru dengan para pengikut agama Hindu-Budha lama.
d. Ringkasnya, masyarakat Indonesia pada waktu itu sedang mengalami suatu transformasi sosial yang hebat sekali, yaitu dari suatu masyarakat yang semula dominan agraris dan feodal ke arah suatu masyarakat baru dimana perdagangan, perniagaan, dan pelayaran lebih dominan;
24 Kedatangan Islam Ke Aceh dan dimana situasi statis memperoleh denyutan dinamis baru, terutama sehubungan dengan meningkatnya hubungan perdagangan bangsa kita dengan para pedagang dari Timur Tengah, khususnya dari Arab, Parsi, dan India serta dari Tiongkok yang menyelusuri seluruh kepulauan Nusantara; dan dimana pintu kepulauan Nusantara lebih terbuka lagi dalam hubungannya dengan dunia internasional pada waktu itu; dan dimana ajaran-ajaran Islam serta para penyebarnya ikut memberikan sumbangan yang sangat besar dan berharga bagi transformasi sosial itu, sekalipun feodalisme kuno belum terkikis habis oleh kedatangan Islam itu.69
Transformasi sosial-religius masyarakat dari ajaran Hindu-Budha kepada Islam (islamisasi) berlangsung relatif cepat di Aceh. Hal ini selain disebabkan oleh beberapa kelemahan dalam proses penyebaran dan sistem ajaran Hindu, juga dikarenakan oleh kelihaian para penyiar agama Islam dalam menjalankan misi mereka. Eratnya koneksi yang dibangun oleh para pedagang dan penyiar Islam dengan penguasa lokal merupakan salah satu faktor yang sangat menguntungkan dalam proses islamisasi Aceh. Dalam pandangan Djoko Surjo, dkk.,70 proses islamisasi yang dilakukan secara cepat di tengah-tengah masyarakat lokal yang memeluk agama Hindu dan Budha adalah sesuatu yang luar biasa. Keberlangsungan proses ini disinyalir didukung oleh tiga faktor penyebab, yaitu:
a. Kerajaan-kerajaan di Sumatera memiliki masyarakat yang plural (heterogen), sehingga tidak memiliki ikatan sosial-agama yang cukup kuat. Agama Hindu, Budha, dan Islam telah hidup berdampingan dengan pusat kerajaan beragama Hindu/Budha, namun di dalamnya telah terjadi tarik-menarik kepentingan politik. Kedatangan Syaikh Ismail rombongannya ke Aceh telah berhasil mempersatukan kekuatan orang-orang Islam untuk menghadapi persaingan politik dan ekonomi.
b. Keberadaan orang-orang Islam yang telah cukup lama di Aceh telah membentuk koloni-koloni, dan oleh kerajaan diberi hak yang cukup istimewa, baik secara politis maupun ekonomis. Tidak tertutup kemungkinan koloni Islam tersebut telah memiliki koneksi dengan sistem birokrasi pelabuhan. Hal ini menjadi penting mengingat hubungan dengan bandar laut berjalan beriringan dengan dominasi Islam Timur Tengah dalam pedagangan internasional. c. Kerajaan Hindu/Budha di Sumatera mulai melemah, terutama karena serangan Colamandala71
dan merosotnya dominasi India dan Cina dalam perdagangan internasional.
Faktor lain yang menyebabkan mudahnya perkembangan Islam di tengah-tengah masyarakat Hindu di Aceh diajukan oleh Wan Hussein Azmi. Menurutnya, setidaknya terdapat enam faktor yang mempermudah proses islamisasi Nusantara, yaitu:
a. Hubungan baik antara saudagar-saudagar Arab (penyiar Islam) dengan pihak pemerintah setempat;
b. Saudagar-saudagar Arab itu tidak mencampuri urusan politik;
69Roeslan Abdulgani, “Islam Datang ke Nusantara Membawa Tamaddun/Kemajuan/Kecerdasan”, dalam A. Hasjmy (peny.), Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, (Bandung: Al-Ma’rif, 1993), hal. 112-116.
70 Djoko Surjo, dkk., Agama …hal. 43-44.
71 Berdasarkan catatan dari Cina, di Sumatera terdapat beberapa kerajaan, tetapi tampaknya Kerajaan Lamuri yang terpenting bagi perkembangan Islam di kawasan ini. Kerajaan ini pernah diserang oleh Raja
c. Para saudagar itu mempraktekkan ajaran Islam terhadap diri mereka dan dalam berinteraksi dengan masyarakat;
d. Tidak ada pemaksaan dalam pendakwahan Islam;
e. Pendakwahan Islam berjalan menurut metode yang ditentukan Allah melalui Al-Quran; dan f. Keindahan ajaran Islam jika dibandingkan dengan ajaran-ajaran Hindu dan Budha yang
dianut oleh masyarakat.72
Berdasarkan paparan di atas, nyata terlihat bahwa transformasi keagamaan masyarakat dari Hindu-Budha kepada Islam berlangsung secara damai dan tanpa pemaksaan (penetration
pacifique).
