• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KONDISI LINGKUNGAN HIDUP DAN

2.3. Hutan Kota

Sampai dengan tahun 2010, hutan kota yang ada tersebar di 47 lokasi dan diperkirakan luasnya sekitar 571,82 Ha. Luas hutan kota ini jauh lebih besar dibandingkan dengan luas hutan alami

(hutan lindung dan hutan konservasi) yang ada di DKI Jakarta atau sekitar 70,68 persen dari total luas hutan di DKI Jakarta (809,00 Ha).

Hasil inventarisasi sumber daya hutan menurut fungsi dan tipe hutan pada tahun 2010 adalah sebagai berikut :

TABEL : II.2.

JUMLAH SUMBER DAYA HUTAN MENURUT FUNGSI DAN TIPE HUTAN DI DKI JAKARTA TAHUN 2010

NO FUNGSI

TIPE HUTAN

HUTAN BASAH HUTAN KERING

PAYAU RAWA GAMBUT PANTAI DATARAN TROPIK

RENDAH TROPIK DATARAN TINGGI 1. Hutan Produksi (HP) 1). HP Tetap a. Berhutan - - - - - - b. Tidak berhutan - - - - - - 2). HP Terbatas a. Berhutan - - - - - - b. Tidak berhutan - - - - - - 2. Hutan Lindung a. Berhutan 44,76 - - - - - b. Tidak berhutan - - - - - - 3. Hutan Konversi a. Berhutan - - - - - - b. Tidak berhutan - - - - - - 4. Hutan Konservasi 1). Cagar Alam a. Berhutan 18,00 - - - - - b. Tidak berhutan - - - - - - 2). Satwa Margasatwa a. Berhutan 70,20 - - - - - b. Tidak berhutan - - - - - -

3). Taman Wisata Alam

a. Berhutan 99,82 - - - - -

b. Tidak berhutan - - - - - -

JUMLAH 188,02 - - - - -

Sumber : Dinas Pertanian dan Kelautan Provinsi DKI Jakarta, 2010 Keterangan :

Sedangkan hasil inventarisasi diperoleh hasil bahwa selama tahun 2010 tidak terjadi perubahan luas. Secara lengkap lokasi dan luas hutan kota Provinsi DKI Jakarta adalah sebagai berikut :

TABEL : II.3.

LOKASI HUTAN KOTA PROVINSI DKI JAKARTA, 2010

(0,00 Ha)

KOTAMADYA NAMA/LOKASI HUTAN KOTA L U A S

Jakarta Selatan 1. Kampus UI Depok 55,40

2. Situ Babakan 3,00

3. Kebun Binatang Ragunan 140,00

4. Situ Mangga Balong 2,00

5. Blok P 1,64 6. Pondok Indah 3,90 7. Kampus ISTN 1,10 8. Kali Pesanggrahan 10,00 9. Yonzikon 13 2,88 10. Kelurahan Ciganjur 22,56 11. Arhanud SE-10 9,82

12. Sespolwan Kebayoran Lama 30,00

13. Seskoal 8,75

14. Marinir Cilandak 28,50

15. TMP Kalibata 5,00

16. Gudang Peluru Marinir 65,00

17. GOR Ragunan 4,00

18. Manggala Wana Bhakti 4,30

19. Gelora Bung Karno 3,60

Jakarta Timur 1. Mabes TNI Cilangkap 14,43 2. Komplek Linud Halim PK 3,50

3. Arboretum Cibubur 25,58

4. PT. JIEP Pulogadung 8,90

5. Situ Rawa Dongkal 3,28

6. Komplek Kopasus Cijantung 1,75 7. Gedung Pemuda Cibubur 5,00 8. Bumi Perkemahan Cibubur 27,32 9. Fly over Kampung Rambutan 3,00 10. Museum Purnabakti, TMII 3,00

