• Tidak ada hasil yang ditemukan

Imanensi Tuhan Menurut Mulyadhi Kartaneara

BAB IV. TRANSENDENSI DAN IMANENSI TUHAN MENURUT MULYADHI KARTANEGARA KARTANEGARA

C. Imanensi Tuhan Menurut Mulyadhi Kartaneara

Terkait sifat atau atribut Tuhan (tasybih), bagi Mulyadhi Tidak seperti agama Buddha

yang dengan pendekatan tanzih-nya berhenti membicarakan Tuhan, tetapi menurutnya, Islam

mengenal kesepakatan lain, yakni tasybih "atau" keserupaan antara Tuhan dan makhluk-Nya

(Imanen).75 Kata tasybih sendiri bersal dari kata kerja syabaha, yang secara harfiah berarti

menyerupakan atau menganggap sesuatu serupa dengan yang lain. Dari sini tasybih bisa

dipahami sebagai konsep yang mempertahankan bahwa keserupaan tertentu bisa ditemukan

antara Tuhan dengan makhluk.76

Dalam penjelasan secara lebih lanjut, Mulyadhi menerangkan bahwa manusia, yang

memungkinkan pengetahuan yang positif tentang Tuhan bisa merujuk pada hadist qudsi yang

menurutnya menjadi reference sekaligus dasar legitimatif tentang konsep tasybih. Lanjutan

dari hadist qudsi dari penjelasan sebelumnya yang, setelah menyatakan bahwa Dia adalah

pusaka yang tersembunyi. Menurutnya, Tuhan menyatakan keinginan-Nya untuk dikenal oleh

makhluk-makhluk-Nya, khususnya manusia, sehingga la menciptakan alam semesta sebagai

74

Mulyadhi Kartanegara, Lentera Kehidupan, h. 6 75

Mulyadhi Kartanegara, Lentera Kehidupan, h. 7 76

53

media perantara, yang memungkinkan manusia bisa mengenal sifat-sifat-Nya. Secara

spesifik, mulyadhi menerangkan konsep tasybihnya. Dikatakan bahwa sesuatu itu bisa

dikenal antara subjek, yang mengenal, dan objek, yang dikenal, jika terdapat keserupaan.77

Jika kita kembali menilik uraian Ibn ‘Arabi tentang tasybih, tampaknya terlihat selaras dengan argumentasi tersebut, dimana menurut Ibn ‘Arabi, jika dilihat dari nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya dan penampakan diri-Nya dalam bentuk-bentuk alam, Tuhan adalah

musyabbah (Imanen), yang maksudnya adalah serupa dengan makhluk-makhluk-Nya pada

tingkat tertentu. Tuhan adalah mutajalli (yang menampakka diri), dan yang menampakkan

diri memiliki keserupaan, walaupun dalam kadar yang paling kecil. Dengan lokus

menampakkan diri (majla) yakni alam, yang tidak lain merupakan lokus penampakan

(mazhar) nama-nama dan sifat Tuhan.78

Adapun alasan terkait soal mengapa manusia tidak dapat mengenal zat Tuhan,

menurut Mulyadhi dikarenakan tidak ada sama sekali keserupaan antara zat Tuhan dan zat

manusia. Tetapi, dilain sisi ketika bicara tentang sifat-sifat Tuhan, maka kita akan

menemukan beberapa keserupaan dengan-Nya, yang memungkinkan manusia untuk

mengenal Tuhan secara positif. Misalnya, manusia bisa, sampai pada taraf tertentu, melihat

sifat "tahu" Tuhan karena kita pun, pada tingkat yang lebih rendah, memiliki sifat "tahu"

tersebut. Demikian juga kita bisa memahami sifat Tuhan, karena kita (manusia) juga hidup,

meskipun hidup kita sementara hidup Tuhan abadi. Keserupaan ini tidak berhenti secara

statis, tetapi bersifat dinamis dengan kemampuan manusia untuk menyerap atau menyerap

sifat-sifat Tuhan ke dalam dirinya.79

Dalam hadist qudsi yang disinggung oleh Mulyadhi di atas, pada bagian akh ir yang

berbunyi “maka melalui aku, mereka makhluk-makhluk itu (dapat) mengenal aku”.

