BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.3. Proses Komunikasi Verbal dan Non Verbal Pramugari dan
No Nama Jenis Kelamin Usia Pekerjaan Status Keterangan
1 Ayub L 48 tahun Karyawan
Pengamatan atau observasi peneliti lakukan pada hari Jum’at 3 Februari 2017. Peneliti menggunakan metode observasi partisipatif yang maksudnya peneliti juga ikut menjadi penumpang Garuda Indonesia dan mengalami komunikasi verbal dan non verbal awak kabinnya. Observasi ini dilakukan untuk memenuhi tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui proses komunikasi verbal dan non verbal pramugari dan pramugara Garuda Indonesia. Pada saat proses observasi, peneliti mencatat atau memperhatikan sejak awal mula berinteraksi dengan awak kabin Garuda Indonesia, yaitu pada saat masuk pintu pesawat.
Peneliti langsung disambut dengan ucapan “Selamat Pagi” dan senyuman yang cukup menarik. Intonasi suara dan komunikasi non verbal lainnya sangat baik, dimana menurut peneliti tidak ada yang bisa menimbulkan persepsi lain. Seragam yang mereka gunakan juga cukup menarik. Dikombinasi dengan warna oranye, hijau dan biru dan juga model seragam yang sangat bernuansa Indonesia. Rok yang bermotif Batik Jawa sangat menguatkan unsur budaya bangsa Indonesia.
Peneliti menilai bagian model rambut yang mereka miliki adalah hal yang cukup baik. Model rambut yang dipotong tidak terlalu pendek dan dibentuk dengan sedemikian rupa merupakan nilai plus yang dimiliki awak kabin Garuda Indonesia, khususnya pramugari. Hal tersebut memberikan kesan terlihat lebih anggun.
Setelah memasuki pesawat dan telah mendapatkan kursi sesuai nomor yang dimiliki, peneliti kembali mengamati komunikasi yang dilakukan awak kabin. Setiap penumpang yang melintas di depan mereka, selalu diucapkan salam dengan ramah seperti yang mereka lakukan kepada peneliti sebelumnya.
Selanjutnya mereka juga tidak segan untuk bertanya kepada penumpang yang kebingungan dalam mencari tempat duduk. Bahkan mereka sangat cepat membantu ketika ada penumpang yang kesulitan untuk meletakkan barang di kabin. Awak kabin Garuda Indonesia tidak memberikan jarak atau posisi tubuh yang terlalu jauh ketika berinteraksi dengan penumpang, tetapi juga tidak terlalu dekat. Mereka membuat penumpang senyaman mungkin atas gerakan tubuhnya.
Pesawat yang peneliti gunakan adalah model pesawat baru yang tidak menggunakan manual safety demo. Walaupun seperti itu, tetapi ada juga saat
dimana awak kabin Garuda Indonesia menjelaskan kepada penumpang tentang bagimana cara membuka pintu dan jendela darurat. Awak kabin Garuda Indonesia menyampaikan hal tersebut dengan sangat baik dan terlihat juga penumpang lain turut memperhatikan mereka, khususnya penumpang yang duduk di dekat pintu atau jendela darurat. Saat diputarnya video safety demo, peneliti memperhatikan penumpang-penumpang sekitar. Ada penumpang yang terus memperhatikan video tersebut dari awal sampai habis, ada juga yang tidak memperhatikan seluruhnya.
Berdasarkan pengamatan peneliti bahkan ada juga yang tidak memperhatikan sama sekali safety demo yang ditampilkan, karena ada yang tertidur dan juga yang sedang membaca. Selanjutnya pada saat awak kabin Garuda Indonesia menawarkan permen, peneliti menilai komunikasi yang dilakukannya cukup baik.
Mereka sangat ramah, tidak lupa untuk tersenyum ketika berbicara. Hal ini mereka lakukan kepada setiap penumpang.
