• Tidak ada hasil yang ditemukan

LANDASAN TEORI

2.1 Tinjauan Pustaka

2.1.2 Model Pembelajaran

2.1.2.5 Implikasi Model Pembelajaran Van Hiele Terhadap Pengajaran

Setiap guru harus mampu meninjau perkembangan siswa dalam pemikiran geometri untuk pembelajaran setiap tahunnya. (Walle, 2011: 155-156), menekankan pentingnya pengajaran pada tingkat pemikiran siswa terutama jika menggunakan teori Van Hiele. Penggunaan materi-materi yang terlihat secara fisik dan gambar-gambar merupakan suatu keharusan yang digunakan pada setiap tingkatan dalam teori Van Hiele. Tahapan berpikir kognitif siswa kelas V SD menurut Piaget termasuk dalam kategori operasional konkret, sehingga menggunakan tingkatan teori Van Hiele sampai pada tingkat ke 2 yaitu pengurutan.

Walle (2011: 155-156) mengemukakan kegiatan pengajaran pada level 0 dalam geometri yang tepat berupa: (1) pemilihan dan pengelompokan. Meninjau bagaimana bentuk dapat serupa atau berbeda adalah fokus utama pada tingkat 0. Pada tahap-tahap awal siswa akan berbicara tentang sifat-sifat yang

kedengarannya bukan sebagai sifat geometri seperti “besar” atau bahkan warna

pada tiap-tiap bagian. Ketika siswa belajar lebih banyak materi, jenis benda-benda yang ia perhatikan akan menjadi lebih rumit. (2) Mengandung keragaman contoh yang cukup sehingga aspek-aspek yang tidak relevan tetap penting. Siswa membutuhkan banyak waktu untuk menggambar, membangun, membuat, menggolongkan dan memisahkan bentuk bangun geometri. Kegiatan seperti ini akan lebih baik jika dibuat sekitar karakteristik sifat bangun tertentu, sehingga siswa mampu mengembangkan pemahaman akan sifat-sifat bangun geometri dan mulai menggunakannya secara alami. Bantuan yang dapat diberikan kepada siswa

17 untuk membantu ia berkembang dari tingkat 0 ke tingkat 1 dapat menggunakan sebuah tantangan yang bertujuan untuk menguji ide-ide tentang bentuk bangun geometri dari kategori tertentu. Contohnya, siswa diminta untuk menggambar sebuah segitiga yang tidak mempunyai sudut siku-siku.

Kegiatan pengajaran pada level 1 yang tepat berupa: (1) Fokus pada sifat-sifat bentuk daripada identifikasi sederhana. Ketika siswa belajar konsep geometri yang baru, maka jumlah sifat-sifat dan bentuk-bentuk bangun geometri dapat dikembangkan. (2) Menerapkan ide ke seluruh kelompok bentuk dengan

pemilihan kata “semua” daripada model-model bentuk per individu. Contohnya,

semua persegi, semua persegi panjang, semua segitiga dan lain sebagainya. Kemudian, menganalisis kelompok-kelompok bentuk untuk menemukan sifat-sifat baru (Walle, 2011: 155-156). Bantuan yang dapat diberikan kepada siswa agar mampu naik dari tingkat 1 ke tingkat 2 adalah dengan memberikan siswa tantangan melalui pertanyaan-pertanyaa. Contohnya, „dimana letak perbedaan antar persegi dan persegi panjang?‟.

Kegiatan pengajaran pada level 2 yang tepat berupa: (1) mendorong

pengujian hipotesis atau perkiraan. Contohnya, „apakah segitiga yang mempunyai

tiga sisi yang sama panjang bisa disebut segitiga sama kaki atau hanya boleh

disebut dengan segitiga sama sisi?‟. (2) Menggunakan bahasa deduksi informal

seperti: beberapa, semua, jika, maka, tidak satupun, dan sebagainya. (3) Mendorong siswa mencari bukti-bukti informal. Guru dapat meminta siswa untuk memperjelas bukti-bukti informal yang siswa lain atau guru usulkan (Walle, 2011: 155-156).