11. Viaduct Klender 4,00

12. Kelurahan Pondok Kelapa 3,00

13. BPLIP Pulogadung 3,00

14. Kawasan Pulomas 3,00

15. Kelurahan Kelapa Dua Wetan 4,00

16. Kelurahan Cawang 5,85

17. Kawasan Mabad. Kalisari 1,00

18. Waduk Bea Cukai 2,30

Jakarta Pusat 1. Eks Bandara Kemayoran 4,60

2. Manggala Wana Bhakti 4,30

sambungan

(0,00 Ha)

KOTAMADYA NAMA/LOKASI HUTAN KOTA L U A S

3. Gelora Bung Karno 3,60

4. Masjid Istiqlal 1,08

Jakarta Barat 1. LPA. Srengseng 15,00

2. Yayasan Said Naum 2,50

Jakarta Utara 1. Waduk Pluit 6,00

2. Danau Sunter 8,20

3. PT. Jakarta Propertindo 2,49 4. Kawasan Berikat Nusantara (KBN) 1,59 5. Kuburan Belanda, Ancol 3,00 6. Kali Karang (Seratus Kota) 2,00 7. PT. Astra Honda Motor 4,00 8. Eks Babeks Sungai Bambu 3,00

JUMLAH LUAS HUTAN KOTA 571,82

Sumber : Dinas Pertanian dan Kelautan Provinsi DKI Jakarta, 2010 Keterangan :

Uraian deskripsi hutan kota kawasan Provinsi DKI Jakarta, pada hakekatnya mencakup dasar penetapan lokasi (status kawasan), letak dan luas lokasi, pencapaian lokasi (status aksesibilitas), konfigurasi lapang, iklim dan hidrologi, habitat dan keanekaragaman hayati, fungsi dan manfaatnya, yang secara rinci diuraikan sebagai berikut.

1). Hutan Kota Srengseng Jakarta Barat

Kawasan hutan Srengseng ditetapkan berdasarkan SK Gubernur DKI Jakarta Nomor 202 Tahun 1995, yang difungsikan sebagai wilayah resapan air dan plasma nutfah, lokasi wisata dan center aktivitas masyarakat.

Hutan Kota Srengseng pada hakekatnya merupakan tipe hutan konservasi resapan air, seluas 15 Ha dan secara geografis terletak pada 6O13’12” LS dan 106O49” BT. Berdasarkan wilayah adminstrasi pemerintahan kawasan ini termasuk wilayah kota Jakarta Barat, Kecamatan Kembangan, Kelurahan Srengseng. Hutan Kota Srengseng terletak di Jalan Haji Kelik, Srengseng wilayah Jakarta Barat.

Kawasan ini terletak pada akses Jalan Srengseng Raya, yang dapat dicapai melalui jalan Tol Merak-Jakarta, jalan Kebayoran Lama dan Cileduk Raya. Sisi utara dan selatan hutan tersebut berbatasan langsung dengan jalan raya dan Sungai Pesanggrahan, dan bagian lainnya dibatasi dengan kawasan permukiman terutama dari kelompok sosial menengah dan penduduk asli kawasan tersebut.

Konfigurasi lapangan kawasan ini merupakan hamparan dataran dengan kemiringan lereng 0-3 persen (7,4 Ha), landai dengan kemiringan lereng 8-25 persen (2,10 Ha) dan sisanya merupakan hamparan gelombang agak dengan kemiringan lereng >25 persen (1,20 Ha). Tapak memiliki topografi yang bervariasi yaitu dengan area datar, landai, agak curam dan curam. Pohon-pohon yang tumbuh di area yang cekung diantaranya jenis Akasia, Ketapang, Flamboyan dan Jati. Jenis yang lebih banyak tumbuh di areal datar dan landai. Areal yang cekung jika dialiri air yang drainasenya kurang baik karena berbentuk memutar di dalam kawasan hutan kota dari kali Pesanggrahan akan menuju blok rawa. Pada areal yang datar terdapat areal bekas pembuangan sampah. Jenis yang tumbuh di areal ini adalah jenis Mahoni, Lamtoro dan Bintaro.

