BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.2. Hasil Wawancara
4.1.2.5. Informan 5
Nama : Siti Zahara
Jenis Kelamin : Wanita
Tempat Tanggal Lahir : Medan, 19 September 1990 ( 27 Tahun ) Pekerjaan : Karyawan Bank Swasta
No HP : 082196996031
Mbak Siti Zahara atau akrab dipanggil dengan Siti saja, merupakan penumpang Garuda Indonesia yang menjadi informan keenam. Mbak Siti merupakan warga asli Medan yang tinggal di Jalan Katamso daerah Kampung Baru. Mbak Siti adalah seorang pegawai di salah satu Bank swasta di kota Medan.
Sudah tiga tahun tepatnya Mbak Siti bekerja di Bank tersebut. Namun, ia enggan untuk memberitahu tempat ia bekerja ketika peneliti menanyakannya lebih detail.
Saat wawancara tersebut, Mbak Siti memberitahu bahwa ia masih berstatus lajang, belum menikah. Peneliti juga sempat bertanya tentang status hubungan Mbak Siti, apakah sedang berpacaran atau tidak, namun peneliti tidak mendapatkan jawaban yang spesifik. Mbak Siti malah menerangkan bahwa ia masih menikmati pekerjaannya, yang dimana peneliti pahami sebagai alasan bahwa ia belum ingin berkeluarga.
Mbak Siti selalu memilih Garuda Indonesia sebagai prioritas dalam bepergian jauh. Ia menyatakan bahwa sudah selalu menggunakan jasa transportasi udara Garuda Indonesia bahkan sebelum ia bekerja. Hanya beberapa kali saja Mbak Siti menggunakan jasa penerbangan maskapai lain, hal itu pun disebabkan karena ada hal-hal yang urgent atau tiba-tiba. Paling tidak ia hanya menggunakan maskapai penerbangan Malaysia Airlines untuk bepergian ke luar negeri.
“Saya gak sering-sering kalilah naik pesawat lain. Kalo uda urgent kali barula. Maskapai luar pernah naik Malaysia Airlines. Dari masih sebelum kerja dulu udah naik Garuda.”
Mbak Siti mengatakan bahwa kebiasaannya menggunakan maskapai penerbangan Garuda Indonesia sudah melekat dalam dirinya sejak ia masih berada di bangku kuliah, dimana ia selalu dibawa orangtuanya berpergian dengan maskapai Garuda Indonesia. Pelayanan yang diberikan Garuda Indonesia dinilai sangat baik dan nyaris sempurna. Misalnya saja seperti pelayanan pemberian breakfast/lunch/dinner yang diberikan, penumpang sangat menikmati jenis pelayanan ini, dan bahkan pelayanan ini telah menjadi pelayanan favorit Mbak Siti. Meskipun dengan harga yang sedikit lebih tinggi dari maskapai lain, Mbak Siti mengaku hal tersebut tidak menjadi masalah besar baginya dibandingkan degan pelayanan yang ia dapatkan.
“Waktu masih kuliah saya sering dibawa orangtua naik garuda. Uda kebiasaan dan nyaman aja naik garuda dek,jadi gak mau pilih yang lain.
Pelayanannya hampir sempurna saya pikir. Saya sukanya kalo di Garuda itu dapat makan. Ya walaupun lebih mahal, tapi worth it saya rasa.”
Mbak Siti juga menilai keramahan yang ditunjukkan oleh awak kabin Garuda Indonesia sangat baik dibandingkan dengan maskapai penerbangan lainnya. Keramahan tersebut juga menjadi nilai plus tersendiri bagi Airlines.
Mbak Siti juga sempat membandingkan ketidaknyamanan yang pernah ia rasakan dengan awak kabin maskapai penerbangan lainnya, seperti awak kabin yang berjualan makanan, yang ia nilai mengganggu kenyamanan penumpang.
“Perbedaanya kalo saya rasa paling keliatan itu dari segi keramahan ya.
Pesawat lain itu masih kalah ramahnya dengan Garuda. Masalah jualan makanan di pesawat itu saya kurang setuju sih, terus mereka juga kurang cepat melayani penumpang.”
