LANDASAN TEORI
2.1 Tinjauan Pustaka
2.1.2 Model Pembelajaran
2.1.3.2 Taksonomi Bloom
dinyatakan dengan suatu istilah atau rangkaian kata. Bahri (2011: 30) pengertian konsep adalah satuan arti yang mewakili sejumlah objek yang mempunyai ciri yang sama. Orang yang memiliki konsep mampu mengadakan abstraksi terhadap objek-objek yang dihadapi, sehingga objek-objek ditempatkan dalam golongan tertentu. Objek-objek dihadirkan dalam kesadaran orang dalam bentuk representasi mental tak berperaga. Konsep sendiri pun dapat dilambangkan dalam bentuk suatu kata (lambang bahasa). Guru harus mampu memahami suatu konsep dalam suatu materi pembelajaran sebelum ia mengajarkannya kepada siswa. Konsep yang akan diberikan kepada siswa dimulai dari pemberian materi yang sederhana menuju materi yang lebih kompleks, agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Berdasarkan uraian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa konsep adalah ide yang dinyatakan dengan rangkaian kata dan merupakan bagian yang penting dalam setiap mata pelajaran sesuai dengan kajian ilmu pengetahuan. Sebelum membuat perencanaan pembelajaran, guru harus memahami konsep yang terdapat dalam materi pelajaran yang akan ia sampaikan sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik.
2.1.3.2 Taksonomi Bloom
Utari (2011) menjelaskan pengertian taksonomi yang berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani yaitu tassein yang berarti mengklasifikasi dan nomosyang berarti aturan, sehingga taksonomi berarti hierarkhi klasifikasi atas prinsip dasaratau aturan. Istilah ini kemudian digunakan oleh Benjamin Samuel Bloom, seorang psikolog bidang pendidikan yang melakukan penelitian dan pengembangan mengenai kemampuan berpikir dalam proses pembelajaran. Utari (2011) juga menjelaskan mengenai biografi Bloom. Bloom lahir pada tanggal 21 Februari1913 di Lansford, Pennsylvania dan berhasil meraih doktor di bidang pendidikan dari The University of Chicago pada tahun 1942. Sejarah taksonomi Bloom bermula sejak awal tahun 1950 dalam Konferensi Asosiasi. Pada tahun 1956 Bloom, Englehart, Furst, Hill, dan Krathwohl berhasil mengenalkan kerangka konsep kemampuan berpikir yang dinamakan Taksonomi Bloom. Taksonomi Bloom adalah struktur hierarki yang mengidentifikasikan kemampuan
21 mulai dari tingkat yang rendah hingga yang tinggi (Anderson dan Krathwohl, 2010: 6). Level yang rendah harus dipenuhi lebih dulu untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi. Dalam kerangka konsep ini, tujuan pendidikan oleh Bloom dibagi menjadi tiga domain atau ranah kemampuan intelektual (intellectual behaviors) yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik.
Bloom (dalam Anderson dan Krathwohl, 2010: 6) menjelaskan lebih lanjut lagi mengenai ranah kognitif yang terdiri atas enam level, sebagai berikut: (1) knowledge (pengetahuan), (2) comprehension (pemahaman atau persepsi), (3) application (penerapan), (4) analysis (penguraian atau penjabaran), (5) synthesis (pemaduan), dan (6) evaluation (penilaian). Pada tingkat pengetahuan, siswa menjawab pertanyaan berdasarkan hafalan saja. Soal yang diberikan menuntut jawaban yang berdasarkan hafalan. Pada tingkat pemahaman: siswa dituntut untuk menyatakan masalah dengan kata-katanya sendiri, memberi contoh suatu prinsip atau konsep. Soal yang diberikan menuntut pembuatan pernyataan masalah dengan kata-kata penjawab sendiri, pemberian contoh prinsip atau contoh konsep. Pada tingkat aplikasi, siswa dituntut untuk menerapkan prinsip dan konsep dalam suatu situasi yang baru. Soal yang diberikan menuntut penerapan prinsip dan konsep dalam situasi yang belum pernah diberikan. Pada tingkat analisis, siswa diminta untuk menguraikan informasi ke dalam beberapa bagian, menemukan asumsi, membedakan fakta dan pendapat, dan menemukan hubungan sebab dan akibat. Soal yang diberikan menuntut uraian informatif, penemuan asumsi pembedaan antara fakta dan pendapat, dan penemuan sebab akibat. Pada tingkat sintesis, siswa dituntut menghasilkan suatu cerita, komposisi, hipotesis, atau teorinya sendiri, dan mengsintesiskan pengetahuan. Soal yang diberikan menuntut pembuatan cerita, karangan, hipotesis dengan memadukan berbagai pengetahuan atau ilmu. Pada tingkat evaluasi, siswa mengevaluasi informasi, seperti bukti sejarah, editorial, teori-teori, dan termasuk di dalamnya melakukan judgement terhadap hasil analisis untuk membuat kebijakan. Soal yang diberikan menuntut
pembuatan keputusan dan kebijakan , dan penentuan “nilai” informasi.