Habitat kawasan hutan kota ini, terdiri dari tiga bentuk ekosistem perairan, pembangunan tata hijau dan bentuk konfigurasi lapangan yang relatif beragam komponen pembangunan tata hijau yang merupakan wujud hutan kota. Jenis-jenis pohon yang tumbuh di hutan kota Srengseng sebanyak 65 jenis pohon, Jenis yang mendominasi lokasi ini adalah Akasia (Acasia auricoformis) yang terdapat plot. Kondisi hutannya mencerminkan bentuk hutan yang telah kembali hijau dari kondisi yang sebelumnya dengan terlihat beberapa lapisan tajuk yang terbentuk, baik pada lapisan tajuk teratas, dibawahnya dan tumbuhan bawah. Jenis yang dikembangkan merupakan koleksi dari berbagai tetumbuhan yang dinilai dapat berfungsi sebagai penyangga kehidupan dan kenyamanan serta merupakan kawasan resapan air untuk kepentingan tata air tanah (hidrologis).

Pada lokasi hutan kota Srengseng ini terdapat 4 layer dengan kerapatan rata-rata 2.570 Ind/Ha. Stratafikasi yaitu strata I, strata II, strata III dan strata IV. Jenis-jenis vegetasi pada setiap plot terdapat pada strata IV tersebut dari jenis vegetasi yang lebih banyak dibandingkan pada strata lainnya. Vegetasi pada strata IV tersebut jenis vegetasi yang berupa pohon menghasilkan bunga, buah maupun yang dapat mendatangkan serangga sebagai pakan burung.

Kawasan hutan ini berfungsi sebagai kawasan lindung baik flora dan fauna, juga dimanfaatkan sebagai kawasan rekreasi, wahana penelitian plasma nutfah dan pelatihan bagi petugas pengelola hutan kota di seluruh DKI Jakarta dan sekitarnya.

Fasilitas yang terdapat di hutan kota Srengseng sudah sangat lengkap bila di bandingkan dengan hutan kota lainnya diantaranya adalah :

 Taman rekreasi beserta beberapa jenis mainan anak-anak.  Gapura hutan kota yang cukup megah yang dibangun tahun 2007.  Tempat parkir yang cukup luas dan memadai.

 Menara pengamatan yang digabung dengan fasilitas papan panjat.

2). Hutan Kota Kampus UI Jakarta Selatan

Hutan kota Kampus Universitas Indonesia ditetapkan berdasarkan SK Rektor UI Nomor 84/SK/12/1988, tanggal 31 Oktober 1988 lalu diperbaharui dengan SK Gubernur Nomor 3487/1999 dengan nama Mahkota Hijau, yang difungsikan sebagai wilayah resapan air, wahana koleksi pelestarian plasma nutfah, wahana penelitian dan sarana rekreasi alam. Hutan kota kampus Universitas IndonesiaI seluas 55,40 Ha secara geografis terletak pada 6O20’45” LS dan 106O49’15” BT.

Hutan kota kampus Universitas Indonesia berdasarkan wilayah administrasi pemerintahan 55,40 Ha kawasan ini termasuk wilayah Kota Jakarta Selatan, Kecamatan Jagakarsa, Kelurahan Srengseng Sawah dan selebihnya wilayah Depok (34,6 Ha) Provinsi Jawa Barat. Sejak 5 September 1987, UI secara resmi menempati kampus baru seluas 318 Ha yang berlokasi di Depok (wilayah perbatasan Jakarta Selatan dan Jakarta Barat), disamping kampus lama jalan Salemba 4 seluas 93.850 M2 dan jalan Pegangsaan Timur seluas 7.703 M2 keduanya di Jakarta. Pada tanggal 26 Desember 2000, UI ditetapkan sebagai Perguruan Tinggi Negeri Mandiri berstatus Badan Hukum Milik Negara (BUMN) atau Autonomus Public University. Dalam status hukum tersebut UI wajib mengedepankan kinerja pengelolaan sebuah universitas publlik dengan prinsip-prinsip efisien, efektivitas, akuntabilitas dan transparansi. Hutan kota kampus UI berbatasan langsung dengan pusat kegiatan/aktivitas yang terletak di kota Depok. Wilayah kampus UI beserta hutan kotanya sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Jagakarsa, Kelurahan Srengseng Sawah Jakarta Selatan, sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Beiji Timur Kota Depok, sebelah timur berbatasan dengan Kelurahan Pondok Cina Kota Depok. Hutan Kota UI dapat ditempuh dengan jalan kaki maupun dengan kendaraan roda dua.

