Fenomena perubahan iklim merupakan salah satu efek dari pemanasan bumi (global
warming). Fenomena perubahan iklim ini tidak dapat diputar-balikkan (reversed) dan
dicegah terjadinya. Oleh karena itu, dalam penanganan masalah perubahan iklim difokuskan pada upaya pelambatan efek pemanasan bumi dan upaya adaptasi terhadap perubahan iklim.
Upaya adaptasi perlu dilakukan untuk penyesuaian terhadap dampak perubahan iklim guna mengurangi kerentanan, dan meningkatkan ketahanan untuk keberlanjutan sistem produksi. Pada dasarnya pemanasan bumi dan fenomena perubahan iklim menimpa semua penduduk bumi, manusia, hewan, dan tumbuhan. Akan halnya manusia, efek dari perubahan iklim telah menunjukkan dampak yang lebih berat bagi perempuan dibandingkan laki-laki. Kapasitas adaptif perempuan umumnya lebih terbatas dibandingkan laki-laki disebabkan oleh adanya perbedaan akses dan hak terhadap kepemilikan aset dan finansial serta
sumberdaya, serta keterbatasan akses terhadap informasi. Dengan keterbatasan tersebut, perempuan menjadi lebih rentan terhadap perubahan iklim dibanding laki-laki. Berikut upaya adaptasi terhadap dampak perubahan iklim seperti bencana alam, krisis air, krisis pangan, dan ancaman kesehatan.
A. Penanganan Bencana
Persiapan menghadapi ancaman bencana dan penanganan bencana alam masih bias gender. Ketidaksetaraan gender dalam hal terbatasnya akses perempuan dalam persiapan menghadapi bencana dapat terlihat mulai dari kesiapan menghadapi bencana (disaster
preparedness), penanganan, hingga rehabilitasi. Sebuah studi tentang dampak bencana
alam terhadap angka harapan hidup menemukan bahwa bencana alam menurunkan angka harapan hidup perempuan dibandingkan laki-laki. Dengan kata lain, bencana alam rata-rata mengambil korban nyawa perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki.43
Kelemahan pendataan di Indonesia sangat nyata dalam penanganan bencana. Korban yang meninggal dan yang dirawat tidak dicatat berdasarkan jenis kelamin dan perkiraan kelompok umur. Keteledoran ini menyebabkan banyak perempuan, anak, dan lansia yang tidak mendapatkan bantuan sesuai kebutuhan spesifiknya masing-masing. Sebagai perbandingan, sehari setelah kejadian bencana, pendataan korban bencana berdasarkan jenis kelamin bahkan perkiraan usia sudah tersedia. Kesiapan mekanisme pendataan ini membantu memperlancar penanganan para korban selanjutnya. Para korban bencana perempuan, anak, dan lansia langsung mendapatkan bantuan sesuai kebutuhan spesifiknya masing-masing. Ibu hamil dan ibu menyusui segera terdata dan segera mendapatkan bantuan khusus. Para lansia lalu dikumpulkan dengan keluarga-keluarga yang ada anak balita-nya, sebab ternyata ada proses “saling-menyembuhkan” dengan terjadinya interaksi sosial antara lansia dan anak balita.
GAMBAR 55
Sebaran Kejadian Bencana dan Akumulasi Jumlah Korban Meninggal
43 Eric Neumayer& Thomas Plümper (2007): The Gendered Nature of Natural Disasters: The Impact of Catastrophic Events on the Gender Gap in Life Expectancy, 1981–2002, Annals of the Association of American Geographers, 97:3, 551-566
Tingginya jumlah korban bencana alam, terutama gempa dan erupsi volkanik mencerminkan rendahnya kesiapan penduduk setempat menghadapi ancaman bencana. Terkait kesiapan menghadapi ancaman bencana, Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB/D)telah mulai melakukan berbagai penerangan dan pelatihan persiapan menghadapi bencana di daerah-daerah rawan bencana. Edukasi dan latihan praktis bagi masyarakat dan keluarga dalam menghadapi bencana perlu dilakukan dengan lebih teratur dan intensif pada daerah rawan bencana. Edukasi secara terpisah laki-laki dan perempuan, dan menurut kelompok usia perlu dilakukan. Perempuan dan remaja cenderung menjadi pasif pada even pertemuan warga secara umum. Oleh karena itu, akan lebih efektif bila edukasi dan latihan praktis menghadapi bencana dilakukan secara terpisah. Penyebaran informasi mengenai persiapan menghadapi bencana ditemukan lebih efektif bila disampaikan kepada kelompok perempuan. Para perempuan yang telah mendapatkan penerangan terkait bencana, umumnya akan menyampaikan informasi tersebut kepada anggota keluarganya dan orang-orang di sekitarnya. Nampaknya, karakteristik alami umumnya perempuan yaitu informatif dan komunikatif merupakan potensi untuk wacana KIE terkait bencana alam bagi keluarga dan lingkungannya.