Sebagai penumpang setia Garuda Indonesia sejak dari masa kuliah, Mbak Siti sempat menerima manual safety demo oleh awak kabin. Mbak Siti mengakui bahwa cara penyampaian awak kabin sangat menarik dan tidak ia sering memerhatikan manual safety demo tersebut. Namun Mbak Siti lebih memilih safety demo yang ditampilkan di layar monitor yang ada di bangku penumpang.
Alasannya, lebih dekat dan lebih jelas karena letaknya di depan penumpang, serta ada animasi yang menyenangkan sehingga tidak bosan untuk menontonnya.
Meskipun demikian, Mbak Siti menilai baik manual safety demo ataupun melalui layar monitor, informasi yang diberikan dinilai sangat mudah dipahami.
“Paham kali dek.Kalo saya gak ada kerjaan kaya baca buku gitu ya pasti saya perhatikan. Saya pikir juga gak ada salahnya juga diperhatikan, kan mereka menarik cara penyampainnya. Saya lebih suka yang ada di monitor itu. Ya karena dekat pas di depan juga kan. Terus pun kalo di monitor lebih enak ada animasinya, jadi gak bosan.”
Penampilan awak kabin Garuda Indonesia yang menarik dan sopan juga tidak luput dari pujian Mbak Siti. Mbak Siti menilai bahwa outfit Garuda Indonesia merupakan seragam maskapai penerbangan yang paling sopan. Tidak hanya seragamnya saja, tata rambut, parfum, dan gerakan tubuh dari mata sampai kaki juga dinilai sangat baik, membuktikan bahwa Standard Operasional Prosedur (SOP) dari Garuda Indonesia juga sangat baik.
“Pendapat saya pribadi sangat menarik. Kaya seragam mereka ya dek, saya rasa seragam paling sopan diantara pesawat-pesawat lain. Untuk gerakan tubuh dan model rambut pasti kan sudah ada SOP mereka. Dan saya rasa sesuai.”
Komunikasi verbal maupun nonverbal awak kabin Garuda Indonesia juga dinilai baik oleh Mbak Siti. Mbak Siti menyamakan standard berkomunikasi awak kabin dengan bank tempat ia bekerja. Komunikasi verbal yang dilakukan selalu menggunakan Bahasa Indonesia sesuai EYD dan penyampaiannya pun dengan intonasi yang baik, guna membantu penumpang untuk memahami maksudnya.
Meskipun ada suatu saat dimana awak kabin yang memberikan pengumuman terdengar terburu-buru. Untuk komunikasi nonverbal juga tidak ada yang menyimpang, hanya saja Mbak Siti memberikan saran agar warna seragam dapat diganti menjadi warna biru karena dinilai lebih mencerminkan Garuda Indonesia.
“Overrall bagus, saya paham aja sih. Tapi kadang mereka pernah sekali-sekali agak terburu gitu dek. Tapi ya bukan berarti jadinya gak paham juga.
Cuma maunya mereka jangan gitu lagi lah. Tapi tetap, Apa yang komunikasi mereka buat sama seperti yang saya buat ke nasabah kami.
Standarnya udah jelas. Tata cara mereka komunikasi itu dari segi nada suara atau yang lain-lain sangat membantu kita untuk memahami maksudnya. Tapi saya mau mereka mengganti warna seragam mereka. Saya rasa biru cocok dengan tema maskapai Garuda.”
Melanjutkan wawancara, peneliti juga menanyakan pengetahuan dan pendapat Mbak Siti mengenai kasus pelecehan pramugari Airlines. Mbak Siti berpendapat bahwa hal tersebut adalah kesalahan penumpang. Mbak Siti juga kembali menyatakan pendapatnya bahwa hal tersebut tidak jarang dialami oleh orang-orang yang mempunyai pekerjaan untuk melayani customer. Memang ada beberapa penumpang yang nakal dan tidak sopan. Menanggapi pertanyaan peneliti selanjutnya mengenai kasus penamparan pramugari Garuda Indonesia oleh pejabat pemerintahan, Mbak Siti mengaku bahwa ia belum pernah mendengar berita tersebut. Tetapi, ia tetap berpendapat bahwa kesalahan tersebut juga terletak pada pejabat pemerintahan, alasannya karena ia begitu memahami bahwa banyak orang-orang yang keterlaluan, apalagi bagi yang memiliki kekuasaan. Hal ini sesuai pengalamaan pekerjaan Mbak Siti.