Pada sesaat sebelum take off, awak kabin memberikan pengumuman melalui pengeras suara tentang apa saja yang tidak diperbolehkan di dalam pesawat dan berbagai informasi lainnya. Peneliti mendengarkan pengumuman tersebut dengan seksama. Pengumuman yang mereka berikan tidak sama sekali membuat peneliti kesulitan memahaminya. Awak kabin menggunakan bahasa yang cukup baik. Tidak ada masalah atau hal yang membuat peneliti kurang paham atau memiliki persepsi lain. Hal yang sedikit mengganggu adalah aksen awak kabin Garuda Indonesia sedikit kurang nyaman didengar. Aksen yang digunakan adalah aksen Jawa yang masih sangat kental. Tetapi itu bukanlah menjadi masalah besar bagi peneliti. Setelah pesawat mengudara, peneliti terus memperhatikan komunikasi yang dilakukan awak kabin Garuda Indonesia terhadap penumpang. Ada sekitar jeda 20 menit dimana awak kabin Garuda Indonesia tidak terlihat, dimana sepengetahuan peneliti mereka sedang mempersiapkan makanan dan minuman.
Pada saat proses pemberian makanan dan minuman kepada penumpang, peneliti terus memperhatikan bagaimana proses komunikasi awak kabin Garuda Indonesia terhadap penumpang. Menurut peneliti, ini adalah momen dimana mereka terus menerus melakukan komunikasi dengan penumpang dengan durasi
yang cukup lama. Mereka menawarkan makanan dan minuman kepada penumpang secara satu per satu dan melakukan komunikasi verbal dan non verbal yang sangat baik. Bahasa, intonasi, dan juga tidak lupa senyuman mereka lakukan dengan menarik dan sesuai SOP perusahaan Garuda Indonesia. Berdasarkan pengamatan peneliti, tidak ada penumpang yang tidak paham dengan komunikasi yang mereka lakukan, bahkan termasuk peneliti sendiri yang juga sebagai penumpang. Selain itu, tidak ada satupun penumpang yang memaknai komunikasi awak kabin secara negatif atau memiliki persepsi yang lain.
Setelah semua penumpang diberikan makanan dan minuman, bukan berarti awak kabin Garuda Indonesia berhenti melakukan pekerjaan. Mereka langsung mengambil kembali peralatan makanan dan minuman penumpang yang telah selesai digunakan. Menurut peneliti ini merupakan hal yang sangat baik, mereka tidak memberikan jeda waktu yang lama untuk melakukan pekerjaan tersebut. Hal ini bertujuan untuk membuat penumpang tetap merasa nyaman.
Peneliti ingin mengetahui seberapa disiplinnya awak kabin Garuda Indonesia terhadap waktu. Pada saat peneliti menekan tombol panggilan bantuan, kurang dari satu menit seorang pramugari datang menjawab panggilan tersebut.
Saat itu peneliti ingin meminta tambahan air minum dan sebuah koran.
Selanjutnya pramugari tersebut kembali dengan membawakan air minum dan sebuah koran dalam waktu kurang dari dua menit. Bahkan peneliti diberikan bonus satu kaleng minuman soda oleh pramugari tersebut.Contoh komunikasi non verbal awak kabin Garuda Indonesia yang cukup bagus dan memuaskan bagi peneliti.
Selama dalam perjalanan, peneliti terus memperhatikan bagaimana komunikasi awak kabin Garuda Indonesia kepada penumpang yang lainnya.
Berdasarkan pengamatan tidak ditemukan adanya keluhan, kritikan atau bahkan yang mencapai kekerasan fisik dari penumpang. Ketika ada penumpang yang meminta pertolongan, awak kabin Garuda Indonesia menjawabnya dengan waktu yang tepat dan selalu menggunakan komunikasi yang baik. Komunikasi verbal maupun non verbal yang dibangun oleh awak kabin Garuda Indonesia berlangsung efektif.
Ketika sesaat sebelum mendarat, awak kabin Garuda Indonesia kembali melakukan pengumuman melalui pengeras suara. Sama seperti sebelumnya, peneliti merasa paham dengan jelas apa yang dimaksud oleh awak kabin tersebut.
Selanjutnya awak kabin Garuda Indonesia berkeliling untuk memastikan setiap penumpang sudah melakukan berbagai persiapan untuk mendarat seperti, melipat meja dan sandaran kaki, menegakkan kursi, menyimpan gadget (handphone atau laptop), membuka jendela dan lain-lain. Awak kabin Garuda Indonesia melakukan pekerjaan tersebut dengan baik. Tidak ada penumpang yang protes jika diingatkan oleh awak kabin tersebut. Dalam proses observasi, peneliti melihat ada seorang penumpang sedang tertidur lelap yang belum menegakkan kursi dan membuka jendela. Penumpang tersebut tentu saja harus dibangunkan oleh awak kabin Garuda Indonesia untuk melakukan persiapan mendarat. Peneliti tertarik dengan cara komunikasi awak kabin tersebut untuk membangunkan sang penumpang. Awak kabin tersebut menyentuh bahu penumpang dengan cara perlahan dan menggunakan nada suara yang lembut. Akhirnya penumpang tersebut bangun dan langsung mengikuti instruksi awak kabin Garuda Indonesia.