Konfigurasi lapangan kawasan ini merupakan hamparan landai dengan kisaran 3-8 persen seluas (76,4 Ha) dan bergelombang ringan, dengan kemiringan lereng 8-25 persen (13,6 Ha), pada ketinggian tempat 74 meter dari permukaan laut. Dalam alokasi pembangunan hutan kota di kawasan ini terdiri dari dua kelompok, yaitu [a] pembangunan ekosistem perairan seluas 10,4 Ha dan [b] pembangunan hutan kota seluas 79,6 Ha. Keadaan topografi di kampus UI-Depok berdasarkan peta topografi tanah Kota Depok berupa hamparan landai dengan kisaran 3-8 persen (76,4 Ha) yang pada awalnya didominasi oleh penggunaan tanah sawah, hutan karet dan perkampungan. Pada saat sekarang sebagian lahan dimanfaatkan untuk pembangunan fasilitas akademik, selain itu memiliki lahan bergelombang ringan dengan kemiringan lereng 8-25 persen (13,6 Ha) yang terdapat disepanjang bibir lembah kampus UI pada ketinggian tempat 74 meter dari permukaan laut.

Habitat kawasan hutan kota ini terdiri dari dua bentuk ekosistem [a] ekosistem perairan yang merupakan wahana tandon perairan (situ), dan [b] kawasan hutan kota yang direncanakan sebagai wahana koleksi pelestarian plasma nutfah, yang diupayakan dalam bentuk tiga ekosistem yaitu [a] pepohonan yang berasal dari Wales Barat, [b] pepohonan yang berasal dari Wales Timur dan [c] vegetasi asli Jakarta dan sekitarnya. Komponen pembangunan Mahkota Hijau hutan kota Kampus UI yang merupakan wujud hutan kota, dari rencana 184 jenis yang akan dibudidaya, dan baru terealisasi sebanyak 41 jenis.

Adapun satwa yang ada di kawasan kampus UI-Depok beserta hutan kotanya terdiri dari Burung, Tikus, Ikan, Katak dan beberapa satwa liar seperti Ular, Kadal, Bunglon serta jenis Serangga. Untuk jenis burung terdiri 56 jenis. Burung-burung itu dalam tujuh habitat berbeda, yaitu danau, empang, sawah, alang-alang, tegalan, kebun, karet dan hutan penghijauan. Diantaranya banyak dijumpai yaitu Bondol jawa (lonmchura linchi), Bondol dada sisik (lonchura ponctulata), burung Cabe (dicaeum trochileum), serta Walet sapi (collocalia linchi). Untuk jenis Tikus besar di kampus UI ada 5 (lima) yaitu rattus tiomanicus, rattus diardi, rattus norvegius, rattus exulans, bandicota indica. Jenis rayap subteran yang banyak adalah macrotelmes gilvus. Sedangkan untuk jenis Molusca air tawar ditemukan Gondang (pila scutata), Bellamya javanica, Remis (corbicula javanica), Kijing (pilsbryconcha exilis), Keong mas (pomacea sp).

Kawasan hutan ini selain berfungsi sebagai kawasan resapan air, kawasan lindung pelestarian plasma nutfah, juga dimanfaatkan sebagai wahana biodiversitas (keanekaragaman hayati), bagi mahasiswa biologi, farmasi, geografi, kimia dan fakultas sastra, serta sebagai kawasan rekreasi baik bagi masyarakat kampus maupun masyarakat sekitarnya. Disisi lain kawasan ini juga dipergunakan sebagai penyuluhan mahasiswa tentang arti penting lingkungan tata hijau diwilayah perkotaan, pramuka maupun pecinta alam.