Sebagai care-giver utama dalam rumah tangga, perempuan juga terkena dampak yang lebih besar setelah kejadian bencana alam sebab perawatan terhadap anggota keluarga yang sakit menjadi tanggung jawabnya, bahkan saat dirinya juga menderita sakit akibat bencana. Oleh karena itu, pada kamp pengungsian akibat bencana alam, bantuan medis tidak cukup dengan mendirikan tenda medis. Diperlukan juga petugas medis yang berkeliling mengunjungi para korban bencana yang kurang sehat. Selain itu, relawan sosial juga dibutuhkan untuk memberikan waktu istirahat yang cukup terutama bagi ibu-ibu yang memiliki bayi dan/atau balita, dengan menyelenggarakan pengasuhan anak sementara.
B. Ancaman Krisis Air
Ketersediaan air yang dinyatakan sebagai tebal aliran, menunjukkan seberapa basah atau kering suatu wilayah. Dengan demikian dapat diperkirakan seberapa besar jumlah air yang tersedia pada suatu titik di sungai.
TABEL 18
Ketersediaan Air Permukaan Nasional
Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa zona Jawa dan zona Bali-Nusa Tenggara memiliki potensi air yang terendah dan ketersediaan airnya juga termasuk terendah. Akan tetapi persentase penduduk pulau Jawa merupakan yang terbesar. Dengan ketidakseimbangan antara pengguna air dan ketersediaan air, maka pulau Jawa termasuk dalam kategori berstatus kritis air.
BAGAN 2
Ketersediaan Air Baku dan Penggunaannya
Khususnya sumber air baku rumah tangga, sekitar 74 persen kebutuhan air bersih rumah tangga di Indonesia pada tahun 2004 dipenuhi dari air tanah. Sisanya 18 persen dipenuhi dari ledeng (perusahaan air minum), 3 persen dari air sungai, 3 persen dari air hujan, 2,5 persen dari air dalam kemasan, dan 0,5 persen dari sumber lainnya.
Perubahan iklim dapat mempengaruhi ketersediaan air bersih secara signifikan. Perpanjangan musim kemarau, secara signifikan menyebabkan ketersediaan air baku tanah menipis, dan demikian juga halnya dengan ketersediaan air untuk irigasi sawah. Dari bagan di atas menunjukkan bahwa 80,5 persen air baku yang sudah dimanfaatkan dipergunakan untuk irigasi. Bila bagian yang 80,5 persen tersebut berkurang secara signifikan, maka kemungkinan besar akan terjadi kegagalan panen dan akan berakibat pada menurunnya ketersediaan pangan, yang akhirnya dapat menjadi pemicu krisis pangan. Dengan demikian, perubahan iklim mempunyai efek negatif yang berantai dan bagai bola salju yang semakin lama semakin membesar, sehingga melanda semua bagian dan menjadi tidak terkendali.
Bila kemarau panjang mengurangi persediaan air baku tanah secara perlahan, maka ada beberapa bencana alam yang dapat mengurangi ketersediaan air bersih secara drastis dan tiba-tiba. Bencana alam seperti banjir bandang, gelombang tsunami yang mencapai pantai, dan gempa bumi dapat merusak instalasi air bersih dalam sekejap. Air bersih merupakan kebutuhan semua orang, baik laki-laki maupun perempuan, dewasa maupun anak. Namun demikian, kekurangan air bersih relatif berdampak lebih besar terhadap perempuan dewasa dibandingkan laki-laki dewasa dan anak-anak. Hal ini disebabkan oleh pembagian peran secara tradisional yang menempatkan perempuan sebagai care-taker anggota keluarga.
