BAB II KONDISI LINGKUNGAN HIDUP DAN
B. Keanekaragaman Hayati
1. Air Tanah
1.4. Status Mutu Air Tanah (Indeks Pencemaran) di Jakarta
Status mutu air tanah digambarkan dengan Indeks pencemaran (Pollution Index) yang merupakan indeks yang digunakan untuk menentukan tingkat pencemaran relatif terhadap parameter kualitas air yang diijinkan. Pengelolaan dengan Indeks Pencemar dapat memberi masukan pada pengambil
keputusan agar dapat menilai kualitas air serta melakukan tindakan tertentu untuk memperbaiki kualitas air jika terjadi penurunan kualitas akibat kehadiran senyawa pencemar. Indeks Pencemaran air tanah di Provinsi DKI Jakarta tersaji pada Tabel : II.18.
TABEL : II.18.
STATUS MUTU (INDEKS PENCEMARAN) AIR TANAH PROVINSI DKI JAKARTA, 2009
KATEGORI 2007-2008 2009
JML TITIK PERSENTASE JML TITIK PERSENTASE
Baik 19 25% 17 23%
Cemar Ringan 32 43% 31 41%
Cemar Sedang 15 20% 14 19%
Cemar Berat 9 12% 13 17%
Sumber : BPLHD Provinsi DKI Jakarta, 2009 Keterangan :
Kondisi Indeks Pencemaran Air Tanah di DKI Jakarta pada tahun 2009 kondisinya memburuk bila di bandingkan dengan periode tahun 2007-2008. Secara keseluruhan kualitas air tanah umumnya dalam kondisi tercemar ringan namun mengingat tingginya kandungan bakteri Fecal coli dan Coliform pada air tanah yang rata-rata telah melebihi baku mutu, maka penggunaan air tanah sebagai bahan baku air minum tidak direkomendasikan.
Dari hasil pemantauan air tanah di DKI Jakarta, secara umum dapat disimpulkan sebagai berikut : 1). Parameter Fisik
Hasil pemantauan menunjukkan bahwa parameter Fisik air tanah yang berupa TDS (Total Padatan Terlarut) dan kekeruhan di seluruh wilayah DKI Jakarta rata-rata masih baik, namun untuk wilayah Timur kondisinya lebih buruk dibandingkan dengan wilayah lain dimana untuk parameter TDS ada tiga titik yang telah melebihi baku mutu . Demikian pula untuk parameter Kekeruhan di Jakarta Timur dan Utara ada beberapa titik yang telah melebihi baku mutu. 2). Parameter Kimia
Kondisi parameter kimia air tanah mengalami tren yang bervariasi antara lain sebagai berikut : Parameter Besi (Fe) : Secara umum kondisi konsentrasi besi masih berada dalam kondisi
yang relatif baik yaitu sebagian besar masih berada dibawah baku mutu bahkan konsentrasinya tidak terdeteksi. Persentase wilayah yang melebihi baku mutu yaitu sebesar 9 persen, kondisi ini memburuk dibanding tahun sebelumnya yang hanya 5 persen melebihi baku mutu.
Parameter Mangan (Mn) : Pada parameter ini wilayah yang melebihi baku mutu cukup banyak dan rata-rata disemua wilayah ada beberapa titik yang konsentrasi Mn-nya telah
melebihi baku mutu. Persentase konsentrasi Mn yang telah melebihi baku mutu di Provinsi DKI Jakarta sebesar 27 persen bila dibandingkan tahun sebelumnya maka kondisi ini membaik dimana pada periode 2007-2008 persentase titik pantau yang telah melebihi bakumutu adalah 33 persen.
Parameter Detergen (MBAS) : Secara keseluruhan persentase wilayah yang telah melebihi baku mutu untuk konsentrasi Detergent adalah 5 persen, hal ini memburuk bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya 1 persen. Wilayah tertinggi dengan pencemaran Detergen adalah Wilayah Jakarta Timur.
Parameter Organik : Kondisi Organik dibeberapa wilayah telah melebihi baku mutu di wilayah Jakarta Utara 53 persen, Jakarta Barat 13 persen dan Jakarta Timur 12 persen. 3). Parameter Mikrobiologi
Bakteri Coliform; Rata-rata disemua wilayah ada beberapa titik yang telah melebihi baku mutu. Persentase yang telah melebihi baku mutu di DKI Jakarta sebesar 55 persen.
