BAB II KONDISI LINGKUNGAN HIDUP DAN
B. Keanekaragaman Hayati
1. Air Tanah
2.5. Indeks Pencemar (IP)
2.5.1. Jakarta Timur
Kondisi status mutu situ/waduk di Jakarta Timur berkisar antara status cemar ringan sampai dengan status cemar berat. Dibeberapa situ statusnya berada di kisaran baik sampai cemar ringan seperti situ Kelapa Dua Wetan dan Rawa Dongkal, namun untuk situ Rawagelam/kawasan Industri Pulogadung, dan situ Pedongkelan, telah berada pada status cemar berat baik dibagian inlet, tengah maupun outlet. Status cemar berat ini dipengaruhi oleh kondisi kegiatan di sekitar lingkungan situ.
GRAFIK : II.32.
INDEKS PENCEMARAN SITU/WADUK WILAYAH JAKARTA TIMUR TAHUN 2010 0.0 5.0 10.0 15.0 20.0 25.0 In le t te ng ah out le t In le t 1 In le t 2 te ng ah out le t In le t te ng ah out le t In le t te ng ah out le t In le t te ng ah out le t In le t te ng ah out le t In le t te ng ah out le t In le t te ng ah out le t
Situ Rawa badung Situ Kawasan Industri Pulogadung / Rawa
gelam
Situ Sunter hulu Situ Kelapa Dua
Wetan Situ Pedongkelan Situ RawaDongkal Situ Elok Situ Ria Rio
Baik Cemar ringan Cemar sedang Cemar Berat IP
Sumber : BPLHD Provinsi DKI Jakarta, 2010 Keterangan :
2.5.2. Jakarta Selatan
Status mutu situ/waduk Jakarta Selatan berkisar antara status cemar ringan sampai tercemar berat baik dibagian inlet, tengah maupun outletnya. Kondisi terburuk berada dibagian inlet situ/waduk Walikota Jakarta Selatan dengan nilai indeks mencapai 12,7 dan kondisi paling bagus berada dibagian inlet situ Babakan yang mencapai nilai indeks 1,2. Pada tahun ini situ Mangga Bolong dan Babakan tidak dipantau karena muka airnya sangat rendah sebagai akibat dilakukan pengerukan dan pembangunan badan situ Babakan Untuk lebih jelasnya mengenai status mutu situ di Jakarta Selatan dapat dilihat pada Grafik : II.33 dibawah ini.
GRAFIK : II.33.
INDEKS PENCEMARAN SITU/WADUK WILAYAH JAKARTA SELATAN TAHUN 2010 0.0 5.0 10.0 15.0 20.0 In le t out le t In le t 1 te ng ah out le t In le t te ng ah out le t In le t out le t
Walikota Jaksel Kali Bata Ragunan 1 Ragunan pemancingan
Baik Cemar ringan Cemar sedang Cemar Berat IP
Sumber : BPLHD Provinsi DKI Jakarta, 2010 Keterangan :
2.5.3. Jakarta Pusat
Berbeda dengan kondisi indek pencemaran di Jakarta Selatan, untuk di Jakarta Pusat indeks pencemaranya berkisar antara baik sampai dengan cemar sedang. Untuk situ Lembang pada bagian inlet berada pada status cemar ringan namun kondisinya meningkat dibagian tengah dan outletnya menjadi status baik. Untuk situ Senayan berada pada status cemar ringan baik dibagian inlet, tengah maupun outlet. Sedangkan situ Melati berada pada status cemar sedang (inlet, tengah dan outlet).
GRAFIK : II.34.
INDEKS PENCEMARAN SITU/WADUK WILAYAH JAKARTA PUSAT TAHUN 2010 0.0 5.0 10.0 15.0 In le t te ng ah ou tle t In le t te ng ah ou tle t In le t te ng ah ou tle t
Lembang Situ Melati Senayan
Baik Cemar ringan Cemar sedang Cemar Berat IP
Sumber : BPLHD Provinsi DKI Jakarta, 2010 Keterangan :
2.5.4. Jakarta Barat
Status mutu air situ/waduk diwilayah Jakarta Barat terlihat lebih buruk dibandingkan dengan kondisi status mutu situ-situ sebelumnya. Pada Grafik : II.35. terlihat statusnya berkisar antara status cemar ringan sampai dengan cemar berat. Status cemar berat berada di bagian outlet situ Bahagia dan bagian inlet situ Tomang Barat/Grogol, sedangkan status cemar ringan terdapat pada bagian tengah dan outlet situ Hutan Kota Srengseng.
GRAFIK : II.35.