Fasilitas yang ada di sekitar kawasan hutan kota kampus UI di Depok terdiri dari fasilitas pendidikan dengan terdapatnya Fakultas Ekonomi, Fakultas Hukum, Fisip, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Komputer, Fakultas MIPA, Fakultas Politeknik, Fakultas Psikologi, Fakultas Sastra, Fakultas Teknik, Pusat Antar Universitas, Pusat Studi Jepang, Perpustakaan Pusat maupun fakultas masing-masing, serta laboratorium tanaman obat dan rumah kaca. Fasilitas peribadatan berupa mesjid UI. Fasilitas olah raga berupa lapangan bola kaki, lapangan hocky, lapangan basket, lapangan bulu tangkis, lapangan tenis, lapangan parkir, lapangan volly, serta adanya fasilitas pendukung berupa guest house, Pusgiwa, rumah makan, halte. Sedangkan dalam hutan kota UI terdapat shelter-shelter peristirahatan, plang peringatan, plang hutan kota, menara pengamatan dan beberapa tempat sampah. Fasilitas-fasilitas ini merupakan satu kesatuan dari rancangan yang tidak bisa dipisahkan karena di dalam pengembangannya seluruh potensi ini akan saling mendukung.

3). Hutan Kota Waduk Sunter

Kawasan hutan kota waduk Sunter Utara, dilingkungan komplek perumahan Sunter yang dikelola oleh Badan Pengelola Sunter, ditetapkan oleh Wali Kota Jakarta tahun 1988 dan diperbarui dengan SK Gubernur Nomor 317/1999, yang merupakan bagian ruang terbuka hijau penyangga permukiman.

Luas kawasan hutan kota berdasarkan penetapannya 8,20 Ha, yang secara geografis terletak pada 6O51’23” LS dan 106O54’39” BT. Berdasarkan wilayah administrasi pemerintahannya, kawasan ini termasuk dalam wilayah kota Jakarta Utara, Kecamatan Tanjung Priok dan Kelurahan Papanggo.

Untuk mencapai kawasan ini, dapat melalui jalan Tol Ir. Wiyoto Wiyono (Cililitan-Tanjung Priok), menuju kearah perumahan Sunter melalui jalan raya menuju ke PRJ. Selain itu bisa juga ditempuh melalui kawasan Ancol menuju Kemayoran lalu langsung ke arah Waduk Sunter. Konfigurasi lapangan kawasan ini merupakan hamparan dataran rendah, situasi tapak yang telah direkayasa (galian/timbunan), dengan ketinggian tempat ± 2,4 meter dari permukaan laut. Kawasan hutan ini dibangun pada bagian menyusur kawasan danau, yang merupakan satu kesatuan ekosistem.

Kawasan hutan kota ini, terbentuk dalam satu kesatuan areal yang kompak di sekitar situ-situ yang luasnya 40,0 Ha. Jenis pepohonan yang dibudidayakan, pada hakekatnya merupakan jenis terpilih yang fungsi jasa biologisnya dapat diandalkan untuk melerai berbagai jenis pencemaran udara. Dalam rencana pengembangannya kawasan ini akan diupayakan dengan berbagai macam jenis, namun hingga kini baru terbudidaya tanaman Mahoni (sweitania mahagoni), Ketapang (terminalia catapa), Trembesi (samanea saman), Angsana (pterocarpus indicus), Flamboyan (delonix regia), Bungur (lager stromea speciosa), Kiara payung (filicium deficien), Glondongan (plyanthia sp), Tanjung (mimomosops elengi), Bambu apus (bambusa sp), Kelapa (coco nucifera), Kaya (kaya anthoteca), Melina (gmelina arborea), dan beberapa jenis lainnya. Nilai kerapatan pohon pada lokasi ini pada berbagai plot sangat berbeda-beda dan didapatkan rata-rata 1500 – 2445 Ind/Ha.

