• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

4.2 Analisis Data Penelitian

4.2.2 Identifikasi Potensi Pulau Tunda

Pariwisata sebagian besar produknya adalah produk yang sudah ada dan bukan hasil membuat dari mesin produksi, seperti misalnya sejarah, masyarakat, keindahan alam dan lainnya. Maka dari itu penting untuk pengetahui potensi yang dimiliki oleh objek pariwisata sebelum melakukan pengembangan dan pengelolaan yang lebih jauh. Hal ini di maksudkan agar setiap potensi yang dimiliki objek wisata dapat dimaksimalkan.

Penelitian ini memulai identifikasi potensi yang dimiliki dengan cara mengumpulkan informasi mengenai aset inti yang dimiliki oleh objek wisata Pulau Tunda. pengumpulan ini dilakukan dengan cara wawancara, observasi, FGD dan juga studi dokumentasi. Wawancara dilakukan dengan Dinas Kelautan, Perikanan, Energi dan Sumber daya Mineral, karena selama ini pihak DKPESDM (Dinas Kelautan, Perikanan, Energi Dan Sumberdaya Mineral) yang lebih aktif melakukan kegiatan pengembangan di Pulau Tunda. Hasil wawancara tersebut menunjukkan bahwa aset inti yang dimiliki oleh Pulau Tunda adalah ekosistem yang terdapat di Pulau Tunda. berikut kutipan wawancara yang dilakukan dengan pihak DKPESDM (Dinas Kelautan, Perikanan, Energi Dan Sumberdaya Mineral)

“Saya pikir banyak. Iya ekosistem itu iya. Kalo kita cerita ekosistem itu kan karang dan mangrove” (Ibu Mumun Munawaroh, M.Sc, Rabu, 25 Mei 2016, kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Serang)

Sementara pihak Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga berpendapat bahwa aset yang dimiliki oleh Pulau Tunda adalah keindahan lingkungan pantai dan laut Pulau Tunda.

“Point interest Pulau Tunda terletak pada lingkungan pantai dan laut Pulau Tunda” (Bapak M Luthfie Yonas, 26 Mei 2016, Dinas Periwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Serang)

Adapun pandangan dari pelaku wisata yang memandang Pulau

Tunda sebagai objek wisata memiliki banyak potensi dan

61

“Pulau Tunda memiliki potensi di bidang wisata edukasi dan ekonomi kreatif terlepas dari wisata alam yang saat ini dimilikinya yaitu snorkeling. Pulau Tunda memiliki kelautan, perikanan, sumber daya manusia yang bisa dikembangkan” (Firman Hakiki, Direktur utama Wisata Bahari Pulau Tunda, Senin,16 Mei 2016)

Selain data wawancara peneliti pun melakukan studi dokumentasi pada Laporan Akhir Kajian Pengelolaan Ekosistem Pulau Tunda Untuk Pengembangan Minawisata 2015 yang dibuat oleh Pemerintah Kabupaten Serang, Dinas Kelautan, Perikanan, Energi dan Sumberdaya Mineral. Hasil studi dokumentasi tersebut menunjukkan bahwa Pulau Tunda memiliki potensi yang cukup baik dibeberapa spot untuk

mengembangkan minawisata, snorkeling, dan diving serta

pengembangan coral garden. Berikut beberapa kutipan hasil studi dokumentasi yang dilakukan:

“Pulau Tunda yang memiliki keindahan di bawah laut berpotensi untuk dikembangkan kegiatan wisata bahari dan kegiatan minawisata. Pulau Tunda memiliki substrat dasar patahan karang, pasir, dan batu. Substat dasar yang keras dan kokoh ini merupakan lokasi baik bagi terumbu karang untuk dapat hidup dan berkembang dengan baik.” (Laporan Akhir Kajian Pengelolaan Ekosistem Pulau Tunda Untuk Pengembangan Minawisata 2015. Hal.IV-2)

“Pulau Tunda merupakan pulau yang memiliki ekosistem yang unik, dan sangat lengkap, yakni disekelilingnya memiliki ekosistem mangrove, lamun dan terumbu karang yang ketiganya saling mendukung membentuk suatu ekoregion yang sangat unik. Oleh karena itu Pulau Tunda memiliki alam yang sangat indah. Ketiga ekologi pesisir, yakni mangrove, lamun, dan terumbu karang selain membentuk suatu ekoregion yang sangat khas, lengkap, mempunyai produktifitas yang tinggi (subur) dan sempurna juga memberikan keindahan alam yang luar biasa, sehingga Pulau Tunda mempunyai potensi yang tinggi untuk dikembangkan menjadi wilayah untuk kegiatan minawisata, serta mempunyai lokasi yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi soft coral

garden” (Laporan Akhir Kajian Pengelolaan Ekosistem Pulau Tunda Untuk Pengembangan Minawisata 2015. Hal.IV-40)

