BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.2. Hasil Wawancara
4.1.2.4. Informan 4
Nama : Enny Hartati
Jenis Kelamin : Wanita
Tempat Tanggal Lahir : Medan, 21 Mei 1968 ( 49 Tahun ) Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
No HP : 082161340807
Ibu Enny adalah seorang ibu rumah tangga yang menjadi informan keempat. Wanita yang berumur 49 tahun ini adalah seorang single parent yang cerai dengan suaminya sekitar 2 tahun yang lalu, tetapi beliau enggan untuk menceritakan penyebab perceraiannya. Ibu Enny adalah warga asli Medan yang menetap di wilayah Menteng. Ibu dari satu orang anak ini peneliti wawancarai di Starbucks Coffee Kualanamu Airport. Peneliti memilih Ibu Enny sebagai informan keempat dengan acak. Tujuan keberangkatan Ibu Enny saat itu adalah ke Jakarta untuk bertemu dengan pamannya. Ibu Enny juga mengaku bahwa dia lebih sering tinggal di Jakarta bersama pamannya daripada di Medan, karena sebenarnya anak beliau tinggal bersama pamannya dan dinafkahi oleh pamannya.
Wanita kelahiran 21 Mei 1978 ini sangat kooperatif dan tidak segan untuk menjawab berbagai pertanyaan dengan sangat terbuka.
Garuda Indonesia selalu menjadi pilihan pertama Bu Enny sebagai alat transportasi udara. Bisa dikatakan beliau adalah penumpang yang sudah lama menggunakan Garuda Indonesia karena semasa masih memiliki suami, beliau sering pergi ke kampung halaman mantan suaminya yaitu di Cibubur dengan menggunakan maskapai Garuda Indonesia. Maskapai penerbangan lain yang sering juga digunakan Ibu Enny adalah Lion Air dan Air Asia. Alasan beliau menggunakan maskapai tersebut adalah karena jadwal Garuda Indonesia yang tidak sesuai dengannya, sehingga Ibu Enny memilih maskapai lain.
“Saya rasa iyasih dek. Kalo mau terbang pasti aku cek garuda dulu, kalo misalmya gak cocok jamnya ya saya baru cek yang lain.”
“Banyak kali lah dek, apalagi dulu waktu masih sama suami saya.
Kampung mantan suami saya di Cibubur, jadi sering pulang ke sana naik garuda.”
Menurut Ibu Enny pelayanan Garuda Indonesia secara umum cukup memuaskan. Hal yang paling disukai beliau adalah dalam hal ketepatan waktu.
Beliau menjelaskan bahwa keberangkatan Garuda Indonesia sangat jarang sekali terlambat. Selanjutnya di Garuda Indonesia diberikan pelayanan berupa makanan dan minuman.
“Bagus dek. Dari ontimenya itu saya suka kali. Kalo gak ngapain saya naik garuda terus. Dapat makan pula lagi kan. Di pesawat lain malah berjualan.”
Jika dibandingkan dengan maskapai lain, Ibu Enny menjelaskan sisi keramahan dan kerapihan kerja menjadi nilai plus buat awak kabin Garuda Indonesia. SOP awak kabin Garuda Indonesia lebih jelas daripada maskapai lainnya. Hal ini membuat awak kabin Garuda Indonesia terkesan lebih profesional dibandingkan dengan maskapai lain. Bahkan beliau menilai maskapai-maskapai yang berjualan di pesawat itu seperti menaiki angkutan umum.
“Ya jelas banyak dek. Ramahnya itu saya rasa beda kali sama yang lain.
Jadi karena itu mereka kaya lebih profesional lah dek. Kerjanya lebih rapilah.”
Sebagai orang yang sudah lama menjadi penumpang Garuda Indonesia, tentu saja beliau pernah menaiki pesawat yang masih menggunakan manualsafety demo. Ibu rumah tangga ini sangat paham apa yang disampaikan awak kabin dalam manual safety demo. Awak kabin Garuda Indonesia dinilai beliau sangat menarik cara penyampaiannya. Beliau sering memperhatikan bagian dari manual safety demo seperti cara pemasangan safety belt dan pelampung
“Pahamlah dek masa gak, beberapa-beberapa itu saya sering perhatikan.
Kaya masang pelampung atau safet belt. Saya rasa itu penting makanya saya perhatikan, menarik jugasih cara penyampaiannya. Tapi kadang kalo saya lagi baca buku gak saya liat juga.”
Ibu Enny berpendapat bahwa safety demo yang ditampilkan di monitor lebih menarik untuk dilihat dibandingan yang diperagain oleh awak kabin Garuda Indonesia. Safety demo di monitor lebih mudah dilihat dan lebih cepat. Terkadang jika beliau mendapati posisi duduk di pojok, tentu akan kesulitan untuk melihat yang berjenis manual.