Satwa liar yang sering dijumpai adalah jenis burung, seperti Emprit (lonchura sp), Prenjak (prinia sp), Bondol (lanchura sp), dan Kutilang (pycnonotus surigaster). Sedangkan jenis-jenis satwa liar yang ada antara lain, Kadal (mabuia sp), Tikus (raffus sp), dan beberapa jenis serangga meliputi Kupu Kuning, Belalang, Kalajengking dan beberapa jenis lainnya.

Kawasan hutan ini selain berfungsi sebagai kawasan penyangga lingkungan permukiman, pengendali intrusi laut, sangtuari satwa, koleksi pelestarian plasma nutfah, dan wahana rekreasi/wisata.

Fasilitas-fasilitas yang terdapat di hutan kota waduk Sunter belum banyak karena masih dalam tahap proses perlindungan habitat dan penanganan sampah.

4). Hutan Kota Kemayoran

Hutan kota eks Bandara Kemayoran, penetapan lokasinya didasarkan atas Surat Mensekneg Nomor R/34M/Sekneg/16/1987, yang merupakan bagian ruang terbuka hijau lingkungan komplek Pekan Raya Jakarta (PRJ). Status hukumnya diperbarui oleh SK Gubernur DKI Jakarta Nomor 339/2002. Lokasi ini merupakan suatu areal konservasi yang sengaja dibuat dan direncanakan dalam kota baru Bandar Kemayoran yang didalamnya terdapat waduk buatan yang mengatur keluar masuknya air. Fungsi dari waduk ini salah satunya untuk mengontrol banjir dengan pengendalian yang dibantu oleh rumah pompa.

Luas kawasan hutan kota ini berdasarkan penetapannya 4,60 Ha walaupun luas secara keseluruhan 52,5 Ha yang secara geografis terletak pada 6O10’07” LS dan 106O38’32” BT. Berdasarkan wilayah administrasi pemerintahannya, kawasan ini termasuk dalam wilayah kota Jakarta Pusat, Kecamatan dan Kelurahan Kemayoran.

Untuk mencapai kawasan ini, dapat ditempuh melalui jalan Tol Cawang-Tanjung Priok, jalan Raya Cempaka Putih, dan atau melalui jalan Raya Gunung Sahari.

Kawasan ini mempunyai topografi yang relatif datar dengan kemiringan lahan sekitar 1 persen dan berada pada ketinggian 2,0-3,0 meter dpl. Lokasi terletak berdekatan dengan laut walaupun tidak berbatasan langsung dengan laut.

Kawasan hutan kota Kemayoran pada hakekatnya sangat dipengaruhi oleh intrusi air laut, terutama musim kemarau. Dalam hutan itu tumbuhan yang mampu beradaptasi dengan jenis-jenis spesifik, yang merupakan koleksi dari berbagai jenis-jenis tumbuhan yang dinilai dapat berfungsi sebagai penyangga kehidupan, khususnya dalam upaya mengendalikan lingkungan fisik kritis di wilayah perkotaan dan penyangga fungsi tata air tanah (hidroologis), yang antara lain meliputi Flamboyan (delonix regia), Trembesi (samanea saman) dan beberapa jenis lainnya.

Kerapatan pohon secara plot sangat berbeda sekali, pada beberapa lokasi kerapatan bisa mencapai nilai 10.000 Ind/Ha sedangkan di plot lainnya ada yang hanya 500 Ind/Ha. Hal ini tidak berarti negatif tetapi karena adanya penghijauan dan rehabilitasi tanaman yang menggunakan jarak tanam 1x1 M.

Satwa liar yang sering dijumpai adalah jenis burung, seperti Emprit (lonchura sp), Prenjak (prinia sp), Bondol (lanchura sp), dan Kutilang (Pycnonotus surigaster). Sedangkan jenis-jenis satwa yang ada antara lain, Kadal (mabuia sp), Tikus (raffus sp), dan beberapa jenis serangga meliputi Kupu kuning, Belalang, Kalajengking dan beberapa jenis lainnya.