Penampungan/penyimpanan dan penggunaan air bersih untuk kebutuhan rumah tangga umumnya menjadi tugas perempuan. Oleh karena itu, dalam proses perencanaan lokal mengantisipasi ancaman bencana alam dan pengungsian, para perempuan di daerah-daerah rawan bencana perlu lebih dilibatkan. Langkah awal dari pelibatan perempuan dalam proses perencanaan adalah fasilitasi warga perempuan mengenai proses perencanaan partisipatif, dan bagaimana mereka dapat berpartisipasi secara aktif. Dalam hal ini, peran fasilitatif dari BPPKB/MD sangat dibutuhkan.
GAMBAR 56 Jenis Sumber Air
74% 18% 3% 3% 3% 1% Air tanah Air perpipaan Air sungai Air hujan Air minum kemasan Sumber lainnya
Kemudian, masyarakat di daerah rawan bencana perlu mendapatkan tambahan pengetahuan mengenai konservasi air dan teknologi tepat guna untuk pengadaan air bersih di musim kemarau yang berkepanjangan. Budaya hemat penggunaan air juga perlu ditanamkan sejak dini pada anak-anak dan juga ditekankan pada orang dewasa. Selain itu, perlu dilakukan berbagai upaya penelitian dan pengembangan teknologi konservasi air, sebagaimana yang telah lama dilakukan oleh Australia, Jepang, dan negara-negara lainnya.
C. Ketahanan Pangan
Perubahan iklim juga berdampak pada ketahanan pangan Indonesia. Saat ini penduduk Indonesia masih sangat tergantung pada satu jenis pangan pokok, yaitu beras. Produksi beras dan bahan pangan lainnya banyak mengalami masalah, baik dari segi penurunan luas lahan karena alih fungsi, bahan pangan dikonversi untuk menjadi sumber bahan bakar (bio
fuel), maupun gangguan alam yaitu perubahan musim, banjir, kekeringan, hama, dll.
Dengan tingkat konsumsi beras yang tinggi (> 100 kg/kap/th), penduduk Indonesia yang berjumlah sekitar 243,53 juta (proyeksi penduduk tahun 2012) membutuhkan ketersediaan bahan pangan pokok beras dalam jumlah yang banyak. Gangguan pada produksi beras akan berdampak besar terhadap ketahanan pangan Indonesia.
Dengan terjadinya perubahan musim sebagai efek pemanasan bumi, maka produksi pangan pun terancam menurun. Pada beberapa daerah di Sumatera, Jawa, dan Sulawesi terjadi curah hujan berlebihan, sehingga sebagian sawah terendam air. Lahan persawahan yang baru saja ditanami padi terendam dan gagal. Selain itu, banjir juga menyebabkan meningkatnya kematian hewan ternak. Hujan dan badai di laut akibat cuaca ekstrim
menyebabkan nelayan menjadi semakin sulit untuk melaut. Bahkan budi-daya di pesisir pantai juga menjadi terganggu bahkan rusak atau hancur dengan gelombang pasang yang sering terjadi dan menyebabkan salinitas air pada tambak dan budi-daya lainnya menjadi rusak dengan masuknya air laut. Perpanjangan musim hujan yang terjadi menyebabkan serangan hama pada tanaman pangan meningkat. Kemenerian Pertanian (Kementan) mencatat pada tahun 2012 total areal pertanian di Indonesia yang terkena dampak banjir mencapai 170.228 ha. Badai Puso menyebabkan kegagalan panen padi pada 38.926 ha.