“Jujur saya lebih suka di monitor sih. Kadang kalo di manual saya susah liatnya, apalagi dapat duduk di pojok. Terus kalo di monitor lebih cepat dan lebih enak liatnya.”
Ketika diwawancarai, Ibu Enny juga mengaku sering memperhatikan gerak-gerik dari awak kabin Garuda Indonesia. Sama seperti informan sebelumnya, beliau hanya sebatas memperhatikan jika ada awak kabin Garuda Indonesia yang sedang melintas di depannya. Beliau menilai senyuman, gerakan mata dan tubuh, cara berjalan awak kabin Garuda Indonesia itu sudah bagus.
Mereka melakukannya sesuai SOP yang ditentukan. Tidak ada masalah dalam hal itu.
“Gimana yaa, gak ada masalah saya rasa. Kan mereka uda ada SOPnya.
Apa yang dilakukannya saya rasa uda bagus.”
Ibu Enny sangat tertarik dengan potongan rambut yang dimiliki awak kabin Garuda Indonesia. Menurut beliau potongan rambut yang pendek seperti itu terlihat menarik dan seragam dengan yang lainnya. Lain halnya dengan potongan rambut pramugara yang dinilai oleh Ibu Enny semuanya sama saja, sudah standarnya. Selanjutnya dalam hal pakaian/seragam yang digunakan awak kabin Garuda Indonesia, Ibu Enny menilai seragam yang mereka kenakan itu memiliki nuansa Indonesia yang kental. Beliau berpendapat seragam mereka sudah sangat sopan. Berbeda dengan maskapai lain yang memiliki seragam ketat dan model rambut yang digerai. Ibu Enny tidak tertarik dengan awak kabin yang seperti itu.
Walaupun itu sudah menjadi SOP maskapai tersebut, tetapi Ibu Enny menganggap bahwa awak kabin Garuda Airines tetap lebih baik.
“Ya suka saya ya, tertarik gitu. Menurut saya dari model rambutnya pramugari itu cantik ya. Dipotong pendek gitu jadi terlihat menarik, seragam sama yang lain. Pramugara sama aja itu semua ya haha”
“Itu saya gak tertarik ya. Pernah saya naik air asia tu, dalam pikiran saya waktu itu ‘kok ketat kali bajunya ntah model apa. Emang sih SOP mereka, tapi tetap lebih sopan garuda lah.”
Ibu Enny menilai bahwa awak kabin Garuda Indonesia memiliki ketepatan waktu yang baik. Hal ini dirasakan beliau ketika meminta makanan atau selimut.
Awak kabin Garuda Indonesia langsung memberikan apa yang diinginkan Ibu Enny tanpa memakan waktu lama. Selain itu ketika beliau menekan tombol panggilan awak kabin, tidak lebih dari semenit awak kabin Garuda Indonesia langsung melayaninya.
“Kalo itu saya no komen dek, cepat reaksi mereka. Tidak bertele-tele. Pas minta ambilin minuman atau selimut mereka langsung sedia. Terus kalo saya tekan tombol panggil itu, gak sampe semenit mereka uda datang.”
Pada saat menyampaikan pengumuman di pengeras suara, awak kabin Garuda Indonesia menggunakan bahasa yang tepat. Ibu Enny menjelaskan tidak ada alasan untuk tidak paham dengan pengumuman yang dilakukan awak kabin Garuda Indonesia. Tetapi terkadang ada gangguan yang terjadi ketika penyampaian pengumuman sedang berlangsung. Gangguan ini terletak pada pengeras suaranya yang kurang bagus atau sudah tua, sehingga suara awak kabin Garuda Indonesia kurang terdengar dengan baik. Hal seperti ini terjadi hanya pada pesawat yang berjenis lama.
“Saya rasa kalo pramugari lagi umumin sesuatu itu bagus-bagus aja ya.
Tidak ada hal yang buat bingung dek. Cara penyampaiannya bagus, bahasanya pun saya rasa gak ada masalah. Tapi kadang pas dulu sering tu speakernya kurang jelas, jadi suaranya kresek-kresek gitu. Kalo pesawat baru sih gak ada.”
Ibu Enny menilai tidak ada masalah ketika sedang berkomunikasi langsung dengan awak kabin Garuda Indonesia. Beliau merasa puas dan paham maksud dari komunikasi awak kabin tersebut. Keseluruhan komunikasi mereka sangat bagus dan sama sekali tidak ada yang janggal. Suara awak kabin Garuda Indonesia sangat lembut dinilai oleh Ibu Enny. Bahkan selama pengalaman beliau terbang bersama Garuda Indonesia, tidak ada satu momen pun terjadi
kesalahpahaman komunikasi baik verbal maupun non verbal. Dalam hal non verbal seperti penampilan rambut, pakaian, senyuman dan gerakan tubuh awak kabin Garuda Indonesia itu semua sudah diatur oleh SOP perusahaan. Menurut Ibu Enny semuanya sangat bagus, sampai sekarang tidak ada masalah.