Kawasan hutan ini selain berfungsi untuk tujuan konservasi lingkungan sehingga yang dikembangkan tidak hanya keindahan tetapi juga berfungsi untuk mengontrol lingkungan, menciptakan iklim mikro yang nyaman bagi manusia dengan mempengaruhi radiasi matahari, temperatur udara, pergerakan angin dll. Selain itu juga sebagai kawasan penyangga lingkungan fisik kritis perkotaan dan kawasan pencegah intrusi air laut, wahana koleksi keanekaragaman jenis dan plasma nutfah, dan santuari satwa, serta sebagai kawasan rekreasi.

Fasilitas yang terdapat di hutan kota kemayoran adalah sebagai berikut :  Pintu air yang melancarkan perputaran air.

 Gerbang hutan kota dan pagar yang berfungsi sebagai pengaman.

 Beberapa jembatan yang menghubungkan lokasi-lokasi di dalam hutan kota.  Menara pengamat yang berada di tengah berfungsi sebagai pengamanan. 5). Hutan Kota Komplek Lanud Halim Perdanakusumah Jakarta Timur

Hutan kota Komplek Lanud Halim Perdanakusumah merupakan bagian dari ruang terbuka hijau Angkatan Udara RI, yang ditetapkan berdasarkan SK Komando Lanud Nomor Shep/14/X/1988 tanggal 21 Oktober 1988 dan diperbarui dengan SK Gubernur Nomor 338/2002. Kawasan ini pada hakekatnya telah ditetapkan sebagai wahana penyangga lingkungan kedirgantaraan dan sebagai wahana koleksi pelestarian plasma nutfah dari berbagai macam jenis pepohonan, yang sekaligus bergabung dengan lapangan golf Halim.

Hutan kota Lanud Halim, yang pada awalnya direkomendasikan seluas 300 Ha kemudian tinggal 70 Ha, karena keperluan lahan untuk keperluan komplek. Ketetapan berikutnya hanya 3,5 Ha karena ada konservasi untuk kepentingan lain. Secara geografis kawasan terletak pada 6O47’11” LS dan 106O47’10” BT dan berdasarkan wilayah administrasi pemerintahannya, termasuk dalam wilayah Kota Jakarta Timur, Kecamatan Makasar, Kelurahan Halim Perdanakusumah. Wujud hutan kota ini tertata berbeda dengan kawasan hijauan di sekitarnya, yang merupakan hamparan padang Golf. Hal ini dimaksudkan sebagai salah satu upaya memanfaatkan fungsi jasa biologis tetumbuhan dalam meredam kebisingan suara kapal terbang, sebagai peredam bagi bangunan yang berjarak kurang dari 700 meter dari pusat perkantoran Lanud Halim.

Untuk mencapai kawasan ini, dapat memanfaatkan akses jalan Raya Pondok Gede-Bekasi dan atau dari jalan Raya Bogor (Cililitan) menuju kearah komplek Lanud Halim.

Konfigurasi lapangan kawasan ini merupakan dataran hingga bergelombang ringan, dengan kisaran kemiringan lereng 3-9 persen, kawasan ini dilintasi oleh anak cabang sungai Cipinang, dengan ketinggian tempat berkisar 35 meter dari permukaan laut. Pada lokasi yang merupakan dataran rendah, sering terjadi penggenangan air limpasan sesaat.