INDEKS PENCEMARAN SITU/WADUK WILAYAH JAKARTA BARAT TAHUN 2010
Sumber : BPLHD Provinsi DKI Jakarta, 2010 Keterangan :
2.5.5. Jakarta Utara
Pada Grafik : II.36 menunjukkan bahwa kisaran status air situ di wilayah Jakarta Utara berkisar antara status baik sampai cemar berat. Kondisi kualitas yang paling bagus berada disitu Sunter I
yaitu berkisar antara status baik sampai cemar ringan. Sedangkan kondisi paling buruk berada pada inlet situ Sunter II, Pluit, situ PIK I dan situ PIK II.
GRAFIK : II.36.
INDEKS PENCEMARAN SITU/WADUK WILAYAH JAKARTA UTARA TAHUN 2010
Sumber : BPLHD Provinsi DKI Jakarta, 2010 Keterangan :
Dari hasil pemantauan dilapangan dan pemeriksaan laboratorium dapat disimpulkan bahwa secara umum kondisi kualitas lingkungan khususnya air situ/waduk di DKI Jakarta pada tahun 2010 adalah sebagai berikut :
1. Kondisi kualitas lingkungan air situ di DKI Jakarta secara umum telah tercemar, mulai dari tercemar ringan, tercemar sedang sampai tercemar berat.
2. Kondisi situ secara umum tidak terawat dengan baik. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya sampah yang menumpuk hampir di sepanjang pinggiran situ, mendapat masukan limbah cair rumah tangga dan industri dan kurang terlihatnya situ sebagai salah satu komponen dalam fungsi ekologis.
3. Persentase status mutu berdasarkan hasil perhitungan menggunakan metode Indeks pencemaran menunjukan situ yang tercemar ringan sebesar 35 persen, tercemar sedang sebesar 27 persen, tercemar berat sebesar 38 persen.
4. Beberapa parameter di perairan situ telah melebihi baku mutu yang telah ditetapkan oleh SK Gub KDKI Jakarta No. 582 Tahun 1995 dengan golongan C yaitu peruntukan untuk pertanian dan perikanan, dimana parameter-parameter yang melebihi baku mutu adalah, DO, COD, BOD, Phospat, Fenol, Minyak dan Lemak, dan Detergent.
5. Luas situ cenderung berkurang akibat adanya sedimentasi dan berpengaruh pada daya tampung situ. Akibatnya waktu tinggal hidrolik situ cenderung rendah, dengan endahnya waktu tinggal hidrolik mengakibatkan situ kurang optimal dalam menampung aliran yang besar pada waktu hujan dan kurang efektif sebagai penampung banjir.
Agar kelestarian situ-situ di DKI Jakarta tetap terjaga dan menjadi lebih baik sehingga dapat dimanfaatkan sebagaimana mestinya diperlukan upaya-upaya yang harus dilakukan, yaitu: 1. Penyuluhan secara rutin dan berkelanjutan untuk pemeliharaan situ guna menumbuhkan
kesadaran masyarakat akan pentingnya keberadaan situ dan ekosistem di dalamnya, terutama perilaku dan disiplin masyarakat setempat dalam memanfaatkan fungsi Situ.
2. Melakukan relokasi permukiman warga dari sekitar situ sehingga daerah pinggiran situ bebas dari pengaruh aktivitas manusia yang dapat berdampak pada pencemaran air.
3. Melakukan revitalisasi situ, misalnya dengan melakukan pengerukkan endapan dari dasar situ. 4. Melakukan pengerukan secara berkala untuk mengurangi sedimentasi.
5. Menanam pohon berakar kuat untuk menjaga erosi.
6. Melakukan konsevasi sumberdaya air yang melibatkan semua pihak dan mentaati rencana tata ruang yang telah disepakati.
7. Pembersihan sampah dan eceng gondok dari dalam situ.
3. Sungai
Sungai sebagai salah satu komponen lingkungan yang memiliki fungsi penting bagi kehidupan manusia termasuk untuk menunjang pembangunan perekonomian. Sebagai akibat adanya peningkatan kegiatan pembangunan di berbagai bidang maka baik secara langsung ataupun tidak langsung akan mempunyai dampak terhadap kerusakan lingkungan termasuk didalamnya pencemaran sungai yang berasal dari limbah domestik maupun non domestik seperti pabrik dan industri. Oleh karena itu pencemaran air sungai dan lingkungan sekitarnya perlu dikendalikan seiring dengan laju pembangunan agar fungsi sungai dapat dipertahankan kelestariannya.
