BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.2. Hasil Wawancara
4.1.2.6. Informan 6
Nama : Ir. Dante Sinaga
Jenis Kelamin : Pria
Tempat Tanggal Lahir : Medan, 17 Juli 1962 ( 55 Tahun ) Pekerjaan : Pegawai BUMN / Inalum
No HP : 081396687417
Informan keenam peneliti adalah seorang penumpang Garuda Indonesia yang bekerja di Inalum. Informan tersebut bernama Dante Sinaga. Sebelumnya peneliti juga sudah membuat janji dengan Pak Dante, dimana beliau bersedia untuk diwawancara di rumahnya komplek Tasbi Blok PP. Walaupun beliau tinggal di Medan, tetapi hanya di akhir pekan beliau berada di rumah. Hal ini dikarenakan Pak Dante bekerja di Inalum Kuala Tanjung, Kabupaten Batubara.
Beliau adalah kepala keluarga dari seorang istri dan 3 orang anak. Anak pertama beliau sudah bekerja di perusahaan swasta, anak kedua beliau sedang kuliah di jurusan dan universitas yang sama dengan peneliti dan anak ketiganya sedang kuliah di Institut Teknologi Bandung. Beliau adalah orang yang sudah lama menggunakan Garuda Indonesia dan juga berbagai maskapai lainnya termasuk luar negeri.
Ketika diwawancarai, beliau mengaku menggunakan Garuda Indonesia lebih kurang sebanyak 30-40 kali dalam setahun. Tuntutan pekerjaan membuatnya untuk keluar kota hampir setiap minggu. Sebagai coorporate airlines bagi perusahaan Inalum, tentu Garuda menjadi pilihan pertama sebagai alat transportasi udara. Alasan Inalum memilih Garuda Airilines adalah selain sesama perusahaan BUMN, Garuda Indonesia juga mengutamakan keselamatan dan kenyamanan dibanding masakapain lain. Tetapi jika dalam rangka kepentingan pribadi, beliau tidak selalu memilih Garuda Indonesia sebagai pilihan utama.
Semuanya disesuaikan dengan kondisi yang diperlukan, seperti jadwal terbang.
“Jadi garuda itu coorporate airlinesnya inalum. Sejak masih jaman dulu dengan jepang. Jadi garuda itu selalu mengutamakan keselamatan penumpang nomor satu, paling safety. Jadi perusahaan menetapkan garuda sebagai partnernya. Sekarang semenjak jadi BUMN kita diminta untuk terus bersinergi dengan BUMN lainnya. Kalo berpergian pribadi sebenerya tergantung situasi sebenrnya ya. Yang penting nomor satu itu keselamatan, nomor dua kenyamanan penerbangan. Disesuaikan jugalah dengan jadwal yang saya butuhkan.”
Secara keseluruhan beliau menilai pelayanan Garuda Indonesia sangat baik. Garuda Indonesia memiliki lounge dan ketepatan waktu yang sangat baik.
Dalam segi kenyamanan Garuda Indonesia tidak perlu dipertanyakan lagi. Pak Dante hanya sedikit menyayangkan bahwa ada satu pelayanan yang masih kurang, yaitu pada saat boarding check. Menurut beliau pada saat boarding check, Garuda Indonesia kurang baik dalam mengatur antriam penumpang yang akan masuk pesawat. Beliau menilai antriannya sangat berantakan. Tidak seperti maskapai lain yang menurut beliau antrian penumpang pada saat boarding check bisa terlihat rapi.
“Sangat oke dalam artian appeareance. Mereka nyaman, ada loungenya juga. Tapi saya ada satu kurangnya garuda di satu sisi, yaitu efisiensi.
Ketika boarding airlines yang lain itu sangat efisien. Sangat cepat. karena diatur luan mana yang masuk pesawat. Maunya diterapkan juga di garuda. Ontimenya oke ya, kalo mau cari yang omtime ya garuda.”
Kesopanan dan seragam adalah hal yang sangat membedakan awak kabin Garuda Indonesia dengan awak kabin maskapai lain. Beliau menjelaskan bahwa awak kabin Garuda Indonesia juga tidak sembarangan berbicara. Mereka berbicara hanya seperlunya saja. Selanjutnya mereka sangat profesional dalam melaksanakan pekerjaan. Semuanya baik, tidak ada yang menyalahi aturan.
“Yang mencolok ya mereka sopan, norma kesusilaannya sangat dijaga, pakaiannya sopan. Mereka juga gak banyak omong jadi annoying.
Profesional lah kerjanya tidak berantakan.”
