BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.2. Hasil Wawancara
4.1.2.3. Informan 3
Nama : Budi Wongso Utomo
Jenis Kelamin : Pria
Tempat Tanggal Lahir : Kendal, 14 Maret 1961 ( 55 Tahun ) Pekerjaan : Seniman / Pelukis
No HP : 08122836892
Informan ketiga adalah Pak Budi Wongso Utomo. Beliau adalah orang bersuku Jawa yang lahir pada 14 Maret 1961 di Kendal. Seniman merupakan pekerjaan yang dilakoni Pak Budi saat ini. Pria yang menetap di Kota Semarang ini telah memiliki satu istri dan satu putra. Pak Budi adalah penumpang Garuda Indonesia dengan tujuan Semarang yang transit melalui Jakarta. Sebelumnya pria berumur 56 tahun ini datang ke Medan hanya untuk tinggal semalaman saja, karena beliau datang dari kota Jeddah untuk pulang ke Semarang. Informan ketiga ini peneliti dapatkan dihari yang sama dengan informan kedua.
Pak Budi adalah penumpang setia Garuda Indonesia. Beliau selalu memilih Garuda Indonesia sebagai pilihan pertamanya untuk menjadi partner perjalanan. Sudah tidak terhitung beliau telah menggunakan jasa Garuda Arilines.
Pak Budi menilai Garuda Indonesia sangat nyaman sehingga selalu menjadi pilihan utamanya. Selain itu Pak Budi juga pernah menggunakan maskapai penerbangan lain seperti Air Asia, Saudi Arabian Airlines dan Lion Air.
“Waduh berapa ya. Dulu pernah naik Saudia, Lion juga pernah waktu ke surabaya. Waktu ke senai, itu di johor, saya naik Air Asia. Uda lebih 5 kali saya naik pesawat selain garuda.”
Secara keseluruhan Pak Budi menilai bahwa pelayanan Garuda Indonesia cukup bagus. Beliau menyukai Garuda Indonesia dari segi ketepatan waktunya yang hampir tidak pernah terlambat. Dari segi awak kabin, Pak Budi menganggap awak kabin Garuda Indonesia memiliki perbedaan dari maskapai penerbangan lain. Keramahan, kesopanan, seragam yang bagus itu adalah perbedaan yang membuat awak kabin Garuda Indonesia lebih baik. Hal ini membuat beliau menilai awak kabin Garuda Indonesia lebih profesional dibandingkan dengan maskapai lain.
“Perbedaannya ya sopan. Bajunya bagus-bagus, ramah banget dah.
Mereka lebih profesional dah.”
Sebagai penumpang yang telah lama menggunakan Garuda Indonesia, tentu saja Pak Budi pernah menaiki pesawat yang menggunakan manual safety demo. Menurut beliau manual safety demo yang di peragakan oleh awak kabin Garuda Indonesia masih terlalu cepat. Tetapi hal tersebut tidak menghalangi beliau untuk memahami maksud dari manual safety demo. Pak Budi mengaku lebih menyukai memperhatikan safety demo yang ditampilkan di monitor dengan alasan lebih cepat dan lebih dekat dengan tempat duduk. Walaupun seperti itu, beliau masih ingin memperhatikan manual safety demo jika tidak adanya monitor dan beliau juga tidak ngantuk.
“Di monitor. Wong lebih jelas lebih dekat dengan saya juga toh. Ndak terlalu membingungkan, ndak lama, bagi kita yang sering naik ya gak masalah.”
“Ya itu tergantung suasana juga haha. Kalo saya ngantuk ya tidur haha.
Kalo ndak ngantuk pasti saya perhatikan.”
Awak kabin Garuda Indonesia tidak terlalu sering diperhatikan oleh Pak Budi. Hanya diperhatikan jika awak kabin Garuda Indonesia sedang berjalan atau berdiri di hadapan beliau. Beliau menilai bahwa tidak ada masalah dari gerakan badan, senyuman dan cara berjalan awak kabin Garuda Indonesia. Semuanya sudah sesuai dengan SOP. Beliau tidak bisa berkomentar banyak tentang pramugara, karena jarang sekali beliau memperhatikan adanya pramugara.
“Ya bagus sih. Saya rasa cantik-cantik mereka hahah. Kalo pramugara saya jarang liat. Gerakan badan mereka atau senyuman saya rasa uda SOP, pas bagi saya ini ya. Saya jawabnya bagi saya aja ni hahah.