Pada tahun 1994, salah seorang murid Bloom, Lorin Anderson Krathwohl dan para ahli psikologi aliran kognitivisme memperbaiki taksonomi Bloom agar sesuai dengan kemajuan zaman. Hasil perbaikan tersebut baru dipublikasikan
22 pada tahun 2001 dengan nama Revisi Taksonomi Bloom. Revisi hanya dilakukan pada ranah kognitif. Perubahan hampir terjadi pada semua level hierarkis, namun urutan level masih sama yaitu dari urutan terendah hingga tertinggi. Perubahan mendasar terletak pada level 5 dan 6. Perubahan-perubahan tersebut dijelaskan oleh Retno Utari (2011) sebagai berikut: Pertama, pada level 1 knowledge diubah menjadi remembering (mengingat). Kedua, pada level 2 comprehension dipertegas menjadi understanding (memahami). Ketiga, pada level 3 application diubah menjadi applying (menerapkan). Keempat, pada level 4 analysis menjadi analyzing (menganalisis). Kelima, pada level 5 synthesis dinaikkan levelnya menjadi level 6 tetapi dengan perubahan mendasar, yaitu creating (mencipta). Keenam, pada level 6 Evaluation turun posisisinya menjadi level 5, dengan sebutan evaluating (menilai).
Lebih lanjut lagi, Utari (2011) menjelaskan bagaimana langkah-langkah yang harus digunakan dalam menerapkan Taksonomi Bloom, yaitu: (1) Tentukan tujuan pembelajaran. (2) Tentukan kompetensi pembelajaran yang ingin dicapaiapakah peningkatan knowledge, skills atau attitude. (3) Tentukan ranah kemampuan intelektual dengan kompetensi pembelajaran. (4) Gunakan kata kerja kunci yang sesuai,untuk menjelaskan instruksi kedalaman materi, baik padatujuan program diklat, kompetensi dasar dan indikator pencapaian.
Kesimpulannya, ranah kognitif dalam taksonomi Bloom terdiri dari enam level atau tingkatan yang sudah mengalami revisi yaitu, pada level 1 knowledge diubah menjadi remembering (mengingat). Pada level 2 comprehension dipertegas menjadi understanding (memahami). Pada level 3 application diubah menjadi applying (menerapkan). Pada level 4 analysis menjadi analyzing (menganalisis). Pada level 5 synthesis dinaikkan levelnya menjadi level 6 tetapi dengan perubahan mendasar, yaitu creating (mencipta). Pada level 6 Evaluation turun posisisinya menjadi level 5, dengan sebutan evaluating (menilai). Ranah kognitif dalam taksonomi Bloom yang digunakan sampai sekarang adalah ranah kognitif yang sudah direvisi. Setiap level saling berkaitan sehingga, jika level pertama belum selesai dipahami oleh siswa maka level kedua belum boleh dipelajari, begitu juga untuk level selanjutnya.
23 2.1.3.3 Kategori dalam Dimensi Proses Kognitif
Ada enam kategori pada dimensi proses kognitif yang termuat dalam taksonomi Bloom (Anderson dan Krathwohl, 2010: 43-45). Pertama, mengingat yaitu proses mengambil pengetahuan yang dibutuhkan dari memori jangka panjang. Pengetahuan yang dibutuhkan seperti pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, atau metakognitif. Dalam kemampuan mengingat, guru dapat memberikan pertanyaan mengenali atau mengingat kembali dalam kondisi yang sama persis dengan kondisi siswa belajar materi yang diujikan. Pengetahuan mengingat penting sebagai bekal untuk belajar yang bermakna dan menyelesaikan masalah karena pengetahuan tersebut dipakai dalam tugas-tugas yang lebih kompleks. Kemampuan mengingat terdiri dari mengenali dan mengingat kembali. Kemampuan mengenali merupakan proses membandingkan informasi yang lama dengan informasi yang baru saja diterima. Dalam mengenali, siswa mencari suatu informasi dalam memori jangka panjang yang identik atau mirip sekali dengan informasi yang baru diterima. Kemampuan mengingat kembali merupakan proses mengambil pengetahuan yang dibutuhkan dari memori jangka panjang dan mencari informasi ke memori kerja untuk diproses . Istilah lain untuk mengingat kembali adalah mengambil.
Kedua, memahami adalah suatu kemampuan dalam menghubungkan
pengetahuan „baru‟ dan pengetahuan lama. Pengetahuan yang baru dipadukan
dengan skema-skema dan kerangka-kerangka kognitif yang telah ada. Pengetahuan konseptual menjadi dasar untuk memahami.
Ketiga, mengaplikasikan adalah penggunaan prosedur-prosedur tertentu untuk mengerjakan soal latihan atau menyelesaikan masalah. Mengimplementasikan berlangsung saat siswa memilih dan menggunakan sebuah prosedur untuk menyelesaikan masalah yang masih asing atau tidak familier. Mengimplementasikan terjadi bersama kategori-kategori proses kognitif lain, seperti memahami dan mencipta.
Keempat, menganalisis melibatkan proses memecah-mecah materi jadi bagian-bagian kecil dan menentukan hubungan antara setiap bagian menjadi suatu struktur keseluruhan. Kategori proses menganalisis meliputi proses-proses kognitif membedakan, mengorganisasi, dan mengatribusikan. Kegiatan yang