Pak Dante sangat paham dalam penyampaian manual safety demo oleh awak kabin Garuda Indonesia. Tidak ada masalah dalam hal tersebut. Beliau juga sering memperhatikan peragaan safety demo, tetapi karena sudah terlalu sering
maka beliau hanya sekali-sekali saja memperhatikannya. Pak Dante juga menambahkan bahwa model pesawat CRJ selalu menggunakanmanual safety demo. Jika beliau kebetulan menggunakan pesawat tersebut, maka beliau memperhatikan manual safety demonya. Menurut Pak Dante, safety demo yang ditampilkan di monitor sama baiknya dengan yang manual. Karena memiliki satu tujuan yang sama yaitu memberikan pengetahuan kepada penumpang tentang keselamatan. Tetapi untuk hal yang lebih praktis, beliau memilih safety demo di monitor yang lebih baik.
“Paham. Gak ada masalah. Kalo perhatiin ya saya perhatiin tapi karena uda keseringan jadi uda hapal jadii jarang juga, di CRJ itu yang manual safety demonya. Itula pesawat yang paling kecil. Jadi pasti saya perhatiin.”
“Menurut saya gak ada masalah, mau yang monitor pun. Yang penting ada. Tujuannya kan hanya untuk memberikan pengetahuan dalam keadaan darurat. Mana aja suka. Kalo mau lebih praktis ya pilih monitor.”
Beliau tidak terlalu sering dalam memperhatikan aktivitas awak kabin Garuda Indonesia. Menurut persepsi beliau, gerakan tubuh mereka bagus dalam artian yang positif. Ketika melihat awak kabin Garuda Indonesia, beliau menilai mereka cakep atau enak dipandang. Beliau menjelaskan bahwa Garuda Indonesia adalah maskapai Indonesia yang selalu mengeksploitasi budaya Indonesia. Seperti rambut mereka disanggul dan pakaian yang memiliki motif batik. Sebagai orang yang cinta Indonesia, beliau menyukai konsep outfit awak kabin Garuda Indonesia.
“Garuda itu kan flight carrier. Jadi mengeksploit budaya Indonesia.
Seperti sanggul, kebaya dan batik. Jadi menarik ya seragam mereka. Ada yang ungu untuk yang senior, yang bisa pake hijau sama oranye. Saya pribadi suka banget karena saya cinta Indonesia.”
Jika dibandingkan dengan maskapai lain seperti Lion Air, beliau berpendapat bahwa awak kabin Lion Air lebih mengutamkan eksploitasi bentuk tubuh. Tetapi hal itu ditutupi dengan kesibukan kerja yang mereka miliki,
sehingga kita tidak akan terus fokus untuk memperhatikannya. Tetapi beliau tetap lebih menyukai awak kabin Garuda Indonesia, karena mereka terlihat anggun secara umum.
“Lion mereka itu lebih mengekploitasi tubuh wanita, samala kaya Air Asia. Tetapi hal itu diututpi dgn kelincahan mereka. Jadi kita gak melulu melihat mereka. Gak kesitu fokus kita. Kalo Citilink ada kesan tebar kesona. Jadi kalo milih saya lebih prefer ke garuda, anggun banget.”
Pak Dante sangat mengapresiasi ketepatan atau disiplin waktu yang dilaukan awak kabin Garuda Indonesia. Mereka sangat cepat tanggap jika ada penumpang yang butuh pertolongan. Selanjutnya beliau juga sangat memahami pengumuman yang disampaikan awak kabin Garuda Indonesia melalui pengeras suara. Beliau menilai bahasa yang mereka gunakan sudah tepat. Walaupun seperti itu tetapi beliau pernah kurang mendengar apa yang mereka sampaikan dikarenakan speakernya terlalu kecil. Tetapi hal ini tidak menganggu beliau dalam memahami pengumuman tersebut.
“Paham aja. Tapi pernah dulu sih agak kurang denger karena speakernya kecil, ada beberapa pesawat lama itu. Tapi secara umum ya paham.“
Pada saat berkomunikasi langsung dengan awak kabin Garuda Indonesia, beliau merasa puas dan tidak menimbulkan persepsi lain. Menurut beliau mereka sudah dilatih seperti itu. Semua komunikasi yang disampaikan secara langsung kepada beliau cukup bagus, baik dalam hal intonasi suara, senyuman dll.
Terkadang Pak Dante menilai awak kabin Garuda Indonesia terkesan lebih genit, bukan berarti hal yang negatif. Kesan genit ini karena mereka sangat ramah kepada penumpang.
“Itu gak pernah. Bisa saya katakan diatas 80% bagus gak ada masalah, puas. Gatau juga ya mungkin mereka uda dilatih seperti itu, kadang mereka agak genit juga, tapi maksudnya bukan genit vulgar. Karena mereka sangat ramah.”
Selama pengalaman menggunakan Garuda Indonesia, Pak Dante belum pernah mengalami ketidaksesuaian komunikasi verbal ataupun non verbal dengan
awak kabin Garuda Indonesia. Beliau hanya tidak sabar untuk menunggu perubahan warna dari seragam awak kabin Garuda Indonesia, karena menurutnya sudah cukup lama juga mereka tidak mengganti model seragam.