Gesturnya itulah ndak ada masalah.”
Penampilan awak kabin Garuda Indonesia seperti, pemilihan seragam, potongan rambut dan parfum sangat disukai oleh Pak Budi. Tetapi beliau sedikit memberi pendapat untuk masalah potongan rambut. Beliau menginginkan potongan rambut awak kabin Garuda Indonesia lebih baik jika dibebaskan, contohnya ada yang di sanggul atau di potong pendek. Beliau menilai rambut setiap orang itu berbeda, jadi dipotong sesuai jenis rambutnya. Terlepas dari hal itu, Pak Budi tetap menilai potongan rambut awak kabin Garuda Indonesia yang sekarang tetap lebih bagus dibandingkan dengan awak kabin yang memiliki model rambut digerai. Beliau berpendapat bahwa itu adalah hal yang ‘ngaco’. Apalagi dalam permasalahan seragam yang beliau juga tidak menyukai awak kabin yang memiliki model belahan rok yang tinggi. Tetap seragam awak kabin Garuda Indonesia yang lebih baik.
“Keseluruhan saya suka, bagus. Saya maunya dalam hal potongan rambut itu dibebasin. Bisa di sanggul atau di potong pendek. Tapi ya itu kebijakan manajemen bukan kebijakan saya haha. Tapi saya rasa ndak ada masalah juga ya diseragamin gitu. Mantap juga. Kalo kostum suka sekali saya, cantik.”
Menurut Pak Budi, awak kabin Garuda Indonesia memiliki ketepatan waktu yang tidak perlu diragukan lagi. Beliau menilai bahwa mereka menjadi terbaik dalam hal ketepatan waktu. Contoh yang dialaminya yaitu seperti pada
waktu meminta air putih, yang beliau tidak perlu menunggu waktu lama untuk mendapatkannya. Komunikasi yang dilakukan awak kabin Garuda Indonesia dalam hal menyampaikan pengumuman sangat baik menurut Pak Budi. Beliau paham apa saja yang disampaikan awak kabin Garuda Indonesia melalui pengeras suara. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia yang baik dan baku, juga tidak pernah menggunakan bahasa daerah. Hal ini menurut beliau sangat berguna bagi warga asing yang ingin belajar bahasa Indonesia.
“ya paham aja. Wong pake bahasa indonesia bukan bahasa inggris semua. Ya emang mereka harus pake bahasa indonesia yang baku, jangan ada yang bahasa daerah. Jadi kalo ada orang asing lagi belajar bahasa kita bisa lebih paham juga. Emang harus gitu ya di tempat umum.”
Pada saat melakukan komunikasi langsung dengan awak kabin Garuda Indonesia, Pak Budi menilai tidak ada yang tidak bisa dipahami dari komunikasi mereka. Dari perilaku non verbal, seperti intonasi suara, senyuman dan tatapan mereka menurut beliau tidak ada masalah. Pak Budi menjelaskan tidak ada timbul persepsi lain ketika berkomunikasi langsung dengan mereka. Bahkan selama pengalaman hidupnya menggunakan Garuda Indonesia, tidak ada suatu peristiwa dimana komunikasi verbal ataupun non verbal (pakaian, potongan rambut, senyuman, cara berjalan dll) dari awak kabin Garuda Indonesia yang memiliki makna negatif bagi Pak Budi. Beliau menilai semuanya sudah bagus dan tidak ada persepsi lain yang ditimbulkan.
“Saya rasa baik. Sama-sama paham ya, saya ngerti apa yang dibilang.
Ndak ada tu persepsi lain. Bagus-bagus mereka semua ya.”
“Waduh ndak pernah juga dek. Te o pe dah mereka.”
Beliau mengaku tidak pernah naik di bussiness class dengan alasan faktor ekonomi dan juga tidak malu jika dia tidak pernah naik di kelas tersebut.
Selanjutnya ketika peneliti menanyakan tentang kasus pelecehan pramugari Garuda Indonesia pada bulan Mei tahun 2016 lalu, beliau mengetahui kasus tersebut tetapi hanya sedikit yang diingatnya. Menurut pandangan Pak Budi, dalam kasus tersebut yang bersalah adalah penumpang. Itu hanyalah penumpang iseng yang perilakunya sangat tidak pantas terhadap pramugari. Beliau juga menegaskan jika kita menuntut supaya awak kabin berperilaku sopan, seharusnya
kita juga harus bisa menempatkan diri kita kepada mereka. Bahkan kepada semua orang kita harus berperilaku sopan.