4). Indeks Pencemaran
Status mutu air tanah di DKI Jakarta pada tahun 2009 termasuk dalam kategori baik sampai tercemar berat, dengan rincian kategori baik sebesar 23 persen, tercemar ringan 41 persen, tercemar sedang 19 persen, dan tercemar berat 17 persen. Kondisi ini lebih buruk jika dibandingkan dengan tahun 2007-2008 dimana kategori baik sebesar 25 persen, tercemar ringan 43 persen, tercemar sedang 20 persen dan tercemar berat 12 persen.
Dari hasil pemantauan air tanah di DKI Jakarta, upaya yang perlu dilakukan dalam menindaklanjuti hasil penelitian tersebut di atas, adalah :
1). Perlu peningkatan jumlah lokasi dan frekuensi pemantauan sehingga didapatkan gambaran kondisi air tanah di Wilayah DKI Jakarta yang lebih mewakili masing-masing karakter lokasi. 2). Untuk meningkatkan kualitas air tanah perlu adanya sosialisasi kepada masyarakat tentang
pentingnya sanitasi serta persyaratan teknis pembangunan sumur.
3). Perlu adanya koordinasi dengan instansi terkait dalam upaya melakukan pengelolaan kualitas air tanah secara terintegrasi.
4). Perlu adanya sosialisasi warga Jakarta, agar membuat sumur resapan dimana sampai tahun 2009 sebanyak 83.064 buah di 4 wilayah kota yaitu Jakarta Selatan sebanyak 23.825 buah, wilayah Jakarta Timur sebanyak 30.743 buah, wilayah Jakarta Pusat sebanyak 9.152 buah dan wilayah Jakarta Barat sebanyak 19.344 buah, sedang Jakarta Utara masih sangat sedikit selain hal tersebut mulai tahun 2006 semua pembangunan rumah baru dan pengurusan UKL-UPL dan Amdal wajib melakukan pembuatan sumur resapan, dan Jumlah Lubang Resapan Biopori
pada tahun 2009 adalah sebanyak 716.808 buah dimana untuk Jakarta Pusat sebanyak 77.251 buah, Jakarta Timur sebanyak 77.474 buah, Jakarta Barat sebanyak 349.599 buah, Jakarta Utara sebanyak 29.240 buah, Jakarat Selatan sebanyak 182.644 buah dan Kepulauan Seribu sebanyak 600 buah dan jumlah lubang Biopori di wilayah DKI Jakarta pada tahun 2010 sebanyak 1.958.301 buah dengan rincian wilayah Jakarat Selatan sebanyak 249.300 buah, wilayah Jakarta Pusat sebanyak 339.504 buah, wilayah Jakarta Timur sebanyak 414.050 buah, wilayah Jakarta Barat sebanyak 445.312 buah, wilayah Jakarta Utara sebanyak 509.535 buah dan wilayah Kepulauan Seribu sebanyak 600 buah.
2. Situ-situ (Waduk)
Keberadaan situ-situ di Propinsi DKI Jakarta sangat penting artinya bagi kelangsungan kehidupan di perkotaan, karena mempunyai fungsi sebagai tempat cadangan air tanah disaat musim kemarau dan berfungsi sebagai pengendali banjir dimusim penghujan maupun pemanfaatan lainnya bagi kesejahteraan warga di sekitar situ.
Situ-situ di wilayah DKI Jakarta yang tersebar di beberapa wilayah dengan luasan yang berbeda mempunyai karakteristik yang berbeda, baik dalam hal struktur dan tekstur tanah, sifat kimia air, plankton/periphyton, tumbuhan air dan berbagai jenis ikan dan mahluk hidup lainnya. Kondisi situ-situ tersebut mempunyai fungsi ekologis yang sangat penting.
Sekarang ini keberadaan situ-situ di Propinsi DKI Jakarta cenderung berkurang jumlahnya dan keadaannya sudah banyak yang tercemar maupun beralih fungsi. Hal ini disebabkan akibat pembangunan yang sangat pesat di berbagai sektor pembangunan, permukiman, gedung - gedung perkantoran/perhotelan, industri ditambah lagi pertumbuhan penduduk dan arus urbanisasi yang sedikit banyak memerlukan lahan.