Dalam tahap perkembangan Islam berikutnya, proses islamisasi juga dilakukan melalui pendekatan budaya. Salah satu unsur budaya yang cukup signifikan mempengaruhi alur perkembangan Islam di Aceh adalah kesenian. Tradisi kesenian yang telah mengurat-mengakar dalam kehidupan masyarakat Aceh, baik pra Islam maupun sesudahnya adalah hikayat. Bagi masyarakat Aceh, cerita-cerita yang dikisahkan dalam hikayat dimaknai sebagai peristiwa yang pernah terjadi di daerah mereka, bahkan beberapa di antaranya dianggap mengandung nilai-nilai historis. Karena itu, tradisi membaca hikayat tumbuh subur dalam rutinitas keseharian masyarakat Aceh, bukan sekedar media hiburan, tetapi lebih daripada itu sebagai media membangkitkan kembali kesadaran dan pemahaman akan sejarah mereka.
Menurut hasil penelitian yang dilakukan UU. Hamidy,73 tidak kurang dari 100 hikayat dan haba jameun pernah hidup dalam kehidupan masyarakat Aceh. Di antara hikayat tersebut ada yang diwarnai oleh pengaruh Hindu, termasuk animisme dan dinamisme. Dengan demikian terlihat jelas bahwa pada masa Aceh pra Islam, pengaruh Hinduisme telah dikokohkan dengan berbagai cara, termasuk melalui cerita-cerita rakyat seperti hikayat.
Ketika Islam masuk ke Aceh, salah satu upaya yang kiranya mesti dilakukan adalah menggoyahkan pengaruh Hindu dari pikiran masyarakat, termasuk yang diserap dari hikayat. Untuk itu, hikayat yang telah mendapat pengaruh Hindu tersebut disisipi dengan unsur-unsur Islam. Hamidy mengakui bahwa tidak mudah untuk memasukkan sisipan nafas Islam ke dalam cerita-cerita Hinduisme tersebut. Aspek-aspek yang sangat penting dipertimbangkan sebelum hal itu dilakukan adalah menjaga alur cerita sehingga tidak merusak nilai-nilai seni yang terdapat didalamnya. Aspek yang lain adalah sisipan tersebut jangan sampai merusak keaslian cerita, karena itu mestilah dilakukan sehemat mungkin.
Di antara sejumlah hikayat yang mendapat sisipan Islam, satu yang paling menonjol, menurut Hamidy adalah Hikayat Kancamara. Dalam hikayat ini, kebenaran agama Hindu mulai diperdebatkan melalui dialog yang dilakukan oleh Kancamara (pemuda beragama Islam) dengan seorang putri beragama Hindu, sebagaimana dikutip dari Hamidy disertai analisisnya:
Rajendra Cola I dari Kerajaan Cola Mandala (India Selatan) pada abad ke-10. Akan tetapi, penguasa Lamuri, Hamuridecam melakukan perlawanan yang hebat terhadap serangan itu, sehingga Lamuri dapat bertahan hingga abad ke-15. Baca, Ibid, hal. 42.
72 Wan Hussein Azmi, Islam di Aceh…hal. 182.
73Baca,UU. Hamidy, “Kebijaksanaan Mempergunakan Hikayat dalam PengembanganIslam di Aceh”, dalam A. Hasjmy (peny.), Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, (Bandung: Al-Ma’rif, 1993), hal. 349-355.
26 Kedatangan Islam Ke Aceh Kancamara : Seorang raja yang tidak mempunyai kekuasaan, tidak dapat mencegah rakyat berbuat jahat, baik terhadap hukum maupun adat, apakah raja itu kita turut dan kita sembah?
Tuan Putri : Raja itu tidak patut kita ikuti
(Ini adalah kiasan kepada orang yang menyembah berhala, padahal berhala itu tidak tahu apa-apa, sehingga tak ada gunanya disembah).
Kancamara : Apakah seorang menteri yang tiada tahu benar dan salah dalam perbuatannya, akan kita turut?
Tuan Putri : Tentu tidak akan kita turut
(Ini merupakan kiasan kepada orang yang mendewakan api, agar jangan menyembah api itu) Kancamara : Seorang raja zaman dahulu menetapkan harga padi 20 bambu, raja penggantinya menetapkan 10 bambu, lalu ketetapan mana yang kita turut? Tuan Putri : Tentu kita ikuti ketetapan 10 bambu
(Ini merupakan simbolik kepada nabi Muhammad sebagai nabi yang terakhir, sehingga hanya agama yang diajarkannya yang patut diturut).
Selain Hikayat Kancamara, masih banyak hikayat lain yang diwarnai ajaran Hindu telah disisipi dengan unsur-unsur ajaran Islam. Hal ini dilakukan sebagai salah satu upaya melakukan konversi keyakinan beragama masyarakat Aceh dari Hindu kepada Islam melalui pendekatan kebudayaan.