Provinsi DKI Jakarta dimana mengalir 13 (tiga belas) sistem aliran sungai yang sebagian besar berhulu di daerah Jawa Barat dan bermuara di Teluk Jakarta. Dengan demikian sungai di DKI Jakarta merupakan tempat limpahan akhir dari pada buangan-buangan tersebut. Padahal sungai itu sendiri mempunyai banyak fungsi yang sangat penting, antara lain sebagai sumber air baku air minum, perikanan, peternakan, pertanian, dan usaha perkotaan.
Untuk menanggulangi hal tersebut di atas, Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta telah mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 582 Tahun 1995 tentang Penetapan Peruntukan Baku Mutu Air Sungai/Badan Air serta Baku Mutu Limbah Cair di wilayah Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta.
BPLHD Provinsi DKI Jakarta secara berkesinambungan telah melakukan pemantauan kualitas air di 13 sungai yang mengalir di Provinsi DKI Jakarta dimana data yang diperoleh dapat dipakai sebagai dasar dari kebijakan Pemerintah dalam pengendalian pencemaran sungai dan pengelolaan lingkungan di Provinsi DKI Jakarta dan maksud serta tujuan dari pemantauan ini adalah untuk mengetahui kualitas air sungai di wilayah Provinsi DKI Jakarta dan tingkat pencemaran air sungai baik secara kimia maupun biologis yang disesuaikan dengan baku mutu air sungai yang ditetapkan oleh Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 582 Tahun 1995, dimana frekuensi pemantauan dilaksanakan 5 (lima) kali yaitu pada bulan Maret, Mei, Agustus, Oktober dan Desember 2010. Lokasi pengambilan sampel air dilakukan di 45 titik dari 13 sungai yang mengalir di DKI Jakarta, yang meliputi perbatasan DKI Jakarta – Jawa Barat, hilir dan muara yang ada di Provinsi DKI Jakarta, dengan peruntukan sebagai berikut :
1. Peruntukan air baku air minum (Golongan B) 2. Peruntukan perikanan dan peternakan (Golongan C) 3. Peruntukan pertanian dan usaha perkotaan (Golongan D)
GAMBAR : II.3.
LOKASI PENGAMBILAN SAMPEL AIR SUNGAI TAHUN 2010
TABEL : II.29.
LOKASI PENGAMBILAN SAMPEL AIR SUNGAI TAHUN 2010
NO TITIK SUNGAI LOKASI PEMANTAUAN GOLONGAN
1 1 S. Ciliwung Kelapa Dua (Serengseng Sawah) B 2 2 S. Ciliwung Intake PAM Condet (Kp. Gedong) B 3 3 S. Ciliwung Sebelum Pinta Air Manggarai B 4 3A S. Ciliwung Jl. Halimun (Guntur) B 5 4 S. Ciliwung Jl. KH. Mas Mansyur (Karet Tengsin) B
sambungan
NO TITIK SUNGAI LOKASI PEMANTAUAN GOLONGAN
6 5 S. Ciliwung Jl. Gudang PLN B
7 6 S. Ciliwung Jemb. PIK (Muara Angke) D
8 29 S. Ciliwung Jl. Kwitang D
9 30 S. Ciliwung Jl. Ancol Marina D
10 32 S. Ciliwung Pompa Pluit D
11 7 S. Kali Baru Jl. Komplek Zeni Srengseng Sawah B 12 8 S. Cipinang Jl. AURI (Taman Bunga Cibubur) D 13 8A S. Cipinang Jl. Pondok Gede (Tol Taman Mini) D 14 9 S. Cipinang Jl. Perdana Kusuma D
15 10 K. Sunter Pondok Rangon D
16 12 K. Sunter JL. Jati Negara Kaum D 17 13 K. Sunter Bogasari, Koja Selatan D 18 45 K. Sunter Sudarso (Klp. Gading) D
19 14 S. Krukut Jl. Pdk. Labu B
20 15 S. Krukut Jl. Pejompongan (Karet Tengsin) B
21 17 S. Tarum Barat Bekasi B
22 19 S. Angke Ciledug C
23 20A S. Angke Pesing Kali Angke D
24 21 S. Cengkareng Drain Rel Kereta api (Kembangan) C 25 22 S. Cengkareng Drain Jl. Kapuk Muara D 26 23 S. Pesanggrahan Ciputat, Pasar Jumat C 27 24 S. Mookervart Jl. Daan Mogot, Bir Bintang (Kl. Deres) C 28 24A S. Mookervart Jl. Daan Mogot, Pemancar AL (Rw.Buaya) C