Data-data tersebut kemudian disatukan dan dianalisis sehingga menghasilkan aset inti yang dimiliki oleh Pulau Tunda yang berpotensi untuk mendukung pengembangan wisata Pulau Tunda sebagai berikut: 1. Ekosistem pesisir yang lengkap

Pulau Tunda yang merupakan daerah pulau yang memiliki ekosistem dengan produktifitas tinggi seperti terumbu karang, lamun, dan hutan bakau. Ekosistem terumbu karang yang terdapat di Pulau Tunda termasuk dalam ekosistem terumbu karang yang baik. Hutan bakau yang dimiliki oleh Pulau Tunda memiliki beragam jenis bakau yang tersebar di sekeliling Pulau.

2. Terumbu Karang

Pulau Tunda memiliki substrat dasar patahan karang, pasir dan batu. Substrat dasar yang kuat dan kokoh merupakan lokasi yang baik bagi terumbu karang untuk dapat hidup dan berkembang dengan baik. Berdasar hasil kajian yang dilakukan oleh DKPESDM (Dinas Kelautan, Perikanan, Energi Dan Sumberdaya Mineral) Kabupaten Serang pada Tahun 2015 menunjukkan bahwa ekosistem terumbu karang di Pulau Tunda pada kedalaman 10 meter masuk kedalam kategori sedang, sementara kondisi terumbu karang memiliki potensi penutupan karang pada kondisi baik. Sedangkan pada kedalaman 2-4 meter kondisi ekosistem terumbu karang termasuk kedalam kategori

63

cukup baik, dengan presentase penutupan karang keras hidup mencapai 40%, serta pertumbuhan karang (lifefrom) yang beragam.

4.3 Gambar Terumbu Karang

Sumber : Wisata Bahari Pulau Tunda 3. Ikan Karang

Pulau Tunda memiliki ekosistem terumbu karang baik yang juga berperan dalam ekologi menjadi rumah bagi biota laut. Terumbu karang ini dimanfaatkan oleh ikan untuk tempat tinggal, mencari makan, dan aktivitas lainnya. Jenis ikan karang di Pulau Tunda pun beragam dan didominasi oleh ikan famili pomacentridae. Sementara jenis ikan lainnya berasal dari Famili Caesionidea, Famili Labridea, Famili Apogenidea, Famili Chaetodontidea, Famili Nemipteridea, Famili Holoecentridea, Famili Nemipteridea, Famili Holoecentridea, Famili Scaridea, dan Famili Siganidea. Berdasarakan kajian yang dilakukan oleh DKPESDM (Dinas Kelautan, Perikanan, Energi Dan Sumberdaya Mineral) pada tahun

2015 bahwa keseragaman ikan pada setiap spot tidak didominasi oleh salah satu jenis ikan tetapi terjadi secara seimbang.

Gambar 4.4 Ikan Karang

Sumber : Wisata Bahari Pulau Tunda

Selain tiga aset tersebut Pulau Tunda pun memiliki aset pendukung yang keberadaannya pun perlu diperhatikan dalam pengembangan wisata Pulau Tunda. Pengumpulan data mengenai aset pendukung ini dilakukan dengan menggunakan metode observasi. Metode observasi ini dilakukan pada bulan April dan bulan Mei 2016. Adapun yang diamati adalah ketersedian fasilitas pendukung pariwisata dan suasana lingkungan yang terdapat di Pulau Tunda. Hasil observasi yang dilakukan sebagai berikut: 1. Penerangan

Penerangan di Pulau Tunda menggunakan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Saat ini penerangan di Pulau Tunda dimulai sejak pukul 18.00 sampai dengan 24.00 WIB menggunakan (PLTD), kemudian dilanjutkan dengan menggunakaan PLTS sampai pukul 06.00. Alasan utama

65

aliran listrik hanya ada pada malam hari adalah biaya solar untuk diesel yang besar.

2. Jaringan Komunikasi

Jaringan komunikasi yang ada di Pulau Tunda belum terlalu bagus. Namun untuk beberapa provider memiliki jaringan yang terbilang cukup stabil yakni Indosat. Terdapat satu buah pemancar yang diketahui merupakan pemancar provider Telkomsel.

3. Transportasi

Terdapat dua buah kapal penyeberangan regular yang dikhususkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang beroperasi tiga kali dalam satu minggu yaitu pada hari senin, rabu dan sabtu. Setiap orang dikenai ongkos perjalanan sebesar Rp.20.000,-. Sementara untuk menunjang aktifitas wisata di Pulau Tunda, pelaku wisata di Pulau Tunda menggunakan kapal nelayan yang disewakan. Penyewaan kapal lebih sering menggunakan kapal yang berada di Pelabuhan Karangantu, hal ini dikarenakan biaya sewa yang jauh lebih murah dibandingkan dengan biaya sewa perahu milik nelayan Pulau Tunda.