Pada setiap level dari berpikir geometri, ide yang dibuat menjadi fokus pada objek pemikiran untuk level selanjutnya. Seperti pada gambar 2.1 berikut ini.

18 Gambar 2.1 Teori Van Hiele tentang Berpikir Geometri

Melalui gambar tersebut, perpindahan tingkat dalam implikasinya terhadap pengajaran harus berkaitan. Seolah-olah berpindah tingkatan namun dengan cara yang tersamarkan, sehingga jika level 0 akan berpindah ke tingkat 1 ada sebuah penghubung yang harus dilalui oleh siswa, hal ini berlaku pada tingkat-tingkat selanjutnya.

Kesimpulannya, tahapan berpikir siswa kelas V SD menurut Piaget berada dalam tahap operasional konkrit sehingga menggunakan tingkatan pada teori Van Hiele sampai tahap 2 yaitu, pengurutan. Pengajaran pada level 0 dalam geometri berupa, pemilihan dan pengelompokan. Pengajaran level 1 berupa Fokus pada sifat-sifat bentuk daripada identifikasi sederhana. Pengajaran level 2 berupa mendorong pengujian hipotesis atau perkiraan. Perpindahan level 0 sampai 2 dalam pengajaran harus berkaitan satu sama lain, misalanya dari level 0 akan berpindah ke level 1 akan ada bantuan yang digunakan untuk membantu siswa berpindah level. Begitu juga pada level seterusnya. Level 1 tidak bisa dilalui jika level 0 belum selesai dilalui.

Bentuk Golongan- golongan bentuk Sifat-sifat bentuk Hubungan Di antara sifat

Sistem deduktif Analisis sistem Dari sifat sistem deduktif

19 2.1.3 Pemahaman

Pemahaman adalah suatu hal yang kita pahami dan kita mengerti dengan benar (Chaniago, 2002: 427-428). Arikunto (2009: 118-137) mendefinisikan pemahaman (comprehension) adalah bagaimana siswa mempertahankan, membedakan, menduga (estimates), menerangkan, memperluas, menyimpulkan, menggeneralisasikan, memberikan contoh, menuliskan kembali, dan memperkirakan. Melalui pemahaman siswa diminta untuk membuktikan bahwa ia memahami hubungan yang sederhana di antara fakta-fakta atau konsep. Gulo (2005) membedakan tiga jenis pemahaman berdasarkan tahapan berpikir kognitif dalam taksonomi Bloom, yaitu: (1) Translation (pengubahan) yaitu pengalihan dari bahasa konsep ke dalam bahasa sendiri atau pengalihan dari konsep abstrak ke suatu model atau simbol, misalnya mampu mengubah soal kata-kata ke dalam simbol atau sebaliknya. (2) Interpretation (mengartikan) yaitu, menghubungkan bagian-bagian terdahulu dengan yang diketahui berikutnya atau menghubungkan beberapa bagian dari grafik dengan kejadian, membedakan yang pokok dengan bukan pokok, misalnya mampu mengartikan suatu kesamaan. (3) Ekstrapolation (perkiraan) misalnya mampu memperkirakan sesuatu kecenderungan atau gambar. Dengan ektrapolasi diharapkan seseorang mampu melihat sesuatu dari yang tertulis, dapat membuat ramalan tentang konsekuensi atau dapat memperluas persepsi dalam arti waktu, dimensi, kasus ataupun masalah.

Kesimpulannya, siswa membutuhkan waktu dalam proses memahami. Pemahaman merupakan proses mengerti sesuatu yang dianggap benar. Peran guru adalah membantu siswa agar mampu membentuk suatu konsep secara mandiri dengan cara memahami bukan hanya menghafal. Jika siswa mampu membuktikan suatu konsep, maka ia sudah mampu memahami materi yang merupakan bagian dari konsep tersebut.

2.1.3.1 Konsep

Pengertian konsep adalah universal di mana mereka bisa diterapkan secara merata untuk setiap existensinya. Konsep juga dapat diartikan pembawa arti. Menurut Soedjadi (2000: 14) pengertian konsep adalah ide abstrak yang dapat digunakan untuk mengadakan klasifikasi atau penggolongan yang pada umumnya