77

Mulyadhi Kartanegara, Lentera Kehidupan, h. 7 78

Kautsar Azhari Noer, Ibn Al-‘Arabi, h. 88

79

54

Menurutnya, manusia bisa mengenal Tuhan sebagai yang terpendam dan tersembunyi dalam

bentuk yang sudah dimanifestasikan dalam ciptaan. Jadi, kita dapat mengenal Tuhan lew at

ciptaan, tetapi ciptaan tersebut tidak lain dari pada Aku (harta yang terpendam) yang kini

telah mengejawentah. Jadi, meskipun ciptaan ini bukan “Aku yang terpendam lagi” tetapi ia tidak lain daripada “Aku” yang terejawentah juga.80

Secara lebih lanjut, Mulyadhi mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW

menganjurkan kita untuk “berakhlak dengan sifat-sifat Allah” sebagaimana dinyatakan dalam sebuah hadist beliau yang artinya "Berakhlaklah dengan akhlak Allah". Terkait hal ini,

menurutnya yang dimaksud "berakhlak dengan akhlak Allah" adalah "menirukan sifat-sifat

terpuji dari Tuhan yang mungkin". Ia mengambil contoh misalnya, "menulis" adalah satu cara

untuk menentukan sifat keabadian "hidup" Tuhan, karena dengan menulis, kita kekal, sebagai

manusia, beserta segala pemikiran, gagasan, perasaan, meskipun kita sudah meninggalkan

dunia ini. Hal lain yang menguatkan keyakinan kita bahwa manusia dapat mengenal secara

positif sifat-sifat Tuhan adalah kenyataan bahwa Tuhan sendiri di dalam al-Qur'an

memperkenalkan nama-nama indah-Nya (al-asma al-husna) manusia. Sebagaimana yang

telah sedikit diuraikan di atas bahwa, diperkenalkannya nama-nama tersebut kepada manusia,

bagi Mulyadhi, menjadi dalil bagi kemungkinan manusia untuk mengetahui "nama-nama"

atau "sifat-sifat" Tuhan tersebut. Sebab jika tidak demikian, maka mustahil Tuhan akan

melakukannya. Serta 99 al-asma al-husna menilai batas bagi sifat-sifat-Nya, karena baginya

sifat-sifat-Nya terbatas.81

Asma’ dan shifat yang dijelaskan oleh Mulyadhi merupakan realitas ontologis, serta

kaitannya dengan benda-benda yang ada adalah “arketipe” atau “citra ideal”. Menurutnya, dalam artian inilah para sufi memahami asma’ (nama-nama) dan sifat-sifat Tuhan. Jadi, bagi

mereka al-asma’ al-husna tidak lain adalah realitas-realitas artikepal, yang ber-tajalli dalam

80

Mulyadhi Kartanegara, Menyelami Lubuk Tasawuf, h. 48 81

55

bentuk benda-benda konkret. Jadi, apapun yang ada dalam dunia ini semuanya merupakan

manifestasi dan penjelmaan sifat-sifat Tuhan. Serta menurutnya, banyaknya jenis

benda-benda yang kita jumpai di dunia ini membuktikan membuktikan bahwa sifat-sifat Tuhan

sangatlah banyak, bahkan tidak terbatas. 99 nama Tuhan yang indah itu merupakan

nama-nama utama yang masih punya turunan tak terhingga jumlahnya.82

Menurut Mulyadhi, pada dasarnya 99 nama tersebut masih berinduk pada nama-nama

besar Kehidupan, Pengetahuan, Kehendak, dan Kekuasaan. Dikatakan menginduk,

dikarenakan keempat nama tersebut kemudian terbagi dalam 99 nama atau 1001 nama-nama