“Hemmmm gak juga ya. Selama saya naik garuda bagus-bagus ajanya.
Mereka gak berani juga langgar SOP. Menarik mereka.”
Wanita yang mengaku tidak pernah menggunakan kelas bisnis ini ternyata mengetahui kasus yang dialami awak kabin Garuda Indonesia pada Mei 2016. Ibu Enny berpendapat bahwa kasus tersebut hanyalah perbuatan penumpang iseng Hal seperti itu tidak layak untuk dijadikan bahan bercandaan. Ibu Enny menambahkan tidak ada yang salah dengan perilaku pramugarinya, semua sudah sesuai standar.
Selanjutnya untuk kasus penamparan pramugari Garuda Indonesia pada 2013 lalu, beliau berpendapat bahwa hal tersebut murni kesasalahan pejabat. Menanggapi kasus tersebut Ibu Enny menilai perilakunya itu menunjukkan kesombongannya.
Sebaiknya pejabat tersebut tidak menggunakan kekerasan fisik jika ingin mengkritik pramugari. Hal keterlambatan itu sudah biasa, tidak layak jika dibalas dengan hal penamparan seperti itu, Ibu Enny menambahkan.
“Oohhh itu ya jelas lah ya siapa yang salah dan kita maklum. Pejabat inikan pantang gak senang dihatinya, sok paling bekuasa padahal duit rakyat yang sama dia haha. Cuma telat dikit aja main tampar, lagian garuda jarang kali delay. Sombong dia tu.”
Secara kesesluruhan kinerja awak kabin Garuda Indonesia dinilai sangat baik oleh Ibu Enny. Tidak ada yang bisa dikritik lagi dari kinerja mereka.
Tanggapan tersebut juga menegaskan bahwa beliau sangat setuju Garuda Indonesia dinobatkan sebagai “World Best Cabin Crew”. Sebagai orang yang sudah lama menjadi penumpang Garuda Indonesia, tentunya beliau sangat paham dan mengerti bagaimana kinerja awak kabinnya. Walaupun Ibu Enny tidak pernah menggunakan masakapai luar negeri, tetapi kerabat beliau yang pernah menggunakan maskapai luar negeri juga sependapat dengan beliau. Awak kabin Garuda Indonesia tetap lebih baik daripada maskapai luar negeri yang lain.
“Mantaplah ya dek. Susah nyari apa yang mau dikritik lagi. Saya rasa mereka pantas sih dapat gelar itu, kan saya penumpang lama garuda jadi
saya tau gimana kerjanya. Ya walaupun gak pernah naik pesawat luar, tapi kalo dengar cerita kawan-kawan saya masih bagusan Garuda.”
Menurut Ibu Enny, pekerjaan sebagai awak kabin itu adalah pekerjaan yang tidak bisa dianggap sepele. Pekerjaan tersebut membutuhkan skill dan pendidikan yang tidak sembarangan. Beliau berpendapat bahwa awak kabin sebagai alat pertolongan pertama jika terjadi bencana atau kecelakaan, hal ini membuat keselamatan penumpang ada di tangan mereka.
Ibu Enny menjelaskan bahwa lebih menyukai kinerja pramugari daripada pramugara Garuda Indonesia. Alasannya karena beliau jarang sekali melihat adanya pramugara dan juga karena sering berinteraksi dengan pramugari sehingan menjadi suatu kebiasaan bagi beliau. Sebenarnya Ibu Enny berharap untuk kedepannya lebih sering berinteraksi dengan pramugara, karena menurut beliau mereka tidak kalah menariknya dengan pramugari.
“Yaa karena juga saya jarang liat pramugara, jadi saya rasa bagus pramugarinya lagi ya karena kebiasaan juga. Padahal saya pengen sering liat pramugarinya, ganteng soalnya hehehe.”
Memasuki sesi akhir wawancara, beliau memberikan beberapa pesan dan saran untuk Garuda Indonesia. Beliau berharap agar makanan yang disajikan oleh Garuda Indonesia lebih bervariasi jenisnya. Terkadang beliau merasa bosan dengan makanan yang disajikan oleh mereka. Saran lainnya adalah supaya Garuda Indonesia untuk segera mengganti model pesawat yang lama. Beliau menilai bahwa sebagai maskapai kebanggaan Indonesia, Garuda Indonesia seharusnya memiliki model pesawat yang baru. Hal yang disukai Ibu Enny dari model pesawat baru ini adalah kabinnya yang memiliki tampilan menarik, seperti lampu interiornya yang berwarna biru.
“Waduh apaya. Makanannya kalo bisa lebih variasi ya menunya haha.
Pernah saya naik pesawat transit masaan dapat mi terus dek. Terus pesawatnya ganti semua lah, saya suka tu sama model kabinnya yang baru. Terus lampu dalamnya warna biru. Kebanggaan indonesia harus yang terbaiklah.”