Sedangkan pada beberapa daerah lain di pulau-pulau tersebut mengalami kekeringan, sehingga gagal panen. Kekeringan juga menyebabkan budi daya tambak di pesisir pantai menjadi rusak, sebab kadar garam pada air meningkat dengan menguapnya air tambak. Akibatnya, produksi pangan secara keseluruhan mulai mengalami penurunan, walaupun pada beberapa daerah tidak mengalami masalah dan tetap produktif. Dengan demikian, kelompok petani dan nelayan merupakan kelompok pekerja yang paling rentan untuk kehilangan mata pencarian sebagai akibat dari perubahan iklim.
Dari 110,8 juta penduduk (usia 15 tahun ke atas) yang bekerja, terdapat sekitar 35,46 persen laki-laki dan 34,48 persen perempuan yang bekerja di bidang pertanian, perikanan, perhutanan, dan perburuan. Ini berarti, sekitar 38 juta penduduk laki-laki dan perempuan akan terancam menurun penghasilannya atau bahkan hilang mata pencariannya akibat perubahan iklim bila tidak segera dilakukan upaya adaptasi.
Kemudian, perubahan iklim tidak hanya berdampak pada ketersediaan pangan. Dampak yang lebih jauh adalah pola konsumsi pangan yang terkait erat dengan ketersediaan pangan, terutama bagi penduduk miskin yang rawan pangan. Penduduk miskin tidak mampu mengkonsumsi pangan secara beragam, bergizi, dan aman. Dengan keterbatasan finansial, pilihan bahan pangan penduduk miskin menjadi sangat terbatas. Bila terjadi penurunan ketersediaan pangan pokok (beras) di pasar, yang menyebabkan harga pangan pokok meningkat, maka konsumsi pangan penduduk miskin bukan saja menjadi tidak beragam, tetapi juga berkurang kuantitasnya. Akibatnya kejadian status gizi kurang dan buruk akan meningkat terutama pada penduduk miskin yang rawan pangan. Penduduk miskin yang paling rentan terhadap ancaman gizi kurang dan buruk adalah ibu hamil dan ibu menyusui, serta bayi dan balita laki-laki, sebagaimana yang telah dijelaskan di dalam Bab IV Kesehatan.
D. Kesehatan
Perubahan iklim berarti juga perubahan musim. Di Indonesia, yang mulai nampak adalah terjadinya perpanjangan musim, sehingga musim hujan bertambah panjang dan musim kemarau pun bertambah panjang. Dengan perubahan musim ini, beberapa penyakit yang kejadiannya meningkat antara lain penyakit yang disebarkan oleh nyamuk, yang dapat mengakibatkan demam berdarah (pada perpanjangan musim hujan) dan malaria (pada perpanjangan musim kemarau).44 Walaupun nyamuk menyerang tanpa melihat jenis kelamin maupun usia, namun nampaknya perempuan dan anak-anak lebih banyak yang terkena penyakit demam berdarah dengue dibandingkan laki-laki dewasa. Hal ini kemungkinan disebabkan karena nyamuk demam berdarah lebih banyak terdapat pada genangan air bersih yang berada di sekitar dan di dalam rumah. Perempuan dewasa dan anak-anak lebih banyak/lama berada di sekitar rumah, sehingga lebih besar kemungkinannya tergigit oleh 44 Surveilans dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kemenkes.
nyamuk demam berdarah. Sebaliknya nyamuk malaria lebih banyak berada di area terbuka dan pepohonan, sehingga laki-laki dewasa yang umumnya lebih sering berada/bekerja di area terbuka seperti perkebunan dan hutan, lebih besar kemungkinannya terserang penyakit malaria.
Oleh karena itu, perlu diupaya tindakan promotif dan preventif praktis di masyarakat. Penyadaran masyarakat dan keluarga akan pentingnya kebersihan lingkungan dan sanitasi menjadi esensial dalam pemberdayaan masyarakat untuk memberantas sarang nyamuk, dan menghindari terjangkitnya demam berdarah dan penyakit serangga menular lainnya. Dalam preventif, upaya bersama untuk mendorong pemeliharaan lingkungan sehat perlu dilakukan terutama dalam penyediaan dan pemeliharaan saluran pembuangan air (selokan/sewerage) dan septik tank. Edukasi dan informasi mengenai kebiasaan hidup sehat dan bersih tidak akan berdampak bila sarana saluran pembuangan air kotor tidak ada.