Tuhan, yang mana pada gilirannya, nama-nama Tuhan ini terbagi ke dalam bagian-bagian

yang tidak terbatas jumlahnya. Dan bagian-bagian yang tak terbatas ini tidak lagi disebut

nama-nama, melainkan entitas artikepal yang bertindak sebagai prinsip-prinsip dari semua

wujud individual yang ada dalam dunia manifestasi. Sifat-sifat dan nama-nama inilah yang

dimaksud dengan kanz makhfiy (harta terpendam).83

Terkait 99 nama tersebut bagi Mulyadhi merupakan sifat-sifat yang dikenal oleh

manusia, karena keserupaannya dengan sifat-sifat manusia. Jika misalnya syarat bagi sesuatu

untuk bisa diketahui manusia adalah adanya keserupaan antara subjek dan objek, maka

absennya keserupaan tersebut akan menyebabkan terhalangnya subjek untuk mengetahui

objeknya. Barangkali kepemilikan nama-nama Tuhan ke dalam 99 poin yang untuk

menunjukkan hal tersebut, di mana Tuhan tidak mungkin akan memperkenalkan sebuah sifat

yang memang dari semula mungkin tidak mungkin untuk diketahui manusia. Dengan

demikian, segala nama yang Dia perkenalkan kepada manusia adalah nama-nama yang

mungkin manusia kenal atas dasar keserupaan (tasybih) yang ada di antara keduanya.84

82

Mulyadhi Kartanegara, Menyelami Lubuk Tasawuf, h. 55 83

Mulyadhi Kartanegara, Menyelami Lubuk Tasawuf, h. 56 84

56

Dengan ini, pernyataan sekelompok orang yang menyatakan bahwa baik zat maupun

sifat Tuhan sama sekali berbeda dengan zat dan sifat manusia adalah problematik, karena ia

telah melanggar kaidah bahwa sesuatu itu dapat dikenal hanya apabila antara subjek yang

mengetahui dan objek yang diketahui terdapat keserupaan. Tetapi, sebaliknya, apabila di

antara keduanya tidak terdapat keserupaan (tasybih), tapi hanya perbedaan (tanzih) saja,

maka pengenalan manusia, sebagai subjek terhadap objeknya menjadi tidak mungkin alias

mustahil.85

Pada akhirnya, ada unsur tanzih yaitu perbedaan antara alam dengan Tuhan, dimana

Tuhan adalah “yang tersembunyi” bathin), sedangkan alam adalah yang terwujud

(al-zhahir), tetapi pada alam juga terkandung unsur tasybih, yaitu persamaan antara alam dengan

Tuhan, karena baik yang lahir maupun yang batin adalah dua sifat dari realitas yang Esa dan

sama.86

Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Ibn ‘Arabi bahwa pada dasarnya antara

tanzih dan tasybih haruslah dipadukan, karena keduanya merupakan sebuah kesatuan yang

saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan. Terkait para mutakallimun yang mendukung

tanzih dan menolak tasybih maupun sebaliknya, menurut Ibn ‘Arabi sikap yang paling tepat ialah memberikan penekanan yang sama kepada keduanya di waktu yang sama.87

Terlepas dari perdebatan panjang terkait tanzih dan tasybih dalam wilayah kalam

seputar hubungan di antara keduanya, misalnya kaum Mu’tazilah yang percaya bahwa zat dan sifat Tuhan adalah sama dalam ajaran nafy al-shifat, atau bagi kaum Asy’ariyyah yang menganggap sifat-sifat itu ada dan berbeda dengan zat Allah. Yang menarik adalah,

Mulyadhi berpendapat bahwa, pada perkembangan berikutnya, pandangan positif tentang

sifat-sifat Allah yang dibedakan denga zat-Nya ini diabaikan serta dipopulerkan khususnya di

85

Mulyadhi Kartanegara, Lentera Kehidupan, h. 9 86

Mulyadhi Kartanegara, Menyelami Lubuk Tasawuf, h. 48 87

57

dunia melayu. Menurutnya, melalui ajaran 20 sifat Allah,88 dengan cara dihafal atau

dilantunkan menjelang salat wajib lima waktu dalam sehari bersama dengan shalawat nabi.89

D. Analisis terhadap Pandangan Mulyadhi Kartanegara Mengenai Transendensi dan