”Sebagai orang yang punya pekerjaan melayani orang itu saya kadang juga sering jumpai nasabah yang lirikannya itu udah gak senonoh.
Kemana-mana matanya. Itu emang orangnya aja yang nakal, kalo pramugarinya gak salah itu. Udah taulah saya gimana rasanya. Kan macam-macam tingkah orang ini kan.Dan apalagi pejabat yang punya kekuasaan. Kurang ajarnya itu sampai-sampai main nampar.”
Wawancara kembali dilanjutkan dengan pertanyaan peneliti mengenai perbandingan kinerja purser dengan awak kabin biasa. Mbak Siti mengatakan bahwa ia memerhatikan kinerja purser ketika ia berada di kursi kelas bisnis. Mbak Siti dengan lugas menjawab bahwa kinerja purser jauh lebih baik dari awak kabin biasa. Dikarenakan purser sudah lebih senior, memiliki lebih banyak pengalaman, dan pastinya sudah lebih profesional dalam keramah-tamahan dan pelayanan yang lebih sigap.
“Jelas beda sih. Susah jelasinnya dek haha. Tapi dari segi profesionalitas mereka jauh lebih bagus. Ya sudah jelas mereka lebih senior. Kan purser itu udah tua-tua, tapi ya gak tua kali lah. Maksudnya profesional dalam hal
keramahan dan cara bekerja yang lebih baik. Mereka lebih bisa layani lebih cepat ya mungkin karena penumpang kelas bisnis lebih sedikit sih.”
Secara keseluruhan, Mbak Siti merasa puas dengan kinerja awak kabin Garuda Indonesia. Terkait penghargaan World Best Cabin Crew yang diperoleh oleh Garuda Indonesia beberapa saat lalu, Mbak Siti juga turut merasakan hal tersebut sangat layak karena pekerjaan mereka sangat tertata rapi dan ramah. Ia juga mengatakan bahwa pekerjaan sebagai seorang awak kabin bukan merupakan pekerjaan yang dapat dianggap sepele. Karena pekerjaan tersebut menyangkut keselamatan orang lain atau penumpang. Kembali lagi Mbak Siti membandingkan dengan pekerjaannnya juga melayani orang lain atau nasabah. Ia menilai bahwa tanggung jawab awak kabin jauh lebih besar dibandingkan dirinya dan tidak heran pendapatan awak kabin juga jauh lebih tinggi.
“Hampir sempurna saya pikir dek. Kinerjanya hampir tidak ada cacat.
Makanya mereka pantas dijadikan sebagai awak kabin terbaik di dunia.
Mereka bahkan lebih profesional dibandingkan dengan MAS. Kerja mereka lebih tertata rapi dan ramah. Dan Mereka itu menanggung keselamatan penumpang dan dituntut untuk memuaskan penumpang. Itu bukan pekerjaa yang sepele. Seperti pekerjaan saya yang hanya dituntut memuaskan nasabah, tidak heran gaji mereka jauh lebih tinggi. Bener-bener harus dilatih dengan baik lah.”
Menutup wawancara dengan Mbak Siti, peneliti menanyakan tentang perbandingan kinerja pramugari dan pramugara. Namun sayangnya, Mbak Siti jarang berinteraksi dengan pramugara, sehingga ia lebih menyukai kinerja pramugari. Wawancara ditutup dengan sedikit saran dari Mbak Siti untuk Garuda Indonesia kedepannya. Ia mengharapkan Airlines dapat terus melakukan penerbangan dengan ontime, tanpa ada delay sedikit pun. Dengan sedikit tertawa ia melanjutkan, ia mengharapkan menu makanan yang lebih variatif dari Garuda Indonesia untuk penumpang, misalnya seperti menyediakan menu western food.
“ Haha apa yaa udah bagus kali mereka tu. Tapi kalo bisa sih mereka tidak ada sama sekali delaynya. Ontime semua. Terus saya pengen jenis makanannya bervariasi haha. Yang western food lebih diperbanyak. 5 star airline masaan gak bisa ya hahaha.”