Selama perjalanan di dalam pesawat, peneliti sama sekali tidak menemukan adanya pramugara Garuda Indonesia.
Akhirnya setelah lebih kurang dua jam perjalanan, peneliti beserta penumpang lainnya mendarat dengan selamat. Sesaat sebelum melangkah ke pintu keluar pesawat, seluruh penumpang Garuda Indonesia kembali diberikan senyuman beserta ucapan selamat tinggal. Observasi peneliti tentang bagaimana proses dan efektivitas dan komunikasi verbal dan non verbal awak kabin Garuda Indonesia telah selesai.
4.1.4 Efektivitas Komunikasi Verbal dan Non Verbal Pramugari dan Pramugara Garuda Indonesia Terhadap Penumpang.
Berdasarkan hasil pembahasan wawancara yang diperoleh peneliti di lapangan, dapat diketahui bagaimana efektivitas komunikasi verbal dan non verbal Garuda Indonesia terhadap penumpang. Komunikasi yang efektif terjadi jika komunikator berhasil menarik perhatian komunikan dan memberikan makna
yang sama dengan komunikan. Ketertarikan terhadap non verbal awak kabin Garuda Indonesia sangat mendukung untuk terciptanya efektivitas terhadap komunikasi verbal dan non verbal awak kabin Garuda Indonesia.
Ayub sebagai informan pertama menjelaskan bagaimana efektivitas komunikasi verbal dan non verbal yang dilakukan awak kabin Garuda Indonesia.
Ia menilai secara keseluruhan pelayanan yang diberikan awak kabin Garuda Indonesia lebih baik dibandingkan maskapai lain. Komunikasi verbal yang dialami oleh informan Ayub adalah pada saat awak kabin Garuda Indonesia menawarkan makanan atau minuman.. Keterampilan komunikasi yang dimiliki awak kabin Garuda Indonesia membuat informan Ayub merasa puas dan tidak memiliki persepsi lain. Bahkan selama pengalaman beliau menggunakan Garuda Indonesia, Ayub tidak merasakan adanya salah persepsi dari komunikasi verbal yang diberikan awak kabin Garuda Indonesia. Selain itu beliau berkomunikasi dengan awak kabin Garuda Indonesia hanya seperlunya saja, seperti untuk meminta koran atau meminta selimut.
Komunikasi verbal lainnya yang dialami Ayub adalah pada saat awak kabin menyampaikan pengumuman di dalam pesawat. Beliau menilai pengumuman yang disampaikan oleh awak kabin Garuda Indonesia menggunakan bahasa yang tepat dan jelas. Menurut informan Ayub, pengumuman yang dilakukan awak kabin Garuda Indonesia sangat baik, karena tidak ada hal yang sulit dipahami dari pengumuman tersebut.
Selanjutnya komunikasi non verbal yang dialami beliau adalah peragaan manual safety demo, senyuman, gerakan tubuh, dan pemilihan seragam atau model rambut. Informan Ayub berpendapat bahwa tidak ada masalah dalam hal komunikasi non verbal yang awak kabin Garuda Indonesia lakukan. Seperti dalam hal manual safety demo, informan Ayub memahami apa yang awak kabin peragakan dalam manual safety demo tersebut. Alasannya karena beliau merasa tidak ada masalah dalam pergaan tersebut dan juga Ayub sudah berkelanjutan menggunakan Garuda Indonesia. Informan Ayub juga mengaku bahwa ia sering memperhatikan hal tersebut demi keselamatannnya. Tetapi Ayub juga menjelaskan bahwa manual safety demo tidak selalu ia perhatikan, tergantung
situasi apakah ia sedang lelah atau tidak. Informan Ayub lebih tertarik untuk melihat safety demo yang ada di monitor. Alasannya adalah karena safety demo yang di monitor lebih cepat dibandingkan dengan yang manual.
Komunikasi non verbal lainnya adalah dalam hal pemilihan seragam dan model rambut. Informan Ayub menilai tidak ada yang salah dalam hal tersebut.