Secara umum beberapa situ di Propinsi DKI Jakarta saat ini telah terjadi proses perubahan kualitas situ dari ekosistem alami ke ekosistem buatan yang pada dasarnya mewujudkan ekosistem yang tidak lengkap siklus jaring-jaring makanannya sehingga hal ini memberikan indikasi bahwa hubungan timbal balik antar komponen lingkungan yang ada tidak berjalan dengan baik, sehingga berdasarkan kepada hal-hal tersebut di atas maka situ-situ yang ada di wilayah DKI Jakarta tersebut perlu dilakukan upaya pelestariannya serta peningkatan fungsinya, disamping banyaknya situ – situ yang mengalami pendangkalan dan telah berubah fungsi akibat adanya aktivitas manusia.
Meningkatnya jumlah penduduk dan aktivitas pembangunan di Propinsi DKI Jakarta menyebabkan peningkatan jumlah buangan limbah domestik, limbah industri dan limbah-limbah lainnya yang pada gilirannya menimbulkan pencemaran dan kerusakan situ-situ yang ada.
Inventarisasi, identifikasi situ-situ dan waduk terakhir dilaksanakan pada tahun 1995, akan tetapi dengan meningkatnya pembangunan dan aktivitas penduduk ada beberapa situ yang hilang dan
berubah fungsi, oleh karena itu perlu dilakukan inventarisasi dan pemantauan yang berkesinambungan untuk mengetahui keberadaan dan kondisi fisik situ-situ yang terdapat di wilayah DKI Jakarta, dalam kaitan tersebut maka Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2010 telah melakukan upaya pengambilan sampel air situ/waduk pada 28 situ/waduk, seperti yang tersaji pada
Tabel : II.19.
TABEL : II.19.
LOKASI PENGAMBILAN SAMPEL SITU/WADUK DI DKI JAKARTA TAHUN 2010
WILAYAH LOKASI PENGAMBILAN SAMPLE AIR SITU TAHUN 2010
Jakarta Selatan
Situ Babakan Jl. M.Kahfi, Kel.Srengseng Sawah Mangga bolong Kelurahan Srengseng Sawah
Kali Bata Jl. Taman Makam Pahlawan Kalibata, Kel. Kalibata Ragunan Kebon Binatang Ragunan, Kel.Ragunan
Ragunan Pemancingan Kebon Binatang Ragunan, Kel.Ragunan Walikota Jaksel Jl. Prapanca Raya Kel Petogogan
Jakarta Timur
Kelapa Dua Wetan Kel. Kelapa Dua Wetan, Kec.Ciracas Situ Kramat / Sunter Hulu Kel. Setu, Jakarta Timur
Rawa Dongkal Jl. Tidar, Cibubur
Situ Rawa Gelam (Kwsn Industri Pulogadung) Jl. Rawa Gelam Kec.Pulogadung Rio-Rio Jl. Pulomas Utara, Kel. Kayu Putih Pedongkelan Jl. Gandaria Kelurahan Tugu Situ Elok Jl. Raya Penggilingan, Cakung Rawa Badung Jl. Rawa Bandung Raya, Kayu Putih
Jakarta Pusat
Lembang Jl. Lembang, Kel. Menteng, Kec. Menteng Situ Melati Jl. Teluk Betung/Jl. Kota Bumi, Kel. Kebon Melati, Kec. Tanah Abang Senayan Jl. Gatot Subroto, Kel.Gelora, Kec. Tanah Abang
Jakarta Barat
Grogol Jl. Tanjung Duren Utara II, Kel. Tanjung Duren, Kec. Grogol Petamburan Taman Kota Srengseng Jl. Srengseng Kebon Jeruk
Teluk Gong Kel. Pejagalan
Bahagia Jl. Semeru I/II, Kel.Grogol
Jakarta Utara
Papanggo Kel. Papanggo
Sunter I Jl. Danau Sunter Selatan I, Kel. Sunter Jaya, Kec. Tanjung Priok Sunter II Kel. Sunter Agung
Pik I Jl. Pantai Indah Selatan Kel. PIK PIK II Jl. Pantai Indah Utara Kel. PIK Kodamar Kel. Kelapa Gading
Pluit Jl. Raya Pluit Selatan, Kel. Penjaringan
Sumber : BPLHD Provinsi DKI Jakarta 2010 Keterangan :
Selain itu juga disajikan dalam bentuk peta yang terdapat pada Gambar : II.2 untuk lebih memudahkan dalam melihat sebaran lokasi pemantauan situ/waduk di Provinsi DKI Jakarta.
GAMBAR : II.2.