Gambar 4.5

Kapal Penyeberangan Reguler

Sumber : Dokumentasi Pribadi Gambar 4.6

Kapal Sewa untuk Wisatawan

67

4. Jalan Desa

Jalan desa yang berada di Pulau Tunda sebagian besar sudah menggunakan pavlingblok yang dimulai dari dermaga hingga bibir pantai. Sehingga wisatawan dapat berkeliling Pulau dengan berjalan kaki ataupun menggunakan sepedah.

Gambar 4.7 Jalan Desa di Pulau Tunda

Sumber : Dokumentasi Pribadi 5. Penginapan

Penginapan yang terdapat di Pulau Tunda masih berbentuk home stay. Wisatawan dan pemilik rumah berada dalam satu atap hanya berbeda ruangan. Jumlah home stay ini pun tidak banyak. Selama ini wisatawan yang berkunjung biasanya menginap di tempat guide

yang menjadi pemandunya saat berlibur di Pulau Tunda. Selain homestay sebenarnya di Pulau Tunda terdapat 2 villa. Namun pemanfaatannya tidak terlalu optimal. Villa tersebut terletak di bagian barat Pulau Tunda dan di bagian utara Pulau Tunda.

Gambar 4.8

Villa yang berada di bagian Barat

Sumber: Wisata Bahari Pulau Tunda

Terkait dengan aset yang dimiliki oleh Pulau Tunda guna mendukung perkembangan pariwisata, Pemerintah setempat untuk saat ini sedang melakukan pembangunan fasilitas pendukung. Pembangunan tersebut berupa: pembangunan gazebo di pinggir pantai, coffe shop, dengan konsep bangunan beach club. Data ini peneliti dapatkan dari hasil FGD (Focus Group Discussion) yang dilakukan dengan pemerintah desa wargasara Pulau Tunda dan tim pengembang pariwisata Pulau Tunda.

Selain aset fisik yang dimiliki oleh Pulau Tunda sebagai objek wisata. Data yang didapat oleh peneliti menunjukkan bahwa Pulau Tunda memiliki potensi lain yang dapat dikembangkan. potensi itu adalah sosial budaya masyarakat pulau.

“Yang menarik itu yang pertama home staynya bareng warga, itu bagi saya berkesan banget. Yang kedua listriknya nyala sampai jam 12 malam dan itu menantang banget. Bagi saya itu daya tariknya justru disitu. Artinya kita mengikuti dinamika warga setempat. Sambil berwisata-wisata juga kita bisa, sehingga kita kan, bagi saya sih kita bisa tahu gitu loh, secara sosial masyarakat

69

di sini tu bagainya, pola pikirnya, cara berperilakunya, visi– misinya, dan itu bagi saya menarik. Sampai di sana bagi saya penduduknya bagus ramah-ramah”. (Pephit, Wisatawan asal Jakarta, 1 Juni 2016)

“awalnya gak nyangka bagus, dan untuk suasana desa, suasana malam yang sepi. Gak nyangka aja di Pulau yang seperti itu, mereka bisa hidup. Dikepung sama laut kan itu. sensainya disitu. Yang lampu nyala dari sore ampe malem. Yang udah panic ngecas hp ngecas kamera. Itu malah asik. Sebenernya liburan yang kaya gitu tuh yang enak daripad liburan yang harus tinggal di Hotel.” (Novia, wisatawan asal Jakarta, 1 Juni 2016)

4.3Pembahasan

Data yang dikumpulkan peneliti yang kemudian dikelompokkan dan dianalisis sesuai dengan kebutuhan penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa objek wisata memiliki potensi untuk dapat dikembangkan menjadi objek wisata bahari di Kabupaten Serang. Hasil analisis SWOT yang dilakukan menunjukkan bahwa Pulau Tunda lebih banyak memiliki kelemahan dan juga tantangan daripada kekuatan dan peluang yang dimiliki. Dari analisis SWOT tersebut dapat dilihat bahwa Pulau Tunda memerlukan berbagai strategi-startegi yang matang karena aset utama yang menjadi kekuatan Pulau Tunda sangat riskan mengalami kerusakan dan memerlukan waktu yang lama untuk memperbaikinya.

Sementara data mengenai potensi Pulau Tunda menunjukkan bahwa Pulau Tunda memiliki potensi untuk menjadi objek wisata yang bukan hanya menawarkan keindahan alam melainkan juga kehidupan masyarakat pulau. Namun sayangnya untuk potensi ini masih belum banyak diperhatikan.

Dokumen terkait