Pemilihan seragam awak kabin Garuda Indonesia lebih baik dibandingkan maskapai lain yang memiliki belahan rok yang cukup tinggi,dimana berarti seragam awak kabin Garuda Indonesia lebih sopan. Tidak ada persepsi atau makna lain yang ditimbulkan dari pemilihan seragam atau potongan rambut mereka, bahkan beliau kurang setuju jika ada model rambut yang digerai seperti maskapai lain.Secara keseluruhan informan Ayub tertarik dengan penampilan awak kabin Garuda Indonesia karena kesopanannya.
Gerakan tubuh, senyuman, intonasi suara adalah komunikasi verbal lainnya yang dialami informan Ayub. Bagian dari komunikasi non verbal tersebut dinilai Pak Ayub cukup bagus, karena selama pengalamannya menggunakan Garuda Indonesia tidak pernah mengalami persepsi lain dalam memaknai komunikasi non verbal yang mereka lakukan. Informan pertama ini mengaku bahwa ia sering memperhatikan gerak-gerik tubuh awak kabin Garuda Indonesia.
Tetapi Ayub menjelaskan bahwa ia hanya sebatas memperhatikan saja karena takut menimbulkan perbedaan persepsi dengan awak kabin Garuda Indonesia.
Tidak jauh berbeda dengan informan pertama, informan Jekson juga berpendapat bahwa awak kabin Garuda Indonesia lebih baik dibandingkan maskapai lain. Sisi profesionalitasnya adalah yang membuat perbedaan sangat mencolok antara awak kabin Garuda Indonesia dengan awak kabin maskapai lain.
Profesionalitas yang dimaksud informan Jekson adalah pekerjaan yang dilakukan awak kabin Garuda Indonesia terkesan lebih rapi dan terstruktur dibandingkan awak kabin maskapai lain
Informan Jekson menilai keterampilan komunikasi verbal yang mereka lakukan cukup baik, ia selalu mengerti dan paham apa yang mereka sampaikan secara verbal. Pada saat menawarkan makanan, ia menilai komunikasi verbal
awak kabin cukup baik secara keseluruhan. Ia merasa tidak pernah mengalami persepsi lain akan hal itu. Selanjutnya komunikasi verbal yang dialamiJekson adalah pada saat awak kabin menyampaikan pengmumuman di dalam pesawat.
Jacskon menilai bahasa yang mereka gunakan cukup baik, sudah sesuai SOP perusahaan. Tetapi ia pernah mengalami gangguan untuk memahami pengumuman tersebut. Gangguan yang dialaminya adalah kurang jelasnya suara yang didengar karena menurutnya kualitas speaker yang kurang baik. Tetapi secara keseluruhan informan Jekson tidak merasa kesulitan untuk memahaminya, cara mereka menyampaikan pengumuman cukup baik. Bahkan selama pengalaman informan Jekson menggunakan Garuda Indonesia, tidak pernah mengalami persepsi lain dalam memaknai setiap komunikasi verbal mereka.
Komunikasi non verbal awak kabin Garuda Indonesia secara keseluruhan juga dinilai efektif oleh informan Jekson. Seperti dalam hal manual saefty demo, ia memahami beberapa bagian yang menurutnya cukup penting seperti pemasangan seat belt atau pelampung. Informan Jekson tidak juga terlalu sering memperhatikan manual safetydemo, karena ia sudah sejak dulu meggunakan Garuda Indonesia. Senada dengan informan Ayub, informan Jekson juga lebih menyukai safety demo yang ada di monitor. Tetapi alasan ia adalah sangat mudah untuk melihat monitor dikarenakan jaraknya pas di depan mata, sangat mendukungnya jika ia memiliki posisi duduk di belakang. Jekson juga menambahkan bahwa sekarang ia tidak sering memperhatikanmanual safety demo dari awak kabin. Alasannya adalah ia merasa sudah sangat paham karena terlalu sering melihatnya.
Komunikasi non verbal lainnya adalah gerakan tubuh, senyuman dan intonasi suara, dimana menurut Jekson tidak masalah atau kesalahan dengan hal tersebut. Ia merasa nyaman akan komunikasi non verbal yang dilakukan awak kabin Garuda Indonesia. Informan Jekson, Enny, Siti dan Dante menyatakan bahwa mereka tidak terlalu sering memperahaikan gerakan tubuh atau senyuman yang dilakukan awak kabin Garuda Indonesia. Mereka memperhatikan hanya sebatas ketika ada awak kabin yang sedang melintas di hadapan mereka.