LOKASI PENGAMBILAN SAMPLE KUALITAS AIR SITU/WADUK TAHUN 2010
Situ Areman Situ Babakan
Situ Kelapa Dua Wetan Situ Bahagia
Situ Teluk Gong
Situ Ria-Rio Situ Pluit Situ Tomang Barat Situ Melati Situ Sunter I Situ Sunter II Situ Kalibata Situ Ragunan Situ Lembang Situ Senayan Situ Kramat/ Sunter Hulu Situ Sunter Barat Situ Elok Situ Rawa Badung
Situ Kramat/Sunter Hulu
Periode pengambilan sampel untuk situ/waduk di DKI Jakarta dilaksanakan 1 kali pemantauan pada bulan Juli - November 2010, dimana pada masing-masing situ dilakukan 3 titik pengambilan yaitu di inlet, tengah dan outlet situ. Dengan demikian jumlah sampel yang diambil meliputi 84 sampel air untuk analisis parameter kimia lengkap, 84 sampel bakter, dengan parameter yang akan dipantau adalah sesuai dengan SK Gub. KDKI Jakarta Nomor 582/1995 untuk peruntukan perikanan dan peternakan (Golongan C), yang meliputi parameter fisik, kimia, dan biologi, dimana untuk parameter biologi meliputi coliform, fecal coli, dan plankton (fitoplankton), sedang metode pengambilan dan analisa laboratorium dapat dilihat pada Tabel dibawah :
TABEL : II.20.
PERALATAN SAMPLING AIR SITU/WADUK
NO PARAMETER PERALATAN SAMPLING
1 Debit Current meter
2 Conductivity, pH, DO, Suhu, Turbiditas Water Quality Checker
3 Kecerahan Secchi disk
4 Sampel Air Ember plastik/Jerigen
5 Plankton Plankton net
Sumber : BPLHD Provinsi DKI Jakarta Keterangan :
Pengambilan sampel air dilakukan dengan metode terpadu (integrated sampling) yaitu gabungan tempat permukaan (kedalaman ± 20 cm) dan bagian dasar yang kemudian dikompositkan menjadi satu sampel. Sampel sejumlah 2 liter ditempatkan dalam jerigen dan disimpan dalam ice box. Sampling dilakukan di inlet, outlet, dan tengah situ/waduk. Total sampel air dari 28 situ/waduk adalah 84 sampel.
Pengambilan sampel Plankton dilakukan dengan mengambil air permukaan sebanyak 30 liter dan disaring dengan Plankton net no. 25 dengan ukuran jala 76-80 µm atau 173 meshes.inci untuk dikonsentrasikan menjadi 20 ml. Setelah itu sekeliling jaring Plankton net disemprot dengan aquades hingga bersih. Sampel ini kemudian dimasukkan ke dalam botol Plankton dan disimpan dalam ice box.
Pengambilan sampel bakteri Coliform dan Fecal coli dilakukan dengan menggunakan botol bervolume 100 ml yang telah disterilkan pada suhu 120oC selama 15 menit. Sampel air diambil dengan cara memegang botol steril bagian bawah dan botol dicelupkan sedalam 20 cm di bawah permukaan air. Setelah selesai botol disimpan di dalam ice box dengan batas tidak lebih 24 jam. Analisa sampel air situ dilakukan oleh laboratorium Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI Jakarta, yang meliputi parameter Fisik, Kimia dan Mikrobiologi. Metoda analisa laboratorium yang digunakan sesuai dengan SNI dan standar lain yang telah diakui dan valuasi terhadap hasil analisa air situ dibandingkan dengan Baku Mutu dan disesuaikan dengan SK Gub. KDKI Jakarta Nomor 582/1995 untuk peruntukan perikanan dan peternakan (Golongan C).
Selain itu dilakukan pula perhitungan dengan menggunakan Pollutan Indeks/Indeks Pencemar dengan mempergunakan berbagai parameter yang ada baik Fisik, Kimia, ataupun Biologi. Evaluasi terhadap nilai IP adalah berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 115/2003 :
TABEL : II.21.
NILAI INDEKS PENCEMAR (IP) AIR DAN KATEGORINYA
NILAI IP STATUS
0≤IP≤1.0 Memenuhi Baku Mutu (Kondisi Baik) 1.0<IP≤5.0 Cemar Ringan
5.0<IP≤10.0 Cemar Sedang IP> 10.0 Cemar Berat
Secara umum kondisi dan lokasi pemantauan situ/waduk di Provinsi DKI Jakarta yang dilakukan BPLHD Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2010, dapat diuraikan sebagai berikut :