“Lupa saya, tapi kalo ndak salah pas nawarin makanan ya.”
“Ha itu penumpang iseng tu, saya rasa tidak sepantasnya sebagai seorang penumpang sendiri harus menghormati pramugari. Jangan kita menutut dia untuk sopan tapi kita sendiri yang tidak bisa membawa diri ya toh.
Kita harus taulah kita mau berkata apa, ndak sama pramugari aja ya.
Berlebihan itu tidak wajar.”
Peneliti bertanya kepada Pak Budi tentang kasus penamparan Garuda Indonesia beberapa tahun lalu yang ternyata beliau masih mengingatnya. Menurut beliau hal keterlambatan itu adalah sangat biasa di dunia penerbangan. Apalagi Garuda Indonesia yang sangat jarang sekali mengalami keterlambatan. Beliau menilai pejabat DPRD tersebut yang sangat berlebihan. Protes boleh, tetapi jangan menggunakan fisik.
“Oo tau saya tuh. Itu pejabatnya yang berlebihan. Saya rasa gak ada yang salah dari komunikasi pramugarinya. Itu wajar kan sebuah pesawat terlambat, bukan ulah pramugarinya. Banyak faktor itu. Garuda kan jarang delay juga lagian ya toh. Pejabat menang sendiri, protes jangan main tangan.”
Sebagai orang yang pernah menggunakan maskapai lokal dan luar negeri, beliau menilai bahwa Garuda Indonesia sangat pantas dinobatkan sebagai World Best Cabin Crew. Pak Budi mengaku jika dia tidak pernah mendapatkan pelayanan awak kabin yang sebaik Garuda Indonesia bahkan maskapai luar negeri sekalipun. Hal ini membuat beliau sangat bangga akan prestasi Garuda Indonesia.
“Baik Bagus. Saya ndak pernah dapati pelayanan awak kabin garuda di pesawat lain. Wo iya pantas banget itu, turut bangga saya. Toh saya juga merasakan pelayanannya sesuai. Sepantasnya mereka mendapati itu. The word loh, saya yang pernah naik pesawat luar negeri, saya rasa garuda lebih pantas juga.”
Pak Budi menilai bahwa pekerjaan sebagai awak kabin itu tidak hanya butuh skill tetapi juga harus mempunyai kepribadian. Kepribadian yang dimaksud
beliau adalah memiliki kepribadian seperti orang Indonesia. Di luar negeri, negara kita terkenal dari keramahannya. Maka hal seperti itulah yang harus ditunjukkan awak kabin. Selain itu mereka juga harus memiliki mental yang kuat, seperti jika adanya bencana. Pekerjaan seperti ini tidak bisa dianggap sepele
“Oo ndak. Tidak hanya skill, harus punya kepribadian ya. Khusus itu dek.
Mereka harus punya kepribadian indonesia karena membawa nama baik bangsa juga di luar negeri. Kan negara kita terkenal ramah. Lalu mereka juga harus siap sedia, mentalnya tu juga harus bagus. Kalo ada bencana kan ntar mereka luan yang handle. Ndak sepele ini.”
Jika dibandingkan kinerja antara pramugari dan pramugara Garuda Indonesia, beliau lebih menyukai kinerja pramugari. Alasannya adalah selain karena beliau sering melihat pramugari, juga karena suka melihat yang elok-elok.
Pandangan yang subjektif dari beliau dikarenakan beliau adalah pria.
“Ya sama. Tapi saya rasa sih lebih elok pramugari. Karena saya sering liat juga dan karena saya suka yang elok elok hahaha seneng saya. Maaf ya saya apa adanya aja dek, seneng liat yang cantik-cantik.”
Pada saat mendekati sesi akhir wawancara, Pak Budi memeberikan saran dan pesan untuk Garuda Indonesia. Pesan dan saran dari beliau adalah untuk meningkatkan ketepatan waktunya, jika bisa sampai tidak pernah terlambat sama sekali. Selanjutnya beliau memberikan masukan agar Garuda Indonesia segera mengganti model-model pesawat yang lama. Garuda Indonesia termasuk maskapai bertarif mahal yang seharusnya semua menggunakan pesawat model terbaru.
“Masalah tepat waktu kalo bisa jangan sampai ada lagi ya. Terus pesawat yang lama tuh coba diganti ya biar elok diliat orang. Kan pesawat mahal dan terbaik hahaha.”