Pak Dante pernah merasakan kenyamanan di kelas bisnis Garuda Indonesia. Menurut beliau banyak perbedaan antara purser dengan awak kabin biasa. Dari sisi kesopanan, purser Garuda Indonesia tentu lebih baik dari awak kabin biasa. Pelayanan atau komunikasi purser Garuda Indonesia memiliki perbedaan dengan awak kabin biasa, yaitu misalnya mereka selalu menyapa penumpang dengan menggunakan nama asli.
“Nah Garuda itu tidak memilih wajahnya cantik, yang penting enak dipandang. Kalo di kelas bisnis diutamakan yang dewasa. Memperlakukan orang sangat sopan, gak pernah salah. Kalo di bisnis pun mereka manggilnya nama. Dibisnis gak ada lah pelayan yang genit-genit, gak dapat. Terus kalo kita tertidur mereka gak banguni, jadi ngasih makanannya pas kita uda bangun.”
Kasus pelecehan pramugari Garuda Indonesia pada 2016 lalu memiliki pandangan tersendiri bagi Pak Dante. Walaupun beliau belum pernah mendengar berita tersebut, tetapi beliau berpendapat bahwa permasalahan kasus tersebut terletak di penumpang yang iseng. Sama halnya dengan kasus penamparan pramugari Garuda Indonesia beberapa tahun yang lalu, beliau juga menilai bahwa permasalahannya terletak di pejabat tersebut. Beliau yang mengingat dengan jelas cerita tersebut berpendapat pejabat tersebut yang sangat berlebihan. Seharusnya pejabat tersebut harus bisa menyesuaikan waktu keberangkatan dengan waktu keperluannya.
“Saya tau, ingat juga ceritanya.”
“Mungkin itu interaksi kedua belah pihak yang dari pejabat tersebut sangat berlebihan. Harusnya dia bisa atur waktu, misalnya dia meeting jam 11 harusnya dia boardingnya pilih yang jam 7. Harus bisa menahan diri. Kalo di cina bahkan itu delaynya karena cuaca, orangnya marah sampe ngebrak meja.”
Beliau sangat setuju awak kabin Garuda Indonesia memperoleh gelar
“World Best Cabin Crew”. Awak kabin Garuda Indonesia memiliki pelayanan yang hampir sempurna di mata beliau. Berbeda dengan maskapai luar yang pernag digunakan beliau, yaitu Singapore Airlines. Menurut Pak Dante, awak kabin Singapore Airlines terkesan lebih sombong dan kurang ramah.
“Hampir sempurna. Soalnya saya juga jarang naik maskapai luar.
Singapore airlines saya pernah. Mereka ramah tapi ya ada kesan sombongnya, yaa kaya gabisa diajak becanda gitu. Jadi bisa dibilang layak jugalah, the best di indonesia juga.”
Awak kabin adalah pekerjaan yang tidak bisa dipandang rendah menurut Pak Dante. Pekerjaan tersebut harus memiliki pengetahuan dan skiil. Pada awalnya awak kabin harus ditempah dahulu terutama tentang segala prosedur keselamatan. Bahkan beliau juga menyarankan agar sekolah awak kabin harus segera diakredtasi.
“Tidak bisa. Mereka kan harus ditempah dulu dgn pengetahuan keselamatan sebagainya. Skill harus ada, tidak ada sembarangan orang.
Sekolahnya harus diakreditasi.”
Pak Dante lebih memilih menyukai pelayanan pramugari dibandingan pramugara Garuda Indonesia. Alasannya yaitu bahwa beliau adalah pria yang menyukai wanita yang menarik. Akan tetapi hal tersebut tidak membuat pramugara menjadi tidak dibutuhkan. Pramugara tetap diperlukan karena tidak semua hal bisa dilakukan oleh pramugari, seperti mengangkat barang ke kabin.
“Karena saya laki ya saya pilih pramugari haha. Tapi tanpa pramugara kan gak lengkap, jadi misalnya kalo mau angkat barang kan butuh tenaga laki.”
Di akhir proses wawancara beliau memberikan beberapa saran untuk Garuda Indonesia. Saran pertama adalah untuk segera mengganti warna seragam awak kabin dan memilih pramugari yang lebih cantik. Selanjutnya ketepatan waktu keberangkatan sebaiknya ditingkatkan lagi, karena beliau pernah sekali
merasakan keterlambatan pesawat yang cukup lama. Hal ini juga harusnya dibarengi untuk meningkatkan efisiensi boarding check. Terakhir beliau berharap agar Garuda Indonesia juga menurunkan harga tiketnya menjadi sedikit lebih murah, supaya semua kalangan bisa menggunakan jasa mereka.
“Apa ya pengetahuan mereka ditingkat lagilah, terus diganti warna seragamnya. Lalu pramugarinya yang lebih cantik lagi dicari. On timenya performancenya ditingkatkan lagi, pernah saya kedapatan delaynya lama.
Efisiensi boardingnya lagi. Terus harga tiketnya lah diturunkan hahah.”