29 25 S. Grogol Jl. Lebak Bulus C
30 25A S. Grogol Jl. Radio Dalam C
31 27 S. Grogol PLTU Pluit D
32 33 S. Kali Baru Timur Jl. Raya Bogor (YKK) D 33 34 S. Kali Baru Timur Jl. Ancol/Jemb.. Si Manis D
34 35 S. Cakung Jl. Pulo Gebang D
35 36A Jati Kramat Jl. Kali Malang D 36 37 S. Cakung Drain Jl. Raya Bekasi (Cakung Barat) D 37 38 S. Cakung Drain Cilincing (Pos Polisi) D 38 46 K. Blencong Muara Baru Rorotan D 39 39 S. Petukangan Kawasan PT JIEP D 40 40 S. Petukangan Jl. Swadaya, Pupar D 41 41 S. Kamal Jl. Raya Benda (Pegadungan) D
42 42 S. Kamal Muara Kamal D
43 43 S. Sepak Jl. Psr. Bintaro (Ulujami) C 44 48 S. Buaran Belakang PIK Pulo Gadung D 45 49 S.Pesangrahan Jl.H.Kelik, Srengseng D
Sumber : BPLHD Provinsi DKI Jakarta, 2010 Keterangan :
Dari hasil evaluasi data, informasi kualitas air sungai untuk tahun 2010 dilaksanakan sebanyak lima kali pemantauan yaitu bulan Maret, Mei, Agustus, Oktober dan Nopember; untuk pengambilan sampel di lapangan baik itu untuk parameter fisik, kimia, maupun biologi dilakukan dengan peralatan seperti yang tersaji pada Tabel : II.30.
TABEL : II.30.
PERALATAN SAMPLING AIR SUNGAI
NO PARAMETER PERALATAN SAMPLING
1. Debit Current meter
2. Lebar Sungai Meteran
3. Conductivity, pH, DO, Suhu, Turbiditas Water Quality Checker 4. Sampel Air Ember plastik/Jerigen 5. Plankton Plankton net 6. Benthos/Lumpur Grab Sampler/Sekop
Selain itu untuk melihat status mutu air sungai dilakukan pula evaluasi dengan metode Indeks Pencemaran. Metode Indeks Pencemaran digunakan untuk menentukan tingkat pencemaran relatif terhadap parameter kualitas air yang diizinkan. Indeks Pencemaran (IP) ditentukan untuk suatu peruntukkan, kemudian dapat dikembangkan untuk beberapa peruntukkan bagi seluruh bagian badan air atau sebagian dari seluruh sungai. Metode ini dapat langsung menghubungkan tingkat ketercemaran dengan dapat atau tidaknya sungai dipakai untuk penggunaan tertentu dan dengan nilai parameter-parameter tertentu.
Evaluasi terhadap nilai IP adalah berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 115/2003 :
TABEL : II.31.
NILAI INDEKS PENCEMAR (IP) AIR SUNGAI DAN KATEGORINYA
NILAI IP STATUS
0≤IP≤1.0 Memenuhi Baku Mutu (Kondisi Baik) 1.0<IP≤5.0 Cemar Ringan
5.0<IP≤10.0 Cemar Sedang IP> 10.0 Cemar Berat
Sedang analisis data dan evaluasi kualitas biota air (plankton) dilakukan dengan perhitungan derajat pencemaran dengan metode Indeks Keanekaragaman (Indeks Diversitas) berdasarkan Shannon-Wiener (1975). Evaluasi ini dilakukan untuk mengetahui perubahan struktur komunitas biota air (plankton) yang disebabkan adanya perubahan kualitas air. Klasifikasi derajat pencemaran tersaji pada Tabel : II.32.
TABEL : II.32.
KLASIFIKASI DERAJAT PENCEMARAN BERDASARKAN SHANNON-WIENER
KLASIFIKASI RENTANG INDEKS
Tercemar Berat 0.0 < H’ < 1.0 Tercemar Sedang 1.0 < H’ < 2.0 Tercemar Ringan 2.0 < H’ < 3.0 Tercemar Sangat Ringan 3.0 < H’ < 4,5
Sumber : Shannon-Wiener dalam Staub et al, Wilhm (1975) Keterangan :
Dari hasil evaluasi data dan informasi kualitas air sungai dilakukan pada 13 sungai dengan 45 titik pengambilan sampel yang dilakukan meliputi 3 peruntukan yaitu peruntukan air baku air minum (golongan B), peruntukan perikanan dan peternakan (Golongan C), serta peruntukan pertanian dan usaha perkotaan (Golongan D), diantaranya adalah sbb :