Tetapi dalam hal intonasi suara, ada sedikit hal yang mengganggu Jekson.
Pada saat menyampaikan pengumuman, intonasi suara yang dilakukan awak kabin Garuda Indonesia agak sedikit menggantung. Hal ini terjadi pada saat di penghujung kalimatyang menurutnya intonasi suara merekamasih tinggi. Tetapi hal tersebut tidak terlalu dipermasalahkan Jekson, karena menurutnya itu mungkin SOP perusahaan Garuda Indonesia. Dalam hal komunikasi langsung, ia tidak merasakan kejanggalan dalam intonasi suara mereka.
Seragam dan model rambut awak kabin Garuda Indonesia adalah bagian non verbal yang juga dirasakan oleh informan Jekson. Ia menilai seragam awak kabin Garuda Indonesia sangat sopan dibandingkan dengan maskapai lainnya.
Selain sesuai dengan tema pesawat Garuda Indonesia, seragam yang mereka kenakan menonjolkan budaya Indonesia khususnya Jawa. Jekson juga menilai model rambut mereka yang dikonde tersebut sangat baik. Untuk hal pramugara, ia menilai tidak ada hal yang spesial dalam hal model rambut. Secara keseluruhan, outfit yang mereka gunakan cukup baik bagi informan Jekson. Selama pengalaman ia menggunakan Garuda Indonesia, tidak pernah ada merasakan keanehan atau persespsi lain terhadap non verbal yang dilakukan awak kabin Garuda Indonesia. Menurut Jekson, kesopanan dan kesesuaian warna dengan tema pesawat adalah hal yang membuat penampilan mereka menjadi menarik.
Informan ketiga bernama Budi juga menilai secara keseluruhan lebih baik pelayanan awak kabin Garuda Indonesia dibandingkan maskapai lain. Budi menilai letak perbedannya dari sisi keramahan dan profesionalitasnya. Informan ketiga ini juga merasakan tidak ada hal yang tidak dipahami dalam komunikasi verbal awak kabin Garuda Indonesia.Ketika informan Budi menerima komunikasi verbal awak kabin Garuda Indonesia, ia memahami apa makna komunikasi verbal tersebut. Tidak ada hal yang bisa membuat Budi menimbulkan makna lain dari komunikasi tersebut. Komunikasi verbal langsung yang sering dialaminya salah satunya adalah pada saat awak kabin Garuda Indonesia menawarkan makanan.
Selain itu, komunikasi verbal lainnya juga dialami oleh informan Budi.
Sama seperti informan sebelumnya, komunikasi verbal yang ia terima juga pada saat awak kabin menyampaikan pengumuman di pesawat. Ia berpendapat bahasa
yang digunakan awak kabin adalah bahasa yang baku, tidak pernah menggunakan bahasa daerah. Hal ini membuat informan Budi dengan mudah memahami apa saja yang disampaikan oleh awak kabin Garuda Indonesia pada saat pengumuman.Bahkan selama pengalaman hidupnya, awak kabin Garuda Indonesia tidak pernah memberikan makna lain pada saat berkomunikasi.
Komunikasi non verbal yang dilakukan awak kabin Garuda Airilines tentu saja juga dirasakan oleh informan ketiga ini. Komunikasi non verbal yang dialami salah satunya adalah dalam hal manual safety demo. Ia menilai tidak ada yang bisa dikomentari dari peragaan safety demo tersebut. Informan Budi merasa tertarik untuk memperhatikan manual safety demo, walaupun semuanya kembali tergantung apakah kondisi fisiknya masih baik. Budi lebih menyukai untuk memperhatikan safety demo di monitor, karena menurutnya jarak monitor sangat dekat dan memiliki waktu yang lebih cepat membuatnya lebih tertarik untuk memperhatikannya.Gerakansafety demo yang dilakukan awak kabin Garuda Indonesia sudah cukup baik, sehingga tidak ada menimbulkan adanya perbedaan pemahaman. Selanjutnya adalah pada bagian gerakan tubuh, senyuman, pandangan mata dan lain-lain. Informan ketiga ini berpendapat bahwa gerakan atau senyuman yang mereka lakukan sudah sangat baik, sudah sesuai dengan SOP perusahaan.