Kawasan hutan kota Lanud Halim, mewujudkan habitat tetumbuhan yang berbeda dengan hamparan tetumbuhan lainnya. Hal ini terlihat jelas apabila dibandingkan dengan hamparan tata hijau pada kawasan lapangan golf. Jenis tetumbuhan di kawasan hutan kota ini, merupakan koleksi dari berbagai jenis tetumbuhan yang dinilai fungsi jasa biologis dapat meredam kebisingan. Dalam kawasan hutan kota ini semak belukar merupakan ciri khas, ditambah dengan hasil budidaya pembangunan hutan kota yang meliputi jenis Kirai payung (Fillcium defisien), Angsana (pterocarpus indicus), Saga (andenanthera sp), Kayu manis (vitis vinisera), dan beberapa jenis Jambu-jambuan (Eugenis sp), sedangkan pada lokasi yang terbuka dibudidayakan dengan jenis Mangium (Acacia mangium), Sengon (paraserianthes falcataria) dan Melina (gmelina arborea). Kerapatan pohon Ind/Ha pada lokasi hutan kota Halim Perdana Kusumah secara rata-rata hanya didapatkan 1430 Ind/Ha. Hal ini disebabkan banyaknya lokasi-lokasi yang sama sekali belum ditanami dan hanya berupa semak belukar dan alang-alang. Jadi hanya sebagian kecil saja dari seluruh kawasan hutan kota yang mempunyai vegetasi terutama pada lokasi sekitar waduk.

Satwa liar yang jarang adalah jenis burung, hal ini nampaknya akibat pengaruh kebisingan pesawat terbang. Sedangkan jenis satwa liar yang ada antara lain Kadal (mabuia sp), Tikus (raffus sp), dan beberapa jenis serangga yang meliputi Kupu kuning, Belalang.

Kawasan hutan ini selain berfungsi sebagai kawasan penyangga lingkungan fisik kritis perkotaan dari gangguan kebisingan, juga merupakan wahan koleksi keanekaragaman jenis dan plasma nuftah, serta segaia kawasan rekreasi dan olah raga. Karena letaknya di tengah kota dan komplek perumahan maka tanaman yang di tanam adalah vegetasi yang mampu menyerap polusi dan penghasil O2 yang banyak.

Fasilitas-fasilitas yang ada di hutan kota ini sangat minim sekali hanya ada plang dan fasilitas sederhana.

6). Hutan Kota Komplek Kopassus Cijantung

Hutan kota komplek Kopasus Cijantung, dikenal dengan nama “Hutan Kalimantan”. Dasar penetapan kawasannya atas surat persetujuan dari pengelola Komplek Kopasus Cijantung tahun 1989, yang merupakan bagian tata ruang terbuka hijau penyangga lingkungan kehidupan dan wilayah resapan air tanah (hidrologis). Secara hukum diperbarui dengan melalui SK Gubernur Nomor 868/2004.

Luas kawasan hutan kota berdasarkan penetapannya 1,75 Ha, yang secara geografis terletak pada 6O11’11” LS dan 106O49’21” BT. Berdasarkan wilayah administrasi pemerintahannya, kawasan ini termasuk dalam Wilayah Kota Jakarta Timur, Kecamatan Pasar Rebo dan Kelurahan Cijantung.

Untuk mencapai kawasan ini, dapat ditempuh melalui jalan Tol TB. Simatupang (Kampung Rambutan-Pondok Pinang), jalan Raya Bogor.

Konfigurasi lapang kawasan ini merupakan hamparan dataran hingga gelombang ringan, dengan ketinggian tempat ± 67 meter dari permukaan laut. Kawasan hutan ini dibangun menyusuri kawasan komplek Kopasus, dan merupakan satu kesatuan hutan dengan ketebalan rata-rata 30-40 meter.

Kawasan hutan kota ini, terbentuk dalam satu kesatuan areal yang kompak di sekitar situ-situ yang luasnya 0,5 Ha. Jenis pepohonan yang dibudidayakan, pada hakekatnya merupakan jenis terpilih yang fungsi jasa biologisnya dapat diandalkan untuk melerai berbagai jenis pencemaran udara. Dalam rencana pengembangannya kawasan ini akan diupayakan dengan berbagai macam jenis, namun hingga kini baru tanaman Mahoni (sweitania mahagoni), Ketapang (terminalia catapa), Trembesi (samanea saman), Angsana (pterocarpus indicus), Flamboyan