Komunikasi non verbal lainnya adalah seragam dan model rambut yang digunakan awak kabin Garuda Indonesia. Informan Budi menyukai bagian non verbal ini secara keseluruhan. Seragam awak kabin Garuda Indonesia sangat sopan menurut Budi, yang hal ini membedakan dengan seragam awak kabin di maskapai lain. Seperti rok atau baju yang dikenakan awak kabin maskapai lain yang menurut informan Budi sangat kurang sopan. Dalam hal model rambut, ia juga menilai keseluruhan sangat baik. Walaupun ia menginginkan model rambut yang berbeda di setiap awak kabin Garuda Indonesia, tetapi ia juga merasa tidak ada masalah dengan model rambut yang sekarang.
Ibu Enny sebagai informan keempat juga mempunyai jawaban-jawaban yang hampir serupa dengan informan lainnya. Informan Enny menilai awak kabin Garuda Indonesia lebih baik dibandingkan awak kabin maskapai lain. Hal yang
menjadi perbedaannya adalah dalam sisi keramahan dan profesionalitas awak kabinnya. Perbedaan tersebut yang menurut informan Enny membuat awak kabin Garuda Indonesia lebih baik.
Enny menjelaskan komunikasi verbal yang awak kabin Garuda Indonesia lakukan cukup baik. Ketika informan Enny berkomunikasi secara langsung dengan mereka, tidak pernah ia mengalami kesulitan dalam memahami komunikasi verbal tersebut. Ia juga tidak memiliki makna atau persepi lain dari komunikasi verbal awak kabin Garuda Indonesia. Bahkan selama pengalaman menggunakan Garuda Indonesia, hal seperti itu tidak pernah terjadi.Komunikasi verbal lain yang ia rasakan adalah saat awak kabin Garuda Indonesia menyampaikan pengumuman. Menurutnya, ia bisa memahami makna dari pengumuman tersebut dengan baik. Informan Enny menilai bahasa dan cara penyampaian yang digunakan sudah tepat. Sama seperti informan Jekson, Enny juga merasakan gangguan dalam hal kualitas speaker. Informan Enny menjelaskan bahwa ia pernah mendengarkan pengumuman dengan kualitas speaker yang kurang baik.
Selain komunikasi verbal, awak kabin Garuda Indonesia juga melakukan beberapa komunikasi non verbal. Tidak jauh dengan informan-informan sebelumnya, informan Enny merasa sangat paham atas manual safety demo yang dilakukan awak kabin Garuda Indonesia. Ada beberapa bagian manual safety demo yang paling sering ia perhatikan, seperti pemasangan seat belt dan pelampung. Informan Enny mengaku bahwa ia juga sering memperhatikan safety demo karena menurutnya hal itu sangat penting. Tetapi hal itu diperhatikannya apabila ia tidak sedang ada kegiatan lain seperti membaca buku. Ia juga menjelaskan bahwa lebih menyukai safety demo yang ada di monitor. Alasannya adalah karena belum tentu posisi duduk Enny dapat melihat dengan jelas manual safety demo dari awak kabin Garuda Indonesia. Selanjutnya non verbal awak kabin Garuda Indonesia adalah gerakan tubuh, senyuman dan lainnya. Informan Enny berpendapat bahwa itu semua sudah mereka lakukan sesuai SOP, sehingga tidak ada yang patut dipermasalahkan. Semuanya tidak menimbulkan persepsi lain.
Bagian non verbal lainnya adalah penampilan awak kabin Garuda Indonesia, seperti seragam dan model rambut dinilai informan Enny cukup baik.
Informan Enny menjelaskan bahwa seragamnya sangat menonjolkan nuansa Indonesia, sopan dan sangat menarik. Ia malah kurang menyukai model seragam yang ketat seperti awak kabin di maskapai lain, informan Enny menilai tetap lebih sopan seragam awak kabin Garuda Indonesia. Untuk hal model rambut, ia juga
Informan Enny menjelaskan bahwa seragamnya sangat menonjolkan nuansa Indonesia, sopan dan sangat menarik. Ia malah kurang menyukai model seragam yang ketat seperti awak kabin di maskapai lain, informan Enny menilai tetap lebih sopan seragam awak kabin Garuda Indonesia. Untuk hal model rambut, ia juga